BLOGSPOT atas
Showing posts with label Alokasi Aset Investasi. Show all posts
Showing posts with label Alokasi Aset Investasi. Show all posts

Sunday, July 11, 2010

Taktik Alokasi Aset

Minggu, 11 Juli 2010 | 04:09 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan
Strategi alokasi aset atau merupakan perencanaan investasi dengan mengalokasikan dana ke berbagai instrumen investasi yang disesuaikan dengan tujuan dan time horizon investasi itu sendiri. Biasanya, strategi alokasi aset dibuat untuk kurun waktu lima tahun.
Pertanyaannya, bagaimana jika ada perubahan dalam tujuan investasi dan juga berbagai faktor yang memengaruhinya?
Apakah alokasi aset investasi tetap seperti semula? Apakah konsisten seperti itu selama lima tahun? Jelas tidak. Alokasi aset mesti mengalami penyesuaian agar hasilnya bisa efektif. Nah, penyesuaian setiap tahunnya diistilahkan dengan taktik alokasi aset.
Misalkan, dana yang dimiliki untuk berinvestasi sebesar Rp 1 miliar. Tujuan investasi adalah agar lima tahun mendatang dimiliki dana yang cukup untuk membiayai hari tua. Dana Rp 1 miliar tersebut dilalokasikan dalam bentuk deposito berjangka sebesar 20 persen, obligasi ritel 40 persen, saham 20 persen, dan yang 20 persen lagi mungkin ditempatkan dalam sektor riil, apakah itu membuka restoran atau berkebun bunga.
Untuk setiap jenis investasi tersebut, tentunya Anda memiliki ekspektasi imbal hasil. Deposito berjangka, umpamanya, diharapkan bisa memberikan tingkat bunga 7-8 persen. Lalu, obligasi ritel sekitar 9 hingga 10 persen. Saham sebesar 15-20 persen per tahun dan berkebun bunga bisa di atas 20 persen. Jika dirata-ratakan, dari seluruh investasi Anda, diharapkan setahunnya bisa memberikan imbal hasil 12-13 persen.
Jadi, kalau tahun ini dana yang diinvestasikan sebesar Rp 1 miliar, tahun depan dana diharapkan menjadi Rp 1,13 miliar. Jika hal yang sama berlangsung terus selama lima tahun, dana Anda pada lima tahun mendatang diharapkan bisa mencapai di atas Rp 1,6 miliar. Atau bertambah 60 persen dalam 5 tahun.
Ekspektasi dan realitas
Ekspektasi tersebut belum tentu sesuai dengan realitas. Ekspektasi imbal hasil dan alokasi aset investasi di atas, pada dasarnya mengacu pada asumsi perkembangan ekonomi makro dan tujuan investasi itu sendiri. Dalam realitas, makroekonomi bisa berubah. Dampaknya, tingkat imbal hasil yang diberikan oleh berbagai instrumen investasi juga bisa berbeda dengan yang diharapkan.
Dengan kondisi seperti itu, jika Anda menginginkan dana investasi Anda tetap mencapai sekitar Rp 1,6 miliar, harus dilakukan penyesuaian dalam aset investasi. Beberapa cara yang bisa dilakukan kira-kira seperti ini.
Membuat alokasi aset investasi dalam bentuk range atau kisaran. Seperti contoh di atas, penempatan dana deposito berjangka, jangan langsung dipatok 20 persen, melainkan dalam bentuk range, misalnya antara 15 hingga 20 persen. Lalu, obligasi ritel 30-40 persen. Saham 20-30 persen dan investasi di sektor riil sebesar 20-25 persen. Dengan konsep seperti ini, Anda tetap bisa menggeser-geser alokasi dana untuk mencapai hasil investasi sesuai dengan harapan.
Katakanlah, jika suku bunga deposito turun menjadi 6 persen, berarti Anda kehilangan opportunity income sebesar 1 persen dari deposito. Untuk menghindari hal itu, jumlah deposito berjangka diturunkan dan dialihkan ke saham atau obligasi. Ini jika perubahan dilakukan secara ”reaktif” atau parsial terhadap portofolio investasi yang benar. Padahal, penyesuaian investasi juga mesti dilakukan secara terkelola dengan perencanaan yang jelas.
Berdasarkan range alokasi aset, portofolio investasi akan berubah setiap kali ada perubahan indikator makroekonomi dibandingkan asumsi. Suku bunga deposito, misalnya. Jika mengalami penurunan 1 persen, akan mendorong penurunan alokasi dana ke deposito berjangka menjadi 15 persen dari rencana sebelumnya 15-20 persen.
Demikian juga dengan alokasi aset lainnya. Alokasi ke saham bisa dinaikkan menjadi 25 persen, di mana tambahan dana baru diambil dari pencairan deposito berjangka. Konkretnya, portofolio investasi di-review secara periodik, apakah per semester atau per tahun, untuk kemudian dilakukan penyesuaian, dalam rangka respons terhadap perubahan makroekonomi. Inilah inti dari taktik alokasi aset.
Langkah pertimbangan
Masih ada langkah lain yang perlu dipertimbangkan. Pertama, penyesuaian alokasi aset investasi dalam rangka respons terhadap perubahan makroekonomi hanya akan dilakukan sepanjang berdampak pada perkiraan imbal hasil. Konkretnya, perubahan makroekonomi telah mengakibatkan target imbal hasil Anda berkemungkinan tidak tercapai. Namun, jika perubahan malah berdampak positif terhadap portofolio investasi Anda, penyesuaian tidak perlu dilakukan.
Kedua, penyesuaian alokasi aset, hanya dilakukan berdasarkan perubahan ekonomi makro, bukan berdasarkan rumor belaka. Ini penting mengingat banyak kalangan terkadang terlalu reaktif terhadap suatu isu dan kemudian mengantisipasinya dengan melakukan tindakan yang malah merugikan. Demikian juga dalam menyusun aset investasi, mengingat tujuannya adalah untuk jangka waktu lima tahun dan juga tahunan, jangan bersikap reaktif terhadap perubahan yang sifatnya sementara.
Ketiga, penyesuaian alokasi aset juga mengubah risiko investasi Anda. Berharap return atau imbal hasil lebih tinggi sama artinya dengan mengambil risiko yang lebih tinggi. Oleh karena itu, mesti dipahami, instrumen mana yang sebaiknya digeser tanpa mengubah tingkat risiko terlalu besar.
Keempat, berikan waktu yang cukup untuk merespons perubahan ekonomi makro. Jika Anda menyusun taktik alokasi aset yang bersifat tahunan, perubahan yang mesti dicermati adalah yang bersifat permanen. Misalnya, target inflasi, yang semula hanya 4 persen, ternyata kemudian menjadi 7 persen, jelas memberikan dampak signifikan. Tetapi, kalau pergerakan harga saham yang tecermin melalui indeks, belum tentu bersifat permanen.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, April 4, 2010

Investasi: Alokasi Aset Investasi

Minggu, 4 April 2010 | 03:42 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang sukses ataupun gagal dalam berinvestasi. Salah satu faktor yang paling menentukan adalah strategi ataupun cara mengalokasikan aset investasi.

Umpamakan Anda memiliki dana Rp 1 miliar. Dan teman Anda juga memiliki dana dalam jumlah yang sama. Lalu Anda berdua sama-sama melakukan investasi. Bisa dipastikan, hasil investasi tersebut akan berbeda.

Katakanlah, Anda dan teman Anda sama-sama melakukan diversifikasi alias ”tidak menempatkan semua telur dalam satu keranjang”. Artinya, dana Rp 1 miliar itu dibelikan saham, obligasi, reksa dana, tanah, dan mungkin emas. Lantas, apakah hasilnya akan sama? Tidak, karena saham yang dibeli mungkin berbeda.

Atau kalaupun membeli saham yang sama, tetapi jangka waktu investasi pada saham itu tidak sama. Anda hanya 6 bulan, sedangkan teman Anda mungkin 1 tahun. Konkretnya, kendati pilihan instrumen sama, tetapi jika jangka waktu investasi berbeda, hasilnya bisa berbeda pula.

Oleh karena itu, diversifikasi saja belumlah cukup untuk bisa meraih sukses dalam berinvestasi. Lebih dari itu, diversifikasi harus diikuti dengan perhitungan mengenai berapa besar alokasi dana pada setiap instrumen investasi. Inilah yang mungkin membedakan Anda dengan teman Anda.

Selain itu, alokasi tersebut juga mesti diikuti dengan time horizon investasi yang jelas, yakni apakah untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Kemudian, dalam alokasi aset tersebut, yang nantinya disebut sebagai portfolio investasi, Anda mesti memutuskan apakah akan menggunakan pendekatan investasi aktif ataukah investasi pasif.

Alokasi aset

Alokasi aset pada hakikatnya adalah investasi dengan melakukan klasifikasi yang berbeda untuk tiap jenis aset. Klasifikasi itu terdiri atas jenis investasi, jumlah, risiko, potensi keuntungan, jangka waktu, dan juga cara mengelola investasi itu sendiri.

Ada investasi dalam bentuk produk riil atau di sektor riil dan investasi dalam bentuk ”kertas berharga” yang diperdagangkan di pasar modal. Dalam hal ini, termasuk tetapi tidak terbatas, pada saham, obligasi, reksa dana, indeks, dan sebagainya.

Pilihan Anda terhadap alokasi aset investasi tersebut tentunya mesti disesuaikan dengan tujuan investasi itu sendiri. Pada umumnya, para investor menginginkan return yang besar dari setiap jenis investasi yang dilakukan. Dan kalau bisa return yang tinggi tersebut diraih dalam jangka pendek. Namun, ada juga yang menginginkan hasil stabil dalam kurun waktu yang panjang. Dus, tujuan investasi yang berbeda akan menghasilkan strategi alokasi investasi yang berbeda.

Setelah Anda memastikan tujuan investasi, barulah kemudian memilah alokasi aset investasi yang relevan dan sekaligus memperhitungkan ekspektasi imbal hasil serta risiko yang terkandung di dalam jenis investasi dimaksud. Katakanlah, Anda memilah aset investasi menjadi 50 persen di sektor riil dan 50 persen di pasar modal. Untuk yang di sektor riil, Anda pilah lagi menjadi properti, tanah, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Anda juga sekaligus memastikan berapa tahun investasi di sektor riil tersebut akan Anda pegang.

Sementara, yang 50 persen lagi dialokasikan untuk saham, obligasi, dan reksa dana. Jumlah pada setiap instrumen investasi itu tentu bergantung juga pada risk taking capacity yang melekat pada diri Anda. Jika Anda termasuk risk taker dan berorientasi jangka pendek menengah, tentu saham bisa menjadi pilihan yang terbesar. Selanjutnya reksa dana saham dan baru obligasi.

Diversifikasi

Ketika Anda mengalokasikan dana untuk investasi di saham, maka saham jenis apa yang Anda beli? Di sektor mana? Suka tidak suka, Anda harus juga melakukan diversifikasi lebih lanjut. Pertama, bagi dana saham Anda pada beberapa sektor ekonomi. Lalu, saham untuk papan atas yang berfundamen bagus dalam jangka menengah untuk kepastian dividen dan saham pada lapis kedua yang menjanjikan potensi capital gain.

Kedua, pilah reksa dana yang Anda beli dalam beberapa jenis, yakni reksa dana saham, reksa dana obligasi, dan reksa dana campuran. Ketiga, Anda dapat juga membeli obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah, dengan risiko sangat rendah.

Setelah Anda mengalokasikan dana pada setiap jenis investasi tersebut, maka berikutnya adalah, apakah Anda akan melakukan investasi secara pasif atau aktif. Kalau investasi pasif, nasib investasi Anda akan bergantung sepenuhnya pada pergerakan pasar. Untuk saham, misalnya, jika saham yang mengalami pergerakan harga dan kemudian Anda melepasnya, maka Anda akan mendulang keuntungan.

Demikian juga dengan reksa dana saham, yang jika indeks meningkat maka nilai asset value (NAV) dari reksa dana tersebut juga meningkat. Namun, jika harga saham jatuh, investasi Anda juga akan jatuh. Pendeknya, semua bergantung pada pergerakan pasar dengan konsep paling dasar, yakni, buy low sell high.

Namun, jika Anda memiliki nyali dan juga kemampuan investasi yang memadai, Anda bisa juga memilih strategi investasi aktif. Artinya, keberhasilan dan ataupun kegagalan investasi Anda tidak sepenuhnya bergantung pasar, tetapi lebih kepada diri Anda dalam mengambil inisiatif, terlepas bagaimanapun kondisi pasar.

Misalnya, ketika harga saham berjatuhan dan mungkin termasuk saham yang Anda miliki, maka tindakan Anda bukanlah menjual saham itu, melainkan kembali membeli, bahkan dalam jumlah lebih besar. Atau Anda membeli saham lapis kedua, yang Anda yakini memiliki potensi besar untuk bergerak, kendati investor lain kurang berminat. Hal sama juga berlaku untuk reksa dana dan obligasi. Anda aktif melakukan perdagangan dan pertukaran jenis instrumen investasi yang Anda yakini memiliki potensi capital gain dalam horizon investasi Anda.

KOMPAS