BLOGSPOT atas
Showing posts with label obligasi. Show all posts
Showing posts with label obligasi. Show all posts

Sunday, October 31, 2010

Transaksi Obligasi

Minggu, 31 Oktober 2010 | 04:02 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Selasa lalu, pemerintah melakukan buy back atas obligasi FR0049 yang pernah ditawarkan atau telah dimiliki masyarakat. Obligasi ini jatuh tempo pada 15 September 2013, artinya investor akan mendapat pelunasan lebih awal (tiga tahun lebih cepat) karena pembayarannya hasil lelang selasa lalu.

Buy back atas obligasi dimaksud untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan pemerintah. Dengan buy back, pemerintah bisa mengganti obligasi yang lebih murah kuponnya. Obligasi ini mempunyai kupon 9 persen sehingga harga obligasi pasti di atas 100 dikarenakan tingkat bunga yang berlaku saat ini sekitar 6 persen.

Sebelum pelaksanaan lelang buy back obligasi tersebut telah terjadi kenaikan harga obligasi sekitar 2 persen dalam satu sampai dua minggu. Harga obligasi ini sebenarnya ditransaksikan pada harga 105, tetapi belakangan mengalami kenaikan menjadi 107. Kenaikan ini cukup besar dan mengagetkan beberapa investor yang memegang obligasi tersebut dan merasa senang karena pemerintah membeli obligasi tersebut lebih mahal dari harga wajar.

Kenaikan harga ini mengakibatkan kenaikan yield yang diperoleh investor. Pada obligasi berlaku hukum apabila yield semakin tinggi, harga obligasi semakin rendah dan sebaliknya; apabila harga meningkat, yield semakin rendah. Namun, kali ini kenaikan harga tersebut membuat yield yang diperoleh investor semakin meningkat.

Investor yang melakukan investasi pada obligasi bisa dilakukan dengan dua kelompok besar, yaitu untuk transaksi dagang (trading) dan investasi jangka panjang. Jika melakukan obligasi sebagai trading, investor tersebut harus sering kali menggunakan momentum yang ada. Momentum tersebut dipergunakan untuk mendapatkan yield lebih besar. Misalkan, investor harus menjual obligasi tersebut karena mendapat yield lebih besar dan bisa memindahkan dananya pada instrumen investasi yang sesuai yield pada obligasi tersebut.

Momentum yang ada saat ini adalah adanya buy back pemerintah atas obligasi yang beredar di pasar modal tersebut. Pada sisi lain, pemain obligasi cukup terbatas dan bisa memainkan harga obligasi tersebut. Hukum penawaran dan permintaan juga terjadi pada buy back obligasi ini sehingga harga obligasi mengalami kenaikan. Permintaan datang dari pemerintah yang ingin membeli obligasi dan pemilik obligasi mengetahuinya dan kebetulan pemerintah mengumumkannya sehingga pemegang obligasi mencoba mendongkrak harga agar memperoleh yield yang lebih besar.

Investor asing

Secara kebetulan pemegang obligasi tersebut paling banyak asing dan mereka umumnya jauh lebih pintar dari investor lokal sehingga menaikkan harga obligasi ini untuk kepentingan asing tersebut dapat dilaksanakan.

Asing sangat pintar melakukan transaksi obligasi, sementara lokal mempunyai pengetahuan yang minim. Oleh karenanya, teori pergerakan pasar yang biasanya tidak bisa diintervensi oleh pihak-pihak tertentu akan berbeda pada pasar ini dikarenakan pemegang obligasi bisa mendikte pasar, di mana dalam kasus ini pemerintah untuk membeli obligasi tersebut.

Variabel lain yang perlu diketahui investor dalam rangka investasi pada obligasi ini adalah kepemilikan obligasi tersebut. Kepemilikan obligasi yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah alokasi kepemilikan obligasi, baik saat ditawarkan maupun pada saat sekarang. Apabila kepemilikan obligasi umumnya pada pemegang yang pintar, pada saat di-buy back akan memberikan harga lebih tinggi dari harga wajarnya.

Selanjutnya, investor yang melakukan investasi pada obligasi untuk investasi jangka panjang, maka investor harus memahami berbagai indikator ekonomi yang bisa membantu investor untuk mendapatkan capital gain atau lebih luasnya tingkat pengembalian yang lebih besar.

Isu sentral bertransaksi obligasi adalah investor harus memahami pergerakan tingkat bunga. Tingkat bunga ini sangat memengaruhi keputusan investor untuk berinvestasi pada obligasi dan juga saham. Jika tingkat bunga yang berlaku naik, investor akan meningkatkan yield yang diharapkannya dan sebaliknya tingkat yield tersebut akan turun bila tingkat bunga tersebut mengalami kenaikan.

Arah tingkat bunga

Investor jangka panjang biasanya menggunakan tiga strategi untuk mendapatkan keuntungannya. Investor tersebut biasanya harus mengetahui arah tingkat bunga yang akan terjadi pada masa mendatang. Arah tingkat bunga ini sangat penting. Dengan mengetahui arah tingkat bunga, investor akan bisa melakukan perubahan obligasi jika arah tingkat bunga tersebut diketahui investor.

Apabila mengetahui arah tingkat bunga minimum tiga bulan ke depan, investor bisa mengambil tindakan saat ini. Jika tingkat bunga akan mengalami kenaikan pada masa mendatang, harga obligasi akan turun. Akibatnya, investor harus mengubah obligasinya agar penurunan harga obligasinya tidak cukup besar. Sebaliknya, jika tingkat bunga turun, harga obligasi mengalami peningkatan dan investor mengharapkan kenaikan harga yang tajam.

Selanjutnya, investor harus mengetahui waktu perubahan tingkat bunga. Jika waktu perubahan tingkat bunga pada besok hari atau satu minggu ke depan, investor tidak bisa melakukan tindakan yang memberikan keuntungan lebih besar bahkan banyak pihak menyatakan bahwa tindakannya tidak berguna.

Akhirnya, investor harus mengetahui besaran perubahan tingkat bunga agar ia bisa mengambil tindakan yang lebih jelas. Jika perubahan tingkat bunga kecil, investor kemungkinan tidak akan melakukan apa-apa. Jika perubahan tingkat suku bunga besar, investor sangat perlu melakukan tindakan untuk kepentingan portofolio obligasi.

KOMPAS

Sunday, March 28, 2010

INVESTASI: Apakah MTN?

Minggu, 28 Maret 2010 | 04:05 WIB

Adler Haymans Manurung
Praktisi Keuangan

Baru-baru ini ada pertanyaan soal produk baru instrumen investasi yang periodenya lebih pendek dari obligasi. Produk tersebut dikenal dengan Medium Term Notes (MTN) dan banyak diterbitkan perusahaan. Pertanyaannya, bagaimana investasi pada produk ini, apa risikonya, di mana bisa mendapatkan produk ini, serta bagaimana pula perpajakannya?

MTN adalah surat utang yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dalam rangka kebutuhan dana untuk membiayai investasi perusahaan agar bisa bertumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Surat utang ini mempunyai umur kurang dari lima tahun dan lebih lama dari satu tahun. Bila surat utangnya kurang dan sama dengan satu tahun tidak disebut dengan MTN, tetapi produk surat utang untuk jangka pendek yang dikenal surat utang pasar uang.

Surat utang ini mempunyai kupon atau bunga yang dibayarkan sesuai dengan kesepakatan, bisa dua kali setahun, empat kali setahun, atau sekali setahun. Kupon surat utang ini bisa dua macam, yaitu kupon tetap dan kupon mengambang. Bila kupon tetap, maka investor akan memperoleh kupon tetap selama periode surat utang tersebut. Jika surat utang ini memiliki kupon mengambang, maka ada patokan yang dipergunakan untuk menentukan kuponnya dan ditambahkan premium untuk menarik investor, misalnya patokannya rata-rata tingkat bunga deposito enam bulan bank yang dimiliki pemerintah, seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI dan ditambahkan premium 7 persen.

Bila rata-rata tingkat bunga deposito enam bulan untuk ketiga bank tersebut 6,5 persen, maka kupon yang diberikan surat utang ini sebesar 13,5 persen. Biasanya kupon tersebut ditentukan sekali enam bulan agar perubahan tingkat bunga yang terjadi bisa didapati surat utang ini. Namun, surat utang ini lebih dominan diterbitkan dengan tingkat bunga tetap untuk kepastian perencanaan keuangan perusahaan dan juga pemanis bagi investor agar menariknya surat utang ini.

Jangka pendek

Surat utang ini diterbitkan perusahaan, disesuaikan dengan investasi perusahaan yang umumnya jangka pendek dan menengah, seperti periode surat utang ini yang diuraikan sebelumnya. Produk ini sengaja diterbitkan perusahaan atau merupakan terobosan para perusahaan investment banking (di Indonesia dikenal dengan sekuritas) untuk mendapatkan produk investasi yang periodenya lebih kecil dari obligasi. Pada sisi lain, produk ini dibuat untuk mencocokkan kebutuhan perusahaan dan keinginan investor.

Produk ini diterbitkan perusahaan dengan cepat, dengan bantuan perusahaan sekuritas tersebut, tidak seperti obligasi yang harus melalui penawaran yang sangat ketat dengan regulasi Bapepam. Keketatan regulasi Bapepam atas obligasi dikarenakan penghimpunan dana publik. Adapun MTN bisa diterbitkan besarannya cukup kecil mulai dari Rp 5 miliar hingga ratusan miliar. MTN sering kali tidak membutuhkan peringkat dari Perusahaan Pemeringkat Efek di Indonesia, tetapi MTN yang beredar belakangan ini sudah mulai mempunyai peringkat karena investor mensyaratkan adanya peringkat tersebut. MTN hanya bisa ditawarkan kepada pihak tertentu yang totalnya kurang dari 50 pihak. Bila pembeli MTN melebihi 50 orang, maka harus melalui proses penawaran umum di Bapepam sehingga penawaran MTN tidak seperti obligasi. Dan umumnya peminat MTN ini sudah ada dan langsung diterbitkan.

Investor yang ingin melakukan investasi pada produk ini harus memerhatikan periode dari MTN karena periodenya belum cocok untuk investor. Likuiditas produk ini tidak seperti obligasi yang mempunyai likuiditas sudah terjamin dikarenakan adanya proses penerbitan melalui Bapepam. Kupon yang diberikan MTN juga harus diperhatikan oleh investor agar sesuai dengan keinginan dan ekspektasi investor. Penerbit MTN juga harus menjadi perhatian, di mana investor harus melakukan investigasi agar mendapatkan informasi yang lengkap mengenai penerbit obligasi. Manajemen perusahaan penerbit MTN sangat penting dikarenakan manajemen tersebut yang memutuskan menerbitkannya serta mau membayar bunga dan prinsipalnya. Investor sebaiknya bisa mendapatkan investor lain yang melakukan investasi pada MTN. Bila investor mengetahui investor lain dan biasa melakukan investasi, maka investor mempunyai pandangan sedikit lebih baik karena investor yang lain kemungkinan sudah menghitung risikonya.

Risiko

Investor dalam membeli surat utang mempunyai berbagai macam risiko yang harus dipahami. Risiko utama yang dihadapi dan paling penting adalah tidak mampu bayarnya penerbit surat utang. Ketidakmampuan penerbit surat utang sebaiknya harus bisa dideteksi investor lebih awal, baik pada saat membeli atau sudah berjalannya waktu. Sebaiknya investor meminta penerbit mempunyai pihak lain untuk membeli surat utang agar investor bisa terhindar dari persoalan yang dihadapi, sekaligus membuat surat utang ini menjadi likuid.

Risiko kedua yang harus dihadapi investor adalah risiko tingkat bunga. Artinya, bila tingkat bunga mengalami kenaikan, maka investor kehilangan kesempatan memperoleh kupon yang lebih besar. Akan tetapi, tingkat bunga yang turun tidak menjadi persoalan pada MTN. Bahkan, adanya kenaikan atau penurunan tingkat bunga bukan menjadi persoalan bagi investor bila tingkat bunga yang diperoleh tetap dan premium sangat tinggi. Selanjutnya, risiko daya beli menjadi salah satu risiko yang melekat pada produk ini. Pada saat jatuh dana yang diinvestasikan belum tentu kemampuan daya belinya sama dengan ketika dana pertama kali diinvestasikan pada produk tersebut.

Perpajakan atas produk ini tergantung dari pembeli MTN. Bila perorangan yang membeli MTN akan dikenai tarif umum. Artinya, investor yang memperoleh kupon akan dikenai pajak 20 persen dan kemudian pada akhir periode pelaporan SPT, maka investor akan dikenai sesuai tarif pajak investor perorangan. Untuk lebih jelasnya, investor bisa bertanya kepada pihak pajak. Jika bank yang membeli MTN, bunga MTN tidak dikenai pajak, tetapi pada akhir tahun dikenai pajak sesuai pajak perusahaan untuk pendapatan perusahaan. Bila reksa dana membeli MTN, perlakuannya sama seperti pengenaan pajak kupon obligasi. Sungguh menarik karena memberikan keuntungan bagi investor.

Adanya perlakuan pajak atas MTN seperti obligasi, Bapepam perlu membuat regulasi yang seimbang antara obligasi dan MTN. Proses MTN sangat pendek, sedangkan obligasi sangat panjang. Akibatnya, MTN merasa diuntungkan dan berlomba menerbitkan MTN walaupun ada sisi negatifnya. Oleh karena itu, produk investasi ini bisa menarik berbagai investor untuk berinvestasi pada reksa dana karena adanya keuntungan pajak tersebut. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

Sunday, March 29, 2009

Soros: Inggris "Kritis" (Minta Bantuan dari IMF Bukan Hal Mustahil)

Minggu, 29 Maret 2009 | 03:27 WIB

London, Sabtu - Keadaan sektor keuangan Inggris cukup ”kritis”. Negara ini bisa saja dipaksa meminta bantuan kepada Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendapatkan dana talangan. Jika kekuatan perbankan lebih besar dari perekonomian Inggris, jelas ini menjadi sumber masalah.

Demikian dikatakan eks spekulan kelas kakap dunia, George Soros, kepada harian Inggris, The Times, Sabtu (28/3).

Produk domestik bruto (PDB) Inggris berdasarkan nilai nominal pada 2007 sekitar 2,78 triliun dollar AS. Omzet perputaran keuangan di Inggris jauh lebih besar dari PDB itu.

”Anda mempunyai masalah karena kekuatan perbankan lebih besar dari kekuatan ekonomi,” kata Soros.

Inggris memiliki sejumlah bank bangkrut, seperti Northern Rock, dan bank besar yang menghadapi masalah keuangan, termasuk kerugian karena pengucuran kredit ke sektor perumahan di AS, antara lain HSBC, Barclays, HBO, dan Royal Bank of Scotland (RBS).

Inggris pernah mengalami kebangkrutan bank besar pada dekade 1990-an, yakni Barings Bank, karena tindakan spekulatif karyawannya yang berbasis di Singapura, Nick Leeson.

”Jika Inggris harus menanggung semua masalah itu (masalah perbankan), artinya negara memerlukan utang baru,” kata Soros.

Berapa kerugian perbankan Inggris? Menteri Keuangan Inggris Alistair Darling mengatakan, persoalan keuangan perbankan global amat sulit diketahui karena sepak terjang perbankan global, termasuk Inggris, tidak diketahui.

The Times bertanya kepada Soros, ”Apakah mungkin Inggris terpaksa meminta bantuan IMF?”

”Jika sistem perbankan terus bermasalah dan ambruk, hal itu dimungkinkan. Pada tahap sekarang ini, tampaknya belum perlu,” kata Soros yang pernah meraih untung 1 miliar dollar AS tahun 1992 saat ”Black Wednesday”. Saat itu Soros berhasil membobol Bank of England (bank sentral Inggris) dengan berspekulasi atas mata uang Inggris, poundsterling.

Soros menambahkan, Inggris berada dalam keadaan rapuh pada masa krisis sekarang ini.

Gagal jual obligasi

Soros mengatakan semua itu sehari setelah Pemerintah Inggris gagal menjual obligasi di pasar untuk pertama kali dalam 14 tahun terakhir. Penjualan surat utang ini bertujuan meraih uang tunai dari pasar demi kepentingan ekonomi negara.

Pada Januari lalu, Pemerintah Jerman juga gagal menjual surat utang.

Menteri Keuangan Inggris membantah kegagalan itu. Namun, pasar pada Jumat lalu tidak mau membeli semua surat utang Pemerintah Inggris senilai 1,75 miliar poundsterling.

Ekonomi Inggris terkontraksi 1,6 persen sepanjang kuartal IV-2008, keadaan terburuk sejak kontraksi yang pernah terjadi pada kuartal II-1980 akibat kenaikan harga minyak dunia. (AFP/REUTERS/MON)

Kompas

Sunday, March 23, 2008

Bagaimana Mengelola Obligasi?

Minggu, 23 Maret 2008 | 01:47 WIB


Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Belakangan ini kelihatannya tingkat bunga tidak akan berubah ke arah lebih rendah dan kebijakan ini akan berlangsung sampai akhir tahun.

Di sisi lain, bursa saham tidak memberi kesempatan memperoleh keuntungan karena bursa terus menurun karena kondisi regional, termasuk kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Kasus ini membuat berbagai pihak akan menyarankan berinvestasi pada obligasi dan instrumen pendapatan tetap lain. Pertanyaannya, bagaimana mengelola obligasi yang dimiliki atau bagaimana memulai investasi pada obligasi.

Dalam berinvestasi obligasi atau instrumen pendapatan tetap lain perlu dipahami konsep dan manfaat investasi tersebut. Obligasi dan instrumen pendapatan tetap lain merupakan surat utang yang diterbitkan lembaga penerbit, yaitu perusahaan swasta, perusahaan negara dan sering disebut perusahaan, pemerintah pusat dikenal dengan surat utang negara dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI), dan pemerintah daerah yang dikenal dengan municipal bond.

Obligasi memberi bunga setiap periode yang dikenal dengan kupon. Pembayaran kupon dilakukan tiap bulan atau sekali tiga bulan, enam bulanan, dan sekali setahun. Pada kupon biasanya disebutkan pembayaran setahun, misalnya 9,5 persen per tahun, seperti kupon ORI ke-4.

Bila pembayaran dilakukan empat kali dalam setahun, maka setiap tiga bulan dibayar 2,375 persen (9,5 persen dibagi 4). Investor akan memperoleh bunga lebih besar bila kupon diinvestasikan kembali dengan besaran bunga sebesar kupon.

Obligasi dapat dikelompokkan menurut kupon obligasi, yaitu obligasi berkupon tetap yang besarnya tidak berubah sampai jatuh tempo; berkupon mengambang dengan kupon bervariasi selama periode obligasi, dan obligasi berkupon nol, yaitu obligasi yang kuponnya dibayar pada saat pembelian (di depan).

Ada karakteristik dan variabel obligasi yang harus dipahami, yaitu harga, hasil, dan lamanya obligasi. Harga obligasi ditentukan tingkat bunga saat itu. Bila tingkat bunga naik, maka harga obligasi akan menurun dan sebaliknya, harga obligasi akan naik bila tingkat bunga turun.

Harga

Dalam transaksi obligasi harga patokan awal adalah harga pada aras 100 dengan tingkat bunga yang berlaku sama dengan kupon obligasi. Hal ini terjadi karena tidak satu pun pemilik dana merasa rugi bila berpindah dari obligasi ke instrumen lain.

Selanjutnya, harga obligasi akan selalu di bawah aras 100 bila tingkat bunga yang berlaku di atas kupon obligasi, ini dikenal dengan diskon. Besaran diskon ini merupakan kompensasi yang harus dibayar pemilik obligasi kepada pembeli karena hilangnya kesempatan investasi pada tingkat bunga yang tinggi tersebut.

Misalnya, tingkat bunga yang berlaku 10 persen dan ORI-4 dengan kupon 9,5 dan maturitas 4 tahun, maka setiap tahun pemilik ORI kehilangan kesempatan sebesar 0,5 persen. Akibatnya, pemilik ORI harus membayar 2 persen atas kompensasi selisih tingkat bunga selama 4 tahun sehingga harga ORI harus dijual pada harga 98. Tetapi, karena adanya bunga berbunga yang sering disebut compound interest, maka harganya akan lebih tinggi dari 98.

Kemudian, harga obligasi akan di atas 100 bila tingkat bunga lebih rendah dari kupon obligasi. Pemegang obligasi tidak akan mau menjual obligasinya pada harga 100 karena kupon obligasi saat ini lebih tinggi dari tingkat bunga berlaku.

Bila dilakukan penjualan seharga 100, maka pemilik dana akan berinvestasi dengan tingkat bunga lebih rendah dan akan merugi. Agar pemilik mau menjual obligasinya, pembeli obligasi harus mau membayar lebih tinggi dari 100.

Bila tingkat bunga 9 persen dan kupon obligasi ”X” 9,5 persen selama periode 4 tahun, maka kompensasi harga yang harus diberikan 2 persen (4 tahun dikalikan 0,5 persen). Tetapi, harga di pasar akan lebih rendah 102 dikarenakan faktor bunga berbunga.

Berdasarkan uraian harga tersebut, ada patokan yang selalu dipakai investor dalam membeli atau menjual obligasi, yaitu manfaat/hasil. Artinya, harga obligasi tersebut ditentukan oleh hasil yang harus dipenuhi sehingga investor/pemilik obligasi membeli (menjual) obligasi.

Manfaat tersebut merupakan refleksi tingkat bunga berlaku dan risiko atas investasi pada obligasi yang dikenal dengan risk premium. Bila obligasi diterbitkan pemerintah pusat, maka manfaat merupakan hasil pasar (tingkat bunga berlaku) dan risikonya dianggap nol.

Obligasi perusahaan akan mempunyai hasil lebih besar karena ada risiko pada obligasi perusahaan tersebut. Risiko paling utama adalah tidak bayar. Risiko lain adalah risiko industri perusahaan penerbit surat utang dan risiko umum.

Durasi

Konsep penting lain yang harus dipahami investor adalah durasi. Konsep ini sangat penting dipahami investor karena dapat digunakan sebagai strategi berinvestasi. Nilai durasi obligasi selalu lebih kecil dari besarnya jangka waktu obligasi bersangkutan.

Konsep tersebut, pertama, rata-rata tertimbang jangka waktu atas arus kas yang diterima dari obligasi tersebut dan secara sederhana disebutkan periode kembalinya dana investor atas investasi pada obligasi tersebut. Obligasi 5 tahun dengan durasi 4,13 artinya pemegang obligasi akan mencapai kembalinya dana dengan periode 4,13 tahun. Umumnya, investor menyukai obligasi berdurasi pendek.

Kedua, ukuran sensitivitas harga obligasi atas penurunan/kenaikan tingkat bunga. Dengan contoh yang sama, artinya obligasi tersebut akan menurun 4,14 persen bila tingkat bunga naik 1 persen. Karena itu, investor harus memperhatikan durasi ini bila ada kebijakan tingkat bunga agar investor tidak merugi dalam berinvestasi obligasi. Selamat berinvestasi.

Kompas