BLOGSPOT atas
Showing posts with label rencana anggaran investasi. Show all posts
Showing posts with label rencana anggaran investasi. Show all posts

Sunday, February 8, 2009

Perilaku Investasi

Minggu, 8 Februari 2009 | 01:13 WIB

Elvyn G Masassya Praktisi keuangan

Apakah benar, ketika seseorang berinvestasi tujuannya memupuk kekayaan sebagaimana kerap dipromosikan lembaga atau institusi yang menjual produk keuangan?

Jawabannya tidak. Pemupukan kekayaan hanyalah salah satu dari banyak tujuan investasi. Jadi, ketika tujuan investasi sudah tidak jelas, jangan heran jika banyak investor menuai kegagalan dalam investasinya. Dus, sebelum melakukan dan memilih alat investasi, pastikan dulu tujuan investasi Anda dan kemudian sesuaikan dengan perilaku investasi ketika memilih alat berinvestasi.

Secara konsep, paling tidak ada empat tujuan investasi. Pertama, melindungi modal dan aset dari inflasi. Kedua, memperoleh pendapatan rutin untuk membiayai keseharian. Ketiga, membangun kekayaan dan meningkatkan aset yang telah dimiliki. Keempat, spekulasi dalam rangka mendapatkan keuntungan besar.

Jika dilihat sepintas, tampaknya keempat tujuan investasi tersebut sama saja. Atau sering kali semuanya menjadi tujuan bagi seorang investor. Apakah memang demikian? Jelas tidak.

Lihat tujuan pertama: memproteksi aset dan modal dari jeratan inflasi. Tujuan ini biasanya hanya dimiliki kalangan yang telah mencapai kemapanan finansial. Artinya, investasi bukan lagi untuk memupuk kekayaan. Pilihan investasinya lebih yang berisiko rendah. Misalnya, dana hanya ditempatkan di deposito berjangka atau surat berharga pasar uang berjangka pendek. Sepanjang hasilnya di atas tingkat inflasi, pemilik dana merasa cukup puas. Aset absolutnya bertambah, namun nilai bersih sebenarnya tetap. Yang lebih penting adalah asetnya likuid, jika diperlukan setiap saat dana tersedia.

Beda dengan kalangan yang berinvestasi untuk memperoleh pendapatan rutin dalam rangka membiayai belanja harian. Menempatkan dana dalam bentuk deposito berjangka saja jelas tidak mencukupi. Karena itu, pilihan investasinya pun mesti lebih beragam. Sebutlah menempatkan dana dalam obligasi pemerintah, BUMN, atau swasta yang imbal hasilnya lebih tinggi daripada deposito berjangka.

Bisa juga menempatkan sebagian dana dalam bentuk saham yang fundamentalnya bagus sehingga mampu rutin membayar dividen rutin. Atau menempatkan dana langsung ke sektor riil, misalnya membeli rumah toko yang kemudian disewakan. Jadi, intinya, investasi yang dilakukan diharapkan bisa memberi pendapatan rutin cukup besar dibandingkan deposito berjangka.

Tujuan ketiga: memupuk kekayaan, di mana hasil investasi diharapkan bisa lebih besar ketimbang tujuan kedua. Dalam model ini, dana yang diinvestasikan belum akan dinikmati dalam jangka pendek. Misalnya, dana ditempatkan di deposito berjangka, maka bunganya akan ditambahkan ke dalam pokok pinjaman untuk didepositokan kembali. Lalu, ketika membeli saham dan mendapat dividen dan gain, akan diinvestasikan lagi untuk membeli saham lain bersama pokoknya.

Jika pola semacam ini dilakukan dalam kurun waktu cukup lama, katakanlah 10 tahun, maka jumlah aset dan modal Anda akan berlipat ganda. Namun, pola investasi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan yang untuk biaya sehari-harinya sudah memiliki dari sumber lain.

Yang terakhir, investasi sudah bersifat spekulatif. Mereka dalam golongan selalu mencari jenis investasi yang berani memberi imbal hasil sangat tinggi dan terkadang tidak masuk akal. Kita pernah mendengar kisah Qisar dan Maddoff di mana pihak penggalang dana menggunakan skema ponzi alias piramida uang.

Jika Anda termasuk pihak yang masuk pada awal dan segera keluar, maka Anda beruntung. Tetapi, jika Anda masuk belakangan, maka besar kemungkinan dana Anda sudah raib diberikan kepada pihak yang lebih dulu masuk sebelum Anda.

Investasi bersifat spekulatif juga kerap terjadi di pasar modal. Saham-saham tertentu yang tidak memiliki fundamental bagus ”digoreng” sedemikian rupa sehingga harganya meningkat. Jika Anda tergiur, Anda akan ikut membeli. Pada saat yang sama, pihak ”penggoreng” telah mengambil keuntungan dengan menjual kembali saham tadi.

Sesuaikan dengan tujuan

Ringkasnya, investasi bersifat spekulatif lazimnya tindakan investasi yang tidak didasari analisis, masuk ke jenis investasi ”abu-abu” dan menempatkan dana dalam jumlah cukup besar karena ingin mendapat keuntungan besar dalam jangka pendek.

Berangkat dari tujuan investasi di atas, korelasikan dengan perilaku investasi Anda. Contoh sederhana, sangat tidak mungkin Anda memiliki tujuan investasi spekulatif jika Anda tergolong penakut atau tidak berani mengambil risiko. Investasi ini hanya bisa dilakukan mereka yang ”berani mati” dan ”berani kehilangan uang”.

Dalam realitasnya kita melihat begitu banyak investor yang kemudian melapor pada polisi, menangis tersedu-sedu, atau malah menjadi gila ketika kehilangan dana investasinya. Sebenarnya ini aneh. Karena ketika berani berspekulasi, mestinya berani pula menanggung akibatnya.

Dalam praktiknya, kebanyakan yang berinvestasi spekulatif sebenarnya memiliki tujuan mempunyai pendapatan rutin dalam rangka membiayai kebutuhan sehari-hari. Kalau memang seperti itu faktanya, mestinya pilihan investasinya adalah yang berisiko moderat, bahkan rendah.

Kesimpulannya, perilaku investasi mesti sejalan dengan tujuan investasi. Jika kedua hal ini tidak sinkron, maka besar kemungkinan investasi akan gagal.

Kompas

Sunday, January 11, 2009

Implementasi Anggaran Investasi

Minggu, 11 Januari 2009 | 01:51 WIB

Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Pembahasan mengenai rencana anggaran investasi (RAI) di rubrik ini akhir Desember lalu, mengundang banyak surat dan SMS yang menanyakan bagaimana implementasi konkret RAI tersebut.

Bahasan berikut secara sederhana mengulas titik landasan yang bisa menjadi masukan bagi Anda dalam menyusun RAI yang lebih personal.

Yang paling mendasar dalam pembuatan RAI adalah memahami kondisi terakhir keuangan Anda, katakanlah pada akhir tahun 2008, posisi aset, dan kewajiban utang Anda. Mestinya berada dalam posisi positif, yaitu Anda masih memiliki aset lebih besar dibandingkan dengan utang.

Selanjutnya, hitung berapa pertumbuhannya dibandingkan dengan awal tahun 2008. Umpamakan pada akhir tahun 2008 nilai aset bersih Anda Rp 1 miliar. Ini meliputi semua aset yang dihitung berdasarkan harga pasar. Artinya, jika aset itu dijual, maka nilai uangnya Rp 1 miliar. Termasuk di sini adalah harga tanah/rumah, kendaraan, aset investasi berupa deposito berjangka, saham, dan yang lain.

Lalu, umpamakan pada awal tahun nilai aset bersih Anda Rp 900 juta. Berarti ada peningkatan aset Rp 100 juta atau 11 persen. Dari sisi persentase, ini jelas peningkatan yang lumayan. Tetapi, coba bandingkan dengan penghasilan Anda. Berapa persen yang teralokasi menjadi peningkatan aset, baik karena perubahan harga pasar atau disebabkan tambahan alokasi pendapatan ke dalam aset.

Cek total penghasilan Anda baik berupa gaji atau imbal hasil investasi yang didapat dalam bentuk riil pada tahun 2008. Umpamakan Rp 250 juta.

Dari Rp 250 juta itu, yang berdampak pada peningkatan aset adalah Rp 100 juta atau setara 40 persen dari total penghasilan. Kelihatannya ini rasio yang bagus, sebab secara sederhana Anda hanya membelanjakan 60 persen penghasilan Anda untuk konsumsi. Tetapi, jika dicermati lebih jauh, apakah rasio tersebut memang menunjukkan Anda berada di “jalan yang benar”? Belum tentu. Coba kita lihat.

Tentang peningkatan aset, misalnya. Pada tahun 2008 ada peningkatan Rp 100 juta atau 11 persen. Tetapi, coba telisik lagi, berapa persen peningkatan itu benar-benar karena kontribusi hasil investasi tahun 2008 dan berapa yang karena penyesuaian harga aset.

Katakanlah Anda memiliki tanah dan rumah yang Anda tempati. Pada tahun 2007 harganya Rp 500 juta dan pada 2008 akhir harganya menjadi Rp 550 juta. Dengan kata lain, ada peningkatan harga Rp 50 juta atau 10 persen. Peningkatan itu bukan karena tindakan investasi baru, melainkan lebih aspek “kebetulan”.

Karena itu, untuk mendapatkan gambaran riil mengenai hasil investasi Anda tahun 2008, peningkatan harga rumah harus dikeluarkan. Ringkasnya, peningkatan aset berkat penyisihan penghasilan dan investasi tahun 2008 adalah Rp 100 juta dikurangi Rp 50 juta, yaitu Rp 50 juta.

Dengan rumusan tersebut, dari total penghasilan Rp 250 juta, sebenarnya, yang berdampak pada peningkatan aset Rp 50 juta. Dengan kata lain, Anda melakukan konsumsi Rp 200 juta atau 80 persen. Apakah kenyataannya demikian?

Boleh jadi tidak. Dalam realitasnya angka Rp 250 juta yang merupakan penghasilan Anda, termasuk juga hasil investasi Anda di deposito, saham, reksa dana, dan lainnya.

Coba hitung lagi tambahan penghasilan Anda dari kegiatan investasi tahun 2008. Sebut saja angkanya Rp 50 juta dari Rp 250 juta. Berati penghasilan Anda di luar investasi sebenarnya Rp 200 juta. Dengan demikian, konsumsi Anda sebenarnya Rp 200 juta dibandingkan dengan Rp 200 juta atau 100 persen. Jelas sangat buruk.

Konkretnya, peningkatan harga aset sebesar Rp 100 juta semata-mata karena kenaikan harga rumah dan tanah sebesar Rp 50 juta dan Rp 50 juta lagi diperoleh dari bunga deposito, hasil saham, dan lain-lain, yang notabene bukan hasil investasi baru.

Jujur

Poin penting dari ilustrasi di atas sebenarnya adalah, ketika hendak mengimplementasikan rencana investasi Anda, posisi keuangan dan investasi pada akhir 2008 harus dilihat jujur dan transparan. Cermati dari mana sumber dan asal-usulnya dan dihitung peningkatan aset Anda berdasarkan hasil investasi murni tahun 2008.

Yang paling mendasar, tentukan tujuan keuangan Anda pada 2009, lalu siapkan rencana mencapainya melalui tindakan investasi.

Katakanlah, pada 2009 tujuan investasi Anda meningkatkan aset sebesar 20 persen menjadi Rp 1.200 juta. Seperti ilustrasi di atas, Anda mesti memilah dulu, mana peningkatan aset yang murni hasil investasi 2009 dan mana yang karena penyesuaian harga.

Katakanlah, yang karena penyesuaian harga tanah dan rumah Anda sebesar Rp 50 juta (sama seperti tahun 2008), berarti peningkatan aset yang murni karena investasi diharapkan Rp 150 juta. Inilah tujuan keuangan Anda, yakni memperoleh imbal hasil investasi sebesar Rp 150 juta.

Meski begitu, jangan lupa, dari Rp 150 juta itu diharapkan ada kontribusi dari investasi yang sudah berjalan minimal Rp 50 juta. Berarti tambahan hasil investasi baru yang mesti diperoleh pada tahun 2009 sebesar Rp 100 juta.

Bagaimana cara meraihnya? Anda memiliki penghasilan noninvestasi tahun 2009 sebesar Rp 150 juta. Berarti, dari sejumlah dana itu harus ada yang Anda sisihkan dan investasikan sehingga mampu menghasilkan Rp 100 juta tahun 2009. Seandainya saja Anda sisihkan Rp 50 juta dan ditabung, maka perolehan investasi Anda Rp 50 juta plus bunga tabungan. Jelas tidak mencapai target.

Oleh karena itu, untuk mencapai imbal hasil investasi lebih besar Anda mesti menyusun ulang portofolio investasi Anda, termasuk investasi yang sudah berjalan maupun investasi baru. Selamat mencoba.

Kompas

Sunday, December 28, 2008

Rencana Anggaran Investasi (RAI)

Minggu, 28 Desember 2008 | 01:07 WIB

Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Bagaimana kinerja investasi Anda tahun ini? Sebagian dari Anda yang senang menempatkan uang di pasar modal, tetapi berperilaku takut risiko boleh jadi sedang harap-harap cemas.

Ya, sebab tengah berada dalam posisi unrealized loss alias menanggung potensi kerugian. Kenapa begitu? Karena Anda masih memegang saham-saham yang harganya tidak kunjung naik, sementara waktu beli harganya ada di atas. Saham-saham tersebut masih dipegang karena berharap suatu ketika harganya akan naik lagi.

Keyakinan seperti itu bisa saja menjadi kenyataan. Tetapi, kalau keyakinan tidak dibarengi aksi lain, Anda bisa disebut tidak melakukan upaya meminimalisasi potensi kerugian karena Anda tidak tahu sampai kapan saham yang saat ini Anda pegang harganya akan naik lagi, setidaknya mencapai harga seperti ketika Anda beli.

Soal lain, jika Anda yakin harga saham akan naik lagi, mestinya Anda juga membeli saham-saham tersebut dan juga saham lain yang harganya Anda yakini juga akan naik. Alasannya, jika perkiraan itu benar, Anda bukan saja meminimalisasi potensi kerugian saham Anda, tetapi juga bisa mendulang keuntungan dari saham yang baru Anda beli. Untuk merealisasikan keyakinan seperti itu, ada baiknya Anda merancang apa yang disebut rencana anggaran investasi (RAI).

Sebagaimana lazimnya perusahaan, pasti memiliki rencana perusahaan atau kalau dalam istilah agak ”kuno” disebut RKAP (rencana kegiatan dan anggaran perusahaan). RKAP biasanya membahas kegiatan yang hendak dilakukan dan penyiapan anggarannya, termasuk sumber dan penggunaannya. Dengan pendekatan sama, sebenarnya Anda juga bisa merancang agar kegiatan investasi Anda menjadi lebih terkelola berbasis RAI. Lantas, apa saja isinya?

Menyusun RAI

Pertama, tentu saja Anda mesti rela mengevaluasi kinerja investasi Anda tahun ini. Ingat kembali tujuan keuangan Anda, bagaimana realisasinya. Kalau belum tercapai, apa penyebabnya. Apakah benar karena masalah ekonomi dan keuangan makro yang di luar kontrol Anda atau karena kekeliruan dalam proses pengambilan keputusan. Ini penting sebab kebanyakan dari kita lebih suka mengambinghitamkan pihak lain jika terjadi kegagalan.

Kondisi ekonomi makro, misalnya, sangat sering menjadi sasaran tumpahan kemarahan: kondisi makro tidak kondusif, tidak bersahabat. Kalaupun memang seperti itu, toh pertanyaannya, apakah kita pernah meramalkan kondisi makroekonomi akan memburuk? Kalau tidak, ya salah sendiri. Kalau ya, kenapa tidak membuat keputusan yang bisa dilaksanakan dalam kondisi makroekonomi memburuk?

Aneh? Tidak juga. Investasi bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan ekonomi baik maupun buruk. Intinya, ketika kita melakukan evaluasi terhadap kinerja investasi pada tahun berjalan, maka jangan lupa melihat bagaimana konsistensi kita ketika membuat putusan investasi dalam keadaan ekonomi seperti apa pun. Termasuk, misalnya, apakah kita pernah serakah atau ketakutan amat sangat.

Makna serakah adalah ketika memegang satu saham dan harganya sudah meningkat, kita masih berharap harganya terus meningkat dan tidak mau menjualnya. Padahal, mungkin sebelumnya Anda cuma berharap memperoleh keuntungan 10-15 persen saja. Yang terjadi malah potensi kerugian karena harga saham kemudian jatuh.

Contoh lain, ketika harga saham sudah turun 10-15 persen, Anda tidak berani melakukan cut loss, tetap berharap esok hari harga akan meningkat. Begitu seterusnya. Padahal, harga saham yang Anda pegang semakin longsor ke bawah.

Konkretnya, sebagian besar kegagalan dalam berinvestasi sebenarnya karena kegagalan dalam membuat keputusan yang konsisten dengan apa yang telah direncanakan dan termuat dalam RAI. Singkatnya, perbaiki dulu perilaku pengambilan keputusan sebelum Anda masuk ke aspek pembuatan rencana kegiatan investasi baru.

Kedua, memasukkan rencana kegiatan investasi berbasis tujuan keuangan. Tujuan keuangan, apa pun itu, sebaiknya jangan terlalu di awang-awang, tetapi juga jangan terlalu rendah. Prinsipnya, menantang, tetapi realistis.

Menantang dalam arti lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya, tetapi masuk akal untuk diraih. Setelah Anda melewati fase ini, tentu saja mesti dibuatkan alokasi investasinya, termasuk ke pasar modal.

Basisnya investasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Pengertian menengah dan panjang adalah saham yang Anda beli dimaksudkan untuk dipegang dalam jangka lebih dari setahun dan yang jangka pendek di bawah satu tahun, bisa Anda lepas atau beli lagi dalam kurun waktu tersebut dengan maksud memperoleh keuntungan.

Dalam melaksanakan investasi, Anda tentu mesti memilih saham-saham yang sesuai dengan tujuan investasi. Anda juga tentu pernah mendengar istilah diversifikasi dalam pembuatan portofolio investasi.

Ada baiknya Anda hati-hati memaknai diversifikasi dalam portofolio. Istilah dan strategi ini akan valid jika dipergunakan pada saat ekonomi sedang bertumbuh kembang. Jika ekonomi ternyata kurang bersahabat, mungkin Anda bisa mempertimbangkan strategi fokus, utamanya untuk portofolio investasi jangka pendek.

Artinya, Anda tidak perlu menyebar uang ke berbagai jenis saham, tetapi fokus pada saham-saham yang bisa memberi imbal hasil besar dalam jangka pendek, termasuk saham-saham yang pergerakan harganya cukup besar ketika diperdagangkan. Itulah makna RAI. Selamat mencoba.

Kompas

Sunday, December 21, 2008

Perencanaan dan Evaluasi Investasi

Minggu, 21 Desember 2008 | 01:33 WIB

Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Pada penghujung tahun setiap orang biasanya mengevaluasi kerja yang dilakukan pada tahun bersangkutan untuk melihat apakah hasil yang dicapai sesuai target yang ditentukan pada awal tahun.

Sebaiknya pada akhir tahun investor membuat proyeksi target tahun depan dan sekaligus evaluasi tahun ini. Bila investor mengetahui hasil yang dicapai, kemungkinan rencana tahun depan dapat dibuat.

Bila hasil yang dicapai kurang dari target, investor perlu memikirkan penyebabnya. Sebaliknya, bila target lebih kecil dari hasil yang dicapai, akan muncul pertanyaan apakah bisa lebih besar lagi hasilnya tahun depan.

Hasil yang dicapai dihitung dengan cara harga saat ini ditambah dividen dari distribusi pendapatan dibagi harga sebelumnya dikurangi 100.

Misalnya, investor A mempunyai nilai aset saat ini Rp 950 dan satu tahun lalu ketika mulai diinvestasikan Rp 750 dan selama setahun memperoleh distribusi pendapatan (dividen, bunga dan sewa) Rp 50, maka tingkat pengembalian yang diperoleh (((Rp 950 + Rp 50) : Rp 750) -1)% = 33,33%.

Bila investasi pada properti, maka investor akan memperoleh sewa dan apresiasi harga properti tersebut. Bila membeli properti pada harga Rp 1 miliar lalu saat ini harganya Rp 1,1 miliar dan properti tersebut disewakan Rp 75 juta per tahun, maka hasil investasi adalah (((Rp 1,1 miliar + Rp 75 juta) : Rp 1 miliar) – 1)% = 17,5%.

Bila investasi Rp 1 miliar tersebut pada obligasi dua tahun dengan kupon 12% pada harga 101,4, maka investor akan memperoleh hasil dari kupon obligasi dan apresiasi harga obligasi dengan harga obligasi saat ini 95,3 sebesar (((Rp 0,953 miliar + Rp 0,12 miliar) : Rp 1,014 miliar) – 1)% = 5,82%.

Hasil uraian di atas memperlihatkan, investasi dapat memberi hasil bervariasi, tergantung dari aset yang diinvestasikan.

Sumber hasil

Sumber hasil juga dapat sangat berbeda, dapat juga diuraikan dari berbagai sumber.

Sumber utama terjadi dari hasil pasti, yaitu distribusi pendapatan, bunga (kupon), dan sewa. Sisanya merupakan selisih harga dari aset yang diinvestasikan.

Selisih harga ini dapat juga diuraikan dari berbagai sumber, misalnya dikarenakan kebijakan pemerintah yang menaikkan/menurunkan tingkat bunga.

Kebijakan tingkat bunga merupakan faktor eksternal, termasuk juga inflasi dan nilai kurs di mana semua nilainya tidak bisa dikendalikan. Tetapi, selisih harga tersebut juga bisa disebabkan keahlian investor memilih aset sebagai investasi dan tentu saja pengelolaan aset tersebut sehingga investor dapat memperoleh selisih harga yang baik.

Bila investor menggunakan keahlian pihak lain yang mempunyai izin untuk pengelolaan investasi, investor dapat meminta pihak lain tersebut menjelaskan kelebihan/kekurangan hasil yang dicapai dibandingkan dengan target yang disepakati.

Target investasi

Target investasi tahun mendatang bisa menggunakan hasil yang dicapai tahun sebelumnya, tetapi tidak seluruhnya karena hasil masa lalu bukan mencerminkan hasil yang akan dicapai masa depan.

Untuk menentukan target masa depan, investor harus memerhatikan situasi yang akan terjadi. Salah satu indikatornya adalah perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi masa mendatang.

Biasanya, pemerintah mengeluarkan angka perekonomian tahun mendatang, terutama menyangkut indikator makro, yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat bunga, inflasi, dan nilai kurs.

Investor juga bisa menggunakan angka yang dikeluarkan lembaga yang lain, seperti lembaga riset dan lembaga internasional yang sering memerhatikan negara ini.

Untuk kasus Indonesia, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diperkirakan 5,3%-6% walaupun Bank Dunia memperkirakan jauh lebih kecil, yaitu 4,4%.

Tingkat bunga SBI untuk tiga bulan diperkirakan 8%, inflasi 6,2%, dan nilai kurs Rp 9.150 per dollar. Angka asumsi ini dapat dipergunakan untuk merencanakan target investasi tahun mendatang. Artinya, investor akan memperoleh hasil yang bebas risiko sekitar 8% karena SBI 8% sehingga tingkat bunga kemungkinan akan turun tahun mendatang.

Karena itu, target investasi investor harus lebih tinggi dari angka tersebut sebab investor berinvestasi pada sektor lain yang berisiko. Investor juga harus memerhatikan karakteristik industri yang diinvestasikan sehingga tingkat pengembalian yang diinginkan berada di atas risiko yang dapat ditolerir.

Bila investor berinvestasi pada deposito, investor dapat memilih investasi yang jatuh setiap bulan kemudian di-roll-over setiap bulan atau langsung berinvestasi satu tahun.

Untuk satu bulan kemungkinan masih dapat bunga 13% untuk bulan pertama dan kemudian turun lagi pada bulan kedua. Bila investasi langsung satu tahun dengan hasil 11%, maka akan lebih baik memilih pilihan pertama, yaitu investasi satu bulan yang kemudian diperpanjang (roll-over) setiap bulannya.

Jika berinvestasi pada obligasi perusahaan swasta, patokannya adalah tingkat pengembalian dari obligasi pemerintah. Saat ini obligasi pemerintah besarnya 10%-15% sehingga tingkat pengembalian harus lebih besar dari angka tersebut. Demikian pula investasi pada saham, hasil yang diinginkan (target) harus lebih tinggi karena risikonya lebih tinggi dari deposito. Selamat berinvestasi.

Kompas