Sunday, April 12, 2009

Investasi & Keuangan: Bermain Saham Kecil

Minggu, 12 April 2009 | 03:11 WIB

Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Minggu lalu, Bank Indonesia menurunkan tingkat BI Rate menjadi 7,5 persen. Penurunan ini sangat diharapkan masyarakat agar aktivitas ekonomi meningkat.

Penurunan itu sayangnya belum diikuti penurunan bunga kredit perbankan. Padahal, tingkat bunga deposito langsung turun. Artinya, bank mengambil kesempatan mendapatkan margin tinggi sehingga keuntungan perusahaan bisa naik tajam.

Biasanya turunnya tingkat bunga akan membuat harga saham naik, dan sebaliknya harga saham naik bila tingkat bunga turun. Tetapi, belakangan terjadi anomali, turunnya tingkat bunga tidak mendongkrak harga saham, bahkan keduanya sama-sama turun. Anomali ini disebabkan situasi ekonomi di dalam dan luar negeri tidak mendukung.

Bila penurunan tingkat bunga menaikkan harga saham, maka saham berkapitalisasi kecil mengalami kenaikan cukup besar secara persentase. Misalkan, bila investor membeli saham TLKM pada harga Rp 6.500 dan naik menjadi Rp 7.000, maka terjadi kenaikan 7,69 persen. Bila investor membeli PGAS dengan harga Rp 2.000 dan naik jadi Rp 2.500, maka investor mendapat kenaikan 25 persen. Secara absolut nilainya sama, tetapi secara persentase jauh lebih tinggi.

Karena itu, investor selayaknya membeli saham kecil untuk mendapat persentase keuntungan tinggi. Manajer investasi menyebutkan, saham ini merupakan saham-saham roket, artinya menaikkan tingkat portofolio secara tajam, apalagi bila membuat alokasi aset cukup besar pada saham itu.

Lalu, apa kriteria saham kecil? Saham kecil adalah saham berkapitalisasi pasar kecil, di mana saat ini dianggap nilainya kurang dari Rp 300 miliar.

Kapitalisasi pasar saham adalah hasil perkalian harga saham perusahaan di bursa dengan jumlah saham yang dicatatkan. Jumlah saham yang dicatatkan bisa tetap sepanjang masa atau bervariasi, tergantung aksi perusahaan (corporate action) mengenai saham tersebut.

Bila saham cukup besar dicatatkan dan harganya juga tinggi, maka saham tersebut dapat masuk dalam kelompok saham berkapitalisasi besar. Ada juga saham yang awalnya masuk bursa langsung berkapitalisasi besar, tetapi karena kemerosotan perusahaan mengakibatkan perubahan kapitalisasi pasar sehingga masuk kelompok saham kecil.

Likuiditas saham

Selanjutnya, memilih saham mana agar tidak rugi. Investor yang sangat pintar pertama kali menggunakan kriteria likuiditas saham, yaitu seberapa cepat saham tersebut dapat dijual di pasar.

Bila investor menjual dengan harga wajar dan langsung terjual, maka saham tersebut termasuk likuid. Alasan menempatkan faktor likuiditas pada urutan pertama dan bukan nilai fundamental perusahaan adalah agar keinginan investor dapat terpenuhi bila ingin mendapat dana tunai dengan cepat.

Manajer investasi akan menggunakan variabel likuiditas sebagai kriteria utama. Bila investor mencairkan portofolionya, maka manajer investasi harus cepat menjual. Bila tidak memenuhi permintaan investor, maka manajer investasi akan mengalami problem dan tidak akan dipercaya sehingga jumlah klien mengecil.

Berikutnya, fundamental perusahaan. Kondisi perusahaan saat ini dan masa mendatang sangat penting karena fundamental yang bagus memungkinkan harga saham naik karena investor ingin nilai investasinya meningkat. Kenaikan harga saham mengakibatkan nilai investasi juga naik.

Investor selalu memerhatikan fundamental masa mendatang karena pembelian saham sebenarnya adalah terhadap prospek perusahaan. Fundamental ini diperoleh dari hasil kerja para analis di bursa saham. Mereka menilai perusahaan sehingga dapat memutuskan membeli atau tidak membeli saham.

Fundamental perusahaan bisa dilihat dari pertumbuhan laba masa mendatang atau laba bersih per saham dari proyeksi perusahaan. Analis harus mendapat informasi memadai sehingga layak mengestimasi saham-saham tersebut. Investor juga harus memperkirakan kejadian apa atau sumbangan apa terhadap perusahaan bila tingkat bunga turun.

Selanjutnya manajemen perusahaan. Banyak perusahaan kecil dikelola profesional yang baik dan memberi hasil optimal. Bila profesional itu didukung pihak yang sangat berkepentingan, maka perusahaan tersebut dapat bertumbuh cepat mengalahkan perusahaan lain.

Investor juga harus memerhatikan pemain saham dan sejarah saham. Jangan sampai harga saham sudah naik, investor baru masuk membeli. Sejarah harga saham yang dikaitkan dengan fundamental perusahaan akan menghasilkan keputusan yang optimal.

Perhatikan juga soal legal perusahaan. Sebaiknya hindari perusahaan yang sedang punya persoalan di pengadilan. Investor dapat membeli saham itu bila perusahaan memenangi tuntutan hukum.

Hal lain, volatilitas saham bersangkutan. Biasanya saham bervolatilitas tinggi memberi hasil tinggi. Bila investor ingin memperdagangkan saham, maka saham bervolatilitas tinggi sangat dibutuhkan. Tetapi, saham ini tidak cocok untuk investor dengan tujuan jangka panjang.

Investor juga harus hati-hati membeli saham berkapitalisasi kecil karena ada kemungkinan risiko rugi. Biasanya saham ini sering dipermainkan pemain pasar. Oleh karenanya, investor harus mencari informasi saham bervolatilitas tinggi yang digoreng pemain pasar.

Semakin banyak variabel yang diperhatikan, berisiko kemungkinan keterlambatan membeli saham. Oleh karena itu, pengalaman investor dapat juga digunakan untuk menentukan waktu tepat membeli saham kecil ini. Selamat berinvestasi.

Kompas

No comments: