- Idham Azhari
Tuesday, September 29, 2015
5 Reasons Your Online Business Isn't Growing
- Idham Azhari
Tuesday, September 8, 2015
Selling Products Online? How to Build a Perfect Checkout Page (Infographic)
- Muhammad Idham Azhari
Monday, September 7, 2015
3 Inexpensive Ways to Build Up Your Website Content
- Muhammad Idham Azhari
Sunday, September 6, 2015
6 Growth-Hacking Tips to Boost Your Website's Traffic
- Muhammad Idham Azhari
Friday, September 4, 2015
17 Ways To Immediately Improve Your Website Traffic
- Muhammad Idham Azhari
Thursday, September 3, 2015
3 Ways Social Video Marketing Can Propel Your Brand
- Muhammad Idham Azhari
Tuesday, September 1, 2015
Improve Your Website's Conversion Rates With These 6 Design Tips
- Muhammad Idham Azhari
Monday, August 31, 2015
How to Create a Social-Media Marketing Plan From Scratch (Infographic)
- Muhammad Idham Azhari
Thursday, August 27, 2015
5 Million-Dollar Home-Based Business Ideas You Can Use Today
- Muhammad Idham Azhari
Friday, December 31, 2010
INSPIRASI WIRAUSAHA: Toko Online Raup Berkah Ajang AFF
KOMPAS.com - Prestasi tim merah putih di ajang Piala AFF menular ke toko online yang menjual pernak-pernik tim nasional yang ditukangi Alfred Riedl. Penjualan mereka selama bulan ini melonjak hingga 30 persen ketimbang bulan lalu. Selain kaos tim nasional bergambar burung garuda di dada, pembeli juga banyak memesan jaket, syal, sarung tangan, dan sepatu bola.
Gemerlap Piala AFF 2010 yang diikuti delapan negara Asia Tenggara menghipnotis hampir seluruh penduduk Indonesia. Pasalnya, tim merah putih yang dimotori dua pemain naturalisasi Irfaan Bachdim dan Cristian Gonzales tampil gemilang tak terkalahkan dan menembus babak semifinal.
Minat masyarakat kita menonton penampilan tim nasional besutan Alfred Riedl menggila. Terutama yang ingin menyaksikan langsung di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, yang berkapasitas 80.000 orang.
Tentu, tak lengkap menonton tanpa menggunakan atribut tim nasional, terutama kaos. Kalau sudah begini, pedagang pernak pernik yang berkaitan dengan tim garuda senang bukan kepalang. Sebab, mereka untung besar. Termasuk para penjual yang menjajakan jersey tim merah putih melalui internet.
Pramudita Aulia, pemilik KaosBola.com, misalnya. Sejak perhelatan Piala AFF awal Desember lalu, ia mampu menjual minimal lima set kaos dan jaket berbau tim nasional. "Animo masyarakat untuk membeli kaos dan jaket meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan biasa yang paling banyak laku cuma dua pieces per bulan," katanya.
Ia melego kaos tim nasional mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per potong dan celana Rp 33.000 per pieces. Adapun untuk jaket, ia membanderol dengan harga Rp 50.000 sampai Rp 75.000.
Jualan pernak-pernik tim nasional toko online Munyie.com juga laris manis. Yofita, costumer service Munyie.com, menceritakan bahwa selain kaos dan jaket, sarung tangan, sepatu, bola, hingga boneka berbentuk replika pemain tim merah putih juga ikutan laku keras. "Desember ini, pesanan pernak-pernik tim nasional naik 30 persen," katanya. Padahal, empat bulan sebelumnya, penjualan Munyie.com adem ayem.
Menurut Yofita, pembeli yang masuk ke tokonya di dunia maya tidak hanya datang dari kalangan perorangan, tapi juga banyak dari kelompok tertentu yang membeli dalam jumlah besar. "Yang paling banyak datang terutama pesanan kaos tim nasional, sarung tangan, syal, dan sepatu bola," ungkapnya.
Setiap harinya, Munyie.com bisa menjual 10 kaos tim nasional dengan logo burung garuda di dada dan 15 sarung tangan. Sementara, sepatu bola, sejak awal Desember hingga pertengahan Desember, telah laku terjual sebanyak 86 pasang.
Yofita menuturkan, meski mengalami lonjakan pesanan, toko onlinenya tidak serta merta menaikkan harga jual produknya. Sebab, persaingan antarpenjual jersey tim nasional di dunia maya juga cukup ketat pascaprestasi Markus Horison dan kawan-kawan di ajang Piala AFF yang moncer.
Munyie.com menjual kaos tim nasioanl dengan harga mulai Rp 95.000 hingga Rp 100.000 per potong. Lalu, celana dan sarung tangan dengan berbagai ukuran dilego mulai Rp 100.000 per buah. Sedang sepatu bola berkisar Rp 300.000 sampai Rp 450.000 per pasang. Adapun, boneka dihargai Rp 100.000-Rp 150.000.
Memang, penjualan di toko online semacam KaosBola.com dan Munyie.com mengalami peningkatan cukup besar. Tetapi, dibandingkan dengan pedagang kaos dadakan di seputaran Stadion Gelora Bung Karno, penjualan mereka terbilang masih kalah banyak.
Tengok saja Dadang, penjual kaos yang mangkal di Pintu Timur, Gelora Bung Karno. Ia bisa menjual lebih dari 100 kaos tim nasional pada laga semifinal leg pertama, Kamis (16/12/2010) lalu, ketika Indonesia menghadapi Filipina. "Lumayan, dapat Rp 5 juta," katanya girang. Dadang menjajakan kaosnya seharga Rp 50.000.
Meski begitu, Yofita tidak mau toko online-nya disejajarkan dengan para pedagang di pinggir jalan. Soalnya, pangsa pasar yang disasar jelas berbeda. "Kami hadir sebagai alternatif bagi para pembeli yang tidak punya waktu untuk berbelanja langsung," ujar dia.
Yofita menegaskan, kualitas produk yang dijual Munyie.com juga boleh diadu dengan barang di toko-toko usat perbelanjaan maupun toko online lainnya. "Kami berani menjamin, produk yang kami jual berkualitas. Bisa dilihat dari bahan baku dan tingkat keawetannya" tegasnya. (Mona Tobing/Kontan)
2010: Porsi Iklan Media Online Naik 400 Persen
SURABAYA, KOMPAS.com - Porsi iklan di sejumlah media online internet di Indonesia dinilai mengalami kenaikan signifikan pada tahun ini dibandingkan pencapaian tahun 2009.
"Kini, kue iklan di media online meningkat 400 persen atau sekarang mencapai 4 persen dari total belanja iklan ," kata Pengamat Media Massa asal Surabaya, Hendro D. Laksono, saat Diskusi Jurnalisme "Online" PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III (Persero), di Surabaya, Kamis (30/12/2010).
Menurut dia, sebelum munculnya internet perkembangan media sebatas di media cetak dan elektronik seperti radio maupun televisi. Namun, pergerakan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang semakin cepat tidak bisa ditampung oleh media tersebut. "Media cetak dibatasi jumlah halaman dan proses produksi. Kalau media televisi dan radio dibatasi oleh durasi," ujarnya.
Di sisi lain, jelas dia, ketika kue iklan dikuasai media televisi sebanyak 60 persen saat itu porsi iklan media online sangat minim atau sekitar 1,4 persen. Pada periode sama penguasaan iklan juga menyebar ke surat kabar, majalah, tabloid tetapi porsi mereka lebih besar dibandingkan perolehan media online. "Di Jawa Timur, seorang pemilik media online selama dua tahun ke depan bisa mempunyai dua media lain. Bahkan, ada yang satu tahun bisa lima media sekaligus," katanya.
Selain itu, ia menilai, kehadiran media online justru bisa menyajikan berita dan informasi dalam waktu sangat cepat baik menit maupun detik. Kondisi tersebut menjadi perbedaan antara jurnalisme konvensional dan online. "Kecepatan adalah ciri khas media online meskipun radio dan televisi bisa menyiarkan beritanya secara langsung," katanya.
Dengan cepatnya koneksi internet, ia optimistis, karya jurnalistik secara online tersebut bisa dinikmati di berbagai tempat. "Namun, tanpa adanya legalitas yang kuat maka banyaknya jumlah media online di Indonesia kian melemahkan posisi tawar wartawan di media itu," katanya.
Quoted by Idham Azhari From KOMPAS
Sunday, December 26, 2010
Rendang Pun "Berselancar" di Internet
Revolusi teknologi digital membawa perubahan pada hampir semua aspek kehidupan kita. Bahkan, orang Jepang yang ingin makan rendang Padang tinggal kirim ”e-mail” ke penjualnya. Dan, rendang pun ”datang sendiri” ke rumahnya. Budi Suwarna dan Sarie Febriane
Mbok Idem (40) tampak sangat sibuk. Tangannya gesit membungkus cabai, ujung bahu dan pipinya menjepit telepon genggam. Sambil melayani pembeli yang datang langsung berbelanja di lapak sayurnya, Idem menerima pesanan ikan patin segar lewat telepon. ”Ada lagi yang mau dipesan?” ujarnya kepada pelanggannya di ujung telepon, Rabu (22/12).
Saat ada sela, Idem bergegas mengantar ikan patin pesanan itu ke rumah pelanggannya dengan sepeda motor. Dalam dua jam, pedagang sayur yang mangkal di Kompleks Pondok Hijau, Ciputat, itu bisa bolak-balik lima kali mengantar pesanan.
Jasa pesan-antar dilakoni Idem sejak enam tahun lalu. Semua mengalir begitu saja tanpa rencana. Awalnya hanya 1-2 pelanggan yang memesan sayur-mayur via telepon, lama-lama jadi banyak. Idem pun mafhum, zaman telah berubah. ”Sekarang orang beli cabai sebungkus saja lewat telepon, tapi saya siap mengantar.”
Verni Dian Hidayanty (28) juga memanfaatkan teknologi komunikasi untuk berjualan. Sejak tahun yang lalu dia menjajakan rendang padang bermerek ”Uni Erieza” melalui internet. Pembeli tinggal memesan melalui e-mail, Facebook, atau telepon. Pesanan akan diantar kurir. Dengan cara itu, rendang buatan Verni bisa dinikmati pembeli di Jabodetabek, Yogyakarta, Kalimantan, bahkan hingga Jepang.
Selain Verni, ada jutaan orang yang memanfaatkan internet untuk jualan, mulai dari terasi, RBT, sampai mobil Mercy. Bahkan, jasa yang terdengar tak lazim pun ditawarkan. Salah satunya adalah layanan menjemput barang tertinggal. Febri (34) pernah memanfaatkan jasa yang disediakan situs ”Asistenpribadi” itu enam tahun lalu. Ketika itu, surat cuti yang harus dia serahkan kepada pimpinannya di kantor tertinggal di rumah. Dia segera menelepon pengelola ”Asistenpribadi” dan petugas situs mengambil surat tersebut ke rumah Febri di Cinere. Febri tinggal membayar jasa layanan dan persoalan pun beres.
Jadi, apa yang tidak bisa dilakukan di era ketika ruang dan waktu bisa dimampatkan oleh teknologi? Semua orang, asal terhubung dengan dunia digital, punya akses yang sama untuk berlomba dalam percepatan penetrasi pasar global. Polanya mungkin sama dengan telemarketing atau teleshoping yang digunakan para kapitalis tulen dalam merebut pasar global.
Bertetangga secara aneh
Begitulah, di era serba digital ini, cara orang mengonsumsi, memproduksi, dan berjualan telah berubah secara radikal. Tidak hanya itu, pola relasi sosial ikut berubah. Pada zaman ini, orang kian intim bergaul lewat jejaring sosial. Mereka berbagi informasi, curhat, atau hasrat melalui Twitter atau Facebook, bahkan dengan orang yang belum tentu mereka kenal. Ajaibnya, mereka merasa sangat dekat dan akrab.
Tony, warga Cipinang, bercerita, dia berkomunikasi intens dengan seorang artis terkenal meski tidak pernah bertemu secara fisik. Ketika pertemuan fisik terjadi, Tony dan artis itu langsung akrab seperti sudah lama sekali berteman.
Tidak hanya pertemanan, solidaritas massal pun bisa digerakkan secara sporadis lewat Twitter, Facebook, dan blog pribadi. Ini antara lain dilakukan Dian Paramita (22), mahasiswa UGM. Dua bulan lalu dia mengetuk hati para pengguna media sosial untuk menyumbangkan dana bagi korban letusan Merapi. Pesan itu langsung disambut. Dalam beberapa jam, dana jutaan rupiah pun mengalir dari para dermawan yang sebagian tidak dikenalnya.
Sampai sekarang Dian terheran-heran bagaimana pesan yang dia kirim melalui media sosial ternyata bisa menggerakkan empati banyak orang. ”Awalnya saya hanya iseng kirim pesan, barangkali ada orang yang mau bantu korban Merapi. Ternyata responsnya besar sekali,” ujarnya.
Meski begitu, era digital juga memperlihatkan sejumlah paradoks. Ketika hubungan antarmanusia serba difasilitasi media, orang bisa teralienasi dari kehidupan nyata. Putri (28), warga Legoso, Ciputat, menceritakan, betapa hubungan dengan tetangga dekatnya terasa agak aneh. Dia tahu apa yang dilakukan seorang tetangganya melalui Facebook. Dia berbincang akrab melalui bilik ngobrol Facebook atau SMS. Tapi, sejak tiga bulan lalu, Putri tidak pernah bertemu dengannya secara fisik.
Masyarakat ”cyber”
Yanuar Nugroho, dosen Manchester Business School The University of Manchester yang sedang meneliti media sosial di Indonesia, melihat, masyarakat Indonesia telah bergeser ke masyarakat cyber. Jumlah mereka pun sangat besar.
Pengguna telepon seluler di Indonesia sekitar 120 juta orang, atau setengah dari jumlah penduduk. Pengguna internet 30 juta (Internet World Stats, 2010). Dari jumlah itu, 20,8 persen di antaranya nge-twitt (ComScore, 2010). Sementara itu, pengguna Facebook sekitar 32 juta (Check Facebook, 2010). Nomor dua setelah AS.
Mereka ini—bersama masyarakat cyber di negara lain—setiap hari ikut berlomba mengisi ruang-ruang virtual dengan berbagai keperluan, mulai dari jualan terasi, menghimpun solidaritas, kampanye, memupuk pencitraan, berkomunitas, hingga sekadar iseng kurang kerjaan.
Persoalannya, kata Yanuar, masyarakat cyber Indonesia masih sebatas konsumen informasi dalam kontestasi mewarnai ruang virtual itu. ”Padahal, kalau kita konsumen informasi sudah pasti kita konsumen goods (barang-barang).”
Quoted by Idham Azhari From KOMPAS
Tuesday, December 14, 2010
Agen Iklan Indonesia Sabet Penghargaan dari Google

Selasa, 14 Desember 2010 | 18:42 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Perusahaan agen iklan internet asal Indonesia meraih penghargaan dalam The Googlies 2010 Event Award yang diadakan di Singapura pada 9 Desember 2010. Penghargaan diterima oleh DGtraffic yang mengalahkan pesaing lainnya dari negara Asia Tenggara dalam menyabet gelar The Best Agency of The Year di bidang Online Education Market and SME 2010.
DGtraffic merupakan biro search engine marketing (SEM) bersertifikasi Google Advertising, yang melayani jasa pemasangan Google AdWords, Google Maps, Google Analytics, dan Search Engine Optimization. "Kemenangan DGtraffic di event ini membawa reputasi positif, khususnya image bahwa Indonesia di mata Google memiliki kemampuan yang tak kalah dengan Singapura dan negara besar di Asia Tenggara lainnya," ucap Head of Global Brands and Multi Nastional Companies Andi Silalahi, Selasa (14/12/2010) di Jakarta.
Penghargaan yang diraih DGtraffic dilatarbelakangi penilaian Google terhadap DGtraffic. Bagi mereka, DGtraffic cukup berhasil dalam mensosialisasikan program Google AdWords di kalangan korporasi dan juga usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. "Google melihat, DGTraffic memiliki potensi yang sangat besar untuk membantu pebisnis UKM yang diyakini sebagai tulang punggung perekonomian setiap negara. Melalui program Google AdWords, para pemilik bisnis berskala kecil merasa sangat terbantu dalam bisnis mereka," ucap Andi.
Ia menjelaskan, meski baru berusia muda dan menjadi perusahaan SME pertama di Indonesia, DGtraffic telah menerima animo masyarakat, terutama pebisnis UKM Indonesia yang begitu besar terhadap layanan Google AdWords. "Kami ingin membantu lebih banyak lagi pemilik UKM serta perusahaan multinasional melalui layanan Google yang disediakan, antara lain Google AdWords, Google Maps, dan Google Analytics, serta banyak lagi, dalam rangka menciptakan global brand di bisnis mereka," pungkas Andi.
By Idham Azhari
KOMPAS
Wednesday, November 24, 2010
OVI Store: Rekor Tiga Juta 'Download' Per Hari

KOMPAS.com — Gerai aplikasi Nokia atau beken disebut Ovi Store rnengklaim berhasil mencetak rekor tingkat unduhan (download) sebanvak tiga juta kali per hari. Rekor ini tak lepas dari kontribusi sekitar 400.000 pengembang aplikasi baru selama setahun terakhir.
Ada beberapa konten populer di Ovi Store. Pertama, Swype, teknologi yang memungkinkan para pengguna menulis lebih cepat dan mudah hanya dengan satu gerakan jari atau stylus di papan ketik. Kedua, NHL GameCenter Premium, yang menjadi media informasi terbaru para penggemar olahraga hoki. Dengan aplikasi ini, pengguna bisa memantau statistik dan skor pertandingan atau menonton potongan dan rangkuman pertandingan.
Ketiga, aplikasi WhatsApp Messenger. Ini adalah aplikasi pengiriman pesan yang menggunakan koneksi 3G atau Wi-Fi untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Melalui WhatsApp, pengguna bisa mengirim dan menerima pesan, gambar, catatan suara, dan pesan video tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun. (Kontan/Dessy Rosallina)
KOMPAS
Lawan Google, Modal Nekat dan Teh Botol
Rabu, 24 November 2010 | 15:45 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Meski baru beroperasi selama enam bulan, SITTI berani menantang layanan iklan Google. Perusahaan asli Indonesia tersebut memang tidak main-main meski harus dengan modal seadanya."Cuma dua kelebihan kita dari Google, nekat sama teh botol," kata Andy Sjarif, Group CEO SITTI, saat acara "Buka Pintu" kantor barunya di kawasan Senopati, Jakarta, Rabu (24/11/2010). Kenapa teh botol? Kata Andy, semua orang di SITTI sangat tergila-gila dengan teh botol dan menurutnya hanya jumlah konsumsi teh botol yang bisa mengalahkan berapa kali mereka mengakses Google setiap hari.
Bahkan, dalam acara tersebut pun, Andy berdiri dengan kerat teh botol sebagai pengganti panggung. Tamu-tamu bebas minum teh botol yang khusus untuk acara tersebut disediakan sebanyak 20 kerat. Bahkan, kata Andy, penjualan teh botol di kantor yang dikelola koperasi kecil-kecilan oleh office boy di kantor tersebut adalah pendapatan perusahaan saat ini. Tentu cerita tersebut langsung disambut tertawa tamu undangan yang hadir.
Kenapa pakai nama SITTI yang terkesan jadul? Andy Sjarif mengatakan ada dua alasan mengenai pemilihan nama tersebut. Menurutnya, SITTI bukan singkatan apa pun, melainkan diambil dari nama Sitti Nurbaya, judul novel yang revolusioner dan membuat ledakan linguistik. SITTI yang juga erat kaitannya dengan linguistik ingin meniru kesuksesan novel Sitti Nurbaya.
Selain itu, nama SITTI diakui Andy terkesan lama dan kampungan. Namun, nama tersebut sengaja dipilih untuk menantang Google. "Malu dong kalau Google lawan SITTI yang kampungan atau sebaliknya kalau Google sampai dikalahkan SITTI," ujar Andy Sjarif.
SITTI berdiri enam bulan lalu dan mengembangkan platform iklan kontekstual, seperti Google AdWord dan AdSense. Mereka berusaha menyajikan iklan dalam halaman situs web atau blog sesuai isi artikel dalam halaman tersebut. SITTI telah mengindeks 600 juta halaman web berbahasa Indonesia dan menyajikan 3.300 iklan dari 529 merek. Saat ini SITTI telah mempekerjakan 25 orang dan menggunakan 6 server.
KOMPAS
Saturday, November 6, 2010
Sukses Bisnis Digital Tak Cukup Bermodal Uang
Sabtu, 6 November 2010 | 06:37 WIB
KOMPAS.com - Perkembangan industri digital di indonesia menjadi sorotan dalam seminar "The Next Big Thing, Investment in Indonesia Digital Market", Jumat (5/11/2010) di Hotel Kempinski, Jakarta.
Beberapa pembicara hadir dalam seminar tersebut. Di antaranya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Michael Smith Jr. selaku Director of Global Initiative Yahoo dan Sarah Lacy dari Techcrunch.com. Seminar ini terselenggara berkat kerjasama Semut Api Colony Brand Maketing Communication, Daily Social dan Kompas.com.
Salah satu hal yang menarik ada komentar Michael Smith tentang perilaku masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi barang dagangan. "Indonesia adalah konsumen terbesar produk-produk yang tidak diproduksi di Indonesia," ungkap pria yang akrab disapa Smithy itu.
Dalam konteks produk digital, kebanyakan orang di Indonesia masih menjadi konsumen dari web-web luar negeri. Smithy mencontohkan, dalam menggunakan Facebook, Indonesia menjadi ketiga terbesar di dunia tapi belum mampu mebuat produk serupa yang bisa dikonsumsi orang Indonesia sendiri.
Menurut Smithy, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mengubah hal tersebut. "Indonesia berpeluang sebab memiliki populasi dan talenta serta kemampuan bahasa yang baik. Selain itu, internet adalah satu bidang yang menempatkan Indonesia di BRICi (Brazil, Rusia, India, China, Indonesia)," terangnya.
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Smithy mengungkapkan lima hal yang perlu diperhatikan. "Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan untuk menakar atau how to scale social, mobile, e-commerce, dan investasi," jelas Smithy. Ringkasnya adalah faktor-faktor yang mampu menunjang bisnis digital itu sendiri.
Sementara itu, Sarah Lacy mengungkapkan beberapa pandangannya tentang hal-hal yang mungkin bisa membangun bisnis digital di Indonesia. Ia menggarisbawahi kemauan mewujudkan sebuah ide yang sudah dimiliki. Ia mengatakan, "Ide saja itu bukanlah hal yang genius. Kegeniusan adalah kemampuan kita untuk mewujudkan ide."
Ia juga mengungkapkan, pembangunan bisnis digital menjadi sebuah bisnis besar sangat tergantung pada pelayanan, bukan iklan. Menurutnya, iklan saja tidak akan membawa pelaku bisnis digital menjadi sukses dan menghasilkan uang besar.
Akhirnya, menanggapi tentang kebutuhan dalam membangun bisnis digital, Sarah mengatakan, "Kebutuhan yang seharusnya adalah mentorship, bukan hanya uang untuk modal."
KOMPAS
Thursday, August 19, 2010
Meet The YouTube Stars Making $100,000 Plus Per Year
From July 2009 to July 2010, TubeMogul used their viewership data to estimate the annual income for independent YouTube partners, which they define as anyone who is not part of a media company or brand.
Here's how they got their estimates:
* Revenue only comes from banner ads served near content (we ignored pre-roll or overlay since we can't easily isolate by publisher).
* Since YouTube banner ads have a two-second load delay, we estimate 2.59% of viewers click away before an ad loads based on separate research.
* Ads were served near all videos that loaded (since there are partners, this is generally true).
* CPM for the banner ads was $1.50 (Google auctions a lot of this inventory off; we rounded this 2009 estimate down to be conservative).
* YouTube is splitting ad revenue with partners 50-50.
Basically, take their views from the past year, assume a few don't stick around long enough for an ad to load, divide that number by 1,000, multiply by $1.50 and divide that number in half.
Conservative estimates? Sure. But with that math, you get a pretty decent estimate of how much these YouTube celebrities are making from just the banner ads on their channel. So, without further ado, here are the highest earning YouTube stars!
1. Shane Dawson – $315,000
Shane Dawson is so popular that he is three different YouTube channels. His most popular channel consists of his comedy skits and music video parodies. Dawson created a second channel as a vlog and for a separate series called "Ask Shane," and his third channel only has videos taken from his iPhone.
July 2009 - 2010 Views: 431,787,450
2. The Annoying Orange – $288,000
The Annoying Orange is a comedy web series that takes place in a kitchen and is about talking fruit. Dane Boedigheimer is the mastermind behind the series and is also the voice of Orange.
July 2009 - 2010 Views: 349,753,047
3. Philip DeFranco – $181,000
Philip DeFranco uploads a new video onto YouTube every Monday to Thursday for his show – The Philip DeFranco Show. His video blogging topics range from politics to pop culture.
July 2009 - 2010 Views: 248,735,032
4. Ryan Higa – $151,000
Ryan Higa makes comedy skits and is a video blogger who turned into a viral star with his "How to be Gangster" and "How to be Ninja" videos. Even though he doesn't upload as many videos as his fellow YouTube celebrities, Higa is still the top dog at YouTube with over 2.6 million subscribers.
July 2009 - 2010 Views: 206,979,909
5. Fred – $146,000
Lucas Cruikshank plays "a lonely six year old named Fred" who uses his mom's video camera and posts videos on a YouTube channel. As the second most subscribed to YouTube channel, Lucas Cruikshank's immensely popular Fred character even has a movie coming out backed by Nickelodeon.
July 2009 - 2010 Views: 200,656,150
6. Shay Carl – $140,000
As a radio DJ, Shay Carl started making comedy skits and put them on YouTube for the world to see. He claims to have held 20 different jobs before settling down with his DJ and YouTube gigs.
July 2009 - 2010 Views: 192,309,247
7. Mediocre Films – $116,000
Greg Benson created Mediocre Films initially for a sketchy comedy TV series called "Skip TV." The show lasted for one season, and now Benson makes low budget comedy videos for the web.
July 2009 - 2010 Views: 159,030,703
8. Smosh – $113,000
Smosh is the comedy duo of Ian Hecox and Anthony Padilla, and with over 1.7 million subscribers, they make up the 5th most popular channel on YouTube. They first shot to viral fame with their "Pokemon Theme Music Video" which became YouTube's most viewed video in Spring 2006. However, due to copyright reasons, the original video was removed from YouTube.
July 2009 - 2010 Views: 154,936,876
9. The Young Turks – $112,000
The Young Turks is a political talk show that also airs on Sirius Satellite Radio. Founded and hosted by Cenk Uygur, The Young Turks talk show and their vast viewership has proven that the Internet can be a viable broadcast platform.
July 2009 - 2010 Views: 153,807,362
10. Natalie Tran– $101,000
Under the user name of communitychannel, Natalie Tran is the most subscribed to YouTube user in Australia. Like most others on this list, she is a video blogger and occasionally uploads comedy skits.
July 2009 - 2010 Views: 138,871,829
finance.yahoo.com
Sunday, August 15, 2010
ABG Ini Raup Rp 10 Miliar, Punya 8 Staf
Minggu, 15 Agustus 2010 | 05:52 WIBKOMPAS.com — Internet membawa berkah besar bagi Christian Owens, anak baru gede (ABG) dari Corby, Northamptonshire, Inggris, ini. Ketika bisnisnya baru berjalan setahun, dan usianya baru 15 tahun, dia sudah mampu meraup uang jutaan poundsterling.
Tapi dia masih bersumpah, "Saya tak akan berhenti sampai dapat 100 juta poundsterling (sekitar Rp 1,4 triliun)." Kini, masih dalam usia 16 tahun itu, dia bahkan sudah punya delapan staf.
Semuanya justru orang dewasa. Owens memimpin mereka dari kantornya yang kecil, sebetulnya sebuah kamar di rumah orangtuanya.
Usaha macam apa yang membuat pelajar ini jadi juragan besar di usia muda?
Pada 2008, ketika usianya baru 14 tahun, Owens memakai uang sakunya untuk bikin website Mac Box Bundle dan hingga kini sudah meraup hampir Rp 10 miliar. Situs Mac Box Bundle menjual kombinasi aplikasi populer Mac.
Setahun kemudian, Owens mendirikan Branchr, website untuk melayani jasa iklan pay-per-click, dan mengelolanya hanya sepulang sekolah serta di akhir pekan.Branchr pun ngetop dengan meraup 500.000 poundsterling (sekitar Rp 7 miliar) di tahun pertama. Kini, situs taruhan William Hill malah menjadi salah satu kliennya. Owens tentu terlalu muda untuk melayani bisnis taruhan seperti itu.
Situs besar lainnya yang diuntungkan oleh perusahaannya adalah MySpace, media jejaring sosial.
Branchr kini menjual lebih dari 250 juta iklan ke 11.000 website setiap bulan dan mengakuisisi perusahaan Atomplan yang melayani software untuk bisnis.
Untuk mengendalikan bisnis berpenghasilan besar itu, ia dibantu delapan karyawan dewasa yang tinggal di Inggris maupun Amerika Serikat, sebagai sales dan asisten teknis. Tahun depan, ia malah berencana membuka dua kantor baru untuk Branchs.
Owens kini masih tinggal bersama orangtuanya. Ayahnya bernama Julian (50) adalah pekerja sebuah pabrik. Ibunya, Alison (43), sekretaris satu perusahaan. Inspirasinya menekuni bisnis muncul setelah mengamati kesuksesan luar biasa yang dicapai bos Apple, Steve Jobs.
Owens menanamkan lagi mayoritas pendapatannya untuk kedua bisnisnya tadi, Mac Box Bundle dan Branchr. "Aku benar-benar ingin menciptakan sesuatu yang inovatif dan sederhana yang akan merevolusi cara kerja iklan," katanya.
"Mac Box Bundle sebetulnya sudah sukses, tapi saya benar-benar ingin mendorong diri sendiri dan melakukan sesuatu yang berbeda, jadi saya datang dengan ide Branchr."
Menurut bocah ini, sebetulnya tidak ada pula formula ajaib dalam bisnis, hanya perlu kerja keras, keteguhan, dan semangat untuk mengerjakan sesuatu yang hebat. "Tujuan saya adalah menjadi terkemuka dalam dunia internet dan periklanan mobile serta menekan saya sendiri untuk mencapai puncak permainan ini."
"Saya tidak tahu akan di mana dalam 10 tahun mendatang, tetapi saya tidak akan meninggalkan Branchr sampai menembus pendapatan 100 juta pounsterling."
Kesuksesannya sekarang pun tidak mengubah kehidupan pribadinya dan tetap saja hobi fotografi serta main gitar. Begitu juga relasinya dengan teman-temannya. Tak ada yang berubah.
Satu lagi hebatnya bocah ini, tentu saja berkat orangtuanya. Pada usia tujuh tahun, dia sudah dikenalkan dengan komputer dan belajar mendesain situs secara otodidak pada usia 10 tahun, ketika pertama kali mendapat komputer bikinan Mac.
KOMPAS
Friday, July 23, 2010
Bisnis di 'Online' Pun Kena Pajak!
JAKARTA, KOMPAS.com — Para pengusaha barang ataupun jasa di dunia internet akan dikenakan pajak. Pajak yang dikenakan sebesar 0,75 persen dari setiap bisnis usaha yang ditawarkan melalui internet.
"Kami tidak melihat cara memasarkannya, yang penting itu merupakan bisnis usaha. Jadi, bisnis lewat online pun dikenai pajak," ucap Kepala Peraturan Bidang Pemotongan dan Pemungutan PPh Direktorat Jenderal Pajak Dasto Ladyanto di Jakarta, Jumat (23/7/2010).
Menurutnya, tempat usaha itu adalah sesuatu yang sifatnya menetap. Meskipun melalui online, tempat yang dijadikan sebagai penyalur dan pendistribusian barang usaha tersebut pasti ada.
"Biasanya kalau online kan lewat jejaring sosial, seperti Facebook. Tapi kan itu hanya cara pemasarannya. Tempat usahanya sendiri kan ada," tuturnya.
Ditanya mengenai bagaimana cara mengetahui bisnis yang ada di online karena bisnis di dunia maya sangat susah untuk diketahui, ia mengatakan bahwa hal itu tergantung kesadaran dan kejujuran dari pihak pebisnis online untuk melaporkan usaha mereka. "Tergantung mereka," ucapnya.
KOMPAS
Sunday, June 13, 2010
Expatriat Pun Berniaga Maya dari Bali
Minggu, 13 Juni 2010 | 09:40 WIB
BALI, KOMPAS.com — Selain Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan niaga, posisi Bali sebagai pusat pariwisata sekaligus pintu ekspor aneka produk ke mancanegara rupanya mendapat tempat tersendiri dalam bisnis di dunia maya.
Sejumlah pemodal melihat Pulau Dewata sangat strategis untuk membuka tokonya. Di Denpasar, Bali, ada toko online yang menduduki peringkat ke-56 untuk kategori Indonesia versi Alexa.com.
Situs itu memajang beraneka ragam barang. Kantor utamanya di Denpasar, Bali. Pengelolanya justru expatriat dari Belanda, Arnold Sebastian Egg dan Rymco Lupker.
Keduanya mengaku, selain karena dikenal di seluruh dunia sehingga lebih mudah untuk menawarkan barang-barang, Bali dipilih juga karena dirasa lebih nyaman untuk berkantor.
Ini sekaligus menggambarkan keberadaan toko online semata-mata tidak terbatas tempat asal infrastrukturnya mendukung.
Dibangun sejak 2005, menurut Arnold, situsnya perlahan tapi pasti telah memosisikan diri sebagai situs pemasangan iklan terbesar dengan lebih dari 1 juta pengunjung per hari.
Berdasarkan Alexa.com, pada April 2010 situs ini berada di peringkat ke-45, tertinggi dibanding situs toko online lain di Indonesia. Melalui situs ini, perusahaan dan atau perorangan dapat menjual dan membeli produk dan atau jasa secara mudah, cepat, dan aman.
Menjadi member di toko gratis tanpa ada biaya sedikit pun. Bagi pembeli, misalnya, penamaan kategori yang populer didukung dengan fitur kotak pencarian iklan yang memberikan hasil yang relevan terhadap apa yang dicari.
"Sedangkan bagi penjual, selain promosi di situs-situs ternama, toko online mini dimungkinkan di sini dan dilengkapi dengan URL subdomain pribadi," kata Arnold di Denpasar, awal Juni ini.
Rymco menimpali, Indonesia telah membangun potensi transaksi online yang luar biasa. Ini antara lain didukung dengan terus meningkatnya pengguna internet yang kini diperkirakan jumlahnya mencapai 30 juta orang.
"Meskipun ini baru awal dari pertumbuhan industri jual beli online di Indonesia, potensi Indonesia sangat besar," terangnya.
Rymco dan Arnold sepakat, kaum perempuan memegang peranan penting dalam bidang e-commerce dan penggunaan internet. Hal itu antara lain dipengaruhi dengan keaktifan kaum perempuan dalam aneka jejaring sosial online, seperti Facebook dan Twitter.
Dia mengungkapkan, dari data yang ada, pertumbuhan jual beli secara umum mencapai sekitar 15 persen per bulan pada tahun 2009.
Sementara transaksi jual beli produk perempuan pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan transaksi jual beli online secara umum, yakni mencapai sekitar 85 persen sejak saat itu hingga lima bulan pertama tahun ini per bulan.
"Lebih dari itu, kami senang situs kami dan situs lain yang sejenis telah memberi pengaruh signifikan bagi pengusaha kecil hingga menengah untuk memiliki akses yang sama ke pasaran luas seperti yang dimiliki pengusaha besar,'' tambah Rymco.
Ada lagi toko online berbasis di Bali yang belum masuk peringkat 100 utama di Alexa.com, yang juga dikelola oleh ekspatriat. Rencananya, situs itu mulai tahun ini akan beroperasi sepenuhnya.
Pendiri sekaligus CEO-nya adalah Christopher Benz, alumnus Vilanova University Philadelphia, AS. Dia terpilih dalam nominasi Ernst and Young sebagai Social Entrepreneur of the Year Award tahun 2008. Setahun kemudian, dia dinobatkan majalah Business Week sebagai salah satu Pengusaha Sosial Amerika paling menjanjikan.
Sebelum mengelola itu, dia sudah merintis dua situs yang fokus pada penghubung produsen berbagai macam produk, terutama kerajinan hingga fashion, di beberapa daerah di Indonesia dengan pasar ekspor.
Sementara situs lainnya melayani pembelian grosir dan perusahaan di seluruh dunia dengan pengadaan produk berkualitas dengan jumlah lebih dari 13.000 produk di katalognya.
Dua hal itu pula yang kemudian menarik Benz untuk tinggal di Bali dari dua tempatnya berdomisili sebelumnya, New York dan London.
Benz tertarik membuka toko online di Indonesia setelah beberapa tahun lalu pernah kesulitan mengirim hadiah ke salah satu temannya di negeri ini melalui toko online.
Melihat ini sebagai kesempatan, ia lalu melakukan survei ke 4 juta-5 juta warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Poinnya sama dengan pengalamannya, yakni apa yang dilakukan ketika akan mengirim sesuatu kepada sanak saudara maupun teman mereka di Indonesia.
Rupanya sebagian besar masih melalui jalan offline, yakni sekadar mengirim barang melalui pos atau transfer sejumlah uang. "Ini menarik karena berarti kesempatan untuk membuka toko online di Indonesia masih besar," kata Benz, beberapa waktu lalu di Sanur, Bali.
Legalitas menjadi hal yang dinilai paling penting oleh Benz. Situsnya kini dilengkapi dengan berbagai sistem teknologi canggih untuk menjamin keamanan belanja online.
Ini setidaknya menghapus reputasi Indonesia yang termasuk dalam jajaran atas rawan pencurian. Katakanlah di beberapa mesin pemroses kartu kredit secara online, seperti Authorize.net, jika mesin mendeteksi orang yang belanja dari Indonesia, otomatis mesin meminta otorisasi.
Kita diharuskan mengirim scan kartu kredit bolak-balik dan menandatangani pernyataan bahwa kartu kredit itu benar milik kita.
Kehadiran situs itu sedikit banyak memberi nama baik bagi Indonesia. Tingkat penipuan juga menurun seiring makin berkualitasnya cara pandang orang Indonesia terhadap internet.
"Bukan hanya menawarkan lebih dari 40.000 produk, mulai dari buku hingga peralatan elektronik, dari produk fashion hingga kerajinan," kata Benz.
Ia ingin memberikan kenyamanan sekaligus keamanan berbelanja online dengan daerah tujuan ke seluruh wilayah Indonesia. Untuk keamanan proses pembayaran, penggunaan kartu kredit dapat melalui telepon dan atau situs web sebagaimana mestinya.
KOMPAS