Sunday, March 29, 2009

Investasi & Keuangan: Beli Saham ketika Bursa Bergerak?

Minggu, 29 Maret 2009 | 03:52 WIB

Adler Haymans Manurung Praktisi keuangan

Hampir seminggu lebih bursa mengalami kenaikan dan berbagai pihak mulai menganalisis lebih dalam. Bursa mulai naik sejak awal Maret. IHSG awal bulan berada pada level 1.256 dan pada Selasa (24/3) pada level 1.436 atau terjadi kenaikan 180 poin atau terjadi pertumbuhan (capital gain) 14,33 persen.

Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari investasi di deposito dan obligasi, tetapi risikonya memang lebih tinggi. Apa sebenarnya yang terjadi hingga bursa tumbuh cukup bagus dalam waktu kurang dari satu bulan? Apakah dapat kembali mencapai nilai tertinggi seperti pada Januari 2008? Bagaimana cara memilih saham-saham itu? Apakah tidak selayaknya melakukan profit taking agar memperoleh capital gain?

Bila dipelajari mendetail, kenaikan atau penurunan bursa dipengaruhi informasi di pasar dan yang diterima investor. Informasi paling kuat saat ini adalah mengenai pasar regional dan pasar negara maju, terutama situasi di Amerika Serikat.

Informasi tersebut sangat penting karena kapitalisasi pasar bursa di Amerika Serikat merupakan yang terbesar di dunia sehingga persoalan di bursa Amerika Serikat juga menjadi persoalan dunia.

Informasi yang memberi angin segar adalah Pemerintah Amerika Serikat akan membeli aset-aset beracun di lembaga keuangan, persis seperti yang dilakukan Indonesia ketika krisis tahun 1998.

Pemerintah Amerika Serikat akan membeli semua aset beracun sehingga lembaga keuangan tersebut bersih dari semua persoalan dan bisa bangkit kembali menggerakkan perekonomian. Tindakan ini menjadi perdebatan di masyarakat Amerika Serikat, termasuk para ekonom di sana.

Informasi ini memberi ekspektasi pertumbuhan ekonomi di negara tersebut melalui pertumbuhan perusahaan sehingga harga saham diharapkan akan bertumbuh pula. Ekspektasi ekonomi ini berdampak ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, sehingga beberapa bursa mengalami kenaikan. Bila informasi yang baik tersebut terus mengalir ke bursa, bursa terus akan naik.

Jika diperhatikan saksama, sebenarnya bursa kita harus naik karena tidak ada persoalan mendasar yang membuat perusahaan kita tidak tumbuh. Bila pertumbuhan ingin ditingkatkan, pemerintah seharusnya memperbesar pengeluaran untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama untuk membangun jalan baru dan perbaikan yang rusak.

Gerbong kereta

Ekspektasi kenaikan bursa yang berlanjut dapat dianalogikan seperti kereta api yang menaiki perbukitan kecil yang terdiri dari lokomotif dan beberapa gerbong. Urutan gerbong ini dapat dianalogikan sebagai urutan saham, dimulai dari saham yang berkapitalisasi besar sampai dengan saham berkapitalisasi kecil.

Lokomotif dan gerbong pertama bisa dianggap sebagai saham-saham berkapitalisasi besar. Gerbong selanjutnya adalah saham berkapitalisasi menengah atau perusahaan berukuran medium. Selanjutnya, berakhir dengan saham berkapitalisasi kecil atau sering disebut perusahaan kecil. Untuk naik ke perbukitan tersebut, kereta paling depan yang pertama naik, yaitu gerbong dengan saham perusahaan besar dan di dalamnya ada saham blue chips.

Ketika saham berkapitalisasi besar sudah di puncak bukit, sebaiknya dijual dan kemudian membeli saham berkapitalisasi medium saat saham berkapitalisasi besar sudah mulai turun menuju ke arah nilai wajarnya. Ketika saham berkapitalisasi medium sampai di puncak bukit dijual dan kemudian membeli saham berkapitalisasi kecil. Dan seterusnya.

Pertanyaannya, berapa besar kenaikan agar bisa langsung keluar dan menukar saham yang dimiliki. Besarannya bergantung pada kekuatan hati para investor. Tetapi, investor jangan selalu rakus dan harus rasional. Bila investor sudah memandang cukup dan harus keluar, sahamnya harus segera dijual. Bila investor menentukan besarannya 10 persen, nilai 10 persen ini harus dibandingkan dengan hasil investasi pada bidang lain dan risiko yang dapat ditoleransi.

Selanjutnya, transaksi saham dapat juga dianalogikan seperti ibu atau wanita makan di pesta perkawinan dengan makanan sangat beragam, ingin mencicipi semua makanan tersebut, yang di meja sajian utama maupun yang ada di gubuk-gubuk makanan. Ibu tersebut akan mengambil makanan sedikit-sedikit untuk setiap makanan sehingga semua makanan dapat dicicipi.

Bertransaksi saham dapat dilakukan seperti ibu tersebut. Saham dibeli dan bila dirasakan sudah cukup capital gain-nya dijual, baru membeli saham lain. Artinya, semua caham dicoba, tetapi dengan keuntungan kecil sehingga hasilnya juga besar. Investor membeli lima saham sekaligus dan menunggu naik sekitar 5 persen sampai 10 persen dan keluar, kemudian membeli saham lain. Artinya, keuntungan investor juga sangat besar dan juga telah melakukan diversifikasi risiko. Saham-saham yang akan dibeli sebaiknya dianalisis dan dengan mengajak para analis berdiskusi. Selamat berinvestasi.

Kompas

- Muhammad Idham Azhari

No comments: