BLOGSPOT atas
Showing posts with label indeks saham. Show all posts
Showing posts with label indeks saham. Show all posts

Sunday, April 26, 2009

Investasi & Keuangan

Minggu, 26 April 2009 | 04:41 WIB

Adler Haymans Manurung

Indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah naik 26,71% sejak akhir Februari. IHSG yang naik tajam sekitar dua bulan ini memunculkan argumentasi, kenaikannya sudah cukup besar. Investor yang berinvestasi sudah mendapat keuntungan setahun dan tidak perlu berinvestasi selama 8 bulan ke depan karena target satu tahun sudah melebihi. Apa yang harus dilakukan agar tidak buntung dalam investasi saham?

Angka-angka IHSG dan harga saham merupakan nilai yang belum direalisasikan investor bila tidak menjual sahamnya. Artinya, investor hanya mendapat keuntungan secara hitungan di atas kertas. Bila investor menjual seluruh saham yang dimiliki, investor akan untung rata-rata sebesar kenaikan IHSG tersebut, yaitu 26,71%. Tetapi, pasti ada investor yang memperoleh keuntungan melebih angka tersebut dan ada juga investor yang memperoleh keuntungan (bahkan kerugian) jauh di bawah angka kenaikan IHSG tersebut.

Bila kita perhatikan saham-saham lain yang memberi keuntungan cukup baik terdapat banyak di bursa saham. Salah satu yang sangat menarik adalah fenomena saham Bakri Group. Saham BUMI yang pernah turun di bawah Rp 500, sekarang sudah melebih harga Rp 1.400. Berarti investor yang pintar saat itu membeli dengan harga sekitar Rp 600 saja sudah untung sekitar 150%. Keuntungan sebesar ini tidak akan pernah ditemukan pada saham lain.

Saham lain di bawah kelompok Bakrie juga naik dan rata-rata di atas 100%, seperti UNSP sekarang di atas Rp 450 di mana dua bulan sebelumnya sekitar Rp 225, demikian pula saham ELTY, BTEL, dan BNBR. Bagi investor yang berinvestasi pada saham ini pasti menikmati enaknya berinvestasi di bursa saham.

Bila harga saham kelompok Bakrie terus naik, kekayaan kelompok ini juga naik sehingga posisi tawar untuk penyelesaian kasus repurchase agreement (repo) BUMI akan lebih baik dan anggota bursa akan tertolong. Momentum perkembangan di Amerika Serikat dan situasi dalam negeri cukup membantu kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Selanjutnya, bila penelitian empiris terhadap IHSG selama periode bursa ada, bulan April merupakan bulan yang kenaikan IHSG-nya kecil 1,99% untuk periode 1990 sampai dengan 2008 dan bila dimasukkan selama bulan April, tingkat pengembalian yang diberikan 2,57%.

Jika data yang digunakan hanya setelah krisis, tingkat pengembalian selama April rata-rata 6,7% sehingga selayaknya investor memikirkan investasinya.

Bila tingkat pengembalian pada April dibandingkan dengan bulan lain, tingkat pengembalian ini cukup bagus karena selama April telah memberi tingkat pengembalian 13,58% dan merupakan hasil investasi yang jauh lebih tinggi daripada deposito. Pada investasi saham pajak sudah bersih sebesar 0,1% dan deposito 20%.

Keluar dulu

Rekomendasi yang dapat diberikan sebaiknya investasi pada saham keluar dulu yang dikenal dengan aksi ambil untung (profit taking) untuk sesaat. Biarkan harga saham drop karena semua pihak berlomba menjual, tetapi investor sudah memastikan keluar lebih dulu. Kemudian investor berhenti sejenak memerhatikan saham-saham yang akan dibeli kembali untuk tujuan investasi lebih panjang.

Menjual saham yang dimiliki dapat dengan beberapa cara. Pertama, menjual sekaligus seluruh saham yang dimiliki sehingga ada saham yang sudah untung besar dan ada juga saham yang masih rugi sehingga secara rata-rata hasil yang diperoleh positif. Kedua, menjual saham-saham yang sudah memberi profit cukup besar dan menunggu waktu tepat untuk saham lain.

Investor harus memilah-milah saham yang harus dijual dengan catatan keuntungan bisa diperoleh kembali. Bila ada saham yang sudah untung melebihi 26%, saham tersebut dapat dijual. Tetapi, investor juga bisa memberi patokan angka 15% karena deposito selama ini ditawarkan sebesar itu.

Bila ada saham masih di bawah angka itu, maka ditahan sementara untuk menjual pada waktu tepat. Tetapi, investor juga harus memerhatikan saham itu secara saksama. Bila kelihatan tidak ada kemungkinan akan naik lagi, saham tersebut dijual saja walaupun ada kerugian dan lebih bagus investasi pada saham lain yang akan memberi keuntungan.

Bila investor telah memutuskan tindakan tersebut, investor tidak perlu berpikir, seharusnya saya untung. Investor harus sudah berpikir biarlah keuntungan selanjutnya untuk investor lain. Artinya, ketamakan dalam berinvestasi perlu dihindari supaya memperoleh keuntungan yang bagus dan enak dinikmati.

Investor tidak perlu memerhatikan ke belakang supaya jangan terjebak atas keputusan sendiri. Tindakan yang dapat dilakukan investor adalah melakukan diskusi dengan para analis saham.

Investor bertanya kepada beberapa analis mengenai saham yang mempunyai prospek pada masa datang. Investor membandingkan berbagai saham dan mencerna hasil analisis dari para analis pasar tersebut. Investor berhenti sejenak untuk berpikir dan mencari alternatif terbaik. Jangan lupa setiap ada keuntungan yang besar pasti ada risiko yang besar sedang datang menghadang investor.

Kompas

Sunday, March 29, 2009

Investasi & Keuangan: Beli Saham ketika Bursa Bergerak?

Minggu, 29 Maret 2009 | 03:52 WIB

Adler Haymans Manurung Praktisi keuangan

Hampir seminggu lebih bursa mengalami kenaikan dan berbagai pihak mulai menganalisis lebih dalam. Bursa mulai naik sejak awal Maret. IHSG awal bulan berada pada level 1.256 dan pada Selasa (24/3) pada level 1.436 atau terjadi kenaikan 180 poin atau terjadi pertumbuhan (capital gain) 14,33 persen.

Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari investasi di deposito dan obligasi, tetapi risikonya memang lebih tinggi. Apa sebenarnya yang terjadi hingga bursa tumbuh cukup bagus dalam waktu kurang dari satu bulan? Apakah dapat kembali mencapai nilai tertinggi seperti pada Januari 2008? Bagaimana cara memilih saham-saham itu? Apakah tidak selayaknya melakukan profit taking agar memperoleh capital gain?

Bila dipelajari mendetail, kenaikan atau penurunan bursa dipengaruhi informasi di pasar dan yang diterima investor. Informasi paling kuat saat ini adalah mengenai pasar regional dan pasar negara maju, terutama situasi di Amerika Serikat.

Informasi tersebut sangat penting karena kapitalisasi pasar bursa di Amerika Serikat merupakan yang terbesar di dunia sehingga persoalan di bursa Amerika Serikat juga menjadi persoalan dunia.

Informasi yang memberi angin segar adalah Pemerintah Amerika Serikat akan membeli aset-aset beracun di lembaga keuangan, persis seperti yang dilakukan Indonesia ketika krisis tahun 1998.

Pemerintah Amerika Serikat akan membeli semua aset beracun sehingga lembaga keuangan tersebut bersih dari semua persoalan dan bisa bangkit kembali menggerakkan perekonomian. Tindakan ini menjadi perdebatan di masyarakat Amerika Serikat, termasuk para ekonom di sana.

Informasi ini memberi ekspektasi pertumbuhan ekonomi di negara tersebut melalui pertumbuhan perusahaan sehingga harga saham diharapkan akan bertumbuh pula. Ekspektasi ekonomi ini berdampak ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, sehingga beberapa bursa mengalami kenaikan. Bila informasi yang baik tersebut terus mengalir ke bursa, bursa terus akan naik.

Jika diperhatikan saksama, sebenarnya bursa kita harus naik karena tidak ada persoalan mendasar yang membuat perusahaan kita tidak tumbuh. Bila pertumbuhan ingin ditingkatkan, pemerintah seharusnya memperbesar pengeluaran untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama untuk membangun jalan baru dan perbaikan yang rusak.

Gerbong kereta

Ekspektasi kenaikan bursa yang berlanjut dapat dianalogikan seperti kereta api yang menaiki perbukitan kecil yang terdiri dari lokomotif dan beberapa gerbong. Urutan gerbong ini dapat dianalogikan sebagai urutan saham, dimulai dari saham yang berkapitalisasi besar sampai dengan saham berkapitalisasi kecil.

Lokomotif dan gerbong pertama bisa dianggap sebagai saham-saham berkapitalisasi besar. Gerbong selanjutnya adalah saham berkapitalisasi menengah atau perusahaan berukuran medium. Selanjutnya, berakhir dengan saham berkapitalisasi kecil atau sering disebut perusahaan kecil. Untuk naik ke perbukitan tersebut, kereta paling depan yang pertama naik, yaitu gerbong dengan saham perusahaan besar dan di dalamnya ada saham blue chips.

Ketika saham berkapitalisasi besar sudah di puncak bukit, sebaiknya dijual dan kemudian membeli saham berkapitalisasi medium saat saham berkapitalisasi besar sudah mulai turun menuju ke arah nilai wajarnya. Ketika saham berkapitalisasi medium sampai di puncak bukit dijual dan kemudian membeli saham berkapitalisasi kecil. Dan seterusnya.

Pertanyaannya, berapa besar kenaikan agar bisa langsung keluar dan menukar saham yang dimiliki. Besarannya bergantung pada kekuatan hati para investor. Tetapi, investor jangan selalu rakus dan harus rasional. Bila investor sudah memandang cukup dan harus keluar, sahamnya harus segera dijual. Bila investor menentukan besarannya 10 persen, nilai 10 persen ini harus dibandingkan dengan hasil investasi pada bidang lain dan risiko yang dapat ditoleransi.

Selanjutnya, transaksi saham dapat juga dianalogikan seperti ibu atau wanita makan di pesta perkawinan dengan makanan sangat beragam, ingin mencicipi semua makanan tersebut, yang di meja sajian utama maupun yang ada di gubuk-gubuk makanan. Ibu tersebut akan mengambil makanan sedikit-sedikit untuk setiap makanan sehingga semua makanan dapat dicicipi.

Bertransaksi saham dapat dilakukan seperti ibu tersebut. Saham dibeli dan bila dirasakan sudah cukup capital gain-nya dijual, baru membeli saham lain. Artinya, semua caham dicoba, tetapi dengan keuntungan kecil sehingga hasilnya juga besar. Investor membeli lima saham sekaligus dan menunggu naik sekitar 5 persen sampai 10 persen dan keluar, kemudian membeli saham lain. Artinya, keuntungan investor juga sangat besar dan juga telah melakukan diversifikasi risiko. Saham-saham yang akan dibeli sebaiknya dianalisis dan dengan mengajak para analis berdiskusi. Selamat berinvestasi.

Kompas

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, December 9, 2007

INVESTASI & KEUANGAN: Memahami "Permainan" Indeks

ELVYN G MASASSYA / PRAKTISI KEUANGAN

Bagi Anda yang sudah terbiasa memainkan uang di pasar modal, tentu tidak asing dengan istilah indeks harga saham gabungan (IHSG).

...

Kompas

Quoted by Muhammad Idham Azhari from Kompas