Friday, April 10, 2009

[Kompas 100]: London Sumatera: "A Dynamic Century-Old Plantation Company"

Bagian 58 dari 100

Jumat, 10 April 2009 | 09:26 WIB

Apakah Olimpiade Athena 2004 memang bisa berjalan?

Begitu pertanyaan yang muncul sejak awal tahun 2004 hingga bulan Juni 2004, bukan hanya di seluruh dunia tapi juga di Yunani. Athena memang dipilih sebagai tuan rumah lebih karena faktor historis sebagai negeri yang melahirkan Olimpiade, alias berbeda dengan generasi paska Olimpiade Los Angeles 1984 –yang pertama kali sukses secara komersial– yang lebih menitikberatkan ke proposal yang ditawarkan. Tapi proses seleksi semacam itu ternyata tidak membuat banyak orang untuk menurunkan ekspektasi mereka akan sebuah Olimpade yang sukses seperti di lima kota sebelumnya.

Dan itulah yang merepotkan Yunani. Negeri ini, sekalipun merupakan anggota Uni Eropa, bukanlah negeri yang kaya yang punya—atau sanggup menyediakan—infrastruktur moderen layaknya kota metropolitan dunia dalam waktu relatif cepat. Di sisi lain, sebagai kota yang punya banyak peninggalan bersejarah dan masuk dalam perlindungan UNESCO, Athena tidak bisa seperti kota lain yang gampang membangun infrasruktur baru.

Memang, bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke Athena atau Yunani, akan gampang menemui berbagai situs kuno dan peninggalan bersejarah yang berumur ratusan tahun dan tetap dalam kondisi yang bagus. Itu bukan hanya yang berada di atas permukaan tanah, tapi juga yang di bawah tanah. Karena merupakan situs dan peninggalan yang dilindungi, maka proses pembangunan infrastruktur, seperti kereta bawah tanah, kadang-kadang mesti di stop begitu bertemu dengan situs kuno atau peninggalan bersejarah.

Maka bisa dibayangkan betapa stresnya Dora Bakoyannis, wanita pertama yang terpilih sebagai walikota Athena di tahun 2002. Sekalipun merupakan anggota dari salah satu keluarga politisi terkemuka Yunani, ia adalah pejabat publik dari negeri yang dikenal luas sebagai tempat lahirnya demokrasi. Sehingga bukan hal gampang bagi dia untuk bisa mengambil keputusan yang cepat.

Akhirnya, sekalipun menghadapi banyak rintangan, Olimpiade Athena akhirnya bisa terlaksana sesuai dengan jadwal dan bahkan memiliki upacara pembukaan yang mungkin paling mengesankan sepanjang sejarah Olimpiade. Sekalipun perkampungan Olimpiade yang dibangunnya gagal menjadi sebuah kawasan residensial baru, tapi kota ini berhasil menciptakan infrastruktur baru yang unik. Seperti jaringan kereta bawah tanah yang di sejumlah tempat dilengkapi dengan berbagai situs kuno dan peninggalan bersejarah.

Sayangnya, hal tersebut terakhir ini tidak banyak dilihat orang, meski merupakan hasil dari pekerjaan yang sangat sulit. Resiko semacam ini, biasanya juga dihadapi oleh perusahaan yang umurnya ratusan tahun, dan produknya secara sepintas, nyaris tidak pernah berubah. Salah satu perusahaan yang menghadapi tantangan tersebut adalah PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Plantation Tbk (LSIP), perusahaan yang selama lebih dari 100 tahun bergerak di bidang bisnis yang sama: perkebunan, sekalipun komoditas utama yang dijualnya sudah berubah dari yang semula karet --dan kini masih dijual sekalipun bukan kontributor terbesar—menjadi kelapa sawit sejak akhir tahun 90-an.

Bermula dari perkebunan di Sumatera, LSIP kini memiliki 37 perkebunan inti dan 14 perkebunan yang bukan lagi hanya berada di Sumatera tapi juga di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, LSIP tidak hanya sekedar menjual produk-produk komoditas seperti kelapa sawit, karet, kakao dan teh, tapi juga masuk ke area bisnis pembibitan, penanaman, pemanenan, pengolahan dan pemrosesan. Dalam menjalankan kegiatan operasional yang sudah meluas, LSIP didukung oleh divisi khusus riset yang memproduksi benih varietas unggul, dan dilengkapi dengan fasilitas laboratorium untuk analisa tanah, daun, pupuk, air, dan latek, laboratorium kultur jaringan dan DNA Marker, serta laboratorium hama dan penyakit tanaman.

Nama London yang ada pada LSIP ini terkait dengan pendirinya, yaitu perusahaan perkebunan Harrisons & Crossfields Plc (H&C) yang berbasis di London. Berdiri di tahun 1906, LSIP ini bisa berkembang dan punya reputasi internasional yang panjang dan mampu melewati berbagai perubahan besar dalam lingkungan usahanya dengan mengandalkan comparative advantage yang melekat pada tanaman dan wilayah penanaman. Sekalipun cara ini masih relevan, LSIP ternyata terus memperhatikan tantangan baru seperti produktivitas kebun per satuan area, proses quality control tanaman di areal perkebunan yang sangat luas dan isu lingkungan yang terkait dengan tanaman tertentu.

Ternyata LSIP tidak hanya sekedar mengandalkan nama London ataupun nama perusahaan yang seabad dikenal di dunia, tapi memang serius mencari jawaban untuk tiga tantangan baru tersebut. Misal untuk produktivitas kebun, LSIP memiliki laboratorium khusus yang mampu menghasilkan benih tanaman terbaik; untuk proses quality control mereka punya sistem berbasis satelit untuk mengontrol kondisi tanaman di areal yang terpencil; dan untuk isu lingkungan, sudah dijawab dengan pemenuhan terhadap standar Rountable on Sustainable Palm Oil. Dengan cara seperti ini, LSIP tak ubahnya seperti perusahaan seabad tapi sedinamis perusahaan yang masih berumur muda.


"Philip Kotler's Executive Class: 47 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: