Sabtu, 26 Oktober 2013 | 15:51 WIB
Apakah masih bisa untuk mengikuti asuransi pendidikan di usia anak 12 tahun? Dan asuransi yg bisa saya pakai...? Trimakasih
(Ahmad Miladi, 39 tahun)
Jawab:
Dear Pak Ahmad Miladi,
Untuk usia anak usia12 tahun,artinya saat ini Pak Ahmad memiliki
kewajiban untuk menyiapkan dana pendidikan anak untuk tingkat SMA dan
S1.
Sebelum menyiapkan dana pendidikan, ada baiknya untuk terlebih
dahulu menghitung kebutuhan dana pendidikan pada level SMA dan S1/D3 dan
jangka waktu yang disesuaikan dengan usia anak.
Ada beberapa alternatif yang dapat dijalani untuk menyiapkan dana pendidikan, antara lain:
- Program asuransi
Program asuransi yang diambil bukanlah
asuransi pendidikan. Mengapa? Karena dana yang dihasilkan tidak akan
mengejar kebutuhan uang masuk sekolah tingkat SMA dan S1/D3. Kita harus
ingat adanya inflasi yang akan memengaruhi nilai uang kita. Salah satu
alternative program yang bisa mengimbangi inflasi adalah program unit
link dengan menekankan tujuannya untuk persiapan dana pendidkan
- Investasi di reksa dana
Dengan berinvestasi di reksa dana
yang dapat dibeli melalui bank atau ke langsung ke manager investasi.
Namun, bila Pak Ahmad belum memiliki proteksi/asuransi jiwa, sebaiknya
Pak Ahmad juga melindungi nilai ekonomi Pak Ahmad sebagai pencari nafkah
dan juga sebagai pihak yang akan melakukan investasi untuk persiapan
dana pendidikan. Pilihlah program asuransi yang preminya rendah namun
dengan Uang Pertanggungan yang maksimal sehingga memberi rasa nyaman
untuk kestabilan keuangan keluarga dan rencana investasi dana
pendidikan.
Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com
Showing posts with label dana pendidikan anak. Show all posts
Showing posts with label dana pendidikan anak. Show all posts
Saturday, October 26, 2013
Tuesday, May 29, 2012
Siapkan Dana Pendidikan Jauh Hari
Dini | Selasa, 29 Mei 2012 | 06:54 WIB
KOMPAS.com - Pada situasi sekarang ini banyak keluarga dipusingkan oleh dana pendidikan. Biaya yang sudah pasti dikeluarkan adalah biaya pelatihan masuk perguruan tinggi berkisar Rp 3 juta sampai Rp 40 juta. Biaya tes minimum Rp 1 juta untuk beberapa perguruan tinggi.
Ketika sudah lulus, orangtua harus mempersiapkan dana untuk pembangunan, dana biaya kuliah per semester, dan biaya buku, serta biaya sewa rumah untuk mereka yang tidak tinggal di rumahnya lagi karena kejauhan. Dana pembangunan minimal Rp 10 juta sampai dengan Rp 100 juta, tetapi ada juga perguruan tinggi yang meniadakan biaya ini. Mereka justru membuat biaya kuliah cukup besar. Akibatnya, banyak perguruan tinggi membuat kebijakan dengan pembayaran cicilan agar anak bisa masuk perguruan tinggi tersebut.
Persiapan
Lantaran kebutuhan dana yang sangat besar, orangtua harus mempersiapkannya jauh hari. Bagi orangtua yang mempunyai pendapatan memadai, tidak menjadi persoalan karena bisa pinjam ke kantor atau ke bank dengan memberikan jaminan. Bagi yang sedikit kurang, mereka harus mempersiapkannya dengan saksama.
Pertama-tama yang harus dilakukan dalam mempersiapkan dana pendidikan tersebut adalah merencanakan anak akan disekolahkan ke mana. Orangtua harus realistis dalam kasus ini, tidak bisa memaksakan keinginannya. Bila anak hanya bisa diharapkan ke swasta yang normal, orangtua hanya mempersiapkan anak tersebut agar bisa berkuliah di perguruan tinggi yang sesuai dengan kemampuannya.
Sering kali orangtua melakukan tindakan tidak realistis dengan melihat tetangga yang selalu masuk perguruan tinggi termahal. Tetapi, motivasi anak juga perlu dilihat agar bisa dimasukkan ke perguruan tinggi harapan orangtua. Dengan adanya kepastian anak akan masuk ke perguruan tinggi yang dimaksud, orangtua dapat melakukan perhitungan dana yang akan dikeluarkan.
Tahapan kedua, yang perlu dipastikan adalah waktu pembayaran atau dalam dunia perencanaan keuangan disebutkan waktu kebutuhan dana tersebut. Apakah dana tersebut dibutuhkan dalam waktu yang singkat,atau waktu yang lebih panjang. Bila dana dibutuhkan pada waktu yang secepatnya, orangtua bisa mengetahui bagaimana mendapatkannya. Selayaknya, waktu yang dibutuhkan cukup panjang sehingga orangtua bisa bernapas untuk mendapatkan dana tersebut. Bila waktu yang dibutuhkan sangat singkat, agak sulit mendapatkan dana tersebut secara cepat.
Kepastian dana yang akan dikeluarkan dan waktu pembayaran yang telah jelas diketahui, maka orangtua mulai masuk pada tahap ketiga, yaitu mendapatkan sumber pendanaan. Sumber dana yang dibutuhkan dimulai dengan berpikir sejenak dan berdiskusi dengan keluarga (ayah dan ibu). Urutan pertama yang harus dipertimbangkan adalah tabungan yang dimiliki saat ini. Apakah tabungan yang dimiliki saat ini bisa membiayai pendidikan yang direncanakan bersama anak dan keluarga.
Prioritas pengeluaran perlu dipahami karena dana tabungan yang tersedia juga diperuntukkan saat pensiun. Sebaiknya sementara dapat dipergunakan untuk pembayaran biaya pendidikan anak. Bila tabungan tidak tersedia, orangtua harus mencari dana tersebut. Alternatif yang bisa dipergunakan adalah aset dalam rumah yang selama ini tidak pernah dipergunakan, bahkan membuat sempit ruangan di rumah, sebaiknya dijual kepada pihak lain.
Urutan selanjutnya, orangtua bisa mendapatkan dari arisan keluarga. Orangtua bisa meminta pada arisan agar lebih dulu mendapatkannya, atau meminta adanya potongan bila diberikan untuk mendapatkannya. Jika dana dari arisan tidak bisa didapat, keluarga bisa melakukan pinjaman kepada pihak lain (bank, leasing, atau perseorangan).
Sebaiknya, lakukan pinjaman kepada pihak yang tidak memiliki hubungan keluarga agar silaturahim berjalan dengan baik. Keluarga juga bisa menggunakan cara lain yang dianggap lebih baik dari uraian sebelumnya.
Tindakan mereka yang sudah matang dalam keuangan adalah dengan mengikuti asuransi pendidikan. Keluarga mempersiapkannya dengan asuransi, dan bila tiba saatnya pembayaran, keluarga bisa mendapatkan dana untuk keperluan tersebut. Bila keluarga menggunakan asuransi ini, keluarga harus memperhitungkan waktu pencairan dan pembayaran premi tahunannya agar bisa terencana lebih baik untuk kepentingan anak.
Pemilihan asuransi yang tepat sangat dibutuhkan keluarga dalam rangka mempersiapkan dana pendidikan anak tersebut. Untuk asuransi ini, keluarga bisa berkonsultasi dengan perusahaan asuransi yang bisa membantu keluarga.
Sisi lain yang bisa dilakukan keluarga adalah dengan mempersiapkan dari anak sejak awal. Minimum perencanaan tersebut sudah dilakukan paling sedikit lima tahun lalu agar dana yang dibutuhkan dapat disediakan secara saksama. Cara pertama yang paling sederhana adalah menentukan besaran tabungan dari jumlah yang harus dipersiapkan. Bila kebutuhan dana pendidikan sebesar Rp 120 juta, keluarga dapat menyimpan dana sebesar Rp 2 juta setiap bulannya.
Bila keluarga menyimpan di bank dana tersebut setiap bulan, dengan perhitungan matematis, dana yang disimpan setiap bulan tidak sebesar Rp 2 juta, tetapi lebih kecil. Tetapi, keluarga juga bisa meminta perencana keuangan untuk membantu keluarga dalam mempersiapkan dana pendidikan ini.
(Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan)
Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com
KOMPAS.com - Pada situasi sekarang ini banyak keluarga dipusingkan oleh dana pendidikan. Biaya yang sudah pasti dikeluarkan adalah biaya pelatihan masuk perguruan tinggi berkisar Rp 3 juta sampai Rp 40 juta. Biaya tes minimum Rp 1 juta untuk beberapa perguruan tinggi.
Ketika sudah lulus, orangtua harus mempersiapkan dana untuk pembangunan, dana biaya kuliah per semester, dan biaya buku, serta biaya sewa rumah untuk mereka yang tidak tinggal di rumahnya lagi karena kejauhan. Dana pembangunan minimal Rp 10 juta sampai dengan Rp 100 juta, tetapi ada juga perguruan tinggi yang meniadakan biaya ini. Mereka justru membuat biaya kuliah cukup besar. Akibatnya, banyak perguruan tinggi membuat kebijakan dengan pembayaran cicilan agar anak bisa masuk perguruan tinggi tersebut.
Persiapan
Lantaran kebutuhan dana yang sangat besar, orangtua harus mempersiapkannya jauh hari. Bagi orangtua yang mempunyai pendapatan memadai, tidak menjadi persoalan karena bisa pinjam ke kantor atau ke bank dengan memberikan jaminan. Bagi yang sedikit kurang, mereka harus mempersiapkannya dengan saksama.
Pertama-tama yang harus dilakukan dalam mempersiapkan dana pendidikan tersebut adalah merencanakan anak akan disekolahkan ke mana. Orangtua harus realistis dalam kasus ini, tidak bisa memaksakan keinginannya. Bila anak hanya bisa diharapkan ke swasta yang normal, orangtua hanya mempersiapkan anak tersebut agar bisa berkuliah di perguruan tinggi yang sesuai dengan kemampuannya.
Sering kali orangtua melakukan tindakan tidak realistis dengan melihat tetangga yang selalu masuk perguruan tinggi termahal. Tetapi, motivasi anak juga perlu dilihat agar bisa dimasukkan ke perguruan tinggi harapan orangtua. Dengan adanya kepastian anak akan masuk ke perguruan tinggi yang dimaksud, orangtua dapat melakukan perhitungan dana yang akan dikeluarkan.
Tahapan kedua, yang perlu dipastikan adalah waktu pembayaran atau dalam dunia perencanaan keuangan disebutkan waktu kebutuhan dana tersebut. Apakah dana tersebut dibutuhkan dalam waktu yang singkat,atau waktu yang lebih panjang. Bila dana dibutuhkan pada waktu yang secepatnya, orangtua bisa mengetahui bagaimana mendapatkannya. Selayaknya, waktu yang dibutuhkan cukup panjang sehingga orangtua bisa bernapas untuk mendapatkan dana tersebut. Bila waktu yang dibutuhkan sangat singkat, agak sulit mendapatkan dana tersebut secara cepat.
Kepastian dana yang akan dikeluarkan dan waktu pembayaran yang telah jelas diketahui, maka orangtua mulai masuk pada tahap ketiga, yaitu mendapatkan sumber pendanaan. Sumber dana yang dibutuhkan dimulai dengan berpikir sejenak dan berdiskusi dengan keluarga (ayah dan ibu). Urutan pertama yang harus dipertimbangkan adalah tabungan yang dimiliki saat ini. Apakah tabungan yang dimiliki saat ini bisa membiayai pendidikan yang direncanakan bersama anak dan keluarga.
Prioritas pengeluaran perlu dipahami karena dana tabungan yang tersedia juga diperuntukkan saat pensiun. Sebaiknya sementara dapat dipergunakan untuk pembayaran biaya pendidikan anak. Bila tabungan tidak tersedia, orangtua harus mencari dana tersebut. Alternatif yang bisa dipergunakan adalah aset dalam rumah yang selama ini tidak pernah dipergunakan, bahkan membuat sempit ruangan di rumah, sebaiknya dijual kepada pihak lain.
Urutan selanjutnya, orangtua bisa mendapatkan dari arisan keluarga. Orangtua bisa meminta pada arisan agar lebih dulu mendapatkannya, atau meminta adanya potongan bila diberikan untuk mendapatkannya. Jika dana dari arisan tidak bisa didapat, keluarga bisa melakukan pinjaman kepada pihak lain (bank, leasing, atau perseorangan).
Sebaiknya, lakukan pinjaman kepada pihak yang tidak memiliki hubungan keluarga agar silaturahim berjalan dengan baik. Keluarga juga bisa menggunakan cara lain yang dianggap lebih baik dari uraian sebelumnya.
Tindakan mereka yang sudah matang dalam keuangan adalah dengan mengikuti asuransi pendidikan. Keluarga mempersiapkannya dengan asuransi, dan bila tiba saatnya pembayaran, keluarga bisa mendapatkan dana untuk keperluan tersebut. Bila keluarga menggunakan asuransi ini, keluarga harus memperhitungkan waktu pencairan dan pembayaran premi tahunannya agar bisa terencana lebih baik untuk kepentingan anak.
Pemilihan asuransi yang tepat sangat dibutuhkan keluarga dalam rangka mempersiapkan dana pendidikan anak tersebut. Untuk asuransi ini, keluarga bisa berkonsultasi dengan perusahaan asuransi yang bisa membantu keluarga.
Sisi lain yang bisa dilakukan keluarga adalah dengan mempersiapkan dari anak sejak awal. Minimum perencanaan tersebut sudah dilakukan paling sedikit lima tahun lalu agar dana yang dibutuhkan dapat disediakan secara saksama. Cara pertama yang paling sederhana adalah menentukan besaran tabungan dari jumlah yang harus dipersiapkan. Bila kebutuhan dana pendidikan sebesar Rp 120 juta, keluarga dapat menyimpan dana sebesar Rp 2 juta setiap bulannya.
Bila keluarga menyimpan di bank dana tersebut setiap bulan, dengan perhitungan matematis, dana yang disimpan setiap bulan tidak sebesar Rp 2 juta, tetapi lebih kecil. Tetapi, keluarga juga bisa meminta perencana keuangan untuk membantu keluarga dalam mempersiapkan dana pendidikan ini.
(Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan)
Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas.com
Sunday, July 4, 2010
Dana Pendidikan
ADLER HAYMANS MANURUNG
PRAKTISI KEUANGAN
Pendidikan merupakan tabungan yang paling mahal dan akan dihargai anak-anak ketika orangtuanya tidak ada lagi. Dana pendidikan merupakan dana yang dipersiapkan keluarga untuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Biaya pendidikan semakin lama semakin besar. Oleh karena itu, dana pendidikan harus dipersiapakan jauh-jauh hari dan bukannya ketika anak akan masuk sekolah.
Keluarga yang sudah memahami pengeluaran keluarga dan memiliki perecanaan keuangan biasanya telah mempersiapkan dana pendidikan sejak anak lahir.
Ada sejumlah tahapan dalam mempersiapkan dana pendidikan. Pertama, menentukan sekolah anak. Keluarga harus tahu dengan jelas pendidikan yang diinginkan bagi sang anak dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Keluarga tidak bisa memaksakan anak untuk bersekolah di sekolah yang standar nilainya jauh di atas kemampuan anak.
Kedua, menghitung seluruh biaya yang diperlukan untuk pendidikan anak-anak. Keluarga harus mengumpulkan informasi mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan anak-anak. Biaya tersebut termasuk biaya sekolah, biaya pembangunan, biaya rekreasi, biaya buku-buku, serta biaya lain.
Tingkat inflasi dan bunga
Ketiga, menentukan tingkat inflasi mulai sekarang sampai anak masuk sekolah bahkan ketika anal-anak menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Tingkat inflasi bisa diperhitungkan dengan menggunakan asumsi tingkat inflasi sekarang. Bila tingkat inflasi sekarang terlalu kecil, estimasi tingkat inflasinya harus dinaikkan. Bila tahun ini kita mempunyai inflasi 5 persen, keluarga sebaiknya menaikkan inflasi sekitar 6 persen sampai dengan 7 persen.
Pemerintah sendiri mempunyai inflasi sesuai harapan, moderat, dan terjelek. Keluarga juga bisa bertanya kepada lembaga penelitian atau lembaga yang menerbitkan inflasi, seperti Badan Pusat Statistik atau pakar ekonomi, agar bisa mendapatkan angka inflasi yang valid dan dipercaya untuk melakukan estimasi ke masa mendatang.
Keempat, melakukan perhitungan terhadap tingkat bunga yang berlaku pada masa mendatang. Tingkat bunga yang diramalkan pada masa mendatang tersebut tidak terlepas dari tingkat inflasi yang diestimasikan. Tingkat bunga merupakan refleksi dari tingkat inflasi yang berlaku. Oleh karena itu, keluarga harus mendapatkan tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah setiap tahunnya. Bila tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah sekitar 1 persen sampai dengan 2 persen seperti sekarang ini, tingkat bunga yang berlaku merupakan hasil jumlah tingkat bunga riil dengan inflasi. Bila inflasi 7 persen, tingkat bunga yang berlaku sebesar 8 persen sampai dengan 9 persen.
Kelima, menentukan besaran tabungan yang dilakukan. Bila dana yang dibutuhkan telah ditentukan dan jumlah waktu anak untuk sampai sekolah tersebut, keluarga dapat menentukan jumlah tabungan setiap bulan. Misalnya, keluarga membutuhkan dana sebesar Rp 75 juta, di mana dana ini dibutuhkan lima tahun mendatang atau 60 bulan, maka dana yang harus disisihkan dari pendapatan keluarga setiap bulannya sebesar Rp 1,25 juta. Artinya, dana tabungan sebesar Rp 1,25 juta ini disimpan di bawah bantal belum dikembangbiakkan melalui investasi. Bila keluarga melakukan investasi, dana yang disisihkan akan lebih kecil dan sangat baik bila lebih lama melakukan investasi.
Dalam melakukan pilihan investasi, keluarga dapat melakukan investasi sendiri atau menempatkannya pada manajer investasi dan juga menggabungkannya dengan asuransi. Bila investasi sendiri yang dipergunakan, investor membutuhkan pengetahuan investasi dan memerlukan waktu. Bila didepositokan, keluarga harus mendapatkan informasi yang lebih luas, baik tingkat bunga maupun kondisi perbankan yang bersangkutan. Semua tindakan keluarga pasti mengandung risiko dan harus dipahami.
Asuransi pendidikan
Bila keluarga memilih asuransi pendidikan, harus disadari bahwa selain membayar premi asuransi, keluarga juga melakukan investasi. Premi asuransi berguna untuk membayar biaya pendidikan bila keluarga tidak mampu lagi membayar cicilan investasi. Ketidakmampuan ini bisa saja disebabkan penanggung premi tidak bisa bekerja atau meninggal dunia.
Bila keluarga mengambil asuransi, pengeluaran keluarga untuk menabung dana pendidikan ini akan lebih besar. Pada sisi lain, keluarga tidak perlu pusing memikirkan investasi yang akan dilakukan agar tercapai dana pendidikan yang dikehendaki. Risiko di masa mendatang telah dialihkan keluarga kepada pihak asuransi melalui pembayaran premi tersebut. Namun, asuransi ini tidak dibutuhkan bila keluarga tahu persis kesehatan dan ketidakpastian di masa mendatang. Keluarga harus tahu persis kemampuan keluarga agar bisa menyediakan dana pendidikan tersebut.
Seperti diuraikan sebelumnya, dalam mempersiapkan dana pendidikan ini, keluarga akan menghadapi risiko, baik risiko pengetatan pengeluaran keluarga, risiko investasi, dan risiko dana kebutuhan yang membengkak karena situasi yang terjadi. Keluarga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko tersebut dengan memerhatikan dana pendidikan secara saksama.
KOMPAS
- Muhammad Idham Azhari
PRAKTISI KEUANGAN
Pendidikan merupakan tabungan yang paling mahal dan akan dihargai anak-anak ketika orangtuanya tidak ada lagi. Dana pendidikan merupakan dana yang dipersiapkan keluarga untuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Biaya pendidikan semakin lama semakin besar. Oleh karena itu, dana pendidikan harus dipersiapakan jauh-jauh hari dan bukannya ketika anak akan masuk sekolah.
Keluarga yang sudah memahami pengeluaran keluarga dan memiliki perecanaan keuangan biasanya telah mempersiapkan dana pendidikan sejak anak lahir.
Ada sejumlah tahapan dalam mempersiapkan dana pendidikan. Pertama, menentukan sekolah anak. Keluarga harus tahu dengan jelas pendidikan yang diinginkan bagi sang anak dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Keluarga tidak bisa memaksakan anak untuk bersekolah di sekolah yang standar nilainya jauh di atas kemampuan anak.
Kedua, menghitung seluruh biaya yang diperlukan untuk pendidikan anak-anak. Keluarga harus mengumpulkan informasi mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan anak-anak. Biaya tersebut termasuk biaya sekolah, biaya pembangunan, biaya rekreasi, biaya buku-buku, serta biaya lain.
Tingkat inflasi dan bunga
Ketiga, menentukan tingkat inflasi mulai sekarang sampai anak masuk sekolah bahkan ketika anal-anak menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Tingkat inflasi bisa diperhitungkan dengan menggunakan asumsi tingkat inflasi sekarang. Bila tingkat inflasi sekarang terlalu kecil, estimasi tingkat inflasinya harus dinaikkan. Bila tahun ini kita mempunyai inflasi 5 persen, keluarga sebaiknya menaikkan inflasi sekitar 6 persen sampai dengan 7 persen.
Pemerintah sendiri mempunyai inflasi sesuai harapan, moderat, dan terjelek. Keluarga juga bisa bertanya kepada lembaga penelitian atau lembaga yang menerbitkan inflasi, seperti Badan Pusat Statistik atau pakar ekonomi, agar bisa mendapatkan angka inflasi yang valid dan dipercaya untuk melakukan estimasi ke masa mendatang.
Keempat, melakukan perhitungan terhadap tingkat bunga yang berlaku pada masa mendatang. Tingkat bunga yang diramalkan pada masa mendatang tersebut tidak terlepas dari tingkat inflasi yang diestimasikan. Tingkat bunga merupakan refleksi dari tingkat inflasi yang berlaku. Oleh karena itu, keluarga harus mendapatkan tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah setiap tahunnya. Bila tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah sekitar 1 persen sampai dengan 2 persen seperti sekarang ini, tingkat bunga yang berlaku merupakan hasil jumlah tingkat bunga riil dengan inflasi. Bila inflasi 7 persen, tingkat bunga yang berlaku sebesar 8 persen sampai dengan 9 persen.
Kelima, menentukan besaran tabungan yang dilakukan. Bila dana yang dibutuhkan telah ditentukan dan jumlah waktu anak untuk sampai sekolah tersebut, keluarga dapat menentukan jumlah tabungan setiap bulan. Misalnya, keluarga membutuhkan dana sebesar Rp 75 juta, di mana dana ini dibutuhkan lima tahun mendatang atau 60 bulan, maka dana yang harus disisihkan dari pendapatan keluarga setiap bulannya sebesar Rp 1,25 juta. Artinya, dana tabungan sebesar Rp 1,25 juta ini disimpan di bawah bantal belum dikembangbiakkan melalui investasi. Bila keluarga melakukan investasi, dana yang disisihkan akan lebih kecil dan sangat baik bila lebih lama melakukan investasi.
Dalam melakukan pilihan investasi, keluarga dapat melakukan investasi sendiri atau menempatkannya pada manajer investasi dan juga menggabungkannya dengan asuransi. Bila investasi sendiri yang dipergunakan, investor membutuhkan pengetahuan investasi dan memerlukan waktu. Bila didepositokan, keluarga harus mendapatkan informasi yang lebih luas, baik tingkat bunga maupun kondisi perbankan yang bersangkutan. Semua tindakan keluarga pasti mengandung risiko dan harus dipahami.
Asuransi pendidikan
Bila keluarga memilih asuransi pendidikan, harus disadari bahwa selain membayar premi asuransi, keluarga juga melakukan investasi. Premi asuransi berguna untuk membayar biaya pendidikan bila keluarga tidak mampu lagi membayar cicilan investasi. Ketidakmampuan ini bisa saja disebabkan penanggung premi tidak bisa bekerja atau meninggal dunia.
Bila keluarga mengambil asuransi, pengeluaran keluarga untuk menabung dana pendidikan ini akan lebih besar. Pada sisi lain, keluarga tidak perlu pusing memikirkan investasi yang akan dilakukan agar tercapai dana pendidikan yang dikehendaki. Risiko di masa mendatang telah dialihkan keluarga kepada pihak asuransi melalui pembayaran premi tersebut. Namun, asuransi ini tidak dibutuhkan bila keluarga tahu persis kesehatan dan ketidakpastian di masa mendatang. Keluarga harus tahu persis kemampuan keluarga agar bisa menyediakan dana pendidikan tersebut.
Seperti diuraikan sebelumnya, dalam mempersiapkan dana pendidikan ini, keluarga akan menghadapi risiko, baik risiko pengetatan pengeluaran keluarga, risiko investasi, dan risiko dana kebutuhan yang membengkak karena situasi yang terjadi. Keluarga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko tersebut dengan memerhatikan dana pendidikan secara saksama.
KOMPAS
- Muhammad Idham Azhari
Sunday, January 18, 2009
Persiapan Dana untuk Anak-anak
Minggu, 18 Januari 2009 | 01:54 WIB
Semua orang selalu berusaha agar anak-anaknya hidup lebih baik dari dirinya dan tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah dialaminya.
Banyak orang mengeluarkan dana cukup besar untuk mencapai keinginan itu. Sebelum membahas persiapan dana tersebut, kita harus memahami lebih mendalam tujuan kita mengenai anak-anak tersebut di kemudian hari.
Minat anak-anak menjadi apa di kemudian hari biasanya berawal dari sifat dan bakat yang dimiliki orangtua. Perkembangan minat akan dipengaruhi pendidikan yang diberikan orangtua, lingkungan bermain anak, dan informasi yang diperoleh anak.
Orangtua bisa juga memberi pilihan kepada anak mengenai tujuan di kemudian hari dan mengarahkan anak untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya, bisa atau tidak bisanya anak menjadi apa yang diinginkan dapat juga merupakan kesalahan orangtua.
Dalam mempersiapkan dana untuk anak-anak ada beberapa tahapan yang harus dilakukan semua pihak yang berkepentingan.
Pertama, menentukan tujuan anak—di sini artinya profesi yang akan digeluti—di kemudian hari. Apakah anak akan berkarier, misalnya, di bidang militer, menjadi arsitek, profesional di pasar modal, apoteker, atau dokter. Ada juga yang berpikiran anak tersebut harus sarjana dan profesi apa tergantung anak di kemudian hari.
Kedua, mencari biaya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan yang diinginkan, misalnya, biaya pendidikan sarjana teknik atau sarjana kedokteran.
Pendidikan tersebut dapat dilakukan di dalam negeri atau di luar negeri sehingga biaya yang dikeluarkan dapat sangat berbeda, mengingat adanya nilai kurs mata uang asing terhadap rupiah.
Bila anak ingin mempunyai pendidikan di Amerika Serikat akan berbeda biayanya bila dilakukan di Australia atau di Benua Eropa. Orangtua harus mencari baik-buruknya menempuh pendidikan di daerah yang dituju di kemudian hari.
Orangtua harus juga mempertimbangkan perkembangan yang terjadi sejak sekarang sampai saat anak akan melakukan pendidikan di negeri tersebut.
Ketiga, menentukan jangka waktu. Ada dua jangka waktu yang harus dipertimbangkan, yaitu jangka waktu pendidikan yang akan dilakukan anak-anak dan jangka waktu melakukan persiapan untuk pendidikan tersebut. Biasanya, jangka waktu pendidikan harus dicari yang normal dan orangtua harus memberi kelonggaran dari jangka waktu normal. Tetapi, orangtua yang telah memahami anaknya dapat menentukan jangka waktu pendidikan tanpa memberi kelonggaran.
Keempat, melakukan perhitungan dan mencari informasi untuk kepentingan persiapan dana. Nilai dana perlu dihitung agar tahu secara jelas apa yang akan dilakukan. Bila saat ini dana dibutuhkan untuk pendidikan anak masa mendatang, maka biaya untuk beberapa tahun mendatang bisa dikalkulasi dengan baik.
Misalnya, dana saat ini untuk aktivitas keinginan anak tahun mendatang sekitar Rp 500 juta, maka dengan memerhatikan inflasi dan jangka waktu saat ini sampai periode pendidikan sarjana masa mendatang nilai dapat dihitung.
Bila tingkat inflasi sebesar 7 persen per tahun dan jangka waktu akan terjadi 15 tahun mendatang, maka inflasi akan terjadi 105 persen atau Rp 500 juta dikalikan 105 persen yang hasilnya Rp 525 juta. Artinya, orangtua harus menyediakan dana sebesar Rp 1.025 juta selama periode 15 tahun.
Cara mendanai
Untuk mendapat dana sebesar itu ada berbagai tindakan yang dapat dilakukan. Pertama, dengan cara menyimpan dana setiap bulan selama 15 tahun. Dana ini dikumpulkan dari hasil gaji yang diperoleh dan ditabung.
Besaran tabungan tergantung tingkat bunga yang diperoleh atas tabungan yang dilakukan setiap bulan atas anak-anak tersebut. Dalam cara ini masih ada risiko, yaitu adanya risiko yang timbul akibat orangtua sakit atau meninggal sebelum pendidikan sarjana dilakukan. Tetapi, dengan menjaga kesehatan, risiko tersebut masih bisa dielakkan.
Cara kedua, membeli asuransi dengan cara pembayaran premi selama 15 tahun di mana dana akan terkumpul sebesar nilai tersebut. Biasanya, pembelian asuransi ini akan memberi jaminan kepada orangtua bila orangtua meninggal sehingga anak-anak tetap memperoleh dana yang sudah dijanjikan. Artinya, keinginan anak-anak untuk mencapai tujuannya bisa terpenuhi.
Cara ketiga, membeli properti dan nilai properti tersebut akan sebesar nilai yang diinginkan. Properti dapat dibeli dengan cara tunai atau kredit, tetapi dengan periode cicilan yang singkat selama periode 5 tahun. Artinya, apresiasi nilai properti sangat diharapkan agar nilai dana yang diinginkan dapat tercapai. Oleh karenanya, pemilihan daerah yang strategis dan kenaikan harga properti yang cepat perlu diperhatikan dan dianalisis saksama.
Kelima, melakukan implementasi atas rancangan yang sudah dilakukan. Pada tahapan ini orangtua anak harus mempunyai komitmen, konsisten, dan sabar melakukan rencana yang telah diuraikan pada tahapan keempat tersebut. Bila komitmen tidak dipenuhi, maka persiapan dana untuk anak-anak akan tidak tercapai. Untuk melaksanakan rencana ini orangtua dan anak-anak harus bekerja sama dan memahami tugas masing-masing supaya keinginan terjadi. Selamat mempersiapkan.
Kompas
- Muhammad Idham Azhari
Adler Haymans Manurung, Praktisi keuangan
Semua orang selalu berusaha agar anak-anaknya hidup lebih baik dari dirinya dan tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah dialaminya.
Banyak orang mengeluarkan dana cukup besar untuk mencapai keinginan itu. Sebelum membahas persiapan dana tersebut, kita harus memahami lebih mendalam tujuan kita mengenai anak-anak tersebut di kemudian hari.
Minat anak-anak menjadi apa di kemudian hari biasanya berawal dari sifat dan bakat yang dimiliki orangtua. Perkembangan minat akan dipengaruhi pendidikan yang diberikan orangtua, lingkungan bermain anak, dan informasi yang diperoleh anak.
Orangtua bisa juga memberi pilihan kepada anak mengenai tujuan di kemudian hari dan mengarahkan anak untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya, bisa atau tidak bisanya anak menjadi apa yang diinginkan dapat juga merupakan kesalahan orangtua.
Dalam mempersiapkan dana untuk anak-anak ada beberapa tahapan yang harus dilakukan semua pihak yang berkepentingan.
Pertama, menentukan tujuan anak—di sini artinya profesi yang akan digeluti—di kemudian hari. Apakah anak akan berkarier, misalnya, di bidang militer, menjadi arsitek, profesional di pasar modal, apoteker, atau dokter. Ada juga yang berpikiran anak tersebut harus sarjana dan profesi apa tergantung anak di kemudian hari.
Kedua, mencari biaya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan yang diinginkan, misalnya, biaya pendidikan sarjana teknik atau sarjana kedokteran.
Pendidikan tersebut dapat dilakukan di dalam negeri atau di luar negeri sehingga biaya yang dikeluarkan dapat sangat berbeda, mengingat adanya nilai kurs mata uang asing terhadap rupiah.
Bila anak ingin mempunyai pendidikan di Amerika Serikat akan berbeda biayanya bila dilakukan di Australia atau di Benua Eropa. Orangtua harus mencari baik-buruknya menempuh pendidikan di daerah yang dituju di kemudian hari.
Orangtua harus juga mempertimbangkan perkembangan yang terjadi sejak sekarang sampai saat anak akan melakukan pendidikan di negeri tersebut.
Ketiga, menentukan jangka waktu. Ada dua jangka waktu yang harus dipertimbangkan, yaitu jangka waktu pendidikan yang akan dilakukan anak-anak dan jangka waktu melakukan persiapan untuk pendidikan tersebut. Biasanya, jangka waktu pendidikan harus dicari yang normal dan orangtua harus memberi kelonggaran dari jangka waktu normal. Tetapi, orangtua yang telah memahami anaknya dapat menentukan jangka waktu pendidikan tanpa memberi kelonggaran.
Keempat, melakukan perhitungan dan mencari informasi untuk kepentingan persiapan dana. Nilai dana perlu dihitung agar tahu secara jelas apa yang akan dilakukan. Bila saat ini dana dibutuhkan untuk pendidikan anak masa mendatang, maka biaya untuk beberapa tahun mendatang bisa dikalkulasi dengan baik.
Misalnya, dana saat ini untuk aktivitas keinginan anak tahun mendatang sekitar Rp 500 juta, maka dengan memerhatikan inflasi dan jangka waktu saat ini sampai periode pendidikan sarjana masa mendatang nilai dapat dihitung.
Bila tingkat inflasi sebesar 7 persen per tahun dan jangka waktu akan terjadi 15 tahun mendatang, maka inflasi akan terjadi 105 persen atau Rp 500 juta dikalikan 105 persen yang hasilnya Rp 525 juta. Artinya, orangtua harus menyediakan dana sebesar Rp 1.025 juta selama periode 15 tahun.
Cara mendanai
Untuk mendapat dana sebesar itu ada berbagai tindakan yang dapat dilakukan. Pertama, dengan cara menyimpan dana setiap bulan selama 15 tahun. Dana ini dikumpulkan dari hasil gaji yang diperoleh dan ditabung.
Besaran tabungan tergantung tingkat bunga yang diperoleh atas tabungan yang dilakukan setiap bulan atas anak-anak tersebut. Dalam cara ini masih ada risiko, yaitu adanya risiko yang timbul akibat orangtua sakit atau meninggal sebelum pendidikan sarjana dilakukan. Tetapi, dengan menjaga kesehatan, risiko tersebut masih bisa dielakkan.
Cara kedua, membeli asuransi dengan cara pembayaran premi selama 15 tahun di mana dana akan terkumpul sebesar nilai tersebut. Biasanya, pembelian asuransi ini akan memberi jaminan kepada orangtua bila orangtua meninggal sehingga anak-anak tetap memperoleh dana yang sudah dijanjikan. Artinya, keinginan anak-anak untuk mencapai tujuannya bisa terpenuhi.
Cara ketiga, membeli properti dan nilai properti tersebut akan sebesar nilai yang diinginkan. Properti dapat dibeli dengan cara tunai atau kredit, tetapi dengan periode cicilan yang singkat selama periode 5 tahun. Artinya, apresiasi nilai properti sangat diharapkan agar nilai dana yang diinginkan dapat tercapai. Oleh karenanya, pemilihan daerah yang strategis dan kenaikan harga properti yang cepat perlu diperhatikan dan dianalisis saksama.
Kelima, melakukan implementasi atas rancangan yang sudah dilakukan. Pada tahapan ini orangtua anak harus mempunyai komitmen, konsisten, dan sabar melakukan rencana yang telah diuraikan pada tahapan keempat tersebut. Bila komitmen tidak dipenuhi, maka persiapan dana untuk anak-anak akan tidak tercapai. Untuk melaksanakan rencana ini orangtua dan anak-anak harus bekerja sama dan memahami tugas masing-masing supaya keinginan terjadi. Selamat mempersiapkan.
Kompas
- Muhammad Idham Azhari
Subscribe to:
Posts (Atom)