BLOGSPOT atas
Showing posts with label Trader. Show all posts
Showing posts with label Trader. Show all posts

Sunday, October 24, 2010

Memahami Perilaku Saham

Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:59 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Dalam dua tulisan terdahulu telah dibahas tentang investasi saham untuk pemula dan juga bagaimana memilih saham yang potensial. Apakah dengan memahami hal mendasar tersebut sudah memberi garansi bagi Anda untuk sukses dalam investasi saham? Sama sekali tidak.

Sehebat apa pun kemampuan dan pengetahuan Anda tentang saham, tidak merupakan jaminan kalau Anda membeli saham, pasti saham tersebut akan mengalami kenaikan harga. Kenapa? Karena harga saham esok hari adalah sebuah misteri. Karena harga tersebut belum terjadi. Tetapi dengan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam bermain saham, biasanya akan memberikan ”insting” bagi Anda untuk lebih memahami perilaku saham dan pergerakan harganya.

Oleh karena itu, paparan berikut akan melanjutkan analisa perihal saham, khususnya bagaimana membentuk portofolio saham, lalu mendeteksi perilaku terbentuknya harga dan momentum untuk membeli saham.

Pertama, membentuk portofolio saham. Seperti konsep diversifikasi yang mengatakan jangan pernah menaruh telur dalam satu keranjang, maka saham-saham yang akan Anda beli juga mesti terdiri atas bermacam jenis dan juga bermacam tujuan. Artinya, jika Anda memiliki dana Rp 100 juta untuk berinvestasi saham, dana tersebut mesti dibagi dulu, berapa yang akan dialokasikan untuk saham yang hendak dipegang dalam jangka pendek atau trading serta jangka menengah panjang, dengan harapan harga saham tersebut terus meningkat.

Jika Anda tergolong pemula, ada baiknya sebagian besar dana dipakai untuk membeli saham-saham yang berkategori growth stock, atau saham-saham yang akan bertumbuh dalam jangka menengah panjang.

Bagaimana caranya? Belilah saham yang fundamental bagus tetapi harganya masih relatif reƱdah. Memang saham jenis begini belum tentu akan mengalami perubahan harga secara cepat, atau malah belum tentu banyak ditransaksikan. Namun jika ”muatan” saham tersebut alias kinerja emiten cemerlang, biasanya akan mengalami peningkatan harga menjelang RUPS (rapat umum pemegang saham) tahunan, dan apalagi jika ada berita pembagian dividen kepada pemegang saham.

Yang tergolong growth stock itu sendiri tidak mesti saham berkategori blue chip yang harganya kebanyakan relatif mahal, tetapi juga saham-saham yang berada pada kategori second liner alias saham lapis kedua, atau dengan kapitalisasi pasar lebih rendah. Apa itu kapitalisasi pasar? Kapitalisasi pasar adalah hasil perkalian harga saham dengan jumlah lembar saham yang diperdagangkan di pasar modal. Bagi sebagian investor, kapitalisasi pasar dianggap tergolong besar jika angkanya berada di atas Rp 2 triliun.

Bagaimana dengan saham-saham yang kapitalisasi pasarnya di bawah itu? Tidak masalah, tetap bisa dipilih sepanjang tergolong growth stock. Kesimpulannya, portofolio saham yang hendak Anda bentuk sebaiknya sebagian besar terdiri atas growth stock, misalnya 60-70 persen. Sisanya adalah saham yang bisa Anda beli dan jual setiap saat sesuai pergerakan harga di pasar. Dengan kata lain, Anda boleh menjadi trader tetapi hanya mentransaksikan 30-40 persen dari alokasi total dana Anda di pasar saham.

Kedua, memilih saham untuk trading. Seorang investor di pasar saham baru akan merasakan denyut jantung pasar jika sudah melakukan perdagangan saham secara sering. Artinya, jual beli saham dengan mengambil kesempatan dari pergerakan harga yang bisa terjadi dalam hitungan jam, hari, ataupun pekan. Semakin sering melakukan transaksi, maka pemahaman investor terhadap perilaku saham, khususnya pergerakan harga, akan semakin dalam. Itu sebabnya, kendati Anda memilih menjadi growth investor ataupun value investor, tidak ada salahnya sedikit dana Anda dipakai untuk melakukan trading saham. Tinggal masalahnya bagaimana memilih saham yang akan dibeli dan kapan saham itu dibeli.

Untuk itu tentu Anda pahami dulu karakteristik terbentuknya harga. Yang paling mendasar adalah bid dan offer atau permintaan dan penawaran. Sama seperti jual beli pasar di riel, saham juga merupakan sebuah ”produk”, di mana ada yang menjadi pihak pembeli dan pihak penjual. Dan pembeliannya juga dengan cara tawar-menawar hingga terbentuk harga untuk transaksinya.

Sebutlah saham ”A”, memiliki harga permintaan sebesar Rp 300 per lembar dan penawaran sebesar Rp 310 per lembar. Artinya, peminat ingin membeli saham tersebut dengan harga Rp 300, tetapi penjual menawarkannya Rp 310. Bagaimana harga yang terbentuk? Tergantung jumlah peminat dibandingkan dengan jumlah penawar. Jika peminat lebih besar, bisa jadi harga yang terbentuk untuk transaksi adalah Rp 310. Sebaliknya, jika penawar lebih besar jumlahnya, harga yang terjadi adalah di Rp 300. Inilah salah satu kunci untuk mendeteksi tendensi pergerakan harga dalam perdagangan saham, yakni volume bid dan offer.

Kesalahan yang dilakukan para pemula dalam bermain saham biasanya adalah tidak selalu mencari informasi mengenai volume bid dan offer dari sebuah saham. Investor pemula biasanya hanya melihat pergerakan harga saham. Ketika harga bergerak naik, mereka ikut serta membeli dengan harapan harga naik terus. Padahal, harga akan segera berubah jika volume bid dan offer berubah. Oleh karena itu, sebelum melakukan transaksi saham, Anda sebaiknya bertanya dulu kepada sales/pihak sekuritas di mana Anda melakukan transaksi, berapa volume bid dan offer dari saham tersebut. Jika volume permintaan lebih besar dari penawaran, harga berpeluang naik. Demikian pula sebaliknya.

Itu baru satu hal mendasar sederhana. Belum lagi soal jumlah pembelian Anda dibandingkan dengan volume permintaan dan penawaran itu sendiri. Volume permintaan dan penawaran mencerminkan ”market likuiditas” dari saham. Kalau volumenya besar, market likuiditasnya bagus. Ini sangat penting sebab kalau Anda membeli saham yang market likuiditasnya kecil, sama saja Anda harus menyimpan saham tersebut sepanjang masa. Apa maksudnya? Karena ketika Anda hendak menjualnya kembali, belum tentu ada investor lain yang mau membeli. Oleh karena itu, selain mengetahui lebih besar mana antara volume permintaan dan penawaran, Anda juga mesti mencermati seberapa besar total volumenya.

Dalam praktiknya, sebagian besar investor yang sudah piawai biasanya akan mengalokasikan dana untuk membeli sebuah saham, maksimal adalah 5 persen dari volume yang terbentuk. Misalnya, saham ”A”, memiliki bid di harga Rp 300, dengan volume 10.000 lot (5 juta lembar), maka Anda layak ikut serta menawar dengan volume sekitar 5 persen, atau 500 lot saja. Kenapa? Karena Anda harus ”berkelahi” dengan peminat yang lain untuk mendapatkan saham tersebut. Jika jumlah yang Anda beli semakin besar, semakin sulit juga mendapatkannya, apalagi jika volume penawaran jauh di bawah volume permintaan.

Selamat mencoba.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, September 26, 2010

Saham bagi Pemula

Minggu, 26 September 2010 | 03:46 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi keuangan

Coba cermati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dalam dua bulan terakhir. Berkali-kali menembus rekor baru, mulai dari 3.200 dan kemudian 3.300, bahkan hari-hari ini sudah di sekitar 3.400. Padahal, di awal tahun 2010, indeks masih berada di kisaran 2.400. Kenaikan indeks yang pesat tersebut jelas menggembirakan bagi para pelaku di pasar modal.

Investor institusi ataupun investor ritel berpeluang memetik keuntungan besar dari saham-saham yang ditransaksikan. Bayangkan, ada saham yang dalam waktu seminggu harganya melonjak puluhan persen.

Bahkan tidak sedikit saham yang secara harian harganya bergerak di atas lima persen. Jelas ini merupakan imbal hasil yang luar biasa. Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat bunga deposito atau tabungan yang hanya memberikan bunga sekitar enam persen per tahun. Di pasar modal, keuntungan enam persen itu bisa diraih dalam jangka waktu harian, mingguan, ataupun bulanan saja. Apakah Anda tertarik? Tunggu dulu. Itu adalah cerita indahnya.

Dalam realitasnya, tidak sedikit investor, khususnya investor ritel apalagi pemula, yang babak belur ketika mencoba mengadu peruntungan di pasar modal. Apa pasal? Banyak faktor. Akan tetapi, yang paling sering terjadi adalah minimnya pengetahuan tentang pasar modal. Kemudian lebih berperannya emosional dibandingkan dengan rasional. Seperti contoh di atas, tatkala indeks melesat tinggi, bukan berarti semua saham terus meningkat harganya. Banyak juga saham-saham yang malah terperosok.

Di sisi lain, peningkatan harga saham tidaklah bersifat permanen, apalagi jika kenaikannya bukan didorong oleh faktor fundamental, melainkan sekadar sentimen pasar. Misalnya, ketika saham A bergerak ke atas.

Naik mulai dari satu persen, dua persen, tiga persen, bahkan mungkin empat persen. Para investor tergiur melihat kenaikan harga saham tersebut dan mereka ikut-ikutan membeli pada saat harga sudah cukup tinggi. Dengan kata lain, tatkala investor ritel sudah masuk, harga sudah telanjur tinggi. Harapannya tentu saja adalah harga saham itu akan semakin naik. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Keesokan harinya harga saham A terjun bebas, kembali ke harga semula.

Jual kembali

Kenapa? Karena mereka yang membeli di awal melakukan profit taking. Menjual kembali saham tersebut. Sementara para investor ritel masih memegang saham tadi. Alhasil, investor ritel mengalami kerugian besar.

Itulah yang kerap terjadi di pasar modal. Konkretnya, pasar modal menjanjikan keuntungan besar, tetapi di sisi lain juga menawarkan kerugian besar. Ini sesuai dengan prinsip high risk high return. Lantas, kalau situasinya seperti itu, apakah tidak usah mengadu nasib di pasar modal? Tidak juga. Pasar modal tetap merupakan alternatif lahan investasi yang bisa dipertimbangkan oleh siapa saja, termasuk oleh Anda, jika menginginkan aset bertumbuh secara lebih cepat. Namun, tentu saja banyak kriteria yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum Anda menanamkan uang Anda dalam berbagai saham, apalagi jika Anda tergolong investor pemula. Apa saja kriteria tersebut? Kita lihat dalam bahasan berikut.

Pertama, prinsip siap menerima keuntungan, tetapi siap juga menanggung kerugian. Artinya, kalau dana yang Anda tempatkan di pasar modal ternyata bernasib buruk, maka Anda tidak akan jatuh miskin. Dengan kata lain, jangan menggunakan ”uang dapur” untuk berinvestasi di pasar modal. Lain hal kalau Anda sudah tergolong pakar di bidang saham, boleh-boleh saja seluruh harta Anda dipertaruhkan. Namun, kalau Anda masih tergolong pemula, gunakan sedikit saja dulu dari dana yang Anda miliki untuk memulai investasi di pasar modal. Lakukan penjajakan dan pengenalan terhadap karakteristik serta perilaku pasar modal. Ini seperti pepatah, ”tak kenal maka tak sayang”. Jadi, pelan-pelan kenali pasar modal. Dan, itu mesti dilakukan dengan cara ”bermain” langsung. Tidak sekadar konsep-konsep. Sebab, prinsip investasi di pasar modal adalah eksperience alias merasakan langsung denyut nadinya. Merasakan naik turun harga saham ketika Anda sudah membelinya.

Kedua, memastikan prinsip investasi Anda apakah sebagai trader, growth investor, atau value investor. Apa maksudnya? Ini merupakan pilihan bagi investor yang menanamkan dananya di pasar modal. Jika Anda memiliki nyali sekeras baja, memiliki cukup banyak waktu untuk memonitor pasar, dan memiliki akses untuk mendapatkan berbagai informasi serta rumours dan berorientasi jangka pendek, maka Anda boleh mencoba untuk menjadi trader. Setiap hari bermain saham, beli pagi jual sore, atau beli sore jual keesokan harinya, dan seterusnya. Akan tetapi, jika Anda tergolong investor yang berorientasi jangka menengah panjang dan tidak terlalu punya waktu, Anda sebaiknya menjadi growth investor dengan memilih saham-saham yang fundamentalnya bagus dan perusahaan/emiten memiliki potensi untuk bertumbuh kembang. Anda beli sahamnya dan berharap dalam enam bulan atau setahun mendatang harganya akan meningkat. Dengan menjadi growth investor, Anda tidak perlu sibuk melihat pergerakan harga saham karena orientasi Anda bukanlah pergerakan harian.

Selain itu, Anda juga bisa memilih menjadi value investor. Artinya, Anda membeli saham-saham yang berharga sangat murah dan kemudian memegangnya dalam kurun waktu yang sangat panjang, bisa di atas satu tahun, dan berharap saham- saham tersebut akan meningkat atau paling tidak kembali ke harga wajarnya. Mana pilihan terbaik? Semua bisa baik dan semua bisa tidak baik jika Anda keliru memilih.

Dengan kata lain, pilihan tersebut mesti disesuaikan dengan karakteristik pribadi Anda. Jika Anda tergolong risk taker, menjadi trader boleh dipertimbangkan. Namun, jika Anda bukan kalangan tersebut, maka menjadi growth investor atau value investor merupakan pilihan yang lebih baik.

Ketiga, memilih saham dan melakukan transaksi. Dalam jargon pasar modal dikenal istilah analisa fundamental dan analisa teknikal. Analisa fundamental bertujuan untuk mengetahui kinerja perusahaan/emiten yang sahamnya diperdagangkan di bursa, sedangkan analisa teknikal untuk mengetahui rekam jejak pergerakan harga saham dimaksud dan faktor yang memengaruhinya. Untuk menjadi piawai dalam berinvestasi saham tentu ada baiknya kedua analisa tersebut dipelajari dan dipahami. Namun, jika Anda tidak cukup punya minat dan mungkin tidak cukup waktu, boleh mengambil jalan pintas dengan membaca saja hasil analisa dari para analis saham, baik itu analisa fundamental maupun analisa teknikal. Inti dari kedua jenis analisa tersebut adalah untuk menggambarkan prospek dari saham yang dianalisa. Selamat mencoba. ***

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari