BLOGSPOT atas
Showing posts with label investasi. Show all posts
Showing posts with label investasi. Show all posts

Saturday, October 26, 2019

Seminar Kesehatan dan Investasi yang Menguntungkan

Seminar Kesehatan dan Investasi yang Menguntungkan
Seminar Kesehatan dan Investasi yang Menguntungkan

Seminar & Investasi

Anda dapat semakin SEHAT dan SEJAHTERA dengan melibatkan diri pada Seminar Kesehatan dan Investasi yang Menguntungkan! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari) untuk Konsultasi.Gratis...

Seminar Kesehatan Hydrogen dan Investasi Llifewater yang Menguntungkan

Hadirilah Seminar Kesehatan Hydrogen pada tanggal 27 Oktober 2019 di Yogyajarta dan ikuti Investasi nya. Dalam 5 tahun Anda akan dapatkan keuntungan 77 persen! bandingkan dengan Investasi Deposito atau yang lebih progresif seperti Investasi Saham!!
Investasi ini diwadahi oleh Llifewater. Berinvestasi sekaligus menyehatkan Orang lain. Llifewater berdiri di Indonesia sejak pertengahan tahun 2015, dan mulai intensif memasarkan Mesin Water Ionizer Gen-2 mulai Oktober 2018. Sebelumnya perusahaan kami telah berkiprah
di Indonesia, memasarkan berbagai peralatan rumah tangga sejak tahun 1999 hingga saat ini di bawah bendera PT Kuche Indonesia.
Dalam kurun 1 tahun terakhir (Oktober 2018 – September 2019) kami telah menjual & menyewakan sekitar lebih dari 5000 unit, dengan rata-rata saat mencapai 400-500 unit mesin per bulannya.
Untuk keterangan lebih lanjut dan konsultasi gratis hubungi Idham Azhari (CALL/WA 08557772226).
Follow Akun Instagram RUANG DOKTER ID berikut ini untuk mendapatkan Informasi Kesehatan dari Dokter-Dokter Spesialis, https://www.instagram.com/idruangdokter/

Sunday, January 22, 2012

INVESTASI: Adakah Efek Januari?

KOMPAS, Minggu, 22 Januari 2012

OLEH ADLER HAYMANS MANURUNG

Pada Januari ini, berbagai pihak sedang membahas apakah ada efek Januari (January effect) di Bursa Efek Indonesia. Sementara bursa Amerika sudah selalu membahas adanya January effect karena konsep January effect datang dari mereka. Tulisan kali ini membahas January effect tersebut.

January effect adalah rata-rata tingkat pengembalian yang diperoleh investor selama bulan Januari lebih tinggi dari tingkat pengembalian pada bulan lain. Investor yang melakukan pembelian pada awal Januari dan dijual pada akhir Januari jauh lebih tinggi dari tindakan yang sama dilakukan pada Februari atau Juli atau Desember. Kenapa bisa itu terjadi harus dipahami oleh semua pihak dan investor agar tidak gegabah menyatakan pengaruh January effect.

Analis pasar modal biasanya menerbitkan laporan peramalan pendapatan perusahaan pada akhir Desember setelah Natal. Analis tersebut melakukan company visit ke perusahaan yang terdaftar di bursa pada November dan melakukan analisis untuk hasil yang dicapai pada tahun berjalan dan meramalkan pendapatan serta laba bersih untuk tahun mendatang. Ramalan pendapatan dan laba bersih paling sedikit dua tahun untuk melihat gambaran ke mana arah harga saham perusahaan bersangkutan pada masa mendatang.

Laporan

Laporan tersebut mulai dikirimkan kepada investor sejak pertengahan Desember dan sampai di tangan investor pada akhir bulan. Investor (baca: fund manager) mulai membaca laporan tersebut pada awal Januari. Hall ini terjadi dikarenakan investor melakukan liburan Natal dan Tahun Baru. Ketika masuk pada awal Januari dan membaca laporan tersebut, fund manager sudah berpikir tahun berjalan atau satu tahun ke depan (sebelumnya disebut tahun peramalan). Akibatnya, fund manager harus mendapatkan berapa laba bersih tahun berjalan. Artinya, tahun berjalan ketika Natal tak berlaku lagi data atau informasi yang dipegang selama ini karena tahunnya sudah berbeda. Fund manager atau investor melakukan investasi pada saham dikarenakan investor membeli prospek perusahaan.

Berdasarkan informasi yang dimiliki saat itu, yaitu laporan analisis dari analis tersebut termasuk analis dari dalam perusahaan, fund manager melakukan perubahan strategi investasi dengan menjual saham yang dianalisis, berdasarkan laporan, tidak prospektif dan membeli saham yang dianalisis sangat bagus memberikan pertumbuhan sebagai pengganti yang dijual. Tindakan ini dilakukan oleh fund manager untuk memenuhi target tingkat pengembalian investasi yang dimiliki agar investor tidak lari dari yang dikelola.

Fund manager yang terus membeli saham mulai awal sampai akhir Januari membuat harga saham mengalami peningkatan cukup tinggi. Dalam kasus perhitungan, besaran tingkat pengembalian tesebut paling sedikit 5 persen dan bisa mencapai 20 persen. Tingkat pengembalian ini cukup besar bila dibandingkan dengan tingkat pengembalian pada deposito dan obligasi yang hasilnya tidak melebihi 1 persen. Bila tingkat pengembalian pada saham tersebut dikurangi tingkat pengembalian yang bebas risiko, premium cukup besar dan, bila disetahunkan, hasilnya cukup tinggi sekali. Hasil tingkat pengembalian yang tinggi ini disebut dengan January effect.

Tidak terjadi

Apakah ada January effect di bursa saham Indonesia? Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap data IHSG, tidak terjadi tingkat pengembalian yang tinggi di Indonesia pada Januari. Adapun tingkat pengembalian yang tinggi terjadi pada Desember sehingga dapat disebut December effect.

Manurung (1996, 2006, dan 2008) telah menemukan adanya efek Desember ini. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa bursa mengalami penurunan pada Juli sampai Oktober dan mengalami kenaikan pada November. Broto (2011) mendukung hasil penelitian Manurung tersebut, yang menyatakan efek Desember yang terjadi di Indonesia. Terjadinya tingkat pengembalian pada Desember dikarenakan bursa saham Indonesia belum efisien dan banyak pihak (terutama investor asing) menyatakan bursa Indonesia merupakan bursa spekulasi dan masih jauh untuk bursa investasi.

Faktor utama yang membuat pernyataan tersebut dikarenakan investor yang masih dikuasai oleh sedikit investor yang sudah bisa memahami permainan saham tersebut.

Artinya, jumlah investor yang setiap hari melakukan perdagangan tidak begitu banyak dan paling banyak 10.000 investor walaupun rekening investor sudah mencapai ratusan ribu.

Berdasarkan empiri yang diuraikan sebelumnya, investor Indonesia sebaiknya melakukan transaksi pada Desember untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil investasi yang lebih baik sekali, investor melakukan pembelian pada pertengahan Oktober dan menjualnya pada akhir Desember.

Selamat berinvestasi.

Quoted by Muhammad Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, June 26, 2011

INVESTASI: Kenapa Harga Saham Naik?

OLEH ADLER HAYMANS MANURUNG

Kenapa harga saham bisa naik, padahal sebelumnya turun? Apakah investor tahu kenapa terjadi kenaikan?

Harga saham menurut teori ditentukan dengan dua pendekatan: pendekatan determinan harga dan pendekatan stokastik. Pendekatan determinan merupakan sebuah kelompok yang selalu dibahas akademisi maupun praktisi, tentang pengubah apa saja yang memengaruhi harga saham. Pengubah tersebut sangat banyak dan banyak pihak suka mengaitkannya. Bahkan, rumor yang tidak jelas sumbernya bisa menjadi faktor kenaikan atau penurunan harga.

Investor ingin membeli saham karena ingin meningkatkan dana. Misalkan dana investasi Rp 500 juta ingin ia tingkatkan menjadi Rp 1 miliar. Peningkatan ini memerlukan waktu investasi yang cukup panjang, terutama investasi pada saham yang merupakan investasi jangka panjang.

Untuk kenaikan nilai investasi, harga saham harus meningkat, dan peningkatan itu terjadi di masa mendatang, bukan di masa lalu. Artinya, pembelian saham bagi investor merupakan pembelian prospek perusahaan di masa mendatang. Bila harga saham tersebut dianggap tidak akan meningkat, tidak akan dibeli karena peningkatan harga merupakan keuntungan bagi investor yang lebih dikenal dengan capital gain. Oleh karena itu, investor pasti menghindari saham yang tidak memiliki kenaikan harga saham pada masa mendatang.

Salah satu pengubah yang diperhatikan investor untuk membeli saham adalah laba perusahaan pada masa mendatang. Yang diinginkan adalah laba bersih yang meningkat dalam jangka panjang sehingga terjadi kenaikan harga terus-menerus. Tetapi, investor yang mempunyai periode waktu lebih pendek, kenaikan laba satu tahun sudah punya indikasi untuk membelinya. Akibatnya, laba bersih tahun mendatang sudah cukup untuk mengambil keputusan membeli saham.

Agak susah memang meramal pada masa mendatang periode lebih panjang. Peramlan lebih panjang akan menimbulkan risiko dikarenakan ketidakpastian yang terjadi pada masa mendatang.

Bagi mereka yang biasa bermain saham hanya menggunakan satu tahun dan proyeksi satu tahun sudah sangat baik. Pengubah lain yang perlu diperhatikan investor, yaitu tindakan korporasi. Informasi ini sangat dibutuhkan untuk mengaitkannya pada pendapatan atau laba bersih perusahaan. Tindakan korporasi ini biasanya harus diinformasikan kepada publik paling lambat 2 x 24 jam. Tapi, sering informasi tersebut sudah tercecer ke publik sebelum resmi diinformasikan.

Akibatnya, sering investor mencari informasi ini untuk bisa bertransaksi walaupun hal ini mendekati pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum di pasar modal sudah dikategorikan pidana.

Rekam Jejak

Pengubah lain yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, yaitu manajemen perusahaan atau rekam jejak manajemen. Pengubah ini penting untuk memberikan keyakinan kepada investor bahwa perusahaan dikelola dengan baik dan akan terjadi keberlangsungan perusahaan.

Setelah memahami informasi yang diuraikan sebelumnya, kenaikan harga saham di bursa dipengaruhi dua kelompok besar, yaitu informasi dari internal perusahaan dan informasi dari eksternal perusahaan. Informasi internal perusahaan adalah informasi yang diuraikan sebelumnya. Informasi ini harus didapatkan oleh investor guna menilai perusahaan karena investor tidak mungkin memutuskan untuk membeli atau menjual berdasarkan perasaan investor.

Regulator juga membuat peraturan agar informasi dari dalam perusahaan disampaikan kepada publik sebagai bahan bagi investor. Bila perusahaan tidak menginformasikan, perusahaan dianggap melanggar hukum dan investor kemungkinan akan menghindari perusahaan. Akibatnya, jumlah transaksi saham semakin kecil dan kemungkinan turunnya harga makin besar dan kerugian investor akan terjadi.

Informasi eksternal juga penting bagi perusahaan. Adapun informasi eksternal perusahaan cukup banyak, baik transaksi saham di bursa maupun informasi yang diterbitkan oleh pihak lain dan mempunyai hubungan terhadap perusahaan. Informasi tentang kebijakan pemerintah juga diperlukan perusahaan karena kebijakan tersebut mempengaruhi keberlangsungan perusahaan.

Salah satu kebijakan yang sering ditunggu investor tentang kebijakan pemerintah, yaitu kebijakan tingkat bunga. Kebijakan tingkat bunga ini akan memengaruhi perekonomian, termasuk di dalamnya perusahaan. Bila tingkat bunga mengalami kenaikan, ada kemungkinan investasi akan berkurang dan berpengaruh terhadap harga bahan pokok atau harga barang-barang di pasar baik barang konsumsi maupun barang lainnya. Bila tingkat bunga diturunkan, kemungkinan akan terjadi permintaan yang meningkat atau investasi di sektor riil akan mengalami kenaikan.

Boleh dikatakan, sentral dari kebijakan yang ada terletak pada tingkat bunga. Kebijakan Pemerintah dalam fiskal, seperti pengetatan pemerintah atas pengeluaran atau juga meningkatkan rasio pajak, akan memberikan persoalan terhadap keberlangsungan perusahaan. Akibatnya, harga saham perusahaan bisa mengalami penurunan dan tidak memberikan keuntungan kepada investor.

Jumlah transaksi saham tersebut juga menjadi informasi dan alat investor memutuskan untuk membeli atau menjual saham tersebut. Saham yang likuid menjadi salah satu peubah mengapa investor membeli saham itu karena kemudahan untuk melepas saham tersebut. Volume transaksi saham yang kecil membuat agak sedikit menghindar dari saham tersebut.

Buruk dan baiknya informasi membuat harga saham akan naik atau turun. Informasi yang beredar menjadi acuan investor. Informasi tersebut beredar lebih dulu baru perusahaan mengumumkannya. Seharusnya, tidak demikian. informasi harus sudah diumumkan, baru terjadi transaksi saham atau kenaikan atau penurunan harga saham. Oleh karena itu, investor harus pintar menyaring informasi agar mereka tidak merugi

Quoted by Muhammad Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, May 1, 2011

INVESTASI: Bermain Saham dengan PER

Oleh Adler Haymans Manurung/Praktisi Keuangan

Dalam dua minggu terakhir IHSG terus mengalami kenaikan dan sudah melewati level tertinggi. Sekarang IHSG sedang mencari level tertinggi terbaru. Bila IHSG naik, berarti harga-harga saham akan naik pula.

Kenaikan IHSG juga memberikan arti bahwa ukuran pasar dan harga, yaitu PER (price earning ratio), mengalami kenaikan. Pada level sekarang PER pasar sudah mencapai 20 kali karena IHSG telah melebihi 3.700. Tulisan ini akan membahas bagaimana investor bermain saham dengan menggunakan PER.

PER adalah rasio hasil bagi antara harga saham di bursa dan laba bersih perusahaan per saham (EPS > LBS). Harga adalah harga sekarang, sementara laba bersih per saham menggunakan proyeksi laba bersih per saham. LBS ini biasanya dihitung memakai LBS masa lalu karena informasi LBS yang tersedia pada laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan adalah LBS aktual, bukan proyeksi.

LBS proyeksi hanya dimiliki oleh perusahaan yang terdaftar di bursa pada manajer keuangan atau investor relation perusahaan tersebut. Investor juga bisa mendapatkan informasi ini dari analis perusahaan sekuritas karena analis selalu ingin mendapatkan data tersebut untuk kepentingan estimasi atau peramalan harga saham tersebut. Bila investor belum mempunyai informasi ini, bisa menghubungi investor relation perusahaan yang terdaftar di bursa melalui telepon karena data ini bukan data rahasia.

Dua faktor

Kenaikan PER dipengaruhi dua faktor, yaitu, pertama, harga sebagai denominator dari rasio persamaan PER. Harga saham naik terus-menerus, sementara laba bersih tidak berubah tetapi dipublikasikan perusahaan memberikan efek positif terhadap harga saham. Misalkan, perusahaan akan melakukan aksi korporasi seperti mengakuisisi bisnis atau rencana peningkatan produksi atau permintaan produksi perusahaan yang meningkat akibat adanya kompetitor yang mengalami persoalan produksi di masa mendatang.

Kedua, numerator dari PER laba bersih. Terjadi penurunan laba bersih, sementara harga saham tidak mengalami perubahan. Penurunan laba bersih dikarenakan adanya persoalan produksi yang dihadapi perusahaan. Mesin penghasil produk mengalami kerusakan dalam beberapa waktu atau mesin semakin tua sehingga jumlah produk berkurang. Pada sisi lain, tenaga yang diandalkan sudah tidak pada perusahaan atau dibajak oleh kompetitor.

Biasanya, kedua faktor tersebut saling berkaitan karena harga dan ekspektasi laba bersih mempunyai hubungan yang positif. Artinya, harga pasar saham akan mengalami kenaikan bila ekspektasi laba bersih mengalami kenaikan. Oleh karena itu, investor harus mengambil kesempatan pada saat harga sudah naik dan informasi selanjutnya belum muncul. Demikian pula, pada saat harga belum bergerak dan ekspektasi laba bersih sudah meningkat, investor juga harus mengambil keputusan. Artinya, investor harus memahami situasi pasar yang ada.

Alat yang dipergunakan investor ketika memutuskan membeli atau menjual saham yang sedang dikelola investor: ukuran paling penting yaitu 1/PER dan hasilnya menjadi laba bersih dibagi harga saham, yang memberikan arti yield yang diperoleh investor. Jika harga merupakan nilai investasi dan laba bersih yang dihasilkan perusahaan dan dibagikan kepada investor, hasilnya sebagai yield yang diperoleh investor. Yield yang dihasilkan pada saham ini harus lebih tinggi dari tingkat bunga deposito karena investor melakukan investasi pada instrumen berisiko.

Bila investor melakukan investasi pada deposito dianggap tidak mempunyai risiko karena adanya penjaminan walaupun sebenarnya tidak persis sebesar dana yang diinvestasikan oleh investor. LPS mempunyai norma atau besaran untuk menjamin deposito. Bila yield yang dihasilkan saham sekitar 7 persen, investor tidak menginginkan hasil investasi sebesar yield tersebut. Investor harus meminta lebih besar dari 7 persen yang besarnya tergantung persepsi investor terhadap saham yang bersangkutan. Persepsi investor masih tergantung pada informasi yang diperoleh investor. Bila informasi tentang saham tersebut sangat sedikit, persepsi investor terhadap saham tersebut sedikit kurang sehingga menuntut tambahan di luar 7 persen semakin tinggi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan berbagai akademisi bahwa tambahan tingkat pengembalian yang diinginkan investor setelah 7 persen paling minimum sebesar 3 persen dan maksimum 8 persen.

Jika investor menginginkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi, investor sudah pasti tidak memiliki informasi yang lengkap atau sama sekali tidak memiliki informasi. Jika investor hanya menginginkan kompensasi tingkat pengembaliannya hanya 3 persen, investor hanya memiliki informasi yang paling lengkap dibandingkan oleh investor lain.

Ekspektasi

Bagi investor yang sudah biasa bermain saham di bursa biasanya investor tersebut sudah mempunyai program pada komputernya atau telepon genggam yang dimilikinya. Investor hanya memerhatikan harga dan laba bersih. Bila yield saham sudah di atas 11 persen pada saat ini, investor melakukan penjualan. Sebaliknya, bila investor sudah melihat yield 7 persen, investor melakukan pembelian. Persoalan utama yang dihadapi investor ketika menggunakan PER terletak pada data ekspektasi laba bersih. Harga saham dapat diperoleh di bursa setiap saat, sementara ekspektasi laba bersih hanya bisa diperoleh dengan publikasi laba bersih setiap tiga bulan yang dikenal data laba bersih triwulanan. Data laba bersih ini diumumkan sesuka perusahaan yang terdaftar pada bursa. Regulasi yang ada hanya memublikasikan laba bersih pada laporan enam bulan dan laporan tahunan sehingga investor harus memanfaatkan informasi yang beragam untuk mendapatkan ekspektasi laba bersih ini.

Bermain saham dengan PER mempunyai risiko karena investor juga harus berhadapan dengan waktu dan informasi yang dipublikasikan. Oleh karena itu, waktu investor harus tersedia untuk mendapatkan informasi. Kehati-hatian sangat dibutuhkan agar investor tidak terjebak kerugian dalam bermain saham dengan alat ini.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, March 13, 2011

Investasi Semusim

Minggu, 13 Maret 2011
Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Bagi Anda yang menggemari musik, pasti pernah mendengar judul lagu ”Semusim” yang dinyanyikan Berlian Hutauruk, Chrisye. ”Semusim” dalam pembahasan berikut adalah menyoal perilaku investor yang berinvestasi tanpa rencana dan biasanya berakhir hanya dalam kurun waktu pendek alias semusim saja. Apa maksudnya?

Ketika seseorang hendak melakukan investasi alias menjadi investor, jelas ada yang menjadi penyebabnya. Kesadaran bahwa investasi merupakan satu cara untuk meningkatkan kekayaan, misalnya, merupakan alasan yang mendasari banyak kalangan dalam berinvestasi. Tetapi juga, pengaruh lingkungan tidak sedikit yang menjadi sebab. Sayangnya, alasan-alasan yang bersifat stimulus sesaat seperti itu kerap kali membuahkan hasil negatif.

Kenapa? Karena investasi yang dilakukan tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan pengetahuan yang memadai tentang investasi yang hendak dilakukan. Ketika melihat tetangga sebelah tiba-tiba kaya raya karena menang ”bermain” saham, ada orang serta-merta ikut membeli saham. Yang terjadi kemudian, bukannya meraih untung, melainkan buntung. Alhasil, investasi menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan, tetapi malah merugikan. Ujung-ujungnya, orang itu hanya menjadi investor semusim, kemudian menjadi alergi dengan kegiatan investasi.

Apakah Anda pernah mengalami hal semacam itu?

Tujuan hidup

Investasi pada hakikatnya adalah suatu tindakan keuangan untuk mencapai tujuan. Tujuan itu tentu saja berupa tujuan keuangan. Tujuan keuangan merupakan salah satu cara mencapai tujuan hidup. Dengan filosofi seperti itu, jelas bahwa tujuan keuangan yang salah satu caranya dicapai melalui investasi bukanlah kegiatan sesaat. Investasi mesti dilakukan sepanjang usia karena yang namanya tujuan mestinya bersifat dinamis alias bergerak terus.

Misalnya, Anda memiliki tujuan keuangan berupa tersedianya uang sebanyak Rp 1 miliar dalam kurun waktu 5 tahun mendatang. Setelah uang Rp 1 miliar itu tersedia, tentunya Anda menyiapkan tujuan keuangan yang baru. Katakanlah tujuan keuangan yang baru itu adalah tersedianya uang Rp 2 miliar. Begitu seterusnya, di mana setelah satu tujuan keuangan tercapai, pasti akan muncul tujuan keuangan yang baru. Untuk mencapai tujuan keuangan yang baru itu, perlu dilakukan investasi. Demikian logikanya.

Lantas, bagaimana investasi itu bisa dilakukan dengan baik sehingga tidak terjerumus pada kondisi investor ”semusim”? Ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan.

Bukan coba-coba

Pertama, pastikan bahwa investasi yang Anda lakukan bukan karena pengaruh lingkungan ataupun coba-coba, melainkan didasari oleh keyakinan bahwa investasi merupakan hal serius yang bertujuan mencapai tujuan keuangan sebagai bagian dari tujuan hidup.

Kedua, pelajari segala hal terkait investasi. Luangkan waktu untuk mempelajari instrumen investasi yang tersedia, risikonya maupun potensi keuntungan yang terkandung di dalamnya, serta mekanisme investasi itu sendiri.

Soal mekanisme itu penting Anda pahami agar terhindar dari salah pengertian. Sebab, dalam realitasnya, cukup banyak investor ritel, khususnya di pasar saham, yang tidak mengerti cara membaca laporan transaksi saham dan atau bahkan tidak bisa membedakan antara potential loss dan loss. Atau tidak bisa membedakan antara harga beli saham dan harga rata-rata beli saham. Oleh karena itu, pemahaman mengenai instrumen investasi sangat diperlukan agar tidak keliru dalam mengambil keputusan berinvestasi.

Simulasi

Ketiga, memulai investasi dengan simulasi. Seperti orang yang belajar main golf. Sebelum terjun ke lapangan, tentunya mesti belajar melakukan driving atau memukul bola dengan benar. Demikian juga dalam berinvestasi, tidak ada salahnya melakukan simulasi atau membuka account ”pura-pura”. Cara ini akan memudahkan Anda merasakan getaran dinamika investasi, khususnya di pasar saham.

Asumsikan Anda menempatkan dana Rp 250 juta untuk berinvestasi saham. Lalu, pilihlah saham yang Anda minati. Misalnya 5 jenis saham masing-masing Rp 50 juta. Lalu, lihat bagaimana hasil investasi saham itu satu bulan kemudian. Ada yang naik dan memperoleh gain dan ada juga yang loss. Hitung nilai net- nya. Itulah hasil investasi simulasi dalam satu bulan. Selanjutnya, Anda bisa mengubah portfolio saham tersebut, dengan mengganti saham-saham yang Anda beli. Dengan cara simulasi semacam ini, Anda akan terbiasa mengikuti gerakan pasar dan setelah saatnya tepat, barulah Anda berinvestasi di saham.

Keempat, melakukan investasi secara berkala. Ini merupakan salah satu poin penting dalam berinvestasi sekaligus menghindari kemungkinan menjadi investasi ”semusim”. Apa maksudnya? Investasi harus didasarkan pada perencanaan yang matang dan kemampuan keuangan yang relevan. Artinya, investasi sebaiknya tidak dilakukan dengan pemaksaan. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik kalau dana yang ditempatkan dalam investasi dilakukan secara bertahap, terus- menerus, dan bersifat jangka panjang.

Dengan cara ini, investasi bukan lagi karena faktor pengaruh eksternal, melainkan karena keputusan pribadi. Hasilnya bisa lebih memuaskan ketimbang sekadar menjadi investor ”musiman”.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, March 6, 2011

Investasi: Bermain Saham Situasi Fluktuatif

Minggu, 06 Maret 2011
Adler Haymans Manurung/praktisi keuangan

Saat ini pasar sedang fluktuatif yang bergerak naik turun pada level IHSG 3350 sampai dengan 3650. Fluktuatifnya IHSG pada kisaran tersebut dikarenakan informasi yang masuk ke bursa tidak banyak yang mendukung untuk naik tajam. Bahkan, informasi yang datang saat ini tingkat bunga meningkat dikarenakan ada kenaikan harga-harga.

Kejadian ini tidak terlepas dari proyeksi yang dilakukan pemerintah dan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang tidak begitu baik.

Pada situasi pasar fluktuatif, investor perlu menentukan tujuan utama dari dana yang dimiliki serta tujuan utama untuk bermain saham. Tujuan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Bila tujuan jangka panjang yang diinginkan, investasi pada saham harus memberikan tingkat pengembalian yang tinggi. Bila tujuan jangka pendek yang diinginkan, investor menginginkan tingkat pengembalian cukup dalam jangka pendek.

Ada beberapa tindakan investor yang bisa dilakukan dalam situasi ini, pertama, investor tidak boleh masuk ke saham yang sangat bervariasi harganya dikarenakan pemain pasar. Investor akan mengalami kerugian bila ikut masuk bermain saham di kelompok saham ini. Pemain pasar (baca: bandar) sangat lihai menggoyang atau mengayunkan harga saham demi mendapatkan keuntungan bagi dirinya.

Ada beberapa saham yang sering dimainkan pemain pasar dan biasanya saham ini dapat disebutkan saham gorengan. Saham ini biasanya berkapitalisasi pasar yang kecil. Adanya net selling dalam sehari yang dikenal netting membuat pemain pasar ini tidak memerlukan modal untuk memainkan saham ini.

Kedua, investor memilih saham yang sangat layak untuk dibeli dan disimpan dalam jangka panjang. Karena tujuannya jangka panjang, investor bisa membeli saham secara perlahan-lahan dan bertahap. Bila pasarnya turun, investor membeli 10 persen dari dana yang dimiliki dan turun lagi investasi 10 persen lagi.

Besaran persentase dana investasi bertahap ini bergantung pada keyakinan dan pandangan pasar yang dimiliki investor. Setelah investasi sudah seluruhnya dilakukan, investor tidak perlu memerhatikan setiap detik denyut pergerakan harga saham di bursa. Selanjutnya, investor hanya memerhatikan IHSG sudah naik berapa persen, apakah sudah naik tajam, atau bahkan drop. Bila sahamnya drop, tidak usah panik karena dana yang dimiliki tidak hilang dan dana tersebut dari awalnya memang tidak dibutuhkan untuk jangka pendek.

Bila IHSG sudah naik dua kali atau tiga kali lipat dari hasil investasi pada instrumen deposito sudah selayaknya investor mengambil keuntungan yang disebut profit taking, kemudian membeli saham kembali. Bahkan, ada investor yang telah mempunyai program dengan menjual saham bila harga saham sudah naik sekitar 15 persen dalam jangka pendek sehingga nilainya jauh lebih besar bila disetahunkan. Bahkan, investor membandingkan dengan investasi lain, maka investasi ini akan lebih baik.

Ketiga, situasi pasar yang fluktuatif ini dapat digunakan untuk melakukan jual beli atau disebut trading untuk para pemain pasar dan ini sangat cocok untuk jangka pendek. Bila investor ingin melakukan strategi ini, investor harus mempunyai waktu untuk mengikuti pergerakan harga saham tersebut. Bila investor tidak mempunyai waktu, investor jangan menggunakan strategi ini karena investor bisa mengalami kerugian dan akhirnya investor akan menempuh strategi pertama.

Penggunaan strategi ini tidak perlu dengan banyak saham karena semakin banyak saham yang ditransaksikan, semakin besar pengetahuan dan informasi yang harus dimiliki. Sebaiknya investor hanya melakukan transaksi terhadap 5 sampai 9 saham.

Di samping itu, kemampuan manusia untuk menganalisis saham dan mengingatnya sekitar 10 saham. Penulis hanya menyarankan banyak saham yang ditransaksikan sebanyak 5 atau 6 saham. Selanjutnya, investor harus memilih saham mana saja yang harus ditransaksikan agar mempunyai keuntungan.

Karena tujuan awal untuk trading, investor harus memerhatikan saham mempunyai volatilitas (pergerakan harga) saham sekitar 10 persen sampai dengan 15 persen. Semakin besar volatilitas saham tersebut, semakin besar kemungkinan mendapatkan keuntungan, tetapi saham tersebut semakin berisiko. Bila investor menggunakan volatilitas yang kecil, keuntungan yang diperoleh kecil dan investor melakukan transaksi untuk memberikan kekayaan kepada pihak lain. Investor sebaiknya bermain pada saham yang likuid dan tidak perlu bermain pada saham yang berkapitalisasi besar karena modal yang diperlukan juga besar.

Keempat, melakukan transaksi bukan langsung bermain saham, tetapi bermain opsi saham. Permainan opsi saham ini sangat banyak sekarang dilakukan oleh investor dengan langsung bermain ke bursa Amerika Serikat.

Opsi tersebut merupakan hak untuk membeli saham dikenal opsi call atau hak untuk menjual saham dikenal opsi put pada harga tertentu di mana harga ini disebut strike price.

Bila investor menggunakan opsi call, investor memandang harga saham akan mengalami kenaikan pada masa mendatang. Sebaliknya, investor menggunakan opsi put bila investor mempunyai pandangan pada masa mendatang harga saham akan mengalami kenaikan.

Dalam situasi pasar yang berfluktuasi ini, strategi opsi yang dipergunakan adalah strategi spread, khususnya butterfly spread. Strategi spread maksudnya melakukan transaksi membeli opsi call dan menjual opsi call. Investor hanya melakukan perbedaan strike price dari opsi call tersebut sehingga ada spread.

Butterfly spread call maksudnya transaksi membeli opsi call sebanyak dua buah dengan strike price yang berbeda dan menjual opsi call dengan strike price di antara (di tengah) strike price dari pembelian opsi call. Artinya, investor akan mendapatkan keuntungan di antara strike price pembelian opsi call tersebut di mana puncaknya keuntungan pada strike price menjual opsi.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, February 20, 2011

Memulai Transaksi Saham

Minggu, 20 Februari 2011
Adler Haymans Manurung/PRAKTISI KEUANGAN

Bermain saham untuk pemula dapat dilakukan dengan berbagai tahap.

Dimulai dengan belajar mengenai pengenalan saham atau valuasi saham yang sederhana.

Pemula dapat membeli buku di toko buku tentang menilai perusahaan.

Pemula harus memulai dengan pendekatan fundamental saham walaupun ada metode lain yang dikenal dengan pendekatan teknikal. Banyak pihak yang memulai dari pengetahuan teknikal dan ada juga yang dari pendekatan fundamental. Saat ini, kalau investor pergi ke sekuritas, banyak orang membahas perusahaan hanya dari segi teknikal, bahkan iklan di surat kabar juga secara terang-terangan menggunakan teknikal, termasuk yang ada di televisi. Kedua pendekatan itu mempunyai keuntungan dan kelemahan masing-masing.

Apabila ingin bertransaksi saham, Anda harus melakukan beberapa tahapan walaupun memiliki atau tidak memiliki pengetahuan. Pertama, pemula harus mempunyai rekening di perusahaan sekuritas. Artinya, pemula harus membuka rekening pada perusahaan sekuritas. Pemula harus mendatangi perusahaan sekuritas. Tidak ada perusahaan sekuritas yang menolak investor untuk membuka rekening terkecuali faktor tertentu yang dimiliki investor atau pemain pemula saham tersebut.

Investor sebaiknya mencari sekuritas yang dekat dengan investor, baik tempat maupun variabel lain. Investor mempunyai teman pada sekuritas tersebut sehingga investor tidak sungkan menanyakan situasi pasar secara sederhana karena teman tersebut. Akibatnya proses belajar investor lebih cepat dan bisa melakukan transaksi seperti normalnya yang sudah berpengalaman.

Pada pembukaan rekening, investor harus menyerahkan fotokopi pengenal diri. Investor juga sebaiknya meminta kepada perusahaan sekuritas harus mendaftarkan rekeningnya di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Saat ini KSEI mempunyai program kepemilikan satu rekening untuk setiap investor. Nomor rekening yang dimiliki bisa dipergunakan kepada semua perusahaan sekuritas.

Uji tuntas dan setoran awal

Tahap kedua, perusahaan sekuritas melakukan uji tuntas atas isian yang dilakukan investor mengenai pembukaan rekening. Perusahaan sekuritas harus memastikan bahwa dana yang digunakan investor tidak merupakan dana untuk mencuci uang tersebut. Perusahaan sekuritas mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan uji tuntas tersebut. Investor tak perlu memaksa perusahaan sekuritas mengizinkan investor bisa langsung melakukan transaksi saham dan sebaiknya mengikuti aturan yang ada.

Ketiga, melakukan setoran awal atas pembukaan rekening. Perusahaan sekuritas meminta sejumlah dana untuk pembukaan rekening tersebut. Dana ini merupakan kewajiban bagi investor dan hampir semua perusahaan sekuritas mewajibkannya. Besaran dana yang diminta perusahaan sekuritas sangat bervariasi, dari Rp 15 juta sampai dengan Rp 50 juta. Oleh karena itu, investor harus memastikan dana yang dimiliki supaya bisa memulai transaksi saham.

Sebaiknya, dana yang dimiliki tersebut tidak dibutuhkan secepatnya, misalnya membayar uang kuliah atau biaya hidup sehari-hari. Dana tersebut dapat dikatakan dana lebih yang tidak dibutuhkan secepatnya sehingga napas bermain saham yang dimiliki investor bisa panjang. Artinya, apabila investor membeli saham dan kemudian harganya jatuh karena ketidaktahuan investor, investor tidak perlu pusing. Pasalnya, dana yang dimiliki tidak hilang, tetapi akan kembali apabila harga tersebut kembali naik, bahkan jauh lebih tinggi ketika harga saham dibeli.

Ada juga setoran awal membuka rekening koran dengan nilai yang lebih kecil, terutama investor yang ingin melakukan transaksi dengan online. Transaksi ini memang menyiapkan aturan yang sangat sederhana karena investor bisa membeli saham apabila ada dananya dalam rekening. Demikian juga investor bisa menjual saham apabila investor memiliki sahamnya. Penulis lebih menyarankan investor menggunakan rekening ini untuk bermain online karena investor lebih yakin untuk bermain saham dan tidak ada risiko yang dipikirkan investor.

Mulai bertransaksi

Saat mulai bermain transaksi saham akan diinformasikan oleh pemasaran perusahaan sekuritas karena investor sudah memenuhi kewajiban, baik setoran awal maupun administrasi yang lain. Investor bisa langsung melakukan transaksi dengan saham yang telah diminati investor. Artinya, investor sudah melakukan analisis sebelumnya mengenai saham-saham yang akan dibeli.

Saham yang akan dibeli harus disesuaikan dengan dana yang dimiliki dan harga saham tersebut. Apabila investor membeli saham yang harganya cukup besar, akan membutuhkan dana cukup besar. Investor membeli saham, maka prospek perusahaan yang dibeli investor. Prospek perusahaan dimaksudkan adalah hasil yang dicapai perusahaan, baik dari segi pendapatan maupun image dan sebagainya. Salah memilih saham, investor harus menanggung kerugian apabila harga sahamnya mengalami penurunan. Sebaiknya investor memilih saham yang siklusnya sesuai dengan siklus ekonomi sehingga harga juga meningkat.

Investor yang belum pernah bermain saham sebaiknya memulai dengan membeli saham 1 lot sampai dengan 5 lot (1 lot > 500 saham). Jual beli dengan jumlah ini perlu dilakukan dengan waktu lebih panjang. Adapun yang dinginkan dengan melakukan pembelian 1 sampai 5 lot adalah untuk pembelajaran, terutama melatih jantung investor.

Naik turunnya harga saham merupakan volatilitas yang bisa memengaruhi jantung investor. Apabila sudah kuat jantungnya karena fluktuasi harga saham, investor bisa melakukan transaksi yang lebih besar. Investor yang sudah mempunyai pengalaman bisa melakukan transaksi normal yang dimiliki pemain lainnya.

Investor juga harus menyadari bahwa bermain saham mempunyai risiko, misalnya harga saham drop tajam. Bagaimana mendapatkan informasi agar investor menjual lebih dulu ketika harga saham akan turun dan selanjutnya membeli saham lebih dulu dari yang lain ketika harga saham mau naik.

Selamat bermain saham.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, February 13, 2011

Investasi Kura-kura

Minggu, 13 Februari 2011
Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Tulisan ini bukan bermaksud membahas hewan kura-kura yang jalannya amat lamban. Tetapi, mengulas investasi yang hasilnya amat lamban, alias mirip kura-kura. Tapi, kura-kura yang lamban bukan berarti selamanya jelek. Bagaimana maksudnya?

Setiap investor pasti menginginkan investasinya membuahkan hasil yang besar. Semakin besar hasil investasi, semakin menarik bagi investor. Dan kalau bisa, investasi tersebut tidak memiliki risiko. Jadi, imbal hasil besar, tapi minim risiko. Adakah investasi semacam itu?

Jawaban konkretnya, investasi seperti itu hanya ada dalam brosur-brosur penawaran investasi. Namun, sepanjang sejarah peradaban manusia, belum pernah ada investasi yang bisa memberikan return tinggi dengan risiko rendah. Itu sebabnya, di semua sekolah keuangan dan investasi ada istilah ”high return, high risk”. Imbal hasil berbanding lurus dengan risikonya. Semakin besar ekspektasi terhadap imbal hasil, semakin tinggi pula risiko yang melekat dalam investasi dimaksud.

Moral ceritanya adalah jangan pernah bermimpi memperoleh imbal hasil investasi yang tinggi secara seketika, kecuali Anda berkenan menanggung risiko yang tinggi pula. Oleh karena itu, imbal hasil investasi mestinya dicapai secara bertahap. Boleh saja agak ”lamban”, tapi secara pasti imbal hasil besar akan Anda peroleh. Seperti apa caranya?

Seperti layaknya mengendarai mobil menuju suatu lokasi. Anda pasti sudah mengenal karakter mobil Anda, apakah sering mogok atau memang kelas mobil balap atau mobil kebanyakan. Jika Anda memiliki mobil balap, pasti kemampuan Anda mengendarai mobil luar biasa dan di atas rata-rata pengendara lain. Kecuali, kebetulan Anda memiliki uang banyak dan mampu membeli mobil balap. Kalau seperti ini, tetap saja mobil balap Anda tidak bisa dipacu atau Anda akan mengalami kecelakaan karena, maaf, kemampuan menyetir Anda belum memadai untuk mengendarai mobil balap.

Demikian pula dengan investasi. Anda tidak akan pernah sukses berinvestasi jika tidak memahami karakter jenis investasi yang dipilih. Atau, Anda tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai investasi dimaksud. Jadi, imbal hasil yang diinginkan, sebagai analogi tujuan dari ”mengendarai” investasi, sangatlah bergantung dari pengetahuan Anda tentang investasi tersebut, bukan sekadar karena punya banyak uang untuk diinvestasikan.

Tujuan investasi

Dengan metafora seperti itu, langkah awal dalam berinvestasi adalah pastikan tujuan berinvestasi dan pastikan Anda memahami jenis investasi yang akan dipilih. Lalu, berapa lama tujuan investasi itu akan dicapai. Apakah Anda akan menggunakan kendaraan investasi ala ”kura-kura” atau investasi ala ”mobil balap”. Jika Anda tergolong investor pemula, maka investasi ala ”kura-kura” bukan berarti lebih jelek ketimbang investasi ala ”mobil balap”. Lantas, bagaimana wujud investasi ala ”kura-kura” dan bagaimana pula investasi ala ”mobil balap”?

Investasi ala ”kura-kura” adalah investasi yang konservatif. Tetapi bukan berarti seluruh dana yang Anda miliki mesti ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka. Anda tetap bisa memilih produk-produk yang tersedia di pasar modal, seperti saham, obligasi ritel, maupun reksa dana. Hanya saja, pilihan pada produk tersebut mesti dilakukan secara selektif dan perilaku Anda dalam berinvestasi juga mesti alon-alon. Artinya, kalau membeli saham bukan dimaksudkan untuk ”beli hari ini jual besok”. Tidak perlu secepat itu, seperti ”mobil balap”. Anda beli beberapa saham yang fundamentalnya baik. Lalu targetkan untuk memperoleh capital gain dalam persentase tertentu, misalnya naik 15-20 persen dalam setahun. Maka jual kembali saham tersebut setelah capital gain itu tercapai.

Demikian juga dengan reksa dana dan obligasi ritel. Tujuan Anda berinvestasi bukanlah untuk ”berdagang”, melainkan mengharapkan imbal hasil tertentu dalam kurun waktu yang cukup lama. Dengan pola seperti ini, investasi Anda akan lebih minim risikonya dan tujuan mencapai imbal hasil memadai relatif akan tercapai.

Mobil balap

Sementara, investasi ala “mobil balap” adalah investasi agresif. Investasi jenis ini memungkinkan investor mencapai tujuan secara cepat, tetapi berpeluang mengalami kecelakaan. Contoh konkretnya adalah, jika berinvestasi di saham, karakter-nya adalah saham untuk trading. Dan belum tentu memiliki fundamental bagus, melainkan lebih didasarkan atas pergerakan harga saham. Lebih mengerikan lagi, investasi ala ”mobil balap”, terkadang tidak didasari oleh logika investasi. Misalnya, ikut serta dalam investasi money game dan lain sebagainya karena semata-mata tergiur dengan investasi yang ditawarkan oleh kalangan tertentu. Padahal itu belum tentu investasi, melainkan upaya tipu menipu belaka.

Dari paparan di atas jelas, jika Anda tergolong investor pemula dan masih dalam tahap pembelajaran berinvestasi, sebaiknya tidak mencoba-coba melakukan investasi ala ”mobil balap”. Akan jauh lebih baik berinvestasi secara perlahan, lebih konservatif. Walaupun imbal hasil yang diperoleh tidak terlalu besar, tapi investasi yang Anda lakukan akan sampai pada tujuan.

Lantas, bagaimana portofolio investasi ala ”kura-kura”? Bisa dimulai dengan menempatkan komposisi konservatif, yakni 30 persen dalam bentuk tabungan/deposito, lalu 50 persen di obligasi ritel dan reksa dana, sisanya yang 20 persen boleh di saham. Selanjutnya, penempatan deposito itu sendiri sebaiknya dilakukan di bank yang berskala besar. Sementara untuk obligasi ritel tentunya yang diterbitkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk reksa dana dapat dimulai dengan reksa dana fixed income yang dikeluarkan oleh manajer investasi berskala besar.

Terakhir untuk saham, tujuan pembeliannya adalah untuk dipegang dalam kurun waktu yang cukup lama. Anda cukup membeli beberapa saham saja dan kemudian biarkan harganya bertumbuh, sampai suatu ketika Anda jual kembali setelah mengalami kenaikan harga sekitar 15 persen. Selamat berinvestasi.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, February 6, 2011

Bermain Saham IPO

Minggu, 06 Februari 2011
Adler Haymans Manurung/praktisi keuangan

Saham IPO adalah saham yang pertama kali ditawarkan kepada publik dengan menggunakan penjamin emisi. Dalam kasus sekarang yang sedang ditawarkan ke publik, yaitu saham Garuda. Artinya, saham ini akan ditransaksikan di Bursa pada tanggal yang telah ditentukan dan ditulis pada prospektus perusahaan ketika melakukan penawaran. Bermain saham IPO agak berbeda dengan saham yang sudah ditransaksikan di Bursa.

Dalam bermain saham IPO, investor harus menjawab pertanyaan, apakah saham sudah dimiliki? Investor tidak dapat penjatahan dalam IPO walaupun sudah pesan sebanyak mungkin dan juga sudah menyetor dana. Cara bermain saham untuk kedua jawaban agak berbeda. Pada sisi lain, investor juga harus mengerti apakah saham tersebut termasuk saham hot atau saham sepi (cold).

Transaksi saham IPO dapat dilakukan pada periode penawaran di mana investor memperoleh dari perusahaan sekuritas dikenal dengan pasar perdana dan dapat juga di pasar gelap (antarinvestor dikenal juga grey market) serta pada hari pertama saham tersebut ditransaksikan di Bursa. Kedua pasar ini juga agak berbeda karena sistem pasar yang berbeda pula.

Bila investor bermain saham pada pasar perdana, maka kepastian mendapatkan sahamnya sangat diperlukan. Bila saham sudah dimiliki, maka investor sudah punya hak menjualnya, misalkan lebih tinggi dari harga IPO atau dibelinya. Bila sahamnya disebut dengan saham hot, maka harganya akan meningkat. Dalam kasus saham Krakatau Steel, sebelum dicatatkan harga sahamnya mencapai 1.100, padahal dari penjamin harganya 850. Harga tersebut tidak saja langsung naik dari 850 ke 1.100, tetapi setiap hari ada kenaikan. Harga naik dikarenakan berita yang dibuat pada waktu itu, di mana harga kemurahan. Bagi yang pintar bermain saham ketika ada yang menawarkan harga saham sebesar 900 langsung dibeli dan dijual lagi karena semua orang sudah mempunyai frame harga KRAS sudah murah.

Tetapi, ada juga pemain yang belum punya sahamnya berani menawarkan dengan premium sehingga pemain mencari dari penjamin emisi dengan segala cara karena sudah ada pembelinya. Bila dijualnya sebesar 103, maka saham tersebut akan dibeli lebih kecil 101 atau 102 dan pemain tersebut mendapatkan fee sekitar 1 persen. Ada juga pemain yang menawarkan pembelian dengan diskon besar, misalkan 10 persen, padahal sahamnya tidak ada sehingga kelihatan pembelinya sedikit. Investor yang tidak memahami selalu dirugikan.

Bila investor tidak punya sahamnya tapi mencoba memainkannya, maka ada dua kepentingan yang dilakukannya, yaitu mencoba menggoyang harganya, seharusnya pemain tersebut punya nyali dan paham memainkan saham tersebut. Paling tidak pemain tersebut mempunyai power untuk mendapatkan saham tersebut.

Saham yang ditransaksikan pada hari pertama bisa naik terus sampai pada level otomatis ditutup transaksi (autorejection) karena peraturan yang dikeluarkan bursa, bahkan bisa juga berfluktuasi. Bila sahamnya sangat hot dan dijual dengan harga kemurahan, maka saham itu akan naik terus. Sangat menarik bertransaksi pada saham yang harganya berfluktuasi dalam sehari ini. Bila kinerja saham pada hari pertama turun dari harga IPO-nya, maka emiten dan penjamin emisinya dianggap tidak memberikan kepuasan pada investornya.

Umumnya capital gain yang diperoleh investor pada hari pertama berfluktuasi dari 8 persen sampai dengan 50 persen dan secara rata-rata sekitar 20 persen untuk saham IPO. Angka seperti ini juga diperoleh pada bursa saham internasional. Investor bisa menjual sahamnya setelah menikmati sekitar 25 persen, di mana 5 persen merupakan biaya akan dikeluarkan atas transaksi maupun hal lain (traktir teman). Bila saham terjual dengan kapital gain 25 persen maka hasil yang diperoleh sudah sangat optimal karena dalam tempo 2 minggu investor telah memperoleh hasil yang sangat gemilang.

Setelah menjual saham, maka investor harus membeli kembali saham itu supaya dimiliki, apalagi saham tersebut di kelompok saham hot. Batasan yang dipergunakan untuk membeli kembali, yaitu saham sudah drop 10 persen. Pembeliannya jangan dilakukan sekaligus, tetapi separuh dan bila turun lagi dibeli dengan uang yang sisa. Bila harga saham berbalik naik ke atas jangan panik harus tetap tenang karena saham itu pasti ada turunnya, karena tidak mungkin saham itu akan naik terus.

Bila saham yang dimiliki tersebut tidak termasuk saham hot atau disebut saham sepi, maka investor jangan berharap capital gain yang tinggi. Sehingga investor harus mengubah patokan yang penjualan saham, bisa saja maksimum 10 persen agar dana tidak stagnan pada saham tersebut. Berdasarkan pengalaman bahwa saham yang sepi tidak bisa memberikan capital gain 15 persen dan maksimum 10 persen sehingga investor harus buru-buru menjualnya. Bila turun ke bawah, maka investor langsung membelinya. Teknis bermain saham jual beli pada harga atas dan bawah bisa ditanyakan kepada perusahaan sekuritas investor bermain saham.

Selanjutnya, investor tidak bisa mendapatkan saham pada saat periode perdana karena sahamnya termasuk saham hot. Investor harus memburunya pada hari pertama dengan langsung membeli. Bila investor mempunyai sejumlah dana untuk membelinya, maka investor harus membeli saham tersebut maksimum 4 tik, dan tik saham untuk berbagai harga juga berbeda.

Tetapi, investor juga harus mencari informasi berapa besar premium yang terjadi pada pasar abu-abu ketika saham tersebut ditawarkan di pasar perdana. Bila saham hot ini sudah tinggi premiumnya di pasar perdana, maka investor harus memulai pembelian pada harga premium yang terjadi. Investor harus meminta kepada sekuritas untuk memasang pembelian saham pada harga yang sudah ditentukan yang diduga akan diperoleh. Investor juga bisa menjual bila sudah naik 10 persen dari harga pembelian. Sungguh menakjubkan bila dapat hasil capital gain yang besarnya 10 persen.

Bila sahamnya masuk kelompok saham sepi, maka investor juga harus hati-hati membeli saham ini karena ketika dibeli kemungkinan naik tetapi kenaikan tidak tajam dan kemungkinan turun setelah naik sedikit dan kebetulan setelah dibeli. Saham kelompok sepi ini biasanya dihindari investor yang sangat pintar bermain saham. Oleh karenanya, investor harus memahami dan melihat prospek saham ini dengan informasi yang diperoleh dari berbagai pihak.

Sekali lagi, risiko masih tetap di depan mata sehingga investor harus juga hati-hati karena dana dimiliki investor dan kerugian yang dialami ditanggung investor. Investor harus tenang dan tidak terlalu rakus sehingga dapat diperoleh kapital yang diinginkan.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, January 30, 2011

I N V E S T A S I: Memilih Saham IPO

Minggu, 30 Januari 2011
Elvyn G Masassya

Jika Anda memerhatikan pasar modal Indonesia, atau Anda termasuk investor yang gemar menempatkan dana di bursa efek, pasti tahu bahwa pada tahun 2010 tidak kurang 25 perusahaan listing di pasar modal. Beberapa di antaranya malah menjadi ”buah bibir” karena peminatnya membeludak dan bahkan menjadi perbincangan mulai dari politisi hingga pedagang kaki lima. Sebut salah satunya adalah saham Krakatau Steel (KS). Bagi yang berkesempatan memperoleh saham KS telah pula menuai keuntungan berupa capital gain yang amat dahsyat.

Di sisi lain, bukan tidak banyak investor yang menuai kerugian ketika membeli saham initial public offering (IPO). Artinya, membeli saham yang baru dicatatkan di pasar modal. Konkretnya, tidak ada jaminan bahwa membeli saham IPO pasti akan menuai capital gain. Bahkan, investor mesti berhati-hati ketika membeli saham IPO. Sebab, banyak di antaranya tidak saja tidak prospektif, tetapi hanya mencari ajang ”pencarian dana” pemilik perusahaan, tanpa peduli sahamnya akan meningkat harganya atau anjlok begitu mulai diperdagangkan.

Bukti yang lain, pada awal tahun 2011 ini sudah ada dua perusahaan yang melakukan IPO, dan kedua saham perusahaan tersebut langsung anjlok harganya ketika mulai ditransaksikan. Kenapa bisa begitu? Sangat bisa. Dus, paparan berikut akan menguraikan beberapa sebab kenapa saham IPO bisa anjlok tatkala sudah listing dan bagaimana upaya menghindari jebakan saham seperti itu.

Memiliki perusahaan

Pertama, membeli saham IPO sama artinya dengan ikut serta memiliki perusahaan yang sahamnya dijual kepada publik. Itu berarti, kalau kita ingin memiliki perusahaan, tentunya mesti perusahaan yang bagus. Yang bisa bertumbuh terus dan memberikan keuntungan. Artinya apa? Artinya, lupakan beli saham pada saat IPO, kalau maksudnya adalah untuk ”beli hari ini jual besok”. Kalau seperti itu, maksudnya adalah melakukan trading saham. Tidak peduli apakah kinerja perusahaan yang melakukan IPO itu bagus atau tidak. Yang penting beli.

Nah, kalau situasinya seperti ini, Anda sebenarnya tidak beda dengan ”berjudi” alias berharap harga saham akan meningkat pada hari pertama perdagangan. Dan, besar kemungkinan Anda akan terkecoh. Kenapa? Karena, yang menjadi patokan bagi para trader adalah kondisi oversubscribe ketika perusahaan tersebut menawarkan sahamnya kepada publik.

Dengan kata lain, saham perusahaan itu laku keras. Pertanyaannya, bagaimana hitungan oversubscribe tersebut? Siapa yang melakukan penawaran? Apakah oversubscribe itu benar- benar terjadi? Hanya underwriter dan perusahaan itu sendiri yang tahu. Sebab, hingga hari ini tidak ada kewajiban bagi emiten ataupun underwriter untuk membuka tabir ”gelap” soal oversubscribe.

Dan faktanya, dalam bulan Januari 2011 ini ada dua perusahaan IPO yang dikabarkan mengalami oversubscribe puluhan kali, tetapi harga sahamnya jeblok belasan persen pada transaksi hari pertama. Pesan moral dari paparan di atas adalah jangan begitu saja percaya pada istilah oversubscribe. Kinerja dan fundamental perusahaan jauh lebih penting.

Kedua, berapa besar proceed alias dana yang diharapkan dari IPO tersebut. Semakin besar akan semakin bagus karena likuiditasnya otomatis akan besar pula. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah untuk apa dana hasil IPO itu dipergunakan oleh emiten. Peruntukan dana hasil IPO biasanya sudah disampaikan oleh emiten di dalam prospektusnya. Akan tetapi, apakah peruntukan dana tersebut benar digunakan sebagaimana diperjanjikan, tentunya mesti dicek lagi.

Namun, lepas dari itu, yang jauh lebih penting adalah peruntukan dana itu sendiri. Artinya, berapa persen dana yang dipergunakan untuk ekspansi usaha dan berapa persen untuk membayar utang. Semakin besar porsi untuk ekspansi usaha, itu akan semakin bagus. Sementara kalau tujuan IPO-nya semata- mata untuk membayar utang, agak sulit diharapkan perusahaan tersebut berkembang. Sebab, hanya utangnya saja berkurang, sementara kemampuan ekspansinya tidak berubah. Kesimpulannya, jangan terlalu berharap pada saham IPO yang peruntukan dana hasil IPO-nya semata-mata untuk membayar utang.

Penentuan harga final

Ketiga, harga saham IPO. Secara konsep ada berbagai cara untuk menentukan berapa harga sebuah saham. Hal ini sudah pula dibahas dalam beberapa tulisan terdahulu. Namun, yang perlu menjadi pegangan dalam hal harga saham IPO ini adalah proses penentuan harga final. Artinya, pada saat menjajakan saham tersebut kepada publik, biasanya ada rentang harga dari saham tersebut.

Misalnya saham perusahaan ”Polan”, rentang harganya adalah Rp 1.000-Rp 1.500 per lembar. Kalau peminatnya tidak terlalu banyak, harga final biasanya akan berada di sisi kiri, antara Rp 1.000 dan Rp 1.200. Sementara kalau peminatnya membeludak, harga saham bisa ditawarkan di sisi kanan, misalnya antara Rp 1.400 dan Rp 1.500.

Namun, Anda mesti waspada dengan rentang harga ini. Karena, istilah oversubscribe dan undersubscribe tercipta berdasarkan hasil book building dari saham tersebut, di mana calon investor memasukkan penawaran dengan harga yang diinginkan. Dalam praktiknya bisa saja banyak calon investor yang ingin membeli di harga Rp 1.000. Jumlah pembelinya melebihi saham yang ditawarkan. Ini disebut oversubscribe. Namun, apakah calon investor itu pasti akan membeli saham dimaksud? Boleh jadi tidak. Kenapa? Karena harga jual yang diputuskan adalah Rp 1.400, sebagai misal. Dus, ketika saham tersebut diperdagangkan, sangat mungkin harganya akan anjlok. Ketika dilepas di pasar sekunder, tidak ada investor yang berminat membelinya.

Selain ketiga hal di atas, tentu masih banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan jika Anda berminat membeli saham di pasar perdana. Salah satu pertimbangan penting lainnya adalah soal timing. Artinya, kapan saham tersebut diperdagangkan, apakah pada saat pasar lagi dalam posisi penuh sentimen positif atau negatif. Ini penting sebab kondisi pasar saat saham tersebut diperdagangkan akan memengaruhi perilaku investor bertransaksi. Saham yang bagus ketika diperdagangkan di kala pasar tengah menurun bisa saja akan turut mengalami penurunan harga. Demikian pula sebaliknya. Selamat berinvestasi.

Elvyn G Masassya Praktisi Keuangan

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, January 16, 2011

Sisi Gelap Investasi

Minggu, 16 Januari 2011 | 03:40 WIB

Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Investasi memang salah satu cara paling efektif untuk meraih kesejahteraan finansial. Bahkan, melalui investasi, seseorang bisa menyuruh uangnya ”bekerja”. Jadi, uang mencari uang. Bukan Anda yang mencari uang, baik itu sebagai pekerja maupun wirausaha.

Itu sebabnya seseorang yang berpenghasilan tetap sebaiknya menyisihkan sebagian penghasilan tetapnya untuk diinvestasikan agar di masa depan, ketika yang bersangkutan tidak bekerja lagi, tetap memiliki penghasilan melalui hasil investasi. Itu adalah situasi ideal berinvestasi.

Namun, dalam realitasnya, investasi juga bisa membuat seseorang kehilangan kesejahteraan yang telah dimiliki. Kok bisa? Bisa, karena investasi juga memiliki sisi gelap yang terkait dengan kepribadian (personality) seseorang. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas beberapa sisi gelap tersebut agar Anda terhindar dari permasalahan dalam berinvestasi.

Pertama, jebakan imbal hasil besar. Ada seribu satu pilihan investasi, baik di pasar keuangan maupun sektor riel. Dari yang masuk akal hingga yang tidak waras. Tetapi, bagi sebagian kalangan, yang dijadikan indikator adalah imbal hasil yang besar. Artinya, kalau investasi tersebut menjanjikan keuntungan yang menggiurkan, banyak pihak yang akan tertarik. Padahal, imbal hasil besar pasti dibarengi dengan risiko yang juga besar.

Oleh karena itu, dalam berinvestasi, yang semestinya dilihat bukanlah tawaran imbal hasil investasi, melainkan berapa target keuntungan investasi yang ingin Anda peroleh. Secara kelaziman, jika Anda bisa memperoleh hasil investasi dua kali lipat laju inflasi, itu sudah tergolong bagus. Konkretnya, jika laju inflasi sebesar 7 persen per tahun, imbal hasil investasi sebesar 14-15 persen per tahun sudah sangat memadai.

Kedua, ”keserakahan” investasi. Anda tentu pernah mendengar seseorang yang tiba-tiba menjadi kaya raya melalui investasi saham, tetapi kemudian tiba-tiba pula menjadi miskin kembali. Kenapa? Hanya satu jawaban, yakni serakah. Ketika seseorang berinvestasi saham dan saham yang dipilihnya sudah menuai capital gain, berkemungkinan untuk mulai tertarik pada saham-saham lain, yang belum tentu memiliki kinerja fundamental bagus. Saham-saham lain itu bergerak harganya karena dipicu oleh sentimen pasar atau ”digoreng’” oleh bandar saham.

Nah, jika Anda ikut-ikutan dalam ”permainan” saham seperti itu dan berharap memperoleh keuntungan, yang kerap terjadi adalah ”buntung”. Sebab, ketika saham Anda beli, harganya sudah di atas. Selanjutnya, para bandar meninggalkan Anda tanpa bisa keluar dari saham tersebut hingga suatu ketika nasib baik menghampiri Anda jika harga saham tersebut kembali meningkat.

Ketiga, ”ketidaksabaran” berinvestasi. Anda tentu pernah mendengar istilah timing dalam investasi. Artinya, kapan Anda mulai berinvestasi dan kapan keluar. Istilah ini kerap dilekatkan dalam transaksi saham di pasar modal. Sebagian besar investor sangat paham bahwa kalau membeli saham, beli di saat harga rendah dan jual di harga atas. Masalahnya, kapan satu saham dianggap harganya murah dan kapan saat menjualnya? Berapa persen kenaikan dari satu saham sehingga layak disebut sudah tinggi? Jawabannya sangat relatif. Namun, yang sering terjadi adalah seorang investor telanjur menjual sahamnya pada saat harga baru saja mulai meningkat. Investor semacam ini tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu capital gain yang lebih besar sehingga keuntungan investasinya menjadi sangat terbatas.

Keempat, investasi berdasarkan gosip. Masih ingat kisah Qisar ataupun arisan berantai yang memakan banyak korban? Peristiwa semacam ini bisa terjadi sebenarnya bukan saja karena sang korban memang memiliki perilaku ”serakah”, ingin mendapatkan imbal hasil besar, tanpa memahami risikonya, melainkan karena tawaran investasi itu sendiri datang dari ”mulut ke mulut”. Jadi, banyak kalangan ikut- ikutan karena tetangga dan ataupun saudaranya ikut serta lebih dahulu. Jadi, mereka terjebak ramai-ramai dan akhirnya menyesal ramai-ramai pula. Apa yang bisa dicermati dari fenomena tersebut? Jangan pernah berinvestasi karena tawaran ”mulut ke mulut”. Sebab, selain ”mulut” setiap orang berbeda, yang paling mendasar adalah investasi tidak pernah menawarkan diri. Investasi mesti dicari. Dan kebutuhan tiap orang dalam berinvestasi berbeda.

Kelima, investasi berdasarkan utang. Benar, jika utang yang dilakukan diperuntukkan bagi kegiatan produktif yang terukur risikonya, maka utang untuk berinvestasi bukanlah hal haram. Yang menjadi masalah adalah seberapa besar utang itu dilakukan. Banyak kalangan terjebak pada utang karena ingin melakukan ekspansi secara terus-menerus sehingga beban bunga dan angsuran semakin besar, sementara hasil investasi tidak memadai untuk membayar kembali utang tersebut. Akibatnya, untuk menutupi utang yang satu dilakukan utang baru alias gali lubang tutup lubang. Pola ini dalam jangka panjang bukan saja memberatkan, tetapi juga bisa menggerus harta yang telah dimiliki. Oleh karena itu, hindari utang yang berlebihan dalam membiayai investasi.

Selain hal-hal yang dipaparkan di atas, tentu masih sangat banyak hal-hal negatif yang terkait dengan kegagalan investasi. Namun, yang mesti diingat, semua sisi gelap tersebut sebenarnya bergantung pada kepribadian setiap investor. Hal-hal tersebut bisa berlaku pada satu investor, tetapi tidak terjadi pada investor lain. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi, ada baiknya direnungi kembali profil kepribadian Anda, apakah tergolong investor yang mudah terpengaruh atau memiliki pendirian. Keberhasilan berinvestasi sangat bergantung pada karakter Anda.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, December 26, 2010

INVESTASI: Investor Kecil Membeli Saham IPO

Minggu, 26 Desember 2010 | 03:02 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Bagaimana caranya investor kecil dengan modal maksimum Rp 5 juta ikut membeli saham IPO?

Tidak ada batasan yang jelas mengenai konsep investor kecil, tetapi berbagai pihak biasanya menyatakan bila transaksinya masih di bwah 50 lot (1 lot sama dengan 500 saham), transaksi tersebut dianggap transaksi kecil. Bila nilai harga sahamnya sebesar Rp 50.000, seperti saham ASII (Astra Internasional), nilainya 1 lot saja sudah mencapai Rp 25 juta.

Bila ukuran yang dipakai nilai, maka nilai transaksi di bawah Rp 50 juta sudah dianggap investor kecil, bahkan ada pihak yang menganggap nilai transaksi Rp 100 juta masih dikategorikan investor kecil. Biasanya investor kecil paling peka terhadap aturan yang mematikan kehidupan mereka. Bahkan, ada investor kecil hidup dari transaksi saham di bursa. Bila kita pergi ke Bursa Amerika Serikat, banyak investor kecil yang bermain saham di bursa sebagai penghidupan.

Saham IPO adalah saham yang pertama kali ditawarkan oleh investor kepada publik dengan bantuan perusahaan sekuritas sebagai penjamin emisi. Periode IPO sangat pendek karena saham tersebut biasanya sudah ditawarkan kepada pihak lain sebelum ditawarkan kepada publik. Namun, sosialisasi penawaran saham tersebut perlu berkali-kali dilakukan agar bisa menjadi saham yang dapat diketahui masyarakat.

Berbagai penelitian memberikan argumentasi dan kesimpulan baik di dalam negeri ini maupun di luar negeri bahwa investor yang melakukan investasi pada saham IPO umumnya mendapatkan keuntungan minimum 5 persen selama periode dua minggu. Bila investor melakukan investasi dua saham IPO pada setiap bulan, investasinya akan sangat menguntungkan. Ada seorang investor yang bercerita ketika penulis mengikuti IPO KS bahwa investor tersebut selalu mendapatkan keuntungan dan kekurangan biaya hidup ditutupi dari keuntungan main saham IPO dan secara kebetulan investor tersebut seorang pegawai negeri.

Buka rekening

Pertama yang harus dilakukan investor adalah mempunyai rekening pada perusahaan sekuritas. Pembukaan rekening pada perusahaan sekuritas merupakan sebuah kewajiban, tanpa rekening ini investor tidak bisa menjual sahamnya. Ketika investor ingin membuka rekening pada perusahaan sekuritas, investor harus mempunyai dana paling sedikit Rp 10 juta. Nilai ini merupakan kewajiban yang diminta perusahaan sekuritas. Nilai ini kadang bisa juga lebih rendah dan bila ada yang menjamin investor, tetapi kemajuan dan persoalan krisis yang terjadi membuat nilai ini akan meningkat.

Pada pembukaan rekening, investor mengisi sebuah formulir yang berisikan pertanyaan mengenai data pribadi investor. Berisi juga pertanyaan: mengapa investor bermain saham dan dari dana investor untuk transaksi saham tersebut. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan wajib untuk memenuhi peraturan yang dikenal peraturan pengenalan klien (know your client, KYC).

Selanjutnya, perusahaan sekuritas melakukan due diligence (pengujian tuntas) terhadap pernyataan investor dalam formulir tersebut. Bila perusahaan sekuritas telah merasa tidak ada persoalan, investor diperbolehkan melakukan transaksi. Investor harus mencari perusahaan sekuritas yang memberikan kelonggaran kepada investor agar bisa membuka rekening dengan setoran awal Rp 5 juta. Bila investor melakukan dengan jujur, perusahaan sekuritas akan memberikannya kepada investor. Tujuan investor adalah bermain saham IPO, tetapi investor tidak bisa langsung, melainkan bermain saham dulu dengan jumlah kecil.

Perusahaan sekuritas

Kedua, investor harus berhubungan dengan pemasaran perusahaan sekuritas. Investor selalu mempunyai hubungan yang baik dengan pemasaran tersebut agar pelayanan terhadap investor lebih baik. Bahkan, ada pihak yang melakukan traktir makan bila investor mendapatkan keuntungan cukup lumayan. Biasanya, pemasaran perusahaan tidak pernah meminta hal-hal yang demikian, tetapi investor yang bertindak.

Pemasaran perusahaan sekuritas sangat takut bila kehilangan investor. Bila investor mempunyai hubungan yang sangat baik dan dekat, saham IPO akan bisa diperoleh dan kemungkinan setiap ada IPO akan mendapat penjatahan karena memberikan kepada investor bukan sebagai beban, melainkan pelayanan. Investor jangan kecewa dengan pengalaman investor yang tertulis pada tulisan dua minggu lalu, di mana 10 tahun telah menjadi nasabah tetapi satu lot pun tidak dapat, padahal sudah menyetor sekian ratus juta. Persoalan tersebut terjadi karena moral hazard lebih tinggi dari tindakan bijak.

Ketiga, investor harus melakukan transaksi yang berulang pada perusahaan sekuritas tersebut. Bila investor hanya melakukan transaksi tidak berulang-ulang, investor tidak akan pernah diingat. Artinya, investor melupakan transaksi sahamnya dan orang lain juga ada kemungkinan melupakan investor.

Saat ini sudah ada berapa perusahaan sekuritas yang menawarkan transaksi saham secara online, seperti Done dilayani PT Danareksa, E-trading oleh perusahaan yang bersangkutan, dan IPOT dilayani PT IndoPrimer Sekuritas. Ketiga perusahaan ini terdaftar di Bapepam dan menjadi anggota Bursa Efek Indonesia. Transaksi ini dilakukan bila investor memiliki dana dan saham.

Dana harus dibutuhkan pada rekening investor di perusahaan minimum sejumlah nilai transaksi investor dan saham yang ada di rekening jika ingin menjual. Artinya, perusahaan sekuritas tidak ingin mengganggu risiko akibat transaksi investor. Selayaknya investor mencoba transaksi saham pada metode online ini dan ada kemungkinan mendapatkan saham IPO karena investor sudah mempunyai rekening pada perusahaan sekuritas.

Quoted by Idham Azhari From KOMPAS

Sunday, November 7, 2010

Menghindari Jebakan Pasar Saham

Minggu, 7 November 2010 | 03:57 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi keuangan

Anda sudah berinvestasi di pasar saham? Bagaimana hasilnya? Sebagian dari Anda boleh jadi sudah menikmati keuntungan besar. Tetapi, sebagian lagi juga sangat mungkin merasa jera dan mundur dari pasar saham karena mengalami kerugian.

Lepas dari situasi tersebut, bagi Anda yang selama ini sudah berhasil menuai untung, jangan dulu bergembira. Sebab suatu ketika Anda bisa saja ”terpeleset” dalam jual-beli saham. Begitupun bagi Anda yang merasa jera, semestinya tidak perlu putus asa. Sebab peluang menangguk keuntungan dari investasi di saham sangatlah besar. Ada beberapa jebakan di pasar modal yang layak diwaspadai.

Pertama, jebakan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG). Indeks yang melesat tinggi, bagi kalangan awam mungkin ditafsirkan sebagai indikasi bagus untuk memborong berbagai saham, dengan harapan saham-saham tersebut akan terus mengalami kenaikan harga seiring kenaikan indeks. Padahal realitasnya belum tentu demikian. Kenaikan indeks tidak selalu diikuti kenaikan harga saham secara menyeluruh. Banyak saham yang harganya malah merosot. Sebab, kenaikan indeks lebih dipengaruhi pergerakan harga dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi besar. Ringkasnya, naiknya indeks tidak selalu cerminan dari keseluruhan kinerja saham yang ada di bursa.

Saham-saham yang mendorong naiknya indeks tentu memiliki pembeli dalam jumlah besar. Siapa yang melakukan pembelian? Investor institusi atau investor ritel (perorangan)? Apakah mereka investor asing atau investor lokal? Apakah tujuan mereka membeli untuk dipegang dalam kurun waktu yang lama atau sekadar trading. Kalau yang membeli itu adalah investor institusi lokal, lazimnya mereka membeli untuk dipegang dalam kurun waktu cukup lama. Tetapi, kalau yang membeli itu adalah investor asing, tidak ada jaminan mereka akan memegang dalam kurun waktu yang lama. Artinya, kenaikan indeks yang tiba-tiba bisa saja mengalami koreksi atau penurunan cepat secara tiba-tiba pula, ketika investor asing tersebut menjual kembali saham yang dibelinya.

Oleh karena itu, pergerakan kenaikan indeks yang terlalu cepat sesungguhnya bukanlah hal bagus. Akan lebih bagus jika indeks bergerak, seiring dengan pergerakan harga saham yang berdasarkan membaiknya kinerja fundamental dari perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal. Jadi bukan semata-mata karena ada pembelian besar-besaran oleh investor asing.

Jebakan semu

Kedua, jebakan harga semu. Kenaikan harga sebuah saham secara tiba-tiba bukan pula berita bagus. Apalagi jika tidak ada alasan fundamental yang mendasari kenaikan harga saham tersebut. Lebih dari itu, kalau volume transaksi terhadap saham yang harganya mengalami kenaikan tinggi itu tidak terlalu besar, kecurigaan pantas dilekatkan ke saham tersebut, sebagai saham yang sedang ”digoreng” oleh para bandar.

Saham yang mengalami pergerakan harga akan menarik perhatian. Yang tertarik akan ikut serta membeli. Ketika membeli saham tersebut, harganya biasanya sudah telanjur tinggi. Dan ketika harga sudah tinggi, maka pihak yang ”menggoreng” akan menjual seluruh saham yang dimiliknya. Dampaknya, harga saham ”gorengan” itu akan gosong dan terjun bebas. Jadi, jangan pernah tertarik untuk membeli saham-saham yang tiba-tiba melesat tinggi.

Serakah

Ketiga, jebakan keserakahan. Selain jebakan yang pertama dan kedua di atas, masih ada jebakan lain yang lebih berbahaya, yakni jebakan keserakahan. Dan jebakan ini bukan saja bisa menimpa investor berkategori trader, tetapi juga termasuk investor saham yang masuk kalangan growth investor maupun value investor.

Saham yang sudah dipegang cukup lama dan kebetulan kinerja perusahaan emiten mengalami peningkatan biasanya akan berimbas pada kenaikan harga. Bagi Anda yang sudah memegang saham dimaksud sejak lama, tentu telah mengantongi potential gain dari kenaikan harga saham itu. Kenapa potential gain? Ya karena sahamnya masih dipegang dan belum dijual. Dalam situasi begini, ironisnya kerap ada ”bisikan” di telinga investor untuk jangan dulu menjual sahamnya.

Katakanlah, setelah dipegang selama 1 tahun, harga saham meningkat 30 persen. Karena peningkatannya cukup tinggi, membuat si investor penasaran dan mengharapkan adanya peningkatan lagi, dengan asumsi, investor lain akan turut serta memburu saham dimaksud. Sayangnya, yang sering kali terjadi adalah potential gain yang 30 persen itu hilang karena investor lain malah menjual saham dimaksud dan harganya kemudian turun.

Oleh karena itu, sangatlah pantang untuk menjadi ”serakah” dalam investasi saham. Jika Anda mematok target 30 persen kenaikan harga, maka ketika harga saham sudah tercapai, mestinya saham tersebut langsung dijual. Tidak perlu menyesal kalau ternyata harga saham itu terus meroket. Itu bukan rezeki Anda.

Keempat, jebakan rasa takut. Seorang investor di pasar saham kerap kali mengalami kerugian karena tidak bisa menahan rasa takutnya. Ketika saham yang dibeli mengalami penurunan harga, mereka langsung merasa takut harga sahamnya semakin merosot. Dan jika tidak mampu lagi mengontrol rasa takut, saham yang sudah dibeli langsung dijual dan yang diperoleh hanya kerugian. Padahal, setelah dijual saham tersebut bisa kembali naik dan bahkan semakin tinggi harganya.

Bagaimana mungkin? Sangat mungkin. Pergerakan harga saham harian tidak selalu dipicu oleh faktor fundamental. Tetapi, lebih sering karena sekadar sentimen pasar.

KOMPAS

Sunday, October 17, 2010

Bagaimana Transaksi Surat Sanggup?

Minggu, 17 Oktober 2010 | 03:58 WIB

Adler Haymans - Manurung praktisi keuangan

Asing datang membanjiri dana di Indonesia dan ingin membeli surat utang dan saham. Kesempatan ini tidak bisa dilepaskan begitu saja, mengingat selama ini agak susah mendapatkan kredit dari bank. Akibatnya, timbul pertanyaan bagaimana menerbitkan surat sanggup? Bagaimana transaksi surat sanggup dan apa risikonya?

Surat sanggup adalah surat utang yang diterbitkan oleh subyek hukum dan dianggap sebagai instrumen keuangan dan dapat diperjualbelikan. Surat sanggup lebih dikenal di pasar modal sebagai promissory notes. Surat sanggup mempunyai jatuh tempo dan umumnya tidak panjang dan paling panjang kurang dari satu tahun sehingga instrumen keuangan dianggap sebagai instrumen investasi jangka pendek.

Instrumen keuangan ini merupakan sebuah perjanjian atau kontrak antara dua pihak, yaitu penerbit surat sanggup dan investor. Instrumen keuangan harus dibayar oleh penerbit pada saat jatuh tempo dengan tanpa alasan apa pun sesuai dengan nilai yang tertera pada surat sanggup tersebut.

Surat sanggup tidak memerlukan rating (pemeringkat) dari lembaga pemeringkat seperti Pefindo dan Fitch Rating Indonesia. Pemeringkatan dan jatuh tempo ini merupakan perbedaan surat sanggup dengan commercial papers. Investor yang membeli surat sanggup maupun commercial paper pada harga at discount dan diskon tersebut dianggap sebagai bunga.

Misalnya, sebuah surat sanggup mempunyai nilai jatuh tempo sebesar Rp 5 miliar, maka nilai beli surat sanggup harus di bawah Rp 5 miliar, tergantung yield kesepakatan penerbit dengan investor. Bila yield sebesar 5 persen, maka investor akan membayar sebesar diskon bunga dengan periodenya. Bila jatuh tempo investor selama 270 hari, maka investor akan membayar sebesar Rp 4.821.664.465, (Rp.5 miliar/(1+(270/365)*5%)).

Tanpa jaminan

Pada awal penerbitan surat sanggup, penerbit mempunyai itikad baik untuk membayar surat sanggup pada saat jatuh tempo sehingga surat sanggup tidak mempunyai jaminan. Kepercayaan investor terhadap janji tersebut merupakan pegangan investor sehingga investor mau membeli surat sanggup tersebut. Tetapi, belakangan surat sanggup sudah mulai ditambah dengan jaminan karena investor ingin mengurangi risiko yang dihadapinya.

Penerbitan surat sanggup bisa dilakukan sendiri bila penerbit mengetahui pembelinya (investor). Karena investor sangat bervariasi terutama dari segi permintaan, maka sering kali penerbit meminta bank investasi (sekuritas) untuk membantu penerbit menjual surat sanggup tersebut karena sekuritas yang memiliki investor. Untuk jasa sekuritas tersebut diperlukan pembayaran fee sehingga penerbit tidak mau dipusingkan seluruh persoalan penerbitan surat sanggup tersebut.

Bisa diperjualbelikan

Surat sanggup bisa diperjualbelikan sesuai dengan kesepakatan antara pembeli dan penjual tanpa sepengetahuan penerbit, tetapi pembeli harus melakukan konfirmasi kepada penerbit mengenai keabsahan surat sanggup agar pada saat jatuh tempo surat sanggup bisa ditagih kepada penerbit. Agar cepat laku,

penjual kembali akan menggunakan sekuritas karena perusahaan tersebut yang mengetahui investor (pembeli) surat sanggup tersebut. Investor kembali harus membayar fee untuk menjual surat sanggup terkecuali pada awal sudah ada kesepakatan bahwa surat sanggup dijual tanpa bayar fee.

Ketika diterbitkan, surat sanggup tidak mempunyai nama kepemilikan pada surat sanggup sehingga siapa yang membawa surat sanggup menjadi pemiliknya dan berkuasa untuk menagih pada saat jatuh tempo kepada penerbit. Tidak adanya nama tersebut dikarenakan surat sanggup dapat diperjualbelikan dan tidak ada jaminan pihak lain bahwa surat sanggup tersebut akan dibayar pada saat jatuh tempo.

Ketika saat awal pertama transaksi surat sanggup di mana investor membelinya, maka investor harus mentransfer dana sebesar nilai kesepakatan surat sanggup tersebut. Pemegang surat sanggup harus mempunyai bukti transfer atas pembeli surat sanggup dan juga bukti transaksi telah terjadinya jual-beli surat sanggup. Bukti ini sangat diperlukan pada periode jatuh tempo untuk menyatakan telah terjadi transaksi.

Pada saat jatuh tempo, pemegang surat sanggup harus mengajukan surat sanggup untuk menagih utang tersebut dan hanya bisa menagih sebesar nilai yang tertera pada surat sanggup. Penerbit surat sanggup tidak bisa menolak tagihan tersebut karena kewajiban yang harus dibayar. Tindakan ini dilakukan untuk menyatakan bahwa penerbit mempunyai utang kepada pemegang surat sanggup.

Surat sanggup harus ditagih pada saat jatuh tempo dan bila tidak ditagih, tidak ada kewajiban penerbit harus membayar secepatnya dan adanya tambahan pembayaran dikarenakan telat penagihan. Akibatnya, penerbit surat sanggup tidak bertanggung jawab atas kerugian yang dialami pemegang surat sanggup akibat kelalaiannya menagih pada saat jatuh tempo. Pemegang bisa menagih surat sanggup asalkan dengan bukti yang kuat.

Bila terjadi penagihan di luar waktu yang ditentukan bukan pada saat jatuh tempo, maka pemegang surat sanggup tidak bisa mengenakan bunga setelah berakhir jatuh tempo surat sanggup karena tidak ada tertera dalam surat sanggup, terkecuali ada kesepakatan antara penerbit dengan pemegang surat sanggup. Bila ada kesepakatan baru karena belum bisa bayar atau pemegang surat sanggup setuju diperpanjang, maka penerbit surat sanggup harus menerbitkan surat sanggup dengan nilai terbaru sesuai kesepakatan. Jatuh tempo surat sanggup sudah berubah sesuai dengan kesepakatan.

Risiko

Banyak risiko yang dihadapi pemegang surat sanggup, yaitu risiko tingkat bunga, risiko daya beli, dan risiko tidak mampu bayar. Salah satu risiko yang paling besar dari seluruh risiko yang ada adalah risiko tidak mampu bayar walaupun pada awal penerbitan mempunyai itikad baik untuk membayar. Ketidakmampuan membayar dikarenakan faktor internal perusahaan dan faktor lingkungan eksternal perusahaan seperti krisis ekonomi dan keuangan serta kebijakan pemerintah.

Bila surat sanggup tidak mampu dibayar oleh penerbitnya, pemegang surat sanggup dapat melakukan tindakan hukum, misalnya mengajukan kepailitan kepada pengadilan terhadap penerbit surat sanggup bila surat sanggup tersebut tercatat di laporan keuangan penerbit.

KOMPAS

Sunday, September 26, 2010

Saham bagi Pemula

Minggu, 26 September 2010 | 03:46 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi keuangan

Coba cermati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dalam dua bulan terakhir. Berkali-kali menembus rekor baru, mulai dari 3.200 dan kemudian 3.300, bahkan hari-hari ini sudah di sekitar 3.400. Padahal, di awal tahun 2010, indeks masih berada di kisaran 2.400. Kenaikan indeks yang pesat tersebut jelas menggembirakan bagi para pelaku di pasar modal.

Investor institusi ataupun investor ritel berpeluang memetik keuntungan besar dari saham-saham yang ditransaksikan. Bayangkan, ada saham yang dalam waktu seminggu harganya melonjak puluhan persen.

Bahkan tidak sedikit saham yang secara harian harganya bergerak di atas lima persen. Jelas ini merupakan imbal hasil yang luar biasa. Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat bunga deposito atau tabungan yang hanya memberikan bunga sekitar enam persen per tahun. Di pasar modal, keuntungan enam persen itu bisa diraih dalam jangka waktu harian, mingguan, ataupun bulanan saja. Apakah Anda tertarik? Tunggu dulu. Itu adalah cerita indahnya.

Dalam realitasnya, tidak sedikit investor, khususnya investor ritel apalagi pemula, yang babak belur ketika mencoba mengadu peruntungan di pasar modal. Apa pasal? Banyak faktor. Akan tetapi, yang paling sering terjadi adalah minimnya pengetahuan tentang pasar modal. Kemudian lebih berperannya emosional dibandingkan dengan rasional. Seperti contoh di atas, tatkala indeks melesat tinggi, bukan berarti semua saham terus meningkat harganya. Banyak juga saham-saham yang malah terperosok.

Di sisi lain, peningkatan harga saham tidaklah bersifat permanen, apalagi jika kenaikannya bukan didorong oleh faktor fundamental, melainkan sekadar sentimen pasar. Misalnya, ketika saham A bergerak ke atas.

Naik mulai dari satu persen, dua persen, tiga persen, bahkan mungkin empat persen. Para investor tergiur melihat kenaikan harga saham tersebut dan mereka ikut-ikutan membeli pada saat harga sudah cukup tinggi. Dengan kata lain, tatkala investor ritel sudah masuk, harga sudah telanjur tinggi. Harapannya tentu saja adalah harga saham itu akan semakin naik. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Keesokan harinya harga saham A terjun bebas, kembali ke harga semula.

Jual kembali

Kenapa? Karena mereka yang membeli di awal melakukan profit taking. Menjual kembali saham tersebut. Sementara para investor ritel masih memegang saham tadi. Alhasil, investor ritel mengalami kerugian besar.

Itulah yang kerap terjadi di pasar modal. Konkretnya, pasar modal menjanjikan keuntungan besar, tetapi di sisi lain juga menawarkan kerugian besar. Ini sesuai dengan prinsip high risk high return. Lantas, kalau situasinya seperti itu, apakah tidak usah mengadu nasib di pasar modal? Tidak juga. Pasar modal tetap merupakan alternatif lahan investasi yang bisa dipertimbangkan oleh siapa saja, termasuk oleh Anda, jika menginginkan aset bertumbuh secara lebih cepat. Namun, tentu saja banyak kriteria yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum Anda menanamkan uang Anda dalam berbagai saham, apalagi jika Anda tergolong investor pemula. Apa saja kriteria tersebut? Kita lihat dalam bahasan berikut.

Pertama, prinsip siap menerima keuntungan, tetapi siap juga menanggung kerugian. Artinya, kalau dana yang Anda tempatkan di pasar modal ternyata bernasib buruk, maka Anda tidak akan jatuh miskin. Dengan kata lain, jangan menggunakan ”uang dapur” untuk berinvestasi di pasar modal. Lain hal kalau Anda sudah tergolong pakar di bidang saham, boleh-boleh saja seluruh harta Anda dipertaruhkan. Namun, kalau Anda masih tergolong pemula, gunakan sedikit saja dulu dari dana yang Anda miliki untuk memulai investasi di pasar modal. Lakukan penjajakan dan pengenalan terhadap karakteristik serta perilaku pasar modal. Ini seperti pepatah, ”tak kenal maka tak sayang”. Jadi, pelan-pelan kenali pasar modal. Dan, itu mesti dilakukan dengan cara ”bermain” langsung. Tidak sekadar konsep-konsep. Sebab, prinsip investasi di pasar modal adalah eksperience alias merasakan langsung denyut nadinya. Merasakan naik turun harga saham ketika Anda sudah membelinya.

Kedua, memastikan prinsip investasi Anda apakah sebagai trader, growth investor, atau value investor. Apa maksudnya? Ini merupakan pilihan bagi investor yang menanamkan dananya di pasar modal. Jika Anda memiliki nyali sekeras baja, memiliki cukup banyak waktu untuk memonitor pasar, dan memiliki akses untuk mendapatkan berbagai informasi serta rumours dan berorientasi jangka pendek, maka Anda boleh mencoba untuk menjadi trader. Setiap hari bermain saham, beli pagi jual sore, atau beli sore jual keesokan harinya, dan seterusnya. Akan tetapi, jika Anda tergolong investor yang berorientasi jangka menengah panjang dan tidak terlalu punya waktu, Anda sebaiknya menjadi growth investor dengan memilih saham-saham yang fundamentalnya bagus dan perusahaan/emiten memiliki potensi untuk bertumbuh kembang. Anda beli sahamnya dan berharap dalam enam bulan atau setahun mendatang harganya akan meningkat. Dengan menjadi growth investor, Anda tidak perlu sibuk melihat pergerakan harga saham karena orientasi Anda bukanlah pergerakan harian.

Selain itu, Anda juga bisa memilih menjadi value investor. Artinya, Anda membeli saham-saham yang berharga sangat murah dan kemudian memegangnya dalam kurun waktu yang sangat panjang, bisa di atas satu tahun, dan berharap saham- saham tersebut akan meningkat atau paling tidak kembali ke harga wajarnya. Mana pilihan terbaik? Semua bisa baik dan semua bisa tidak baik jika Anda keliru memilih.

Dengan kata lain, pilihan tersebut mesti disesuaikan dengan karakteristik pribadi Anda. Jika Anda tergolong risk taker, menjadi trader boleh dipertimbangkan. Namun, jika Anda bukan kalangan tersebut, maka menjadi growth investor atau value investor merupakan pilihan yang lebih baik.

Ketiga, memilih saham dan melakukan transaksi. Dalam jargon pasar modal dikenal istilah analisa fundamental dan analisa teknikal. Analisa fundamental bertujuan untuk mengetahui kinerja perusahaan/emiten yang sahamnya diperdagangkan di bursa, sedangkan analisa teknikal untuk mengetahui rekam jejak pergerakan harga saham dimaksud dan faktor yang memengaruhinya. Untuk menjadi piawai dalam berinvestasi saham tentu ada baiknya kedua analisa tersebut dipelajari dan dipahami. Namun, jika Anda tidak cukup punya minat dan mungkin tidak cukup waktu, boleh mengambil jalan pintas dengan membaca saja hasil analisa dari para analis saham, baik itu analisa fundamental maupun analisa teknikal. Inti dari kedua jenis analisa tersebut adalah untuk menggambarkan prospek dari saham yang dianalisa. Selamat mencoba. ***

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Friday, September 10, 2010

Investasi Saham atau Berbisnis?

Jumat, 10/9/2010 | 01:58 WIB

KOMPAS.com
— Dana likuid yang Anda miliki akan lebih berkembang dan menghasilkan jika diinvestasikan. Di antara berbagai pilihan investasi, apakah Anda masih bingung mengambil keputusan? Satu sisi Anda tertarik membeli saham, tetapi di sisi lain prospek bisnis sepertinya menjanjikan. Jadi pilih mana?


Prinsipnya, Anda harus memiliki tujuan finansial yang jelas sebelum memilih jenis investasi. Tom Martin Charles Ifle, mentor coach yang juga praktisi hipnoterapi, mengatakan, sebelum mengambil keputusan berinvestasi sebaiknya pertimbangkan dengan matang dan perhitungkan risiko.

Pada praktiknya, 99 persen orang masih bingung menentukan tujuan finansial. Selain itu, kecenderungan investor pemula adalah mudah tergiur dengan produk money game yang menjanjikan keuntungan. Alasan lain yang membuat seseorang mudah tergiur adalah juga karena ikut-ikutan teman yang membeli produk serupa.

"Secara teori semua orang tahu dan paham prinsip berinvestasi. Namun kenyataannya, praktiknya berbeda dengan teori. Ini ada hubungannya dengan emosi. Kemampuan otak yang tidak terlatih akan mengakibatkan kerugian saat mengambil keputusan. Dan banyak orang melakukan kesalahan berulang dan tidak belajar dari kesalahan mereka," Tom memaparkan dalam bukunya yang berjudul Big Brain Big Money.

Nah, untuk menjawab kebingungan Anda memilih di mana sebaiknya menanamkan modal, Tom memberikan gambarannya. Sebaiknya kenali perbandingan antara menanamkan modal pada saham atau di bisnis, sebelum menetapkan pilihan.

Faktor pertimbangan memilih saham atau bisnis di antaranya dengan membandingkan alat ukurnya, tingkat akurasi, perubahan harga dan alasannya, kepemilikan, dan risiko. Berikut perbandingan sederhana versi Tom:

Saham
Untuk mengukur penanaman modal pada saham Anda hanya perlu melihat harga saham tersebut. Sedangkan nilai akurasi investasi di pasar modal ini cenderung akurat meski sering kali salah prediksi. Perubahan harga terjadi setiap detik pada investasi saham disebabkan harga penawaran yang selalu berubah. Kepemilikan saham rata-rata selama 11 bulan. Risiko investasi saham adalah adanya penurunan sementara pada harga saham yang cenderung fluktuatif.

Bisnis
Untuk mengukur modal yang sudah ditanamkan pada bisnis, lihatlah jumlah nilai aset Anda. Tingkat akurasi pada bisnis bergantung pada ketepatan prediksi dari pemilik bisnis tersebut. Perubahan harga pada bisnis tidak terlalu fluktuatif seperti saham. Harga berubah 2-3 kali dalam setahun pada investasi bisnis. Perubahan harga sangat bergantung pada nilai omzet yang dihasilkan pemilik usaha. Bisnis bisa berjalan hingga beberapa generasi, tergantung kemampuan manajemen pemilik bisnis. Bicara risiko, bisa terjadi penurunan yang pasti dari aset pada bisnis Anda.

Bagaimana pengalaman Anda? Investasi apa yang akan Anda pilih jika diberikan opsi saham atau berbisnis?


WAF

Editor: Josephus Primus

KOMPAS

Sunday, July 18, 2010

INVESTASI: Proteksi Kekayaan

ADLER HAYMANS MANURUNG - PRAKTISI KEUANGAN

Baru-baru ini ada satu keluarga bertanya mengenai keuangan keluarga yang dimiliknya dan keberlangsungan hidupnya. Saat ini keluarga tersebut telah mengumpulkan dana yang cukup bagi ukuran keluarga di Indonesia. Tetapi, kekayaan tersebut juga sering melorot atau drop karena penawaran para agen penjual produk investasi.

Bahkan, hasil yang dicapai satu tahun bisa habis dalam hitungan hari karena produk yang ditawarkan cukup menjajikan, tetapi hasilnya nihil dan prinsipal nvestasinya juga hilang.

Keluarga tersebut punya dua pertanyaan mendasar: apakah setiap keluarga terus mengejar aset yang dihitung para perencana keuangan dan bagaimana memproteksi aset yang dimiliki saat ini.

Semua nasihat yang diberikan perencana keuangan sudah baik, tetapi keluarga harus menyimak dan bijak atas nasihat tersebut. Rencana keuangan yang dibuat sudah diimplementasikan, tetapi perlu diperhatikan risiko yang dihadapi dan pengetahuan keluarga atas investasi dan rencana keuangan tersebut.

Rencana keuangan keluarga yang baik adalah jika memiliki perencanaan investasi yang baik. Perencanaan investasi yang baik memerlukan pengendalian dan pengetahuan risiko atas investasi tersebut. Biasanya, nasihat investasi didapatkan dari mereka yang telah berpengalaman melakukan investasi karena telah mengalami risiko atas investasi yang dilakukan. Oleh karena itu, pemilihan perencana investasi harus memerhatikan pengalaman perencana keuangan tersebut.

Oleh karena itu, keluarga harus memahami siklus atau tahapan keluarga dalam perencanaan keuangannya, termasuk siklus investasi yang dimilki keluarga tersebut. Bila umur manusia dikelompokkan dalam perencanaan keuangan, secara besar pengumpulan dana keluarga dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok pengumpulan dana dan kelompok proteksi dana.

Manusia (keluarga) mulai mengumpulkan dana sejak mulai lulus sekolah dan atau mulai bekerja. Biasanya seseorang mulai mengumpulkan dana ketika berumur 23 tahun karena pada umur itu dianggap sudah mulai masuk kerja atau mempunyai penghasilan. Penghasilan tersebut dikumpulkan sampai umur 50 tahun.

Sebenarnya, pada kelompok umur ini terjadi dua tahap (stages) karena seseorang tersebut masih sendiri sampai pada umur 27 tahun. Ketika berumur 30 tahun dan selanjutnya umumnya mereka telah memiliki keluarga, istri dan anak-anak.

Pengumpulan dana dilakukan untuk mendapatkan dana besar agar pada saat pensiun tidak perlu bekerja dan keberlangsungan hidup terjamin. Pada periode ini, keluarga harus memiliki aset seperti rumah dan kendaraan serta peralatan/perlengkapan lain untuk kepentingan keluarga. Pada periode ini juga keluarga harus mempersiapkan dana untuk pendidikan agar anak-anak mempunyai pendidikan yang memadai.

Pada periode ini sebenarnya tindakan pengumpulan dana yang pesat sangat dibutuhkan sehingga investasi yang hasilnya cukup gemilang sangat diminati. Sedangkan investasi pada instrumen berproteksi tidak cocok karena tidak akan memberikan pertumbuhan pada asetnya.

Keluarga bisa melakukan investasi pada instrumen yang berisiko tinggi, karena hasil yang diberikan juga tinggi. Adanya risiko tersebut tidak membuat investor gentar berinvestasi karena kemungkinan mendapatkan hasil yang gemilang menjadi tujuan. Bila dana yang dimiliki sudah tercapai, sebenarnya keluarga sudah termasuk pada kelompok berikutnya, yaitu mulai memikirkan proteksi atas aset tersebut.

Kelompok umur 50 tahun dan selanjutnya merupakan kelompok umur proteksi dan pengeluaran. Pada kelompok umur 50 tahun sampai umur 60 tahun dilakukan proteksi atas aset yang dimiliki, tetapi pertumbuhan aset juga sangat diinginkan.

Terdapat dua kelompok besar di sini, yaitu kelompok persiapan pensiun dan kelompok pensiun. Kelompok persiapan pensiun pada umur 50-60 tahun, bahkan sampai 65 tahun. Setelah umur ini, maka dimasukkan kelompok umur pensiun di mana dana yang dimiliki harus sudah cukup untuk pensiun dan tidak bekerja lagi.

Proteksi aset

Kelompok umur 50 tahun sampai umur 60 tahun dapat dikatakan kelompok umur dimana keluarga harus mempertahankan atau memproteksi aset yang dimilki. Artinya, keluarga tidak perlu melakukan investasi pada aset yang mempunyai risiko yang tinggi.

Proteksi atas aset keluarga bisa dengan cara menyimpan dana pada obligasi pemerintah dan aset properti dan pada saat pensiun dijual dan diinvestasikan pada aset yang bisa memberikan penghasilan bulanan.

Jika keluarga telah menempatkan dananya pada obligasi pemerintah, keluarga telah memproteksi dana yang dimiliki. Kupon obligasi pemerintah bisa digunakan untuk biaya kehidupan sehari-hari.

Bila investasi pada properti, keluarga harus mendapatkan properti yang nilainya tidak akan turun, serta menyewakan properti tersebut untuk mendapatkan penghasilan agar bisa membiayai kehidupan sehari-hari.

Tindakan keluarga pasti selalu mempunyai risiko. Yang perlu adalah mengendalikan risiko agar kemungkinan kerugian cukup kecil. Diskusi dan bertanya kepada ahlinya sangat dibutuhkan. Selamat memproteksi dan meningkatkan aset keluarga.

KOMPAS