Thursday, February 26, 2009

[Kompas 100]: Bank Pan Indonesia: "A Very Liquid but Low-profile bank"

Bagian 17 dari 100

Kamis, 26 Februari 2009 | 07:20 WIB

“All You Need is Love.” begitu kata the Beatles!

Oleh Majalah Economist kalimat tersebut kemudian diplesetkan menjadi “All You Need is Cash!” Majalah yang dikenal cermat dalam memprediksi dan mengantisipasi kejadian di masa depan itu memprediksi dampak krisis keuangan global pada dunia manajemen di masa depan. Menurutnya legacy dari krisis keuangan global akan terlihat pada perilaku para manajer dalam menyikapi uang kas.

Tidak jelas studi apa yang menjadi dasar majalah tersebut membuat prediksi semacam itu. Tapi yang jelas krisis yang melanda Indonesia di tahun 1997 – 1998 ternyata menciptakan trauma yang sulit dihapuskan dari pikiran para bankir Indonesia. Akibatnya mereka memilih punya Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi (double digit) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang rendah (jauh di bawah 100 persen).

Dampaknya, seperti yang pernah dipaparkan Faisal Basri, secara rata-rata CAR – indicator likuiditas – perbankan Indonesia lebih tinggi dari perbankan regional. Bahkan untuk indikator kesehatan perbankan lainnya, seperti ROA, ROE dan NIM, perbankan Indonesia juga di atas perbankan regional. Hanya di LDR yang lebih rendah dan itu tidak terlalu dipusingkan benar oleh para bankir Indonesia, karena bagi mereka cash is the king.

Yang menarik, kalau sebagian bank besar di Indonesia begitu teguh dengan prinsip itu karena trauma dengan pelajaran mahal di tahun 1997 – 1998, maka PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) memang selalu menggenggam paradigma serupa dari dulu hingga nanti. Paradigma itulah yang membuat bank swasta terbesar ke-4 dan bank nasional terbesar ke-7 ini bisa melewati krisis 1997 – 1998 tanpa membutuhkan dana rekapitalisasi pemerintah. Bukan hanya tidak butuh dana rekapitalasasi, tapi bank tersebut bahkan menjadi bank besar nasional yang siap mengakuisisi bank besar yang diprivatisasi yang antara lain untuk mengembalikan sebagian dana rekapitalisasi.

Tentu kemampuan PNBN seperti itu mengundang keingintahuan orang mengenai diferensiasi yang dimiliki bank ini, yang didirikan di tahun 1971 dan juga merupakan bank nasional pertama yang go public di tahun 1982. Soal bankir handal, bank besar nasional lainnya punya. Tapi yang membedakan PNBN adalah adanya orang yang sangat disiplin menjaga prinsip tersebut.

Pendiri PNBN, Mukmin Ali Gunawan, boleh dibilang adalah bankir yang mengkonsentrasikan seluruh pikiran dan resources pada perkembangan bank ini. Ini memang seperti menyia-nyiakan peluang yang ada, terutama kalau melihat bankir atau pebisnis yang muncul di panggung bisnis dalam waktu yang bersamaan bisa punya lingkup bisnis yang lebih luas dan secara total lebih besar dari bisnis yang dimiliki pendiri PNBN ini. Dan yang lebih menarik lagi, ditengah-tengah gegap gempita perbankan Indonesia pra krisis 1997 – 1998, PNBN memilih untuk low profile.

Bisa jadi karena kombinasi sebagai bank yang low profile, tidak neko-neko tapi likuid dan profitable membuat ANZ, yang di tahun 1993 mendirikan bank patungan dengan PNBN, tertarik untuk menjadi strategic partner-nya. Aliansi dengan ANZ, yang kemudian diikuti penguasaan saham PNBN hingga 30 persen, membuat posisinya semakin kuat. Dan ANZ tidak membuat keputusan yang salah kalau dilihat dari pesatnya perkembangan bisnis PNBN selanjutnya yang dicapai dengan indikator kesehatan perbankan yang tinggi.

Bukan hanya itu saja pencapaian PNBN. Di sejumlah kota yang dikenal sebagai pusat bisnis di pulau atau provinsi tertentu, PNBN ternyata menjadi market leader sekalipun di kota tersebut sudah hadir sejak lama bank-bank besar nasional lainnya. Selain itu, PNBN kini juga dikenal sebagai salah satu bank nasional dengan divisi treasury yang kuat.

Meskipun demikian, kami melihat bahwa pada suatu titik PNBN mesti mendefinisi ulang posisinya sebagai bank yang sangat likuid tapi low profile. Dengan bisnis yang semakin membesar dalam scope dan value, termasuk di mass market banking, sementara awareness di mata nasabah di segmen tersebut belum begitu tinggi, PNBN bisa kurang efektif dalam bergerak ketika hendak mendongkrak komposisi ritel dana pihak ketiga maupun menggarap potensi consumer lending yang terus membesar. Kalau menjaga prinsip stabilitas likuiditas yang tinggi bisa dilakukan dalam lingkungan yang usaha yang berubah, mestinya PNBN juga tidak akan mengalami kesulitan dalam menempatkan prinsip low profile di lingkungan bisnis yang berubah.

"Philip Kotler's Executive Class 90 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: