BLOGSPOT atas
Showing posts with label bisnis tradisional. Show all posts
Showing posts with label bisnis tradisional. Show all posts

Monday, January 23, 2012

FENGSHUI: Ini Daftar Bisnis yang Mengalir di Tahun Naga Air


Erlangga Djumena | Senin, 23 Januari 2012 | 14:44 WIB

KOMPAS.com - Menjelang pergantian tahun baru Tionghoa alias Imlek, banyak pebisnis yang berusaha mencari tahu bisnis yang peruntungannya bagus di tahun yang baru ini. Ramalan dari para ahli fengshui biasanya yang menjadi salah satu rujukan mereka.

Pakar fengshui akan menerawang berdasarkan julukan tahun yang baru. Nah, Imlek pada tahun ini berjuluk Tahun Naga Air. Menurut pakar fengshui yang dihubungi KONTAN, Tahun Naga Air merupakan tahun yang mampu mendatangkan peruntungan bagi beberapa sektor bisnis.

Namun Suhu Benny, pakar fengshui, mengingatkan agar berhati-hati pada tahun ini. Ia bilang, ciri khas Tahun Naga Air adalah raja. Orang ingin berupaya agar dirinya diperlakukan bak raja. Dus, bila tak pandai bersikap akan membuat orang menjadi angkuh. "Makanya supaya kita berperilaku low profile agar tidak terjebak pada sikap angkuh. Begitu pula dalam menjalankan bisnis," begitu nasihat Suhu Benny.

Dia menjelaskan, elemen air mendominasi langit pada Tahun Naga Air ini. Sisi lain, tanah juga mengandung air, sehingga unsur air menjadi banyak dan berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan di alam. Namun karena negara kita berada di garis khatulistiwa, di mana elemen apinya tinggi, maka tanah tetap stabil. Dus, bisnis yang berhubungan dengan tanah maupun air akan cerah pada tahun ini.

Nah, apa saja bisnis yang peruntungannya akan cemerlang pada Tahun Naga Air ini? Berikut ulasan beberapa pakar fengshui;

1. Bisnis Makanan dan Minuman
Tahun Naga Air juga memberikan peruntungan bagi para pebisnis makanan dan minuman, seperti bisnis rumah makan. Para ahli fengshui bilang, bisnis makanan dan minuman itu berkaitan dengan elemen air, sehingga prospeknya masih bagus.
Menurut Suhu Benny, bisnis makanan dan minuman ini tidak akan mati sebab jumlah penduduk semakin banyak. Pertumbuhan ekonomi pun juga semakin baik sehingga mendongkrak tingkat daya beli masyarakat.
Demikian juga menurut Suhu Liem. Dia juga bilang, bisnis makanan dan minuman ini akan mendongkrak bisnis lain, seperti bisnis supermarket dan minimarket. Dua sektor ini, secara fengshui masuk katagori elemen tanah.
2. Agribisnis
Bisnis di sektor agribisnis seperti tanam-tanaman, hasil pertanian, perikanan dan peternakan, prospeknya juga akan bagus di Tahun Naga Air. Alasannya, bisnis tersebut masuk kategori elemen air.
Menurut Suhu Benny, bisnis di sektor agribisnis akan meningkat. Ini bisa ditandai dari tingginya pertumbuhan bisnis tanaman, baik padi maupun yang lain. Meski demikian, cuaca , infrastruktur dan irigasi masih menjadi kendala utama, dan ini harus diwaspadai. "Bisnis ini bisa menjadi peluang besar," jelasnya

Namun, Suhu Liem punya pandangan berbeda. Menurutnya, bisnis pertanian yang tumbuh di tanah dan air akan mengalami kegagalan panen akibat curah hujan yang tinggi.

3. Industri kreatif
Bisnis di industri kreatif juga akan menggeliat di Tahun Naga Air. Menurut Suhu Liem, secara fengshui, industri kreatif ini memadukan elemen tanah dan kayu. Tanah yang mengandung unsur air akan menyuburkan kayu. Dus, dalam pandangan dia, industri kreatif akan berkembang.
Menurut Suhu Acai, yang paling prospektif adalah industri kreatif di bidang hiburan. "Tren perkembangan dunia hiburan juga semakin baik," imbuhnya
Tapi Suhu Benny bilang, bisnis industri kreatif berhubungan dengan elemen kayu jadi tidak cocok dengan air. Dia memprediksi kreatif seperti seni, fotografi, tekstil, dan fashion akan meredup. Alasannya, dominasi air bisa membusukkan kayu.

4. Bisnis properti
Bisnis di sektor properti memang sedang menggeliat. Beruntung bagi Anda yang sedang menjalankan bisnis properti karena di Tahun Naga Air membawa berkah bagi bisnis properti. Suhu Benny bilang, bisnis properti ini antara lain bisnis bahan bangunan, investasi tanah, serta perumahan.
Pakar fengshui dari Universitas Maranatha, Suhu Liem Boen Hong mengamini. Dia bilang, usaha yang tergolong elemen tanah akan terus mengalami perkembangan.
Begitu pula penerawangan ahli fengshui, Suhu Acai. Tahun Naga Air, menurut dia, akan mendatangkan keberuntungan bagi bisnis yang berhubungan dengan tanah, seperti properti. "Apalagi populasi penduduk terus bertambah dan tempat tinggal menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi," ujarnya.
Sehingga ia melihat kecenderungan orang ayang semakin banyak menaruh duitnya untuk membeli tanah atau rumah bisa mendapatkan keuntungan lebih.
Terlepas dari itu, Teguh Satria, Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Real Estate Indonesia (REI), mengakui, bisnis properti memang diprediksikan bakal bergairah di tahun ini. Apalagi bunga kredit perbankan makin rendah, sehingga memacu penyaluran kredit perumahan. (Noverius Laoli, Fahriyadi/Kontan)

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com

Tuesday, October 19, 2010

Mimsy, Tas Lokal yang Mendunia

Selasa, 19/10/2010 | 09:33 WIB
KOMPAS.com — Christyna Theosa awalnya adalah seorang mahasiswi yang berkuliah di Amerika Serikat, yang tidak puas dengan clutch yang banyak ditemukannya di pasaran. Menurutnya, clutch yang dijual di pasaran tidak sesuai dengan seleranya, dan harganya terlalu mahal. Selain itu, kebanyakan clutch juga hanya cocok dikenakan pada satu jenis acara saja, entah formal, atau kasual. Jarang ada clutch yang bisa dipakai untuk suasana atau acara apa saja.
Christyna yang kuliah di jurusan grafis, Art Center College of Design Pasadena, akhirnya mulai membuat clutch-nya sendiri dengan label Mimsy pada tahun 2004. Perempuan kelahiran Tuban, 2 Januari 1982, ini banyak bereksperimen dengan bahan dan warna untuk menciptakan desain yang elegan, unik, dan classy, tetapi juga seksi dan funky. Ia mendesain clutch-nya dengan bahan terbaik seperti kulit Italia, kain lace Jepang dan Perancis, pita sutra, beludru, hingga kristal Swarovski. Semua tas dan clutch-nya juga dilapisi dengan bahan suede Italia dan satin. Tas-tas buatannya ini dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta.

Christyna memasarkan koleksinya door to door, sampai akhirnya memutuskan untuk memilih jalur konsinyasi dengan toko tas dan pakaian di daerah Main Street, Santa Monica, CA. "Lingkungan itu adalah daerah perkantoran orang-orang film Hollywood dan studio film," ujarnya.
Tas Mimsy yang bergaya edgy ternyata diminati, dan penjualannya terus melesat. Christyna pun kemudian menyasar pencinta fashion dengan budget terbatas dan membuat label Clementine yang dibanderol Rp 158.000- Rp 600.000-an. Perbedaan ada pada bahan bakunya, "Namun, kualitas sama baiknya," terangnya lagi.

Christyna peduli sekali dengan pemasaran Mimsy dan Clementine sehingga dia pun bekerja sama dengan PR marketing khusus fashion di Los Angeles. Mereka membuat Mimsy ikut serta dalam acara-acara fashion internasional dan mendapat liputan media luar negeri seperti Women’s Weekly (Singapura) dan Fashion Addict (Amerika).
"Brand Mimsy pun jadi dikenal dan order pun datang semakin banyak," ungkapnya lagi. Kini, tas karyanya bisa ditemui di Amerika (New York, Los Angeles, Chicago), Jepang, Malaysia, dan tentunya Indonesia (Grand Indonesia Shopping Town). Koleksi tas ini juga bisa diakses di www.mimsycollections.com.

Saat ini Christyna telah bekerja sama dengan label internasional, seperti Bebe dan Urban Outfitters. Untuk Bebe, dia menciptakan tas Mimsy limited edition. Christyna juga tidak melupakan akarnya sebagai wanita Indonesia, setiap tahun dia menciptakan koleksi tas dengan unsur Indonesia.
"Tahun lalu kita menggunakan batik, tahun ini kita pakai tenun Makassar. Bahkan kita menggelar show khusus untuk koleksi ini di New York," ujarnya bangga.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai desainer grafis ini pun berbagi tips untuk desainer yang ingin mengikuti jejaknya, "Never give up, try new things and be original. Kekayaan budaya masih bisa kita kembangkan lebih ke dunia luar," ujarnya menutup pembicaraan.

(Tabloid Nova/Franka)

Editor: Dini

KOMPAS


- Muhammad Idham Azhari

Thursday, October 7, 2010

Mau Sukses Wirausaha? Jangan Jadi Broker

Kamis, 7/10/2010 | 06:55 WIB

KOMPAS.com — Kaya bukan menjadi ukuran kesuksesan sebuah usaha. Wirausaha yang sukses dan bertahan membutuhkan kerja keras yang bukan cuma bermodalkan kepintaran. Jika ingin sukses berbisnis, Anda harus berani memulai dari bawah, berinovasi, cerdas, bekerja keras, dan memiliki strategic thinking.

"Orang Indonesia banyak yang kaya karena menjadi broker. Padahal, yang dibutuhkan untuk membangun wirausaha sukses adalah kerja keras dari bawah dengan inovasi bisnis yang baru. Start small, dream big," papar pengamat ekonomi Aviliani seusai peluncuran program reality show kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge, beberapa waktu lalu.

Pebisnis yang memiliki fondasi kuat akan selalu siap menghadapi kendala. Saat gagal berbisnis, pebisnis tak patah arang dan akan bertahan.

Kompetisi bisnis bisa memotivasi

Selain fondasi yang kuat, dalam berbisnis juga diperlukan kompetisi. Kompetisi bisnis inilah yang meningkatkan motivasi.

"Kalau tak terbiasa bersaing, belum apa-apa sudah merasa down," tambah Aviliani.

Semangat untuk mempertahankan bisnis dalam kondisi sesulit apa pun semakin terasah jika mental kuat. Inilah juga manfaat kompetisi bisnis, selain juga sportivitas yang teruji.

Siap menjadi pengusaha sukses dengan cara ini?

WAF

Editor: Dini
KOMPAS


- Muhammad Idham Azhari

Monday, September 27, 2010

Yang Perlu Dimiliki 'Entrepreneur' Muda

Senin, 27/9/2010 | 08:18 WIB

KOMPAS.com — Bukan hanya jumlah wirausahawan yang masih sedikit, motivasi berwirausaha juga masih minim di Indonesia. Padahal, kata ekonom Aviliani, jika wirausaha Indonesia tidak tangguh, maka masyarakat ekonomi ASEAN akan masuk dan menguasai lini ini pada 2015.

"Peningkatan daya tahan perlu dilakukan untuk wirausaha Indonesia. Selain itu juga menginspirasi lebih banyak lagi orang untuk berwirausaha," kata Aviliani, saat peluncuran kompetisi wirausaha dalam program acara realitas Diplomat Success Challange di Jakarta, Kamis (23/9/2010).

Pentingnya inovasi
Menurut Aviliani, untuk memiliki daya tahan yang tangguh dan berdaya saing tinggi, wirausahawan perlu berinovasi. Inovasi tak berhenti saat kali pertama membangun bisnis. Untuk memenangkan persaingan, inovasi perlu dilakukan terus-menerus.

"Wirausaha bukan sekadar bermodalkan pintar jualan. Bisnis restoran tak akan berkembang jika tak dibarengi inovasi. Berinovasi dengan kemasan yang berbeda, orang akan datang. Di sinilah pentingnya inovasi," Aviliani mencontohkan.

Tanpa inovasi, usaha akan berjalan di tempat.

Daya tahan tinggi
Aviliani menegaskan, mentalitas wirausaha perlu dibangun sejak dini. Kemampuan bertahan saat kondisi sedang jatuh menunjukkan mentalitas pebisnis. Dengan mental yang kuat, pebisnis takkan begitu saja menutup usahanya saat sedikit merugi atau mengalami masa krisis.

Wirausahawan harus tahan banting dalam berbagai situasi yang dihadapi. Tak boleh menjadi pebisnis yang hanya senang saat keuntungan melimpah, lalu menjadi lemah saat kerugian melanda bisnisnya.

Kemampuan manajemen diri
Bagaimana bisa mengatur orang lain jika tak bisa mengatur diri sendiri? Kemampuan manajemen diri perlu teruji. Inilah prinsip yang harus dipegang teguh entrepreneur jika ingin sukses dengan usahanya.

"Usaha menjadi tidak tangguh karena utang terlalu banyak untuk kepentingan konsumsi pribadi. Inilah sebabnya pengusaha sukses orangnya itu-itu saja," kata Aviliani menggambarkan ketidakmampuan wirausahawan pemula mengatur dirinya.

Bagaimana tolok ukurnya? Pebisnis yang tidak tangguh dan tak mampu mengatur dirinya akan menghabiskan 50 persen pinjaman kredit untuk konsumsi diri dan 50 persen untuk usaha. Ini jelas salah kaprah.

Menurut Aviliani, kebanyakan orang Indonesia membelanjakan pinjaman kredit untuk gaya hidup daripada untuk bertahan dengan bisnisnya. Anggapannya, dengan membuat tampilan luar yang bagus, akan menarik konsumen datang. Pada akhirnya, kredit yang harusnya dimanfaatkan untuk membuat bisnis bertahan malah habis percuma untuk kebutuhan yang sifatnya konsumtif.

Mengubah pola pikir pekerja menjadi pengusaha

Menjadi entrepreneur adalah inspirasi bagi orang lain sekaligus mendorongnya mengubah mindset atau pola pikir.

"Orang daerah selalu menanyakan anaknya, nanti mau kerja di mana. Banyak juga orangtua yang senang jika anaknya menjadi PNS. Padahal ekonomi kelas menengah bisa meningkat dengan wirausaha," lanjut Aviliani.

Banyak cara menginspirasi orang lain menjadi pengusaha skala kecil menengah atau besar di Indonesia. Salah satunya, Anda, dengan latar pendidikan tinggi, tak lagi mencari kerja, tetapi justru menciptakan lapangan kerja dengan berwirausaha.

Seperti dilakukan Hendy Setiono, pemilik waralaba Kebab Turki Baba Rafi. Pria yang memulai bisnis sejak berusia 19 tahun ini sukses mengembangkan usaha waralaba lokal buatannya. Hendy yang terpilih sebagai juri Diplomat Success Challange telah teruji dalam hal daya tahan.

"Dari 14 usaha yang saya bangun, delapan di antaranya gagal. Tidak ada sukses yang instan," katanya di kesempatan yang sama.

Menurut Hendy, generasi muda masih terobsesi mencari lapangan kerja. "Padahal, setelah lulus kuliah, semestinya mereka bisa menciptakan lapangan kerja," tambah pria yang pernah berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, ini.


WAF

Editor: Dini

KOMPAS

Saturday, September 18, 2010

Dari Sopir Jadi Juragan Kue Kacang Hijau

Sabtu, 18 September 2010 | 14:43 WIB

Mohammad Hilmi Faiq

Kue kacang hijau sudah sejak lama menjadi salah satu cemilan warga Kota Sabang, Pulau We, Nanggroe Aceh Darussalam. Pada tahun 1980-an, beberapa warung menjual kue kacang hijau buatan ibu rumah tangga itu dengan cara diletakkan di atas nampan atau piring.

Warga menilai kue kacang hijau hanyalah camilan biasa, tidak ada istimewanya. Apalagi, kue itu hanya bertahan satu sampai dua hari. Lebih dari itu, tidak lezat lagi disantap karena basi.

Beda dulu, beda sekarang. Tangan dingin Marfin Gunawan (53) atau kerap dipanggil A Guan berhasil mendongkrak citra kue kacang hijau dari sekadar kue kelas toko menjadi kue andalan Kota Sabang. Tidak ada yang menyangka kalau mantan sopir angkutan barang itu mampu mendongkrak pamor kue kacang.

Di hampir semua pusat oleh-oleh khas Sabang, termasuk di Pelabuhan Balohan, pemilik toko memajang Kue Kacang Hijau AG Sabang ini. Para pelancong yang singgah ke Sabang merasa kurang puas kalau tidak membawa pulang Kue Kacang Hijau AG Sabang. Ketenaran Kue Kacang Hijau AG Sabang bahkan sampai ke Yogyakarta melalui anggota TNI Angkatan Udara yang terbang bolak-balik Yogyakarta-Sabang sebulan sekali.

Semua itu butuh ketekunan, keuletan, dan perjuangan panjang. Pria kelahiran Sabang, 13 Juni 1957, itu sendiri tidak pernah menduga kalau harus menggeluti usaha pembuatan kue kacang hijau.

Perjodohan Marfin dengan kue kacang hijau, yang mirip dengan bakpia, itu bermula pada suatu hari pada tahun 1994. Saat itu, seorang pengusaha kacang hijau tingkat rumah tangga memberinya resep rahasia membuat kue kacang hijau kepada Marfin. Pengusaha itu sendiri memilih alih profesi karena merasa usaha lamanya itu tidak prospektif.

Marfin lantas mencoba resep rahasia itu dan menitipkannya di toko-toko. Hasilnya sama saja, kuenya tidak begitu laku. Dalam sehari hanya sekitar 50 biji yang terjual dari 100 biji yang tersedia. ”Dari situ saya mulai mencari cara agar kue kacang ini lebih diminati pembeli,” kata Marfin, akhir Juli lalu.

Inovasi

Dia menemukan dua kekurangan mencolok dalam pembuatan kue kacang hijau. Kue tersebut terlalu basah dan rasanya hambar karena menggunakan minyak goreng. Setelah beberapa kali berinovasi, dia menemukan pengganti minyak goreng yang pas, yakni mentega yang membuat kuenya lebih kering dan gurih.

Dampak inovasi itu sangat nyata. Omzet penjualan kue kacang hijau terus melambung. Pada tahun 2000, omzetnya mencapai 200 sampai 300 kotak per hari, dengan harga Rp 11.000 per kotak. Satu kotak berisi 20 biji kue kacang hijau. Semua dia lakukan sendiri, dibantu anggota keluarganya.

Marfin biasa bangun pukul 03.00 untuk membuat adonan kue. Dia baru tidur pada pukul 22.00 pada saat semua bahan untuk esok hari telah siap. Kebiasaan itu berlangsung sampai sekarang.

Namun, masih ada yang mengganggu Marfin karena kuenya hanya bisa bertahan satu sampai dua hari alias cepat basi. Untuk itu, dia menambahkan zat antibasi dalam adonannya. Ide untuk penambahan zat antibasi itu datang dari petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan saat Marfin berkonsultasi tentang cara meningkatkan mutu kuenya. Hasilnya, kue bisa bertahan sampai sepekan.

”Zat antibasi ini bukan pengawet. Saya tidak berani memberi zat pengawet karena katanya bisa mengganggu kesehatan,” kata Marfin.

Usaha pembuatan kue kacang hijau terus berkembang. Marfin perlu tambahan tenaga kerja sehingga dia merekrut 25 ibu rumah tangga di sekitar rumahnya di Jalan Sultan Hasanuddin, Sabang, sebagai pekerja.

Selain itu, dia merasa perlu membeli alat-alat produksi baru untuk pengembangan usaha. Dari awalnya menggunakan oven manual, kemudian Marfin membeli tiga oven semimanual seharga Rp 400.000 per buah. Saat keuntungan kian melimpah, dia membeli oven putar sebanyak empat buah, Rp 11 juta sampai Rp 16 juta per buah.

Terdampak tsunami

Ketika tsunami menghantam Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004, usaha Marfin ikut menjadi korban ikutan. Meskipun semua alat produksi selamat dari hantaman tsunami dan semua anggota keluarga selamat, usahanya lesu.

Tak ada seorang pun pegawainya yang masuk kerja karena mereka sibuk menyelamatkan diri dan merawat keluarganya yang menjadi korban. Kalau pun Marfin memaksakan membuat kue, tidak akan ada yang membelinya. ”Saat itu, banyak orang berpikir sulit untuk bisa pulih, tetapi saya yakin masih bisa bertahan dan maju,” katanya.

Tiga bulan usaha Marfin mati dan itu membuatnya sempat berpikir usahanya berakhir. Seiring pulihnya korban tsunami, semangat Marfin pun pulih. Apalagi, para karyawannya kembali bekerja.

Seolah berangkat dari nol lagi, Marfin meyakinkan diri dan karyawannya bahwa usahanya akan maju jika mereka tetap bersemangat. Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Omzet Marfin pulih dan bahkan naik menjadi 500 kotak per hari.

Saat itu dia merasa perlu inovasi baru. Jika sebelumnya kotak kemasan kue kacang hanya berupa kardus polos, sekarang dia berpikir untuk membuat merek bergambar dan berlabel halal. Tujuannya agar para pelancong semakin mantap menjadikan Kue Kacang Hijau AG Sabang sebagai oleh-oleh.

Dia lantas menghubungi koleganya di Medan, Sumatera Utara, untuk membantu mencetak dan membuat desain kotak kemasan kue kacang hijau. Sejak saat itu, tepatnya awal 2005, kemasan Kue Kacang Hijau AG Sabang lebih menarik dan menawan seperti yang terlihat di berbagai warung dan toko pusat oleh-oleh.

Kerja keras Marfin tidak hanya diapresiasi oleh pelanggan. Badan POM memberinya penghargaan berupa piagam Bintang Keamanan Pangan karena telah menerapkan prinsip dasar keamanan pangan. Badan POM menilai, proses pembuatan Kue Kacang Hijau AG Sabang menjaga higienitas, keamanan penyimpanan, sanitasi yang bagus, serta peralatan yang aman dan bersih.

KOMPAS

Friday, September 10, 2010

Investasi Saham atau Berbisnis?

Jumat, 10/9/2010 | 01:58 WIB

KOMPAS.com
— Dana likuid yang Anda miliki akan lebih berkembang dan menghasilkan jika diinvestasikan. Di antara berbagai pilihan investasi, apakah Anda masih bingung mengambil keputusan? Satu sisi Anda tertarik membeli saham, tetapi di sisi lain prospek bisnis sepertinya menjanjikan. Jadi pilih mana?


Prinsipnya, Anda harus memiliki tujuan finansial yang jelas sebelum memilih jenis investasi. Tom Martin Charles Ifle, mentor coach yang juga praktisi hipnoterapi, mengatakan, sebelum mengambil keputusan berinvestasi sebaiknya pertimbangkan dengan matang dan perhitungkan risiko.

Pada praktiknya, 99 persen orang masih bingung menentukan tujuan finansial. Selain itu, kecenderungan investor pemula adalah mudah tergiur dengan produk money game yang menjanjikan keuntungan. Alasan lain yang membuat seseorang mudah tergiur adalah juga karena ikut-ikutan teman yang membeli produk serupa.

"Secara teori semua orang tahu dan paham prinsip berinvestasi. Namun kenyataannya, praktiknya berbeda dengan teori. Ini ada hubungannya dengan emosi. Kemampuan otak yang tidak terlatih akan mengakibatkan kerugian saat mengambil keputusan. Dan banyak orang melakukan kesalahan berulang dan tidak belajar dari kesalahan mereka," Tom memaparkan dalam bukunya yang berjudul Big Brain Big Money.

Nah, untuk menjawab kebingungan Anda memilih di mana sebaiknya menanamkan modal, Tom memberikan gambarannya. Sebaiknya kenali perbandingan antara menanamkan modal pada saham atau di bisnis, sebelum menetapkan pilihan.

Faktor pertimbangan memilih saham atau bisnis di antaranya dengan membandingkan alat ukurnya, tingkat akurasi, perubahan harga dan alasannya, kepemilikan, dan risiko. Berikut perbandingan sederhana versi Tom:

Saham
Untuk mengukur penanaman modal pada saham Anda hanya perlu melihat harga saham tersebut. Sedangkan nilai akurasi investasi di pasar modal ini cenderung akurat meski sering kali salah prediksi. Perubahan harga terjadi setiap detik pada investasi saham disebabkan harga penawaran yang selalu berubah. Kepemilikan saham rata-rata selama 11 bulan. Risiko investasi saham adalah adanya penurunan sementara pada harga saham yang cenderung fluktuatif.

Bisnis
Untuk mengukur modal yang sudah ditanamkan pada bisnis, lihatlah jumlah nilai aset Anda. Tingkat akurasi pada bisnis bergantung pada ketepatan prediksi dari pemilik bisnis tersebut. Perubahan harga pada bisnis tidak terlalu fluktuatif seperti saham. Harga berubah 2-3 kali dalam setahun pada investasi bisnis. Perubahan harga sangat bergantung pada nilai omzet yang dihasilkan pemilik usaha. Bisnis bisa berjalan hingga beberapa generasi, tergantung kemampuan manajemen pemilik bisnis. Bicara risiko, bisa terjadi penurunan yang pasti dari aset pada bisnis Anda.

Bagaimana pengalaman Anda? Investasi apa yang akan Anda pilih jika diberikan opsi saham atau berbisnis?


WAF

Editor: Josephus Primus

KOMPAS

Friday, August 27, 2010

Rumus dapat Fulus dari Tempat Kursus

Jumat, 27 Agustus 2010 | 15:22 WIB

KOMPAS.com - Bekal pendidikan bagi masa depan si buah hati merupakan hal utama yang harus dipersiapkan para orang tua. Mereka tidak akan sungkan merogoh koceknya dalam-dalam demi memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya sejak usia dini.

Tapi, membekali anak dengan ilmu dari lembaga formal seperti sekolah, rasanya, belumlah cukup. Belakangan ini, para orangtua merasa perlu menambah asupan pendidikan bagi anak-anaknya di berbagai lembaga pendidikan informal. Seperti, les bahasa Inggris, les komputer, hingga bimbingan belajar tambahan mata pelajaran dari sekolah.

Karena itu, kini banyak pemodal yang terjun ke bisnis bimbingan belajar (bimbel). Salah satunya adalah Dedy Purwanto, yang pada tahun 2009 membuka usaha bimbel bertajuk AyoPinter!. Bendera usahanya adalah CV Purwadira yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bimbel ini memiliki tiga fasilitas yaitu bimbingan belajar mata pelajaran sekolah, kursus bahasa Inggris, dan kursus komputer. Usaha ini menyediakan layanan pendidik untuk jenjang usia playgroup hingga kalangan dewasa.

Pengelola bimbel AyoPinter! mengklaim, sistem dan konsep pembelajaran di lembaganya telah teruji, sesuai kurikulum di sekolah formal. Dengan sistem seperti itu, bimbel AyoPinter! mendapat sambutan positif dari pasar.

Untuk melebarkan sayap bisnisnya, mulai tahun ini pengelola bimbel AyoPinter! menawarkan konsep kemitraan kepada masyarakat yang berminat terjun ke bisnis ini.

Ada tiga jenis paket kemitraan yang ditawarkan AyoPinter!. Pertama, Paket Standar dengan nilai investasi Rp 14,9 juta. Kedua, Paket Silver bernilai investasi Rp 54,9 juta. Ketiga, Paket Platinum seharga Rp 155 juta. Tentu saja, kelengkapan fasilitas ketiga paket ini disesuaikan dengan harga investasinya.

Pada Paket Standar, misalnya, hanya mendapatkan fasilitas modul dan alat tulis kantor, media promosi, pelatihan, dan renovasi tempat. Adapun Paket Silver akan mendapat tambahan perlengkapan seperti komputer jinjing (laptop) dan seragam karyawan sebanyak lima setel.


Hak master kemitraan

Jika memilih Paket Platimum, mitra mendapatkan peralatan dan perlengkapan yang lebih lengkap dari Paket Silver. Selain itu, mitra memperoleh hak sebagai master kemitraan di kota tempat bimbel itu berdiri. "Mitra boleh menjaring mitra lain di daerah itu," kata Sri Irdayati, Managing Director AyoPinter!.

Namun, biaya investasi awal tersebut belum termasuk biaya sewa tempat, kirim peralatan, survei, dan akomodasi pelatih yang ditanggung oleh calon mitra. Mitra juga wajib membayar biaya royalti 10 persen dari omzet, yang dibayar pada bulan kedua setelah operasi.

Pemasukan mitra bimbel AyoPinter! didapat dari pendaftaran murid baru dan biaya kursus setiap bulan. Biaya pendaftaran di bimbel ini sebesar Rp 100.000 per orang. Sementara, biaya semua kursus Rp 129.000 untuk satu periode selama sebulan. "Kami ingin membuat sebuah lembaga kursus yang bisa masuk ke semua kalangan dengan harga yang terjangkau," ujar Sri.

Dia menambahkan, setelah Lebaran ini ada tiga calon mitra yang akan membuka gerai AyoPinter!. Memang, sekarang, lembaga bimbel ini belum memiliki mitra dan baru memiliki satu gerai bimbel.

Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, Amir Karamoy, menilai pemain di bidang pendidikan seperti bimbel sudah terlalu banyak di Indonesia. Tapi, agar masyarakat tetap berminat menjalin kemitraan, bimbel AyoPinter! harus memiliki keistimewaan dari bimbel lainnya.

Misalnya, metode pengajaran yang baru atau keunggulan kurikulumnya. "Mitra harus mencari tahu hal itu terlebih dahulu sebelum menjalankan kemitraan ini," kata Amir.

KOMPAS

Thursday, August 26, 2010

Mentawai Bakal Kembangkan Mutiara

Kamis, 26 Agustus 2010 | 21:35 WIB

PADANG, KOMPAS.com - Kabupaten Kepulauan Mentawai akan dijadikan pusat pengembangan kerang mutiara mulai tahun 2011 mendatang.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar, Yosmeri, Kamis (26/8/2010) mengatakan hal itu didasarkan temuan bibit kerang mutiara di wilayah Sikakap, Pulau Pagai Utara , sejak sekitar satu tahun lalu.

Menurut Yosmeri, bibit kerang mutiara itu berasal dari upaya pembudidayaan kerang mutiara di sekitar Pelabuhan Sikakap dengan sistem keramba pada 1986 yang dianggap gagal.

Ia menambahkan, selain di Mentawai, pihaknya juga akan mengembangkan pembudidayaan kerang mutiara itu ke wilayah Kabupaten Pesisir Selatan.

KOMPAS

Saturday, June 12, 2010

PROFIL USAHA: Meraup Dollar AS dari Kulit Kerang

Sabtu, 12 Juni 2010 | 03:18 WIB

Oleh Siwi Yunita C

Di tangan Nur Handiah Jaime Taguba, kulit kerang simping atau capiz shell tak lagi hanya sampah. Dengan kreativitasnya, kulit kerang yang bertebaran di pantai Cirebon, Jawa Barat, itu menjadi berbagai perkakas bernilai dollar AS. Pemilik Perusahaan Multi Dimensi Shell Craft ini yang mampu membawa kulit kerang pantura menembus dunia.

Pasar kerajinan kulit kerang di Eropa dan Amerika Serikat yang sebelumnya hanya dikuasi Filipina telah ia jajaki. Jerman, Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Polandia, Bulgaria, Rusia, dan Amerika Serikat menjadi negara-negara tujuan ekspornya selama ini.

Setiap bulannya perusahaan yang ia pimpin bisa mengirim sekitar dua kontainer kerajinan ke pasar internasional. Sebuah volume ekspor yang tidak kecil bagi pengusaha yang memulai usaha dari nol ini.

Kesuksesan Nur itu berawal dari kejeliannya melihat peluang. Awalnya perempuan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 49 tahun yang lalu itu memanfaatkan tumpukan kulit kerang untuk diekspor ke Filipina pada tahun 2000.

Kebetulan ibu dari lima anak ini mempunyai relasi dengan para perajin kulit kerang di tanah kelahiran suaminya, Jaime Taguba, di Filipina.

”Awalnya hanya menyuplai bahan baku saja. Kebetulan pembuatan kerajinannya ada di Filipina. Jadi, kami memasok bahan bakunya,” kata Nur di bengkel kerjanya, April 2010.

Meski sudah mampu mengurangi sampah pantai dan ikut terlibat dalam menghidupi warga sekitar, termasuk nelayan, Nur tidak ingin berhenti di titik itu.

Menurutnya kerang yang ia kirimkan seharusnya bisa lebih berharga lagi jika ada nilai tambahnya. Akhirnya ia mulai menjual bahan baku dengan kondisi lebih baik lagi, yakni yang sudah dibersihkan. Dari hasil jual kulit kerang bersih itu, ia bisa mendapatkan hasil yang lebih dan bisa mempekerjakan lebih banyak orang.

Dalam perkembangannya, Nur pun berinisiatif menggeluti industri kerajinan sendiri. Dibantu sang suami, Nur mengawali kreativitasnya dalam mengolah kulit kerang menjadi kap lampu di bengkel kerjanya di Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.

Mulanya hanya jenis lampu gantung, lalu berkembang menjadi berbagai macam produk lain dengan model dan ukuran. Lampu duduk, misalnya, ada yang model berdiri serta ditempel di dinding. Kesemuanya menggunakan bahan kulit kerang, terutama kerang simping yang diperolehnya dari para nelayan di pantura.

Dari sekadar lampu itu, hasil karyanya berkembang lagi menjadi furnitur. Meja rias dengan berbagai bentuk yang unik dan glamor, meja tamu, hingga kursi santai. Inovasinya terus mengalir hingga kemudian muncul dinding berornamen kerang hingga lantai keramik dari kerang. Perhiasan mulai dari gelang, kalung, hingga anting pun tak luput dari bidikannya.

Bahannya pun tak lagi hanya dari kerang simping, tetapi juga dari kerang dara atau kerang lain yang selama ini juga hanya menjadi sampah dan terbuang begitu saja di tepi pantai. Sesuatu yang diyakini juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia, negara dengan lebih dari 17.000 pulau ini.

Dengan sentuhan seni dan kreativitas, sampah kulit kerang yang awalnya tak berharga itu kini berubah menjadi perkakas cantik dan glamor yang digemari masyarakat, terutama di Eropa.

Tujuh ruang pamernya di Cirebon, Bali, dan Jakarta kini penuh dengan berbagai macam hasil karya kerangnya. Bahkan, bisa dikatakan hanya menggambarkan sedikit dari karya yang telah ia buat.

Usahanya juga telah mengangkat perekonomian warga di sekitarnya. Jumlah karyawan di bengkel kerjanya kini tidak hanya 60 orang seperti saat ia memulai karier sebagai pengekspor kulit kerang, tetapi berkembang menjadi 500 orang. Mereka rata-rata adalah kaum perempuan dan ibu-ibu di sekitar pusat kerajinannya, yang awalnya tidak bekerja. Kini perekonomian keluarga mereka terbantu.

Kuncinya di kreativitas

Kreativitas selama ini memang menjadi kunci yang selalu dipegang Nur Handiah. Selama ini saingan berat bisnisnya adalah para perajin dari Filipina yang telah lebih dulu terjun dalam industri kulit kerang.

Nur memang sempat menyewa desain khusus. Namun, ia akhirnya lebih memilih belajar mendesain sendiri karena selama ini desainnya ternyata juga bisa diterima di pasaran internasional.

Bukan hal yang mudah menciptakan barang yang laku di pasaran. Demi sebuah ide, Nur harus meluangkan waktu untuk belajar, membuka wawasan, membaca berbagai rubrik desain, dan menyempatkan diri untuk berkontemplasi, bahkan survei.

Promosinya dalam mengenalkan kerajinan kulit kerangnya juga tak terbatas di dalam ruang pamer. Ketika harus bertemu dengan orang lain, perempuan yang selalu berpenampilan rapi ini mengenakan berbagai pernak-pernik dari kulit kerang, mulai dari aksesori hingga tas tangan. Semuanya agar langsung diketahui orang lain. Bahkan, rumahnya pun berhias kulit kerang.

Ia juga memutar otak untuk bisa membuat barangnya tetap terjangkau di pasaran. Dengan trik desain tertentu, sebuah sofa berhiaskan kulit kerang bisa berharga lebih murah dibandingkan dengan sofa yang dibuat oleh perajin dari Filipina. Dengan berbagai jalan itulah ia mampu bersaing dengan perajin luar negeri lain meski baru saja memulai bisnis sepuluh tahun lalu.

Nur mengakui, bisnisnya memang sempat surut ketika dunia digoyang krisis ekonomi akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Meski demikian, pasarnya tidak mati.

Permintaan dari Amerika Serikat memang berkurang, tetapi Eropa tetap memberikan tempat bagi kerajinannya. Kini pasar kerajinannya di Amerika Serikat berangsur-angsur pulih.

Di dalam negeri sendiri, kerajinan kulit kerang belum banyak ditiru oleh perajin lain. Padahal, bahan baku sangat mudah didapati. Nur tidak pernah kesulitan mendapatkan 60 ton kulit kerang setiap bulan untuk bahan bakunya. ”Mungkin orang mengira ini kerajinan dari sampah sehingga kurang menarik, mungkin juga karena keuntungannya kecil,” katanya merendah.

Meski demikian, Nur mengaku tetap setia pada kulit kerang. Menurutnya, yang penting bukan dari mana bahannya, tetapi jadi apa hasilnya. Bagi Nur, sampah bisa menjadi apa saja tergantung dari cara merawatnya. Jika dibuang tetap, akan menjadi sampah. Namun, jika dirawat, bisa lebih berguna, misalnya kulit kerang bisa dinilai dalam dollar AS seperti apa yang telah ia lakukan.

KOMPAS

Sunday, April 18, 2010

I N V E STAS I: Berusaha dalam Musik

Minggu, 18 April 2010 | 04:22 WIB

Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Jika Anda termasuk penggemar musik dan kerap membeli CD atau kaset atau pengguna RBT, boleh jadi Anda sering kebingungan menghafal nama-nama penyanyi atau grup band baru. Sejak beberapa tahun belakangan, industri musik Indonesia kebanjiran artis baru. Hampir setiap hari ada CD atau kaset yang beredar.

Industri musik telah membius banyak kaum muda sebagai wilayah profesi yang menjanjikan.

Seiring dengan perkembangan musik yang demikian dahsyat, bermunculan pula berbagai perusahaan rekaman indie.

Pertanyaannya, apakah perusahaan semacam itu bisa sukses? Apakah menanamkan dana dalam industri musik bisa dianggap sebagai investasi?

Industri musik pada dasarnya bisa dikategorikan menjadi dua area besar, yakni industri musik panggung dan industri musik rekaman. Untuk industri musik panggung, artis penyanyi mendapatkan kontrak untuk show. Dalam hal ini, yang mendapatkan kontrak bisa hanya si artis, bisa juga berikut band pengiring. Dan dewasa ini sudah cukup banyak kalangan yang menjalankan bisnis entertainment semacam ini, mulai dari menjadi agen artis atau sekaligus menyediakan segala sesuatu yang menyangkut industri musik panggung.

Untuk industri rekaman, prosesnya relatif lebih panjang. Seorang artis penyanyi yang akan membuat album rekaman harus menyiapkan lagu yang akan dinyanyikan. Untuk itu, produser sang artis mesti membeli lagu dari pencipta lagu. Kemudian, lagu yang terpilih mesti dibuatkan aransemen oleh penata musik. Bisa saja seluruh lagu diaransemen oleh penata musik yang sama, tetapi bisa juga satu lagu untuk satu penata musik.

Penata musik

Untuk mengaransemen lagu, penata musik membutuhkan pemain gitar, bas, keyboards, drum, dan lainnya. Ini tentu ada biayanya. Proses pembuatan aransemen lagu dilakukan di studio rekaman. Keseluruhan proses produksi album tersebut tentu memakan biaya dan waktu yang cukup panjang. Setelah lagu selesai diaransemen dan dinyanyikan, masih ada proses mixing dan mastering, yakni semacam sentuhan akhir agar musik bisa terdengar lebih halus, bersih, dan sesuai dengan karakter lagu. Semua proses tersebut disebut dengan pembuatan master rekaman.

Pada tahap berikutnya, produser mesti melakukan duplikasi atau memperbanyak rekaman itu menjadi CD dan kaset yang siap edar. Agar CD tersebut menarik perhatian, tentu mesti didesain, baik untuk informasi maupun penciptaan daya tarik visual bagi yang melihat CD tersebut. Setelah itu, barulah CD dicetak dan siap untuk didistribusikan.

Apakah ada jaminan bahwa CD tersebut akan laku di pasar? Sama sekali tidak ada. Kendati musik merupakan kebutuhan bagi semua orang, tapi kadar kebutuhannya bisa berbeda. Ada yang sekadar mendengar musik dari radio atau televisi, tetapi ada juga yang ingin memiliki CD/kaset dari penyanyi. Oleh karena itu, CD dan kaset dari penyanyi baru mesti dipromosikan agar dikenal oleh masyarakat.

Promosi bisa menggunakan jalur radio, televisi, surat kabar, majalah, dan pertunjukan dari si artis. Dalam praktiknya, biaya yang dikeluarkan produser untuk promosi bisa lebih besar ketimbang biaya pembuatan master rekaman.

Jadi, seorang produser musik rekaman mesti melakukan investasi untuk membayar artis, membayar pencipta lagu, membayar penata musik, menyewa studio rekaman, membayar biaya mixing dan mastering, membiayai proses reproduksi atau duplikasi dari CD dan kaset, serta menanggung biaya promosi artis.

Kembalinya investasi

Bagaimana investasi tersebut bisa kembali? Ada tiga sumber. Pertama, dari hasil penjualan CD/kaset. Pada masa lalu ada penyanyi yang CD atau kasetnya laku sampai jutaan keping. Tetapi, dewasa ini sangat sulit untuk bisa menjual CD/kaset sampai jutaan keping. Bisa laku ratusan ribu atau malah puluhan ribu saja sudah sangat hebat. Kenapa demikian? Karena saat ini banyak sekali artis bermunculan sehingga di antara mereka terjadi persaingan yang ketat. Lebih dari itu, lagu-lagu si artis diputar di berbagai radio sehingga para penikmat musik lebih suka mendengarkan lewat radio dan belum tentu mau membeli CD/kaset dari si artis.

Kedua, ring back tone (RBT). Inilah alternatif baru dalam industri musik yang berkembang pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Para pengguna telepon mengunduh lagu yang disukainya dan menjadikannya sebagai nada sambung pribadi.

Sebuah lagu yang disukai bisa diunduh oleh jutaan pengguna telepon seluler. Dan pendapatan yang diperoleh seorang produser serta artis dari bisnis RBT ini bisa jauh lebih tinggi dibandingkan hasil penjualan CD.

Ketiga, pertunjukan. Ketika artis mulai beranjak populer, biasanya akan ada permintaan untuk show yang dilakukan di daerah-daerah. Untuk show tersebut artis dan produser selaku manajemen pengelola artis akan memperoleh pendapatan. Bayangkan, jika dalam sebulan ada empat kali penampilan, dan honor sekali tampil adalah Rp 10 juta, maka akan diperoleh Rp 40 juta. Apalagi, jika sekali tampil dibayar sebesar Rp 30 juta-Rp 40 juta, maka perolehan honor show bisa di atas pendapatan hasil penjualan CD.

Apakah semua artis dan produser bisa meraup pendapatan sebagaimana dipaparkan di atas? Jelas tidak. Dalam realitasnya, bisa disebut, artis dan produser yang sukses dalam industri musik rekaman hanya 10 persen dari total pelaku. Kenapa demikian? Karena yang namanya seni musik sangat bergantung pada selera pasar. Album rekaman dan artis yang akan sukses adalah yang mampu memenuhi selera pasar.

KOMPAS

Saturday, April 17, 2010

PROFIL USAHA: Maju dengan Sekolah Bloger

Sabtu, 17 April 2010 | 03:45 WIB


Stefanus Osa Triyatna

Mungkin agak aneh terdengar, kalau bikin blog mesti ada sekolahnya. Akan tetapi, itulah bisnis blog yang dijadikan peluang oleh Asri Tadda, pemuda Luwu Timur, Sulawesi Selatan, untuk membangun semangat kewirausahaan mandiri tanpa harus memiliki kantor.

Kegetolan Asri Tadda (29) mampir di warung internet telah mengubah kehidupannya, bahkan mengubah arah cita-cita sebagai dokter sebagaimana diharapkan orangtuanya. Padahal, ke warung internet (warnet) itu dilakukan di sela-sela kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Alasan sulitnya membiayai kuliah membuat pemuda kelahiran Pabeta, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu memulai bisnis online sejak awal tahun 2007. Asri menekuni aktivitas online sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2005.

Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief ini, kegemarannya mampir di warnet bikin kesal keluarganya. Karena menekuni bisnis online, kuliahnya sempat tersendat-sendat. Namun, beginilah cara Asri membiayai kuliahnya.
Maklum, Asri mengaku hanyalah seorang pengelola petak pertambakan air asin dan penggiling gabah. Itulah modal untuk membiayai kuliahnya.

Padahal, di warnet itulah Asri menghabiskan waktunya membaca kisah-kisah sukses pengusaha besar. Sampai-sampai, dirinya tertarik untuk bisa berwirausaha. Syukur-syukur bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

”Dari membaca-baca, terutama informasi masalah sosial, saya menulis berbagai opini di surat kabar lokal,” kata Asri.

Awal tahun 2007 Asri mengenal bisnis blogging melalui program blog advertising. Perkenalannya dengan dunia blog dimulai dari aktivitas untuk menulis dan memublikasikan artikel, puisi, dan tulisan curahan hati alias curhat secara online pada media hosting blog gratis.

Karena rajin mencari informasi seputar bagaimana cara menghasilkan uang dari internet, akhirnya Asri menemukan titik terang dalam bisnis online hingga saat ini.

Asri mengakui, hambatan terbesarnya adalah keterampilan. Dia sama sekali tidak punya dasar pengetahuan tentang internet dan website sehingga awal perjalanan bisnis online-nya sangat lambat. Semua prosesnya otodidak.

”Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing,” kata Asri.

Hingga saat ini dia memiliki sekitar 200 blog dengan berbagai tema dan semuanya disajikan dalam bahasa Inggris. Meskipun sibuk, Asri menyempatkan diri meng-update blog-blog tersebut. Bahkan, dia punya target membuat 2-3 blog baru setiap bulan. Semua ini sebenarnya menjadi investasi bisnis online ke depan.

Bisnis serius

Sejak April 2009, Asri bersama rekan-rekannya di AstaMedia Group meluncurkan AstaMedia Blogging School pada bulan Maret 2009 di Makassar. Namun, sekolah itu baru diluncurkan secara resmi ke publik pada 16 Mei 2009.

Tujuannya adalah berbagi peluang mendapatkan penghasilan dan membuka lapangan pekerjaan alternatif, khususnya bagi generasi muda. Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu Blogging Basic untuk para pemula, Blogging Pro untuk mereka yang sudah fokus mengelola dan mengoptimalkan blog sebagai sumber penghasilan, dan Blogging for Professionals untuk mereka yang memiliki profesi tertentu, tetapi sangat ingin belajar blogging.

Asri menjamin, dalam masa maksimal tiga bulan setelah proses pendidikan dan pelatihan selesai, para siswa yang sudah lulus di Blogging Pro akan memiliki penghasilan dari blog-blog mereka. Apalagi, tenaga pengajarnya adalah para bloger senior yang sudah malang melintang dalam dunia blog advertising dan menghasilkan banyak uang dari blogging sehingga secara tidak langsung juga turut menumbuhkan motivasi bagi para siswa.

Target utama Blogging School ini adalah kalangan generasi muda. Namun, dirinya tidak menutup diri jika ada kalangan masyarakat umum. Saat ini ada sekitar 100 siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. 

Sebagian besar di antara mereka kini sudah berpenghasilan di atas 250 dollar AS atau Rp 2 juta per bulan.
”Memang, mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini adalah tantangan kami di AstaMedia Blogging School,” kata Asri, yang pernah juara kedua Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tingkat nasional tahun 2008.

Dapat dikenal

Pengetahuan blogging diharapkan dapat dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia dan menjadi lapangan kerja alternatif yang minim modal, tetapi dengan potensi yang sangat besar.

Asri mengakui, ada beberapa orang yang menyangsikan bisnisnya karena ilmu blogging sesungguhnya sudah sangat berlimpah di internet. Hanya saja, tidak semua orang bisa belajar tanpa pendampingan. Buktinya, tingkat kesuksesan AstaMedia Blogging School kini mencapai 85 persen. Artinya, hanya sekitar satu orang dari setiap kelas yang menemui hambatan berarti dalam mencapai penghasilan online.

Saat ini Asri mengatakan sudah menghasilkan 12 angkatan alumni Blogging Pro dan 20 angkatan tingkat dasar. Siswa di AstaMedia Blogging School memang diberikan jaminan, dalam masa maksimal tiga bulan akan mendapatkan penghasilan online dari blog. Hal ini sudah dibuktikan pada semua angkatan alumni.
Bahkan, sebagian besar dari siswa sudah menghasilkan uang dari blog mereka pada akhir bulan pertama masa belajar atau malah ketika sedang mengikuti pelajaran kelas.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, February 21, 2010

Investasi Langsung

Minggu, 21 Februari 2010 | 03:15 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Investasi langsung adalah menempatkan uang secara langsung pada perusahaan, proyek, atau bisnis dengan harapan bisa memperoleh tingkat imbal hasil yang menarik. Polanya bisa bermacam-macam. Jika perusahaan yang menjalankan bisnis berbentuk perseroan terbatas atau CV, dana yang Anda tempatkan bisa ditukar dengan saham pada perusahaan tersebut.

Dengan kata lain, dana Anda menjadi equity. Oleh perusahaan dimaksud, dana yang sudah dalam bentuk equity itu akan dipakai sebagai modal usaha. Imbal hasil yang Anda peroleh berupa dividen yang akan dibagikan pada setiap tahun, dengan catatan perusahaan memperoleh keuntungan dan pemegang saham setuju untuk membagikan laba sebagai dividen.

Model ini tidak jauh beda dengan membeli saham di pasar modal. Hanya saja, saham di pasar modal dengan mudah bisa diperjualbelikan dan harganya bisa naik turun. Sementara, jika menempatkan dana sebagai saham di perusahaan yang belum go public, harganya lebih bersifat statis. Harga saham hanya bisa naik turun jika memang ada pihak yang ingin membeli kepemilikan tersebut secara langsung atau terjadi negosiasi bilateral.

Penempatan dana sebagai modal sebuah perusahaan juga memungkinkan Anda untuk turut serta mengelola perusahaan, baik sebagai komisaris, direksi, ataupun pemilik. Namun, konsekuensinya, keberhasilan ataupun kegagalan perusahaan menjadi tanggung jawab Anda.

Dalam bentuk lain, investasi langsung bisa dilakukan dengan cara menempatkan dana dalam sebuah proyek bisnis. Katakanlah, sebuah perusahaan memiliki banyak proyek dan perusahaan tersebut kekurangan modal kerja untuk menggarap proyek dimaksud. Anda bisa ikut serta melakukan investasi, misalnya, memberikan pinjaman dana secara langsung dan perusahaan itu akan membayar kembali setelah proyek selesai dengan memberikan imbal hasil. Imbal hasil ini bisa lebih besar dari tingkat bunga kredit bank. Mengingat, proses mendapatkan dana pinjaman dari Anda relatif lebih mudah ketimbang perusahaan itu meminjam dari bank.

Selain dengan cara pinjam meminjam, investasi di sebuah proyek yang dimiliki suatu perusahaan bisa juga dilakukan dengan cara ”bagi hasil”. Ini lebih bergantung kesepakatan kedua pihak. Bedanya, kalau dalam bentuk pinjam meminjam, Anda sebagai investor akan mendapatkan imbal hasil sebagaimana diperjanjikan, tidak peduli, apakah proyek tersebut meraup keuntungan besar atau malah merugi.

Sebaliknya, dengan konsep bagi hasil, Anda turut menanggung risiko jika proyek merugi. Namun, Anda akan mendapatkan imbal hasil besar pula jika proyek berhasil mendulang keuntungan.

Memilih partner

Memilih jenis investasi dan menjaga segala risikonya merupakan faktor yang jauh lebih penting. Ada beberapa hal yang selayaknya menjadi perhatian.

Pertama, pahami dengan siapa Anda hendak bekerja sama. Faktor partner merupakan hal yang paling penting dari investasi langsung.

Jika Anda belum mengenal partner secara langsung, rekam jejaknya layak untuk dipelajari. Faktor integritas, pengalaman, dan kompetensi di bisnis tersebut mesti menjadi pertimbangan utama. Konkretnya, fakta yang pernah dialami partner, keberhasilan dan kegagalannya, lebih layak dipertimbangkan ketimbang janji manis ketika bernegosiasi dengan Anda.

Kedua, sedikit banyak memahami tentang proyek atau bisnis yang akan dimasuki. Ini bisa dilakukan dengan mempelajari lebih dahulu karakteristik proyek atau bisnis dimaksud. Bagaimana proses bisnisnya, dari mana keuntungan akan diperoleh, dan tentu saja risiko dalam bisnis tersebut.

Jika Anda tidak memiliki keahlian dalam proyek bisnis dimaksud, Anda boleh bertanya kepada yang sudah punya pengalaman atau ahli dalam proyek bisnis sejenis. Dalam bahasa yang lebih akademis, ada baiknya Anda melakukan studi kelayakan proyek. Apa pun hasil dari studi tersebut, akhirnya bergantung kepada diri Anda sendiri. Walaupun bisnisnya dianggap prospektif, tetapi kalau Anda tidak memiliki minat, sebaiknya tidak usah dimasuki.

Ketiga, membuat perjanjian berdasarkan kontrak hukum yang kuat. Benar, kepercayaan merupakan hal penting dalam berbisnis atau melakukan investasi langsung. Namun, investor yang profesional tidak pernah memercayakan dana hanya berdasarkan komitmen lisan yang tidak ada bukti dokumennya.

Oleh karena itu, kalau Anda hendak melakukan investasi langsung, maka A to Z dari pola penempatan dana Anda berikut hak dan kewajiban mesti dituangkan dalam kontrak hitam putih di depan notaris. Dengan demikian, kalau salah satu pihak wanprestasi atau ingkar janji, Anda sudah memiliki dokumen yang kuat untuk melakukan penuntutan.

Keempat, memahami horizon investasi terhadap proyek bisnis yang dimasuki. Artinya, apakah Anda ingin menempatkan dana di perusahaan yang menjalankan bisnis itu dalam kurun waktu yang lama atau kemudian Anda akan keluar setelah memperoleh imbal hasil sebagaimana diinginkan. Time horizon investasi seperti ini penting diputuskan sejak awal karena akan berdampak pada hasil final dari seluruh investasi Anda.

KOMPAS

Sunday, January 31, 2010

Investasi: Restrukturisasi Investasi

Minggu, 31 Januari 2010 | 03:04 WIB

Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Anda mungkin telah menikmati hasil investasi yang memuaskan pada tahun 2009. Apalagi kalau Anda berinvestasi di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 2.535, dari sebelumnya 1.350-an di posisi akhir tahun 2008 atau meningkat sebesar 86 persen, jelas termasuk kenaikan yang luar biasa.

Bandingkan, dengan kalangan yang berinvestasi dalam bentuk dollar AS. Nilai rupiah yang menguat, malah membuat para pemegang dollar AS merugi, ketika dollar AS dihitung dalam rupiah. Jadi, kalau Anda ”kebetulan” menanam dana di pasar modal, tahun 2009 merupakan tahun panen, yang boleh jadi peningkatan sebesar 86 persen itu tidak akan berulang lagi di tahun 2010.

Bagaimana dengan investasi Anda di bidang-bidang lain? Kemungkinan besar tidak seindah investasi di pasar modal. Indikasinya bisa dilihat dari beberapa hal. Pertama, pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2009, hanya sekitar 10 persen. Implikasinya, kucuran sumber dana modal kerja dan kredit investasi ke sektor riil tidak terlalu besar.

Selanjutnya, dengan modal kerja yang terbatas, geliat sektor riil juga terbatas. Dan pada gilirannya, potensi keuntungan dari kegiatan di sektor riil juga tidak terlalu besar. Lebih jauh lagi, sangat mungkin omzet transaksi perdagangan juga menurun. Imbas dari semua itu, potensi gain dari investasi yang terkait dengan sektor riil juga rendah. Malah, beberapa kalangan mungkin mengalami kerugian. Misalnya, yang menempatkan dana dalam bentuk investasi di apartemen yang baru dibangun. Peningkatan harganya tidaklah sedahsyat investasi lainnya, atau malah, sulit untuk mencari pembeli.

Bunga

Kedua, tingkat bunga yang berada pada level 6 persen. Benar laju inflasi juga rendah, yakni di angka 2,7 persen, sehingga pemilik dana yang menempatkan uang dalam bentuk deposito berjangka masih bisa menikmati return sekitar 3 persen per tahun. Tapi itu belum dipotong pajak. Setelah dipotong, tentu netto-nya menjadi lebih rendah.

Konkretnya, penempatan dana dalam bentuk deposito berjangka sebagai suatu investasi di tahun 2009, dari sisi return jelas tidak menarik sama sekali. Apalagi, jika dana tersebut ditempatkan dalam bentuk tabungan, hasilnya bisa zero, setelah dikurangi dengan inflasi dan pembayaran pajak bunga.

Dengan situasi seperti itu, jelas, kendati sebagian dari Anda mungkin menikmati gain luar biasa besar di pasar modal, sebagian lagi mungkin juga malah mengalami masalah dengan investasi di tahun 2009. Dan kalau Anda termasuk yang tertimpa masalah, lantas apa yang mesti dilakukan di tahun 2010, terkait dengan kegiatan investasi Anda? Beberapa hal berikut mungkin bisa dijadikan referensi.

Pertama, merancang kembali alokasi investasi berdasarkan tujuan keuangan yang hendak dicapai di tahun 2010 dengan mempertimbangkan aspek makroekonomi, mikro, dan juga politik serta tentu saja tujuan keuangan itu sendiri. Mengenai hal ini sudah pula dibahas dalam beberapa tulisan terdahulu.

Kedua, melakukan restrukturisasi terhadap investasi yang belum memberikan gain bagus atau malah dalam kondisi bermasalah. Apa yang dimaksud dengan restrukturisasi? Singkatnya adalah mengupayakan investasi yang belum baik menjadi baik dan atau investasi yang bermasalah menjadi tidak bermasalah. Apa contohnya? Kita mulai dengan investasi saham di pasar modal.

Bahwa secara umum harga saham di pasar modal mengalami peningkatan adalah fakta. Tetapi, jika dilihat per saham, ada saham yang tidak mengalami kenaikan harga. Di samping itu, ada investor yang membeli saham, ketika harga sudah terlalu tinggi, sehingga belum memperoleh potensi gain. Situasi semacam ini banyak dialami pelaku di pasar modal dan terhadap saham-saham semacam itu tentu harus ada solusinya. Seperti apa?

Ada beberapa alternatif yang bisa ditempuh. Jika Anda yakin bahwa fundamental value dari saham tersebut cukup baik, maka terhadap saham-saham yang harganya belum meningkat malah bisa dilakukan pembelian lagi. Jadi portofolio saham Anda ditambah. Dan kalau saat ini harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga ketika dulu Anda beli, maka secara rata-rata biaya yang Anda keluarkan untuk membeli saham tersebut menjadi lebih rendah. Ini disebut juga dengan istilah averaging down.

Cara lain adalah segera melepas saham kendati rugi. Ini layak jika saham memang tidak memiliki fundamental value yang kuat. Dengan menjual saham dimaksud, Anda memperoleh cash yang bisa diinvestasikan kembali ke saham lain. Dengan harapan keuntungan atau gain dari saham yang baru bisa menutupi kerugian dari saham yang Anda jual. Dalam hal ini tentu saja Anda harus juga memperhitungkan dividen yang sudah Anda peroleh dari saham tersebut.

Itu jika restrukturisasi hendak dilakukan untuk saham. Bagaimana dengan investasi lain? Anda juga mungkin mengalami masalah pada investasi di sektor riil, misalnya ikut teman menjalankan bisnis dan ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Apa yang mesti dilakukan?

Bisnis

Jika tidak berjalannya suatu bisnis, di mana Anda menanamkan uang di dalam bisnis tersebut, lebih dikarenakan faktor ekonomi makro, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, ekonomi seperti sebuah siklus, akan mengalami masa baik, setelah melewati masa surut. Kalau penyebabnya seperti ini, yang perlu dicermati hanyalah soal cash flow. Artinya, bagaimana agar cash in flow tetap bisa lebih besar dibandingkan dengan cash out flow.

Namun jika kondisinya sudah memburuk, di mana cash out flow lebih besar dibandingkan dengan cash in flow, Anda mesti mempertimbangkan dua hal: menambah modal, baik dari kantong sendiri maupun mengajak partner lain dan atau melepas bisnis tersebut. Menambah modal dan atau mengajak mitra bisa dipertimbangkan jika memang bisnisnya masih prospektif dan Anda memiliki kemampuan untuk menjalankan bisnis dimaksud.

Persoalannya lebih kepada faktor makro. Tetapi, jika masalah yang dialami oleh bisnis Anda terkait dengan ketidakmampuan mengelola bisnis, ada baiknya berpikir ulang untuk meneruskan bisnis tersebut. Karena faktornya bukan makroekonomi, melainkan di internal Anda. Dengan kata lain, kendati makroekonomi membaik, belum tentu bisnis Anda menguntungkan.

Dari contoh di atas jelas, investasi yang Anda lakukan, di pasar modal maupun sektor riil, jika mengalami masalah, tidak boleh dilakukan pembiaran. SeMesti ada langkah korektif yang disebut restrukturisasi, baik itu dalam rangka perbaikan maupun mengurangi kerugian yang lebih parah.

KOMPAS

Tuesday, October 6, 2009

Kemal Arsjad, Bangkit lewat Tombol BlackBerry


Selasa, 6 Oktober 2009 | 08:30 WIB
KOMPAS.com - Bangkit dari masa lalu yang kelam. Begitulah tekad yang dijalankan Kemal Arsjad hingga sukses mendirikan Better-B, perusahaan pembuat aplikasi telepon seluler BlackBerry.

Sekalipun lahir dari keluarga yang mapan dan kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) yang mahal, Kemal harus menjalani masa muda yang kelabu.

Sembari kuliah di Jurusan Marketing UPH, pada 1994, Kemal menjalankan bisnisnya, mengelola gokart off road dan berbagai event organizer di Bukit Sentul. Bisnisnya lumayan sukses. Tapi, sayang, Kemal terjerumus dalam dunia obat-obatan terlarang. Alhasil, kuliahnya pun molor tujuh tahun dan hampir drop out (DO).

Bukan itu saja. Duitnya nyaris habis. “Pada tahun 2000, saya bangkrut dan sempat tidak punya apa-apa lagi,” kenang Kemal. Untungnya, ia bisa lulus kuliah pada 2001.

Biarpun sudah bangkrut, Kemal masih belum putus asa. Ia ingin membangun kembali bisnisnya. Hanya, pintu jaringan sudah tertutup baginya. “Cap anak bengal sudah melekat. Kala itu benar-benar saya terpuruk,” kenang Kemal, pahit.

Kemal lalu memutuskan untuk menjalani rehabilitasi di sebuah pondok pesantren. “Saya mulai menyadari kesalahan,” ujar Kemal, sembari senyum.

Setelah lulus kuliah pada 2001, Kemal sempat kerja di Elnusa. Saat bertugas ke Dumai, Riau, kepekaan sosial Kemal disentil. Ia melihat masyarakat Dumai tidak banyak menikmati kekayaan minyak di tanah mereka sendiri. Melihat kondisi itu, Kemal termotivasi untuk bangkit dan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Ia pun memberanikan diri keluar dari pekerjaannya.

Titik balik kehidupan Kemal lahir dari sebuah ketidaksengajaan. Karena sangat menggemari gadget, Kemal tertarik untuk menjalankan bisnis yang berkaitan dengan gadget.

Memang, latar belakang pendidikannya bukan di dunia teknologi informasi. Tapi, Kemal paham benar mengenai gadget. Maklum, ia ganti ponsel setiap dua bulan–tiga bulan sekali.

Nah, ide untuk berbisnis TI berawal dari ponsel pintar BlackBerry, yang dibeli Kemal pada tahun 2006. Dari pengalaman memakai BlackBerry, Kemal tahu bahwa terjadi pergeseran pada para pemakai ponsel pintar tersebut. Pasalnya, orang tidak hanya menggunakan BlackBerry untuk berkomunikasi belaka, namun juga untuk menikmati hiburan. “Itu menjadi celah bisnis,” ujar lelaki kelahiran 1976 ini.

Kemal lalu bergabung dengan milis BlackBerry dunia. Dari hasil diskusi dengan beberapa anggota komunitas BlackBerry, ia menggali kebutuhan konsumen ponsel. Bersama teman-temannya, Kemal lalu mulai mengeksplorasi dan mencoba membuat beberapa aplikasi untuk layanan smartphone itu.

Tidak diacuhkan RIM

Kemal kemudian mencoba mencari informasi bagaimana cara menjadi rekanan Research in Motion (RIM) selaku produsen BlackBerry yang berbasis di Kanada. Ia mengirim e-mail permohonan ke Kanada.

Sayang, usaha Kemal tidak membuahkan hasil. Tidak ada satu pun pejabat RIM yang menjawab e-mailnya. Sampai suatu ketika di tahun 2008, Kemal bertemu dengan manajer marketing senior RIM Asia Pasifik pada acara BlackBerry di Senayan City, Jakarta.

Kemal memberanikan diri menyampaikan ide untuk membuat aplikasi BlackBerry. Dengan bekal pengetahuan di bidang pemasaran dan hobi gadget-nya, Kemal menjelaskan secara singkat tentang hitung-hitungan potensi pasar dan pendapatan secara umum. “Hebatnya, mereka percaya dan tertarik. Benar-benar pengalaman yang luar biasa,” kata bapak satu anak tersebut.

Pada akhir 2008, Kemal bersama ketiga temannya mendirikan PT Diantara Kode Digital, pengembang software aplikasi BlackBerry dengan nama Better-B. Perusahaan ini pun kemudian menjadi rekanan RIM. “Kami menyediakan aplikasi BlackBerry untuk pelanggan ritel dan korporat,” katanya.

Kemal juga menyambangi tiga operator telekomunikasi besar untuk bekerjasama melengkapi konten aplikasi mereka. Salah satunya, Better-B membuat sistem belanja dengan ponsel alias virtual mall.

Dengan virtual mall, pelanggan bisa mengunduh aplikasi, wallpaper, ring tone, info merchant yang menawarkan diskon, sampai tip bermanfaat. “Kami akhirnya bekerjasama dengan PT Excelcomindo Pratama (XL) dengan nama layanan XL Mall,” tutur Kemal.

Total, Better-B menyediakan sebanyak 30 aplikasi untuk pelanggan BlackBerry XL, baik ritel maupun korporat. Saat ini, menurut Kemal, lebih dari 40.000 pelanggan BlackBerry XL aktif mengakses aplikasi XL Mall setiap bulan.

Walhasil, dengan tarif berkisar Rp 5.000–Rp 15.000 setiap kali download, total pendapatan dari aplikasi itu mencapai Rp 500 juta per bulan. Karena Better-B mendapat jatah bagian 40 persen, omzet Kemal mencapai Rp 200 juta sebulan, hanya dari satu aplikasi itu saja. ( Yudo Widyanto /Kontan)

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, July 19, 2009

Gershon, di-PHK untuk Jadi Pengusaha Sablon

Minggu, 19 Juli 2009 | 08:21 WIB

KOMPAS.com — Sahabat baik tidak selamanya harus dibela mati-matian. Dalam hal tertentu, seorang sahabat harus berani menyatakan sesuatu yang pahit. Akhir Desember 2002, pemutusan hubungan kerja ternyata bukan harga mati bagi Gershon Prasetya (39) untuk bangkit menggarap sablon kaus kecil-kecilan dengan penuh kegembiraan.

Sambil menirukan pesan sahabatnya, Gershon mengatakan, ”Gershon, saya terpaksa mem-PHK kamu. Ini pilihan berat. Aku harus relakan kamu keluar. Kalau kamu tetap di perusahaan ini, kamu tidak akan berkembang.”

Sebelumnya, dia bekerja di perusahaan importir elektronik. Gershon dikenai PHK karena perusahaan tersebut tiba-tiba bangkrut. Meski berbagai biaya operasional sudah dikurangi, langkah PHK tak bisa dihindari. ”Bayangkan, sahabat yang sudah bekerja sama dan membuat saya mencapai posisi general manager di perusahaan importir elektronik akhirnya mem-PHK saya,” kata Gershon yang kini berusaha bersama istrinya Suliani, membuat kaus sablon dengan merek Joyful.

Dengan satu bulan gaji hasil PHK, Gershon memulai ”hidup baru” bersama istrinya. Di tengah kegamangan setelah dikenai PHK, Gershon mendapatkan sebuah nasihat, ”Kerjakan dari apa yang ada padamu”.

Akan tetapi, dia dalam hatinya balik bertanya, ”Apa yang ada pada kami? Istri saya hanya sekadar memberikan les privat,” ujar Gherson.

Namun, pada suatu waktu Suliani tiba-tiba mendapatkan order tas ransel sablonan. Sementara Gershon yang pernah menjadi subdistributor Semen Gresik memberanikan diri untuk mencari order di pabrik semen itu. Rupanya, pabrik semen itu membutuhkan kaus sablon yang diproduksi Gershon.

Karena tidak memiliki latar belakang usaha pembuatan kaus, Gershon diajak kerja sama dengan temannya yang memiliki perusahaan teknologi informasi.

Tidak punya modal

Tahun 2003, Gershon diminta memanfaatkan ruang usaha di kawasan Sudirman, Jakarta. Namun, setiap mendapatkan order, pembagian keuntungannya hanya 35 persen, sedangkan selebihnya, yakni 65 persen, harus diberikan kepada rekanannya.

”Waktu itu, saya mau saja. Saya enggak punya modal sama sekali untuk buka kantor di Jakarta,” kata Gershon, yang kini sudah membuka kantor pemasaran di daerah lain di Jakarta.

Hanya berjalan sekitar 1,5 tahun, Gershon tersadarkan. Kerja kerasnya tidak mendatangkan keuntungan yang semestinya bisa diraihnya. Begitu dihitung-hitung ternyata Gershon merasa dibohongi sehingga kerja sama terpecah.

Dalam komitmennya, Gershon berjanji tidak akan mengambil seluruh daftar konsumennya. Namun, apabila selama setahun, konsumen dari perusahaan kongsiannya itu tidak digarap, Gershon sedikit demi sedikit mengambil alih untuk melayani konsumen lamanya.

Lelaki bertubuh gemuk yang kini dikaruniai dua anak itu menamakan usahanya ”Joyful”. Langkah usahanya seakan mulai bersinar.

Apalagi, seorang sahabat lainnya pernah mengatakan kepada Gershon, ”Jadilah raja di bidangmu. Fokuslah. Tekuni dahulu barulah melangkah menggali potensi usaha ke bidang lain.”

Hal itu pun diyakini istrinya. Apabila pengusaha lain hanya memproduksi dengan standar promosi, Gershon lebih menekankan standar ritel. Artinya, produksinya bukan sekadar memenangi tender dan meraih order sebanyak-banyaknya, tetapi juga juga mempertahankan kualitas dengan mulai melakukan pemilihan jenis kain, teknik pewarnaan, dan desain.

”Saya selalu mengincar order dari perusahaan-perusahaan. Bukan hanya ordernya besar, tetapi juga ada repeat order yang menggiurkan, apalagi kalau perusahaan itu sudah merasa terpuaskan oleh produk saya,” kata Gershon.

Tidak heran, ordernya bisa mencapai ribuan. Kapasitas produksinya kini bisa mencapai 50.000-100.000 per bulan. Meski banyak perusahaan yang kini meliriknya, Gershon tidak ingin serakah mengejar order.

Bagi dia, kepercayaan konsumen tidak boleh dianggap enteng. Menjaga hubungan baik dan membangun jaringan di dalam pemasaran lebih diutamakan. Karena itulah, komitmen untuk tidak akan membohongi konsumen diwujudkannya dengan pengendalian kualitas produksi. Mutu produk kain yang dipasok dari perusahaan tekstil di Surabaya juga dikontrol.

Gershon dan istrinya sudah memenuhi pesanan sablon dari sebuah perusahaan televisi swasta, produsen semen, dan produsen makanan olahan.

Apabila tidak sanggup menangani sendiri, Gershon pun dengan kerelaan memberikan desainnya secara gratis untuk diproduksi orang lain.(Stefanus Osa)

Sumber : Kompas Cetak

Friday, July 10, 2009

Agoes, dari Iseng Jadi Pengusaha Jamur

Jumat, 10 Juli 2009 | 14:32 WIB

KOMPAS.com - Agoes Poernomo, pendiri usaha jamur UD Payung Manfaat, tak pernah membayangkan bahwa ia bakal menjadi pengusaha jamur seperti sekarang. Semula, pria kelahiran Blitar ini hanya iseng mencoba membuat bibit jamur merang di sekeliling rumahnya. Apalagi, keluarganya penyuka masakan jamur. Ternyata, selain hasilnya bagus, jamurnya juga disukai tetangganya. Agoes pun mulai memperbanyak bibit jamur yang disemainya.

Namun, aktivitas yang dilakoninya sejak tahun 1976 itu hanya bertahan setahun. Sebab, informasi tentang jamur masih sangat terbatas. Ketika itu, bapak dua anak yang masih berstatus pegawai di Departemen Kesehatan di Blitar itu akhirnya kembali menekuni bisnis sampingannya yang lain, yaitu usaha bengkel motor, pembuatan mebel kayu, dan kerajinan batu.

Meski tidak lagi membuat bibit jamur, Agoes terus mengikuti perkembangan bisnis jamur di Blitar. Uniknya, setelah tak menyentuh bisnis jamur beberapa tahun, ternyata nasib membawanya kembali ke budidaya jamur.

Lantaran melihat besarnya peluang bisnis jamur di Blitar dan jumlah pemainnya yang masih sedikit, Agoes memutuskan untuk kembali menekuni budidaya jamur pada 1996. Tapi, ia fokus menggarap bisnis jamur kayu. “Pertimbangannya secara ekonomi, produksinya lebih gampang,” papar Agoes.

Kali ini, Agoes serius menekuni bisnis ini. Pria berumur 59 tahun ini membangun satu rumah kecil di Desa Sumberdiren sebagai pusat usahanya. Ia memajang nama Toko Jamur. Untuk semua ini, dia mengeluarkan modal sekitar Rp 6 juta.

Karena ingin lebih fokus di bisnis jamur, Agoes mengajukan pensiun dini di tempatnya bekerja pada tahun 2000. Selanjutnya, bersama putra pertamanya, Agoes makin serius menekuni bisnis jamur. Ia mengubah nama usahanya menjadi UD Payung Manfaat.

Bisnis Agoes mengalami masa keemasan dari tahun 1998 hingga 2000. Kala itu, dia bisa memproduksi jamur kering maupun jamur segar hingga 6 kuintal setiap bulan.

Agoes pun rajin memberikan penyuluhan tentang budidaya jamur kepada para petani. Bahkan, saat ini, di Blitar saja ia punya sekitar 300 petani plasma binaan. Omzet di tahun pertamanya yang hanya Rp 10 juta per bulan kini berkembang hingga lima kali lipat.

UD Payung Manfaat sudah bisa memproduksi bibit sendiri dan mengolah jamur menjadi berbagai jenis makanan. Dengan dua pabrik serta rumah jamur yang dimilikinya, aset usaha Agoes kini mencapai Rp 700 juta.

Belajar secara otodidak

Menariknya, Agoes mempelajari semuanya dengan otodidak. Ia tak segan melancong ke luar daerah untuk belajar lebih dalam tentang jamur dari petani jamur lain.

Namun, meski tidak mempunyai pengetahuan cukup, Agoes memiliki semangat tinggi untuk belajar. Pada masa awal usahanya, di 1996, anak keenam dari 11 bersaudara ini belajar budidaya jamur lewat berbagai literatur, termasuk buku panduan terbitan dinas pertanian dan kehutanan. “Dua tahun pertama memang berat, cari informasi ke mana-mana, juga cari bibit sampai ke luar daerah,” kenang pria 59 tahun ini.

Setelah merasa memiliki pengetahuan lumayan memadai, ia mulai menjalin kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Airlangga Surabaya. Dengan kedua kampus itu, ia menggelar penelitian dan pengembangan budidaya jamur. Dari sini, ia belajar soal pemilihan media tanam.

Bersama putra pertamanya, Agung Hidayanto, Agoes juga beberapa kali melakukan studi banding ke petani jamur di wilayah Lembang, Bogor dan Yogyakarta. Tujuannya untuk mendalami budidaya jamur secara langsung.

Berbekal ilmu dari petani, dia belajar memodifikasi cara pembudidayaan mereka. Ternyata langkah-langkah itu membuahkan hasil. Bahkan, ia sukses membudidayakan jamur di wilayah Blitar, daerah dataran rendah yang sebenarnya kurang cocok untuk bertanam jamur.

Produktivitas dan kualitas tanaman jamurnya tak kalah dengan yang dihasilkan petani di dataran tinggi. Maka, dari sekedar budidaya, pada awal 1998, ia membuka toko untuk berjualan jamur.

Lini usaha Agoes kian bertambah. Kalau awalnya ia hanya memproduksi jamur kayu segar dan kering, sejak punya toko, dia mulai menjual bibit jamur dan media tanamnya. Pada tahun-tahun tersebut, dalam sebulan ia bisa menghasilkan 6 kuintal jamur segar, 4 kuintal jamur kering dan sekitar 3.000 media tanam yang sudah berbibit.

Pada 2000, Agoes melangkah lebih jauh lagi. Ia tak hanya mengolah jamur menjadi makanan seperti kripik jamur, kopi jamur, hingga kapsul jamur. Ia juga mengganti mereknya, dari semula Toko Jamur, menjadi merek Payung Manfaat. Ia memilih nama itu agar sesuai dengan visi usahanya yang ingin memberi perlindungan (payung) kepada masyarakat.

Di tahun yang sama, dia juga mendapatkan sertifikat dari Dinas Kesehatan untuk semua proses dan hasil produknya. Melihat berbagai kemajuan itu, Agoes makin jatuh hati pada jamur. Agar bisa lebih fokus mengembangkan Payung Manfaat, pria lulusan SMA ini pun mengajukan pensiun dini pada tahun 2000, enam tahun lebih cepat dari jadwal pensiunnya.

Sejak pensiun dini, Agoes kian optimistis terus mengembangkan usahanya. Dalam jangka pendek ini, dia ingin meningkatkan kapasitas produksinya. Selain itu, lelaki tamatan SMA ini terus melakukan inovasi, baik terkait bahan baku, proses pengolahan, hasil produksi, maupun pemasarannya.

Semua itu adalah bagian dari upayanya memujudkan impian besarnya. “Ekspansi ke seluruh Nusantara dengan pengembangan plasma adalah impian terbesar saya,” ujar kakek satu cucu ini.

Agoes yakin, pengembangan plasma di seluruh daerah Indonesia tidak terlalu susah. Sebab, sejak awal dia sudah melakukan pelatihan gratis kepada para petani jamur. Bukan hanya untuk petani di Blitar, Agoes juga memberikan pelatihan kepada para petani dari berbagai daerah lain. “Ini menjadi kebahagiaan tersendiri. Banyak orang bisa belajar dari pengalaman saya,” tuturnya.

Kerelaan Agoes berbagi ilmu inilah yang membuatnya sukses mengembangkan jaringan plasma selama ini. Saat ini dia sudah punya 300 petani plasma di Blitar. Dalam skema plasma ini, Agoes menyediakan bibit jamur dan menampung hasil panen. Jadi petani tinggal memelihara tanamannya saja.

Ke depan, Agoes berharap bisa merangkul ribuan orang yang pernah mendapat pelatihan darinya, khususnya yang berasal dari luar Jawa. Agoes akan memberi bimbingan dan konsultasi bagi mereka yang mau menjadi petani plasma. Da akan memanfaatkan teknologi agar konsultasi bisa kontinyu.

Seiring usianya yang kian bertambah, Agoes mundur perlahan dari kepadatan aktivitas bisnisnya. Sejak tahun 2000, meski masih memegang kendali bisnis, dia tak lagi turun tangan langsung memberi pelatihan.

Lalu sejak 2006, dia mendelegasikan kendali bisnis kepada putra sulungnya, Agung Hidayanto. Impian besarnya pun dia titipkan ke pundak Agung yang sejak awal ikut membesarkan Payung Manfaat. “Sekarang saya hanya turun tangan untuk pembibitan saja,” tuturnya.

Sebagai pegangan bagi penerus bisnisnya, Agoes mewariskan prinsip utama yang selalu dipegangnya selama ini. “Kunci sukses berbisnis adalah ketekunan, serta tidak pelit berbagi ilmu, karena itu sebuah bentuk ibadah,” ujar Agoes.

Dia juga berharap putranya bisa mengembangkan bisnis jamurnya dengan menerapkan teknologi tepat guna. “Dan jangan lupa menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik,” ujar Agoes membagikan nasehatnya kepada putra tertuanya itu.

KOMPAS

Thursday, July 9, 2009

Mengeruk Puluhan Juta dari Bongkahan Batu Apung

Kamis, 9 Juli 2009 | 12:38 WIB

KOMPAS.com - Bongkahan batu apung bisa dimanfaatkan untuk rnempercantik lampu hias. Nilai ekonominya lumayan. Deddy Effendy, perajin batu apung untuk lampu hias dari Yogyakarta, bisa menghasilkan omzet puluhan juta per bulan dengan marjin 30 persen dari kerajinan ini.

Asal kreatif, banyak barang yang kelihatannya tak berguna bisa diolah menjadi barang yang punyai nilai jual lumayan. Salah satunya adalah batu apung. Batu yang lazim kita temui di dasar laut ini bisa hadir di dalam rumah sebagal interior dalam bentuk lampu bias.

Adalah Deddy Effendy, perajin asal Yogyakarta, yang memanfaatkan serpihan batu apung untuk mempercantik desain atau model lampu bias buatannya.

Sejatinya, sejak 2000, dengan modal awal Rp 30 juta, Deddy mulai menekuni bisnis pembuatan kerajinan lampu bias di bawah bendera usaha Palem Craft Jogya. Awalnya, ia hanya memakai material rotan.

Ide pemanfaatan batu apung muncul di benaknya pada 2002. Kala itu, Deddy mencoba memadukan sergihan batu apung pada media fiber. Saat disinari lampu, tekstur batu apungnya memunculkan kesan eksotik dan unik.

Yakin produk kreasi barunya itu bakal menarik minat konsumen, Deddy pun mulai menggunakan batu apung untuk produk lampu hiasnya. Apalagi, saat itu belum ada yang membuat produk sejenis. Hingga saat ini Deddy sudah membuat sekitar 70 model lampu bias dalam bentuk table lamp dan standing lamp.

Dia membeli bongkahan batu apung dari Lombok dan Bali. "Bata asal Lombok berwarna keputihan, sementara asal Bali agak keabu-abuan," papar Deddy. Deddy membeli batu apung dengan harga Rp 200.000 per karung. Satu karung dengan bobot 5-6 kg bisa menghasilkan sekitar 201ampu bias model table lamp.

Pembuatan satu lampu hias makan waktu satu hari. Proses pembuatannya dimulai dengan memotong batu apung dengan gergaji mesin menjadi lempengan setebal 2-3 milimeter dengan panjang dan lebarnya sekitar 10-15 cm. Lalu dicuci bersih.

Kemudian siapkan rangka besi sesuai bentuk dan ukuran yang dinginkan. Bentuknya, misalnya oval, persegi, atau piramida. Saat membuat kerangka tersebut sekaligus buat dudukan lampu dari bahan kayu atau bola-bola besi.

Kemudian, rangka besi dibalut bahan fiber atau mika dan dilapisi kain waring k atau jala. Selanjutnya, serpihan batu apung dilem dan ditempel memenuhi badan lampu. Hasilnya, bentuk rangkaian tersebut mengikuti karakter patahan batu sehingga terlihat alami.

Untuk finishing, Deddy menyemprotkan cat water base berwarna bening pada rangkaian batu. "Sengaja tidak diwarnai karena memang ingin menonjolkan warna alami bate apung," ujar lelaki 36 tahun ini.

Dibantu 30 perajinnya, Deddy bisa memenuhi pesanan 100 unit lampu batu apung per bulan. Sedangkan, untuk stok di galeri, dia biasa membuat 5 hingga 10 unit untuk setiap model. Lampu buatan Deddy rata-rata memiliki lebar dan panjang 20 cm - 45 cm, dengan tinggi 30 cm-150 cm.

Adapun harga jualnya tergantung model dan ukurannya. Untuk jenis table lamp, harganya Rp 150.000 - Rp 300.000 per unit. Sedangkan harga standing lamp sekitar Rp 500.000 - Rp 1,5 juta per unit. Harga standing lamp lebih mahal karena membutuhkan material lebih banyak dan pengerjaannya makan waktu lebih lama.

Dari penjualan lampu bertahtahkan batu apung ini, Deddy meraup omzet Rp 30 juta - Rp 50 juta, dengan margin sekitar 30 persen.

Pasar Deddy bukan hanya di di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Misalnya, Italia, Spanyol, Australia, Jepang, Polandia, dan Rumania.

Menurut Deddy, sejauh ini tak ada kendala dalam usahanya.Bahan bakunya melimpah, dan perajin dengan mudah mempelajari proses pembuatannya. Soal persaingan, meski kini sudah ada pesaing, Deddy optimistis permintaan lampu kreasinya akan terus mengalir karena dia selalu mengeluarkan disain baru. (Dupla Kartini PS/Kontan)

KOMPAS

Mengeruk Puluhan Juta dari Bongkahan Batu Apung

Kamis, 9 Juli 2009 | 12:38 WIB

KOMPAS.com - Bongkahan batu apung bisa dimanfaatkan untuk rnempercantik lampu hias. Nilai ekonominya lumayan. Deddy Effendy, perajin batu apung untuk lampu hias dari Yogyakarta, bisa menghasilkan omzet puluhan juta per bulan dengan marjin 30 persen dari kerajinan ini.

Asal kreatif, banyak barang yang kelihatannya tak berguna bisa diolah menjadi barang yang punyai nilai jual lumayan. Salah satunya adalah batu apung. Batu yang lazim kita temui di dasar laut ini bisa hadir di dalam rumah sebagal interior dalam bentuk lampu bias.

Adalah Deddy Effendy, perajin asal Yogyakarta, yang memanfaatkan serpihan batu apung untuk mempercantik desain atau model lampu bias buatannya.

Sejatinya, sejak 2000, dengan modal awal Rp 30 juta, Deddy mulai menekuni bisnis pembuatan kerajinan lampu bias di bawah bendera usaha Palem Craft Jogya. Awalnya, ia hanya memakai material rotan.

Ide pemanfaatan batu apung muncul di benaknya pada 2002. Kala itu, Deddy mencoba memadukan sergihan batu apung pada media fiber. Saat disinari lampu, tekstur batu apungnya memunculkan kesan eksotik dan unik.

Yakin produk kreasi barunya itu bakal menarik minat konsumen, Deddy pun mulai menggunakan batu apung untuk produk lampu hiasnya. Apalagi, saat itu belum ada yang membuat produk sejenis. Hingga saat ini Deddy sudah membuat sekitar 70 model lampu bias dalam bentuk table lamp dan standing lamp.

Dia membeli bongkahan batu apung dari Lombok dan Bali. "Bata asal Lombok berwarna keputihan, sementara asal Bali agak keabu-abuan," papar Deddy. Deddy membeli batu apung dengan harga Rp 200.000 per karung. Satu karung dengan bobot 5-6 kg bisa menghasilkan sekitar 201ampu bias model table lamp.

Pembuatan satu lampu hias makan waktu satu hari. Proses pembuatannya dimulai dengan memotong batu apung dengan gergaji mesin menjadi lempengan setebal 2-3 milimeter dengan panjang dan lebarnya sekitar 10-15 cm. Lalu dicuci bersih.

Kemudian siapkan rangka besi sesuai bentuk dan ukuran yang dinginkan. Bentuknya, misalnya oval, persegi, atau piramida. Saat membuat kerangka tersebut sekaligus buat dudukan lampu dari bahan kayu atau bola-bola besi.

Kemudian, rangka besi dibalut bahan fiber atau mika dan dilapisi kain waring k atau jala. Selanjutnya, serpihan batu apung dilem dan ditempel memenuhi badan lampu. Hasilnya, bentuk rangkaian tersebut mengikuti karakter patahan batu sehingga terlihat alami.

Untuk finishing, Deddy menyemprotkan cat water base berwarna bening pada rangkaian batu. "Sengaja tidak diwarnai karena memang ingin menonjolkan warna alami bate apung," ujar lelaki 36 tahun ini.

Dibantu 30 perajinnya, Deddy bisa memenuhi pesanan 100 unit lampu batu apung per bulan. Sedangkan, untuk stok di galeri, dia biasa membuat 5 hingga 10 unit untuk setiap model. Lampu buatan Deddy rata-rata memiliki lebar dan panjang 20 cm - 45 cm, dengan tinggi 30 cm-150 cm.

Adapun harga jualnya tergantung model dan ukurannya. Untuk jenis table lamp, harganya Rp 150.000 - Rp 300.000 per unit. Sedangkan harga standing lamp sekitar Rp 500.000 - Rp 1,5 juta per unit. Harga standing lamp lebih mahal karena membutuhkan material lebih banyak dan pengerjaannya makan waktu lebih lama.

Dari penjualan lampu bertahtahkan batu apung ini, Deddy meraup omzet Rp 30 juta - Rp 50 juta, dengan margin sekitar 30 persen.

Pasar Deddy bukan hanya di di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Misalnya, Italia, Spanyol, Australia, Jepang, Polandia, dan Rumania.

Menurut Deddy, sejauh ini tak ada kendala dalam usahanya.Bahan bakunya melimpah, dan perajin dengan mudah mempelajari proses pembuatannya. Soal persaingan, meski kini sudah ada pesaing, Deddy optimistis permintaan lampu kreasinya akan terus mengalir karena dia selalu mengeluarkan disain baru. (Dupla Kartini PS/Kontan)

KOMPAS

Mengeruk Puluhan Juta dari Bongkahan Batu Apung

Kamis, 9 Juli 2009 | 12:38 WIB

KOMPAS.com - Bongkahan batu apung bisa dimanfaatkan untuk rnempercantik lampu hias. Nilai ekonominya lumayan. Deddy Effendy, perajin batu apung untuk lampu hias dari Yogyakarta, bisa menghasilkan omzet puluhan juta per bulan dengan marjin 30 persen dari kerajinan ini.

Asal kreatif, banyak barang yang kelihatannya tak berguna bisa diolah menjadi barang yang punyai nilai jual lumayan. Salah satunya adalah batu apung. Batu yang lazim kita temui di dasar laut ini bisa hadir di dalam rumah sebagal interior dalam bentuk lampu bias.

Adalah Deddy Effendy, perajin asal Yogyakarta, yang memanfaatkan serpihan batu apung untuk mempercantik desain atau model lampu bias buatannya.

Sejatinya, sejak 2000, dengan modal awal Rp 30 juta, Deddy mulai menekuni bisnis pembuatan kerajinan lampu bias di bawah bendera usaha Palem Craft Jogya. Awalnya, ia hanya memakai material rotan.

Ide pemanfaatan batu apung muncul di benaknya pada 2002. Kala itu, Deddy mencoba memadukan sergihan batu apung pada media fiber. Saat disinari lampu, tekstur batu apungnya memunculkan kesan eksotik dan unik.

Yakin produk kreasi barunya itu bakal menarik minat konsumen, Deddy pun mulai menggunakan batu apung untuk produk lampu hiasnya. Apalagi, saat itu belum ada yang membuat produk sejenis. Hingga saat ini Deddy sudah membuat sekitar 70 model lampu bias dalam bentuk table lamp dan standing lamp.

Dia membeli bongkahan batu apung dari Lombok dan Bali. "Bata asal Lombok berwarna keputihan, sementara asal Bali agak keabu-abuan," papar Deddy. Deddy membeli batu apung dengan harga Rp 200.000 per karung. Satu karung dengan bobot 5-6 kg bisa menghasilkan sekitar 201ampu bias model table lamp.

Pembuatan satu lampu hias makan waktu satu hari. Proses pembuatannya dimulai dengan memotong batu apung dengan gergaji mesin menjadi lempengan setebal 2-3 milimeter dengan panjang dan lebarnya sekitar 10-15 cm. Lalu dicuci bersih.

Kemudian siapkan rangka besi sesuai bentuk dan ukuran yang dinginkan. Bentuknya, misalnya oval, persegi, atau piramida. Saat membuat kerangka tersebut sekaligus buat dudukan lampu dari bahan kayu atau bola-bola besi.

Kemudian, rangka besi dibalut bahan fiber atau mika dan dilapisi kain waring k atau jala. Selanjutnya, serpihan batu apung dilem dan ditempel memenuhi badan lampu. Hasilnya, bentuk rangkaian tersebut mengikuti karakter patahan batu sehingga terlihat alami.

Untuk finishing, Deddy menyemprotkan cat water base berwarna bening pada rangkaian batu. "Sengaja tidak diwarnai karena memang ingin menonjolkan warna alami bate apung," ujar lelaki 36 tahun ini.

Dibantu 30 perajinnya, Deddy bisa memenuhi pesanan 100 unit lampu batu apung per bulan. Sedangkan, untuk stok di galeri, dia biasa membuat 5 hingga 10 unit untuk setiap model. Lampu buatan Deddy rata-rata memiliki lebar dan panjang 20 cm - 45 cm, dengan tinggi 30 cm-150 cm.

Adapun harga jualnya tergantung model dan ukurannya. Untuk jenis table lamp, harganya Rp 150.000 - Rp 300.000 per unit. Sedangkan harga standing lamp sekitar Rp 500.000 - Rp 1,5 juta per unit. Harga standing lamp lebih mahal karena membutuhkan material lebih banyak dan pengerjaannya makan waktu lebih lama.

Dari penjualan lampu bertahtahkan batu apung ini, Deddy meraup omzet Rp 30 juta - Rp 50 juta, dengan margin sekitar 30 persen.

Pasar Deddy bukan hanya di di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Misalnya, Italia, Spanyol, Australia, Jepang, Polandia, dan Rumania.

Menurut Deddy, sejauh ini tak ada kendala dalam usahanya.Bahan bakunya melimpah, dan perajin dengan mudah mempelajari proses pembuatannya. Soal persaingan, meski kini sudah ada pesaing, Deddy optimistis permintaan lampu kreasinya akan terus mengalir karena dia selalu mengeluarkan disain baru. (Dupla Kartini PS/Kontan)

KOMPAS