Friday, February 1, 2013
Harga Emas Akan Naik ke 1.800 Dollar AS
WASHINGTON, KOMPAS.com — JPMorgan Chase & Co memprediksi, harga emas akan menanjak ke posisi 1.800 dollar AS per troy ounce pada pertengahan tahun ini. Analis JPMorgan menilai, hal itu didorong oleh industri pertambangan di Afrika Selatan yang tengah mengalami krisis.
Allan Cooke, analis JPMorgan, menjelaskan bahwa Afrika Selatan yang merupakan salah satu produsen emas terbesar dunia saat ini tengah menghadapi guncangan industri akibat tingkat inflasi yang tinggi dan perubahan kebijakan untuk pengolahan tambang lokal.
Selain faktor dari Afrika, kenaikan harga emas juga didorong oleh prospek stimulus dari AS, Jepang, dan Eropa serta ketidakstabilan di Timur Tengah. "Demikian pula halnya dengan tingkat suku bunga yang rendah," demikian pendapat JPMorgan.
Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com
Sunday, August 26, 2012
Ini Dia Makanan Termahal di Dunia
Ni Luh Made Pertiwi F | Minggu, 26 Agustus 2012 | 11:56 WIB
KOMPAS.com - Emas identik dengan perhiasan. Lalu bagaimana dengan cupcake emas? Di Dubai, Uni Emirat Arab, kafe Bloomsburys menjual Golden Phoenixe Cupcake yang terbuat dari lembaran emas 23 karat yang bisa dimakan.
Berani coba? Maka siapkan uang sebesar 3.676 dirham atau sekitar Rp 9,4 juta. Seperti dalam daftar "Makanan Termahal di Dunia" yang dikeluarkan BBC Travel, cupcake emas tersebut disebut-sebut sebagai cupcake termahal di dunia. Selain lembaran emas, cupcake itu juga berisi buah stoberi organik dan bubuk emas yang bisa dimakan.
Masih di Dubai, minuman yang terkanal di hotel Burj Al Arab masuk dalam daftar "Makanan Termahal di Dunia". Nama cocktail itu adalah "27.321". Berapa harganya? Bersiaplah untuk terbelalak. Sesuai namanya, harga minuman itu adalah 27.321 dirham atau sekitar Rp 70,5 juta.
Nama itu juga tak sekedar menunjukan harganya, namun dinamai berdasarkan lantai hotel tempat minuman itu disuguhkan yaitu lantai 27 dan tinggi hotel tersebut yaitu 321 meter. Minuman ini adalah hasil campuran Macallan Single Malt Scotch, whisky Skotlandia berumur 55 tahun serta disuguhkan di gelas emas 18 karat.
Masih dalam daftar yang sama, Serendipity 3 yang berlokasi di New York, Amerika Serikat, memiliki hidangan manis yang bertajuk Frrrozen Haute Chocolate.
Harganya antara 18.713 dolar AS atau sekitar Rp 177,5 juta. Makanan ini mengandung 28 jenis cokelat dan juga disuguhkan di gelang penuh emas 18 karat dan berlian. Restoran ini juga memiliki es krim sundae termahal di dunia yang bahkan masuk dalam rekor dunia.
Di restoran tersebut juga menyajikan menu hidangan utama yang mahal. Menu Le Burger Extravagant terbuat dari daging sapi wagyu Jepang dengan mentega dari jamur truffle putih yang memang terkenal mahal.
Tambahan lagi isian jamur truffle hitam dan kaviar. Lalu di atasnya, burger ditusuk oleh tusuk gigi yang ujungnya terbuat dari berlian. Bisa jadi ini burger termahal di dunia dengan harga 293 dolar AS atau Rp 2,7 juta.
Nah, berikutnya adalah nigiri sushi yang dibungkus dengan daun emas 24 karat serta berlian 0,20 karat dari Afrika. Sushi ini diberi nama Sushi Del Oriente dan dibuat oleh koki selebriti Angelito Araneta Jr dari perusahaan gastronomi bernama Karat Chef.
Menu ini spesial dibuat untuk seorang pebisnis asal Jepang yang tinggal di Manila, Filipina. Harganya "hanya" 85.727,59 peso Filipina atau sekitar Rp 19, 2 juta.
Di London, ada menu yang tak kalah mahalnya. Sup yang bernama Buddha Jumps Over the Wall dibandrol dengan harga 108 poundsterling atau sekitar Rp.
Menu sup ini dijual di restoran yang menyajikan kuliner-kuliner China bernama Kai Mayfair. Isi sup terdiri dari sirip hiu, abalon, bunga jamur dari Jepang, teripang, ayam, ham Hunan, simping kering, daging babi, dan jahe.
Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com
Friday, May 18, 2012
Ini 40 Negara Pemilik Emas Terbesar Dunia
NEW YORK, KOMPAS.com - Emas masih menjadi salah satu aset terbaik sebagai cadangan devisa suatu negara. Perannya sangat besar karena memiliki tren harga naik secara jangka panjang.
Memang, tahun ini performa emas sulit ditebak. Dari yang tiba-tiba melesat ke atas, tiba-tiba dibanting ke bawah. Tapi hal itu tak mempengaruhi negara untuk mengubah portfolio cadangan dalam bentuk emas.
Per Mei 2012, World Gold Council mencatat, dari awal tahun ini sebagian besar negara di dunia mempertahankan posisi kepemilikan emas. Dipegang oleh bank sentral, meski volumenya stagnan, porsi logam mulia terhadap total cadangan devisa di sejumlah negara ada yang berkurang.
Contohnya, (dari periode tersebut) komposisi cadangan emas terhadap total devisa AS turun dari 76,9 persen menjadi 75,9 persen. Kemudian Jerman dan dari 74 persen ke 72,8 persen. Dugaan terkuat mengapa porsi tersebut berkurang adalah karena negara memperbesar cadangan devisa dalam bentuk valuta asing (valas). Sedangkan China dengan cadangan devisa terbesar di dunia yakni 3,18 triliun persen pada akhir 2011, porsi emas pada data Mei 2012 ini hanya 1,7 persen dari total cadangan devisanya.
Berdasarkan data per Mei 2012 ini, AS masih menjadi negara/lembaga yang mempunyai emas terbesar di dunia sebagai cadangan devisa yani mencapai 8.133,5 ton emas. Posisi kedua adalah Jerman dengan 3.396,3 ton, serta IMF di posisi ketiga dengan 2.814 ton.
Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai salah satu negara yang mempunyai deposit emas terbesar di dunia, Indonesia hanya berada di urutan 39. Bank Indonesia memiliki 73,1 ton emas atau 3,5 persen dari cadangan devisa sampai akhir April 2012 mencapai 116,4 miliar dollar AS. (Dyah Megasari/Kontan)
Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com
Friday, August 26, 2011
Jangan Bergantung pada Emas
Erlangga Djumena | Jumat, 26 Agustus 2011 | 09:06 WIB
KOMPAS.com - Kebutuhan emas pada masa datang bakal terus meningkat. Bukan hanya karena emas menjadi simbol kebudayaan peradaban manusia, tetapi juga simbol gengsi ekonomi.
Banyak analis emas mengatakan, harga emas akan terus meningkat selama permintaan jauh lebih besar dari pasokan. Saat ini, cadangan emas Indonesia tercatat 3.000 ton dan yang sudah dieksploitasi per 2009 baru 65 ton.
Di tengah ketidakpastian ekonomi AS dan Eropa, harga emas di pasar global naik ke 1.822 dollar AS per troy ounce pada Selasa (23/8/2011) dari 740 dollar AS pada Oktober 2007. Bank of America pernah meramal, harga emas dapat mencapai 2.000 dollar AS, sementara JP Morgan mengalkulasi akhir tahun ini menjadi 2.500 dollar AS.
Kenaikan harga emas di Indonesia berkisar antara 20-40 persen per tahun. Tahun 1990, misalnya, harga emas Rp 20.000/gram. Sembilan tahun kemudian, melejit ke Rp 360.000, tahun lalu jadi Rp 430.000, dan Rabu (24/8/2011) menyentuh Rp 540.000/gram.
Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah tak bisa memperkirakan berapa lama harga emas bakal terus di atas Rp 500.000/gram. ”Selama terjadi ketidakpastian ekonomi dan keuangan global, harga emas akan terus melambung,” kata Difi.
Namun, ekonom Danareksa, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan, harga emas perlu disikapi waspada karena semua komoditas tidak imun gejolak yang akhirnya menurunkan permintaan.
Harga emas ditopang persepsi perekonomian AS dan Eropa akan terpuruk. Jika krisis di dua wilayah itu benar terjadi, permintaan emas dunia akan anjlok. Bila produksi emas tetap tinggi, harga jual emas akan turun. Besarnya penurunan harga bergantung dalamnya krisis. Jika krisis sangat parah, dapat diartikan turunnya daya beli masyarakat sehingga permintaan emas turun.
”Tidak mungkin harga emas sampai 2.500 dollar AS. Indeks utama ekonomi di Eropa turun empat bulan terakhir. Artinya, dalam 2-3 bulan bisa saja krisis mulai terjadi di Eropa. Harga emas juga bisa turun karena pemilik usaha akan melepas emasnya untuk membiayai dampak krisis,” tambah Purbaya kepada Kompas, akhir pekan lalu.
Komoditas biasa
Emas perlu dilihat sebagai komoditas biasa, analog dengan harga minyak dunia yang melonjak hingga 147 dollar AS/barrel tahun 2008. Segera setelah itu, harga turun hingga 40 dollar AS. Daya beli turun, sementara pasokan melambung.
Wakil Presiden Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk Herman Djazi sependapat, potensi penurunan harga emas tetap terbuka. Harga emas masih mungkin terkoreksi ke 1.750 dollar AS.
”Harga emas Jumat (19/8/2011), menembus rekor tertinggi sepanjang masa, di atas 1.840 dollar AS. Semua kondisi mendukung peningkatan permintaan emas sehingga perlu ada penjualan masif dan membuat harga terkoreksi,” ujar Herman.
Pejabat Eksekutif Tertinggi (CEO) Vibiz Consulting Alfred Pakasi menyatakan, harga emas akan terus meningkat selama permintaan jauh lebih besar dari pasokan. Permintaan emas, menurut dia, bukan hanya dari konsumen eceran, melainkan juga bank sentral yang akan mendiversifikasi cadangan devisa ke emas. ”Kalau yang belanja Bank Sentral China, pasti skalanya cukup besar,” kata Pakasi.
Menurut dia, sejauh ini, tidak ada data resmi pembelian emas oleh bank-bank sentral. ”Tetapi, wajar jika bank sentral mendiversifikasi cadangan devisanya ke emas saat dollar AS cenderung melemah di tengah longgarnya kebijakan Bank Sentral AS yang mungkin kembali menggelontor pasar dengan uang tunai melalui cetak uang,” kata Pakasi.
Jaminan emas
Emas dalam sejarah menjadi alat tukar dalam aktivitas ekonomi sejak dulu. Pada zaman pemerintahan Julius Caesar di Kekaisaran Romawi, nilai tukar mata uang diukur dengan kadar karat koin emas.
Perkembangan perdagangan yang semakin kompleks menuntut alat tukar lebih fleksibel tanpa mengurangi nilai tukar. Muncullah uang kertas menggantikan koin emas.
Untuk mencetak uang kertas tiap negara tak bisa sembarangan. Perjanjian Bretton Woods tahun 1944 oleh 44 negara mengatur pencetakan uang kertas harus dijamin emas setara nilai mata uang kertas yang dicetak. Itulah yang disebut cadangan devisa emas dan standar emas.
Uang kertas yang akan dicetak harus dijamin harga emas senilai 35 dollar AS/troy ounce. Artinya, satu dollar AS yang akan dicetak harus senilai 1/35 troy ounce emas. Namun, sistem moneter dunia itu tak langgeng. Pemerintah AS kesulitan keuangan akibat kekalahan Perang Vietnam 1971 sehingga tak dapat membayarkan emas sebanyak uang dollar yang dicetak. Maka. kesepakatan dicabut. Saat itulah cadangan devisa sebuah bank sentral tak lagi hanya ditopang dengan cadangan emas, tetapi juga valuta asing dan yang terbanyak berbentuk dollar AS.
Meskipun emas tengah berjaya, Bank Indonesia ogah menambah cadangan emas. ”Emas semakin mahal. Padahal, kami memiliki cadangan emas cukup besar. Jadi, kami tidak beli emas,” ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution kepada pers Jumat (19/8/2011).
Catatan Kompas, Maret lalu, cadangan emas BI naik 1,51 persen menjadi setara 3,34 miliar dollar AS. Kini, cadangan devisa BI 123 miliar dollar AS, terdiri dari valuta asing dan emas.
Difi Ahmad Johansyah menjelaskan, BI tidak menempuh cara yang dilakukan sejumlah bank sentral. ”Berbeda dengan China dan Rusia yang agresif membeli emas untuk cadangan devisa, BI tidak. Alasan China, meningkatkan neraca pembayaran dengan AS. Rusia tentu punya pertimbangan lain,” kata Difi.
Menurut Difi, sistem moneter ala Bretton Woods tidak akan digunakan lagi karena tak mungkin lagi emas menjadi jaminan menerbitkan uang kertas. (HAR/OIN/NMP)
Sumber : Kompas Cetak
Quoted by Muhammad Idham Azhari from KOMPAS
Sunday, January 2, 2011
Prediksi 2011: Kilau Emas Bakal Tetap Bersinar
Minggu, 2 Januari 2011 | 15:48 WIBJAKARTA, KOMPAS.com - Penghujung tahun 2010 diwarnai beberapa rekor tertinggi harga komoditas seperti emas, perak, minyak sawit mentah, batubara, dan tembaga. Analis Indosukses Futures Herry Setiawan mengatakan, tahun ini, komoditas yang paling cemerlang adalah logam mulia, emas dan perak. Sementara, komoditas lain yang mengikuti adalah komoditas pangan, lalu sektor energi.
Dia bilang, permintaan dari China dan India adalah salah satu faktor yang memicu terjadinya kenaikan harga logam mulia. GFMS LTD mencatat, India sebagai negara dengan permintaan emas konsumen tertinggi pada kuartal 3-2010. Permintaan emas konsumen di negara tersebut mencapai 229,5 ton, naik 33,89 persen dibandingkan permintaan pada kuartal 2-2010 yang sebesar 171,4 ton.
Pada periode yang sama China ada diperingkat kedua permintaan terbesar dengan permintaan emas konsumen sebesar 146, 4 ton dan disusul diperingkat ketiga permintaan emas dari Timur Tengah sebesar 77,6 ton.
GFMS juga mencatat kenaikan permintaan emas untuk investasi. Pada kuartal 3-2010 permintaan China menempati urutan pertama dengan jumlah 45,1 ton, jumlah ini naik 24,24 persen dibanding permintaan kuartal 2-2010 yang sebesar 36,3 ton. Pada periode yang sama, India berada diurutan kedua dengan jumlah permintaan sebesar 45,0 ton, dan Amerika menempati urutan ketiga dengan permintaan sebesar 24,8 ton.
Herry memperkirakan, pada kuaral 1 dan kuartal 2 2011, emas memiliki tren konsumsi yang sama seperti tahun 2010. Sebab, dollar AS masih dalam tren lemah dan Eropa masih belum memiliki solusi. Hingga kuartal 2 2011, emas masih memiliki kesempatan naik. “Trennya harga emas naik lalu turun lagi di tengah tahun, karena harga sudah cenderung tinggi,” katanya.
Dia memperkirakan emas naik hingga menyentuh ke posisi 1.500 dollar AS per troy ounce. Sedang batu bara juga masih bisa naik ke posisi 135-140 dollar AS per metrik ton. Namun menurutnya kenaikan CPO sudah tidak banyak, sekitar 1.200-1.250 dollar AS per metrik ton. Menurutnya kenaiakan harga komodti pada tahun 2011 akan ditahan oleh kenaikan tingkat suku bunga yang diperkirakan akan dilakukan oleh negara-negara untuk mengatasi inflasi akibat kosumsinya meningkat.(Raka Mahesa W/Kontan)
Thursday, December 3, 2009
Harga Emas Naik 55 Persen
Kamis, 3 Desember 2009 | 06:27 WIB LONDON, KOMPAS.com Pembelian emas oleh sejumlah bank sentral turut menjadi penyebab kenaikan harga emas. Bank Sentral India dikabarkan telah membeli emas sebagai salah satu alat penyimpanan cadangan devisa. Hal serupa juga dilakukan sejumlah bank sentral di Eropa dengan melepas sebagian cadangan devisa denominasi dollar AS, yang kursnya terus merosot dari waktu ke waktu. Pada hari Rabu (2/12) di London, kurs 1 euro setara dengan 1,51 dollar AS. Lesunya perekonomian AS mengikis daya tahan dollar AS. Kurs sebuah mata uang berkorelasi dengan kekuatan ekonomi negara. Pelemahan kurs dollar AS sendiri termasuk sebagai penyebab kenaikan harga emas. Pelemahan dollar AS, dalam beberapa tahun terakhir ini, selalu berdampak pada kenaikan harga komoditas, seperti minyak dan biji-bijian, sebagaimana terjadi dalam tiga tahun terakhir ini. Kali ini sasaran dari pelemahan dollar AS adalah emas, yang dianggap masih bisa didongkrak naik demi keuntungan. Namun, kenaikan emas sudah dianggap mendekati batas tertinggi. ”Setelah melampaui angka 1.200 dollar AS per ounce, gerakan harga emas memasuki sebuah zona yang tidak jelas. Mungkin harga masih akan bisa naik, tetapi akan segera turun,” kata Andrey Kryuchenkov dari VTB Capital, London. Namun, Ben Potter, analis dari IG Markets di Melbourne, Australia, Rabu, mengatakan, pasar kini sedang melakukan konsolidasi. Hal ini terjadi karena tidak menentunya pasar saham, kurs dollar AS, dan gamangnya pemulihan perekonomian global. Dalam kondisi seperti itu, emas pada umumnya dianggap sebagai tempat pelarian yang aman. Krisis utang Dubai World, milik Uni Emirat Arab (pemilik Etihad Airways, bukan Al Ittihad Airways), juga turut menambah kegamangan pasar walau sudah mulai mereda. Kenaikan atau penurunan harga emas didorong oleh kenaikan atau penurunan permintaan konsumen untuk perhiasan. Faktor pendorong harga emas yang lain adalah minat investor, termasuk para spekulan, untuk meraih untung. Namun, dalam kondisi ekonomi melesu, bisnis perhiasan sedang anjlok drastis. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa kenaikan harga emas lebih banyak terkait dengan serbuan investor di pasar komoditas. Tindakan Barrick Gold, penghasil emas terbesar di dunia asal Kanada, juga turut menaikkan harga. Barrick mengurangi penjualan dengan harapan harga masih akan naik lagi sehingga untung lebih besar masih bisa didapat lagi dari kenaikan harga itu.
Editor: jimbon
Sumber : Kompas Cetak
Wednesday, December 2, 2009
Pertama dalam Sejarah! Emas Tembus 1.200 Dollar AS
Rabu, 2 Desember 2009 | 08:13 WIB LONDON, KOMPAS.com — Harga emas mencapai rekor di atas 1.200 dollar AS per ounce untuk pertama kalinya pada Selasa (1/12) waktu setempat karena melemahnya mata uang AS mendorong permintaan untuk logam mulia yang dipandang sebagai investasi safe haven.
Emas mencapai sebuah rekor tertinggi 1.201,63 dollar per ounce di Pasar Emas London (London Bullion Market) pada 1639 GMT (23.39 WIB). Sebelum turun sedikit pada 1.199,65 dollar AS.
Sementara di New York Mercantile Exchange, harga emas pengiriman terkini ditutup pada 1.199,10 dollar AS per troy ounce, naik dibanding Senin di posisi 1.181,10 dollar AS.
Emas telah mencapai puncak tertinggi dalam sejarah selama beberapa hari dan minggu karena dollar AS merosot terhadap saingan utama euro dan yen. "Seperti biasa, minggu menyakitkan lain untuk mata uang AS melihat tertinggi baru untuk emas," kata analis komoditas VTB Capital, Andrey Kryuchenkov, Selasa.
Dalam beberapa pekan terakhir, emas telah memecahkan rekor didukung ketakutan inflasi dan meningkatnya langkah oleh bank sentral untuk mendiversifikasi aset dari greenback.
Logam mulia, dua penggerak pembeli utama perhiasan dan investasi, juga mendapatkan energi di iklim ekonomi yang tidak menentu dan ketakutan dari memuncaknya krisis utang Dubai. "Emas terus diuntungkan dari sebuah ’badai sempurna’ mata uang yang lemah, suku bunga minimal, kekhawatiran tentang inflasi, dan ketakutan tentang masa depan stabilitas keuangan," kata analis Capital Spreads Simon Denham.
"Tidak ada kekhawatiran ini tampak seperti akan pergi dalam waktu dekat dan sehingga berbaris berlangsung lebih tinggi."
Mata uang AS yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang saingan, merangsang permintaan terhadap logam, dan akhirnya mengangkat harga. Harga emas juga telah didorong lebih tinggi setelah pembelian emas IMF minggu lalu oleh bank sentral Sri Lanka.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengumumkan telah menjual 10 ton emas kepada bank sentral Sri Lanka seharga 375 juta dollar AS sebagai bagian dari restrukturisasi sumber daya keuangan.
Rekor kenaikan juga datang setelah surat kabar minggu lalu melaporkan bahwa India mempertimbangkan pembelian lebih cadangan emas IMF. "Sentimen keseluruhan pada emas masih tetap bullish, juga didorong oleh rumor pekan lalu bahwa India sudah siap untuk membeli lebih banyak emas IMF, menurut sebuah artikel di Financial Chronicle India," kata analis Kryuchenkov.
Sumber : ANT,AP
KOMPAS
