BLOGSPOT atas
Showing posts with label Investasi Aktif. Show all posts
Showing posts with label Investasi Aktif. Show all posts

Sunday, June 13, 2010

INVESTASI: Inovasi Keuangan

Minggu, 13 Juni 2010 | 02:56 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi Keuangan
Bukan hal yang keliru kalau ada yang beranggapan bahwa besarnya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya kekayaan. Seseorang yang penghasilannya di atas Rp 10 juta sebulan, misalnya, bisa saja kehidupan keuangannya lebih ”susah” ketimbang karyawan yang penghasilannya sebesar Rp 5 juta per bulan.
Kok bisa begitu? Bisa saja. Sebab, berapa pun kecilnya penghasilan, sepanjang pengeluaran lebih rendah ketimbang pemasukan, berarti memiliki cash flow positif yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kekayaan.
Di sisi lain, berapa pun besarnya penghasilan, jika pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan, posisi keuangan akan defisit. Itu berarti sebagian kebutuhan akan dibiayai oleh utang. Dus, tidak ada sumber dana yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan aset. Yang ada adalah penurunan kekayaan secara bertahap karena aset akan dipergunakan untuk pembayaran utang.
Oleh karena itu, tingkat kekayaan seseorang sebenarnya tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan lebih bergantung pada karakter pengelolaan penghasilan. Singkatnya, berapa pun kecilnya penghasilan, tetap dimungkinkan menjadi kaya jika mau dan mampu melakukan inovasi dalam pengelolaan keuangan.
Apa itu inovasi keuangan? Sederhananya adalah melakukan hal yang berbeda dalam pengelolaan keuangan. Misal, jika orang kebanyakan menggunakan kartu kredit untuk berutang, dalam koridor inovasi keuangan, penggunaan kartu kredit adalah untuk memanfaatkan tenggang pembayaran sehingga Anda bisa menggunakan dana pihak lain, dalam kurun waktu tertentu tanpa biaya apa pun.
Jadi, jika Anda berbelanja pada hari ini dan kemudian melunasinya sebelum jatuh tempo, berarti Anda bisa mendapatkan tambahan cash flow dalam kurun waktu tersebut, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal.
Bayangkan, jika Anda bisa membeli barang dengan harga ”X”, misalnya, lalu menjualnya kembali dengan harga ”X” plus keuntungan, Anda telah berbisnis tanpa modal dan bahkan memperoleh untung. Dengan kata lain, utang yang digunakan untuk kegiatan produktif merupakan salah satu inovasi keuangan. Apalagi jika utang itu sendiri diperoleh tanpa biaya apa pun, seperti penggunaan kartu kredit di atas.
Bagaimana jika utang itu menimbulkan biaya bunga? Tidak masalah. Sepanjang biaya bunga masih lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh, tetap saja Anda tergolong kalangan yang inovatif. Jadi, ringkasnya, menumbuhkembangkan aset bisa dilakukan tanpa modal. Modal itu diperoleh dari utang. Lalu dipergunakan untuk berbisnis. Dan hasil bisnis tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan biaya utang itu sendiri.
Aset produktif
Contoh inovasi keuangan lainnya adalah memiliki sebanyak mungkin aset produktif dibandingkan aset konsumtif. Pernahkah Anda melihat pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal?
Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain, rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis. Bagaimana dengan Anda? Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu. Dan rumah yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban. Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.
Selain rumah, coba lihat lagi berbagai kekayaan yang Anda miliki. Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong produktif. Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda. Begitu juga dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan. Ringkasnya, aset produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.
Inovasi keuangan juga bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi, uang menghasilkan uang. Bagaimana caranya? Lakukan investasi aktif.
Investasi aktif adalah secara reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan. Di pasar modal, misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain. Ini memang tidak salah. Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan semakin merosot.
Nah, seorang investor aktif tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada harga yang lebih rendah. Kenapa? Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah untuk jangka panjang. Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di kolom ini.
Yang terakhir adalah inovasi keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih banyak yang tergolong ”nice to have”.
Jika Anda bisa memotong biaya ”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih produktif. Selamat mencoba.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, May 2, 2010

INVESTASI: Investasi Aktif

Minggu, 2 Mei 2010 | 02:55 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi Keuangan

Apa yang sebaiknya dilakukan seorang investor setelah menentukan investasi pilihannya? Ada beberapa pilihan. Misalnya, mendiamkan saja investasi tersebut dalam kurun waktu tertentu dengan harapan investasi yang sudah dilakukan akan memberikan imbal hasil yang tinggi. Contohnya, membeli tanah di sebuah lokasi. Beberapa tahun kemudian, harga tanah tersebut akan mengalami peningkatan.

Demikian juga ketika seseorang membeli saham, baik itu saham perusahaan secara langsung, maupun saham di pasar modal. Setelah dibeli, saham tersebut dibiarkan saja, kendati harganya naik ataupun turun. Baru setelah beberapa tahun kemudian, saham tersebut dijual, dengan ekspektasi harganya sudah meningkat. Ini disebut dengan investasi pasif.

Namun, dalam realitasnya, yang terjadi bisa bertolak belakang dengan harapan. Harga tanah yang sudah dibeli, misalnya, boleh jadi mengalami penurunan. Kenapa? Karena tanah tersebut akan digusur. Demikian juga dengan saham suatu perusahaan. Karena perusahaan tidak berprestasi, harga saham terus menurun. Dan, ketika pembiaran terjadi, ujung-ujungnya, harga saham tersebut malah semakin menurun. Oleh karena itu, untuk menghindari hal semacam itu, perlu dipertimbangkan investasi aktif.

Investasi aktif adalah investasi yang dikelola secara aktif oleh seorang investor terhadap seluruh portofolio investasi yang dimilikinya. Katakanlah investasi di pasar modal. Atau lebih spesifik lagi investasi di saham. Pembelian saham dimaksud, mestinya memiliki peruntukan dan jangka waktu investasi (time horizon) yang berbeda, yakni untuk yang berjangka menengah panjang dan jangka pendek. Jangka menengah panjang umumnya di atas 1 tahun, sedangkan jangka pendek adalah di bawah 1 tahun.

Setelah menentukan jumlah dana untuk setiap jangka waktu investasi, langkah berikutnya adalah memilih saham-saham dan tindakan yang akan dilakukan terhadap setiap saham tersebut. Mengenai pilihan saham, seorang investor aktif mesti menentukan sendiri sektor yang akan dimasuki sesuai dengan keyakinan. Dan, pilihan sektor ini bisa berbeda dengan kondisi pasar. Artinya, kalau di pasar, sektor yang memiliki kapitalisasi terbesar adalah sektor A, seorang investor aktif tidak mesti menempatkan dana terbesarnya di sektor A, tetapi bisa saja di sektor B, C, atau D. Dengan kata lain, pilihan sektor dapat berbeda dengan kebanyakan investor lainnya.

Dalam praktiknya, seorang investor aktif akan menempatkan dananya pada saham yang berbeda sektor, di mana pilihan sektor-sektor tersebut bersifat sangat individual.

Langkah berikutnya adalah menentukan pilihan saham pada setiap sektor. Dalam satu sektor biasanya terdiri atas beberapa emiten yang skala usahanya berbeda dan saling berkompetisi satu sama lain. Investor boleh memilih beberapa saham dalam sektor yang sama.

Risiko

Apakah ini tidak berisiko? Jelas ada risikonya. Kalau kondisi ekonomi tengah mengalami penurunan dan kemudian memukul sektor tersebut, sangat mungkin kinerja semua emiten di sektor itu akan terpengaruh. Tetapi, jika sektor tersebut berkembang, semua emiten yang ada di situ juga akan menghasilkan kinerja cemerlang. Selanjutnya, harga sahamnya meningkat.

Di sisi lain, bisa juga terjadi persaingan usaha antaremiten semakin ketat. Ada yang kinerjanya merosot, ada juga yang mencorong. Dus, kalau investor bersikap aktif, saham yang kinerjanya merosot bisa dilepas dan dana dipindahkan ke emiten yang lebih unggul. Tentu saja untuk bisa melakukan hal semacam ini, investor mesti memantau perkembangan kinerja dari emiten-emiten secara rutin dan melakukan reaksi secara cepat terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Langkah aktif lainnya adalah melakukan perdagangan saham secara harian atau mingguan. Hal ini khususnya terhadap investasi saham yang jangka waktu investasinya di bawah 1 tahun. Artinya, investor boleh melakukan jual beli saham setiap saat, bahkan setiap hari. Dengan kata lain, saham yang dibeli dipegang dalam kurun waktu 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, atau malah 1 hari saja. Inilah yang disebut dengan perdagangan saham aktif. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga keahlian. Investor mesti mengetahui kondisi fundamental dari masing-masing emiten. Lalu mempelajari karakteristik pasar dan perilaku investor lainnya. Investor juga mesti memiliki data pergerakan harga dari setiap saham yang akan dibeli dan atau dijual.

Hal yang dipaparkan di atas hanyalah sekelumit pengertian investasi aktif di pasar saham. Hal yang sama juga bisa dilakukan di investasi sektor riil. Dalam investasi tanah, misalnya. Seorang investor aktif akan melakukan riset terlebih dahulu tentang kemungkinan perkembangan di sekitar tanah dimaksud. Dan, setelah tanah dibeli, riset tetap dilakukan. Lalu, berdasarkan informasi yang diperoleh, seorang investor aktif bisa saja membeli lagi tanah lain di sekitar tanah yang sudah dibeli. Karena bisa saja muncul perkembangan yang akan terjadi di lokasi tersebut. Misalnya, akan ada pembangunan. Ini jelas akan mendongkrak harga. Sebelum pembangunan terjadi, seorang investor aktif akan mencuri start dengan menambah investasi tanah di sekitar lokasi dimaksud.

Simpulannya, bukanlah hal sulit untuk menjadi investor aktif. Persyaratannya hanyalah kemauan untuk meluangkan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja keberanian mengambil risiko. Tetapi, potensi keuntungan yang diperoleh lazimnya juga akan lebih besar ketimbang sekadar menjadi investor pasif.

KOMPAS