Friday, April 17, 2009

[Kompas 100]: Bayan Resources: "A Multi-Type Coal Producer"

Jumat, 17 April 2009 | 08:12 WIB

Lee Kuan Yew tidak kuasa menahan rasa sedihnya di depan publik.

Soalnya ia menghadapi kejadian yang sungguh tidak terbayangkan baginya, terutama setelah di pertengahan tahun 1965 para pemimpin politik di Malaysia ”mempersilahkan” Singapura untuk berdiri sendiri sebagai sebuah negara. Sebetulnya, ia dan para pemimpin politik Singapora lainnya lebih memilih agar Singapura tetap bersatu dengan Malaysia agar bisa memunculkan sebuah negara yang disegani di kawasan Asia Tenggara. Lagipula sejumlah perbedaan pandangan terkait dengan pengelolaan negara Malaysia-Singapura bersatu sebetulnya masih bisa dicarikan jalan keluar yang berupa win-win solution.

Sekalipun kecewa dengan kejadian tersebut, ia kemudian meyakinkan rakyat Singapura agar tidak berkecil hati. Singapura memang sebuah negara kecil yang tidak punya sumber daya alam yang berlimpah seperti negara-negara tetangganya yang jauh lebih besar. Tapi Singapura punya posisi yang strategis dan sudah dikenal dunia.

Dengan bekal semacam itu, ia kemudian ingin mentransformasikan posisi strategis Singapura, dari sekedar tempat persinggahan utama untuk mengisi bahan bakar atau istirahat sementara, menjadi pusat kegiatan bisnis di Asia Tenggara. Di tahun 1965, hal tersebut terakhir bisa dianggap sebagai mimpi. Soalnya, pada pertengahan dekade 60-an negara-negara di kawasan Asia Tenggara masih disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis, dimana dalam kasus Vietnam bahkan sampai membuat negara asing masuk.

Tapi kondisi Asia Tenggara yang semacam itu seolah-olah merupakan jendela yang terbuka hanya sekali bagi Singapura. Soalnya, kalau pada saat itu negara-negara Asia Tenggara yang punya sumber daya alam berlimpah sudah bebas dari urusan sosial politik dan sudah melangkah jauh dalam pembangunan ekonomi, bisa-bisa Singapura hanya dijadikan tempat numpang lewat. Karena perusahaan atau negara yang ingin melakukan ekspansi ekonomi tentu lebih suka langsung masuk ke target market yang dibidik.

Tentu jendela yang terbuka hanya sekali harus dimanfaatkan sebaik mungkin, dengan resources yang ada. Karena itu, posisi sebagai sebuah negara yang kecil, dengan jumlah penduduk yang sedikit serta tidak punya sumber daya alam, tidak bisa hanya jadi kelemahan tapi justru malah jadi kesempatan untuk menata lebih cepat negara baru tersebut. Itulah yang memang dilakukan Lee Kuan Yew dan ternyata membuat banyak perusahaan atau negara yang ingin melakukan ekspansi ekonomi ke Asia Tenggara memilih Singapura sebagai batu pijakan dan akhirnya ikut me-reshape Singapura sebagai pusat bisnis Asia Tenggara.

Transformasi Singapura menjadi negara maju, sering dijadikan inspirasi bagaimana mengubah kelemahan, seperti ukuran yang kecil dan punya banyak keterbatasan, menjadi peluang untuk melakukan perbaikan diri dengan cepat. Inilah yang sepertinya sedang dilakukan oleh PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan batu bara terbesar kedelapan yang dari segi volume produksi tidak sampai sepersepuluhnya pemain terbesar pertama. Dengan ukuran yang seperti itu, BYAN memang tidak bisa layaknya pemain-pemain yang jauh lebuh besar yang bisa lebih optimal memanfaatkan harga batu bara yang tinggi.

Tapi, sebagai salah satu perusahaan batu bara asal Indonesia, bagaimanapun juga BYAN, yang banyak menjual produknya ke pasar ekspor, ikut diuntungkan ketika batubara asal Indonesia mulai dijadikan pilihan karena kualitas dan harganya. Namun BYAN tidak ingin hanya asal terbawa arus, tapi juga ingin menunjukkan bahwa mereka punya keunikan produk yang membuatnya bisa mempunyai basis pasar yang kuat. Agak berbeda dengan kebanyakan perusahaan batu bara lain, yang produknya nyaris homogen, BYAN punya produk yang batubara yang bervariatif, dilihat dari tingkat kalorinya.

Pengguna batu bara itu sendiri memang bermacam-macam. Ada yang membutuhkan batu bara dengan kalori yang sangat rendah, rendah, menengah, tinggi hingga premium. Dengan tipe kebutuhan yang beragam seperti ini, BYAN berharap bisa masuk ke pasar yang lebih bervariasi.

Bagaimanapun juga, produk-produk batu bara dari perusahaan Indonesia lainnya yang lebih besar punya kualitas dan harga tertentu, yang bisa jadi akan berfungsi sebagai benchmark bagi perusahaan batubara lainnya yang lebih kecil. Bagi perusahaan batubara kecil yang produknya homogen, kondisi tersebut membuatnya tidak bisa efektif mengeksplorasi harga. Karena itu, adanya produk-produk yang berbeda dengan yang dimiliki para pemain besar, bisa membuat pemain sekelas BYAN mampu mengeksplorasi penetapan harga yang disesuaikan dengan target market yang berbeda.

Dan BYAN punya peluang seperti itu karena memiliki dan mengoperasikan terminal batu bara terbesar di Indonesia, yang berada di Balikpapan. Selain itu, BYAN juga menjadi satu-satunya perusahaan batu bara di Indonesia yang menyewa Floating Transfer Station, yang sedang dalam proses diakuisi, yang bisa dipakai sebagai tempat penampungan sementara batu bara, dan bisa dipindahkan kapanpun sesuai dengan kebutuhan. Sehingga dengan demiliki terminal dan Floating Transfer Station, BYAN semakin dapat melakukan efisiensi operasional yang lebih baik.


"Philip Kotler's Executive Class: 40 Days To Go"


Hermawan Kartajaya, Taufik


Kompas

No comments: