Friday, March 20, 2009

[Kompas 100]: Gajah Tunggal: "A Leading Tire Manufacturer in South East Asia"

Jumat, 20 Maret 2009 | 07:20 WIB

Kenya dan Ethopia dikenal sebagai penghasil jagoan lari jarak menengah dan jauh dunia.

Kemampuan Kenya dan Ethopia yang semacam itu sempat mengilhami salah satu negeri kaya di Timur Tengah untuk merekrut pelari dari negara tersebut dan kemudian melakukan naturalisasi. Ini menggambarkan betapa desperate-nya mereka untuk mendapatkan pelari berprestasi di tingkat internasional. Padahal mereka sudah melakukan berbagai cara agar bisa menghasilkan pelari berkelas dunia dari negeri sendiri.

Memang banyak yang penasaran dengan kemampuan dua negara tersebut dalam menjadi pelari kelas dunia di jarak menengah dan jauh selama bertahun-tahun. Terlepas dari adanya faktor bakat, tentu negara tersebut memang punya sistem untuk mengenali bakat-bakat baru dan bisa mengasahnya, sekalipun negera tersebut bukan negara yang kaya. Singkat kata, kedua negara itu memang jeli menekuni sesuatu yang mungkin jauh dari glamour tapi kemudian bisa mengembangkannya sehingga disegani dunia selama bertahun-tahun.

Di dunia bisnis Indonesia ada perusahaan yang muncul sebagai pemain internasional karena bisa me-leverage keunikan sebagai perusahaan asal Indonesia. Di dunia, Indonesia dikenal sebagai salah negeri penghasil karet terkemuka dunia. Tentu posisi semacam ini semestinya bisa memungkinkan munculnya perusahaan kelas dunia produk olahan karet.

Inilah yang misalnya dilakukan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), salah satu pionir industri ban Indonesia. Dimulai sebagai produsen ban sepeda pada tahun 1951, GJTL kini telah berkembang menjadi salah satu pabrik ban terbesar di Asia Tenggara. Sejak memulai produksi ban sepeda motor pada tahun 1971, disusul oleh kontrak kerja sama dengan Inoue Rubber Company pada tahun 1973, kini GJTL adalah pemimpin pasar replacement tire bagi sepeda motor dengan merk IRC, dimana mereka memegang sekitar 62 persen pangsa pasar.

Langkah GJTL di tahun 1981 saat mulai melakukan produksi ban “bias”, yaitu ban untuk kendaraan berpenumpang dan kendaraan niaga, merupakan langkah strategis yang berhasil menjadikan GJTL market leader pula untuk replacement tire kategori ini, dengan pangsa pasar sekitar 46 persen. Sekitar tahun 1990an GJTL lalu mulai memasuki pasar passenger car dengan produksi ban radial yang dipasarkan dengan merk GT Radial.

GJTL memang sudah menjadi perusahaan taraf Internasional, bukan saja karena jumlah ekspor perusahaan yang mencapai 46 persen dari total penjualan perusahaan pada tahun 2007, tapi juga karena berbagai standarisasi dan sertifikasi internasional yang berhasil diperolehnya, antara lain: E-Mark (Eropa), TUV CERT (Jerman), BPS (Filipina), Inmetro (Brazil), PAI (Kuwait), SASO (Arab Saudi), dan BVQI (Kolumbia). Ini tentunya mempermudah GJTL untuk menembus pasar internasional, terutama Eropa, yang sangat ketat dalam hal standarisasi produk.

Karena itu, kalau kita melakukan search di google.com (bukan yang versi Indonesia) dengan keyword “GT Radial”, kebanyakan hasil di halaman utama adalah mengenai penggunaan ban merek ini di negara-negara seperti Australia, Kanada, dan Inggris. Memang produk ini cukup dikenal sebagai sebagai ban pilihan untuk pembeli yang value oriented di berbagai negara. Beberapa masyarakat Indonesia pun mungkin awalnya juga tidak menyangka kalau merek ini berasal dari Indonesia, sebelum menyadari bahwa GT adalah singkatan dari Gajah Tunggal.

Dengan kemampuan menghasilkan produk yang sesuai dengan standar internasional, GJTL berhasil mendapatkan kepercayaan dari merek-merek luar negeri yang ingin melakukan produksi ban di Indonesia. Dua perusahaan yang dulu pernah bekerja sama adalah Pirelli (hingga 2001) dan Yokohama (hingga 1995). Sedangkan perusahaan dunia yang kini masih mempercayai GJTL untuk produksi merek ban mereka adalah Nokian sejak 2001 dan Michelin sejak 2004. Kepercayaan Michelin yang tinggi terhadap GJTL mungkin dapat dilihat dari volume produksi yang dilakukan. Tahun 2007, GJTL memproduksi sekitar 2,1 juta ban untuk mereka, dengan target kedepan sebesar 5 juta ban per tahun pada tahun 2010.

Demi untuk mendukung berbagai kerjasama external ini mungkin alasan mengapa GJTL mulai melakukan langkah ekspansi pada tahun 2005. Target perusahaan adalah meningkatkan kapasitas produksi ban radial menjadi 45.000 ban per hari dari 30.000 perhari saat ini, dan kapasitas produksi ban sepeda motor menjadi 105.000 ban per hari dari sekitar 40.000 per hari saat ini.

Dengan kekuatan ini, ditambah pengalaman selama 30 tahun di industri ban, serta didukung lebih dari 10 ribu karyawan, GJTL memang bisa dikatakan sebagai salah satu raksasa industri ban di Indonesia. Tapi tentunya perusahaan tetap ingin memperkuat posisinya, terutama di pasar dimana mereka masih belum menjadi pemain yang kuat. Salah satunya adalah pasar replacement tire ban radial, dimana GJTL baru memegang sekitar 20 persen pangsa pasar.

Upaya GJTL untuk meningkatkan pasar ban radial domestik adalah dengan mengembangkan Tirezone. Gerai retail ban yang juga menawarkan pelayanan modern ini berfungsi sebagai outlet produk GT Radial, Michelin, dan juga BF Goodrich. Tirezone kini memiliki 30 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Tirezone adalah buah kerjasama dengan Michelin yang notabene memiliki 10 persen dari saham GJTL.

Dengan mampu terus berkembang memasuki pasar yang potensial ke depan, seperti pasar replacement tire ban radial dan juga pasar OEM, didukung dengan kerjasama yang kuat dengan berbagai perusahaan kelas dunia, GJTL akan berkembang menjadi salah satu produsen ban yang diperhitungkan tidak hanya di Indonesia, ataupun Asia, tapi juga di dunia.

"Philip Kotler's Executive Class: 68 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: