BLOGSPOT atas
Showing posts with label Deposito. Show all posts
Showing posts with label Deposito. Show all posts

Sunday, February 13, 2011

Investasi Kura-kura

Minggu, 13 Februari 2011
Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Tulisan ini bukan bermaksud membahas hewan kura-kura yang jalannya amat lamban. Tetapi, mengulas investasi yang hasilnya amat lamban, alias mirip kura-kura. Tapi, kura-kura yang lamban bukan berarti selamanya jelek. Bagaimana maksudnya?

Setiap investor pasti menginginkan investasinya membuahkan hasil yang besar. Semakin besar hasil investasi, semakin menarik bagi investor. Dan kalau bisa, investasi tersebut tidak memiliki risiko. Jadi, imbal hasil besar, tapi minim risiko. Adakah investasi semacam itu?

Jawaban konkretnya, investasi seperti itu hanya ada dalam brosur-brosur penawaran investasi. Namun, sepanjang sejarah peradaban manusia, belum pernah ada investasi yang bisa memberikan return tinggi dengan risiko rendah. Itu sebabnya, di semua sekolah keuangan dan investasi ada istilah ”high return, high risk”. Imbal hasil berbanding lurus dengan risikonya. Semakin besar ekspektasi terhadap imbal hasil, semakin tinggi pula risiko yang melekat dalam investasi dimaksud.

Moral ceritanya adalah jangan pernah bermimpi memperoleh imbal hasil investasi yang tinggi secara seketika, kecuali Anda berkenan menanggung risiko yang tinggi pula. Oleh karena itu, imbal hasil investasi mestinya dicapai secara bertahap. Boleh saja agak ”lamban”, tapi secara pasti imbal hasil besar akan Anda peroleh. Seperti apa caranya?

Seperti layaknya mengendarai mobil menuju suatu lokasi. Anda pasti sudah mengenal karakter mobil Anda, apakah sering mogok atau memang kelas mobil balap atau mobil kebanyakan. Jika Anda memiliki mobil balap, pasti kemampuan Anda mengendarai mobil luar biasa dan di atas rata-rata pengendara lain. Kecuali, kebetulan Anda memiliki uang banyak dan mampu membeli mobil balap. Kalau seperti ini, tetap saja mobil balap Anda tidak bisa dipacu atau Anda akan mengalami kecelakaan karena, maaf, kemampuan menyetir Anda belum memadai untuk mengendarai mobil balap.

Demikian pula dengan investasi. Anda tidak akan pernah sukses berinvestasi jika tidak memahami karakter jenis investasi yang dipilih. Atau, Anda tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai investasi dimaksud. Jadi, imbal hasil yang diinginkan, sebagai analogi tujuan dari ”mengendarai” investasi, sangatlah bergantung dari pengetahuan Anda tentang investasi tersebut, bukan sekadar karena punya banyak uang untuk diinvestasikan.

Tujuan investasi

Dengan metafora seperti itu, langkah awal dalam berinvestasi adalah pastikan tujuan berinvestasi dan pastikan Anda memahami jenis investasi yang akan dipilih. Lalu, berapa lama tujuan investasi itu akan dicapai. Apakah Anda akan menggunakan kendaraan investasi ala ”kura-kura” atau investasi ala ”mobil balap”. Jika Anda tergolong investor pemula, maka investasi ala ”kura-kura” bukan berarti lebih jelek ketimbang investasi ala ”mobil balap”. Lantas, bagaimana wujud investasi ala ”kura-kura” dan bagaimana pula investasi ala ”mobil balap”?

Investasi ala ”kura-kura” adalah investasi yang konservatif. Tetapi bukan berarti seluruh dana yang Anda miliki mesti ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka. Anda tetap bisa memilih produk-produk yang tersedia di pasar modal, seperti saham, obligasi ritel, maupun reksa dana. Hanya saja, pilihan pada produk tersebut mesti dilakukan secara selektif dan perilaku Anda dalam berinvestasi juga mesti alon-alon. Artinya, kalau membeli saham bukan dimaksudkan untuk ”beli hari ini jual besok”. Tidak perlu secepat itu, seperti ”mobil balap”. Anda beli beberapa saham yang fundamentalnya baik. Lalu targetkan untuk memperoleh capital gain dalam persentase tertentu, misalnya naik 15-20 persen dalam setahun. Maka jual kembali saham tersebut setelah capital gain itu tercapai.

Demikian juga dengan reksa dana dan obligasi ritel. Tujuan Anda berinvestasi bukanlah untuk ”berdagang”, melainkan mengharapkan imbal hasil tertentu dalam kurun waktu yang cukup lama. Dengan pola seperti ini, investasi Anda akan lebih minim risikonya dan tujuan mencapai imbal hasil memadai relatif akan tercapai.

Mobil balap

Sementara, investasi ala “mobil balap” adalah investasi agresif. Investasi jenis ini memungkinkan investor mencapai tujuan secara cepat, tetapi berpeluang mengalami kecelakaan. Contoh konkretnya adalah, jika berinvestasi di saham, karakter-nya adalah saham untuk trading. Dan belum tentu memiliki fundamental bagus, melainkan lebih didasarkan atas pergerakan harga saham. Lebih mengerikan lagi, investasi ala ”mobil balap”, terkadang tidak didasari oleh logika investasi. Misalnya, ikut serta dalam investasi money game dan lain sebagainya karena semata-mata tergiur dengan investasi yang ditawarkan oleh kalangan tertentu. Padahal itu belum tentu investasi, melainkan upaya tipu menipu belaka.

Dari paparan di atas jelas, jika Anda tergolong investor pemula dan masih dalam tahap pembelajaran berinvestasi, sebaiknya tidak mencoba-coba melakukan investasi ala ”mobil balap”. Akan jauh lebih baik berinvestasi secara perlahan, lebih konservatif. Walaupun imbal hasil yang diperoleh tidak terlalu besar, tapi investasi yang Anda lakukan akan sampai pada tujuan.

Lantas, bagaimana portofolio investasi ala ”kura-kura”? Bisa dimulai dengan menempatkan komposisi konservatif, yakni 30 persen dalam bentuk tabungan/deposito, lalu 50 persen di obligasi ritel dan reksa dana, sisanya yang 20 persen boleh di saham. Selanjutnya, penempatan deposito itu sendiri sebaiknya dilakukan di bank yang berskala besar. Sementara untuk obligasi ritel tentunya yang diterbitkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk reksa dana dapat dimulai dengan reksa dana fixed income yang dikeluarkan oleh manajer investasi berskala besar.

Terakhir untuk saham, tujuan pembeliannya adalah untuk dipegang dalam kurun waktu yang cukup lama. Anda cukup membeli beberapa saham saja dan kemudian biarkan harganya bertumbuh, sampai suatu ketika Anda jual kembali setelah mengalami kenaikan harga sekitar 15 persen. Selamat berinvestasi.

Quoted by Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, September 6, 2009

Investasi: Ketika Bunga Deposito "Berguguran"

Minggu, 6 September 2009 | 03:03 WIB


Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Akhir-akhir ini bank-bank berskala besar bersepakat menurunkan bunga deposito menjadi maksimal 8 % per tahun. Angka itu diperoleh dari tingkat bunga SBI rate plus 1,5 %. Itu pun dengan catatan, yang bisa menikmati bunga 8 % itu adalah deposan besar dengan jumlah dana biasanya di atas Rp 1 miliar.

Sebelumnya, kalangan ini bisa memperoleh bunga deposito 10 %-12 %. Di sisi lain, deposan yang dananya berkisar jutaan dan puluhan juta rupiah sejak lama hanya mendapatkan imbalan bunga rendah, umumnya sebesar penjaminan LPS atau bahkan di bawah itu.

Mengapa bank-bank mesti menurunkan bunga, jawabannya karena penurunan bunga diharapkan akan menurunkan bunga pinjaman sehingga kredit akan mengucur dan sektor riil bergerak. Lalu pada gilirannya ekonomi akan bertumbuh.

Apakah realitasnya demikian? Dibutuhkan diskusi panjang untuk memastikan asumsi semacam itu akan benar terjadi. Penurunan bunga kredit tentu hanya akan terjadi jika selain bunga dana turun juga bank-bank melakukan efisiensi dan risiko di sektor riil itu turun. Dengan cara ini selisih antara bunga dana dan bunga pinjaman menjadi lebih kecil.

Terlepas dari tujuan penurunan bunga deposito seperti disebutkan di atas, hal yang lebih pas dibahas dalam rubrik ini adalah dampak penurunan bunga deposito itu sendiri. Yang jelas, bagi sebagian besar deposan, penurunan bunga deposito merupakan penurunan pendapatan dan bagi sebagian lagi mungkin imbal hasil bukan merupakan faktor utama. Kalangan ini juga mempertimbangkan faktor risiko dan pelayanan yang diberikan bank. Lalu, bagaimana dengan Anda?

Sebagaimana diketahui, jika penempatan dana berbentuk deposito merupakan bagian investasi, tentu penurunan bunga tersebut layak dikaji. Pertama, berapa besar dampak penurunan tersebut? Apakah mengganggu total pendapatan? Kedua, bagaimana pengaruhnya terhadap risiko investasi Anda. Ketiga, bagaimana respons yang selayaknya dilakukan?

Dampak

Mengenai dampak terhadap pendapatan, tentu saja bagi setiap orang berbeda-beda. Jika deposito Anda berjangka waktu satu tahun dan sudah ada di bank sejak lama dan belum jatuh tempo dalam waktu dekat, Anda tidak perlu khawatir. Bunga yang Anda peroleh akan tetap sama dengan sebelumnya karena deposito Anda sudah ”terikat kontrak” untuk diberikan bunga yang lebih tinggi ketimbang yang saat ini berlaku. 

Tetapi, jika deposito Anda berjangka waktu satu bulan, maka ketika deposito tersebut diperpanjang, tentunya akan dikenakan bunga baru yang lebih reñdah dibandingkan dengan sebelumnya.

Dus, dalam empat bulan ke depan tahun 2009 pendapatan bunga deposito Anda akan lebih sedikit. Berapa sedikit? Umpamakan deposito Anda Rp 1 miliar. Bila sebelumnya Anda mendapatkan bunga 10 % per tahun, maka untuk bulan-bulan ke depan bunga yang Anda peroleh maksimal 8 %. Berarti ada pengurangan 2 %. Artinya, jika sebelumnya memperoleh Rp 100 juta per tahun atau Rp 8,3 juta per bulan, maka nantinya Anda hanya akan mendapatkan bunga deposito Rp 80 juta per tahun atau Rp 6,6 juta per bulan sebelum pajak. Dengan kata lain, Anda mengalami potensi penurunan pendapatan Rp 1,7 juta per bulan sehingga untuk 4 bulan ke depan potensi pendapatan yang hilang Rp 6,8 juta. Apakah ini signifikan? Bisa ya dan tidak. Bergantung pada masing-masing orang.

Yang jauh lebih penting adalah kalau Anda tetap menempatkan dana di bank dengan bunga yang sama dengan bank lain. Yang semestinya menjadi perhatian adalah risiko pada bank tersebut. Bank A dan bank B sebenarnya memiliki kualitas pengelolaan berbeda sehingga risikonya juga berbeda. Jadi, kalau bank A dan bank B memberikan bunga sama, tentunya Anda mesti memilih bank yang risikonya lebih reñdah dan pelayanan lebih baik karena tingkat bunga sebenarnya merupakan cerminan risiko masing-masing bank.
Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan kedua, yakni bagaimana dampak penurunan bunga terhadap risiko investasi. Risiko adalah lawan dari imbal hasil atau tingkat bunga.

Kalau imbal hasil rendah, tentu risiko juga mesti rendah. Jadi, ketika Anda hendak menempatkan deposito di sebuah bank dan kalau tingkat bunga di antara bank-bank tersebut sama, agar deposito Anda tidak meningkat risikonya, pilihan terhadap bank terbaik merupakan hal mutlak. Dengan kata lain, bukan masalah Anda hanya mendapatkan bunga deposito 8 % sepanjang bank Anda masih lebih bagus dibandingkan dengan bank lain.

Yang terakhir, bagaimana merespons penurunan bunga tersebut terhadap portofolio investasi Anda secara menyeluruh?

Jika potensi pendapatan yang hilang tidak terlalu signifikan, tentu bukan masalah tetap menempatkan dana di deposito. Apalagi deposito merupakan jenis investasi paling likuid dan rendah risikonya dibandingkan dengan jenis investasi lain.

Namun, Anda juga mesti melihat aspek horizon investasi. Jika sebagian investasi Anda berjangka menengah-panjang, maka menempatkan dana di deposito dengan tingkat bunga rendah untuk jangka panjang bukanlah pilihan pas. Dengan kata lain, jika tetap ada deposito, maka mesti berjangka waktu pendek sehingga bila suatu ketika bunga deposito meningkat Anda masih memiliki kesempatan menikmati bunga tinggi karena deposito Anda akan mengalami penyesuaian tingkat bunga.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari