BLOGSPOT atas
Showing posts with label saham. Show all posts
Showing posts with label saham. Show all posts

Tuesday, September 3, 2013

Pilih dengan Tegas : Tabungan atau Asuransi?

Selasa, 3 September 2013 | 19:27 WIB

 JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki rekening tabungan di bank kini sudah menjadi kebutuhan primer seiring dengan peningkatan kebutuhan transaksi yang banyak memanfaatkan jasa perbankan.

Dahulu kala, masyarakat mungkin hanya mengenal tabungan nasional alias tabanas. Kini, ada tabungan pendidikan, tabungan haji, tabungan berhadiah langsung mulai mobil hingga gadget mahal, juga tabungan yang dilengkapi dengan perlindungan atau asuransi jiwa, dan lain sebagainya.

Khusus untuk tabungan yang dilengkapi dengan asuransi jiwa, Anda mungkin sudah banyak menemui di berbagai bank. Di Bank Mandiri, misalnya, ada Tabungan Rencana Mandiri, lalu di CIMB Niaga ada Tabungan Mapan, lalu ada pula Tabungan Taka di OCBC NISP, dan lain sebagainya.

Kebanyakan bundel tabungan dan asuransi itu melindungi kelanjutan pembayaran setoran tabungan ketika si nasabah meninggal dunia. Alhasil, si ahli waris tetap mendapatkan tabungan sesuai target di awal kontrak, tanpa ada pemberian santunan uang pertanggungan.

Skema yang sedikit berbeda ditawarkan produk tabungan asuransi keluaran Bank BNI yang bekerjasama dengan Sunlife Financial, bernama Rencana Pintar. Bagian layanan konsumen Sunlife Financial membeberkan, produk ini sebenarnya sudah lama ditawarkan. Namun, mulai tahun 2013 ini, target tabungannya dinaikkan dari semula Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta.

Target tabungan Rp 50 juta itu memiliki masa kontrak 17 tahun. Untuk mencapai nilai itu, nasabah harus menyetor Rp 334.000 per bulan selama 10 tahun. Jadi, total setoran nasabah selama kontrak adalah Rp 40,8 juta. “Setoran memakai sistem autodebet dengan rekening Bank BNI,” jelas customer service Sunlife.

Seperti tabungan berjangka, nasabah tidak bisa mengambilnya sewaktu-waktu. Tabungan baru bisa ditarik bertahap mulai tahun kelima dengan nilai yang ditentukan. Penarikan pertama pada tahun kelima senilai Rp 5 juta, lalu di tahun ke-11 sebesar Rp 7,5 juta, tahun ke-14 senilai Rp 12,5 juta, dan tahun ke-17 sebesar Rp 25 juta. Produk ini memiliki coverage asuransi jiwa bagi si nasabah selama masa kontrak.

Dus, jika di tengah masa kontrak si nasabah meninggal dunia, ahli waris berhak mendapatkan tabungan Rp 50 juta dan uang pertanggungan Rp 50 juta. Namun, jika selama masa kontrak tidak ada risiko jiwa, nasabah cuma berhak mendapatkan tabungan Rp 50 juta.

Pertanyaannya, seberapa menarik menempatkan dana di produk tabungan dengan fitur asuransi seperti itu? Diana Sandjaja, perencana keuangan MRE Consulting, menilai, produk besutan Sunlife dan Bank BNI itu boleh jadi menarik di mata mereka yang masih awam dengan produk investasi. “Terlebih, antara uang yang disisihkan lebih kecil dibandingkan pengembalian yang nanti diterima,” kata dia.

Namun, jangan terburu menubruk sebuah produk sebelum melihat lebih detail. Ada baiknya memperhatikan saran dari para perencana keuangan lebih dulu, berikut ini:

Lihat kebutuhan

Membeli produk keuangan atau investasi tidak berbeda dengan membeli barang biasa. Anda harus tahu persis produk seperti apa yang Anda butuhkan. Untuk mengetahui produk yang tepat, Anda perlu menentukan terlebih dulu tujuan keuangan dan menyiapkan perencanaan. Dengan mengetahui tujuan keuangan, Anda bisa lebih tepat menentukan instrumen atau produk seperti apa yang bisa membantu Anda mencapai tujuan tersebut.

Misalkan Anda butuh asuransi jiwa dengan nilai uang pertanggungan Rp 1 miliar. Menjadi salah alamat jika Anda malah membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan Rp 50 juta hanya karena tergiur kemasan produk yang seolah menarik.

Pelajari produk

Sebelum memutuskan membeli sesuatu, pastikan Anda tahu apa yang Anda beli. Tabungan bank unggul dari sisi likuiditas atau kemudahan pencairan dana kendati bunganya kecil. Dus, produk tabungan dengan keterbatasan waktu penarikan jelas kurang menarik dipilih. Rakhmi Permatasari, perencana keuangan Safir Senduk dan Rekan, menambahkan, tabungan juga tidak tepat dipilih jika Anda bertujuan mengembangkan dana. Pilihlah produk investasi, seperti reksadana, obligasi, atau saham.

Sebagai contoh, dengan menyisihkan Rp 334.000 per bulan di reksadana saham berimbal hasil rata-rata 20 persen per tahun selama 10 tahun, Anda berpeluang memperoleh dana Rp 127,7 juta! Itu pun tanpa ada pembatasan kapan Anda hendak mencairkannya.

Risiko reksadana saham memang lebih besar dibanding tabungan. Namun, dengan strategi diversifikasi risiko yang tepat, mengembangkan dana di produk investasi adalah langkah terbaik jika Anda ingin mendapatkan hasil sesuai tujuan keuangan.

Jangan malas

Setiap produk keuangan dan investasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Tak perlu bingung menghadapi tawaran produk nan bejibun. Syaratnya, Anda tidak boleh malas meluangkan waktu untuk belajar dan meriset produk yang ada di pasaran satu per satu.

Manfaatkan informasi yang melimpah di media untuk menambah pengetahuan finansial Anda. Untuk mengetahui kebutuhan asuransi jiwa atau dana investasi, Anda bisa memanfaatkan aplikasi penghitungan di laman institusi perencana keuangan atau perusahaan asuransi. Website www.kontan.co.id juga menyediakan fasilitas penghitungan serupa.

Dengan melakukan perhitungan seperti itu, Anda bisa lebih mampu melihat kelayakan sebuah produk untuk dipilih, dan perbandingannya dengan produk sejenis di pasar.

Singkat cerita, memilih produk keuangan atau investasi memang membutuhkan usaha khusus. Namun, demi kenyamanan finansial keluarga Anda, tidak ada lagi alasan untuk terus malas belajar, bukan?

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com

Saturday, June 2, 2012

Bursa AS Anjlok Lebih dari 2 Persen








Erlangga Djumena - Sabtu, 2 Juni 2012 - 06:29 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Saham-saham di bursa New York Amerika Serikat merosot lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (1/6/2012) waktu setempat. Kombinasi dari data dan situasi yang negatif dari AS, China, zona euro dan wilayah lainnya,  yang menjadi gambaran tajamnya pelambatan ekonomi dunia, membuat Wall Street terhempas.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 274,88 poin (2,22 persen) pada 12.118,57. Kemudian indeks S&P 500 melemah 32,29 poin (2,46 persen) ke posisi 1.278,04, serta indeks komoposit Nasdaq melorot 79,86 poin (2,82 persen) menjadi 2.747,48.

"Ini hari yang jelek bagi saham AS, seiring dengan laporan yang mengecewakan mengenai data pekerjaan AS Mei," ucap Elizabeth Harrow dari Schaeffer’s Investment Research.

Sebuah laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang suram ditambah berita buruk tentang perekonomian China dan data lebih lemah di Eropa,  Laporan bulanan pekerjaan AS untuk Mei, yang menunjukkan penurunan tajam dalam penciptaan lapangan kerja. Ekonomi AS  hanya menambahkan 69.000 pekerjaan pada Mei, kurang dari setengah dari apa yang diharapkan, mendorong tingkat pengangguran menjadi 8,2 persen.

Berita buruk AS memberi euro sebuah dorongan setelah jatuh terus selama berminggu-minggu, sedikit menahan tingkat penurunan harga Jumat. Euro merosot menjadi 1,2288 dollar AS  yang merupakan level terendah sejak 1 Juli 2010, sebelum "rebound" ke 1,2417 dollar setelah data AS keluar.

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com

Thursday, May 31, 2012

Spanyol Tekan Wall Street, Saham Facebook Masih Terpuruk



Erlangga Djumena | Kamis, 31 Mei 2012 | 06:08 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Saham-saham di Wall Street terpuruk pada Rabu (Kamis pagi WIB), mengikuti penurunan di Eropa dan Asia karena meningkatnya kekhawatiran investor tentang lemahnya bank-bank Spanyol.

Imbal hasil pada obligasi 10-tahun AS mencapai rekor titik terendah sepanjang waktu dan dolar mencapai tertinggi hampir dua tahun terhadap euro, karena para investor mencari keselamatan dari masalah Eropa.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 160,83 poin atau 1,28 persen menjadi ditutup pada 12.419,86. Indeks S&P 500, ukuran pasar lebih luas, merosot 19,10 poin atau 1,43 persen menjadi 1.313,32, sementara indeks komposit teknologi Nasdaq turun 33,63 poin atau 1,17 persen menjadi 2.837,36.
   
"Tidak ada yang dapat dianggap berita ’bullish’ dari Eropa hari ini, jadi berita ’bearish’ pada Spanyol adalah (dalam) garis depan," kata Dick Green di Briefing.com.

"Intinya adalah bahwa kekacauan di Eropa tetap berantakan. Tidak ada konsensus antar negara tentang cara mengatasi krisis kredit dan
lembaga politik untuk menangani masalah-masalah Uni Eropa."

Dua puluh sembilan dari 30 saham unggulan (blue-chip) Dow ditutup di posisi merah, dengan Intel melawan arus aksi jual dengan kenaikan tipis.

Alcoa tergelincir 3,5 persen, Caterpillar kehilangan 2,5 persen, General Electric turun 1,6 persen dan JPMorgan Chase merosot 2,0 persen. ExxonMobil dan Chevron keduanya merosot 2,6 persen di tengah penurunan tajam harga minyak.

Saham Research In Motion yang sedang kesulitan, anjlok 7,1 persen setelah memperingatkan setelah pasar ditutup Selasa bahwa pihaknya memperkirakan kerugian operasional pada kuartal saat ini dan telah menunjuk bank investasi untuk mempertimbangkan pilihannya. Facebook turun 2,3 persen menjadi 28,19 dolar AS, hampir 10 dolar AS di bawah harga perdana pada 18 Mei sebesar 38 dolar AS.

Monsanto menjadi salah satu saham langka, naik 2,2 persen setelah meningkatkan prospek pendapatannya karena penjualannya yang kuat. Selanjutnya adalah Apple, naik 1,2 persen setelah kepala eksekutif Tim Cook mengisyaratkan bahwa produknya bisa datang di bidang televisi.

Dengan ketakutan menyapu Wall Street, investor gelisah menunggu serangkaian data ekonomi AS, ditutup Jumat oleh laporan pekerjaan  Mei yang paling ditunggu. "Dengan aliran berita begitu sedikit hari ini banyak peserta cemas menunggu data kedua tentang PDB kuartal pertama, yang akan keluar besok bersama dengan klaim pengangguran awal mingguan," kata analis Briefing.com.

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com

Wednesday, May 23, 2012

Wall Street Turun Karena Investor Lepas Facebook






Wall Street Turun Karena Investor Lepas Facebook

Hertanto Soebijoto | Rabu, 23 Mei 2012 | 05:53 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Wall Street menyerahkan keuntungan awal dan berakhir sebagian besar datar pada Selasa atau Rabu (23/5/2012) pagi WIB, karena investor membuang saham Facebook untuk kedua hari berturut-turut.

Pelepasan saham Facebook itu terjadi di tengah kontroversi baru tentang IPO perusahaan tersebut senilai 16 miliar dolar AS.

"Rebound" pada menit-menit terakhir membawa S&P 500 menjadi berakhir di posisi hitam, tetapi indeks lainnya mencatat kerugian kecil untuk hari itu setelah pada jam perdagangan pagi mencatat kenaikan kuat.

Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 1,67 poin, atau 0,01 persen, menjadi 12.502,81.

Indeks berbasis luas S&P 500 naik 0,64 poin atau 0,05 persen menjadi 1.316,63, sementara indeks teknologi berat Nasdaq kehilangan 8,13 poin atau 0,29 persen menjadi ditutup pada 2.839,08.

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com

Sunday, January 22, 2012

INVESTASI: Adakah Efek Januari?

KOMPAS, Minggu, 22 Januari 2012

OLEH ADLER HAYMANS MANURUNG

Pada Januari ini, berbagai pihak sedang membahas apakah ada efek Januari (January effect) di Bursa Efek Indonesia. Sementara bursa Amerika sudah selalu membahas adanya January effect karena konsep January effect datang dari mereka. Tulisan kali ini membahas January effect tersebut.

January effect adalah rata-rata tingkat pengembalian yang diperoleh investor selama bulan Januari lebih tinggi dari tingkat pengembalian pada bulan lain. Investor yang melakukan pembelian pada awal Januari dan dijual pada akhir Januari jauh lebih tinggi dari tindakan yang sama dilakukan pada Februari atau Juli atau Desember. Kenapa bisa itu terjadi harus dipahami oleh semua pihak dan investor agar tidak gegabah menyatakan pengaruh January effect.

Analis pasar modal biasanya menerbitkan laporan peramalan pendapatan perusahaan pada akhir Desember setelah Natal. Analis tersebut melakukan company visit ke perusahaan yang terdaftar di bursa pada November dan melakukan analisis untuk hasil yang dicapai pada tahun berjalan dan meramalkan pendapatan serta laba bersih untuk tahun mendatang. Ramalan pendapatan dan laba bersih paling sedikit dua tahun untuk melihat gambaran ke mana arah harga saham perusahaan bersangkutan pada masa mendatang.

Laporan

Laporan tersebut mulai dikirimkan kepada investor sejak pertengahan Desember dan sampai di tangan investor pada akhir bulan. Investor (baca: fund manager) mulai membaca laporan tersebut pada awal Januari. Hall ini terjadi dikarenakan investor melakukan liburan Natal dan Tahun Baru. Ketika masuk pada awal Januari dan membaca laporan tersebut, fund manager sudah berpikir tahun berjalan atau satu tahun ke depan (sebelumnya disebut tahun peramalan). Akibatnya, fund manager harus mendapatkan berapa laba bersih tahun berjalan. Artinya, tahun berjalan ketika Natal tak berlaku lagi data atau informasi yang dipegang selama ini karena tahunnya sudah berbeda. Fund manager atau investor melakukan investasi pada saham dikarenakan investor membeli prospek perusahaan.

Berdasarkan informasi yang dimiliki saat itu, yaitu laporan analisis dari analis tersebut termasuk analis dari dalam perusahaan, fund manager melakukan perubahan strategi investasi dengan menjual saham yang dianalisis, berdasarkan laporan, tidak prospektif dan membeli saham yang dianalisis sangat bagus memberikan pertumbuhan sebagai pengganti yang dijual. Tindakan ini dilakukan oleh fund manager untuk memenuhi target tingkat pengembalian investasi yang dimiliki agar investor tidak lari dari yang dikelola.

Fund manager yang terus membeli saham mulai awal sampai akhir Januari membuat harga saham mengalami peningkatan cukup tinggi. Dalam kasus perhitungan, besaran tingkat pengembalian tesebut paling sedikit 5 persen dan bisa mencapai 20 persen. Tingkat pengembalian ini cukup besar bila dibandingkan dengan tingkat pengembalian pada deposito dan obligasi yang hasilnya tidak melebihi 1 persen. Bila tingkat pengembalian pada saham tersebut dikurangi tingkat pengembalian yang bebas risiko, premium cukup besar dan, bila disetahunkan, hasilnya cukup tinggi sekali. Hasil tingkat pengembalian yang tinggi ini disebut dengan January effect.

Tidak terjadi

Apakah ada January effect di bursa saham Indonesia? Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap data IHSG, tidak terjadi tingkat pengembalian yang tinggi di Indonesia pada Januari. Adapun tingkat pengembalian yang tinggi terjadi pada Desember sehingga dapat disebut December effect.

Manurung (1996, 2006, dan 2008) telah menemukan adanya efek Desember ini. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa bursa mengalami penurunan pada Juli sampai Oktober dan mengalami kenaikan pada November. Broto (2011) mendukung hasil penelitian Manurung tersebut, yang menyatakan efek Desember yang terjadi di Indonesia. Terjadinya tingkat pengembalian pada Desember dikarenakan bursa saham Indonesia belum efisien dan banyak pihak (terutama investor asing) menyatakan bursa Indonesia merupakan bursa spekulasi dan masih jauh untuk bursa investasi.

Faktor utama yang membuat pernyataan tersebut dikarenakan investor yang masih dikuasai oleh sedikit investor yang sudah bisa memahami permainan saham tersebut.

Artinya, jumlah investor yang setiap hari melakukan perdagangan tidak begitu banyak dan paling banyak 10.000 investor walaupun rekening investor sudah mencapai ratusan ribu.

Berdasarkan empiri yang diuraikan sebelumnya, investor Indonesia sebaiknya melakukan transaksi pada Desember untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil investasi yang lebih baik sekali, investor melakukan pembelian pada pertengahan Oktober dan menjualnya pada akhir Desember.

Selamat berinvestasi.

Quoted by Muhammad Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, June 26, 2011

INVESTASI: Kenapa Harga Saham Naik?

OLEH ADLER HAYMANS MANURUNG

Kenapa harga saham bisa naik, padahal sebelumnya turun? Apakah investor tahu kenapa terjadi kenaikan?

Harga saham menurut teori ditentukan dengan dua pendekatan: pendekatan determinan harga dan pendekatan stokastik. Pendekatan determinan merupakan sebuah kelompok yang selalu dibahas akademisi maupun praktisi, tentang pengubah apa saja yang memengaruhi harga saham. Pengubah tersebut sangat banyak dan banyak pihak suka mengaitkannya. Bahkan, rumor yang tidak jelas sumbernya bisa menjadi faktor kenaikan atau penurunan harga.

Investor ingin membeli saham karena ingin meningkatkan dana. Misalkan dana investasi Rp 500 juta ingin ia tingkatkan menjadi Rp 1 miliar. Peningkatan ini memerlukan waktu investasi yang cukup panjang, terutama investasi pada saham yang merupakan investasi jangka panjang.

Untuk kenaikan nilai investasi, harga saham harus meningkat, dan peningkatan itu terjadi di masa mendatang, bukan di masa lalu. Artinya, pembelian saham bagi investor merupakan pembelian prospek perusahaan di masa mendatang. Bila harga saham tersebut dianggap tidak akan meningkat, tidak akan dibeli karena peningkatan harga merupakan keuntungan bagi investor yang lebih dikenal dengan capital gain. Oleh karena itu, investor pasti menghindari saham yang tidak memiliki kenaikan harga saham pada masa mendatang.

Salah satu pengubah yang diperhatikan investor untuk membeli saham adalah laba perusahaan pada masa mendatang. Yang diinginkan adalah laba bersih yang meningkat dalam jangka panjang sehingga terjadi kenaikan harga terus-menerus. Tetapi, investor yang mempunyai periode waktu lebih pendek, kenaikan laba satu tahun sudah punya indikasi untuk membelinya. Akibatnya, laba bersih tahun mendatang sudah cukup untuk mengambil keputusan membeli saham.

Agak susah memang meramal pada masa mendatang periode lebih panjang. Peramlan lebih panjang akan menimbulkan risiko dikarenakan ketidakpastian yang terjadi pada masa mendatang.

Bagi mereka yang biasa bermain saham hanya menggunakan satu tahun dan proyeksi satu tahun sudah sangat baik. Pengubah lain yang perlu diperhatikan investor, yaitu tindakan korporasi. Informasi ini sangat dibutuhkan untuk mengaitkannya pada pendapatan atau laba bersih perusahaan. Tindakan korporasi ini biasanya harus diinformasikan kepada publik paling lambat 2 x 24 jam. Tapi, sering informasi tersebut sudah tercecer ke publik sebelum resmi diinformasikan.

Akibatnya, sering investor mencari informasi ini untuk bisa bertransaksi walaupun hal ini mendekati pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum di pasar modal sudah dikategorikan pidana.

Rekam Jejak

Pengubah lain yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, yaitu manajemen perusahaan atau rekam jejak manajemen. Pengubah ini penting untuk memberikan keyakinan kepada investor bahwa perusahaan dikelola dengan baik dan akan terjadi keberlangsungan perusahaan.

Setelah memahami informasi yang diuraikan sebelumnya, kenaikan harga saham di bursa dipengaruhi dua kelompok besar, yaitu informasi dari internal perusahaan dan informasi dari eksternal perusahaan. Informasi internal perusahaan adalah informasi yang diuraikan sebelumnya. Informasi ini harus didapatkan oleh investor guna menilai perusahaan karena investor tidak mungkin memutuskan untuk membeli atau menjual berdasarkan perasaan investor.

Regulator juga membuat peraturan agar informasi dari dalam perusahaan disampaikan kepada publik sebagai bahan bagi investor. Bila perusahaan tidak menginformasikan, perusahaan dianggap melanggar hukum dan investor kemungkinan akan menghindari perusahaan. Akibatnya, jumlah transaksi saham semakin kecil dan kemungkinan turunnya harga makin besar dan kerugian investor akan terjadi.

Informasi eksternal juga penting bagi perusahaan. Adapun informasi eksternal perusahaan cukup banyak, baik transaksi saham di bursa maupun informasi yang diterbitkan oleh pihak lain dan mempunyai hubungan terhadap perusahaan. Informasi tentang kebijakan pemerintah juga diperlukan perusahaan karena kebijakan tersebut mempengaruhi keberlangsungan perusahaan.

Salah satu kebijakan yang sering ditunggu investor tentang kebijakan pemerintah, yaitu kebijakan tingkat bunga. Kebijakan tingkat bunga ini akan memengaruhi perekonomian, termasuk di dalamnya perusahaan. Bila tingkat bunga mengalami kenaikan, ada kemungkinan investasi akan berkurang dan berpengaruh terhadap harga bahan pokok atau harga barang-barang di pasar baik barang konsumsi maupun barang lainnya. Bila tingkat bunga diturunkan, kemungkinan akan terjadi permintaan yang meningkat atau investasi di sektor riil akan mengalami kenaikan.

Boleh dikatakan, sentral dari kebijakan yang ada terletak pada tingkat bunga. Kebijakan Pemerintah dalam fiskal, seperti pengetatan pemerintah atas pengeluaran atau juga meningkatkan rasio pajak, akan memberikan persoalan terhadap keberlangsungan perusahaan. Akibatnya, harga saham perusahaan bisa mengalami penurunan dan tidak memberikan keuntungan kepada investor.

Jumlah transaksi saham tersebut juga menjadi informasi dan alat investor memutuskan untuk membeli atau menjual saham tersebut. Saham yang likuid menjadi salah satu peubah mengapa investor membeli saham itu karena kemudahan untuk melepas saham tersebut. Volume transaksi saham yang kecil membuat agak sedikit menghindar dari saham tersebut.

Buruk dan baiknya informasi membuat harga saham akan naik atau turun. Informasi yang beredar menjadi acuan investor. Informasi tersebut beredar lebih dulu baru perusahaan mengumumkannya. Seharusnya, tidak demikian. informasi harus sudah diumumkan, baru terjadi transaksi saham atau kenaikan atau penurunan harga saham. Oleh karena itu, investor harus pintar menyaring informasi agar mereka tidak merugi

Quoted by Muhammad Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, May 1, 2011

INVESTASI: Bermain Saham dengan PER

Oleh Adler Haymans Manurung/Praktisi Keuangan

Dalam dua minggu terakhir IHSG terus mengalami kenaikan dan sudah melewati level tertinggi. Sekarang IHSG sedang mencari level tertinggi terbaru. Bila IHSG naik, berarti harga-harga saham akan naik pula.

Kenaikan IHSG juga memberikan arti bahwa ukuran pasar dan harga, yaitu PER (price earning ratio), mengalami kenaikan. Pada level sekarang PER pasar sudah mencapai 20 kali karena IHSG telah melebihi 3.700. Tulisan ini akan membahas bagaimana investor bermain saham dengan menggunakan PER.

PER adalah rasio hasil bagi antara harga saham di bursa dan laba bersih perusahaan per saham (EPS > LBS). Harga adalah harga sekarang, sementara laba bersih per saham menggunakan proyeksi laba bersih per saham. LBS ini biasanya dihitung memakai LBS masa lalu karena informasi LBS yang tersedia pada laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan adalah LBS aktual, bukan proyeksi.

LBS proyeksi hanya dimiliki oleh perusahaan yang terdaftar di bursa pada manajer keuangan atau investor relation perusahaan tersebut. Investor juga bisa mendapatkan informasi ini dari analis perusahaan sekuritas karena analis selalu ingin mendapatkan data tersebut untuk kepentingan estimasi atau peramalan harga saham tersebut. Bila investor belum mempunyai informasi ini, bisa menghubungi investor relation perusahaan yang terdaftar di bursa melalui telepon karena data ini bukan data rahasia.

Dua faktor

Kenaikan PER dipengaruhi dua faktor, yaitu, pertama, harga sebagai denominator dari rasio persamaan PER. Harga saham naik terus-menerus, sementara laba bersih tidak berubah tetapi dipublikasikan perusahaan memberikan efek positif terhadap harga saham. Misalkan, perusahaan akan melakukan aksi korporasi seperti mengakuisisi bisnis atau rencana peningkatan produksi atau permintaan produksi perusahaan yang meningkat akibat adanya kompetitor yang mengalami persoalan produksi di masa mendatang.

Kedua, numerator dari PER laba bersih. Terjadi penurunan laba bersih, sementara harga saham tidak mengalami perubahan. Penurunan laba bersih dikarenakan adanya persoalan produksi yang dihadapi perusahaan. Mesin penghasil produk mengalami kerusakan dalam beberapa waktu atau mesin semakin tua sehingga jumlah produk berkurang. Pada sisi lain, tenaga yang diandalkan sudah tidak pada perusahaan atau dibajak oleh kompetitor.

Biasanya, kedua faktor tersebut saling berkaitan karena harga dan ekspektasi laba bersih mempunyai hubungan yang positif. Artinya, harga pasar saham akan mengalami kenaikan bila ekspektasi laba bersih mengalami kenaikan. Oleh karena itu, investor harus mengambil kesempatan pada saat harga sudah naik dan informasi selanjutnya belum muncul. Demikian pula, pada saat harga belum bergerak dan ekspektasi laba bersih sudah meningkat, investor juga harus mengambil keputusan. Artinya, investor harus memahami situasi pasar yang ada.

Alat yang dipergunakan investor ketika memutuskan membeli atau menjual saham yang sedang dikelola investor: ukuran paling penting yaitu 1/PER dan hasilnya menjadi laba bersih dibagi harga saham, yang memberikan arti yield yang diperoleh investor. Jika harga merupakan nilai investasi dan laba bersih yang dihasilkan perusahaan dan dibagikan kepada investor, hasilnya sebagai yield yang diperoleh investor. Yield yang dihasilkan pada saham ini harus lebih tinggi dari tingkat bunga deposito karena investor melakukan investasi pada instrumen berisiko.

Bila investor melakukan investasi pada deposito dianggap tidak mempunyai risiko karena adanya penjaminan walaupun sebenarnya tidak persis sebesar dana yang diinvestasikan oleh investor. LPS mempunyai norma atau besaran untuk menjamin deposito. Bila yield yang dihasilkan saham sekitar 7 persen, investor tidak menginginkan hasil investasi sebesar yield tersebut. Investor harus meminta lebih besar dari 7 persen yang besarnya tergantung persepsi investor terhadap saham yang bersangkutan. Persepsi investor masih tergantung pada informasi yang diperoleh investor. Bila informasi tentang saham tersebut sangat sedikit, persepsi investor terhadap saham tersebut sedikit kurang sehingga menuntut tambahan di luar 7 persen semakin tinggi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan berbagai akademisi bahwa tambahan tingkat pengembalian yang diinginkan investor setelah 7 persen paling minimum sebesar 3 persen dan maksimum 8 persen.

Jika investor menginginkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi, investor sudah pasti tidak memiliki informasi yang lengkap atau sama sekali tidak memiliki informasi. Jika investor hanya menginginkan kompensasi tingkat pengembaliannya hanya 3 persen, investor hanya memiliki informasi yang paling lengkap dibandingkan oleh investor lain.

Ekspektasi

Bagi investor yang sudah biasa bermain saham di bursa biasanya investor tersebut sudah mempunyai program pada komputernya atau telepon genggam yang dimilikinya. Investor hanya memerhatikan harga dan laba bersih. Bila yield saham sudah di atas 11 persen pada saat ini, investor melakukan penjualan. Sebaliknya, bila investor sudah melihat yield 7 persen, investor melakukan pembelian. Persoalan utama yang dihadapi investor ketika menggunakan PER terletak pada data ekspektasi laba bersih. Harga saham dapat diperoleh di bursa setiap saat, sementara ekspektasi laba bersih hanya bisa diperoleh dengan publikasi laba bersih setiap tiga bulan yang dikenal data laba bersih triwulanan. Data laba bersih ini diumumkan sesuka perusahaan yang terdaftar pada bursa. Regulasi yang ada hanya memublikasikan laba bersih pada laporan enam bulan dan laporan tahunan sehingga investor harus memanfaatkan informasi yang beragam untuk mendapatkan ekspektasi laba bersih ini.

Bermain saham dengan PER mempunyai risiko karena investor juga harus berhadapan dengan waktu dan informasi yang dipublikasikan. Oleh karena itu, waktu investor harus tersedia untuk mendapatkan informasi. Kehati-hatian sangat dibutuhkan agar investor tidak terjebak kerugian dalam bermain saham dengan alat ini.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, March 13, 2011

Investasi Semusim

Minggu, 13 Maret 2011
Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Bagi Anda yang menggemari musik, pasti pernah mendengar judul lagu ”Semusim” yang dinyanyikan Berlian Hutauruk, Chrisye. ”Semusim” dalam pembahasan berikut adalah menyoal perilaku investor yang berinvestasi tanpa rencana dan biasanya berakhir hanya dalam kurun waktu pendek alias semusim saja. Apa maksudnya?

Ketika seseorang hendak melakukan investasi alias menjadi investor, jelas ada yang menjadi penyebabnya. Kesadaran bahwa investasi merupakan satu cara untuk meningkatkan kekayaan, misalnya, merupakan alasan yang mendasari banyak kalangan dalam berinvestasi. Tetapi juga, pengaruh lingkungan tidak sedikit yang menjadi sebab. Sayangnya, alasan-alasan yang bersifat stimulus sesaat seperti itu kerap kali membuahkan hasil negatif.

Kenapa? Karena investasi yang dilakukan tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan pengetahuan yang memadai tentang investasi yang hendak dilakukan. Ketika melihat tetangga sebelah tiba-tiba kaya raya karena menang ”bermain” saham, ada orang serta-merta ikut membeli saham. Yang terjadi kemudian, bukannya meraih untung, melainkan buntung. Alhasil, investasi menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan, tetapi malah merugikan. Ujung-ujungnya, orang itu hanya menjadi investor semusim, kemudian menjadi alergi dengan kegiatan investasi.

Apakah Anda pernah mengalami hal semacam itu?

Tujuan hidup

Investasi pada hakikatnya adalah suatu tindakan keuangan untuk mencapai tujuan. Tujuan itu tentu saja berupa tujuan keuangan. Tujuan keuangan merupakan salah satu cara mencapai tujuan hidup. Dengan filosofi seperti itu, jelas bahwa tujuan keuangan yang salah satu caranya dicapai melalui investasi bukanlah kegiatan sesaat. Investasi mesti dilakukan sepanjang usia karena yang namanya tujuan mestinya bersifat dinamis alias bergerak terus.

Misalnya, Anda memiliki tujuan keuangan berupa tersedianya uang sebanyak Rp 1 miliar dalam kurun waktu 5 tahun mendatang. Setelah uang Rp 1 miliar itu tersedia, tentunya Anda menyiapkan tujuan keuangan yang baru. Katakanlah tujuan keuangan yang baru itu adalah tersedianya uang Rp 2 miliar. Begitu seterusnya, di mana setelah satu tujuan keuangan tercapai, pasti akan muncul tujuan keuangan yang baru. Untuk mencapai tujuan keuangan yang baru itu, perlu dilakukan investasi. Demikian logikanya.

Lantas, bagaimana investasi itu bisa dilakukan dengan baik sehingga tidak terjerumus pada kondisi investor ”semusim”? Ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan.

Bukan coba-coba

Pertama, pastikan bahwa investasi yang Anda lakukan bukan karena pengaruh lingkungan ataupun coba-coba, melainkan didasari oleh keyakinan bahwa investasi merupakan hal serius yang bertujuan mencapai tujuan keuangan sebagai bagian dari tujuan hidup.

Kedua, pelajari segala hal terkait investasi. Luangkan waktu untuk mempelajari instrumen investasi yang tersedia, risikonya maupun potensi keuntungan yang terkandung di dalamnya, serta mekanisme investasi itu sendiri.

Soal mekanisme itu penting Anda pahami agar terhindar dari salah pengertian. Sebab, dalam realitasnya, cukup banyak investor ritel, khususnya di pasar saham, yang tidak mengerti cara membaca laporan transaksi saham dan atau bahkan tidak bisa membedakan antara potential loss dan loss. Atau tidak bisa membedakan antara harga beli saham dan harga rata-rata beli saham. Oleh karena itu, pemahaman mengenai instrumen investasi sangat diperlukan agar tidak keliru dalam mengambil keputusan berinvestasi.

Simulasi

Ketiga, memulai investasi dengan simulasi. Seperti orang yang belajar main golf. Sebelum terjun ke lapangan, tentunya mesti belajar melakukan driving atau memukul bola dengan benar. Demikian juga dalam berinvestasi, tidak ada salahnya melakukan simulasi atau membuka account ”pura-pura”. Cara ini akan memudahkan Anda merasakan getaran dinamika investasi, khususnya di pasar saham.

Asumsikan Anda menempatkan dana Rp 250 juta untuk berinvestasi saham. Lalu, pilihlah saham yang Anda minati. Misalnya 5 jenis saham masing-masing Rp 50 juta. Lalu, lihat bagaimana hasil investasi saham itu satu bulan kemudian. Ada yang naik dan memperoleh gain dan ada juga yang loss. Hitung nilai net- nya. Itulah hasil investasi simulasi dalam satu bulan. Selanjutnya, Anda bisa mengubah portfolio saham tersebut, dengan mengganti saham-saham yang Anda beli. Dengan cara simulasi semacam ini, Anda akan terbiasa mengikuti gerakan pasar dan setelah saatnya tepat, barulah Anda berinvestasi di saham.

Keempat, melakukan investasi secara berkala. Ini merupakan salah satu poin penting dalam berinvestasi sekaligus menghindari kemungkinan menjadi investasi ”semusim”. Apa maksudnya? Investasi harus didasarkan pada perencanaan yang matang dan kemampuan keuangan yang relevan. Artinya, investasi sebaiknya tidak dilakukan dengan pemaksaan. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik kalau dana yang ditempatkan dalam investasi dilakukan secara bertahap, terus- menerus, dan bersifat jangka panjang.

Dengan cara ini, investasi bukan lagi karena faktor pengaruh eksternal, melainkan karena keputusan pribadi. Hasilnya bisa lebih memuaskan ketimbang sekadar menjadi investor ”musiman”.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, March 6, 2011

Investasi: Bermain Saham Situasi Fluktuatif

Minggu, 06 Maret 2011
Adler Haymans Manurung/praktisi keuangan

Saat ini pasar sedang fluktuatif yang bergerak naik turun pada level IHSG 3350 sampai dengan 3650. Fluktuatifnya IHSG pada kisaran tersebut dikarenakan informasi yang masuk ke bursa tidak banyak yang mendukung untuk naik tajam. Bahkan, informasi yang datang saat ini tingkat bunga meningkat dikarenakan ada kenaikan harga-harga.

Kejadian ini tidak terlepas dari proyeksi yang dilakukan pemerintah dan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang tidak begitu baik.

Pada situasi pasar fluktuatif, investor perlu menentukan tujuan utama dari dana yang dimiliki serta tujuan utama untuk bermain saham. Tujuan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Bila tujuan jangka panjang yang diinginkan, investasi pada saham harus memberikan tingkat pengembalian yang tinggi. Bila tujuan jangka pendek yang diinginkan, investor menginginkan tingkat pengembalian cukup dalam jangka pendek.

Ada beberapa tindakan investor yang bisa dilakukan dalam situasi ini, pertama, investor tidak boleh masuk ke saham yang sangat bervariasi harganya dikarenakan pemain pasar. Investor akan mengalami kerugian bila ikut masuk bermain saham di kelompok saham ini. Pemain pasar (baca: bandar) sangat lihai menggoyang atau mengayunkan harga saham demi mendapatkan keuntungan bagi dirinya.

Ada beberapa saham yang sering dimainkan pemain pasar dan biasanya saham ini dapat disebutkan saham gorengan. Saham ini biasanya berkapitalisasi pasar yang kecil. Adanya net selling dalam sehari yang dikenal netting membuat pemain pasar ini tidak memerlukan modal untuk memainkan saham ini.

Kedua, investor memilih saham yang sangat layak untuk dibeli dan disimpan dalam jangka panjang. Karena tujuannya jangka panjang, investor bisa membeli saham secara perlahan-lahan dan bertahap. Bila pasarnya turun, investor membeli 10 persen dari dana yang dimiliki dan turun lagi investasi 10 persen lagi.

Besaran persentase dana investasi bertahap ini bergantung pada keyakinan dan pandangan pasar yang dimiliki investor. Setelah investasi sudah seluruhnya dilakukan, investor tidak perlu memerhatikan setiap detik denyut pergerakan harga saham di bursa. Selanjutnya, investor hanya memerhatikan IHSG sudah naik berapa persen, apakah sudah naik tajam, atau bahkan drop. Bila sahamnya drop, tidak usah panik karena dana yang dimiliki tidak hilang dan dana tersebut dari awalnya memang tidak dibutuhkan untuk jangka pendek.

Bila IHSG sudah naik dua kali atau tiga kali lipat dari hasil investasi pada instrumen deposito sudah selayaknya investor mengambil keuntungan yang disebut profit taking, kemudian membeli saham kembali. Bahkan, ada investor yang telah mempunyai program dengan menjual saham bila harga saham sudah naik sekitar 15 persen dalam jangka pendek sehingga nilainya jauh lebih besar bila disetahunkan. Bahkan, investor membandingkan dengan investasi lain, maka investasi ini akan lebih baik.

Ketiga, situasi pasar yang fluktuatif ini dapat digunakan untuk melakukan jual beli atau disebut trading untuk para pemain pasar dan ini sangat cocok untuk jangka pendek. Bila investor ingin melakukan strategi ini, investor harus mempunyai waktu untuk mengikuti pergerakan harga saham tersebut. Bila investor tidak mempunyai waktu, investor jangan menggunakan strategi ini karena investor bisa mengalami kerugian dan akhirnya investor akan menempuh strategi pertama.

Penggunaan strategi ini tidak perlu dengan banyak saham karena semakin banyak saham yang ditransaksikan, semakin besar pengetahuan dan informasi yang harus dimiliki. Sebaiknya investor hanya melakukan transaksi terhadap 5 sampai 9 saham.

Di samping itu, kemampuan manusia untuk menganalisis saham dan mengingatnya sekitar 10 saham. Penulis hanya menyarankan banyak saham yang ditransaksikan sebanyak 5 atau 6 saham. Selanjutnya, investor harus memilih saham mana saja yang harus ditransaksikan agar mempunyai keuntungan.

Karena tujuan awal untuk trading, investor harus memerhatikan saham mempunyai volatilitas (pergerakan harga) saham sekitar 10 persen sampai dengan 15 persen. Semakin besar volatilitas saham tersebut, semakin besar kemungkinan mendapatkan keuntungan, tetapi saham tersebut semakin berisiko. Bila investor menggunakan volatilitas yang kecil, keuntungan yang diperoleh kecil dan investor melakukan transaksi untuk memberikan kekayaan kepada pihak lain. Investor sebaiknya bermain pada saham yang likuid dan tidak perlu bermain pada saham yang berkapitalisasi besar karena modal yang diperlukan juga besar.

Keempat, melakukan transaksi bukan langsung bermain saham, tetapi bermain opsi saham. Permainan opsi saham ini sangat banyak sekarang dilakukan oleh investor dengan langsung bermain ke bursa Amerika Serikat.

Opsi tersebut merupakan hak untuk membeli saham dikenal opsi call atau hak untuk menjual saham dikenal opsi put pada harga tertentu di mana harga ini disebut strike price.

Bila investor menggunakan opsi call, investor memandang harga saham akan mengalami kenaikan pada masa mendatang. Sebaliknya, investor menggunakan opsi put bila investor mempunyai pandangan pada masa mendatang harga saham akan mengalami kenaikan.

Dalam situasi pasar yang berfluktuasi ini, strategi opsi yang dipergunakan adalah strategi spread, khususnya butterfly spread. Strategi spread maksudnya melakukan transaksi membeli opsi call dan menjual opsi call. Investor hanya melakukan perbedaan strike price dari opsi call tersebut sehingga ada spread.

Butterfly spread call maksudnya transaksi membeli opsi call sebanyak dua buah dengan strike price yang berbeda dan menjual opsi call dengan strike price di antara (di tengah) strike price dari pembelian opsi call. Artinya, investor akan mendapatkan keuntungan di antara strike price pembelian opsi call tersebut di mana puncaknya keuntungan pada strike price menjual opsi.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, February 20, 2011

Memulai Transaksi Saham

Minggu, 20 Februari 2011
Adler Haymans Manurung/PRAKTISI KEUANGAN

Bermain saham untuk pemula dapat dilakukan dengan berbagai tahap.

Dimulai dengan belajar mengenai pengenalan saham atau valuasi saham yang sederhana.

Pemula dapat membeli buku di toko buku tentang menilai perusahaan.

Pemula harus memulai dengan pendekatan fundamental saham walaupun ada metode lain yang dikenal dengan pendekatan teknikal. Banyak pihak yang memulai dari pengetahuan teknikal dan ada juga yang dari pendekatan fundamental. Saat ini, kalau investor pergi ke sekuritas, banyak orang membahas perusahaan hanya dari segi teknikal, bahkan iklan di surat kabar juga secara terang-terangan menggunakan teknikal, termasuk yang ada di televisi. Kedua pendekatan itu mempunyai keuntungan dan kelemahan masing-masing.

Apabila ingin bertransaksi saham, Anda harus melakukan beberapa tahapan walaupun memiliki atau tidak memiliki pengetahuan. Pertama, pemula harus mempunyai rekening di perusahaan sekuritas. Artinya, pemula harus membuka rekening pada perusahaan sekuritas. Pemula harus mendatangi perusahaan sekuritas. Tidak ada perusahaan sekuritas yang menolak investor untuk membuka rekening terkecuali faktor tertentu yang dimiliki investor atau pemain pemula saham tersebut.

Investor sebaiknya mencari sekuritas yang dekat dengan investor, baik tempat maupun variabel lain. Investor mempunyai teman pada sekuritas tersebut sehingga investor tidak sungkan menanyakan situasi pasar secara sederhana karena teman tersebut. Akibatnya proses belajar investor lebih cepat dan bisa melakukan transaksi seperti normalnya yang sudah berpengalaman.

Pada pembukaan rekening, investor harus menyerahkan fotokopi pengenal diri. Investor juga sebaiknya meminta kepada perusahaan sekuritas harus mendaftarkan rekeningnya di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Saat ini KSEI mempunyai program kepemilikan satu rekening untuk setiap investor. Nomor rekening yang dimiliki bisa dipergunakan kepada semua perusahaan sekuritas.

Uji tuntas dan setoran awal

Tahap kedua, perusahaan sekuritas melakukan uji tuntas atas isian yang dilakukan investor mengenai pembukaan rekening. Perusahaan sekuritas harus memastikan bahwa dana yang digunakan investor tidak merupakan dana untuk mencuci uang tersebut. Perusahaan sekuritas mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan uji tuntas tersebut. Investor tak perlu memaksa perusahaan sekuritas mengizinkan investor bisa langsung melakukan transaksi saham dan sebaiknya mengikuti aturan yang ada.

Ketiga, melakukan setoran awal atas pembukaan rekening. Perusahaan sekuritas meminta sejumlah dana untuk pembukaan rekening tersebut. Dana ini merupakan kewajiban bagi investor dan hampir semua perusahaan sekuritas mewajibkannya. Besaran dana yang diminta perusahaan sekuritas sangat bervariasi, dari Rp 15 juta sampai dengan Rp 50 juta. Oleh karena itu, investor harus memastikan dana yang dimiliki supaya bisa memulai transaksi saham.

Sebaiknya, dana yang dimiliki tersebut tidak dibutuhkan secepatnya, misalnya membayar uang kuliah atau biaya hidup sehari-hari. Dana tersebut dapat dikatakan dana lebih yang tidak dibutuhkan secepatnya sehingga napas bermain saham yang dimiliki investor bisa panjang. Artinya, apabila investor membeli saham dan kemudian harganya jatuh karena ketidaktahuan investor, investor tidak perlu pusing. Pasalnya, dana yang dimiliki tidak hilang, tetapi akan kembali apabila harga tersebut kembali naik, bahkan jauh lebih tinggi ketika harga saham dibeli.

Ada juga setoran awal membuka rekening koran dengan nilai yang lebih kecil, terutama investor yang ingin melakukan transaksi dengan online. Transaksi ini memang menyiapkan aturan yang sangat sederhana karena investor bisa membeli saham apabila ada dananya dalam rekening. Demikian juga investor bisa menjual saham apabila investor memiliki sahamnya. Penulis lebih menyarankan investor menggunakan rekening ini untuk bermain online karena investor lebih yakin untuk bermain saham dan tidak ada risiko yang dipikirkan investor.

Mulai bertransaksi

Saat mulai bermain transaksi saham akan diinformasikan oleh pemasaran perusahaan sekuritas karena investor sudah memenuhi kewajiban, baik setoran awal maupun administrasi yang lain. Investor bisa langsung melakukan transaksi dengan saham yang telah diminati investor. Artinya, investor sudah melakukan analisis sebelumnya mengenai saham-saham yang akan dibeli.

Saham yang akan dibeli harus disesuaikan dengan dana yang dimiliki dan harga saham tersebut. Apabila investor membeli saham yang harganya cukup besar, akan membutuhkan dana cukup besar. Investor membeli saham, maka prospek perusahaan yang dibeli investor. Prospek perusahaan dimaksudkan adalah hasil yang dicapai perusahaan, baik dari segi pendapatan maupun image dan sebagainya. Salah memilih saham, investor harus menanggung kerugian apabila harga sahamnya mengalami penurunan. Sebaiknya investor memilih saham yang siklusnya sesuai dengan siklus ekonomi sehingga harga juga meningkat.

Investor yang belum pernah bermain saham sebaiknya memulai dengan membeli saham 1 lot sampai dengan 5 lot (1 lot > 500 saham). Jual beli dengan jumlah ini perlu dilakukan dengan waktu lebih panjang. Adapun yang dinginkan dengan melakukan pembelian 1 sampai 5 lot adalah untuk pembelajaran, terutama melatih jantung investor.

Naik turunnya harga saham merupakan volatilitas yang bisa memengaruhi jantung investor. Apabila sudah kuat jantungnya karena fluktuasi harga saham, investor bisa melakukan transaksi yang lebih besar. Investor yang sudah mempunyai pengalaman bisa melakukan transaksi normal yang dimiliki pemain lainnya.

Investor juga harus menyadari bahwa bermain saham mempunyai risiko, misalnya harga saham drop tajam. Bagaimana mendapatkan informasi agar investor menjual lebih dulu ketika harga saham akan turun dan selanjutnya membeli saham lebih dulu dari yang lain ketika harga saham mau naik.

Selamat bermain saham.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, February 13, 2011

Investasi Kura-kura

Minggu, 13 Februari 2011
Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Tulisan ini bukan bermaksud membahas hewan kura-kura yang jalannya amat lamban. Tetapi, mengulas investasi yang hasilnya amat lamban, alias mirip kura-kura. Tapi, kura-kura yang lamban bukan berarti selamanya jelek. Bagaimana maksudnya?

Setiap investor pasti menginginkan investasinya membuahkan hasil yang besar. Semakin besar hasil investasi, semakin menarik bagi investor. Dan kalau bisa, investasi tersebut tidak memiliki risiko. Jadi, imbal hasil besar, tapi minim risiko. Adakah investasi semacam itu?

Jawaban konkretnya, investasi seperti itu hanya ada dalam brosur-brosur penawaran investasi. Namun, sepanjang sejarah peradaban manusia, belum pernah ada investasi yang bisa memberikan return tinggi dengan risiko rendah. Itu sebabnya, di semua sekolah keuangan dan investasi ada istilah ”high return, high risk”. Imbal hasil berbanding lurus dengan risikonya. Semakin besar ekspektasi terhadap imbal hasil, semakin tinggi pula risiko yang melekat dalam investasi dimaksud.

Moral ceritanya adalah jangan pernah bermimpi memperoleh imbal hasil investasi yang tinggi secara seketika, kecuali Anda berkenan menanggung risiko yang tinggi pula. Oleh karena itu, imbal hasil investasi mestinya dicapai secara bertahap. Boleh saja agak ”lamban”, tapi secara pasti imbal hasil besar akan Anda peroleh. Seperti apa caranya?

Seperti layaknya mengendarai mobil menuju suatu lokasi. Anda pasti sudah mengenal karakter mobil Anda, apakah sering mogok atau memang kelas mobil balap atau mobil kebanyakan. Jika Anda memiliki mobil balap, pasti kemampuan Anda mengendarai mobil luar biasa dan di atas rata-rata pengendara lain. Kecuali, kebetulan Anda memiliki uang banyak dan mampu membeli mobil balap. Kalau seperti ini, tetap saja mobil balap Anda tidak bisa dipacu atau Anda akan mengalami kecelakaan karena, maaf, kemampuan menyetir Anda belum memadai untuk mengendarai mobil balap.

Demikian pula dengan investasi. Anda tidak akan pernah sukses berinvestasi jika tidak memahami karakter jenis investasi yang dipilih. Atau, Anda tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai investasi dimaksud. Jadi, imbal hasil yang diinginkan, sebagai analogi tujuan dari ”mengendarai” investasi, sangatlah bergantung dari pengetahuan Anda tentang investasi tersebut, bukan sekadar karena punya banyak uang untuk diinvestasikan.

Tujuan investasi

Dengan metafora seperti itu, langkah awal dalam berinvestasi adalah pastikan tujuan berinvestasi dan pastikan Anda memahami jenis investasi yang akan dipilih. Lalu, berapa lama tujuan investasi itu akan dicapai. Apakah Anda akan menggunakan kendaraan investasi ala ”kura-kura” atau investasi ala ”mobil balap”. Jika Anda tergolong investor pemula, maka investasi ala ”kura-kura” bukan berarti lebih jelek ketimbang investasi ala ”mobil balap”. Lantas, bagaimana wujud investasi ala ”kura-kura” dan bagaimana pula investasi ala ”mobil balap”?

Investasi ala ”kura-kura” adalah investasi yang konservatif. Tetapi bukan berarti seluruh dana yang Anda miliki mesti ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka. Anda tetap bisa memilih produk-produk yang tersedia di pasar modal, seperti saham, obligasi ritel, maupun reksa dana. Hanya saja, pilihan pada produk tersebut mesti dilakukan secara selektif dan perilaku Anda dalam berinvestasi juga mesti alon-alon. Artinya, kalau membeli saham bukan dimaksudkan untuk ”beli hari ini jual besok”. Tidak perlu secepat itu, seperti ”mobil balap”. Anda beli beberapa saham yang fundamentalnya baik. Lalu targetkan untuk memperoleh capital gain dalam persentase tertentu, misalnya naik 15-20 persen dalam setahun. Maka jual kembali saham tersebut setelah capital gain itu tercapai.

Demikian juga dengan reksa dana dan obligasi ritel. Tujuan Anda berinvestasi bukanlah untuk ”berdagang”, melainkan mengharapkan imbal hasil tertentu dalam kurun waktu yang cukup lama. Dengan pola seperti ini, investasi Anda akan lebih minim risikonya dan tujuan mencapai imbal hasil memadai relatif akan tercapai.

Mobil balap

Sementara, investasi ala “mobil balap” adalah investasi agresif. Investasi jenis ini memungkinkan investor mencapai tujuan secara cepat, tetapi berpeluang mengalami kecelakaan. Contoh konkretnya adalah, jika berinvestasi di saham, karakter-nya adalah saham untuk trading. Dan belum tentu memiliki fundamental bagus, melainkan lebih didasarkan atas pergerakan harga saham. Lebih mengerikan lagi, investasi ala ”mobil balap”, terkadang tidak didasari oleh logika investasi. Misalnya, ikut serta dalam investasi money game dan lain sebagainya karena semata-mata tergiur dengan investasi yang ditawarkan oleh kalangan tertentu. Padahal itu belum tentu investasi, melainkan upaya tipu menipu belaka.

Dari paparan di atas jelas, jika Anda tergolong investor pemula dan masih dalam tahap pembelajaran berinvestasi, sebaiknya tidak mencoba-coba melakukan investasi ala ”mobil balap”. Akan jauh lebih baik berinvestasi secara perlahan, lebih konservatif. Walaupun imbal hasil yang diperoleh tidak terlalu besar, tapi investasi yang Anda lakukan akan sampai pada tujuan.

Lantas, bagaimana portofolio investasi ala ”kura-kura”? Bisa dimulai dengan menempatkan komposisi konservatif, yakni 30 persen dalam bentuk tabungan/deposito, lalu 50 persen di obligasi ritel dan reksa dana, sisanya yang 20 persen boleh di saham. Selanjutnya, penempatan deposito itu sendiri sebaiknya dilakukan di bank yang berskala besar. Sementara untuk obligasi ritel tentunya yang diterbitkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk reksa dana dapat dimulai dengan reksa dana fixed income yang dikeluarkan oleh manajer investasi berskala besar.

Terakhir untuk saham, tujuan pembeliannya adalah untuk dipegang dalam kurun waktu yang cukup lama. Anda cukup membeli beberapa saham saja dan kemudian biarkan harganya bertumbuh, sampai suatu ketika Anda jual kembali setelah mengalami kenaikan harga sekitar 15 persen. Selamat berinvestasi.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, February 6, 2011

Bermain Saham IPO

Minggu, 06 Februari 2011
Adler Haymans Manurung/praktisi keuangan

Saham IPO adalah saham yang pertama kali ditawarkan kepada publik dengan menggunakan penjamin emisi. Dalam kasus sekarang yang sedang ditawarkan ke publik, yaitu saham Garuda. Artinya, saham ini akan ditransaksikan di Bursa pada tanggal yang telah ditentukan dan ditulis pada prospektus perusahaan ketika melakukan penawaran. Bermain saham IPO agak berbeda dengan saham yang sudah ditransaksikan di Bursa.

Dalam bermain saham IPO, investor harus menjawab pertanyaan, apakah saham sudah dimiliki? Investor tidak dapat penjatahan dalam IPO walaupun sudah pesan sebanyak mungkin dan juga sudah menyetor dana. Cara bermain saham untuk kedua jawaban agak berbeda. Pada sisi lain, investor juga harus mengerti apakah saham tersebut termasuk saham hot atau saham sepi (cold).

Transaksi saham IPO dapat dilakukan pada periode penawaran di mana investor memperoleh dari perusahaan sekuritas dikenal dengan pasar perdana dan dapat juga di pasar gelap (antarinvestor dikenal juga grey market) serta pada hari pertama saham tersebut ditransaksikan di Bursa. Kedua pasar ini juga agak berbeda karena sistem pasar yang berbeda pula.

Bila investor bermain saham pada pasar perdana, maka kepastian mendapatkan sahamnya sangat diperlukan. Bila saham sudah dimiliki, maka investor sudah punya hak menjualnya, misalkan lebih tinggi dari harga IPO atau dibelinya. Bila sahamnya disebut dengan saham hot, maka harganya akan meningkat. Dalam kasus saham Krakatau Steel, sebelum dicatatkan harga sahamnya mencapai 1.100, padahal dari penjamin harganya 850. Harga tersebut tidak saja langsung naik dari 850 ke 1.100, tetapi setiap hari ada kenaikan. Harga naik dikarenakan berita yang dibuat pada waktu itu, di mana harga kemurahan. Bagi yang pintar bermain saham ketika ada yang menawarkan harga saham sebesar 900 langsung dibeli dan dijual lagi karena semua orang sudah mempunyai frame harga KRAS sudah murah.

Tetapi, ada juga pemain yang belum punya sahamnya berani menawarkan dengan premium sehingga pemain mencari dari penjamin emisi dengan segala cara karena sudah ada pembelinya. Bila dijualnya sebesar 103, maka saham tersebut akan dibeli lebih kecil 101 atau 102 dan pemain tersebut mendapatkan fee sekitar 1 persen. Ada juga pemain yang menawarkan pembelian dengan diskon besar, misalkan 10 persen, padahal sahamnya tidak ada sehingga kelihatan pembelinya sedikit. Investor yang tidak memahami selalu dirugikan.

Bila investor tidak punya sahamnya tapi mencoba memainkannya, maka ada dua kepentingan yang dilakukannya, yaitu mencoba menggoyang harganya, seharusnya pemain tersebut punya nyali dan paham memainkan saham tersebut. Paling tidak pemain tersebut mempunyai power untuk mendapatkan saham tersebut.

Saham yang ditransaksikan pada hari pertama bisa naik terus sampai pada level otomatis ditutup transaksi (autorejection) karena peraturan yang dikeluarkan bursa, bahkan bisa juga berfluktuasi. Bila sahamnya sangat hot dan dijual dengan harga kemurahan, maka saham itu akan naik terus. Sangat menarik bertransaksi pada saham yang harganya berfluktuasi dalam sehari ini. Bila kinerja saham pada hari pertama turun dari harga IPO-nya, maka emiten dan penjamin emisinya dianggap tidak memberikan kepuasan pada investornya.

Umumnya capital gain yang diperoleh investor pada hari pertama berfluktuasi dari 8 persen sampai dengan 50 persen dan secara rata-rata sekitar 20 persen untuk saham IPO. Angka seperti ini juga diperoleh pada bursa saham internasional. Investor bisa menjual sahamnya setelah menikmati sekitar 25 persen, di mana 5 persen merupakan biaya akan dikeluarkan atas transaksi maupun hal lain (traktir teman). Bila saham terjual dengan kapital gain 25 persen maka hasil yang diperoleh sudah sangat optimal karena dalam tempo 2 minggu investor telah memperoleh hasil yang sangat gemilang.

Setelah menjual saham, maka investor harus membeli kembali saham itu supaya dimiliki, apalagi saham tersebut di kelompok saham hot. Batasan yang dipergunakan untuk membeli kembali, yaitu saham sudah drop 10 persen. Pembeliannya jangan dilakukan sekaligus, tetapi separuh dan bila turun lagi dibeli dengan uang yang sisa. Bila harga saham berbalik naik ke atas jangan panik harus tetap tenang karena saham itu pasti ada turunnya, karena tidak mungkin saham itu akan naik terus.

Bila saham yang dimiliki tersebut tidak termasuk saham hot atau disebut saham sepi, maka investor jangan berharap capital gain yang tinggi. Sehingga investor harus mengubah patokan yang penjualan saham, bisa saja maksimum 10 persen agar dana tidak stagnan pada saham tersebut. Berdasarkan pengalaman bahwa saham yang sepi tidak bisa memberikan capital gain 15 persen dan maksimum 10 persen sehingga investor harus buru-buru menjualnya. Bila turun ke bawah, maka investor langsung membelinya. Teknis bermain saham jual beli pada harga atas dan bawah bisa ditanyakan kepada perusahaan sekuritas investor bermain saham.

Selanjutnya, investor tidak bisa mendapatkan saham pada saat periode perdana karena sahamnya termasuk saham hot. Investor harus memburunya pada hari pertama dengan langsung membeli. Bila investor mempunyai sejumlah dana untuk membelinya, maka investor harus membeli saham tersebut maksimum 4 tik, dan tik saham untuk berbagai harga juga berbeda.

Tetapi, investor juga harus mencari informasi berapa besar premium yang terjadi pada pasar abu-abu ketika saham tersebut ditawarkan di pasar perdana. Bila saham hot ini sudah tinggi premiumnya di pasar perdana, maka investor harus memulai pembelian pada harga premium yang terjadi. Investor harus meminta kepada sekuritas untuk memasang pembelian saham pada harga yang sudah ditentukan yang diduga akan diperoleh. Investor juga bisa menjual bila sudah naik 10 persen dari harga pembelian. Sungguh menakjubkan bila dapat hasil capital gain yang besarnya 10 persen.

Bila sahamnya masuk kelompok saham sepi, maka investor juga harus hati-hati membeli saham ini karena ketika dibeli kemungkinan naik tetapi kenaikan tidak tajam dan kemungkinan turun setelah naik sedikit dan kebetulan setelah dibeli. Saham kelompok sepi ini biasanya dihindari investor yang sangat pintar bermain saham. Oleh karenanya, investor harus memahami dan melihat prospek saham ini dengan informasi yang diperoleh dari berbagai pihak.

Sekali lagi, risiko masih tetap di depan mata sehingga investor harus juga hati-hati karena dana dimiliki investor dan kerugian yang dialami ditanggung investor. Investor harus tenang dan tidak terlalu rakus sehingga dapat diperoleh kapital yang diinginkan.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, January 30, 2011

I N V E S T A S I: Memilih Saham IPO

Minggu, 30 Januari 2011
Elvyn G Masassya

Jika Anda memerhatikan pasar modal Indonesia, atau Anda termasuk investor yang gemar menempatkan dana di bursa efek, pasti tahu bahwa pada tahun 2010 tidak kurang 25 perusahaan listing di pasar modal. Beberapa di antaranya malah menjadi ”buah bibir” karena peminatnya membeludak dan bahkan menjadi perbincangan mulai dari politisi hingga pedagang kaki lima. Sebut salah satunya adalah saham Krakatau Steel (KS). Bagi yang berkesempatan memperoleh saham KS telah pula menuai keuntungan berupa capital gain yang amat dahsyat.

Di sisi lain, bukan tidak banyak investor yang menuai kerugian ketika membeli saham initial public offering (IPO). Artinya, membeli saham yang baru dicatatkan di pasar modal. Konkretnya, tidak ada jaminan bahwa membeli saham IPO pasti akan menuai capital gain. Bahkan, investor mesti berhati-hati ketika membeli saham IPO. Sebab, banyak di antaranya tidak saja tidak prospektif, tetapi hanya mencari ajang ”pencarian dana” pemilik perusahaan, tanpa peduli sahamnya akan meningkat harganya atau anjlok begitu mulai diperdagangkan.

Bukti yang lain, pada awal tahun 2011 ini sudah ada dua perusahaan yang melakukan IPO, dan kedua saham perusahaan tersebut langsung anjlok harganya ketika mulai ditransaksikan. Kenapa bisa begitu? Sangat bisa. Dus, paparan berikut akan menguraikan beberapa sebab kenapa saham IPO bisa anjlok tatkala sudah listing dan bagaimana upaya menghindari jebakan saham seperti itu.

Memiliki perusahaan

Pertama, membeli saham IPO sama artinya dengan ikut serta memiliki perusahaan yang sahamnya dijual kepada publik. Itu berarti, kalau kita ingin memiliki perusahaan, tentunya mesti perusahaan yang bagus. Yang bisa bertumbuh terus dan memberikan keuntungan. Artinya apa? Artinya, lupakan beli saham pada saat IPO, kalau maksudnya adalah untuk ”beli hari ini jual besok”. Kalau seperti itu, maksudnya adalah melakukan trading saham. Tidak peduli apakah kinerja perusahaan yang melakukan IPO itu bagus atau tidak. Yang penting beli.

Nah, kalau situasinya seperti ini, Anda sebenarnya tidak beda dengan ”berjudi” alias berharap harga saham akan meningkat pada hari pertama perdagangan. Dan, besar kemungkinan Anda akan terkecoh. Kenapa? Karena, yang menjadi patokan bagi para trader adalah kondisi oversubscribe ketika perusahaan tersebut menawarkan sahamnya kepada publik.

Dengan kata lain, saham perusahaan itu laku keras. Pertanyaannya, bagaimana hitungan oversubscribe tersebut? Siapa yang melakukan penawaran? Apakah oversubscribe itu benar- benar terjadi? Hanya underwriter dan perusahaan itu sendiri yang tahu. Sebab, hingga hari ini tidak ada kewajiban bagi emiten ataupun underwriter untuk membuka tabir ”gelap” soal oversubscribe.

Dan faktanya, dalam bulan Januari 2011 ini ada dua perusahaan IPO yang dikabarkan mengalami oversubscribe puluhan kali, tetapi harga sahamnya jeblok belasan persen pada transaksi hari pertama. Pesan moral dari paparan di atas adalah jangan begitu saja percaya pada istilah oversubscribe. Kinerja dan fundamental perusahaan jauh lebih penting.

Kedua, berapa besar proceed alias dana yang diharapkan dari IPO tersebut. Semakin besar akan semakin bagus karena likuiditasnya otomatis akan besar pula. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah untuk apa dana hasil IPO itu dipergunakan oleh emiten. Peruntukan dana hasil IPO biasanya sudah disampaikan oleh emiten di dalam prospektusnya. Akan tetapi, apakah peruntukan dana tersebut benar digunakan sebagaimana diperjanjikan, tentunya mesti dicek lagi.

Namun, lepas dari itu, yang jauh lebih penting adalah peruntukan dana itu sendiri. Artinya, berapa persen dana yang dipergunakan untuk ekspansi usaha dan berapa persen untuk membayar utang. Semakin besar porsi untuk ekspansi usaha, itu akan semakin bagus. Sementara kalau tujuan IPO-nya semata- mata untuk membayar utang, agak sulit diharapkan perusahaan tersebut berkembang. Sebab, hanya utangnya saja berkurang, sementara kemampuan ekspansinya tidak berubah. Kesimpulannya, jangan terlalu berharap pada saham IPO yang peruntukan dana hasil IPO-nya semata-mata untuk membayar utang.

Penentuan harga final

Ketiga, harga saham IPO. Secara konsep ada berbagai cara untuk menentukan berapa harga sebuah saham. Hal ini sudah pula dibahas dalam beberapa tulisan terdahulu. Namun, yang perlu menjadi pegangan dalam hal harga saham IPO ini adalah proses penentuan harga final. Artinya, pada saat menjajakan saham tersebut kepada publik, biasanya ada rentang harga dari saham tersebut.

Misalnya saham perusahaan ”Polan”, rentang harganya adalah Rp 1.000-Rp 1.500 per lembar. Kalau peminatnya tidak terlalu banyak, harga final biasanya akan berada di sisi kiri, antara Rp 1.000 dan Rp 1.200. Sementara kalau peminatnya membeludak, harga saham bisa ditawarkan di sisi kanan, misalnya antara Rp 1.400 dan Rp 1.500.

Namun, Anda mesti waspada dengan rentang harga ini. Karena, istilah oversubscribe dan undersubscribe tercipta berdasarkan hasil book building dari saham tersebut, di mana calon investor memasukkan penawaran dengan harga yang diinginkan. Dalam praktiknya bisa saja banyak calon investor yang ingin membeli di harga Rp 1.000. Jumlah pembelinya melebihi saham yang ditawarkan. Ini disebut oversubscribe. Namun, apakah calon investor itu pasti akan membeli saham dimaksud? Boleh jadi tidak. Kenapa? Karena harga jual yang diputuskan adalah Rp 1.400, sebagai misal. Dus, ketika saham tersebut diperdagangkan, sangat mungkin harganya akan anjlok. Ketika dilepas di pasar sekunder, tidak ada investor yang berminat membelinya.

Selain ketiga hal di atas, tentu masih banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan jika Anda berminat membeli saham di pasar perdana. Salah satu pertimbangan penting lainnya adalah soal timing. Artinya, kapan saham tersebut diperdagangkan, apakah pada saat pasar lagi dalam posisi penuh sentimen positif atau negatif. Ini penting sebab kondisi pasar saat saham tersebut diperdagangkan akan memengaruhi perilaku investor bertransaksi. Saham yang bagus ketika diperdagangkan di kala pasar tengah menurun bisa saja akan turut mengalami penurunan harga. Demikian pula sebaliknya. Selamat berinvestasi.

Elvyn G Masassya Praktisi Keuangan

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, January 2, 2011

INVESTASI: Portofolio Investasi 2011

Minggu, 2 Januari 2011 | 04:37 WIB

ELVYN G MASASSYA/PRAKTISI KEUANGAN

Tahun 2010 baru saja berlalu. Pertumbuhan pasar modal 2010 luar biasa. Bahkan, indeks mencapai angka yang tidak pernah diduga sebelumnya. Naiknya mencapai sekitar 40 persen dibandingkan dengan tahun 2009. Lantas, apakah kondisi ekonomi dan pasar modal tahun 2011 akan sebaik 2010, atau malah lebih baik? Atau bisa sebaliknya, lebih jelek dibandingkan dengan tahun 2010?

Sejujurnya tidak ada yang tahu. Yang jelas, pasti tidak sama dengan tahun 2010. Analis yang paling hebat sekalipun hanya bisa menduga-duga. Menggunakan berbagai indikator dan parameter, lalu membuat perkiraan. Sekali lagi hanya perkiraan. Oleh karena itu, Anda pun sebenarnya bisa membuat perkiraan, bagaimana sketsa 2011, khususnya di aspek perekonomian dan investasi, untuk kemudian menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun strategi investasi 2011.

Secara umum, analis mengatakan bahwa tantangan 2011 adalah laju inflasi yang mungkin bisa lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010. Implikasinya, tingkat suku bunga juga akan mengalami peningkatan. Tetapi, di sisi lain, ada peluang Indonesia masuk dalam kategori investment grade. Ini berarti investor asing akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang layak untuk tempat berinvestasi kendati sejak tahun 2009/2010 arus investasi, khususnya yang bersifat jangka pendek, masuk sangat besar ke pasar modal Indonesia.

Lalu, apa implikasi dari semua itu? Sederhananya, portofolio investasi pribadi Anda pada tahun 2011 tentu mesti pula disesuaikan jika menginginkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bagaimana caranya? Siapkan portofolio investasi yang lebih fleksibel. Seperti apa?

Tentukan imbal hasil

Pertama, tentukan berapa imbal hasil investasi yang diinginkan untuk tahun 2011. Kalau Anda setuju dengan perkiraan para analis bahwa ada kemungkinan tingkat bunga pada tahun 2011 lebih tinggi dibandingkan dengan 2010, tentu tingkat bunga deposito berjangka juga akan meningkat. Dus, oleh karena itu, jika parameternya adalah bunga deposito, imbal hasil investasi Anda adalah berapa persen di atas bunga deposito. Anggaplah pada tahun 2010 tingkat bunga deposito akan berada di kisaran 7-8 persen, maka hasil investasi Anda secara total adalah diharapkan bisa 1,5 atau 2 kali lipat bunga deposito berjangka. Jika Anda optimistis dan agresif, boleh saja mematok dua kali bunga deposito, atau sekitar 15 persen.

Jangan lupa, itu adalah hasil secara menyeluruh terhadap total portofolio Anda. Dalam praktiknya kontribusi tiap-tiap instrumen pasti akan berbeda. Oleh karena itulah, kemudian Anda mesti menyusun secara lebih detail berapa dana tiap-tiap instrumen dan berapa hasil yang diharapkan.

Kedua, berdasarkan target imbal hasil yang diharapkan, selanjutnya disusun portofolio investasi secara umum, yakni berapa persen dana akan dialokasikan untuk deposito berjangka, saham, obligasi, reksa dana, dan lain sebagainya. Itu adalah portofolio diversifikasi sempurna karena dana investasi Anda akan tersebar di berbagai produk investasi.

Yang menjadi poin penting hanyalah, berapa persen dana ditempatkan di tiap-tiap instrumen investasi tersebut. Sebagai misal, jika dana Anda adalah 100 persen, maka bisa saja dialokasikan secara pro rata ke setiap instrumen investasi yang Anda pilih. Namun, jika Anda tergolong investor agresif, tentu saja terhadap instrumen investasi yang memberikan potensi return lebih tinggi, seperti saham, dapat dialokasikan dana yang lebih besar.

Ketiga, menentukan tenor atau jangka waktu pada tiap-tiap instrumen investasi yang telah Anda pilih. Benar, bahwa portofolio yang Anda susun adalah untuk tahun 2011. Namun, portofolio itu sendiri bukan berarti mesti selesai tahun 2011 juga. Artinya, portofolio ini adalah yang Anda susun dan buat untuk mengalokasikan dana investasi Anda, baik yang baru maupun yang sudah ada. Sedangkan investasi itu sendiri bisa tetap Anda pegang sesuai dengan jangka waktu yang diinginkan.

Tenor di sini, misalnya, adalah untuk deposito berjangka. Dana yang akan Anda masukkan ke bank tentu mesti ditentukan untuk berapa lama. Jika Anda yakin suku bunga akan naik terus, pilihannya adalah tenor yang berjangka pendek. Sebaliknya, kalau Anda merasa tingkat bunga akan mengalami penurunan, penempatan dana Anda mestinya berdurasi lebih panjang supaya Anda bisa tetap menikmati bunga yang tinggi meskipun di pasar bunga deposito telah mengalami penurunan.

Hal yang sama juga Anda berlakukan terhadap saham. Apakah Anda bermaksud membeli saham semata-mata untuk diperdagangkan pada tahun 2011, atau ada sebagian yang akan dibeli pada tahun 2011, tetapi tujuannya adalah untuk dipegang dalam jangka panjang, atau lebih dari setahun. Hal-hal semacam ini mesti diputuskan secara jelas ketika menyusun portofolio investasi Anda agar hasilnya bisa lebih optimal.

Keempat, timing eksekusi. Benar, bahwa portofolio yang Anda susun adalah untuk tahun 2011, tetapi eksekusi portofolio tersebut tidak mesti dilakukan sekaligus pada awal tahun. Pada awalnya, jika Anda sudah menentukan berapa dana yang akan Anda investasikan, masukkan seluruh dana baru tersebut ke dalam tabungan ataupun deposito berjangka pendek. Setelah itu, dengan melihat perkembangan pasar, maka sedikit demi sedikit dana tersebut dikonversikan menjadi saham, obligasi, ataupun reksa dana. Dengan cara tersebut, diharapkan portofolio Anda akan optimal karena Anda masuk pasar pada saat yang tepat.

Quoted by Idham Azhari From KOMPAS

Sunday, December 26, 2010

INVESTASI: Investor Kecil Membeli Saham IPO

Minggu, 26 Desember 2010 | 03:02 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Bagaimana caranya investor kecil dengan modal maksimum Rp 5 juta ikut membeli saham IPO?

Tidak ada batasan yang jelas mengenai konsep investor kecil, tetapi berbagai pihak biasanya menyatakan bila transaksinya masih di bwah 50 lot (1 lot sama dengan 500 saham), transaksi tersebut dianggap transaksi kecil. Bila nilai harga sahamnya sebesar Rp 50.000, seperti saham ASII (Astra Internasional), nilainya 1 lot saja sudah mencapai Rp 25 juta.

Bila ukuran yang dipakai nilai, maka nilai transaksi di bawah Rp 50 juta sudah dianggap investor kecil, bahkan ada pihak yang menganggap nilai transaksi Rp 100 juta masih dikategorikan investor kecil. Biasanya investor kecil paling peka terhadap aturan yang mematikan kehidupan mereka. Bahkan, ada investor kecil hidup dari transaksi saham di bursa. Bila kita pergi ke Bursa Amerika Serikat, banyak investor kecil yang bermain saham di bursa sebagai penghidupan.

Saham IPO adalah saham yang pertama kali ditawarkan oleh investor kepada publik dengan bantuan perusahaan sekuritas sebagai penjamin emisi. Periode IPO sangat pendek karena saham tersebut biasanya sudah ditawarkan kepada pihak lain sebelum ditawarkan kepada publik. Namun, sosialisasi penawaran saham tersebut perlu berkali-kali dilakukan agar bisa menjadi saham yang dapat diketahui masyarakat.

Berbagai penelitian memberikan argumentasi dan kesimpulan baik di dalam negeri ini maupun di luar negeri bahwa investor yang melakukan investasi pada saham IPO umumnya mendapatkan keuntungan minimum 5 persen selama periode dua minggu. Bila investor melakukan investasi dua saham IPO pada setiap bulan, investasinya akan sangat menguntungkan. Ada seorang investor yang bercerita ketika penulis mengikuti IPO KS bahwa investor tersebut selalu mendapatkan keuntungan dan kekurangan biaya hidup ditutupi dari keuntungan main saham IPO dan secara kebetulan investor tersebut seorang pegawai negeri.

Buka rekening

Pertama yang harus dilakukan investor adalah mempunyai rekening pada perusahaan sekuritas. Pembukaan rekening pada perusahaan sekuritas merupakan sebuah kewajiban, tanpa rekening ini investor tidak bisa menjual sahamnya. Ketika investor ingin membuka rekening pada perusahaan sekuritas, investor harus mempunyai dana paling sedikit Rp 10 juta. Nilai ini merupakan kewajiban yang diminta perusahaan sekuritas. Nilai ini kadang bisa juga lebih rendah dan bila ada yang menjamin investor, tetapi kemajuan dan persoalan krisis yang terjadi membuat nilai ini akan meningkat.

Pada pembukaan rekening, investor mengisi sebuah formulir yang berisikan pertanyaan mengenai data pribadi investor. Berisi juga pertanyaan: mengapa investor bermain saham dan dari dana investor untuk transaksi saham tersebut. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan wajib untuk memenuhi peraturan yang dikenal peraturan pengenalan klien (know your client, KYC).

Selanjutnya, perusahaan sekuritas melakukan due diligence (pengujian tuntas) terhadap pernyataan investor dalam formulir tersebut. Bila perusahaan sekuritas telah merasa tidak ada persoalan, investor diperbolehkan melakukan transaksi. Investor harus mencari perusahaan sekuritas yang memberikan kelonggaran kepada investor agar bisa membuka rekening dengan setoran awal Rp 5 juta. Bila investor melakukan dengan jujur, perusahaan sekuritas akan memberikannya kepada investor. Tujuan investor adalah bermain saham IPO, tetapi investor tidak bisa langsung, melainkan bermain saham dulu dengan jumlah kecil.

Perusahaan sekuritas

Kedua, investor harus berhubungan dengan pemasaran perusahaan sekuritas. Investor selalu mempunyai hubungan yang baik dengan pemasaran tersebut agar pelayanan terhadap investor lebih baik. Bahkan, ada pihak yang melakukan traktir makan bila investor mendapatkan keuntungan cukup lumayan. Biasanya, pemasaran perusahaan tidak pernah meminta hal-hal yang demikian, tetapi investor yang bertindak.

Pemasaran perusahaan sekuritas sangat takut bila kehilangan investor. Bila investor mempunyai hubungan yang sangat baik dan dekat, saham IPO akan bisa diperoleh dan kemungkinan setiap ada IPO akan mendapat penjatahan karena memberikan kepada investor bukan sebagai beban, melainkan pelayanan. Investor jangan kecewa dengan pengalaman investor yang tertulis pada tulisan dua minggu lalu, di mana 10 tahun telah menjadi nasabah tetapi satu lot pun tidak dapat, padahal sudah menyetor sekian ratus juta. Persoalan tersebut terjadi karena moral hazard lebih tinggi dari tindakan bijak.

Ketiga, investor harus melakukan transaksi yang berulang pada perusahaan sekuritas tersebut. Bila investor hanya melakukan transaksi tidak berulang-ulang, investor tidak akan pernah diingat. Artinya, investor melupakan transaksi sahamnya dan orang lain juga ada kemungkinan melupakan investor.

Saat ini sudah ada berapa perusahaan sekuritas yang menawarkan transaksi saham secara online, seperti Done dilayani PT Danareksa, E-trading oleh perusahaan yang bersangkutan, dan IPOT dilayani PT IndoPrimer Sekuritas. Ketiga perusahaan ini terdaftar di Bapepam dan menjadi anggota Bursa Efek Indonesia. Transaksi ini dilakukan bila investor memiliki dana dan saham.

Dana harus dibutuhkan pada rekening investor di perusahaan minimum sejumlah nilai transaksi investor dan saham yang ada di rekening jika ingin menjual. Artinya, perusahaan sekuritas tidak ingin mengganggu risiko akibat transaksi investor. Selayaknya investor mencoba transaksi saham pada metode online ini dan ada kemungkinan mendapatkan saham IPO karena investor sudah mempunyai rekening pada perusahaan sekuritas.

Quoted by Idham Azhari From KOMPAS

Sunday, December 12, 2010

Penjatahan IPO

Minggu, 12 Desember 2010 | 03:12 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Seorang investor mengajukan pertanyaan sebagai berikut: ”Pada waktu IPO Krakatau Steel, saya berminat membeli melalui sebuah ’perusahaan sekuritas pemerintah’ yang juga sebagai salah satu dari 3 underwriter. Sebagai nasabah lebih dari 10 tahun dari perusahaan tersebut, saya menyetor Rp 265 juta ke rekening perusahaan sekuritas tersebut 10 hari sebelum IPO untuk membeli saham Krakatau Steel. Ternyata, pada waktu penjatahan, saya tidak kebagian jatah sama sekali (nihil). Saya heran bagaimana hal ini bisa terjadi. Seandainya kelebihan beli 9 kali, seharusnya setiap calon pembeli dapat jatah kira-kira 10 persen, tidak sampai nihil.”

Coba kita membahas penjatahan saham ini sesuai aturan yang berlaku. Setiap orang tidak dilarang untuk membeli saham, baik di pasar perdana yang dikenal sebagai penjualan saham melalui IPO maupun di pasar sekunder atau transaksi di bursa. Secara peraturan, setiap investor yang membeli saham sekunder harus membeli melalui perusahaan sekuritas yang mempunyai kewajiban untuk transaksi tersebut.

Untuk bisa membeli saham di bursa, investor harus membuka rekening pada perusahaan sekuritas dan mengisi formulir dan menjawab alasan melakukan transaksi saham serta dana yang dipergunakan dari mana asalnya. Tindakan ini merupakan tindakan yang dibutuhkan secara aturan yang dikenal peraturan KYC (know your client).

Pembelian saham pada pasar IPO agak berbeda dengan pasar sekunder. Apabila ingin membelinya, investor harus mengisi formulir pembelian dan biasanya perusahaan sekuritas membuat formulir pembukaan rekening. Investor akan dibantu staf perusahaan sekuritas untuk mengisi formulir itu. Artinya, investor mengisi dua formulir yang berbeda tujuan; satu untuk membeli saham pada IPO dan satu lagi untuk rekening agar ketika penjatahan saham selesai, saham investor yang dibeli diperdana dicatatkan ke rekening investor. Ketika investor melakukan penjualan pada hari pertama, mutasi sahamnya akan terlihat pada rekening investor.

Manajer penjatahan

Formulir pertama yang digunakan investor untuk membeli saham IPO dikumpulkan oleh perusahaan sekuritas dan diberikan kepada manajer penjatahan. Adapun manajer penjatahan adalah salah satu dari tiga perusahaan sekuritas yang ditunjuk oleh ketiga perusahaan sekuritas tersebut.

Adanya manajer penjatahan ini diwajibkan oleh peraturan Bapepam IX.A.7. Disebut dalam peraturan bahwa laporan penjatahan tersebut harus dilaporkan oleh manajer penjatahan kepada Bapepam dalam waktu lima hari kerja setelah tanggal penjatahan. Artinya, laporan penjatahan sudah sampai di Bapepam.

Laporan penjatahan ini berbeda dengan rekening yang dimiliki investor di perusahaan sekuritas. Bapepam bisa membuka penjatahan ini apabila ada keinginan memperbaiki persoalan yang ada. Kemungkinan Ketua Bapepam melindungi pihak-pihak tertentu, tetapi tidak sesuai dengan peraturan yang dibuatnya.

Peraturan IX.A.7 yang dikeluarkan pada 27 Oktober 2000 yang ditandatanagani Herwidayatmo, mengubah peraturan IX.A.7 yang dikeluarkan pada 17 Januari 1996 ditandatangani oleh I Putu Gde Ary Suta. Adapun peraturan IX.A.7 yang baru meniadakan penjatahan pasti kepada reksa dana, dana pensiun, dan asuransi, sementara peraturan terbaru penjatahan pasti merupakan kewenangan manajer penjatahan.

Sangat disayangkan peraturan IX.A.7 versi 200 dikeluarkan karena memberikan kesempatan pihak-pihak tertentu bersekongkol dalam mendapatkan jatah. Saya sedikit heran terbitnya peraturan ini apakah ada yang sudah masuk angin untuk terbitnya peraturan versi 200 sehingga mengorbankan yang lain, sifat utilitarian-nya tidak muncul.

Investor kecil

Peraturan ini membuat investor kecil akan tidak bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan saham yang dibeli. Investor kecil akan selalu kalah dalam pembelian saham ketika saham tersebut menjadi hot issue. Investor yang pintar akan melipatgandakan pembeliaannya ketika saham tergolong hot issue dan tidak membeli saham ketika saham yang ditawarkan tidak bagus.

Dalam kasus saham KS, peraturan inilah yang dipergunakan oleh perusahaan sehingga investor kecil tidak banyak yang dapat. Sebenarnya, UUD 45 merupakan undang-undang sentral sehingga peraturan Bapepam ini bisa diabaikan bila ada permintaan yang sangat besar dengan kepemilikan pemerintah.

Biasanya, perusahaan sekuritas di mana pun akan memerhatikan investornya, baik yang kecil maupun yang besar. Apalagi investor sudah lama menjadi nasabah perusahaan tersebut karena pendapatan perusahaan sekuritas datang dari transaksi nasabah. Namun, perusahaan sekuritas pada kasus KS ini tidak memerhatikan norma yang sering berlaku di perusahaan sekuritas.

Ada kemungkinan perusahaan sekuritas tersebut mendapat tekanan dari berbagai pihak sehingga melakukan tindakan kepada investornya seperti yang terjadi pada KS. Bisa juga terjadi moral hazard mengingat harga saham murah dan sudah didengungkan 9 kali permintaannya. Adanya permintaan yang cukup besar akan berakibat harga saham melonjak tinggi di transaksi pada hari pertama.

Apabila saham KS dialokasikan dengan transparan, sebenarnya setiap investor akan mendapat jatah yang proporsional atas saham yang dipesannya. Misalkan, pada KS ada permintaan sebesar 9 kali dan Ketua Bapepam menyebutkan hanya sekitar 2 kali. Setidaknya. setiap investor akan mendapatkan 10 persen dari yang dipesan. Akan tetapi, Investor tidak mendapatkan jatah tersebut karena sebelum investor kecil sudah memesan lebih banyak dan pemesanan ini yang tidak transparan, di mana Bapepam mempunyai wewenang untuk itu dan tidak dilakukannya.

Penjatahan yang paling baik dilakukan pada saham KS adalah membagikan penjatahan sama rata kepada penduduk Indonesia. Hal ini akan meningkatkan pendapatan serta memenuhi Undang-Undang Dasar 1945. Penjatahan ini dilakukan untuk saham-saham perusahaan yang dimiliki pemerintah, terutama industri strategis.

Apabila tindakan ini dilakukan, rasa keadilan bisa tercapai. Kita akan senang jika semua orang menikmati kemakmuran yang diciptakan pemerintah. Bapepam sebagai lembaga negara mempunyai kewajiban dan jangan dipakai capital market yang memberikan arti bahwa yang kuat yang menang di pasar.

KOMPAS

Sunday, November 28, 2010

INVESTASI: Tentang "Insider Trading"

Minggu, 28 November 2010 | 03:32 WIB

Adler Haymans Manurung - Praktisi Keuangan

Insider trading merupakan istilah di bursa yang pengertiannya adalah seseorang yang melakukan transaksi dengan mendapat informasi orang dalam sehingga orang tersebut mendapatkan keuntungan yang abnormal.

Pertama, adanya informasi akurat dari orang dalam mengenai prospek perusahaan pada masa mendatang.

Informasi ini bisa membuat harga saham meningkat dan bisa juga harga saham drop lebih dalam. Biasanya investor ingin mendapatkan informasi yang memberikan keuntungan kepada investor tersebut.

Konotasi yang paling banyak atas insider trading adanya keuntungan yang sangat besar. Investor membeli saham lebih awal dari pihak lain karena memperoleh privelege informasi terbaru mengenai prospek saham, termasuk juga investor melakukan penjualan atas saham disebabkan adanya informasi akan membuat harga saham tersebut mengalami penurunan. Apabila dijual lebih cepat, investor tersebut tidak mengalami kerugian yang besar.

Orang dalam

Kedua, adanya orang dalam yang memberikan informasi kepada pihak luar perusahaan untuk mempergunakan informasi tersebut dalam rangka memperoleh keuntungan yang sangat besar, termasuk juga keuntungan yang kecil. Orang dalam tersebut diartikan lebih sederhana jika tidak memahami esensi dan roh transaksi saham di pasar perdana dan pasar sekunder, seperti Bursa Efek Indonesia.

Umumnya yang masih minim pengetahuannya akan menyatakan orang dalam hanya direksi dan komisaris perusahaan. Padahal, orang dalam tersebut mempunyai arti lebih luas sekadar hanya orang yang bekerja dalam perusahaan.

Misalkan, sebuah perusahaan yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek sedang melakukan aktivitas ingin mengakuisisi sebuah perusahaan lain dan pendanaannya dengan menggunakan penerbitan saham.

Aktivitas ini dikenal sebagai corporate action (aksi perusahaan) bagi orang yang suka bermain saham di Bursa Efek.

Pihak yang terkait untuk melaksanakan aktivitas ini, perusahaan menunjukkan perusahaan sekuritas, konsultan hukum, perusahaan penilai, akuntan publik, notaris, serta konsultan keuangan dan konsultan kehumasan. Pihak-pihak ini sudah dianggap terafiliasi dengan perusahaan karena pihak-pihak tersebut yang mengerjakan corporate action tersebut. Pihak-pihak ini juga dapat disebut dengan orang dalam.

Ketiga, adanya transaksi saham yang dilakukan seseorang atas informasi yang diperoleh dari orang-orang tertentu dalam perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek. Seseorang yang melakukan transaksi saham atas informasi yang diperolehnya dan memperoleh keuntungan merupakan sebuah kejahatan karena transaksi tersebut dianggap sebagai transaksi dari orang dalam (insider trading).

Investor bisa mendapatkan keuntungan dari transaksi saham dengan cara membeli saham lebih awal daripada pihak lain yang belum mendengar berita tersebut. Pemikirannya, investor harus membeli lebih awal karena harganya akan lebih murah sebelum informasi disampaikan kepada publik. Jika investor melakukan transaksi setelah informasi disampaikan kepada publik, investor tidak terkena persoalan insider trading.

Sehnyun (2000) menyatakan, biasanya pihak yang memperoleh informasi dari orang dalam akan melakukan transaksi yang cukup besar. Tindakan ini dilakukan karena keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dan kepastiannya lebih jelas.

”Initial public offering”

Timbul pertanyaan, apakah ada insider trading pada perusahaan yang sedang melakukan IPO (initial public offering) ? Jika diperhatikan secara harfiah bahwa insider trading hanya terjadi apabila saham telah diperdagangkan di Bursa. Artinya, insider trading hanya terjadi pada pasar sekunder, yaitu transaksi di Bursa. Jika konsep ini yang dipergunakan, pemahaman yang dipergunakan sangat dangkal sekali.

Apakah saat IPO bukan juga pasar, di mana IPO dikenal dengan pasar perdana. Apakah pihak-pihak tidak bisa menggunakan informasi orang dalam untuk transaksi di pasar perdana? Apabila investor tahu bahwa harga saham tersebut murah dan bisa dibuktikan serta informasi tersebut diperoleh dari orang dalam (termasuk orang pihak terkait dalam proses IPO), investor akan membeli saham tersebut.

Biasanya, investor yang pintar akan melipatgandakan pembeliannya atas saham tersebut karena adanya kepastian memperoleh keuntungan pada hari pertama ditransaksikan. Apalagi, investor tersebut mempunyai ”hubungan yang baik” dengan perusahaan sekuritas dan seluruh pihak-pihak tersebut. Artinya, insider trading akan terjadi di seluruh pasar transaksi saham.

Bisakah pengawas melakukan insider trading ? Secara analisis norma dan etika serta hukum (undang-undang) akan memberikan kemungkinan karena pada saat perusahaan mendaftarkan sahamnya ke Bapepam ataupun Bursa, ada kemungkinan informasi sudah diperoleh lebih awal. Dengan informasi yang diperoleh pengawas meminta kepada perusahaan sekuritas untuk mendapatkan jatah saham tersebut. Informasi yang diperoleh pengawas disampaikan kepada teman-teman lain untuk membeli saham karena perusahaan bagus dan murah. Tindakan ini merupakan sebuah tindakan yang mengarah ke insider trading.

KOMPAS

Sunday, November 21, 2010

Membeli Saham IPO

Minggu, 21 November 2010 | 04:00 WIB

Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Initial public offering adalah menjual sebagian kepemilikan saham kepada publik melalui pasar modal. Bagi perusahaan, IPO merupakan langkah untuk menaikkan ”derajat”. Mengapa? Karena menjadi perusahaan publik mengharuskan perusahaan lebih transparan, lebih kompetitif, dan lebih memiliki tanggung jawab. Sebab, sebagian kepemilikannya sudah berada di tangan banyak orang.

Di sisi lain, pemilik perusahaan yang melepas sahamnya juga dapat meraup dana dari publik. Dana yang diperoleh bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan modal yang ditempatkan ketika perusahaan baru didirikan. Sebab, harga saham yang dijual mencerminkan nilai perusahaan tersebut, paling tidak dalam tiga tahun terakhir. Konkretnya, ketika sahamnya dijual kepada publik, harga bisa di atas nilai bukunya. Makanya, ada istilah dua kali price book value (PBV), tiga kali, dan seterusnya. Bergantung seberapa bagus value dan prospektif perusahaan tersebut.

Sementara, bagi masyarakat, membeli saham perusahaan publik merupakan cara termudah untuk bisa turut memiliki perusahaan. Jika perusahaan tersebut bagus, masyarakat juga akan menikmati hasilnya. Selain memperoleh dividen, masyarakat juga berpeluang mendapatkan capital gain apabila harga saham meningkat. Di sisi lain, jika perusahaan tersebut sudah tidak menjanjikan, dengan mudah pula sahamnya bisa dijual kepada pihak lain yang berminat.

Pertanyaannya, apakah semua saham yang dijual oleh perusahaan layak untuk dibeli? Jelas tidak. Ada kriteria-kriteria bagi investor di pasar saham ketika hendak membeli saham dari perusahaan yang go public agar tidak tertipu atau tidak seperti membeli ”kucing dalam karung”.

Kriteria layak beli

Pertama, berapa jumlah saham yang akan dilepas ke publik. Semakin besar yang dilepas, akan semakin bagus. Ukuran umum adalah 30 persen. Kalau yang dijual ke publik di atas 30 persen, akan semakin banyak masyarakat yang berpeluang memiliki saham perusahaan itu dan secara teoretis akan banyak transaksi yang nantinya terjadi di pasar sekunder.

Kedua, kepada siapa saham tersebut dialokasikan. Ini juga penting. Di pasar modal dikenal istilah investor institusi, investor ritel, investor asing, dan juga investor lokal. Ketika perusahaan menjual sahamnya kepada publik, biasanya mereka sudah memiliki rencana untuk pengalokasian sahamnya. Berapa besar yang dialokasikan untuk investor asing dan berapa pula untuk lokal. Demikian pula untuk investor institusi dan juga investor ritel.

Kalau yang dilepas kepada investor ritel sangat sedikit, Anda perlu waspada. Sebab, saham yang akan dibeli belum tentu likuid, alias belum tentu mudah untuk diperdagangkan. Investor institusi biasanya membeli saham tidak selalu untuk diperdagangkan. Demikian pula dengan alokasi kepada investor asing versus investor lokal. Mestinya alokasi kepada kedua jenis investor tersebut berimbang. Jika tidak berimbang, apalagi misalnya untuk asing sampai 90 persen dan lokal hanya 10 persen, perlu juga dipertanyakan apa alasannya.

Ketiga, harga saham. Sebelum menjual saham, perusahaan akan dievaluasi dulu oleh pihak independen untuk menghitung berapa harga wajar dari sahamnya. Selain didasarkan atas kinerja dan prospek perusahaan bersangkutan, juga akan dibandingkan dengan pesaingnya di sektor yang sama. Barulah kemudian muncul kisaran harga, misalnya dua kali nilai buku dan seterusnya.

Selain itu juga ada indikator berupa price earning ratio (PER) untuk melihat apakah harganya kemahalan, murah, atau wajar. Sebagai calon investor sebaiknya jeli mencermati indikator tersebut. Jika PER-nya lebih tinggi dibandingkan dengan pesaing, Anda perlu berpikir dua kali sebelum membeli. Begitu juga dengan PBV-nya, harus dicermati apakah di atas pesaing, di bawah, atau rata-rata.

Selanjutnya, berdasarkan harga saham yang dipatok dan target persentase saham yang dilepas akan bisa dihitung berapa kapitalisasi pasar dari saham tersebut. Semakin besar kapitalisasinya akan semakin bagus. Sebab, kapitalisasi pasar yang besar mencerminkan kapasitas untuk terjadinya volume transaksi yang besar pula sehingga sahamnya akan likuid atau mudah diperjualbelikan di pasar sekunder.

Keempat, potensi kenaikan/penurunan harga. Siapa pun yang membeli saham pada saat IPO pasti mengharapkan adanya capital gain dari saham tersebut, selain juga dividen, jika saham yang dibeli dipegang dalam kurun cukup lama. Masalahnya, apakah capital gain akan pasti terjadi? Tidak ada yang bisa menjamin. Namun, secara teoretis, potensi capital gain itu bisa dideteksi dari besarnya permintaan terhadap saham dimaksud pada saat dilakukan penawaran kepada publik.

Ini disebut dengan over/under subscribe. Artinya, apakah permintaan berada di atas atau di bawah penawaran. Semakin besar jumlah permintaan dibandingkankan dengan jumlah saham yang ditawarkan, semakin besar potensi adanya up side atau kenaikan harga ketika saham tersebut mulai diperdagangkan. Kenapa? Karena calon investor yang tidak kebagian beli di masa penjatahan, biasanya akan memburu saham dimaksud tatkala sudah listing. Itulah sebabnya kenapa banyak saham langsung mengalami pelonjakan harga pada saat mulai diperdagangkan.

Jika Anda yakin dengan kinerja perusahaan dan mengharapkan juga untuk memperoleh dividen, ada baiknya tetap dipegang sampai masa pembagian dividen tiba. Setelah itu, jika harganya sudah cukup tinggi, barulah dijual kepada pihak lain. Namun, jika motif Anda hanyalah untuk perdagangan jangka pendek, ketika up side terjadi saat saham diperdagangkan, tidak ada salahnya juga untuk dilepas. Sebab, jika kenaikan harga sudah terlalu tinggi, peluang untuk naik lagi sudah semakin terbatas.

KOMPAS