BLOGSPOT atas
Showing posts with label technical analysis. Show all posts
Showing posts with label technical analysis. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

Memulai Transaksi Saham

Minggu, 20 Februari 2011
Adler Haymans Manurung/PRAKTISI KEUANGAN

Bermain saham untuk pemula dapat dilakukan dengan berbagai tahap.

Dimulai dengan belajar mengenai pengenalan saham atau valuasi saham yang sederhana.

Pemula dapat membeli buku di toko buku tentang menilai perusahaan.

Pemula harus memulai dengan pendekatan fundamental saham walaupun ada metode lain yang dikenal dengan pendekatan teknikal. Banyak pihak yang memulai dari pengetahuan teknikal dan ada juga yang dari pendekatan fundamental. Saat ini, kalau investor pergi ke sekuritas, banyak orang membahas perusahaan hanya dari segi teknikal, bahkan iklan di surat kabar juga secara terang-terangan menggunakan teknikal, termasuk yang ada di televisi. Kedua pendekatan itu mempunyai keuntungan dan kelemahan masing-masing.

Apabila ingin bertransaksi saham, Anda harus melakukan beberapa tahapan walaupun memiliki atau tidak memiliki pengetahuan. Pertama, pemula harus mempunyai rekening di perusahaan sekuritas. Artinya, pemula harus membuka rekening pada perusahaan sekuritas. Pemula harus mendatangi perusahaan sekuritas. Tidak ada perusahaan sekuritas yang menolak investor untuk membuka rekening terkecuali faktor tertentu yang dimiliki investor atau pemain pemula saham tersebut.

Investor sebaiknya mencari sekuritas yang dekat dengan investor, baik tempat maupun variabel lain. Investor mempunyai teman pada sekuritas tersebut sehingga investor tidak sungkan menanyakan situasi pasar secara sederhana karena teman tersebut. Akibatnya proses belajar investor lebih cepat dan bisa melakukan transaksi seperti normalnya yang sudah berpengalaman.

Pada pembukaan rekening, investor harus menyerahkan fotokopi pengenal diri. Investor juga sebaiknya meminta kepada perusahaan sekuritas harus mendaftarkan rekeningnya di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Saat ini KSEI mempunyai program kepemilikan satu rekening untuk setiap investor. Nomor rekening yang dimiliki bisa dipergunakan kepada semua perusahaan sekuritas.

Uji tuntas dan setoran awal

Tahap kedua, perusahaan sekuritas melakukan uji tuntas atas isian yang dilakukan investor mengenai pembukaan rekening. Perusahaan sekuritas harus memastikan bahwa dana yang digunakan investor tidak merupakan dana untuk mencuci uang tersebut. Perusahaan sekuritas mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan uji tuntas tersebut. Investor tak perlu memaksa perusahaan sekuritas mengizinkan investor bisa langsung melakukan transaksi saham dan sebaiknya mengikuti aturan yang ada.

Ketiga, melakukan setoran awal atas pembukaan rekening. Perusahaan sekuritas meminta sejumlah dana untuk pembukaan rekening tersebut. Dana ini merupakan kewajiban bagi investor dan hampir semua perusahaan sekuritas mewajibkannya. Besaran dana yang diminta perusahaan sekuritas sangat bervariasi, dari Rp 15 juta sampai dengan Rp 50 juta. Oleh karena itu, investor harus memastikan dana yang dimiliki supaya bisa memulai transaksi saham.

Sebaiknya, dana yang dimiliki tersebut tidak dibutuhkan secepatnya, misalnya membayar uang kuliah atau biaya hidup sehari-hari. Dana tersebut dapat dikatakan dana lebih yang tidak dibutuhkan secepatnya sehingga napas bermain saham yang dimiliki investor bisa panjang. Artinya, apabila investor membeli saham dan kemudian harganya jatuh karena ketidaktahuan investor, investor tidak perlu pusing. Pasalnya, dana yang dimiliki tidak hilang, tetapi akan kembali apabila harga tersebut kembali naik, bahkan jauh lebih tinggi ketika harga saham dibeli.

Ada juga setoran awal membuka rekening koran dengan nilai yang lebih kecil, terutama investor yang ingin melakukan transaksi dengan online. Transaksi ini memang menyiapkan aturan yang sangat sederhana karena investor bisa membeli saham apabila ada dananya dalam rekening. Demikian juga investor bisa menjual saham apabila investor memiliki sahamnya. Penulis lebih menyarankan investor menggunakan rekening ini untuk bermain online karena investor lebih yakin untuk bermain saham dan tidak ada risiko yang dipikirkan investor.

Mulai bertransaksi

Saat mulai bermain transaksi saham akan diinformasikan oleh pemasaran perusahaan sekuritas karena investor sudah memenuhi kewajiban, baik setoran awal maupun administrasi yang lain. Investor bisa langsung melakukan transaksi dengan saham yang telah diminati investor. Artinya, investor sudah melakukan analisis sebelumnya mengenai saham-saham yang akan dibeli.

Saham yang akan dibeli harus disesuaikan dengan dana yang dimiliki dan harga saham tersebut. Apabila investor membeli saham yang harganya cukup besar, akan membutuhkan dana cukup besar. Investor membeli saham, maka prospek perusahaan yang dibeli investor. Prospek perusahaan dimaksudkan adalah hasil yang dicapai perusahaan, baik dari segi pendapatan maupun image dan sebagainya. Salah memilih saham, investor harus menanggung kerugian apabila harga sahamnya mengalami penurunan. Sebaiknya investor memilih saham yang siklusnya sesuai dengan siklus ekonomi sehingga harga juga meningkat.

Investor yang belum pernah bermain saham sebaiknya memulai dengan membeli saham 1 lot sampai dengan 5 lot (1 lot > 500 saham). Jual beli dengan jumlah ini perlu dilakukan dengan waktu lebih panjang. Adapun yang dinginkan dengan melakukan pembelian 1 sampai 5 lot adalah untuk pembelajaran, terutama melatih jantung investor.

Naik turunnya harga saham merupakan volatilitas yang bisa memengaruhi jantung investor. Apabila sudah kuat jantungnya karena fluktuasi harga saham, investor bisa melakukan transaksi yang lebih besar. Investor yang sudah mempunyai pengalaman bisa melakukan transaksi normal yang dimiliki pemain lainnya.

Investor juga harus menyadari bahwa bermain saham mempunyai risiko, misalnya harga saham drop tajam. Bagaimana mendapatkan informasi agar investor menjual lebih dulu ketika harga saham akan turun dan selanjutnya membeli saham lebih dulu dari yang lain ketika harga saham mau naik.

Selamat bermain saham.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, October 10, 2010

Jurus Memilih Saham

Minggu, 10 Oktober 2010 | 03:50 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Paparan berikut ini akan memaparkan lebih jauh langkah berinvestasi di pasar modal. Yang utama adalah bagaimana memilih saham yang akan dibeli dan kapan saham tersebut boleh dibeli. Hal tersebut akan diketahui berdasarkan analisis fundamental serta analisis teknikal dari setiap saham.

Secara sederhana, analisis fundamental adalah untuk mengetahui kinerja dari suatu perusahaan. Dan berdasarkan itu Anda bisa memutuskan apakah saham tersebut layak beli atau tidak. Semakin bagus kinerja dari perusahaan dimaksud, semakin layaklah saham itu untuk dikoleksi. Sedangkan analisis teknikal, akan menggambarkan kapan sebaiknya saham tersebut dibeli dan atau kapan harus dijual. Singkat kata, dalam berinvestasi di pasar modal, tentukan dulu keranjang saham yang layak untuk dibeli. Ini didasarkan atas analisis fundamental. Langkah berikutnya adalah memilih saham-saham mana saja yang akan ditransaksikan.

Tentu saja, kalau harga saham tersebut cukup murah, pada saat itulah saham tersebut Anda beli. Bagaimana langkah-langkah konkretnya?

Pertama, siapkan sekeranjang saham yang siap untuk Anda beli. Caranya sederhana. Cermati analisis para analis pasar modal yang banyak ditulis di berbagai surat kabar. Lalu berdasarkan analisis tersebut, pelan-pelan Anda kumpulkan saham-saham untuk dimasukkan dalam daftar potensi beli bagi portofolio saham Anda. Katakan, Anda sudah memilih 10 saham yang menurut hemat Anda secara fundamental saham-saham tersebut menjanjikan. Apakah langsung boleh dibeli? Jelas tidak. Itu adalah kandidat saham saja. Langkah berikutnya, Anda mesti meneliti kembali saham-saham itu ada di sektor apa saja? Jangan sampai ke-10 saham yang Anda lirik itu berada pada sektor yang sama. Sebab, mereka adalah pesaing, yang kinerjanya bisa saling bertabrakan.

Konketnya, Anda mesti memilih saham-saham dari sektor yang berbeda. Ini disebut dengan diversifikasi sektor. Misalnya, ada saham yang bergerak di perbankan/keuangan, saham di sektor pertambangan, saham di sektor perkebunan, saham di sektor properti, dan lain sebagainya. Tentu saja, belum tentu semua sektor tersebut akan cemerlang. Sebab, faktor ekonomi makro akan memengaruhi kinerja pada masing-masing sektor. Oleh karena itu, pilihlah saham dari sektor-sektor yang karakteristiknya cukup Anda kenal secara pribadi. Ini akan memudahkan Anda mencerna analisis fundamental yang sudah disiapkan para analis.

Setelah Anda memutuskan sektor mana yang menjadi prioritas Anda, barulah kemudian Anda pilih beberapa saham dari sektor-sektor tersebut. Sebagai pemula, tidak perlu memilih banyak saham. Apa lagi jika dana Anda terbatas. Cukup menyiapkan 4-5 saham saja. Misalnya dari dua atau tiga sektor. Dengan demikian, Anda bisa fokus pada saham-saham tersebut.

Alternatif

Sekarang Anda sudah memiliki beberapa alternatif kandidat saham. Akan tetapi, apakah saham-saham tersebut masih cukup murah atau sudah mahal? Ini sangat penting, karena kendati Anda membeli saham bagus, tetapi kalau harganya sudah mahal, potensi kenaikan harganya tinggal sedikit. Oleh karena itu, Anda mesti bisa menentukan saham-saham yang berkualitas, tetapi harganya masih cukup murah.

Bagaimana menentukan sebuah saham murah atau sudah kemahalan? Banyak konsep mengenai hal ini. Namun, pendekatan yang paling sederhana adalah dengan menghitung price earning ratio (PER), atau harga saham tersebut dibandingkan dengan laba perusahaan dimaksud. Saat ini, PER rata-rata di pasar modal adalah sekitar 14 X. Kalau PER saham yang hendak Anda beli masih di bawah 14 X, saham tersebut belum bisa disebut sebagai saham mahal.

Selain itu, Anda juga perlu melihat return on equity (ROE), alias imbal hasil dari modal perusahaan itu sendiri. Beberapa kalangan menganggap ROE yang baik adalah dua kali tingkat suku bunga bank. Kalau saat ini suku bunga berkisar 7 persen, ROE perusahaan mestinya ada di atas 14 persen. Itu berarti, jika ada saham yang ROE-nya di bawah 14 X dan ROE-nya di atas 14 persen, saham tersebut secara fundamental tergolong baik.

Kedua, cermati analisis teknikal dari masing-masing saham yang sudah Anda seleksi secara fundamental. Ini untuk memberikan informasi, kapan saham-saham tersebut mulai bisa Anda koleksi. Bagaimana caranya mencermati analisis teknikal? Banyak analis memberikan gambaran dalam bentuk grafik, bar chart, dan lain sebagainya, yang kemudian akan diimbuhi oleh rekomendasi buy, sell, hold, dan juga target price dari saham dimaksud. Tidak ada yang keliru dari analisa semacam itu. Akan tetapi, tidak juga memberikan jaminan bahwa rekomendasi para analis itu akan jitu dan sesuai dengan kenyataan. Kenapa? Karena harga saham bukan terbentuk dari aspek fundamental saja, tetapi juga dari aspek sentimen pasar. Analisis teknikal menggambarkan terbentuknya sebuah harga yang dikaitkan dengan sentimen pasar pada saat itu. Contohnya, ketika krisis melanda pasar modal di tahun 2008, tidak peduli saham berfundamental bagus ataupun jelek, semuanya mengalami kejatuhan harga. Kenapa demikian? Karena hampir seluruh investor menjual sahamnya dan lebih suka memegang cash. Ini dipicu oleh rasa takut terhadap imbas krisis subprime mortgage yang melanda Amerika Serikat pada waktu itu. Itu berarti, harga yang digambarkan oleh teknikal analisis sangat dipengaruhi oleh suasana kebatinan atau psikologis investor, yang setiap saat bisa berubah.

Namun, lepas dari itu, analisis teknikal bisa memberikan sinyal beli atau sinyal jual dari suatu saham. Dan sinyal itu bisa Anda pertimbangkan untuk kapan membeli atau menjual saham. Bagaimana rumus sederhananya?

Seperti diuraikaan tadi. Banyak konsep yang mengulas soal teknikal analisis, tetapi konsep yang paling sederhana adalah harga saham diperkirakan akan naik kembali setelah menyentuh level paling dasar dari harga yang pernah terbentuk sebelumnya. Dan untuk mengetahui level dasar tersebut, cermati pergerakan harga saham tersebut dalam kurun waktu satu tahun atau enam bulan terakhir. Jika harga saat ini sudah di bawah pergerakan harga rata-ratanya, dan mulai mengalami peningkatan, maka itu bisa dianggap sebagai indikator untuk siap-siap membeli saham dimaksud. Selamat mencoba. ***

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, April 11, 2010

Analisis Teknis Awal di Bursa Saham

Minggu, 11 April 2010 | 04:04 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Apakah analisis teknis saham itu?

Bagaimana menggunakannya? Analisis teknis merupakan sebuah pendekatan untuk menilai (membeli atau menjual) saham di bursa tanpa menggunakan perhitungan matematis atau prospek perusahaan pada masa mendatang. Para pemain saham di bursa menggunakan pendekatan ini karena dianggap lebih sederhana daripada pendekatan lainnya.

Semua investor telah memahami bahwa informasi yang dimiliki perusahaan akan terefleksi pada harga saham. Harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan refleksi informasi yang ada pada perusahaan. Bila harga saham mengalami peningkatan, investor yang membeli saham memperoleh informasi yang cukup bagus mengenai perusahaan terebut. Sebaliknya, bila harga saham perusahaan di bursa menurun, informasi yang buruk dalam perusahaan sedang beredar dan sudah diterima investor. Adanya informasi perusahaan yang beredar bagi para investor atau di pasar membuat jumlah permintaan dan penawaran terhadap saham mengalami fluktuasi.

Teori Dow

Pendekatan ini dimulai oleh Charles Dow dan selanjutnya terkenal dengan teori Dow dan juga pendiri The Wall Street Journal. Dow membuat gambar (chart) atas semua harga saham tersebut dengan waktu yang panjang maka pengikut pendekatan ini dikenal sebagai Chartist Analyst.

Harga saham di bursa bisa pada satu hari hanya tiga jenis, yaitu harga penutupan, harga terendah, dan harga tertinggi. Harga penutupan adalah harga saham yang transaksinya terjadi terakhir sekali dan biasanya pada penutupan pasar. Transaksi saham di bursa ditutup pada pukul 16.00. Saham yang mempunyai transaksi jual-beli sampai pukul 16.00 disebutkan harga penutupannya merupakan harga tersebut. Bila investor melihat surat kabar esok harinya, disebut harga transaksi terakhir dan menjadi harga penutupan.

Ada tiga premis dalam pendekatan teknis ini, yaitu, pertama, tindakan pasar selalu mendiskon harga atas informasi. Artinya, informasi yang masuk kepada investor melalui publik ekspose perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa selalu didiskon investor untuk saham tersebut. Misalkan, investor mendapatkan informasi dari perusahaan dan dari berbagai pihak dengan harga Rp 12.000 per saham maka investor tidak langsung menerima harga tersebut, tetapi akan menurunkan/mendiskon harga tersebut.

Kedua, harga-harga saham di bursa mempunyai arah atau kecenderungan, baik jangka pendek dan jangka panjang. Kecenderungan harga saham bisa saja naik atau turun. Umumnya, kecenderungan ini dibutuhkan investor agar bisa mengambil keputusan untuk membeli atau menjual atau menahan saham yang dimiliki atau akan dimiliki.

Ketiga, pola harga saham yang terjadi tersebut akan berulang kembali pada masa mendatang. Artinya, pola harga yang terjadi pada masa lalu akan berulang kembali. Bila pola harga tersebut terulang, investor dapat mengambil kebijakan untuk membeli atau menjual atau menahan saham yang akan dimiliki.

Grafik pergerakan

Grafik ketiga harga ini dibuat untuk periode jangka panjang. Grafik akan menunjukkan pergerakan harga. Bila sekaligus tiga harga digrafikkan dan dibuat dalam jangka panjang, ada sedikit kebingungan. Kemudian, analis chart hanya menggunakan harga penutupan. Gambar harga saham yang dibuat dalam jangka panjang memperlihatkan pergerakan harga tersebut. Gambar tersebut membuat sumbu datar (horizontal) adalah waktu dan sumbu vertikalnya harga saham.

Grafik harga saham ini dibuat secara harian dengan jangka panjang, tetapi harga masa lalu bukan harga pada masa mendatang karena harga masa mendatang tidak diketahui. Grafik harga saham tersebut bisa mendatar karena harga tidak bergerak atau tidak berubah. Harga bisa juga naik terus dan kemudian menurun sehingga membuat sebuah perbukitan dan berulang lagi membuat perbukitan yang sangat besar.

Bahkan, juga harga tersebut bisa membuat lembah yang dalam karena harga turun terus dan naik kemudian. Charles Dow membuat grafik ini dan memberikan pandangannya sehingga grafik tersebut mempunyai arti dan memberikan masukan kepada investor untuk membeli atau menjual saham.

Bila grafik harga dilihat dalam jangka panjang, misalnya bulanan dan tahunan, investor melihat kecenderungan harga yang sangat mendasar. Artinya, ke arah mana sebenarnya harga saham tersebut bergerak. Bahkan, sejumlah pihak akademik mencoba membuat siklus arah pergerakan harga saham. Untuk kasus Indonesia, harga saham yang ditunjukkan indeks sedang pada siklus keempat pada posisi kenaikan.

Pergerakan harga dengan jangka panjang ini berguna untuk melihat gambaran harga saham secara keseluruhan.

Pergerakan harga jangka panjang ini dipergunakan investor untuk mengetahui apakah situasi masa lalu akan terulang kembali. Bila terulang kembali, investor bisa mengambil keputusan dalam rangka membeli atau menjual saham yang dimiliki atau akan dimiliki investor.

Bila pergerakan harga mingguan dan bulanan dibuat pembuat analisis, analisis dikenal dengan kecenderungan jangka menengah. Akhirnya, pergerakan harga harian dikenal dengan kecenderungan dengan minor (minor trend). Pergerakan harian disebut dengan kecenderungan minor karena sangat jangka pendek dan belum dapat secara signifikan dipergunakan secepatnya untuk membeli atau menjual saham walaupun ada yang menggunakannya untuk transaksi harian.

Grafik harga dipergunakan investor untuk membeli dan menjual saham yang akan dimiliki. Investor harus hati-hati menggunakan analisis teknis ini karena kesalahan akan merugikan investor.

KOMPAS

Sunday, July 5, 2009

Investasi & Keuangan: Kaya dari Bermain Saham?

Minggu, 5 Juli 2009 | 03:03 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Belakangan berita surat kabar sangat banyak menceritakan bursa saham mengalami kenaikan atau penurunan cukup tajam. Ada juga berita investor mendapat keuntungan atas hasil investasinya mencapai 400 %. Bila dibandingkan dengan investasi pada produk lain, tidak mungkin mendapat keuntungan sebesar itu. Pertanyaannya, mungkinkah kaya dari bermain saham?

Kaya yang dimaksud adalah mempunyai dana lebih dari dana yang diharapkan, bahkan tidak perlu bekerja lagi, tetapi masih bisa hidup dari hasil uang simpanan.

Kaya juga berarti tidak perlu memikirkan bagaimana mendapatkan uang, tetapi uang datang sendiri karena sudah berlebih akibat dikumpulkan sangat lama pada masa lalu.

Kaya dari bermain saham artinya dana terkumpul karena keuntungan dari transaksi saham di bursa. Bila pemilik dana berinvestasi pada saham BUMI saat harganya Rp 470 dan kini mencapai Rp 2.000 per saham, investor tersebut mendapat keuntungan 325,53 %. Artinya, dalam tempo sangat singkat dana sudah berlipat ganda. Bahkan keuntungan itu bila dihitung dalam setahun mencapai 650 %, cukup mengagumkan, bukan?

Bila investor juga masuk ke saham ASII, ia akan mendapat untung cukup besar pula. Saham ini pernah mencapai harga Rp 10.000 per lembar dan kini Rp 24.000, berarti investor mencapai keuntungan sekitar 140 % dalam waktu kurang dari enam bulan.

Banyak lagi saham lain yang memberi tingkat pengembalian cukup menggembirakan bagi investor yang tepat melakukan investasi saham. Sayangnya, investor hanya melakukan investasi dalam jumlah kecil dengan alasan melakukan diversifikasi. Bayangkan bila investor melakukan investasi satu juta saham.

Bila investor bertransaksi jual beli, pada harga tinggi menjual dan membeli kembali saat harga turun, keuntungan akan lebih tinggi lagi. Adanya harga saham yang naik dan kembali turun sudah sering terjadi, terutama pada saham yang kerap digoreng. Artinya, investor yang piawai bertransaksi dalam sehari bisa memperoleh keuntungan dua atau tiga kali karena saham bisa dua, tiga, bahkan empat kali naik-turun seperti yoyo.

Untuk mendapat saham yang memberi tingkat pengembalian tinggi, investor harus memerhatikan saham tersebut secara saksama. Bila perlu, harus menunggu di depan monitor transaksi harga saham. Tetapi, ada juga pemain saham yang tidak memberi perhatian saksama dan tetap mendapat keuntungan besar.

Investor juga bisa menghubungi analis perusahaan pialang di mana investor bertransaksi untuk berdiskusi. Investor harus menyimak dan menganalisis agar hasil dapat lebih maksimal. Investor juga harus mengenal analis tersebut supaya lebih wajar bertransaksi saham yang diinginkan. Tetapi, belakangan ini karena IHSG naik terus, sering kali investor tidak menggunakan pandangan analis karena apa pun yang dibeli pasti naik. Informasi yang diperlukan investor adalah keberlangsungan hidup dari saham yang akan diinvestasikan.

Dua pendekatan

Investor dapat menggunakan dua pendekatan dalam analisis saham, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.

Pendekatan fundamental mencoba menganalisis saham sampai mendapatkan harga intrinsik saham dan kemudian membandingkannya dengan harga pasar saham. Bila harga intrinsik saham lebih tinggi daripada harga pasar, saham tersebut dibeli. Pendekatan ini mencoba meramal harga saham dengan menggunakan informasi fundamental perusahaan. Analis dengan pendekatan ini juga mencoba menganalisis perkembangan tingkat bunga ke depan. Pendekatan fundamental menyatakan, dalam membeli saham yang dibeli prospek perusahaan.

Pendekatan teknikal menggunakan volume transaksi dan harga saham masa lalu untuk menentukan harga. Biasanya, harga saham dibuat dalam bentuk gambar (chart) sehingga ditemukan kemungkinan harga saham yang akan terjadi. Asumsi yang sering didengungkan pencinta pendekatan ini, pola harga saham akan berulang kembali. Karena itu, pendekatan ini juga sangat bagus dan dapat menentukan kapan membeli saham.

Ada juga investor yang menggunakan kedua pendekatan tersebut dalam bertransaksi. Pendekatan fundamental digunakan untuk mendapatkan harga intrinsik saham dan pendekatan teknikal untuk menentukan waktu membeli saham. Biasanya, penggunaan dua pendekatan ini memberi hasil lebih optimal daripada hanya satu pendekatan.

Tetapi, investor juga harus hati-hati karena transaksi saham mempunyai risiko cukup tinggi dibandingkan dengan transaksi deposito, obligasi, dan properti. Bila investor tidak kuat melihat harga saham menaik atau menurun tajam, jangan mencoba karena bisa membuat jantung investor tidak berdenyut.

Umumnya, investor usia muda bisa menolerir transaksi yang sangat fluktuatif. Bermain saham tidak disarankan untuk investor yang tidak bisa menolerir risiko tersebut, umumnya mereka yang berumur lebih dari 60 tahun. Investor yang mempunyai pekerjaan tetap dan dana yang dimiliki tidak dipergunakan untuk periode minimum lima tahun sebaiknya mencoba transaksi saham.

Yang harus diperhatikan, bila harga drop, jangan panik. Investor tetap sabar karena harga saham bisa naik kembali, terutama perusahaan yang kinerjanya baik atau berumur panjang.

Kompas

- Muhammad Idham Azhari

Monday, February 23, 2009

Saham Pekan Ini: Masih Didominasi Regional

Senin, 23 Februari 2009 | 07:43 WIB

Perdagangan saham, pekan ini diperkirakan masih akan didominasi sentimen dari eksternal. Setelah pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,12 persen menembus level minor support di 1.300. Penurunan indeks didorong oleh melemahnya bursa regional. "Faktor regional masih akan berpengaruh besar pada pergerakan indeks," sebut Analis Riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono.

Pergerakan bursa global antara lain dipengaruhi oleh data produk domestik bruto Jepang dan Eropa yang melemah, serta berita paket stimulus di Amerika Serikat. Indeks Dow Jones juga terus bergerak melemah menembus level terendah dalam 6 tahun terakhir. Melemahnya perekonomian negara maju akan secara langsung berpengaruh pada kinerja ekspor Indonesia, yang juga terus menunjukkan trend melemah.

Tertembusnya level support 7.500 pada hari Kamis, membuat Dow Jones memasuki trend bearish untuk jangka pendek. Dari perbandingan chart antara Dow Jones dan IHSG terlihat penurunan Dow Jones terjadi lebih tajam pada pekan lalu. Pada Jumat, Wall Street kembali melorot, dengan indeks Dow Jones Industrial Average merosot 100,28 poin (1,34 persen) menjadi 7.365,67, kemudian indeks S&P 500 melemah 1,14 persen pada 770,05, serta indeks komposit Nasdaq turun 0,11 persen. Secara keseluruhan pekan lalu, Dow turn 6,2 persen, Nasdaq melorot 6,1 persen, serta S&P 500 anjlok 6,9 persen.

Sebagai perbandingan, pada November 2008 lalu ketika Dow Jones berada di level 7.500, IHSG berada di level 1.140-an. "Untuk pekan ini kami perkirakan IHSG berada pada support-resistance pekan ini berada 1.230-1.335," ujarnya.

Sementara dari dalam negeri, beberapa aksi korporasi oleh emiten tampak mewarnai pergerakan bursa pekan lalu, seperti tender offer ISAT, rencana akuisisi PTRO oleh INDY, dan juga perkembangan aksi korporasi BUMI terhadap 3 perusahaan batubara. Kamis pekan lalu Bapepam menyatakan akan menunjuk penilai independen terkait akuisisi perusahaan oleh BUMI.

Saham ISAT, TLKM, dan BBCA tercatat menjadi beberapa saham yang mendorong indeks turun pekan lalu. "Ditengah kondisi pasar yang belum kondusif, investor juga memilih untuk melakukan trading on news," ujarnya

Selain itu pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif dan beberapa kali menembus level Rp 12.000 per dollar AS. "Pekan ini kami perkirakan indeks masih akan bergerak melemah meski tekanan jual mulai mereda," sebutnya.

Purwoko merekomendasikan saham consumer goods seperti UNVR, KLBF, dan INDF tampaknya dapat menjadi pilihan investor ditengah tekanan pada saham perbankan dan pertambangan yang biasanya mendominasi pergerakan indeks.

EDJ

Kompas