BLOGSPOT atas
Showing posts with label blogger. Show all posts
Showing posts with label blogger. Show all posts

Saturday, April 17, 2010

PROFIL USAHA: Maju dengan Sekolah Bloger

Sabtu, 17 April 2010 | 03:45 WIB


Stefanus Osa Triyatna

Mungkin agak aneh terdengar, kalau bikin blog mesti ada sekolahnya. Akan tetapi, itulah bisnis blog yang dijadikan peluang oleh Asri Tadda, pemuda Luwu Timur, Sulawesi Selatan, untuk membangun semangat kewirausahaan mandiri tanpa harus memiliki kantor.

Kegetolan Asri Tadda (29) mampir di warung internet telah mengubah kehidupannya, bahkan mengubah arah cita-cita sebagai dokter sebagaimana diharapkan orangtuanya. Padahal, ke warung internet (warnet) itu dilakukan di sela-sela kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Alasan sulitnya membiayai kuliah membuat pemuda kelahiran Pabeta, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu memulai bisnis online sejak awal tahun 2007. Asri menekuni aktivitas online sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2005.

Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief ini, kegemarannya mampir di warnet bikin kesal keluarganya. Karena menekuni bisnis online, kuliahnya sempat tersendat-sendat. Namun, beginilah cara Asri membiayai kuliahnya.
Maklum, Asri mengaku hanyalah seorang pengelola petak pertambakan air asin dan penggiling gabah. Itulah modal untuk membiayai kuliahnya.

Padahal, di warnet itulah Asri menghabiskan waktunya membaca kisah-kisah sukses pengusaha besar. Sampai-sampai, dirinya tertarik untuk bisa berwirausaha. Syukur-syukur bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

”Dari membaca-baca, terutama informasi masalah sosial, saya menulis berbagai opini di surat kabar lokal,” kata Asri.

Awal tahun 2007 Asri mengenal bisnis blogging melalui program blog advertising. Perkenalannya dengan dunia blog dimulai dari aktivitas untuk menulis dan memublikasikan artikel, puisi, dan tulisan curahan hati alias curhat secara online pada media hosting blog gratis.

Karena rajin mencari informasi seputar bagaimana cara menghasilkan uang dari internet, akhirnya Asri menemukan titik terang dalam bisnis online hingga saat ini.

Asri mengakui, hambatan terbesarnya adalah keterampilan. Dia sama sekali tidak punya dasar pengetahuan tentang internet dan website sehingga awal perjalanan bisnis online-nya sangat lambat. Semua prosesnya otodidak.

”Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing,” kata Asri.

Hingga saat ini dia memiliki sekitar 200 blog dengan berbagai tema dan semuanya disajikan dalam bahasa Inggris. Meskipun sibuk, Asri menyempatkan diri meng-update blog-blog tersebut. Bahkan, dia punya target membuat 2-3 blog baru setiap bulan. Semua ini sebenarnya menjadi investasi bisnis online ke depan.

Bisnis serius

Sejak April 2009, Asri bersama rekan-rekannya di AstaMedia Group meluncurkan AstaMedia Blogging School pada bulan Maret 2009 di Makassar. Namun, sekolah itu baru diluncurkan secara resmi ke publik pada 16 Mei 2009.

Tujuannya adalah berbagi peluang mendapatkan penghasilan dan membuka lapangan pekerjaan alternatif, khususnya bagi generasi muda. Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu Blogging Basic untuk para pemula, Blogging Pro untuk mereka yang sudah fokus mengelola dan mengoptimalkan blog sebagai sumber penghasilan, dan Blogging for Professionals untuk mereka yang memiliki profesi tertentu, tetapi sangat ingin belajar blogging.

Asri menjamin, dalam masa maksimal tiga bulan setelah proses pendidikan dan pelatihan selesai, para siswa yang sudah lulus di Blogging Pro akan memiliki penghasilan dari blog-blog mereka. Apalagi, tenaga pengajarnya adalah para bloger senior yang sudah malang melintang dalam dunia blog advertising dan menghasilkan banyak uang dari blogging sehingga secara tidak langsung juga turut menumbuhkan motivasi bagi para siswa.

Target utama Blogging School ini adalah kalangan generasi muda. Namun, dirinya tidak menutup diri jika ada kalangan masyarakat umum. Saat ini ada sekitar 100 siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. 

Sebagian besar di antara mereka kini sudah berpenghasilan di atas 250 dollar AS atau Rp 2 juta per bulan.
”Memang, mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini adalah tantangan kami di AstaMedia Blogging School,” kata Asri, yang pernah juara kedua Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tingkat nasional tahun 2008.

Dapat dikenal

Pengetahuan blogging diharapkan dapat dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia dan menjadi lapangan kerja alternatif yang minim modal, tetapi dengan potensi yang sangat besar.

Asri mengakui, ada beberapa orang yang menyangsikan bisnisnya karena ilmu blogging sesungguhnya sudah sangat berlimpah di internet. Hanya saja, tidak semua orang bisa belajar tanpa pendampingan. Buktinya, tingkat kesuksesan AstaMedia Blogging School kini mencapai 85 persen. Artinya, hanya sekitar satu orang dari setiap kelas yang menemui hambatan berarti dalam mencapai penghasilan online.

Saat ini Asri mengatakan sudah menghasilkan 12 angkatan alumni Blogging Pro dan 20 angkatan tingkat dasar. Siswa di AstaMedia Blogging School memang diberikan jaminan, dalam masa maksimal tiga bulan akan mendapatkan penghasilan online dari blog. Hal ini sudah dibuktikan pada semua angkatan alumni.
Bahkan, sebagian besar dari siswa sudah menghasilkan uang dari blog mereka pada akhir bulan pertama masa belajar atau malah ketika sedang mengikuti pelajaran kelas.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Thursday, July 9, 2009

Mudahnya Berbuat Baik

Kamis, 9 Juli 2009 | 08:55 WIB

Oleh: Roy Thaniago

Siapa nyana bahwa umur blog yang belum menapaki bilangan dasawarsa ternyata beranakpinak dengan amat beragam, amat pelangi?

MAKSUDNYA, bahwa blog yang dipopulerkan pertama kali oleh blogger.com milik perusahaan Google (setelah diakusi dari Pyralab), kini hadir dalam perwajahan yang beragam. Kalau selama ini blog lebih identik dengan halaman maya yang memuat salinan keseharian seseorang, maka siap-siaplah menyimpan kembali anggapan itu setelah melihat blog yang satu ini.

Coba ketikkan keluargapelangi.blogspot.com bila sedang berselancar di dunia maya. Di alamat tersebut, mata kita akan disambut dengan warna dominan hijau dengan sebuah gambar yang tergantung di kepala halaman. Gambar tersebut sama sekali tidak proporsional. Bagi yang mengerti komposisi visual tentu akan tersenyum kecut, meledek dalam hati.

Pada gambar sederhana itu tergambar dua sosok makhluk kartun yang bentuknya sama sekali tidak menarik. Dua makhluk tersebut menunjukkan sosok dewasa (mungkin kakak atau orangtua) yang menggandeng anak kecil yang memegangi permen lollipop. Mereka berdiri berhadapan dengan gunung yang menyembulkan sebilah pelangi.

Bila memilin scroll pada mouse ke halaman bawah, kesan bahwa ini blog main-main tetap terasa. Tak ada yang istimewa pada desainnya, fiturnya, maupun teknik mengoperasikan blog. Dan bila mata kita sampai pada masing-masing foto anak perempuan yang diberi keterangan nama, umur, kelas, deskripsi latarbelakang, sampai biaya hidup dan sekolah, barulah kita mengerti bahwa ada sesuatu yang mendalam di balik keluguan tampilan blog ini.

Foto-foto tersebut adalah pelangi tersebut. Merekalah kanak-kanak yang menyinari kehidupan dengan keriangan. Kanak-kanak yang pada kenyataannya mesti menanggung derita akibat ulah mereka yang lebih tua. Mereka anak-anak panti asuhan yang kehilangan keluarganya yang entah bercerai, ditinggal mati, atau tak kuat membiayi hidup. Namun sinar dalam mata mereka tidak akan hilang karena ada dua orang sahabat yang menaruh mereka dalam hati dan pikiran.

Adalah Andrea Christina dan Vanessa, dua orang sahabat yang berani menceburkan diri mereka dalam genangan masalah orang lain. Dea – panggilan dari Andrea – bersaksi kalau ia mulai mendirikan blog ini sekitar awal April 2008. Berawal dari e-mail seorang kawan yang pernah mengunjungi sebuah panti asuhan dan kemudian membuat gerakan orangtua asuh.

Secarik surat elektronik tersebut kemudian memancing kepekaan dalam diri Dea, yang berujung pada kerelaannya mengangkat anak asuh. Bukan itu saja, Dea bahkan mengirim e-mail berantai pada teman-temannya, berharap para teman larut dalam solidaritas yang dihimpun Dea. “Menyadari kalau sistem seperti itu ribet, akhirnya muncul ide untuk membuat semacam website untuk program ini”, jelas Dea mengenai blog Keluarga Pelangi.

Panti Asuhan yang dijadikan partner dalam usaha sosialnya ini bernama Pondok Damai. Panti yang hanya menampung anak-anak perempuan dari berbagai latar belakang ini terletak di Bekasi, Jawa Barat. Dengan dikelola 3 suster dan 15 karyawan, panti yang berdiri sejak tahun 1979 ini tengah menampung 72 anak dari umur 5-16 tahun.

Sampai saat ini, lewat blog Keluarga Pelangi, sudah terjaring 15 orangtua asuh untuk 10 anak yang tinggal di panti asuhan. Menariknya, sebagian besar orangtua asuh justru berdomisili di luar Indonesia. Maka melihat fakta ini, Dea dan Vanessa juga membuatkan versi bahasa Inggris blog ini agar dapat diakses oleh mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Bagi kedua sahabat yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan di negeri kangguru ini, tugas sebagai moderator blog tidaklah usai. Karena acap kali mereka juga bertugas menjadi tukang pos atau belanja keperluan sehari-hari bagi anak-anak panti. Motivasi dua perempuan muda dalam mengelola blog ini sangat lugu seperti tampilan blognya. Dea bahkan berujar singkat, “Mendingan kita bantu pemerintah dengan cara yang positiflah”.

Nah, masih berani menyematkan anggapan bahwa blog hanya memuat sesuatu yang sepele dan remeh temeh? Lewat blog Keluarga Pelangi kita tahu, bahwa banyak medium yang dapat dipakai untuk berbuat baik. Dan lewat sepasang sahabat Dea dan Vanessa, kita belajar sesuatu, bahwa berkarya tidak perlu tertunda karena umur dan materi.

Roy Thaniago
Penggiat di Agenda 18

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Saturday, January 31, 2009

SOSOK: Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress

Sabtu, 31 Januari 2009 | 04:22 WIB

PEPIH NUGRAHA

”Matt, apa rencanamu ke depan setelah berhasil merintis dan menciptakan WordPress yang belakangan dikenal luas di kalangan blogger di seluruh dunia?” Itu pertanyaan sederhana yang diajukan kepada seorang pemuda asal Amerika Serikat. Matt tak kalah sederhananya dalam menjawab, ”Menikah dan punya anak.”
Rendah hati, tenang, berbicara pelan, tidak basa-basi. Itulah Matt Mullenweg. Di kalangan blogger dunia, Matt, panggilannya, adalah ”malaikat” yang teramat baik hati karena mau menggratiskan mesin blog kepada siapa pun yang mau mengambilnya di WordPress.

Oleh karena gratis dan berbasis open source, banyak sukarelawan yang terus membangun dan memperbaiki tampilan WordPress. Mulai dari cangkang atau themes blog yang beraneka ragam, sampai widget khusus untuk menghitung banyaknya pengunjung yang masuk.

WordPress dikenal sebagai penyedia blog paling progresif belakangan ini yang bisa dipadankan dengan situs pertemanan, Facebook. Hingga tahun 2008, tercatat 230 juta pengakses tetap (unique visitors) dengan 6,5 miliar halaman WordPress yang dilihat. Ada 35 juta posting baru dengan tambahan rata-rata empat juta posting setiap bulan. Data itu cukup menggambarkan betapa progresifnya WordPress.

Keberadaan Matt Mullenweg di Jakarta hanya dua hari, pada 17-18 Januari, saat ia menjadi pembicara pada WordCamp yang di Asia Tenggara baru Filipina dan Indonesia (Jakarta) yang mengadakannya.

Ini ajang berkumpulnya pengguna, penyuka, dan pengembang WordPress di Tanah Air sehingga komunitas Blogger Anging Mammiri dari Makassar pun memerlukan datang. Di seluruh dunia, total sudah 29 kali WordCamp diselenggarakan, mulai Afrika sampai Australia dengan kehadiran 3.400 anggota.

Di Jakarta, WordCamp yang bertema ”Learn from the Best” dan berlangsung di Erasmus Huis itu terselenggara berkat prakarsa seorang penggila WordPress, Valent Mustamin. Selama dua hari itulah Kompas menguntit dan menangkap Matt yang sangat santun.

Untuk ukuran perintis sebuah mesin penghasil blog yang mewabah di seluruh dunia, usia Matt juga masih tergolong sangat muda, 25 tahun.

Pendidikan politik

Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari Blogger, Multiply, LiveJournal, MoveableType, TypePad, dan salah satunya dari WordPress yang disediakan Matt.

Bernama lengkap Matthew Charles Mullenweg, ia lahir di Houston, Texas, 25 tahun lalu. Matt pernah bekerja di perusahaan media berbasis internet, CNET, sebelum mengembangkan dan merintis perangkat lunak open source untuk nge-blog.

Lalu, dari mana dia mendapatkan uang dengan menciptakan peranti lunak open source semacam WordPress? Matt menjawab, ”Saya tidak mencari uang dari situ.”

Pun ia menampik kalau suatu saat WordPress akan dijualnya kepada perusahaan raksasa internet dengan harga selangit, seperti halnya Blogger atau YouTube, situs video terpopuler berbasis user generated content yang dimiliki Google.

Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate, dan BuddyPress.

”Jangan selalu beranggapan bahwa uang adalah segala-galanya,” kata Matt tentang sikap berbaginya yang melabrak batas negara dunia itu.

Untuk seorang entrepreneur muda dan sukses, penampilan Matt relatif sederhana, celana jins dan kaus oblong yang dibungkus kemeja. Dia suka menjinjing tas dan iPhone bercangkang huruf ”W” sebagai kependekan dari WordPress.

Uniknya, latar belakang Matt bukan ilmu komputer atau teknologi informasi, melainkan ilmu politik. Ia menimba ilmu itu selama dua tahun di sebuah college sebelum akhirnya berhenti karena membangun infrastruktur sebuah mesin online yang menyita banyak waktu. Beruntung Matt mendapat dorongan penuh kedua orangtuanya.

”Mereka tahunya saya orang di balik WordPress,” katanya.

Bukan jurnalis

Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2. Keperluannya hanya sebatas memajang hasil foto dia di media online saat berkunjung ke Washington DC.

Maklum, waktu itu perangkat lunak untuk keperluan nge-blog belum mewabah. Dari kode sederhana b2, Matt bersama dua rekannya, Mike Little dan Michel Valdrighi, mulai membangun WordPress.

Adakah Matt berlatar belakang jurnalis atau media sehingga penyedia blog gratisan itu menggunakan embel-embel ”Press”? Matt mengatakan, ”Tidak ada sama sekali.” Menurut dia, nama itu diberikan oleh seorang teman, Christine. ”Itulah yang saya ingat,” jawabnya.

Matt juga bercerita bagaimana semasa bersekolah di SMU ia merancang dan membuatkan sebuah situs untuk sekolah itu. Ia juga membuat situs untuk grup jazz lokal di kota kelahirannya, Houston. Kemahirannya merancang web juga didukung oleh ayahnya yang bekerja di Microsoft. Matt mengaku pernah jatuh-bangun merancang WordPress, tetapi ia terus mencoba lagi.

Untuk urusan jazz, Matt boleh dibilang serius menekuninya. Apalagi ia pemain saksofon yang andal. Untuk keterampilan bermusiknya itu, dia memerlukan belajar di sebuah sekolah seni. Bahkan yang tidak banyak diketahui banyak orang, Matt adalah pemain keyboard dvorak, yakni alat musik seperti piano yang tuts-tutsnya mengadopsi papan ketik komputer ”QWERTY”.

Matt baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-25 pada 11 Januari lalu. Salah satu rencana yang menurut dia harus direalisasikan segera adalah belajar bahasa Spanyol.

Mengapa bahasa Spanyol yang mau dipelajarinya? ”Spanyol adalah bahasa terbesar kedua pengguna WordPress setelah bahasa Inggris,” katanya.

Cukup mengejutkan bila Matt mengungkapkan bahwa bahasa ketiga terbesar pengguna WordPress adalah bahasa Indonesia. Situs Alexa mencatat, 280.000 blog WordPress menggunakan bahasa Indonesia.
”Saya menaruh hormat, dan untuk alasan itulah saya ada di Jakarta,” ujar Matt.

Kompas

- Muhammad Idham Azhari

Komentar Ane sbb: "Sekarang ini banyak sekali ISP yang memasukkan wordpress kedalam layanan hostingnya dikarenakan wordpress cukup banyak feature didalamnya....so...belajar wordpress dari sekarang......tentunya bukan hanya untuk kepentingan pribadi saja, tapi di bisnis-kan!..."
Untuk pembelajaran yang detail, dapat mendaftarkan diri ke http://www.AsianBrain.com/index.php?aff_code=699550 ................"