Wednesday, April 29, 2009

[Kompas 100]: Aneka Tambang: "A Leading Various Valuable Metals Producer"

Rabu, 29 April 2009 | 07:45 WIB

Mikhail Prokhorov memang tidak seterkenal Roman Abramovich.

Orang memang jadi lebih akrab dengan Abramovich hanya karena dia adalah pemilik klub sepakbola asal kota London, Inggris, yaitu Chelsea. Sejak dimilikinya, prestasi klub ini terus menjulang, terutama di Liga Inggris. Bahkan klub ini kemudian menjadi salah satu klub Inggris yang paling banyak diperhitungkan di Eropa.

Untuk mencapai prestasi itu, Abramovich boleh dibilang tidak sayang uang. Ia bahkan tidak ragu untuk memburu pelatih dan pemain terbaik di dunia yang money can buy dan tentu saja sedang on sale. Dengan cara seperti itu, ia berhasil menjadikan Chelsea sebagai klub yang disegani di lapangan dan di luar lapangan.

Di luar aktivitas dengan Chelsea, Abramovich sebetulnya tidak ada bedanya dengan Prokhorov. Mereka sama-sama billionaire yang masih berusia muda dan gemar berfoya-foya, yang susah ditandingi oleh orang kaya lainnya. Abramovich misalnya memiliki dua yatch besar yang bahkan harus dioperasikan oleh awak kapal yang cukup banyak, sementara Prokhorov membeli villa di Perancis Selatan seharga 400 juta Euro.

Ada kabar yang menyatakan ia kesulitan untuk melunasi pembelian tersebut. Kalau benar, ini mungkin lebih ke harga yang disadari kemahalan, dan bukan karena ia tidak punya uang. Maklum, ia adalah orang terkaya Rusia di tahun 2008 dan sekaligus punya uang tunai paling banyak berkat keputusan yang diambilnya untuk menjual kepemilikan sahamnya di perusahaan nikel terbesar di dunia, Norilsk, tepat sebelum ambruknya harga saham komoditas pertambangan di tahun 2008.

Bisnis pertambangan adalah bisnis yang sensitive terhadap siklus bisnis. Ada saatnya di mana logam tertentu harganya meroket gila-gilaan, dan di lain waktu harganya merosot tajam. Karena itu, kalau hanya bergantung pada satu komoditas logam tertentu, bisa-bisa sebuah perusahaan akan hidup seperti mengarungi roller coaster.

Itulah sebabnya perusahaan seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bisa dibilang lebih beruntung dibandingkan perusahaan pertambangan lainnya, yang hanya bergantung pada satu komoditas logam. Perjalanan usaha perusahaan pertambangan hasil merger berbagai perusahaan tambang komoditas tunggal di tahun 1968 yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Republik Indonesia dan sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Australia ini dimulai dengan ditemukannya cadangan nikel di Pomaala Sulawesi Tenggara di tahun 1909, yang kemudian diikuti dengan cadangan bauxite di Bintan Riau pada tahun 1924. Setahun setelah mulai memproduksi bauxite di tahun 1935, ANTM menemukan cadangan emas di Cikotok, Jawa Barat.

Dengan pengalaman panjang melakukan eksplorasi, penambangan dan pengolahan serta menjual berbagai komoditas logam yang berharga mahal, ANTM paham benar akan arti penting dari tidak bergantung pada satu komoditas. Karena itu, meski mengelola berbagai macam tambang untuk komoditas logam yang berbeda itu tidak mudah, terutama jika dikaitkan dengan kesulitan menemukan dan memiliki berbagai macam cadangan logam mulia dalam jumlah yang besar dengan kualitas yang bagus, ANTM tetap mempertahankan bisnisnya sebagai perusahaan tambang untuk berbagai logam berharga. Salah satu contoh tantangan berat untuk menjaga positioning tersebut adalah ketika dampak otonomi daerah membuat sejumlah kabupaten yang memiliki cadangan untuk komoditas logam tertentu ternyata ingin mengubah ijin penambangan untuk suatu komoditas yang sebelumnya diperolehnya.

ANTM sendiri pada saat ini mempunyai portofolio penambangan logam mulia ferronickel, nickel ore, gold, bauxite, dan silver, dimana nickel adalah kontributor yang sangat besar. Meskipun demikian, tidak berarti ANTM bisa tenang-tenang saja karena sudah memiliki berbagai macam komoditas logam. Di setiap komoditas, ANTM mesti siap bersaing dengan pemain raksasa global yang punya tambang di berbagai negara, punya modal besar dan bisa beroperasi secara efisien.

Karena itu, mau tidak mau ANTM mesti bisa seperti mereka dalam skala yang lebih kecil. Untuk keperluan tersebut, ada beberapa hal yang mesti dilakukan ANTM. Pertama, mesti berfokus di kategori logam yang paling dikenal dan dikuasai, alias ANTM tidak bisa asal masuk ke berbagai jenis tambang, meskipun dari kata ”Aneka” yang ada pada nama perusahaan hal ini sepertinya bukan merupakan masalah. Kedua, ANTM mesti menjadi low cost producer dan tidak mempunyai utang besar. Dan ketiga adalah melakukan aliansi dengan pemain internasional yang akan memungkinkan peningkatan efisiensi operasional.

Keberhasilannya untuk menjadi pemain dengan efisiensi operasional berstandar tinggi di tingkat internasional akan membuat ANTM --yang bisa jadi bukan pemain besar dunia di setiap kategori logam yang digelutinya-- muncul bukan hanya sekedar sebagai producer bermacam-macam logam berharga, tapi menjadi a leading various valuable metal producer.


"Philip Kotler's Executive Class: 28 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: