BLOGSPOT atas
Showing posts with label tingkat bunga. Show all posts
Showing posts with label tingkat bunga. Show all posts

Sunday, June 26, 2011

INVESTASI: Kenapa Harga Saham Naik?

OLEH ADLER HAYMANS MANURUNG

Kenapa harga saham bisa naik, padahal sebelumnya turun? Apakah investor tahu kenapa terjadi kenaikan?

Harga saham menurut teori ditentukan dengan dua pendekatan: pendekatan determinan harga dan pendekatan stokastik. Pendekatan determinan merupakan sebuah kelompok yang selalu dibahas akademisi maupun praktisi, tentang pengubah apa saja yang memengaruhi harga saham. Pengubah tersebut sangat banyak dan banyak pihak suka mengaitkannya. Bahkan, rumor yang tidak jelas sumbernya bisa menjadi faktor kenaikan atau penurunan harga.

Investor ingin membeli saham karena ingin meningkatkan dana. Misalkan dana investasi Rp 500 juta ingin ia tingkatkan menjadi Rp 1 miliar. Peningkatan ini memerlukan waktu investasi yang cukup panjang, terutama investasi pada saham yang merupakan investasi jangka panjang.

Untuk kenaikan nilai investasi, harga saham harus meningkat, dan peningkatan itu terjadi di masa mendatang, bukan di masa lalu. Artinya, pembelian saham bagi investor merupakan pembelian prospek perusahaan di masa mendatang. Bila harga saham tersebut dianggap tidak akan meningkat, tidak akan dibeli karena peningkatan harga merupakan keuntungan bagi investor yang lebih dikenal dengan capital gain. Oleh karena itu, investor pasti menghindari saham yang tidak memiliki kenaikan harga saham pada masa mendatang.

Salah satu pengubah yang diperhatikan investor untuk membeli saham adalah laba perusahaan pada masa mendatang. Yang diinginkan adalah laba bersih yang meningkat dalam jangka panjang sehingga terjadi kenaikan harga terus-menerus. Tetapi, investor yang mempunyai periode waktu lebih pendek, kenaikan laba satu tahun sudah punya indikasi untuk membelinya. Akibatnya, laba bersih tahun mendatang sudah cukup untuk mengambil keputusan membeli saham.

Agak susah memang meramal pada masa mendatang periode lebih panjang. Peramlan lebih panjang akan menimbulkan risiko dikarenakan ketidakpastian yang terjadi pada masa mendatang.

Bagi mereka yang biasa bermain saham hanya menggunakan satu tahun dan proyeksi satu tahun sudah sangat baik. Pengubah lain yang perlu diperhatikan investor, yaitu tindakan korporasi. Informasi ini sangat dibutuhkan untuk mengaitkannya pada pendapatan atau laba bersih perusahaan. Tindakan korporasi ini biasanya harus diinformasikan kepada publik paling lambat 2 x 24 jam. Tapi, sering informasi tersebut sudah tercecer ke publik sebelum resmi diinformasikan.

Akibatnya, sering investor mencari informasi ini untuk bisa bertransaksi walaupun hal ini mendekati pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum di pasar modal sudah dikategorikan pidana.

Rekam Jejak

Pengubah lain yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, yaitu manajemen perusahaan atau rekam jejak manajemen. Pengubah ini penting untuk memberikan keyakinan kepada investor bahwa perusahaan dikelola dengan baik dan akan terjadi keberlangsungan perusahaan.

Setelah memahami informasi yang diuraikan sebelumnya, kenaikan harga saham di bursa dipengaruhi dua kelompok besar, yaitu informasi dari internal perusahaan dan informasi dari eksternal perusahaan. Informasi internal perusahaan adalah informasi yang diuraikan sebelumnya. Informasi ini harus didapatkan oleh investor guna menilai perusahaan karena investor tidak mungkin memutuskan untuk membeli atau menjual berdasarkan perasaan investor.

Regulator juga membuat peraturan agar informasi dari dalam perusahaan disampaikan kepada publik sebagai bahan bagi investor. Bila perusahaan tidak menginformasikan, perusahaan dianggap melanggar hukum dan investor kemungkinan akan menghindari perusahaan. Akibatnya, jumlah transaksi saham semakin kecil dan kemungkinan turunnya harga makin besar dan kerugian investor akan terjadi.

Informasi eksternal juga penting bagi perusahaan. Adapun informasi eksternal perusahaan cukup banyak, baik transaksi saham di bursa maupun informasi yang diterbitkan oleh pihak lain dan mempunyai hubungan terhadap perusahaan. Informasi tentang kebijakan pemerintah juga diperlukan perusahaan karena kebijakan tersebut mempengaruhi keberlangsungan perusahaan.

Salah satu kebijakan yang sering ditunggu investor tentang kebijakan pemerintah, yaitu kebijakan tingkat bunga. Kebijakan tingkat bunga ini akan memengaruhi perekonomian, termasuk di dalamnya perusahaan. Bila tingkat bunga mengalami kenaikan, ada kemungkinan investasi akan berkurang dan berpengaruh terhadap harga bahan pokok atau harga barang-barang di pasar baik barang konsumsi maupun barang lainnya. Bila tingkat bunga diturunkan, kemungkinan akan terjadi permintaan yang meningkat atau investasi di sektor riil akan mengalami kenaikan.

Boleh dikatakan, sentral dari kebijakan yang ada terletak pada tingkat bunga. Kebijakan Pemerintah dalam fiskal, seperti pengetatan pemerintah atas pengeluaran atau juga meningkatkan rasio pajak, akan memberikan persoalan terhadap keberlangsungan perusahaan. Akibatnya, harga saham perusahaan bisa mengalami penurunan dan tidak memberikan keuntungan kepada investor.

Jumlah transaksi saham tersebut juga menjadi informasi dan alat investor memutuskan untuk membeli atau menjual saham tersebut. Saham yang likuid menjadi salah satu peubah mengapa investor membeli saham itu karena kemudahan untuk melepas saham tersebut. Volume transaksi saham yang kecil membuat agak sedikit menghindar dari saham tersebut.

Buruk dan baiknya informasi membuat harga saham akan naik atau turun. Informasi yang beredar menjadi acuan investor. Informasi tersebut beredar lebih dulu baru perusahaan mengumumkannya. Seharusnya, tidak demikian. informasi harus sudah diumumkan, baru terjadi transaksi saham atau kenaikan atau penurunan harga saham. Oleh karena itu, investor harus pintar menyaring informasi agar mereka tidak merugi

Quoted by Muhammad Idham Azhari from KOMPAS

Sunday, October 31, 2010

Transaksi Obligasi

Minggu, 31 Oktober 2010 | 04:02 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Selasa lalu, pemerintah melakukan buy back atas obligasi FR0049 yang pernah ditawarkan atau telah dimiliki masyarakat. Obligasi ini jatuh tempo pada 15 September 2013, artinya investor akan mendapat pelunasan lebih awal (tiga tahun lebih cepat) karena pembayarannya hasil lelang selasa lalu.

Buy back atas obligasi dimaksud untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan pemerintah. Dengan buy back, pemerintah bisa mengganti obligasi yang lebih murah kuponnya. Obligasi ini mempunyai kupon 9 persen sehingga harga obligasi pasti di atas 100 dikarenakan tingkat bunga yang berlaku saat ini sekitar 6 persen.

Sebelum pelaksanaan lelang buy back obligasi tersebut telah terjadi kenaikan harga obligasi sekitar 2 persen dalam satu sampai dua minggu. Harga obligasi ini sebenarnya ditransaksikan pada harga 105, tetapi belakangan mengalami kenaikan menjadi 107. Kenaikan ini cukup besar dan mengagetkan beberapa investor yang memegang obligasi tersebut dan merasa senang karena pemerintah membeli obligasi tersebut lebih mahal dari harga wajar.

Kenaikan harga ini mengakibatkan kenaikan yield yang diperoleh investor. Pada obligasi berlaku hukum apabila yield semakin tinggi, harga obligasi semakin rendah dan sebaliknya; apabila harga meningkat, yield semakin rendah. Namun, kali ini kenaikan harga tersebut membuat yield yang diperoleh investor semakin meningkat.

Investor yang melakukan investasi pada obligasi bisa dilakukan dengan dua kelompok besar, yaitu untuk transaksi dagang (trading) dan investasi jangka panjang. Jika melakukan obligasi sebagai trading, investor tersebut harus sering kali menggunakan momentum yang ada. Momentum tersebut dipergunakan untuk mendapatkan yield lebih besar. Misalkan, investor harus menjual obligasi tersebut karena mendapat yield lebih besar dan bisa memindahkan dananya pada instrumen investasi yang sesuai yield pada obligasi tersebut.

Momentum yang ada saat ini adalah adanya buy back pemerintah atas obligasi yang beredar di pasar modal tersebut. Pada sisi lain, pemain obligasi cukup terbatas dan bisa memainkan harga obligasi tersebut. Hukum penawaran dan permintaan juga terjadi pada buy back obligasi ini sehingga harga obligasi mengalami kenaikan. Permintaan datang dari pemerintah yang ingin membeli obligasi dan pemilik obligasi mengetahuinya dan kebetulan pemerintah mengumumkannya sehingga pemegang obligasi mencoba mendongkrak harga agar memperoleh yield yang lebih besar.

Investor asing

Secara kebetulan pemegang obligasi tersebut paling banyak asing dan mereka umumnya jauh lebih pintar dari investor lokal sehingga menaikkan harga obligasi ini untuk kepentingan asing tersebut dapat dilaksanakan.

Asing sangat pintar melakukan transaksi obligasi, sementara lokal mempunyai pengetahuan yang minim. Oleh karenanya, teori pergerakan pasar yang biasanya tidak bisa diintervensi oleh pihak-pihak tertentu akan berbeda pada pasar ini dikarenakan pemegang obligasi bisa mendikte pasar, di mana dalam kasus ini pemerintah untuk membeli obligasi tersebut.

Variabel lain yang perlu diketahui investor dalam rangka investasi pada obligasi ini adalah kepemilikan obligasi tersebut. Kepemilikan obligasi yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah alokasi kepemilikan obligasi, baik saat ditawarkan maupun pada saat sekarang. Apabila kepemilikan obligasi umumnya pada pemegang yang pintar, pada saat di-buy back akan memberikan harga lebih tinggi dari harga wajarnya.

Selanjutnya, investor yang melakukan investasi pada obligasi untuk investasi jangka panjang, maka investor harus memahami berbagai indikator ekonomi yang bisa membantu investor untuk mendapatkan capital gain atau lebih luasnya tingkat pengembalian yang lebih besar.

Isu sentral bertransaksi obligasi adalah investor harus memahami pergerakan tingkat bunga. Tingkat bunga ini sangat memengaruhi keputusan investor untuk berinvestasi pada obligasi dan juga saham. Jika tingkat bunga yang berlaku naik, investor akan meningkatkan yield yang diharapkannya dan sebaliknya tingkat yield tersebut akan turun bila tingkat bunga tersebut mengalami kenaikan.

Arah tingkat bunga

Investor jangka panjang biasanya menggunakan tiga strategi untuk mendapatkan keuntungannya. Investor tersebut biasanya harus mengetahui arah tingkat bunga yang akan terjadi pada masa mendatang. Arah tingkat bunga ini sangat penting. Dengan mengetahui arah tingkat bunga, investor akan bisa melakukan perubahan obligasi jika arah tingkat bunga tersebut diketahui investor.

Apabila mengetahui arah tingkat bunga minimum tiga bulan ke depan, investor bisa mengambil tindakan saat ini. Jika tingkat bunga akan mengalami kenaikan pada masa mendatang, harga obligasi akan turun. Akibatnya, investor harus mengubah obligasinya agar penurunan harga obligasinya tidak cukup besar. Sebaliknya, jika tingkat bunga turun, harga obligasi mengalami peningkatan dan investor mengharapkan kenaikan harga yang tajam.

Selanjutnya, investor harus mengetahui waktu perubahan tingkat bunga. Jika waktu perubahan tingkat bunga pada besok hari atau satu minggu ke depan, investor tidak bisa melakukan tindakan yang memberikan keuntungan lebih besar bahkan banyak pihak menyatakan bahwa tindakannya tidak berguna.

Akhirnya, investor harus mengetahui besaran perubahan tingkat bunga agar ia bisa mengambil tindakan yang lebih jelas. Jika perubahan tingkat bunga kecil, investor kemungkinan tidak akan melakukan apa-apa. Jika perubahan tingkat suku bunga besar, investor sangat perlu melakukan tindakan untuk kepentingan portofolio obligasi.

KOMPAS

Sunday, July 4, 2010

Dana Pendidikan

ADLER HAYMANS MANURUNG
PRAKTISI KEUANGAN

Pendidikan merupakan tabungan yang paling mahal dan akan dihargai anak-anak ketika orangtuanya tidak ada lagi. Dana pendidikan merupakan dana yang dipersiapkan keluarga untuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Biaya pendidikan semakin lama semakin besar. Oleh karena itu, dana pendidikan harus dipersiapakan jauh-jauh hari dan bukannya ketika anak akan masuk sekolah.

Keluarga yang sudah memahami pengeluaran keluarga dan memiliki perecanaan keuangan biasanya telah mempersiapkan dana pendidikan sejak anak lahir.

Ada sejumlah tahapan dalam mempersiapkan dana pendidikan. Pertama, menentukan sekolah anak. Keluarga harus tahu dengan jelas pendidikan yang diinginkan bagi sang anak dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Keluarga tidak bisa memaksakan anak untuk bersekolah di sekolah yang standar nilainya jauh di atas kemampuan anak.

Kedua, menghitung seluruh biaya yang diperlukan untuk pendidikan anak-anak. Keluarga harus mengumpulkan informasi mengenai biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan anak-anak. Biaya tersebut termasuk biaya sekolah, biaya pembangunan, biaya rekreasi, biaya buku-buku, serta biaya lain.

Tingkat inflasi dan bunga

Ketiga, menentukan tingkat inflasi mulai sekarang sampai anak masuk sekolah bahkan ketika anal-anak menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Tingkat inflasi bisa diperhitungkan dengan menggunakan asumsi tingkat inflasi sekarang. Bila tingkat inflasi sekarang terlalu kecil, estimasi tingkat inflasinya harus dinaikkan. Bila tahun ini kita mempunyai inflasi 5 persen, keluarga sebaiknya menaikkan inflasi sekitar 6 persen sampai dengan 7 persen.

Pemerintah sendiri mempunyai inflasi sesuai harapan, moderat, dan terjelek. Keluarga juga bisa bertanya kepada lembaga penelitian atau lembaga yang menerbitkan inflasi, seperti Badan Pusat Statistik atau pakar ekonomi, agar bisa mendapatkan angka inflasi yang valid dan dipercaya untuk melakukan estimasi ke masa mendatang.

Keempat, melakukan perhitungan terhadap tingkat bunga yang berlaku pada masa mendatang. Tingkat bunga yang diramalkan pada masa mendatang tersebut tidak terlepas dari tingkat inflasi yang diestimasikan. Tingkat bunga merupakan refleksi dari tingkat inflasi yang berlaku. Oleh karena itu, keluarga harus mendapatkan tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah setiap tahunnya. Bila tingkat bunga riil yang dikehendaki pemerintah sekitar 1 persen sampai dengan 2 persen seperti sekarang ini, tingkat bunga yang berlaku merupakan hasil jumlah tingkat bunga riil dengan inflasi. Bila inflasi 7 persen, tingkat bunga yang berlaku sebesar 8 persen sampai dengan 9 persen.

Kelima, menentukan besaran tabungan yang dilakukan. Bila dana yang dibutuhkan telah ditentukan dan jumlah waktu anak untuk sampai sekolah tersebut, keluarga dapat menentukan jumlah tabungan setiap bulan. Misalnya, keluarga membutuhkan dana sebesar Rp 75 juta, di mana dana ini dibutuhkan lima tahun mendatang atau 60 bulan, maka dana yang harus disisihkan dari pendapatan keluarga setiap bulannya sebesar Rp 1,25 juta. Artinya, dana tabungan sebesar Rp 1,25 juta ini disimpan di bawah bantal belum dikembangbiakkan melalui investasi. Bila keluarga melakukan investasi, dana yang disisihkan akan lebih kecil dan sangat baik bila lebih lama melakukan investasi.

Dalam melakukan pilihan investasi, keluarga dapat melakukan investasi sendiri atau menempatkannya pada manajer investasi dan juga menggabungkannya dengan asuransi. Bila investasi sendiri yang dipergunakan, investor membutuhkan pengetahuan investasi dan memerlukan waktu. Bila didepositokan, keluarga harus mendapatkan informasi yang lebih luas, baik tingkat bunga maupun kondisi perbankan yang bersangkutan. Semua tindakan keluarga pasti mengandung risiko dan harus dipahami.

Asuransi pendidikan

Bila keluarga memilih asuransi pendidikan, harus disadari bahwa selain membayar premi asuransi, keluarga juga melakukan investasi. Premi asuransi berguna untuk membayar biaya pendidikan bila keluarga tidak mampu lagi membayar cicilan investasi. Ketidakmampuan ini bisa saja disebabkan penanggung premi tidak bisa bekerja atau meninggal dunia.

Bila keluarga mengambil asuransi, pengeluaran keluarga untuk menabung dana pendidikan ini akan lebih besar. Pada sisi lain, keluarga tidak perlu pusing memikirkan investasi yang akan dilakukan agar tercapai dana pendidikan yang dikehendaki. Risiko di masa mendatang telah dialihkan keluarga kepada pihak asuransi melalui pembayaran premi tersebut. Namun, asuransi ini tidak dibutuhkan bila keluarga tahu persis kesehatan dan ketidakpastian di masa mendatang. Keluarga harus tahu persis kemampuan keluarga agar bisa menyediakan dana pendidikan tersebut.

Seperti diuraikan sebelumnya, dalam mempersiapkan dana pendidikan ini, keluarga akan menghadapi risiko, baik risiko pengetatan pengeluaran keluarga, risiko investasi, dan risiko dana kebutuhan yang membengkak karena situasi yang terjadi. Keluarga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko tersebut dengan memerhatikan dana pendidikan secara saksama.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, January 10, 2010

Investasi: Ke Arah Mana Bursa?

Minggu, 10 Januari 2010 | 03:00 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Awal tahun biasanya merupakan titik awal bagi seseorang untuk melakukan investasi. Bila dana sudah diinvestasikan dan sudah berbentuk portofolio, maka pertanyaan yang timbul, apakah portofolio tersebut akan diteruskan atau melakukan perubahan. Bila dana masih dalam bentuk tunai, ke mana dana tersebut diinvestasikan? Apakah ke saham atau ke instrumen obligasi atau reksa dana? Pertanyaan yang muncul, ke mana harus melakukan investasi?

Berbagai pihak telah menyebutkan bahwa bursa saham akan terus mengalami peningkatan dan akan menyentuh level lebih dari 3.000. Pada akhir tahun 2008, IHSG ditutup pada level 1.355,408, di mana level ini merupakan level yang drop tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2009, IHSG mengalami kenaikan yang tajam sampai pada level 2.534,356 walaupun terjadi peristiwa politik dan berbagai kasus hukum yang belum diselesaikan karena lemahnya leadership. Berarti terjadi kenaikan IHSG sebesar 86,98 persen atau ada keuntungan investor yang melakukan investasi pada saham indeks. Tingginya tingkat pengembalian investasi pada Bursa Efek Indonesia ini masih lebih rendah dari Bursa China dan masih lebih rendah dari Bursa Rusia.

Apakah hasil yang dicapai pada tahun 2009 akan terulang pada tahun 2010 ini? Bila masih berulang, maka selayaknya melakukan investasi pada Bursa Saham Indonesia. Seperti pada awal tulisan ini bahwa bursa masih dianggap sebagai investasi yang menguntungkan karena IHSG bisa menembus angka 3.000. Bahkan, berita di beberapa koran, IHSG ditargetkan ke level 3.300 sampai dengan 3.400 dan merupakan target IHSG dari sebuah lembaga pengelola bursa.

Pertumbuhan

Berdasarkan perhitungan, dengan berbagai alasan bahwa IHSG paling rendah pada level 2.900 pada akhir tahun 2010. Artinya terjadi pertumbuhan IHSG paling rendah sebesar 14,43 persen. Bila IHSG ditargetkan pada level 3.300, maka terjadi pertumbuhan IHSG sebesar 30,21 persen sehingga IHSG kelihatannya sudah diharapkan mengalami peningkatan.

Bila diperhatikan tingkat bunga yang diberikan instrumen yang bebas risiko sekitar 6,5 persen dan sudah menjadi asumsi pada APBN 2010, maka investasi pada saham sudah lebih tinggi. Tetapi, risk premium yang diberikan sekitar 8 persen sudah wajar untuk investasi pada saham yang menjadi pilihan investor merupakan perdebatan. Melihat besarnya risk premium tersebut, maka sudah selayaknya melakukan investasi di saham. Sebenarnya, berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan berbagai akademisi, risk premium di negara-negara berkembang sebesar 6-8 persen sehingga angka risk premium tersebut sudah sangat wajar. Adapun alasan yang membuat IHSG bisa bertumbuh sebesar nilai tersebut disebabkan berbagai faktor.

Pertama, tingkat bunga masih tetap pada level 6,5 persen, di mana saat ini SBI pada level 6,25 persen. Bila pemerintah ingin menaikkan tingkat bunga ke lebih tinggi, kemungkinan tidak akan melebihi 7,5 persen. Artinya, pemerintah bisa menaikkan tingkat bunga hanya maksimum dua kali dengan kenaikan 50 bps (0,5 persen). Biasanya, tingkat bunga yang meningkat membuat bursa mengalami penurunan sehingga akan terjadi perpindahan dana dari instrumen saham ke instrumen berpendapatan tetap. Tetapi, kenaikan tingkat bunga dianggap tidak signifikan sehingga bursa akan menurun dalam waktu singkat dan kembali mengalami kenaikan.

Pada posisi ini sebenarnya, investor menjual saham ketika tingkat bunga akan dinaikkan dan membeli kembali ketika tingkat bunga sudah dinaikkan serta stabil kembali. Sebenarnya, berdasarkan kalkulasi dan informasi yang telah beredar, pemerintah akan menaikkan tingkat bunga walaupun waktunya belum jelas. Tanda-tanda kenaikan tingkat bunga terlihat dari ditundanya kenaikan harga listrik dan pemerintah akan menaikkan harga BBM karena tidak menaikkannya pada tahun 2009 diakibatkan pemilu.

Kenaikan

Adanya kenaikan harga berakibat pada kenaikan inflasi dan akhirnya kenaikan tingkat bunga. Kedua, pertumbuhan kredit yang disalurkan perbankan. Pertumbuhan kredit pada tahun 2010 ini direncanakan sekitar 17-20 persen di mana pertumbuhan pada tahun 2009 diperkirakan lebih rendah sekitar 12-14 persen. Pertumbuhan kredit yang lebih dari tahun 2009 menyebabkan perusahaan dapat meningkatkan laba bersih sehingga ada peningkatan harga saham.

Ketiga, kinerja pemerintah yang menginginkan adanya pertumbuhan yang lebih baik sehingga pemerintah membuat usaha-usaha melalui kebijakan untuk membantu masyarakat pebisnis. Pemerintahan sekarang yang didominasi Partai Demokrat akan mempunyai hasrat untuk membuat ekonomi lebih baik, ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5 persen, maka harapan perusahaan akan menyumbang perekonomian. Perusahaan yang terdaftar di bursa, yang paling mempunyai kesempatan karena sudah dikenal dan teruji manajemennya. Adanya pertumbuhan ini mengakibatkan harga saham akan mengalami kenaikan.

Keempat, ekspektasi pebisnis dan masyarakat. Dengan berbagai situasi yang telah terjadi, maka harapan para pebisnis ingin meningkatkan pendapatannya. Adanya harapan kenaikan pendapatan membuat pebisnis berusaha meningkatkan kinerjanya sehingga pertumbuhan akan terjadi. Kelima, kondisi politik dalam negeri yang mulai stabil. Kondisi politik yang sudah stabil akibat adanya pemenang pemilu dan sekaligus memegang tampuk pemerintahan memberikan kepercayaan baik untuk lokal maupun luar negeri. Kondisi ini menarik pemilik dana melakukan investasi sehingga meningkatkan pendapatan perusahaan dan akhirnya meningkatkan harga saham di bursa.

Keenam, investor asing sebagai pendorong kenaikan bursa. Semua pihak telah mengetahui bahwa bursa kita banyak didorong oleh transaksi investor asing. Bila asing telah masuk melakukan transaksi di bursa, maka IHSG terus mengalami kenaikan. Investor lokal juga menaikkan investasinya. Tetapi, sayangnya investor lokal selalu terlambat keluar, bahkan masuknya ke bursa juga telat. Akibatnya keuntungan yang diperoleh kecil, bahkan ada yang mengalami kerugian.

Oleh karena itu, bila melihat harga saham sekarang ini dan investor asing belum masuk, maka sudah saatnya memasukkan atau melakukan investasi pada saham sebelum ketinggalan kereta. Tetapi, harus diingat bahwa investasi pada saham mempunyai risiko adanya kemungkinan harga saham menurun tajam sehingga risiko tetap di tangan investor dan keputusan juga di tangan investor.

KOMPAS

Sunday, September 6, 2009

Investasi: Ketika Bunga Deposito "Berguguran"

Minggu, 6 September 2009 | 03:03 WIB


Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Akhir-akhir ini bank-bank berskala besar bersepakat menurunkan bunga deposito menjadi maksimal 8 % per tahun. Angka itu diperoleh dari tingkat bunga SBI rate plus 1,5 %. Itu pun dengan catatan, yang bisa menikmati bunga 8 % itu adalah deposan besar dengan jumlah dana biasanya di atas Rp 1 miliar.

Sebelumnya, kalangan ini bisa memperoleh bunga deposito 10 %-12 %. Di sisi lain, deposan yang dananya berkisar jutaan dan puluhan juta rupiah sejak lama hanya mendapatkan imbalan bunga rendah, umumnya sebesar penjaminan LPS atau bahkan di bawah itu.

Mengapa bank-bank mesti menurunkan bunga, jawabannya karena penurunan bunga diharapkan akan menurunkan bunga pinjaman sehingga kredit akan mengucur dan sektor riil bergerak. Lalu pada gilirannya ekonomi akan bertumbuh.

Apakah realitasnya demikian? Dibutuhkan diskusi panjang untuk memastikan asumsi semacam itu akan benar terjadi. Penurunan bunga kredit tentu hanya akan terjadi jika selain bunga dana turun juga bank-bank melakukan efisiensi dan risiko di sektor riil itu turun. Dengan cara ini selisih antara bunga dana dan bunga pinjaman menjadi lebih kecil.

Terlepas dari tujuan penurunan bunga deposito seperti disebutkan di atas, hal yang lebih pas dibahas dalam rubrik ini adalah dampak penurunan bunga deposito itu sendiri. Yang jelas, bagi sebagian besar deposan, penurunan bunga deposito merupakan penurunan pendapatan dan bagi sebagian lagi mungkin imbal hasil bukan merupakan faktor utama. Kalangan ini juga mempertimbangkan faktor risiko dan pelayanan yang diberikan bank. Lalu, bagaimana dengan Anda?

Sebagaimana diketahui, jika penempatan dana berbentuk deposito merupakan bagian investasi, tentu penurunan bunga tersebut layak dikaji. Pertama, berapa besar dampak penurunan tersebut? Apakah mengganggu total pendapatan? Kedua, bagaimana pengaruhnya terhadap risiko investasi Anda. Ketiga, bagaimana respons yang selayaknya dilakukan?

Dampak

Mengenai dampak terhadap pendapatan, tentu saja bagi setiap orang berbeda-beda. Jika deposito Anda berjangka waktu satu tahun dan sudah ada di bank sejak lama dan belum jatuh tempo dalam waktu dekat, Anda tidak perlu khawatir. Bunga yang Anda peroleh akan tetap sama dengan sebelumnya karena deposito Anda sudah ”terikat kontrak” untuk diberikan bunga yang lebih tinggi ketimbang yang saat ini berlaku. 

Tetapi, jika deposito Anda berjangka waktu satu bulan, maka ketika deposito tersebut diperpanjang, tentunya akan dikenakan bunga baru yang lebih reñdah dibandingkan dengan sebelumnya.

Dus, dalam empat bulan ke depan tahun 2009 pendapatan bunga deposito Anda akan lebih sedikit. Berapa sedikit? Umpamakan deposito Anda Rp 1 miliar. Bila sebelumnya Anda mendapatkan bunga 10 % per tahun, maka untuk bulan-bulan ke depan bunga yang Anda peroleh maksimal 8 %. Berarti ada pengurangan 2 %. Artinya, jika sebelumnya memperoleh Rp 100 juta per tahun atau Rp 8,3 juta per bulan, maka nantinya Anda hanya akan mendapatkan bunga deposito Rp 80 juta per tahun atau Rp 6,6 juta per bulan sebelum pajak. Dengan kata lain, Anda mengalami potensi penurunan pendapatan Rp 1,7 juta per bulan sehingga untuk 4 bulan ke depan potensi pendapatan yang hilang Rp 6,8 juta. Apakah ini signifikan? Bisa ya dan tidak. Bergantung pada masing-masing orang.

Yang jauh lebih penting adalah kalau Anda tetap menempatkan dana di bank dengan bunga yang sama dengan bank lain. Yang semestinya menjadi perhatian adalah risiko pada bank tersebut. Bank A dan bank B sebenarnya memiliki kualitas pengelolaan berbeda sehingga risikonya juga berbeda. Jadi, kalau bank A dan bank B memberikan bunga sama, tentunya Anda mesti memilih bank yang risikonya lebih reñdah dan pelayanan lebih baik karena tingkat bunga sebenarnya merupakan cerminan risiko masing-masing bank.
Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan kedua, yakni bagaimana dampak penurunan bunga terhadap risiko investasi. Risiko adalah lawan dari imbal hasil atau tingkat bunga.

Kalau imbal hasil rendah, tentu risiko juga mesti rendah. Jadi, ketika Anda hendak menempatkan deposito di sebuah bank dan kalau tingkat bunga di antara bank-bank tersebut sama, agar deposito Anda tidak meningkat risikonya, pilihan terhadap bank terbaik merupakan hal mutlak. Dengan kata lain, bukan masalah Anda hanya mendapatkan bunga deposito 8 % sepanjang bank Anda masih lebih bagus dibandingkan dengan bank lain.

Yang terakhir, bagaimana merespons penurunan bunga tersebut terhadap portofolio investasi Anda secara menyeluruh?

Jika potensi pendapatan yang hilang tidak terlalu signifikan, tentu bukan masalah tetap menempatkan dana di deposito. Apalagi deposito merupakan jenis investasi paling likuid dan rendah risikonya dibandingkan dengan jenis investasi lain.

Namun, Anda juga mesti melihat aspek horizon investasi. Jika sebagian investasi Anda berjangka menengah-panjang, maka menempatkan dana di deposito dengan tingkat bunga rendah untuk jangka panjang bukanlah pilihan pas. Dengan kata lain, jika tetap ada deposito, maka mesti berjangka waktu pendek sehingga bila suatu ketika bunga deposito meningkat Anda masih memiliki kesempatan menikmati bunga tinggi karena deposito Anda akan mengalami penyesuaian tingkat bunga.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Friday, July 24, 2009

Terus Diburu, Rupiah Tembus di Bawah 10.000

Jumat, 24 Juli 2009 | 09:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat (24/7) pagi, berhasil menembus angka Rp 10.000 per dollar AS karena aksi beli rupiah oleh pelaku pasar masih berlanjut.

"Berlanjutnya kenaikan rupiah itu sudah diperkirakan sebelumnya, sehingga menembus angka Rp 10.000 per dollar," kata Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk Rully Nova di Jakarta, Jumat.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar menjadi Rp 9.990-Rp 10.000 per dollar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 10.028-Rp 10.035 atau naik 38 poin.

Rully Nova mengatakan, kenaikan rupiah itu karena pelaku pasar percaya bahwa Indonesia tetap merupakan pasar potensial untuk menginvestasikan dana yang dimiliki. "Kenaikan rupiah itu juga didukung oleh membaiknya harga komoditas di pasar ekspor dan masih tingginya tingkat bunga rupiah terhadap dollar," katanya.

Faktor utama yang mendorong aksi beli terhadap rupiah, menurut dia, karena pemilihan pilpres yang berjalan hanya satu putaran dan pasar regional yang terus membaik.

"Kami optimistis rupiah masih akan mendapat sentimen positif pasar, meski ada laporan bahwa negara-negara maju mengalami pembengkakan defisit anggaran," katanya.

Indonesia, lanjut dia, merupakan negara Asia ketiga setelah China dan India yang merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terus berkembang. "Karena itu pelaku pasar asing lebih optimistis untuk menempatkan dananya di Asia ketimbang di negara-negara maju terutama di Amerika Serikat," katanya.

Menurut Rully Nova, rupiah kemungkinan akan berada tak jauh dari kisaran Rp 10.000 per dollar karena Bank Indonesia (BI) akan menjaga agar tidak melonjak lebih jauh. "BI khawatir apabila rupiah terus menguat menjauhi angka Rp 10.000 per dollar, maka produk ekspor Indonesia di pasar ekpsor kurang menguntungkan," ucapnya.

EDJ
Sumber : Ant

KOMPAS

Sunday, June 28, 2009

Prospek Dollar AS Pasca The Fed

Minggu, 28 Juni 2009 | 07:50 WIB

KOMPAS.com - Rapat kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve selama dua hari tidak menghasilkan perubahan kebijakan. Tingkat suku bunga tetap dipertahankan pada 0 – 0,25 persen dan juga tetap mempertahankan progam pembelian aset yang bernilai 1,75 triliun dollar AS serta tidak ada rencana untuk meningkatkan pembelian aset.

Federal Reserve AS mengeluarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa laju kontraksi ekonomi mulai melambat dan pemulihan sudah mulai terlihat. The Fed juga menghilangkan peringatan mengenai deflasi. Pernyataan the Fed ini memicu kembali minat akan resiko dan sekaligus memberikan support bagi dollar AS.

Sehari setelah pernyataan the Fed, bursa saham regional Asia naik. Investor memburu saham-saham Asia berkaitan dengan sinyal pemulihan ekonomi dari the Fed. Di Indonesia, kenaikkan bursa sahamnya juga memicu penguatan rupiah terhadap dollar AS.

Hilangnya peringatan mengenai deflasi menimbulkan harapan kenaikan suku bunga AS (Fed Funds Rate) yang memicu penguatan dollar AS terhadap mata uang utama dunia. Tidak adanya rencana penambahan pembelian aset seperti obligasi pemerintah AS menunjukkan bahwa kebijakan pelonggaran kuantitatif yang ada sekarang sudah cukup bagus untuk mengatasi resesi ekonomi di AS.

Kebijakan pelonggaran kuantitatif ini dimaksudkan untuk menstimulus ekonomi dengan memberikan likuiditas sebesar-besarnya ke perekonomian dan menekan biaya pinjaman agar ekonomi dapat bergerak kembali. Ini mengindikasikan the Fed mulai melihat pemulihan, dan tentunya diikuti oleh ekspektasi kenaikkan suku bunga. Sebagian pelaku pasar memperkirakan the Fed mulai menaikkan suku bunga di 2010.

Selama bulan Juni ini, dollar AS terlihat mulai menguat terhadap mata uang utama dunia. Euro, poundsterling, dollar Australia, dollar Kanada dan Swiss franc mulai terkoreksi terhadap dollar AS. Dollar AS memiliki indeks yang fungsinya untuk mengukur performa dollar AS terhadap mata uang kuat dunia.

Indeks ini diukur terhadap enam mata uang utama yaitu euro, poundsterling, yen, dollar Kanada, Swiss franc, dan kron Swedia. Indeks ini mulai bangkit dari level terendahnya tahun ini di angka 78.33 menuju area 80 an.

Tapi kenaikkannya masih belum terlalu kuat. Indeks dollar AS masih berada di bawah level resistennya di area 82. Bila indeks dollar tidak berhasil melampaui resisten ini bulan Juli mendatang, kemungkinan dollar AS masih berada dalam tekanan. Namun sebaliknya, bila mampu melewati 82, dollar AS dapat terus menguat terhadap mata uang utama dunia. (AT/ Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures)

Kompas

Sunday, February 22, 2009

Nilai Waktu Uang

Minggu, 22 Februari 2009 | 01:32 WIB

Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Coba dengarkan para ibu tatkala mengobrol. Pasti ada yang mengeluh harga pangan naik terus. Dari hari ke hari, semuanya menjadi lebih mahal. Hampir tidak ada yang mengatakan harga barang turun, kecuali harga BBM yang naik-turun setahun belakangan.

Lalu apa masalahnya? Apakah itu terjadi karena pendapatan tidak meningkat?

Jika dicermati lebih jauh, para ibu itu sesungguhnya tidak mengalami penurunan pendapatan. Uang gaji yang diserahkan para suami untuk dikelola sebagai anggaran belanja rumah tangga umumnya tidak berkurang. Tetapi, daya beli uang itu yang menurun.

Ada yang mengatakan naiknya harga disebabkan pasokan barang mulai langka. Di sisi lain, permintaan terhadap barang relatif tetap sehingga harga pun meningkat. Inilah yang disebut inflasi berkategori demand pull, atau naiknya permintaan terhadap barang, sementara pasokan tetap.

Memang ada juga penyebab harga barang itu sendiri yang meningkat karena biaya produksi membesar. Ini disebut cost push inflation.

Masalahnya, bagaimana caranya agar daya beli masyarakat tetap ada, mampu membeli barang dan daya beli uang tidak merosot?

Sebagian kalangan mengatakan, dana yang belum dibelanjakan sebaiknya ditabung, jangan dipegang tunai, dan untuk berbelanja cukup membawa kartu debit yang otomatis akan mengurangi nilai tabungan di bank. Ini benar.

Apakah menempatkan uang sepenuhnya dalam bentuk tabungan merupakan jalan keluar? Tidak juga. Kalau tujuan penempatan dana tabungan di bank semata-mata untuk berjaga-jaga dan memudahkan pengelolaan likuiditas, pilihan itu benar. Tetapi, kalau penempatan dana dimaksudkan sebagai investasi, agaknya perlu direnungkan lagi karena uang Anda tidak akan bertambah.

Nilai uang yang ada dalam bentuk tabungan malah akan tergerus dimakan inflasi jika tingkat bunganya di bawah laju inflasi. Jadi, kalau tahun lalu dana yang ada di bank, katakanlah Rp 100 juta, lalu tabungan tersebut diberikan bunga 5% dan kemudian laju inflasi 8%, maka nilai riil uang di tabungan sebenarnya sudah turun 3%. Dengan kata lain, daya beli uang tersebut juga menurun sebesar itu.

Padahal, dana Anda tetap Rp 100 juta, bahkan ditambah bunga 5 persen, maka dana plus bunga menjadi Rp 105 juta, tetapi nilai riilnya sudah turun menjadi Rp 97 juta. Inilah yang disebut nilai waktu uang.

Konkretnya, jika pendapatan Anda tetap, tetapi ketika digunakan membeli barang harga barang terasa semakin mahal, maka itu bukanlah karena barangnya mahal, melainkan karena nilai uang Anda semakin menurun. Lantas bagaimana solusinya?

Menjadikan produktif

Mengatasi penurunan nilai uang karena tergerus inflasi dan dimakan waktu adalah dengan membuat uang tersebut produktif dan atau memberi imbal hasil melebihi laju inflasi.

Cara paling efektif adalah menginvestasikan dana tersebut agar menghasilkan imbal hasil di atas laju inflasi sehingga nilai uang Anda relatif tetap atau bahkan bisa bertambah.

Kalau semua dana dimasukkan dalam investasi yang memberi imbal hasil lebih besar dari laju inflasi, bagaimana dengan dana kebutuhan sehari-hari?

Tentu saja, kebutuhan dana sehari-hari bisa ditempatkan di bank yang besarnya sekadar untuk berjaga-jaga, sementara untuk belanja bulanan Anda bisa menggunakan kartu kredit yang ketika tagihannya jatuh tempo Anda bayar penuh sehingga tidak dibebani bunga kredit.

Dengan pola semacam ini, dana Anda bisa ditempatkan pada deposito berjangka 1 bulan yang bunganya lebih tinggi dari bunga tabungan. Dana Anda akan mendapat imbal hasil cukup tinggi dan bisa di atas laju inflasi. Di sisi lain, pengaturan uang tunai Anda juga akan bagus sebab belanja rumah tangga bisa dilakukan sekali sebulan, pakai kartu kredit, dan dibayar lunas pada awal bulan berikutnya.

Itu baru dalam konteks nilai waktu uang dikaitkan dengan belanja sehari-hari yang notabene bersifat jangka pendek.

Jangka panjang

Bagaimana jika nilai waktu uang dilihat dalam perspektif jangka panjang? Di sinilah makna nilai waktu uang akan sangat terasa. Umpamakan 10 tahun lalu Anda berinvestasi Rp 1 juta rupiah per bulan. Lalu teman Anda menginvestasikan Rp 1,1 juta rupiah per bulan. Perbedaan nilai uangnya hanya 10 persen, tetapi dampak terhadap hasil bisa sangat luar biasa. Tidak percaya? Lihat hitungan berikut.

Katakanlah uang Rp 1 juta itu ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka dan mendapat bunga 10% per tahun. Maka, pada tahun kedua, total dana menjadi Rp 1,1 juta dan tahun berikutnya menjadi Rp 1,21 juta.

Sementara itu, teman Anda dengan dana awal Rp 1,1 juta, pada tahun kedua dananya menjadi Rp 1,21 juta dan tahun berikutnya menjadi Rp 1,33 juta.

Bayangkan jika pokok yang ditambah bunga tersebut kemudian diinvestasikan terus-menerus dalam waktu 10 tahun. Awalnya, perbedaan dana Anda dengan teman hanya Rp 100.000, tetapi dalam 10 tahun kemudian perbedaannya sudah sangat besar.

Ringkasnya, nilai waktu akan uang menjadi berarti jika Anda menginvestasikan dana Anda lebih besar dalam dalam kurun waktu panjang. Selamat mencoba.

Kompas

Sunday, February 15, 2009

INVESTASI & KEUANGAN: Investasi Ketika TIngkat Bunga Turun

ADLER HAYMANS MANURUNG / PRAKTISI KEUANGAN

Pemerintah telah menurunkan tingkat bunga sebesar 50 bps pada awal Februari sehingga tingkat bunga BI menjadi 8,25 persen.

Kompas

Sunday, January 4, 2009

Kemana Investasi, Tingkat Bunga Turun?

INVESTASI & KEUANGAN

Minggu, 4 Januari 2009

ADLER HAYMANS MANURUNG, PRAKTISI KEUANGAN

Baru-baru ini Bank Indonesia menurunkan tingkat bunga BR Rate sebesar 25 basis poin dari 9,5% menjadi 9,25%. Penurunan ini disambut gembira oleh pasar karena memunculkan harapan dan sesuai keinginan semua pihak.

Namun, tingkat bunga pinjaman belum ada yang langsung turun karena alasan masing-masing bank. Pada sisi lain, pada tahun 2009 akan berlangsung pemilu. Artinya, melakukan investasi pada tahun 2009 juga harus sangat cermat.

Pemerintah akan menurunkan tingkat bunga lagi, tetapi besarannya belum jelas. Alasan pertama, tingkat bunga di negara-negara lain sudah turun, bahkan Amerika Serikat menurunkan Fed Rate di bawah 1% yang belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat.
Kedua, inflasi menurun. Pemerintah juga sudah menargetkan inflasi yang rendah tahun depan. Bila pemerintah menargetkan tingkat bunga riil 1%-2%, tingkat bunga seharusnya sebesar 7%-8% karena inflasi sekitar 6%.

Ketiga, pemerintah akan merelaksasi ekonomi agar terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah mengetatkan ekonomi sehingga terjadi perlambatan ekonomi.

Keempat, tahun 2009 merupakan tahun krusial bagi pemerintah yang sekarang karena adanya pemilu sehingga penurunan tingkat bunga harus dilakukan agar terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih bagus dan untuk menarik simpati masyarakat.

Uraian diatas memberi gambaran, pemerintah akan memperbaiki ekonomi dengan menurunkan tingkat bunga. Investasi paling cocok harus dilakukan dengan cermat. Pertanyaan paling penting, seberapa besar risiko bisa ditanggung investor? Pertanyaan berikutnya adalah berapa lama periode dana yang dimiliki investor. Kedua pertanyaan ini selalu menjadi pertanyaan mendasar yang harus dijawab investor agar bisa berinvestasi.

Tingkat bunga yang menurun akan membuat harga saham meningkat. Harga obligasi juga akan naik sehingga pendapatan obligasi tersebut menuju keseimbangan yang berlaku. Bila investor sangat kecil toleransinya pada risiko, investor dapat membeli obligasi pemerintah yang sekarang ini telah bergerak menuju arah level 90 untuk obligasi yang sudah di bawah 90 dalam dua bulan terakhir.

Harga obligasi akan berubah sebesar durasi obligasi tersebut bila tingkat bunga menurun. Investasi pada obligasi pemerintah dikarenakan karena hasil yang didapat masih lebih baik daripada tingkat bunga deposito (di bank) dan SBI Rate.

Di samping itu, risiko untuk investor relatif masih kecil walaupun ada kemungkinan harga akan berubah bila pemerintah tiba-tiba berbalik arah menaikkan tingkat bunga.

Obligasi Swasta

Investor juga dapat membeli obligasi perusahaan swasta yang risikonya sangat kecil. Investor sebaiknya membeli obligasi yang baru tersebut dikarenakan akan memberikan tingkat bunga kupon sedikit masih tinggi dan durasinya masih tinggi sehingga penurunan tingkat bunga membuat harga obligasi meningkat tajam.

Pilih obligasi yang ditawarkan perusahaan swasta yang mempunyai catatan reputasi baik. Berbagai pihak juga menyatakan obligasi perusahaan yang sahamnya dimiliki pemerintah bisa menjadi pilihan.

Bila investor mempunyai toleransi risiko yang tinggi dan periode waktu yang panjang, investor layak membeli saham di bursa. Saat ini harga saham-saham sudah sangat murah yang ditunjukkan oleh price earning ration (PER) yang kecil, di bawah 10 kali. Biasanya PER saham-saham di bursa kita diatas 10 kali dan banyak pihak juga yang masih berani berinvestasi atau bertransaksi untuk mendapatkan keuntungan.

Bila ingin berinvestasi pada saham ini, harus dipilih saham yang mempunyai prospek. Prospek yang dimaksud adalah keberlangsungan perusahaan (going concern) pada masa mendatang dan juga harus bertumbuh.

Bila perusahaan tidak bertumbuh, harga saham tidak mengalami kenaikan sehingga investor tidak akan memperoleh keuntungan. Saham-saham yang dimiliki pemerintah merupakan saham favorit saat ini karena pertumbuhannya baik, keberlangsungannya sangat terjamin, dan umumnya perusahaannya besar.

Bila investor mempunyai toleransi risiko moderat, investor bisa berinvestasi dengan campuran obligasi dan saham. Dalam kasus ini, investor harus membuat alokasi yang tepat agar terjadi tingkat pengembalian dan risiko yang diinginkan.

Bila investor membuat alokasi investasi pada saham jauh lebih besar, risiko akan lebih tinggi. Sebaliknya, bila investasi pada obligasi lebih besar alokasinya, risiko akan lebih rendah dibandingkan dengan bila alokasi saham lebih banyak.

Bila investor mempunyai toleransi risiko kecil, maka tidak perlu berinvestasi pada saham maupun obligasi, tetapi pada deposito dan tabungan. Investasi pada deposito dan tabungan mempunyai kemungkinan nilai pokok jatuh dan tingkat pengembalian cukup kecil dibandingkan dengan investasi pada obligasi atau saham. Investor sebaiknya meminta tingkat bunga tidak lebih besar dari tingkat bunga yang dijamin LPS agar investor tidak merugi bila bank yang menerbitkan obligasi mengalami problem. Artinya, semakin tinggi tingkat pengembalian yang diharapkan, semakin tinggi risiko yang harus ditoleransi. Selamat berinvestasi.

Kompas