BLOGSPOT atas
Showing posts with label Surfing The New Wave Marketing. Show all posts
Showing posts with label Surfing The New Wave Marketing. Show all posts

Thursday, December 10, 2009

Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran

(tulisan dua dari dua)

Kamis, 10 Desember 2009 | 07:54 WIB

KOMPAS.com - 2012. Perkara Anda suka atau tidak dengan film-nya, itu mungkin masalah lain. Kami juga tidak ingin memperdebatkan apakah kiamat benar-benar akan terjadi pada tahun 2012. Satu hal yang kami ingin angkat dari cerita di atas adalah esensi yang kami tangkap dari sudut pandang pemasaran. Kehancuran yang ia gambarkan dalam ’2012’ adalah wajah yang sama dengan situasi dunia pemasaran seperti saat ini, di mana kita hidup di jaman yang chaos, penuh dengan krisis, di mana “kiamat-kiamat kecil” seakan hidup dalam kehidupan kita sehari-hari, dan menjadikannya bagian dari dinamika ruang lingkup dunia pemasaran yang kita geluti.

Dunia pemasaran saat ini tengah bergerak, mengalami transformasi besar-besaran, akibat berbagai krisis atau “kiamat kecil” yang sudah lewati, juga akibat pergerakan lanskap yang sangat cepat berubahnya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, terutama dengan era Internet Web 2.0 dan berbagai kemajuan teknologi gadget yang ada telah merubah praktek pemasaran dari yang tadinya bersifat top-down dan vertikal, menjadi serba sejajar dan horisontal.

Satu yang dapat menolong untuk mengarungi lanskap yang penuh dengan turbulens dan kekacauan adalah pendekatan baru yang berkata kunci CONNECT! di mana praktek pemasaran yang serba ter-CONNECT! di dunia New Wave-lah yang dapat mempersiapkan pemasar untuk memenangkan pertempuran pemasaran. CONNECT! adalah ibarat kapal raksasa yang digambarkan oleh film 2012 itu sebagai penyelemat peradaban manusia (baca: dalam hal ini dunia pemasaran) di tengah masuknya kita ke era orde baru dunia pemasaran.

Apa yang kami lihat, alami, dan dalami tentang pergeseran pemasaran selama dua puluh tahun belakang di MarkPlus, membawa kami pada kesimpulan bahwa pemasaran memang terus mengalami transformasi. Namun apa yang terjadi belakangan ini, ketika Web 2.0 merubah tatanan lingkungan bisnis, merupakan yang paling dasyhat sepanjang pengalaman kami menggeluti dunia marketing.

Meskipun di satu sisi, prediksi bahwa teknologi internet telah mengubah konsumen semakin emosional rupanya betul kejadian, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dampak dari perkembangan internet Web 2.0 memang membuat segala sesuatu di dunia pemasaran berubah total. Wajah internet menjadi lain sama sekali, menjadi lebih manusiawi, lebih interaktif, partisipatif, dan lebih sosial.

Teknologi bukannya membawa konsumen menjadi robot-robot budak teknologi, tapi justru sebaliknya, menjadi manusia seutuhnya. Utuh bersama emosinya, aspirasinya, perasaannya, dan bersama jiwanya. Sesuai dengan hipotesa kami mengenai Marketing 3.0 bahwa pada akhirnya marketing harus menyentuh dan meng-CONNECT! secara holistik ke benak, perasaan, dan jiwa pelanggan.

Apa yang telah kami jelaskan, setidaknya memberikan gambaran bahwa dunia pemasaran secara globalnya memang berubah, dari orde lama ke orde baru.

Orde lama dunia pemasaran sudah semakin menuju hari kiamat, tidak perlu menunggu tanggal 12 Desember 2012, karena saat ini dan detik ini pun sudah semakin terlihat bahwa pola praktek pemasarannya yang mengacu pada pemahaman marketing yang legacy, penuh dengan praktek vertikal, sudah semakin ditinggalkan oleh stakeholdernya, terutama para konsumen.

Dunia pemasaran tengah memasuki sebuah orde baru, babak baru, peradaban baru, yang mengacu pada pemahaman marketing yang bersifat “New Wave,” bersandar pada praktek pemasaran yang serba ter-CONNECT! secara horisontal.

Welcome to the new world marketing order!


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Wednesday, December 9, 2009

Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran

(tulisan satu dari dua)

Rabu, 9 Desember 2009 | 10:16 WIB

KOMPAS.com - Di tengah seiring perjalanan waktu, dunia terus berubah dan pemasaran juga tentunya ikut berubah, dan begitu juga sebaliknya langkah pemasaran yang dilakukan oleh pemasar-pemasar yang visioner juga mengubah dunia. Sebut saja Mark Zuckeberg yang mengubah dunia lewat Facebook, Jawed Karim, Chad Hurley and Steve Chen mengubah dunia lewat YouTube, Jimmy Wales dan Larry Sanger mengubah dunia lewat Wikipedia, dan banyak lagi technopreneur lain.

Sejak Tim O’Reilly, seorang pakar teknologi internet, memproklamasikan lahirnya Web 2.0 pada saat membuat O’Reilly Media Web 2.0 Conference di tahun 2004, kita seperti hidup di dunia yang lain. Generasi baru internet ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi, berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, berkomunitas, atau berkolaborasi satu sama lain.

Kekuatan Web 2.0 yang menelurkan berbagai produk Social Networking menjadi kian menggila. Situs-situs seperti Facebook, YouTube, MySpace, Flickr, Wikipedia, dan lain sebagainya kian digandrungi para netizen, yang melihat bahwa internet yang sesungguhnya adalah yang begini, yang lebih cool, lebih interaktif, lebih partisipatif, dan lebih sosial.

Dengan kekuatan baru yang ditawarkan oleh kecanggihan generasi baru Internet ini, berbagai kalangan sudah melihat bahwa perubahan besar sedang terjadi. Thomas Friedman, kolumnis dari New York Times, mencetuskan tesisnya mengenai “The World is Flat” di mana ia berkata bahwa kemajuan teknologi berbasis Internet akan mampu mentransformasikan dan membebaskan individu, membebaskan potensinya, membebaskan kreativitasnya, dan membebaskan kabapibilitasnya. Dengan teknologi tersebut, umat manusia, siapa saja, di mana saja, kapan saja, bisa bersaing di tingkat global, asalkan terhubung ke Internet.

Thomas Friedman tidak sendirian ketika mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia tengah berubah total. Karena pemikirannya disambut secara eksplisit maupun implisit oleh beberapa pemerhati lain.

Chris Andersen sebelumnya juga sudah mengungkap hal yang kurang lebih sama pada artikel editorialnya di majalah Wired ketika mengemukakan untuk pertama kalinya mengenai ‘Long Tail’, sebuah fenomena di mana dominasi pemain besar akan runtuh digantikan oleh jutaan pemain kecil yang mendominasi 80 persen pasar. Di tengah terjadinya peralihan dari korporasi ke individu, dengan adanya Internet Web 2.0, siapapun bisa jadi produsen, siapapun bisa jadi distributor, siapapun bisa jadi promoter, maka tak heran kalau majalah Time memberikan penghargaan Person of the Year pada tahun 2006 lalu kepada Anda (Ya, Anda semua), yang termasuk 5 miliar umat manusia yang mengontrol dunia.

Setidaknya setelah Web 2.0 merebak dan menjadi sebuah hype yang mengglobal, dan juga tesis Thomas Friedman mengenai “The World is Flat” yang menjadi percakapan di mana-mana, kalangan media juga menyambutnya dengan mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia tengah mengalami perubahan yang sangat dasyhat.

Majalah Business Week, contohnya, memberikan berbagai laporannya tentang bagaimana efek teknologi internet di era Web 2.0, mulai dari praktek kolaborasi masal yang ditawarkan oleh kekuatan teknologi Web 2.0, dunia blogosphere yang akan merubah cara kita melakukan bisnis dan pemasaran, dan juga fenomena social media secara keseluruhan.

Seiring dengan masuknya kita ke dalam awal abad-21 ini, dunia teknologi semakin memberikan interaksi, partisipasi, dan peluang untuk berkolaborasi, sehingga membawa kita untuk melakukan praktek pemasaran yang bertumpu pada jejaring yang saling ter-CONNECT!


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Tuesday, December 8, 2009

Tiga Tingkatan untuk CONNECT!

Selasa, 8 Desember 2009 | 08:35 WIB

KOMPAS.com - Bagi kami ada tiga tingkatan CONNECT! Yang pertama adalah Mobile CONNECT!. Pertanyaan testingnya adalah "Are you well-CONNECTED?" di dunia online maupun offline. Jika Anda punya 10,000 teman di Facebook, dan 25,000 lain mengantri, juga punya ribuan kartu nama yang didapat dari mana saja, dan kartu nama Anda juga ada di mana-mana, maka Anda sesungguhnya adalah orang yang punya mobilitas tinggi dan itu salah satu pertanda Well-Connected.

Obama punya belasan juta teman online. Karena itu, tim Obama for America (OFA) bisa berkomunikasi dengan mereka at any time. Itu semua bisa terjadi karena sudah banyak gadget yang bisa jadi konektor! Sedemikian banyak gadget yang ada, sudah sepantasnya disingkat jadi MOBILE saja. Selama Anda ber "mobile-ria" ke mana-mana Anda bisa tetap bisa berkomunikasi, untuk menjadi seseorang yang well-Connected, punya mobilitas tinggi merambah dunia Online dan Offline. Informasi update bisa masuk at any time kalau Anda Well-Connected !

Customer Insight dan Competitor Intelligence juga bisa "tertangkap" lebih gampang kalau Anda Well-Connected! Begitu juga dengan informasi mutakhir tentang Teknologi, Politik, Ekonomi dan Sosial. Expert-Opinion tetap diperlukan karena analisa seorang ahli bisa lebih dalam. Tapi masalahnya sering terlambat! Sedang kalau Anda Mobile CONNECT! semuanya bisa Personal, Available, Immediate dan Real Time! Selalu up-to-date, selalu terdepan dalam berbagai hal yang terkait dengan dinamika lanskap.

Tingkat kedua adalah Experiential CONNECT!. Pertanyaan yang relevan di sini adalah "How Deep is your CONNECTION?" Bukan cuma hanya “Are you Well-Connected?” atau masalah seberapa eksisnya Anda karena mobilitas Anda yang tinggi. Tapi yang menjadi penting adalah bagaimana orang bisa merasakan dan mengalami ke-eksis-an Anda tersebut.

Mungkin dari 10,000 teman di Facebook tadi, hanya sedikit yang mempunyai Experience Connection. Karena itu seorang Marketer juga harus ‘meningkatkan‘ tingkatan level connection-nya dari Mobile ke Experiential.

Offline Experiential event yang berdasarkan kaidah kekuatan multisensor yang menggugah panca indera kita (multisensory), juga ada kekuatan emosional (emotional), dan kekuatan rasa saling membagi (Sense of sharing). Tiga kaidah yang disingkat menjadi MES ini dapat menimbulkan "deep connection" atau koneksi yang dalam karena pengalaman yang mendalam.

Berbagai gadget baru yang kita pakai (seperti iPhone, Blackberry, dan lain sebagainya) tidak sekedar membantu connection kita secara "mobile" tapi sekaligus eksperiensial dan juga mobile. Sudah merupakan tugas bagi seorang marketer untuk dapat membuat ekstensi dari offline experience itu menjadi online experience.

Obama melanjutkan diskusi atau entertainment yang terjadi di offline campaign-nya di Internet! Dengan demikian, intimacy dan enthusiasm yang ada di dunia offline bisa berlanjut dengan excitement dan engagement yang didapati dari dunia online. Demikian juga bisa terjadi sebaliknya, dari online ke offline.

Dan, tingkat paling tinggi dalam CONNECT! adalah Social CONNECT! Dunia New Wave adalah dunia di mana hubungan sosial antar pelanggan adalah segala-galanya. Customer sudah mulai tidak percaya marketer. Mereka cuma percaya teman-temannya di dalam komunitas yang sama, karena itu Social Connect! punya tingkatan tertinggi.

Di dalam hal tingkatan koneksi sosial ini, pertanyaan yang tepat sekarang adalah "How Strong is the CONNECTIVITY?" Komunitas yang punya Strong Connectivity akan berinteraksi sendiri tanpa pemimpin yang formal. Seringkali terjadinya dadakan, spontan dan informal! Tapi terus kenapa mereka mau berkomunitas dengan konektivitas yang tinggi? Karena ada lima karakteristik yang disingkat SEGAS. Apa itu? “Status & Self-Esteem”, “Expressing Identity”, “Giving & Getting Help”, “Affiliation & Belonging”, dan “Sense of Community.”


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Monday, December 7, 2009

CONNECT! untuk Berselancar Dalam New Wave Marketing

Senin, 7 Desember 2009 | 14:50 WIB

KOMPAS.com - Berbagai perubahan yang kita alami di dalam dunia pemasaran saat ini bermuara pada lahirnya sebuah pendekatan marketing yang baru. Pendekatan marketing yang bersifat vertikal digantikan oleh pendekatan yang bersifat horisontal. Dunia pemasaran tertransform dari era ’Legacy’ ke ’New Wave.’

Sejak buku New Wave Marketing (NWM) menjadi laris, kami diundang dalam berbagai kesempatan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kami juga tidak lupa menyebarkan virus NWM ini agar mereka tahu bahwa kita di Indonesia selalu update dengan perkembangan mutakhir di dunia pemasaran. Kunjungan kami keliling ke banyak tempat, baik ke berbagai kota di tanah air, negara-negara di kawasan ASEAN dan Asia, sampai ke Amerika, bahkan ke belahan Afrika beberapa waktu lalu adalah dalam rangka menyebarkan pemahaman tentang perubahan dunia pemasaran ini.

Setiap ada kesempatan kami ditanyai dan didebat. Pertanyaan biasanya berupa permintaan untuk menjelaskan lebih detil tentang 12C pemasaran New Wave yang merupakan "horisontalisasi" dari 9 Elemen Inti dalam model Legacy Marketing kami .

Banyak yang mengatakan bahwa “prakteknya sulit dilaksanakan.” Lantas kami jawab , “sudah pasti susah karena belum terbiasa.” Ada pula yang mengatakan “ini kan mahal?” kami jawab “justru konsep ini adalah pintu masuk untuk mencapai cita-cita pemasar untuk menggapai praktek pemasaran yang low-budget high impact.”

Ada lagi yang mengatakan “Ini kan tidak ada di dalam text-book, jadi tidak ilmiah?” Memang benar tidak ada di buku teks, karena biasanya isi dari buku teks adalah mencatat apa yang sudah terjadi, mencatat apa-apa yang ada di dalam era Legacy.

New Wave Marketing adalah kepekaan kami menangkap "weak signal" transformasi para Marketer yang visioner yang semakin resah ketika metode Legacy-nya tidak jalan. Padahal, tuntutan terhadap ROMI (Return on Marketing Investment) semakin dahsyat.

Lantas? Apa lagi masalahnya?

Sebenarnya ada satu ‘C’ lagi yang bobotnya besar sekali sebelum ke 12C ini bisa dilaksanakan dengan baik, yaitu CONNECT! yang mutlak harus ada kalau mau menjalankan New Wave Marketing. Dalam arti lain, CONNECT! adalah pintu masuk ke 12C yang lain.

Di model Legacy, kami hanya menekankan pada pentingnya 4C. Mengenali Change (perubahan di Teknologi, Politik dan Legal, Ekonomi, Sosial Budaya, Pasar) yang merubah Competitor dan Customer. Ketiga ‘C’ inilah yang kami sebut lanskap pemasaran. ‘C’ keempat adalah Company yang harus bisa selamat di tengah arus perubahan dan bahkan memenangkan persaingan di lanskap yang dinamis tersebut.

Di era Legacy, se-dinamis-dinamis-nya lanskap bisnis ketika itu, CONNECT! belum jadi suatu isu yang utama.

Walaupun New Wave Marketing bukan Internet Marketing, Digital Marketing atau Online Marketing, tapi Internet yang makin perkasa ini memaksa sebuah Company untuk menambahkan ‘C’ kelima yaitu CONNECT! dalam 4C-nya.

Artinya? Kalau tidak ada yang satu ini, maka sebuah perusahaan tidak akan bisa survive. Selama kita harus istirahat, tidur, istirahat, dan tidur lagi, kita harus mempunyai sistem yang menjaga agar kita tetap CONNECT! terhadap tiga C yang lain. CONNECT! ke Customer, Change bahkan dengan Competitor. Kata klisenya: 24/7/365!

Harus pula dicatat bahwa apa yang kami maksud di sini dengan CONNECT! adalah bukan saja bagaimana pemasar terhubung secara online, namun juga harus dibarengi dengan dunia online.

Online hanya bisa menimbulkan Excitement dan Engagement tapi Offline bisa lebih jauh ke Intimacy dan Enthusiasm! Dan, kalau keduanya digabung akan menjadi suatu kesatuan yang bersifat Physical, Intellectual, Emotional dan Spiritual!


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Mari Tunjukkan Siapa Anda Sesungguhnya

Senin, 7 Desember 2009 | 08:07 WIB

KOMPAS.com — Seperti yang kami katakan kemarin, kekuatan era New Wave ada pada kata kunci connect. Sebab, dunia ini serba saling terhubung. Ini yang coba kami buktikan sekarang dalam kolom ini yang melibatkan beberapa pembaca Kompas dan Kompas.com dalam proses pembuatan buku yang nanti akan diluncurkan pada tanggal 10 Desember 2009, pada saat MarkPlus Conference.

Tanggapan mereka atas berbagai tulisan yang kami muat di Kompas dan Kompas.com membuktikan bahwa di dunia yang horizontal seperti sekarang, kalau kita terhubung dan membuka diri, kita dapat belajar dari sebanyak mungkin orang. Contohnya dari Mas Afiyan Afeee (jualabiz.blogspot.com) yang mencoba menanggapi artikel ”Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter” yang dimuat di Kompas (08/11/2009), dengan menambah contoh kasus yang terjadi di Tanah Air. Mari kita simak tulisannya yang bertajuk “Merek di Era New Wave: Tunjukkan Siapa Anda Sesungguhnya”.

“Awalnya, merek (brand) digunakan untuk membedakan sebuah produk di antara produk lain yang sejenis. Dengan menggunakan merek, sebuah produk akan keluar dari kategori produk komoditas, yang harganya ditentukan oleh hukum pasar. Oleh karena itu, produk bermerek berkesempatan memasang harga di atas rata-rata harga pasar.

Tahun 1955 di Harvard Business Review, tayang sebuah artikel bertajuk “The Product and The Brand” tulisan Burleigh Garder dan Sidney Levy, yang semakin memperjelas perbedaan antara merek dan produk. Konsep merek mulai dirumuskan pada tahun 1980-an, termasuk bagaimana mengukur nilai sebuah merek (brand equity). Kemudian, istilah merek pun semakin populer pada tahun 1990-an, dan menjadi bahasan utama dalam bidang pemasaran.

Dulu, sebuah merek cukup dengan nama yang unik, slogan nan indah, desain logo cantik atau jingle iklan populer. Manajemen merek pun ditujukan untuk meningkatkan nilai merek, dengan program pemasaran terpadu, promo, iklan ataupun program kehumasan. Saat itu, semua merek bekerja keras untuk meraih brand value, brand strength, top of mind, brand awareness, dan brand loyalty, yang ujung-ujungnya akan melipatgandakan brand equity masing-masing.

Kini, Anda sebagai pemilik merek sepertinya harus mengubah paradigma tentang merek. Mungkin benar, di era New Wave sekarang ini, “Merek adalah Karakter”. Ya, tidak cukup hanya membangun merek, tetapi juga harus membangun karakter. Merek hanyalah selubung yang membungkus karakter sesungguhnya dari produk atau bisnis Anda. Karakter berkaitan dengan siapa Anda yang sebenarnya, dan bagaimana masyarakat melihat Anda apa adanya. Oleh karena itu, proses membangun karakter ini harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan yang universal, seperti kejujuran, saling menghormati, tanggung jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan rasa kemanusiaan.

Satu hal lagi, bukan perusahaan raksasa saja yang harus membenahi karakter mereknya. Setiap pemilik merek semestinya melakukan hal yang sama, bahkan untuk level usaha kecil menengah (UKM). Seperti yang saat ini saya lakukan untuk BaksoGranatz, sebuah merek gerai bakso di daerah Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. Hal itu diawali dengan menciptakan nama yang unik, kemudian desain logo yang sesuai, termasuk dengan menjaring komunitas melalui situs jejaring sosial Facebook. Karena target market BaksoGranatz lebih ke konsumen usia muda, karakter BaksoGranatz dirancang seperti anak muda zaman sekarang, yang kreatif, open mind, segar, dan selalu semangat. Itu tentu saja tanpa melupakan nilai kejujuran dan kebaikan universal lainnya.”

Nah, bagaimana dengan Anda?


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Sunday, December 6, 2009

Cerita Dari Blogger Tentang Co-Creation Star Wars

Minggu, 6 Desember 2009 | 15:20 WIB

KOMPAS.com - Kami sudah menyambungkan Anda ke seorang bloger, Mas Pitra (media-ide.com), yang telah dengan baik memberikan tanggapannya artikel kami yang lalu mengenai karakter di era New Wave.

Masih banyak tanggapan-tanggapan yang masuk terhadap artikel-artikel yang lalu, salah satunya Mas Radix Hidayat (radixhidayat.net) yang memberikan tanggapannya tentang artikel yang kami tulis di Kompas dan Kompas.com tentang co-creation.

Mari kita simak tulisannya bersama-sama.

Star Wars Expanded Universe

Dalam dunia perfilman, nama Star Wars sudah tidak diragukan lagi namanya. Dengan nama besar dari sang kreator George Lucas, basis fans yang besar, serta universe yang begitu luas, tidaklah salah jika Star Wars adalah sebuah mitologi modern, yang sederajat dengan mitologi Yunani maupun Mesir.

Mungkin bagi kebanyakan awam, Star Wars hanyalah sebuah trilogi film fiksi ilmiah yang berkisah mengenai perjalanan Luke Skywalker dalam menumpas kejahatan. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Star Wars adalah sebuah kisah sebuah galaksi sepanjang lebih dari 25.000 tahun, yang lebih dikenal sebagai Star Wars Expanded Universe (EU).

Pertanyaannya adalah, mungkinkah George Lucas membuat sebuah epik masif dengan rentang waktu yang sepanjang itu? Tentu saja tidak. Yang membuat semua itu adalah dari komunitas pecinta Star Wars. Selain trilogi orisinil maupun trilogi prekuel yang langsung dikomandani George Lucas, Star Wars memungkinkan pihak-pihak lain untuk mengembangkan kisah di galaksi Star Wars melalui media buku, komik, serial televisi, mainan, film animasi, hingga permainan komputer. Pihak-pihak lain inilah yang memberikan sebuah kisah epik Star Wars yang sepanjang lebih dari 25.000 tahun.

Star Wars EU merupakan sebuah kontinuitas dan ekspansi dari trilogi orisinil maupun trilogi prekuel. Kisah-kisah EU ini menyediakan latar belakang mulai dari asal mula dari pihak protagonis, yaitu Jedi Order dan Galactic Republic serta pihak antagonis yaitu Sith Order. Para fans yang menjadi penulis cerita memungkinkan untuk mengisi "celah" yang belum tersentuh, dengan tetap merujuk pada jalan cerita yang sudah ada. Kisah-kisah ini jika bagus akan disetujui oleh Lucas Licensing sebagai pemegang lisensi Star Wars dan menjadikannya bagian resmi dari epik Star Wars. Bahkan, beberapa aspek dalam trilogi prekuel mengambil sumber dari EU, seperti nama planet Coruscant maupun nama Ksatria Jedi Aayla Secura.

Barangkali ada sebuah kekhawatiran kalau Star Wars akan kehilangan arah jika dikerjakan secara "gotong royong" seperti ini. Untuk mengantisipasinya, Lucas Licensing memberikan level-level untuk kisah-kisah yang dibuat, mulai dari level G (untuk George Lucas, sang kreator), C (untuk continuity, yang diadopsi menjadi bagian resmi kisah Star Wars), S (untuk secondary, kisah-kisah yang kurang koheren dengan EU), hingga level N (noncanon, yang tidak masuk ke dalam kontinuitas).

Hermawan Kartajaya, Waizly Darwin

KOMPAS

Friday, December 4, 2009

Kami Hubungkan Anda ke Blogger

Jumat, 4 Desember 2009 | 09:02 WIB

KOMPAS.com - Kolaborasi kami dengan pihak KKG kali ini, terutama dengan Kompas, Kompas.com, dan GPU, adalah satu langkah untuk practice what we preach ketika kami berbicara tentang New Wave Marketing. Karena Kompas dan Kompas.com pada dasarnya adalah platform konektor yang ada di offline dan online, yang mana dapat menghubungkan konsep ini ke dunia yang lebih luas.

Kekuatan era New Wave yang serba saling terhubung seperti sekarang juga kami buktikan dalam kolom ini, di mana kami melibatkan beberapa para pembaca Kompas dan Kompas.com, untuk ikut terlibat dalam proses pembuatan buku yang nanti akan diluncurkan setelah rangkaian artikel di kolom ini selesai.

Tanggapan mereka atas berbagai tulisan yang kami muat di Kompas dan Kompas.com, membuktikan bahwa di dunia yang horisontal seperti sekarang, kalau kita terhubung dan membuka diri, kita dapat untuk belajar dari sebanyak mungkin orang. Contohnya dari Mas Pitra Satvika (www.media-ide.com) yang mencoba menanggapi artikel ”Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter” yang dimuat di Kompas (08/11/2009), dengan menambah contoh kasus yang terjadi di tanah air. Mari kita simak tulisannya.

Karakter Fiktif dalam Social Media

Tulisan ini agak terlambat, tapi mudah-mudahan belum usang ya. Sudah tahu kan kalau Sarah Aprilia itu benar-benar karakter fiktif? Seperti disebutkan di situs resminya, Sarah Aprilia alias Raline Rahmat Shah merupakan brand ambassador produk Bask Cologne keluaran dari Mustika Ratu. Sayangnya kemunculan brand ini terlambat karena gaungnya di social media sudah berkurang. Karakter Sarah Aprilia adalah murni rekaan untuk membangun hype Bask di ranah maya. Hayo mengaku, siapa yang merasa tertipu?

Sepertinya aksi Sarah Aprilia ini mengilhami Daun Muda Award 2009, dimana diadakan kontes untuk membangun karakter fiktif di ranah maya. Para peserta menciptakan karakternya sendiri (tanpa harus ada relevansi dengan suatu brand) dan mengembangkannya melalui berbagai kanal social media. Beberapa karakter menuai kontroversi karena malah membangun kampanye bernada negatif, seperti seorang karakter yang menderita sakit kanker dan akhirnya meninggal. Sesuatu yang awalnya menuai rasa simpatik, namun malah mendapat cercaan karena ketahuan kalau karakter yang dibangun adalah palsu. Hal ini tentunya berbahaya kalau karakter tersebut merepresentasikan sebuah brand. Cerita lainnya tentang kampanye negatif yang berbalik arah menyerang brand adalah kisah Laura yang hilang, yang ternyata diculik dalam film Pocong.

Kalau diingat-ingat dulu saat pertama kali ngeblog, selalu ada pesan dari para blogger lain kalau ngeblog itu harus jujur, jangan dibuat-buat, karena pasti akan ketahuan oleh orang lain. Nggak tahu apakah pesan seperti ini masih berlaku saat brand semakin sering bereksperimen memanfaatkan alat-alat social media (blog, Facebook, Twitter, dll) untuk menyampaikan pesannya.

Bisa jadi kalaupun ada brand yang melakukannya, ia tidak akan dicerca (meski ketahuan kalau karakter itu adalah karakter palsu), asalkan ia bertindak tepat. Sesuatu yang sebenarnya sudah dilakukan beberapa novelis di luar sana. Mereka mengambil sudut pandang seorang tokoh rekaan kreasinya dan menulis kejadian yang dialami tokoh itu melalui blog. Si tokoh rekaan pun berinteraksi dengan pembacanya melalui komentar. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh tokoh rekaan dalam sebuah novel buku. Respon yang didapat dari para pembaca pun positif.

Lalu apa yang membuat sebuah karakter fiktif dalam social media disukai? Yang jelas bukan yang membuat audiensnya merasa kasihan atau direndahkan. Karakter yang justru bisa memberikan inspirasi positif, kesegaran karena lucu, atau membuat audiensnya menjadi terharu setelah membacanya. Untuk rujukan, contohlah blogger-blogger senior yang setiap tulisannya bisa mencerahkan audiensnya. Atau yang membangun kelucuan lewat karakter fiktif yang merepresentasikan dirinya sendiri.

Sepertinya sejak munculnya Sarah Aprilia dan Daun Muda Award, bisa-bisa tahun 2010 ini dunia social media akan dipenuhi oleh karakter fiktif. Nggak masalah sih. Siapapun karakter itu, asalkan eksistensinya bisa memberikan sumbangan positif di ranah social media tidak akan menjadi masalah.

Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Thursday, December 3, 2009

Mengarungi Pasar Lewat Pendekatan Horisontal

Kamis, 3 Desember 2009 | 10:01 WIB

KOMPAS.com - Di artikel-artikel sebelumnya kami sudah membahas bahwa PDB (Positioning, Differentiation dan Branding) yang ‘vertikal’ itu sudah tidak cukup lagi. Harus dihorisontalkan menjadi Triple C! Positioning menjadi Clarification, Differentiation jadi Codification dan Brand jadi Character.

Setelah melihat satu per satu inisiatif-insiatif yang diambil oleh kedai kopinya Paman Howie yang bernama Starbucks untuk menerapkan prinsip New Wave, selanjutnya kita perlu melihat tepatnya bagaimanakah Triple C dari Starbucks, dalam hal ini bagaimana ia mengklarifikasikan apa gunanya Starbucks buat komunitas, bagaimana ia mengkodifikasikan DNA sesungguhnya yang betul-betul otentik, dan juga membangun karakternya yang sempat menghilang. Analisa Triple-C ini akan mengungkapkan bagaimana strategi Starbucks dalam menghadapi pasar, terutama di era horizontal ini.

Starbucks selalu mengklarifikasikan diri diri sebagai ”the third place for coffee” atau tempat ketiga untuk menikmati kopi, setelah rumah dan kantor. Dengan klarifikasi ini, Starbucks mencoba untuk jujur dengan menyatakan bahwa mereka tidak berkompetisi dengan kopi yang disajikan di rumah yang mungkin merupakan ritual keluarga ataupun dengan kopi di tempat kerja yang bagian dari suatu kebutuhan. Sehingga cukup jelas komunitas yang ingin diklarifikasi oleh Starbucks, yaitu kelompok sosial yang gemar berkumpul di luar kantor dan rumah.

Sedangkan DNA Starbucks terkodifikasi, berpusat pada ”The Starbucks Experience”. Inilah DNA code dari Starbucks yang tidak dapat ditiru dengan mudah oleh kompetitor karena terbentuk selama bertahun-tahun sejak perusahaan ini mulai dikelola oleh Paman Howie . Kodifikasi inilah yang menjadi kunci yang membedakan sampai mengakar antara Starbucks dan kompetitornya.

Starbucks memang sempat nyaris lupa diri dengan melupakan kodifikasinya ini. Setelah Paman Howie mengundurkan diri sebagai CEO pada tahun 2000, fokus perusahaan lebih diarahkan pada pertumbuhan dan diversifikasi usaha. Era pertumbuhan Starbucks yang dipimpin oleh Orin Smith dan Jim Donald ini memang membawa hasil yang signifikan. Jumlah outlet Starbucks di dunia mencapai puluhan ribu. Tapi pada era ini, sepertinya perusahaan melupakan fokusnya pada “The Starbucks Experience”.

Tanpa ada pembeda yang kuat antara Starbucks dan kompetitor-nya, perusahaan ini mengalami banyak ancaman. Dengan munculnya kopi premium dari McDonalds dan Dunkin Donuts, posisi Starbucks sebagai “the third place” tidak lagi solid. Saat pembeli melihat bahwa kualitas kopi yang ditawarkan kompetitor tidak jauh berbeda dengan Starbucks, pembeli kehilangan motivasi untuk membeli produknya yang memang dijual dengan harga premium itu. Starbucks saat itu seperti melupakan bahwa “The Starbucks Experience” adalah salah satu alasan utama para pembelinya mencintai kopi yang sering disebut over-priced itu.

Kodifikasi inilah yang akhirnya dibangkitkan kembali oleh Paman Howie saat dia memutuskan untuk kembali menjadi CEO perusahaan dan memecat Jim Donald pada awal 2008. Secara gamblang menyatakan bahwa Starbucks sudah menjadi “korporasi tak berjiwa” dan fokus utama dia adalah mengembalikan “The Starbucks Experience” dan menghentikan komoditisasi yang sedang terjadi terhadap brand yang dibesarkannya ini.

Karakter Starbucks memang mencerminkan apa yang menjadi ambisi dari Paman Howie, yaitu perusahaan yang berada pada keseimbangan antara profitability (keuntungan) dan benevolece (kedermawanan). Itulah mengapa aktivisme sosial sangat penting bagi perusahaan ini. Dan seperti telah dibahas dibahas sebelumnya, karakter ini

Sebuah kutipan dari Paman Howie mungkin bisa menyimpulkan tulisan studi kasus ini, sekaligus menunjukkan bagaimana pemipin Starbucks ini melihat perusahaannya di tengah kompetisi: “Kami tidak memiliki hak paten atas apa yang kami lakukan dan apa pun yang kami jalankan dapat ditiru oleh siapapun. Tapi mereka tidak mungkin bisa meniru jiwa dan hati nurani perusahaan.”


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Wednesday, December 2, 2009

Manajemen Brand di Kedai Kopinya Paman Howie

Rabu, 2 Desember 2009 | 09:31 WIB

KOMPAS.com - Selain sebagai media promosi yang sangat efektif, percakapan (conversation) seperti dijelaskan sebelumnya juga turut membentuk terciptanya ekuitas merek. Dengan memastikan partisipasi aktif mereka dalam percakapan di berbagai social media, Starbucks dapat memanfaatkan munculnya topik dialog yang positif mengenai Starbucks, sebagai kesempatan untuk memperkuat image perusahaan di mata pelanggannya. Partisipasi dalam percakapan ini memungkinkan Starbucks semakin menekankan karakter merek yang menghorisontalkan diri.

Tapi bagaimana jika percakapan yang muncul justru bersifat negatif dan memojokkan Starbucks? Seperti dijelaskan sebelumnya, perusahaan tidak bisa sepenuhnya mengendalikan percakapan yang terjadi di komunitas, khususnya komunitas online. Sehingga munculnya percakapan yang dapat merugikan brand Starbucks tidak dapat dihindari. Keadaan seperti ini tentunya akan sangat berdampak negatif bagi perusahaan manapun, termasuk perusahaan sebesar Starbucks.

Inilah yang terjadi di awal 2009 saat muncul kampanye “Stop Starbucks”. Upaya aktivisme yang diluncurkan oleh Brave New Films ini bertujuan mengubah aturan anti-serikat pekerja yang diterapkan oleh Starbucks. Sebagai bagian dari gerakan ini, dimulailah suatu petisi online yang didukung oleh account di Twitter, Facebook, dan juga YouTube. Tampaknya kampanye ini berusaha menyaingi Starbucks di semua social media besar. Kelompok ini bahkan melakukan posting beberapa ide anti-Starbucks di www.mystarbucksidea.com

Namun apa yang terjadi? Jumlah pengikut Twitter mereka hanya sekitar 600, sangat jauh dari pengikut account Starbucks yang 800 kali lipat lebih banyak. Group site Stop SBUX di Facebook juga hanya memiliki sekitar 600 member, tidak ada artinya dibandingkan 5 juta fans Starbucks di situs tersebut. Ide yang diposting di www.mystarbucksidea.com juga lebih sering mendapatkan penilaian negatif daripada positif, sehingga tidak memiliki pengaruh sama sekali. Bahkan total nilai dari beberapa ide anti-Starbucks tersebut ada yang mencapai -70.

Jelas terlihat bahwa di sini Starbucks diselamatkan oleh penggemarnya. Komunitas loyal Starbucks tidak diam saja saat brand favorit mereka terancam. Para fans ini bertindak sebagai pembela saat ada ancaman dari luar. Starbucks tidak perlu mati-matian menjaga brandnya, ribuan bahkan jutaan orang akan melakukannya secara cuma-cuma. Mungkin brand manapun bisa mengakui kalau memiliki beberapa loyalis. Tapi banyaknya jumlah loyalis Starbucks harus diakui cukup mengesankan. Loyalis perusahaan ini mampu menjadikan gerakan anti Starbucks manapun seakan tak berdaya.

Kami melihat ada beberapa faktor yang memungkinkan ini terjadi pada Starbucks. Pertama, Starbucks menjaga otentisitas dan kejujuran dari pesan yang disampaikan. Sebagai contoh, perusahaan ini terus terang mengungkapkan siapa yang sebenarnya menjalankan account Twitter resmi Starbucks, yaitu seorang anak muda berusia 28 tahun yang bernama Brad Nelson. Ini memberikan ”wajah manusia” pada accountnya di Twitter.

Kedua, Starbucks selalu menjaga transparansi seluruh tindakannya. Hal ini ditunjukkan dalam pengelolaan My Starbucks Idea dimana proses pemberian ide, pemilihan, dan diskusi berlangsung secara terbuka dan tanpa intervensi terlalu banyak dari Starbucks.

Dua hal ini membentuk apa yang kami sebut sebagai karakter yang berkarisma. Sebuah karakter yang memiliki jiwa yang sangat otentik, tidak bisa ditiru karena DNA-nya yang jelas beda, mengakar sampai ke dalam-dalam isi atau ”the true self”. Dan jika karakter ini dipancarkan secara konsisten, makan akan terbentuk karisma dan aura yang kuat. Inilah yang terjadi pada Starbucks. Karisma dan aura yang dipancarkannya berhasil menarik loyalis yang demikian banyak dan bersedia secara sukarela untuk melindungi Starbucks dari serangan apapun.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Tuesday, December 1, 2009

Manajemen Produk di Kedai Kopi Paman Howie

Selasa, 1 Desember 2009 | 09:05 WIB

KOMPAS.com - Dalam hal manajemen produk, kedai kopinya Paman Howie menunjukkan beberapa langkah menarik. Dengan meluncurkan inisiatif My Starbucks Idea, Starbucks mengajak para pelanggan setianya untuk bersama-sama menciptakan produk atau layanan baru. Co-creation ini memanfaatkan media Internet, dimana siapa saja yang mendaftarkan diri pada www.mystarbucksidea.com dapat berbagi ide apa saja yang dirasa dapat membantu perkembangan Starbucks. Para pengunjung website lalu diminta untuk mendiskusikan dan memilih ide yang paling baik. Selanjutnya, ide yang paling banyak dinilai positif oleh pengunjung lain, akan dipertimbangkan oleh manajemen Starbucks untuk direalisasikan.

Pada awalnya MyStarbucks Idea memang diremehkan dan dianggap sekedar gimmick promosi yang tidak benar-benar mendengarkan suara pelanggan. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya. Di tahun pertama diluncurkannya, inisiatif ini mendapatkan lebih dari 70 ribu ide. Ide-ide yang paling populer bahkan bisa mendapatkan lebih dari seribu komentar. Kini, tidak banyak yang meragukan kemampuan situs ini untuk menciptakan komunitas online yang kuat bagi Starbucks.

Salah satu ide dari My Starbucks Idea yang menjadi produk nyata adalah ”splash stick”. Seorang pelanggan yang sering mengalami tumpahnya kopi melalui lubang kecil di tutup kemasan kopi, menyarankan adanya suatu cara untuk menutup lubang itu dengan semacam tangkai yang juga dapat digunakan untuk mengaduk kopi. Setelah berhasil mendapatkan 200 ribu vote dari pengunjung www.mystarbucksidea.com, Starbucks memutuskan untuk melakukan ujicoba dan meluncurkannya secara terbatas di beberapa toko pilihan. Dengan sambutan pelanggan yang sangat positif, Starbucks lalu meluncurkannya di seluruh toko di Amerika sejak April 2008.

Selain menghasilkan produk melalui proses co-creation bersama pelanggan, MyStarbucks Idea, membawa ’efek samping’ yang positif, yaitu menciptakan suatu wadah bagi terjadinya dialog, baik antar pelanggan satu dan lainnya maupun antara pelanggan dan perusahaan. Dengan terbukanya jalur komunikasi antara pelanggan dan perusahaan, Starbucks terhindar dari jebakan yang sering melanda perusahaan-perusahaan besar, yaitu menjadi out of touch dan kehilangan kontak terhadap aspirasi pelanggannya.

Starbucks memang menyadari berharganya komunikasi dengan pelanggan. Perusahaan ini tidak mau terlambat dalam merangkul berbagai online social media seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Kemampuan bertahan dari platform social media yang relatif baru ini sebenarnya belum teruji sepenuhnya. Bisa saja ketiga perusahaan itu hilang dalam waktu 3-4 tahun. Tapi Starbucks tidak mau kehilangan kesempatan melakukan conversation dengan pelanggannya, meskipun ini berarti harus terus berpindah pindah platform interaksi.

Di lain pihak, Starbucks mengakui bahwa conversation pelanggan itu tidak bisa dikendalikan. Apalagi yang terjadi di dunia maya, dengan tingkat pertumbuhan dan penyebaran yang sangat tinggi. Akan tetapi, jika Starbucks tidak mengambil peranan aktif dalam percakapan yang terjadi, resikonya adalah kehilangan kesempatan untuk menyapa pelanggan, dan, jika diperlukan, menjawab isu-isu negatif yang mungkin muncul.

Sebuah penelitian menemukan bahwa Starbucks adalah brand yang paling sering di sebut di Twitter, dengan jumlah penyebutan tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan urutan kedua, yaitu Google. Bahkan diperkirakan bahwa Starbucks disebut 10 kali tiap menitnya di situs microblogging ini. Itu berarti kira-kira setiap 6 detik ada seseorang yang melakukan posting di Twitter dengan menyebutkan kata Starbucks. Tentunya angka ini juga termasuk berbagai pesan negatif mengenai brand ini, tapi tak dapat dipungkiri betapa berharganya conversation seramai ini bagi suatu perusahaan.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Monday, November 30, 2009

Manajemen Pelanggan di Kedai Kopinya Paman Howie

Senin, 30 November 2009 | 09:15 WIB

KOMPAS.com - Ketika didesain sejak awal oleh Howard Schultz (Paman Howie), Starbucks memang sudah mengacu pada konsep komunitisasi. Dikatakan oleh orang-orang sebagai “tempat ketiga” untuk kita menikmati kopi setelah rumah dan kantor, Starbucks melihat dirinya sebagai tempat bersosialisasi di luar kehidupan keluarga dan juga kehidupan professional.

Di celah antara dua dunia inilah terletak komunitas sosial. Komunitas yang biasanya terbentuk atas identitas yang kolektif (contohnya dalam hal ini adalah kalangan professional), kesamaan minat (suka kopi atau sekedar ‘nongkrong’), kesamaan aspirasi dan tujuan (memiliki jiwa sosial untuk kehidupan masa depan yang lebih baik).

Sehingga kedai kopinya Paman Howie ini sadar betul bahwa pelanggan mereka datang tidak saja untuk mendapatkan produk yang dijual, tapi juga untuk menghabiskan waktu bersama komunitasnya. Sehingga sangat penting bagi mereka menciptakan “The Starbucks Experience” secara menyeluruh. Mulai dari sapaan saat memasuki ruangan dan mencium aroma kopi, hingga ambience yang mendukung saat pelanggan bersantai dan hang out bersama teman.

Perkembangan perusahaan ini dari hanya beberapa outlet saat Howard Schultz mengambil alih perusahaan ini tahun 1987, menjadi lebih dari 60 ribu outlet tahun 2003, menunjukkan Starbucks cukup jeli dalam menangkap dan memenuhi kebutuhan komunitas yang sudah ada ini, atau bisa disebut “by default”.

Dengan banyaknya pelanggan dari semua kedainya, Starbucks lalu menyadari bahwa para pembeli loyal ini dapat dirangkul dalam suatu wadan dan dibentuk sebagai suatu komunitas. Dengan membentuk komunitas penggemar Starbucks melalui berbagai online social media, perusahaan ini berhasil membentuk sebuah komunitas baru yang dibentuk oleh perusahaan, yang kami sebut sebagai “by design”. Kini, account Twitter mereka memiliki sekitar 500 ribu pengikut dan fan page Starbucks di Facebook memiliki lebih dari 5 juta anggota.

Dengan berhasilnya terbentuk komunitas “by default” dan “by design” ini terlihat bahwa Starbucks berhasil melakukan confirmation terhadap komunitas dengan menawarkan sesuatu yang benar-benar relevan dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Tapi Starbucks juga sadar bahwa axiety and desire pelanggannya tidak sekedar terbatas pada apa yang terjadi dalam kedai kopi mereka. Akan tetapi mencakup keseluruhan hal yang mempengaruhi lingkungan sosial mereka. Oleh sebab itu, Starbucks merasa bahwa mereka juga perlu terus menunjukkan klarifikasi positioning Starbucks melalui berbagai inisiatif yang menganggapi isu-isu penting dunia, seperti sustainability, social responsibility, dan fair trade.

Sehingga komitmen pada aktivisme sosial dan lingkungan adalah salah satu bagian inti dari brand Starbucks. Dari berbagai program social responsibility yang diluncurkannya, salah satu yang paling menarik adalah “Starbucks Earthwatch Contest”. Dalam kontes ini, Starbucks meminta para pelanggannya untuk menulis essay tentang ”How would you change the world”. Hadiah bagi pemenangnya bukan berupa barang ataupun uang, tapi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti suatu ekspedisi ke Costa Rica untuk bekerja sama dengan suatu koperasi petani kopi di sana dan membantu mendorong diimplementasikannya prinsip prinsip pertanian yang lebih sustainable.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Sunday, November 29, 2009

Cerita Tentang Kedai Kopinya Paman Howie

Minggu, 29 November 2009 | 13:06 WIB

KOMPAS.com - Anda yang jeli melihat tulisan kami sebelumnya tentu menyadari bahwa sudah beberapa kali kami menggunakan Starbucks sebagai contoh penerapan new wave marketing. Saat menjelaskan codification, kami melihat bagaimana Starbucks mengidentifikasi aspek darinya yang betul-betul berbeda sampai ke tingkat DNA, sehingga mampu membuat produk yang benar-benar sangat personal. Lalu kami juga membahas bagaimana Howard Schlutz (yang dikenal dengan sebutan Paman Howie) berupaya mengembalikan “the Starbucks experience” melalui caring.

Seringnya kami membahas perusahaan ini, bukan berarti bahwa Starbucks adalah contoh sempurna penerapan New Wave. Masih sering kita dengar berita tentang “dosa-dosa” Starbucks seperti kasus pemecatan karyawan karena ’ngeblog’, dan juga kontroversi terhada pergantian loyalty program yang dinilai merugikan pelanggan paling setia.

Salah satu pembaca di kolom ini di Kompas.com bahkan ada yang kesal mendapati pengalaman buruk di Starbucks dengan mengatakan: ”Saya pernah membeli kopi "Starbucks " di daerah Indianapolis - USA, mungkin karena mereka melihat kulit saya coklat lalu mereka risih melayani saya. Karena saya merasa " customer " yang merasa diperlakukan tidak baik lalu saya lemparkan kopi itu ke arah counter mereka dan mereka merasa terkejut sekali. Karena mereka merasa bersalah atas kejadian tersebut mereka menawarkan kopi gratis kepada saya tapi saya tolak lalu saya telpon "Headquater " di Seattle, tidak lama kemudian tokonya ditutup, rugi!”

Satu yang kami ingin angkat adalah bagaimana sebuah perusahaan ingin berubah dengan melakukan rangkaian inisiatif dan program untuk menunjukkan bahwa mereka mengerti bahwa dunia telah berubah menjadi horizontal, dan terus menerus mencoba belajar untuk beradaptasi dalam landskap yang baru ini. Hal inilah yang patut dipelajari oleh perusahaan lain, oleh sebab itu kami menjadikannya sebagai salah satu studi kasus besar tentang new wave marketing dalam tulisan ini.

Pertama-tama kami akan melihat bagaimana ia melakukan inisiatif manajemen konsumennya yang baru di era New Wave ini. Tentunya ini dilihat dari praktek komunitisasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kedua, kita akan lihat bagaimana ia melakukan manajemen produk yang berbasiskan co-creation. Dan ketiga, kita akan juga melihat bagaimana ia melakukan manajemen brand-nya yang mengacu pada pengembalian karakter dan roh-nya yang sempat hilang.

Bagaimana Paman Howie mencoba membawa kembali kinerja kedai kopinya seperti jaman kejayaannya dulu memang merupakan langkah yang sangat berani. Kenapa? Karena memang butuh keberanian dan dedikasi yang sangat tinggi untuk merubah dan merobohkan mental dan paradigma praktek pemasarannya yang lama.

Berbagai hal yang dilakukan oleh Paman Howie yang mengambil alih lagi posisi CEO akibat buruknya prestasi penerusnya memang dalam rangka menghorisontalkan kedai kopinya, seperti yang tercermin di level strategi dan dan juga di lapangan. Di level taktikal, banyak yang kita dapat lihat di dalam berbagai inisiatif seperti kampanye "The Way I See It", "Nutrition by the Cup", ”mystarbucksidea”, ”Earth Contest” dan lain sebagainya.

Studi kasus ini sekiranya menunjukkan bahwa tidak perlu terlalu rumit untuk menerapkan praktik New Wave Marketing, asalkan ada kemauan yang jelas dari level atas. Asalkan pula mau merobohkan mental praktek lama yang vertikal. Satu juga yang penting adalah gagasan-gagasan kreatif dan keberanian untuk menerapkannya dalam praktik sehari-hari.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Saturday, November 28, 2009

MTV: Apakah Masih Ada?

Sabtu, 28 November 2009 | 19:53 WIB

KOMPAS.com - Beberapa dari Anda mungkin adalah bagian dari MTV generation. Sebuah label generasi untuk orang yang lahir antara tahun 1975-1986, yang masa remaja atau pendewasaannya cenderung dipengaruhi oleh budaya pop yang disiarkan oleh MTV yang muncul pada tahun 1981.
Generasi ini merupakan saksi hidup yang melihat perkembangan teknologi di akhir 1980an dan sepanjang dekade 1990an mulai dari TV satelit, pager, komputer, video game, internet, dan kemudian handphone. Bisa dibilang generasi ini pada umumnya cenderung technology savvy.

Generasi ini memiliki apresiasi tinggi terhadap musik, film, fashion dan tren lainnya yang berkembang di era tersebut. Bisa dibilang nilai-nilai psikografis, gaya-hidup, perspektif pemikiran, dan attitude mereka dibentuk oleh apa yang ditonton di MTV ketika mereka beranjak dewasa.
Hari-hari di masa remaja mereka lewati dengan menonton idola mereka di channel tersebut mulai dari video jockey (VJs) sampai artis yang beken saat itu mulai dari yang ngepop seperti Cindy Lauper, Prince, Madonna sampai yang metal seperti Metallica dan Guns N Roses.

Anggota generasi ini sekarang sudah beranjak dewasa, dan banyak diantara mereka yang bahkan tidak lagi nonton MTV. Kenapa? Alasannya tentu banyak. Selain tidak punya waktu untuk nonton TV, sekarang juga banyak media lain untuk mengkonsumsi musik. Apalagi musik yang ditampilkan di MTV saat ini toh sudah tidak sesuai lagi dengan selera mereka. Jika dilihat dari konten yang disodorkannya sekarang, MTV memang lebih dari sekedar musik. Ia begitu ikonik, menjadi bagian dari budaya pop, sehingga mengklarifikasi bahwa ia sesungguhnya adalah bagian dari komunitas budaya pop di jaman globalisasi.

Di awal tahun ini, MTV melepas embel ”Music Television” di logo-nya. Hal ini dikarenakan seiring perkembangan jaman bahwa ia tidak lagi tentang musik. Meskipun dilahirkan, diinspirasi, dan didorong oleh musik, dengan melepas embel-embel ”Music Television” ini mereka mencoba mengatakan bahwa mereka tidak dilimitasi oleh musik itu sendiri. Dan tentunya bukan saja musik yang ia ingin tinggalkan, tapi juga Televisi. Satu hal yang ia coba adalah untuk membentuk sebuah kohort generasi baru, sebut saja ”Generasi MTV 2.0”

Ketika dominasi media massa yang bersifat broadcast seperti TV dirobohkan oleh media horizontal seperti blog, podcast, social networking, Facebook, dan YouTube, MTV pun mulai mengeliat. Ketika dominasi MTV sebagai ikon anak muda kian tersaingi oleh media horizontal yang lebih funky dan techy seperti MySpace, MTV pun mulai menggeliat.

Seiring dengan perjalanan waktu, MTV memang semakin mengadopsi tren horisontalisasi di dunia pemasaran. Tidak bisa lagi ia membroadcast secara vertikal, namun menghorisontalkan diri dengan menjadi komunitas yang sifatnya web di dunia online dan offline. Untuk menjadikan komunitas bersifat web-nya secara solid, ia memiliki faktor penarik (pooling factor) yang sangat kuat yaitu budaya pop. Artinya siapapun yang suka akan budaya pop bisa ikut ke komunitas mereka. Selain memiliki pooling factor yang kuat, ia juga punya hub yang tersebar di mana-mana, sebut saja para pembawa acara, dan juga para artis yang diajak nongkrong bareng secara on dan offline, on dan offair.

Meskipun berubah, rohnya MTV tetap sama, bahwa ia adalah bagian dari sebuah budaya pop, yang membentuk nilai-nilai psikografis, gaya-hidup, perspektif pemikiran, dan perilaku dari para pengikutnya yaitu komunitas pencinta budaya pop. Ia menjadi sebuah klaster, tempat di mana segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya pop ada di sana, mulai dari pekerja, produser, sampai penikmat budaya pop menyatu di sana. Maka tak heran kalau di tengah pergantian jaman, karakter MTV tetap konsisten sampai sekarang, bahwa ia selalu menjadi bagian dari generasi anak muda dan budaya pop.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Thursday, November 26, 2009

Obama is Mac

Studi Kasus New Wave Marketing: Kampanye Obama (Tulisan Dua)

Kamis, 26 November 2009 | 09:17 WIB

KOMPAS.com - Banyak pelajaran marketing yang bisa dipetik Obama. Sebut saja ketika ia menang pertempuran pemasarannya pertama kali ketika melawan Hillary di penyaringan Capres Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS).

Persaingan kedua kandidat presiden dari partai Demokrat ini sangat mendebarkan. Mereka berdua sama-sama penting di dalam sejarah. Satu adalah perwakilan dari kalangan Minoritas Amerika, satunya lagi adalah wanita kulit putih yang sangat berpengaruh dan diakui kepiawaiannya di dunia politik khususnya di Amerika. Mereka berdua sama-sama pengacara, sama-sama lulusan hukum dan sama-sama memiliki visi untuk membangun AS yang lebih baik. Kehadiran mereka pada waktu itu di kampanye perebutan kursi kandidat presiden AS yang mewakili partai demokrat boleh dikatakan sangat bersejarah karena tidak pernah ada kandidat presiden AS dari kalangan wanita ataupun kalangan kulit hitam.

Akan tetapi ternyata Obama yang menang di dalam pemilihan konvensi partai Demokrat yang akhirnya membawa Obama mewakili partai Demokrat melawan kandidat presiden dari partai Republik, John McCain. Mengapa Obama bisa menang? Kalau dianalisa dari strategi kampanyenya, kedua kandidat menggunakan berbagai media untuk mempengaruhi suara dari konstituan partai demokrat. Penggunaan media inilah yang akan kami analisa.

Seperti telah banyak didokumentasikan, Obama telah sukses karena secara signifikan menambah anggaran medianya di dorong oleh rasa “underdog” termasuk masalah di dalam pencarian dana kampanye. Strategi kampanye Obama melalui media baru telah dilakukan lebih awal ketimbang Hillary Clinton. Obama bergantung cukup besar pada aktivitas online dan jaringan social media termasuk situs kampanyenya.

Ketika Hillary Clinton meminjam uang 5 juta dolar untuk meningkatkan kemampuan kampanyenya, tim Obama menanggapinya dengan mengirimkan e-mail ke para pendukungnya pada hari berikutnya yang berbunyi, "Kita harus mencocokkannya dengan cepat, dapatkah Anda membantu?" Dalam waktu 24 jam, responden menyumbangkan 8 juta dollar AS!

Pada awal kampanyenya, Clinton tampil penuh di blog dan merupakan pendukung awal YouTube. Namun, Obama memenangkan saluran “user-generated media” (websites) dengan sangat besar. Hampir tiga kali lebih banyak video yang diupload oleh tim Obama vs tim Clinton, dengan 10 kali lipat jumlah viewernya ketimbang milik Clinton. Dampak virus dari " I got a crush ... on Obama" video dengan "Obama Girl" dan berbagai variannya dinikmati lebih dari 60 juta viewer di Youtube. Obama juga memanfaatkan lebih dari 1 juta pengguna Facebook dan MySpace. Obama menggunakan media sosial tidak hanya untuk membantu dia untuk berhubungan dengan para pemilih muda, tetapi juga cara yang sangat efisien untuk menjaga dirinya di media.

Di media one-on-one, Obama memperoleh keunggulan kompetitif. Dari strategi untuk fokus pada akar rumput, gimmicks seperti pesan voice-mail dari Chris Rock dan eksploitasi 1 juta-plus alamat e-mail yang diperoleh melalui database penggalangan dana , strategi media one-on-one Obama membantunya untuk mendapatkan begitu banyak pemilih.

Kalau di lihat secara keseluruhan strategi komunikasi Obama, Obama menang secara keseluruhan. Kemampuan kampanyenya untuk menciptakan hubungan pribadi melalui teknik pemasaran massal merupakan karakteristik dari strategi media yang di terapkannya. Penggunaan saluran media digital - khususnya situsnya, penggunaan media sosial dan e-mail pemasaran - membantu mendapatkan dukungan pemilih yang lebih muda dan terbukti efektif dalam penggalangan dana, faktor penting dalam mempertahankan upaya pemasaran yang tergolong sangat berat.

Strategi awal untuk membangun merek, dan kemudian fokus pada media-media online yang bertarget (targeted online media) yang kemudian didukung oleh kegiatan even dan program media One on One, membantu dia untuk membangun momentum di Iowa dan memulai kampanyenya sebagai lawan yang patut diperhitungkan. Kampanye Clinton sangat efektif dalam media-media tradisional akan tetapi terbukti tidak dapat membendung kekuatan social media dan pendekatan media barunya Obama.

Inilah dunia barunya Politik, kekuatan kreatif lah yang akan berjaya. Obama lebih berhasil melihat bahwa konektor yang tadinya tradisional sudah berubah menjadi mobile, experiential dan social. Hal inilah yang di lihat oleh Obama, dan dieksploitasi secara cepat dan masif. Di dunia baru yang lebih horizontal, yang kreatif lah yang akan menang.

Akhirnya kami melihat Obama ibaratnya adalah Mac yang kreatif, sedangkan Hillary Clinton ibaratnya PC yang lebih tradisional.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Wednesday, November 25, 2009

Studi Kasus New Wave Marketing: Kampanye Obama (Tulisan Satu)

Rabu, 25 November 2009 | 17:11 WIB

KOMPAS.com - Suka atau tidak dengannya, Barack Obama, adalah sebuah nama yang sangat fenomenal. Bukan saja karena dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat berkulit hitam pertama tetapi juga karena dia adalah seorang New Wave Marketer yang tulen. Jika dibandingkan dengan kampanye para kandidat presiden lainnya, kampanye Obama terbukti lebih tech-savvy, meninggalkan kampanye McCain. Andrew Rasiej, pendiri TechPresident.com, mengatakan ini adalah panggilan sebuah "budaya kepercayaan di Internet" di antara Obama dan staf. "Mereka melompati media mainstream dengan menghasilkan konten yang mereka tahu akan didistribusikan bagi para pendukung setelah itu upload."

Tidak hanya di Youtube, kampanye Obama juga cerdas tentang segmentasi para pendukungnya, metode komunikasi yang berbeda untuk setiap kelompok. Pemilih yang lebih muda, misalnya, mereka memanfaatkan pesan teks, untuk pemilih yang lebih tua, mereka mengirimkan email yang lebih ringkas.

Di awal, kampanye menggunakan informasi para pendukung mereka melalui email atau teks setiap beberapa hari, paling banyak - untuk membuat orang mengikuti berita terbaru dan berbicara berbagai aspek tanpa biaya iklan TV atau surat langsung. Tapi hari-hari terakhir sebelum November 4 terlihat kampanye Obama mengirimkan email setiap hari dan teks desakan dari pendukung Obama untuk memberikan suara bersama teman-teman, berpartisipasi dalam telepon kampanye, dan sukarelawan di kegiatan kampanye di dekat rumah pendukung. Mereka bahkan menawarkan sebuah kontes di mana-menit terakhir donor dapat dipilih untuk menghadiri pesta malam pemilihan Obama.

Untuk menyusul kampanye web Obama, staf Republik menjawab dengan menciptakan semacam "perang ruang" produksi video, pembuatan video digital pada kecepatan tinggi dan meng-upload itu bagi para pendukung untuk dapat di sebarluaskan. Namun, tanpa strategi online yang lebih besar, efektivitas kampanye upaya itu dipertanyakan. Kampanye dilakukan mungkin tidak cukup untuk memupuk komunitas online, yang bisa sangat membatasi penyebaran virus konten yang telah diciptakan.

Kedua kampanye juga menggunakan sesuatu yang disebut penargetan perilaku online, tetapi tim Obama terbukti lebih baik dalam meningkatkan efektivitas. Ketika seorang calon pemilih melakukan navigasi ke salah satu kandidat situs, sebuah "cookie," atau Internet tag, ditempatkan dalam browser Web pengguna. Cookie yang dapat mengidentifikasi jenis situs yang dikunjungi pengguna sesudahnya, membantu menginformasikan iklan politik yang dilihat oleh para pengguna.

Sebelumnya, kandidat harus mengandalkan segmentasi stereotip pemilih yang sangat besar dan membuat acara TV yang sesuai; tahun ini mereka sudah mampu merumuskan secara harfiah kampanye iklan untuk setiap individu pemilih. Mungkin karena publikasi yang panjang di musim kampanye Demokrat, website Obama menerima lebih banyak hit, membuat perilaku online-nya dapat ditargetkan secara lebih efektif. Pada awal Juli, rasio laulintas BarrackObama.com mengalahkan JohnMcCain.com dengan rasio 4:1, dan pada awal bulan September, jumlah tersebut hanya berkurang menjadi 2:1, menurut Nielsen.

Dan hebatnya kampanye Obama di dunia web sangat berbiaya rendah. Selain fokus kepada mybarackobama.com, para staff juga berupaya menggunakan sumber daya gratis seperti facebook, myspace dan youtube sehingga mereka terasah di dalam bagaimana berkomunikasi dengan pemilih muda dan bagaimana melipatgandakan usaha mereka. Hal ini terbukti membawa ratusan ribu pendukung obama muncul dan secara sukarela bergabung menjadi brand ambassador Obama di web.

Hal ini berdampak kepada pengumpulan dana kampanye dan komunikasi dua arah yang lebih efektif. Bahkan menurut beberapa analis, komunikasi dua arah dengan para pendukung ini lebih bernilai secara politik ketimbang pengumpulan dana kampanye. Dengan 3,4 milyar impresi, 200+ display creatives, 400+ websites, ini merupakan 15x lipat dari impresi yang di dapat oleh McCain selama kampanye. Sehingga banyak yang mengatakan masa depan kekuatan politik terletak pada seberapa besarnya para kandidat politik terlibat di dalam percakapan di dunia sosial ini, bukan berapa banyak uang yang mereka punyai. Komunikasi dua arah ini tidak terlihat di para kandidat presiden lainnya.

Menurut kami, kekuatan dari Obama adalah cara pandang dia terhadap perubahan lanskap komunikasi politik yang dari vertikal (pengumpulan dana kampanye sampai penggunaan media-media mainstream) kepada komunikasi politik yang lebih horizontal (jejaring social dan two ways communication melalui komunitas online) yang tidak di miliki oleh para kandidat lainnya, jadi Obama berhasil menggunakan segala connector yang ada (mobile, experiential dan social) yang ada di offline dan online dengan pendekatan low budget high impact.

Kedua adalah peningkatan jumlah suara melalui komunitas melalui berbagai media oline dan konten yang kreatif (’Yes We Can’ video yang dibuat oleh Black Eyed Peas yang menjadi viral hits, widgets, ring tones, photos, collaborative formats, micro crowds, dan lain sebagainya) yang memiliki nilai yang sangat strategis di dalam kemenangan Obama di panggung persaingan politik.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

Tuesday, November 24, 2009

"Human Race": Ras Manusia atau Balapan Manusia?

Selasa, 24 November 2009 | 08:39 WIB

KOMPAS.com – Jika Anda ketik keyword di Google “human race”, Anda akan diperlihatkan masukan dari Wikipedia tentang apa itu human race, yang bisa dimaknakan manusia atau ras manusia. Di peringkat kedua pencarian di Google, Anda akan bisa lihat sebuah link yang akan mengajak Anda untuk adu balap lari, untuk sesama manusia, yang inisiatifnya datang dari Nike Plus, sebuah langkah New Wave yang dilakukan oleh Nike dalam rangka mengajak komunitas mereka yang suka lari.

Menyambung dari artikel yang kemarin, Nike juga menggunakan konektor social untuk meningkatkan ikatan dengan para runners, salah satunya adalah melalui kegiatan aktivasi yang dinamakan Human Race. Acara ini terdiri dari beberapa seri lomba lari 10 km yang dilakukan dibeberapa kota besar di dunia.

Nike pertama kali melaksanakan kegiatan ini pada tahun 2008 dengan tema “One Day, One Race, One Million Runners.” Ketika itu Human Race adalah bagian dari kampanye promosi Nike+iPod yang bertujuan untuk mempertemukan komunitas pengguna Nike+ dan runners diseluruh dunia.

Acara ini terbilang sukses, terlihat dari banyaknya jumlah kota yang berpartisipasi. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 2008, Nike mampu mengundang 25 kota besar yang kemudian bertambah menjadi 30 kota besar pada tahun berikutnya.

Kesuksesan ini juga didukung oleh meningkatnya popularitas Nike+ (www.nikeplus.com) yang sebelumnya telah berhasil mengumpulkan lebih dari 800,000 runners. Nike menggeser level hubungan komunitas tersebut, yang semula tingkatnya virtual menjadi ikatan yang sifatnya nyata secara fisik.

Ada beberapa keuntungan bagi Nike dan runners dalam kegiatan Human Race ini. Keuntungan pertama adalah Nike dapat menggunakannya sebagai media komunikasi bahwa Nike masih merupakan brand terkemuka di industrinya. Kedua, kegiatan ini merupakan kesempatan Nike untuk berinteraksi dengan para “runners-nya.” Ketiga, kegiatan ini menghubungkan komunitas runners yang tersebar dari berbagai negara dalam satu periode waktu acara yang bersamaan. Terahir, kegiatan ini dapat memenuhi kebutuhan para peserta sebagai mahluk sosial. Melalui Human Race, Nike memfasilitasi peserta untuk berinteraksi dan menarik mereka sebagai bagian dari kelompok sosial yang lebih besar.

Seiring dengan bertambahnya jumlah negara yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, antusiasme peserta pun turut meningkat. Hal ini karena mereka termotivasi ketika melihat lebih dari ribuan orang—walaupun terpisah di benua yang berbeda—memiliki kesamaan persepsi. Nike berhasil menggabungkan beragam aspek ketertarikan—olah raga, lari, kompetisi, musik, dan tujuan sosial—dalam satu minat acara yaitu kebersamaan.

Nike tidak hanya menggunakan Human Race sebagai media konektor social, tetapi juga mentransformasi visi dan misi kegiatan. Acara ini telah menjadi salah satu ajang global yang memiliki fokus tujuan sosial. dan secara besar menarik minat peserta dengan melibatkan beberapa organisasi international: PBB, Yayasan Lance Amstrong, ninemillion.org, dan WWF.

Human Race adalah bentuk konektor Social hasil terobosan Nike yang memberikan pengalaman maya dan nyata. Dengan sempurna, peserta terhubung secara sosial dan berpartisipasi meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Semakin besar lingkup aspek yang tergabung dalam Human Race, semaking luas dan kuat ikatan yang tercipta antara Nike dan runners.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Monday, November 23, 2009

Konektor dengan Mobilitas Tinggi

Senin, 23 November 2009 | 15:38 WIB

KOMPAS.com - Nike iD yang telah dibahas dalam artikel kemarin dan beberapa artikel sebelumnya adalah contoh bagaimana ia mencoba untuk mengkonek dengan konsumen lewat berbagai langkah, apakah itu lewat kegiatan eksperiensial, pendekatan mobile, dan juga tentunya mensosialisasikan diri dengan masyarakat new wave, baik itu secara online dan offline.

Seperti yang telah dibahas juga sebelumnya, dalam kampanye Nike iD di Shanghai, Beijing dan Guangzhou, beberapa Billboard Nike iD di 3 kota ini dilengkapi dengan teknologi bluetooth yang secara otomatis akan mengirimkan pesan kepada pejalan kaki yang lewat di dekatnya. Isinya berupa instruksi untuk berlari ke toko Nike terdekat secepat mungkin! Sebuah stopwatch virtual secara otomatis akan muncul begitu pejalan kaki menerima pesan, dan akan berhenti secara otomatis begitu mereka sampai di toko sepatu Nike.

Setiap hari toko sepatu itu akan memberikan sepasang sepatu gratis pada pelari tercepat. Dan hari berikutnya, foto sang juara sudah nampang di layar billboard.

Kampanye di tiga kota tadi berlangsung selama 3 minggu. Tercatat ada 250.000 pesan terkirim via bluetooth, 15.000 peserta ikut berpartisipasi, dan 63 pasang sepatu Nike diberikan sebagai hadiah.

Dunia New Wave adalah dunia online dan offline, di mana pemasar mencoba mengkonek diri secara eksperiensial, mobile, dan sosial. Tentunya segala langkah pemasarannya dilakukan lewat prinsip dasar 12C yang telah kami bahas sebelumnya, mulai dari C yang pertama yaitu communitization sampai collaboration.

Apa yang dilakukan Nike lewat Nike+ nya bisa dibilang adalah satu contoh bagaimana ia masuk ke komunitas sekaligus berkolaborasi. Dalam hal ini ia melakukannya dengan masuk ke komunitas pengguna iPod dan berkolaborasi dengan Apple. Tidak hanya itu ia mencoba mengkonek diri dengan konsumennya secara eksperiensial, mobile dan sosial pula. Sebuah contoh New Wave. Bagaimana ceritanya?

Seiring dengan perubahan yang ada pada teknologi dan gaya hidup, kebutuhan akan produk yang dapat mengakomodasi individu yang mobile dan aktif semakin meningkat. Salah satu yang dikembangkan oleh Nike adalah Nike+. Sebuah produk inovasi atas kolaborasinya dengan Apple. Nike+ diciptakan untuk tetap terhubung dengan runners yang memiliki kebiasaan mendengarkan musik dikala berolah raga ataupun ketika mereka sedang beraktifitas menuju suatu tempat.

Ini adalah sebuah bukti dari kerja keras Nike dalam mengamati kebiasaan Nike runners dan usahanya dalam memenuhi kebutuhan mereka akan produk yang dapat digunakan dalam keadaan on the move. Secara tidak langsung, Nike ingin terus memiliki ikatan dengan penggunanya dan menciptakan alat yang dapat merealisasikan hal tersebut.

Nike+ adalah sebuah sepatu yang didesain dengan kantung khusus dibawah bagian dalam solnya. Hal ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk menyimpan sensor—iPod Sport Kit. Sensor ini akan terhubung dengan produk Apple yang digunakan oleh si pengguna Nike+. Produk dari Apple yang dapat digunakan pun cukup flesibel, penguna Nike+ dapat memilih beberapa produk Apple yang terdiri dari iPod nano, iPod touch, atau iPhone 3GS untuk dihubungkan dengan sensor mereka. Ketika pengguna tersebut dalam keadaan mobile, sensor tersebut akan bekerja dan mengirimkan data ke produk Apple yang terhubung.

Canggihnya, selama pengguna Nike+ sedang mobile, mereka dapat terus dimanjakan dengan musik yang sesekali mendapat update dalam bentuk laporan. Laporan tersebut adalah Informasi seperti lamanya aktifitas, jarak yang ditempuh, pedometer (jumlah langkah), dan kalori yang telah terbuang. Nike runners juga dapat melihat informasi lebih detil dengan melihat layar iPod ataupun iPhone.

Nike+ mendulang kesuksesan dan menjadi suatu trend baru diantara para runners, sport enthusiasts dan komunitas mobile. Melihat kebiasaan penggunanya yang mobile dan juga kompetitif, Nike tidak berhenti berinovasi. Nike mengembangkan manfaat produk tersebut melalui sebuah platform online www.nikeplus.com yang dapat diakses dimana saja.

Website tersebut memperbolehkan sesama penggunanya yang mobile terhubung sekalipun mereka tersebar diseluruh dunia. Mereka dapat bertemu dengan sesama Nike+, mengunggah (upload) dan membagi riwayat rekaman latihan dan pencapaian mereka. Hal ini pun berkembang menjadi sebuah kompetisi diantara para pengguna Nike+. Kesempatan ini dipergunakan Nike dalam menambah produk lini Nike+ dengan hadirnya Nike+ Sportband. Nike mulai merintis pembentukan komunitas mobile Nike dan mempersiapkan Nike+ sebagai klub (online dan offline) runners terbesar didunia.

Secara keseluruhan untuk memenuhi kebutuhan runners akan access, entertainment, sport, dan mobility, Nike telah membuat sebuah produk dan layanan yang lengkap. Nike+ merupakan bentuk inovasi Nike dalam memberikan beragam fasilitas mobile yang menunjang hubungan Nike dengan runners dan juga antara para runners yang tersebar didunia.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Cerita Nike Sebagai Konektor Eksperiensial

Senin, 23 November 2009 | 08:02 WIB

KOMPAS.com - Philip Kotler, gurunya pemasaran modern, pernah mengatakan bahwa Nike Town adalah sebuah retailing experience. Toko flagship yang dibuka sejak awal tahun 1990an ini diibaratkan sebagai sebuah ruang pamer berbagai produk Nike, bukan sekedar toko Nike biasa, Kenapa? Karena, di situ produk-produk Nike bukan hanya disusun berdasarkan kategori produk, tapi ditata berdasarkan kategori cabang olahraga. Dan diupayakan agar suasana setiap cabang olahraga mengemuka. Itu bukan hanya diupayakan melalui pemasaran poster bintang-bintang olahraga, tapi juga dengan memunculkan suara khas yang biasa muncul di suatu cabang olahraga. Di counter tenis, misalnya, muncul suara bola tenis dipukul.

Sebab itu, orang yang berkunjung ke sana tidak pernah merasa pergi ke toko, melainkan ke ruang pamer. Dan itu bukan sekedar ruang pamer biasa, melainkan ruang pamer yang memunculkan memorable experience. Karena banyaknya atlet yang diendorse oleh Nike selama ini, maka otomatis masing-masing atlet tersebut menjadi pooling factor tersendiri untuk mendatangkan komunitasnya. Dengan banyaknya atlet yang ia endorse dan dipamerkan di Nike Town, maka ketika berkunjung ke sana, pengunjung merasa seperti berkunjung ke sebuah community center, di mana orang-orang yang suka dengan Tiger Woods atau Ronaldinho, ketemu dan berkumpul di sana.

Nike memang sudah bukan sepatu nike lagi, tapi ia adalah sebuah pengalaman dari segala aktivitas yang berhubungan dengan karakter brand-nya. Aktivasi dari bentuk experience yang diberikannya ada di mana-mana, mulai dari produk, experiential channel seperti Nike Town, communal activation (seperti jogo bonito), dan juga tentunya parade iklan yang selama ini kita lihat. Mereka dapat mengkonek dengan audiens-nya lewat pendekatan multisensory, emosional, dan sharing.

Multisensory bisa menjadi hidup karena mereka merangsang panca indra audiens, ada poster yang besar dengan gambar yang tajam, suasana intens layaknya sedang di sebuah acara olah-raga, dan sebagainya. Kalau sudah nyala panca indranya, maka audiens tentunya akan dapat secara emosional merasakan sesuatu yang luar biasa dan secara intelektual mendapatkan sesuatu yang positif.

Untuk mendapatkan pengalaman maksimal, tentunya ada elemen sharing pula. Artinya, audiens dilibatkan agar mereka bisa ikut serta dan lebih aktif ketika menikmati sebuah pengalaman. Seperti bisa menendang bola seperti layaknya seorang Ronaldinho atau mencoba memukul seperti Tiger Woods, dan sebagainya. Maka tak heran karena begitu adanya, mereka akan terdorong untuk membagi pengalamannya dengan teman-teman, koneksinya, dan jaringannya.

Menjadi experiential connector di dunia online

Melihat trend yang berkembang ditahun 90an, penggabungan antara experience dan customization yang terbentuk dalam sebuah platform online merupakan cara baru untuk berinteraksi dengan runners. Hal ini menjadi sangatlah tepat bagi Nike karena pada saat yang bersamaan, para pengguna Nike telah berubah. Mereka tidak lagi menginginkan sebuah perlengkapan olahraga yang “state-of-the-art-technology,” tetapi mereka justru mencari produk olah raga yang sesuai/“tailored” dengan yang mereka butuhkan.

Melihat popularitas dan cepatnya pertumbuhan NikeID.com sejak pertama kali berdiri, Nike terbilang sukses dalam memulai hubungan dengan para Nike runners. Sejak NikeID.com diluncurkan pada tahun 1999, Nike tidak henti-hentinya mengembangkan portal online tersebut. Bermula dari bertambahnya jumlah akses dan pengunjung, Nike mengembangkan pilihan produk-produknya. Dari beberapa model sepatu; Nike telah menambah pilihan kustomisasi pada produk lini lainnya, seperti pakaian dan aksesories olah raga.

Hal ini tentunya mentransformasi cara Nike runners membeli produk. Ada dua keuntungan bagi runners. Pertama adalah mereka akhirnya dapat merealisasikan sepatu yang sesuai dengan kebutuhan dan juga personal style mereka. Dimana hal ini sebelumnya cukup sulit mereka lakukan karena tingginya biaya customization desain dan produksi.

Keuntungan kedua adalah experience yang baru dan berbeda—mengingat konsep NikeID.com adalah yang pertama dalam industrinya. Cukup penting untuk disadari bahwa pengalaman yang ditawarkan oleh Nike dalam proses penciptaan dan pembuatan produk merupakan value-added bagi para runners. NikeID.com meningkatkan excitement para runners dan selain memberikan pengalaman, Nike telah memberikan kepuasan tersendiri bagi runners. Hal inilah yang dapat meningkatkan ikatan emosional runners dengan produk yang mereka ciptakan dan brand yang menyediakan pengalaman tersebut.

Dari sisi Nike sebagai perusahaan dan brand, NikeID.com juga memiliki beberapa keuntungan. Pertama adalah NikeID.com telah memperluas jangkauan interaksi mereka dengan penggunanya. Kedua, Nike memiliki kesempatan berinteraksi secara langsung dengan para penggunanya diseluruh dunia. Ketiga, Nike dapat mengembangkannya menjadi sebuah proses data mining yang juga menggeser level hubungan—dari mass menjadi lebih kearah relationship marketing.

Diluar dari itu, Nike kembali menjadi sebuah brand pioneer yang terdepan dan selalu menciptakan terobosan. Pendekatan melalui NikeID.com ini pun menjadi trend dibeberapa industri lainnya. Secara spesifik pada industri footwear dan olah raga. Banyak dari brand-brand lain berusaha mengikuti kesuksesan Nike iD dengan meluncurkan versi kustomisasi. Beberapa contoh adalah seperti Build Your Own Boot dari Timberland, Made over to your taste dari Converse, dan Custom Old Skools dan Custom Slip-Ons dari Vans.

NikeID.com merupakan satu contoh dimana Nike telah membuktikan keberhasilannya dalam menggunakan experiential konektor dalam meningkatkan hubungan dan meningkatkan popularitasnya.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Sunday, November 22, 2009

Nike, Connect Here, There, & Everywhere

Minggu, 22 November 2009 | 10:27 WIB

KOMPAS.com - Tidak banyak yang tahu bahwa brand "Nike" berasal dari nama seorang dewi Yunani yang melambangkan kemenangan. Nama tersebut mencitrakan filosofi brand Nike yang merupakan cikal bakal dari DNA-nya yang kuat. Nike bukan sekedar brand yang menang dipasaran atau leader dalam industrinya. Nike adalah sebuah identifikasi legendary brand yang memiliki ikatan dengan para penggunanya di seluruh dunia.

Terlepas dari kejayaan Nike ditahun 80-an dan awal 90-an, banyak resistensi yang mulai tumbuh di masyarakat—terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Ini dikarenakan tekanan persaingan global yang mendorong pentingnya cost efficiency. Nike pun berusaha menekan biaya tenaga kerja agar dapat lebih kompetitif. Hal ini kemudian digunakan oleh pihak tertentu untuk mengecam dan menjatuhkan image Nike. Persepsi orang akan Nike sebagai brand yang respectable pun mulai menurun dan Nike perlahan kehilangan kredibilitas dan popularitasnya.

Tersirat jelas bahwa ketika itu Nike hanya fokus pada hubungan vertikal—bukan horizontal. Nike melihat pasar dari posisinya sebagai perusahaan yang berada di atas. Bagaimana Nike sebagai perusahaan dapat memenangkan pasar? Dan bagaimana Nike sebagai perusahaan dapat menjual lebih banyak kepada customer? Pendekatan yang terbentuk saat itu adalah top-down dan jawaban yang mereka temukan ketika itu adalah cost efficiency, harga bersaing, pilihan banyak (mass), ketersediaan dan distribusi seluas-luasnya.

Mereka melupakan entitas para pengguna Nike. Nike users adalah faktor utama yang meningkatkan sales revenue dan profit margin—jelas bukan cheaper labor cost. Dan untuk memecahkan masalah tersebut, Nike pun mengevaluasi kembali standar operasional dan mulai membangun hubungan horizontal dengan customer base-nya—Nike menyebut mereka sebagai runners.

Nike akhirnya menyadari bahwa runners yang tersebar diseluruh dunia adalah individu terpisah yang memiliki karakter, pribadi, dan idealisme yang berbeda. Kejadian inilah yang mendorong Nike untuk membangun hubungan horizontal dengan para penggunanya melalui tiga konektor dalam New Wave Landscape: Experiential, Mobile, dan Social.

NikeID, contohnya, adalah satu contoh konektor experiential, setelah ia melihat trend yang berkembang di tahun 90-an, perusahaan asal Oregon ini mencoba untuk menggabung antara experience dan customization yang terbentuk dalam sebuah platform online merupakan cara baru untuk berinteraksi dengan runners.

Ada lagi cerita tentang bagaimana ia menjadi konektor mobile. Seiring dengan perubahan yang ada pada teknologi dan gaya hidup, kebutuhan akan produk yang dapat mengakomodasi individu yang mobile dan aktif semakin meningkat. Salah satu yang dikembangkan oleh Nike adalah Nike+. Sebuah produk inovasi atas kolaborasinya dengan Apple. Nike+ diciptakan untuk tetap terhubung dengan runners yang memiliki kebiasaan mendengarkan musik di kala berolah raga ataupun ketika mereka sedang beraktifitas menuju suatu tempat.

Satu lagi yang juga sangat menarik adalah bagaimana ia menjadi konektor sosial, untuk meningkatkan ikatan dengan para runners, salah satunya adalah melalui kegiatan aktivasi yang dinamakan Human Race. Acara ini terdiri dari beberapa seri lomba lari 10 km yang dilakukan dibeberapa kota besar di dunia. Cerita tentang Nike ini akan kami bahas dalam tiga artikel berikutnya.

Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS