Saturday, March 28, 2009

[Kompas 100]: Duta Graha Indah: A Compact Construction Company

Sabtu, 28 Maret 2009 | 07:48 WIB

Meski tentara Swiss relatif tidak dikenal kiprahnya, Swiss Army knife sangat populer.

Pisau ini adalah pisau serba bisa yang gampang diperoleh dimana-mana. Maklum pisau ini memang beda dengan pisau komando para tentara dimanapun di dunia. Kalau pisau komando para tentara bisa merupakan survival tool dalam menghadapi hidup dan mati, maka Swiss Army knife bisa menjadi penyelamat bagi banyak orang yang tidak memiliki tool set tapi ingin memperbaiki sendiri berbagai masalah kecil di rumahnya.

Swiss Army knife tak ubahnya micro tool set, karena dilengkapi dengan peralatan perkakas yang paling banyak digunakan di rumah tangga. Mulai dari obeng hingga alat pengungkit untuk makanan kaleng. Jadi tak heran kalau banyak rumah tangga di dunia yang merasa wajib memilikinya.

Swiss Army knife yang fenomenal ini seperti melengkapi kejayaan Swiss sebagai negara penghasil produk rekayasa teknik serba mini. Dari negeri itu telah lahir berbagai produk arloji mekanik –simbol rekayasa teknik serba mini- yang banyak diantaranya merupakan merek-merek yang sudah terkenal di dunia berabad-abad. Jadi sebuah pisau serba bisa yang compact dan gampang dioperasikan siapapun terasa wajar kalau berasal dari Swiss.

Keunikan karakteristik Swiss Army knife itu bisa menjadi inspirasi banyak perusahaan yang kebetulan dari segi ukuran bukan terbesar di industrinya. Di industri konstruksi Indonesia, PT Duta Graha Indah Tbk (DGIK) adalah contoh perusahaan yang bukan pemain terbesar tapi terbukti sebagai sebuah perusahaan yang compact. Dimana ukuran tersebut diimbangi dengan kesiapan untuk masuk ke berbagai pasar baru.

Bermula sebagai perusahaan konstruksi yang mengerjakan berbagai proyek di Jakarta dan pulau Jawa di empat tahun pertama keberadaannya, mulai tahun 1986 DGIK menggarap proyek-proyek infrastruktur di luar pulau Jawa, yaitu Lampung dan Sumatera Selatan, seperti stadiun, jalan dan proyek irigasi selama tiga tahun. Bagi DGIK, periode ini seolah merupakan periode membangun kompetensi menangani proyek infrastruktur di area dengan akses transportasi yang relatif terbatas. Berbekal pengalaman semacam itu, mulai tahun 1990 sampai tahun 1997 DGIK kemudian memperluas aktivitasnya di proyek infrastruktur ke wilayah luar pulau Jawa lainnya, seperti di Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.

Periode 7 tahun tersebut bisa dibilang tahapan kedua membangun brand equity, karena dalam tahap ini DGIK bukan hanya sekadar mengerjakan proyek konstruksi dan infrastuktur tapi juga mencoba membangun perceived quality. Ini misalnya dilihat dari kemampuannya menyelesaikan proyek seperti jalan raya sepanjang 204 km di medan yang sulit di Nusa Tenggara Timur dan juga sebagai perusahaan konstruksi swasta pertama yang membangun bendungan, yaitu Bendungan Sermo, serta gedung-gedung tinggi di Jakarta yang salah satu adalah gedung yang kini merupakan kantor Bursa Efek Indonesia. Dengan portfolio semacam ini, DGIK bukan hanya punya pengalaman yang luas tapi juga berkualitas.

Meskipun demikian, DGIK tidak bisa mengelakkan diri dari dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia di tahun 1997-1998. Krisis tersebut bahkan memaksa DGIK sampai dengan tahun 2002 lebih memilih proyek infrastruktur yang didanai Asian Development Bank dan World Bank, dan proyek konstruksi lain yang aman dari segi pendanaan. Boleh dikata, dalam kurun waktu 1997-2002 DGIK memilih berhati-hati sambil memanfaatkan brand equity yang berhasil dibangun selama kurun waktu 1990 – 1997.

Setelah yakin bahwa mulai tahun 2003 business landscape di industri konstruksi Indonesia kembali terlihat cerah, terutama setelah Otonomi Daerah, yang mulai diberlakukan di tahun 2001, mendorong percepatan proyek insfrastruktur di daerah, DGIK kembali tancap gas.

Berbekal pengalaman panjang membangun proyek insfrastruktur yang berkualitas di wilayah dengan akses transportasi yang terbatas, DGIK bergerak aktif menggarap berbagai proyek infrastrukur di luar Jawa, mulai dari proyek konstruksi dan infrastruktur dengan akses transportasi yang menantang seperti di kepulauan Natuna hingga ke salah satu landmark di pulau Sulawasi, bandara Sultan Hasanuddin di Makasar Sulawesi Selatan. Portfolio proyek semacam itu masih ditambah dengan pembangunan kompleks Grand Indonesia yang merupakan salah satu commercial development besar di Indonesia dan kompleks ini mencakup mall terbesar di Asia Tenggara, gedung perkantoran, hotel dan apartemen yang terletak di jantung kota Jakarta.

Pencapaian semacam itu menunjukkan bahwa sekalipun DGIK bukan merupakan yang terbesar tapi memiliki porfolio proyek yang impresif. Dengan kata lain, DGIK tak ubahnya seperti a compact construction company.

"Philip Kotler's Executive Class: 60 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: