Sunday, March 15, 2009

[Kompas 100]: Trada Maritime: "An Integrated Marine Transportation Provider"

Bagian 33 dari 100

Minggu, 15 Maret 2009 | 07:28 WIB

Apa persamaan dan perbedaan Mr. Postman-nya The Beatles dengan film The Transporter?

Persamaannya adalah sama-sama pengantar barang yang semestinya tidak boleh membuka kemasan dari barang yang dikirim. Perbedaannya, Mr Postman konsisten untuk menjalankan prinsip tersebut, sementara The Transporter melanggar prinsip tersebut dan terbukti sebagai sebuah tindakan yang tepat. Dan ketepatan tindakan The Transporter itu didukung dengan kemampuan yang memungkinkannya untuk menjalankan sesuatu beyond the call of duty.

Tentu saja The Transporter itu mesti punya kompetensi tinggi di peran yang dibutuhkan sehingga terlihat diferensiasinya dibandingkan sesama transporter. Pilihan membangun diferensiasi itu bisa bermacam-macam, tergantung tingkat relevansi dari target market yang dibidik. Kejelian dalam mengenali kebutuhan target market akan menentukan kuat tidaknya diferensiasi yang dibangun.

PT Trada Maritime Tbk (TRAM) adalah contoh “transporter” yang sukses membangun diferensiasi. Cikal bakal perusahaan ini adalah PAS Maritime yang diakuisisi oleh Trada Group pada tahun 2000 dan selanjutnya nanti berubah nama menjadi Trada Maritime. Tahun 2000 itu juga, PAS Maritime berhasil mendapatkan kontrak dari ARCO untuk menyediakan layanan manajemen dan operasional bagi unit Floating, Storage and Offloading (FSO) yang mereka miliki.

TRAM di tahun 2000 cukup jeli melihat langkah perusahaan minyak yang ingin fokus pada core business-nya dan memisahkan bisnis non-inti, seperti pengelolaan FSO. Saat itu, TRAM adalah perusahaan Indonesia pertama yang melakukan manajemen dan operasi FSO. Dengan bekal kontrak ARCO tersebut, mulailah periode berkembang bagi TRAM.

Dimulai dari hanya sebagai operator, tanpa memiliki kapal, TRAM pun mulai memperluas kompetensi bisnis dengan membeli beberapa kapal tongkang dan kapal tunda. Sebagai langkah selanjutnya, pada tahun 2003, perusahaan membeli sebuah FSO sendiri, yang dinamakan FSO MT Laksmiati. Dengan sukses mendapatkan kontrak pengoperasian untuk tiga FSO baru pada tahun-tahun berikutnya, TRAM berhasil menjadi market leader operator FSO pada tahun 2006. Hingga kini, TRAM menguasai sekitar 20 persen dari pasar operator FSO di Indonesia.

Selain operasional inti, TRAM juga memberikan layanan pendukung FSO, mulai dari operasional kapal pendukung, layanan logistik, hingga penanganan awak kapal. Dengan ini, TRAM menyediakan layanan yang mereka sebut sebagai integrated offshore logistics services. Integrasi yang erat antar tahapan dalam proses transportasi air inilah yang menjadi salah satu competitive advantage TRAM.

Dengan bertumpu pada kompetensi yang telah dibangun selama bertahun-tahun dalam hal operasional FSO dan layanan pendukungnya, TRAM lalu berkembang ke transportasi air muatan cair (liquid cargo), dan curah kering (dry bulk). TRAM melihat potensi transportasi liquid cargo domestik akan semakin meningkat dengan diterapkannya azas Cabotage yang mengharuskan kapal yang beroperasi di perairan Indonesia untuk berbendera Indonesia, dan minimal 51 persen kepemilikan perusahaan dipegang oleh pihak Indonesia. Sedangkan pasar dry bulk diharapkan datang dari tambang batubara. Dimana, menurut estimasi departemen perhubungan laut, cargo batubara diproyeksikan akan mencapai 90 juta ton pada tahun 2010, padahal armada kapal nasional yang tersedia hanya mampu mengangkut 19,4 juta ton.

Sebagai salah satu perintis bisnis manajemen dan operasional FSO di Indonesia, TRAM memang memiliki kompetensi yang kuat di bidang ini. TRAM juga berhasil menjaga kinerjanya secara konsisten yang akhinya berdampak pada terbangunnya reputasi yang kuat di industri ini. Sehingga sulit bagi perusahaan lain untuk dapat menandingi TRAM dalam hal layanan FSO terintegrasi. Namun untuk bisnis liquid cargo dan dry-bulk, TRAM masih harus terus berjuang dan membangun kompetensi serta reputasi..

Keputusan TRAM untuk tetap fokus melayani customer di industri minyak, gas, dan mineral memang tepat karena dengan begitu, perusahaan bisa me-leverage pengalaman mereka yang panjang di sektor tersebut. Kekuatan inilah yang akan digunakan perusahaan untuk membangun kompetensi baru dalam bidang liquid cargo dan dry-bulk. Di mana keduanya diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan TRAM di masa mendatang.

Pendapatan TRAM dari layanan FSO dan pendukungnya sebenarnya menyumbang 80 persen dari revenue perusahaan, dan bisnis ini cukup stabil karena kontrak dari perusahaan minyak bersifat jangka panjang, yaitu 2-5 tahun. Dengan mengandalkan satu lini bisnis ini saja, sebenarnya perusahaan sudah bisa bertahan dan bahkan berkembang.

Namun kami melihat bahwa tindakan TRAM dalam memperluas cakupan bisnis ke liquid cargo dan dry-bulk adalah sesuatu yang memang diperlukan. Disamping dapat menjadi sumber pertumbuhan yang menguntungkan di masa depan, ekspansi perusahaan ke bidang baru dapat memperkuat fundamental perusahaan, sehingga tidak tergantung sepenuhnya pada suatu sektor atau layanan tertentu saja. Apabila, misalnya, sektor oil & gas tiba tiba menurun tajam, perusahaan tidak akan serta merta bermasalah.

Jika perusahaan dapat melakukan growth yang sukses ke liquid cargo dan dry bulk, maka TRAM dapat berkembang tidak saja sebagai penyedia layanan terintegrasi untuk FSO, tapi benar-benar menjadi an integrated marine transportation service provider.

"Philip Kotler's Executive Class: 73 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: