BLOGSPOT atas

Tuesday, March 10, 2009

[Kompas 100]: Semen Gresik: "A Synergistic National Company"

Bagian 28 dari 100

Selasa, 10 Maret 2009 | 07:08 WIB

Liga sepakbola suatu negara adalah gambaran kesebelasan nasional.

Itulah yang diyakini banyak orang. Hanya saja keyakinan semacam itu tidak berlaku manakala kita bicara soal Liga Inggris dan kesebelasan nasional Inggris, paling tidak sebelum kedatangan Fabio Capello di tim nasional Inggris. Inggris, yang punya sejumlah klub sepakbola yang ditakuti di daratan Eropa, ternyata tidak punya kesebelasan nasional yang kuat, sehingga antara lain, memaksanya tidak bisa ikut Euro 2008.

Soal pemain berkualitas di berbagai lini, Inggris punya. Misalnya penyerang seperti Wayne Rooney dan Theo Walcott, pemain tengah seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, Gareth Barry dan Joe Cole, pemain bertahan seperti Ashley Cole, John Terry, Rio Ferdinand, dan Wayne Bridge serta kiper seperti David James. Dan untuk pemain cadangan, beda skill-nya tidak jauh dengan tim inti.

Hanya saja, Liga Inggris adalah liga yang paling “berani”. Inilah satu-satunya liga dimana ada klub sepakbola dalam empat besar yang pada suatu ketika bertanding di salah satu pertandingan Liga Inggris tanpa ada satupun pemain dari Inggris dengan pelatih yang juga bukan berasal dari Inggris. Dan hebatnya lagi, para pendukung klub tersebut tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

Yang lebih merepotkan lagi, banyak klub besar Liga Inggris yang suka mengambil jalan pintas dengan membeli pemain muda berbakat dari negara lain. Sehingga bakat-bakat muda Inggris banyak yang kehilangan kesempatan berkembang. Akibatnya, pilihan pemain yang tersedia untuk tim nasional juga terbatas.

Apa yang terjadi di Inggris itu berbeda dengan yang terjadi Italia dan Spanyol. Sejumlah klub besar di liga tersebut, kalau tidak mendidik sendiri pemain sejak muda, akan memilih membeli pemain muda lokal dari klub lain di liga tersebut. Sehingga pemain lokal yang bermain untuk klub cukup banyak yang akhirnya membuat pelatih nasional punya pilihan pemain yang banyak pula.

Apa yang dilakukan di Liga Italia dan Spanyol akhirnya berdampak pada prestasi tim nasionalnya. Italia juara dunia 2006 dan Spanyol juara Eropa 2008. Boleh dikata itu adalah buah kerjasama antara klub-klub liga dan persatuan sepakbola di negara tersebut untuk bisa bersinergi mengharumkan nama negara mereka. Ini suatu hal yang menarik, kalau melihat kekayaan yang dimilikinya, sejumlah klub di liga tersebut sebenarnya bisa independen menghadapi persatuan sepakbolanya.

Sinergi antar berbagai institusi yang bisa bergerak independen juga bisa dilihat pada fenomena yang terjadi di PT Semen Gresik Tbk (SMGR). Perusahaan ini adalah sebuah holding company yang memiliki Semen Padang di Indonesia Barat, Semen Gresik di Indonesia Tengah, dan Semen Tonasa di Indonesia Timur; dan mampu mensinergikannya menjadi pemain yang punya posisi kuat di tiga market territory sehingga layak disebut pemain nasional. Hebatnya lagi, meski dari capacity share sama dengan pemain semen utama lainnya, tapi untuk market share, BUMN semen jauh lebih besar.

Untuk mencapai posisinya seperti sekarang ini, SMGR telah melalui 3 milestones berat: konsolidasi, restrukturisasi, dan sinergi. Konsolidasi 3 produsen semen di pertengahan tahun 1995 memang sempat memicu sentimen kedaerahan dan persaingan internal. Pasca konsolidasi, SMGR masih harus melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan daya saingnya. Kini dengan adanya sinergi antara ketiga produsen semen dan didukung oleh manajemen yang lebih profesional, SMGR sedang giat-giatnya meningkatkan kapasitas produksi.

Selain itu, SMGR mulai membidik pasar ekspor yang saat ini kontribusinya masih kecil. Akan tetapi, untuk ke depannya, ada baiknya jika SMGR terus membangun kekuatannya di pasar domestik mengingat pemain-pemain lain, yang didukung oleh pemain asing di belakangnya, sudah berusaha untuk menyusul. Apalagi, pemain-pemain lain ini mulai bermain dengan sisi emosional konsumen, sesuatu yang belum digarap SMGR dengan konsisten. Dengan fokus yang tepat, SMGR bisa tetap kokoh tak tertandingi —seperti semboyannya— sebagai a synergistic national company yang bisa dibanggakan.

"Philip Kotler's Executive Class: 78 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Sunday, March 8, 2009

[Kompas 100]: Tiga Pilar Sejahtera Food: An Emerging Medium Sized FMCG

Bagian 27 dari 100

Minggu, 8 Maret 2009 | 09:56 WIB

APA yang terjadi di film Home Alone memang hanya cerita khayalan. Tapi ada pesan moral yang ingin disampaikan. Seorang anak yang berada di rumah sendirian, tertinggal dari anggota keluarga lainnya yang pergi merayakan liburan Natal, alias dalam situasi yang fragile, ternyata tidak mesti jadi cengeng dan kalahan. Justru ia malah bisa menunjukkan dirinya sebagai anak yang cerdik dan mandiri, meski ibunya selalu kepikiran tentang dia.

Indonesia sebetulnya punya banyak SME dengan karakteristik mirip seperti anak kecil di film Home Alone yang cerdik, mandiri dan lebih matang menghadapi tantangan baru. Sebagian besar SME semacam itu memang tidak banyak dikenal orang. Tapi ada juga beberapa yang akhirnya mengundang perhatian, atas inisiatif yang di luar dugaan.

Inilah yang misalnya ditunjukkan Perusahaan Bihun Cap Cangak Ular yang didirikan di tahun 1958 oleh Tan Pia Sioe. Keberadaan generasi baru, seperti Joko Mogoginta, membuat perusahaan agresif mengejar pertumbuhan, termasuk melalui akuisisi. Salah satu akuisisi awal perusahaan adalah pembelian PT Asia Inti Selera Tbk yang saat itu adalah market leader mi telor dengan merk Ayam 2 Telor. Dengan akuisisi ini, perusahaan memasuki bursa saham melalui backdoor listing.

Dalam perjalanan selanjutnya, perusahaan publik tersebut diubah menjadi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) yang pada saat ini adalah market leader yang menguasai sekitar 34 persen pasar mi kering di Indonesia. Di sisi lain, AISA terus bergerak mengakuisisi PT Polymeditra Indonesia di tahun 2005 yang membawanya masuk ke bisnis permen dan biskuit. Salah satu merk Polymeditra adalah Gulas, market leader untuk permen asem.

Langkah yang dilakukan AISA di tahun 2008 malah lebih spektakuler. Soalnya perusahaan mengakuisisi tiga perusahaan yang secara total menelan biaya sekitar Rp 500 Miliar, yang sebetulnya lebih besar dari total aset AISA pada waktu itu. Menariknya, ketiga perusahaan tersebut bergerak di dalam bisnis yang berbeda dengan bisnis AISA sebelumnya, yaitu perkebunan sawit, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), dan pabrik pengolahan makanan.

Perkembangan bisnis yang pesat inilah yang mungkin menjadi salah satu faktor pertimbangan hingga AISA berhasil mendapatkan Bisnis Indonesia Award 2008 untuk kategori emiten industri barang konsumsi. Kekuatan sales system AISA juga mendapat pengakuan dengan masuknya AISA dalam Top 3 pada survey Account Management Index yang dilakukan pada tahun 2008.

Professionalisme dan komitmen manajemen AISA memang kuat. Ini ditunjukkan dengan kemampuan mereka mendapatkan sertifikasi ISO 9001 pada tahun 2002, disamping juga berbagai sertifikasi industri lainnya. Kepercayaan World Food Programme terhadap AISA untuk memproduksi biskuit gratis suplemen makanan anak sekolah Indonesia, juga merupakan indikator lain dari kemampuan tim manajemen.

Sebagai produsen produk makanan, AISA memang banyak bergantung pada harga bahan baku yang dapat berfluktuasi kapan saja. Seperti dialaminya beberapa tahun belakangan ini saat terjadi kenaikan bahan baku yang cukup signifikan. Untuk bersiap menghadapi hal seperti itu di masa mendatang, perusahaan terus melakukan berbagai langkah efisiensi, salah satunya dengan penggabungan lokasi berbagai pabriknya pada satu tempat saja di Sragen, dengan ukuran lahan sekitar 25 hektar. Upaya efisiensi penggunaan listrik juga terus dilakukan AISA, antara lain dengan mengakuisisi perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangkit listrik.

Di balik semua kesuksesan perusahaan ini dalam berkembang, yang tercermin juga dari kenaikan laba bersih sebesar kurang lebih dua kali lipat tahun 2008, kami melihat AISA harus tetap berhati-hati menjaga core competence-nya. Dimulai dari produsen bihun, lalu menggarap mi telor, selanjutnya memasuki bisnis permen dan biskuit, serta terakhir ini mengakuisisi perusahaan kebun kelapa sawit. Ada ancaman AISA akan kehilangan fokus karena tidak mampu menemukan core competence spesifik yang mereka miliki, yang selanjutnya digunakan sebagai tumpuan dalam melakukan pertumbuhan yang terencana. Semua dilakukan tanpa meninggalkan kekuatan inti perusahaan yang selama ini menjadi keunggulan kompetitifnya.

Jika manajemen bisa menjaga agar AISA tidak meninggalkan kompetensi inti perusahaan, dan tetap profit from the core, maka perusahaan akan dapat mencapai growth yang tidak sekedar luar biasa, tapi juga sustainable dalam jangka panjang.

"Philip Kotler's Executive Class: 81 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Dari Kandangan Menuju London

Minggu, 8 Maret 2009 | 07:02 WIB

Bentuk radio itu sederhana. Rangka tubuhnya dari kayu pinus dan sonokeling berukuran sekitar 19 x 12 x 13 cm, hanya dihiasi dua tombol di bagian depan. Satu untuk volume suara dan satu untuk mencari gelombang suara.

Di bagian belakang ada kancing sisip untuk membuka kotak tempat baterai. Benar-benar mengingatkan pada radio tahun 1960-an, minus layar pencari frekuensi.

Meski begitu, radio ini adalah karya yang mampu membaca semangat zaman. Perancangnya, Singgih Susilo Kartono (40), membuat radio itu dari kayu dan juga menanam pohon calon bahan baku pembuat radio, yaitu sonokeling dan pinus (Kompas, 15/10/2008).

Semua dia lakukan dari Kandangan, sekitar delapan kilometer di utara Temanggung, Jawa Tengah.

Indonesia dikenal dengan hutan tropisnya. Harus ada produk kayu dari Indonesia yang menjadi ikon dunia. Tampaknya usaha saya mulai berhasil. Kalau mencari wooden radio di internet, Magno keluar di urutan pertama,” kata lulusan desain produk Institut Teknologi Bandung, 1992, itu dalam percakapan kembali dengan Kompas dua pekan lalu.

Magno, kata Singgih lagi kepada Kompas di Jakarta, Senin (2/3), saat mengurus visa ke Inggris, berasal dari kata magnifying glass atau kaca pembesar, produk pertama yang dia ciptakan.

”Maksudnya, memperkenalkan kehidupan desa dan memperlihatkan jiwa produk saya,” kata Singgih yang bersama istrinya, Tri Wahyuni, membuat PT Piranti Works pada 2003 dan mengawali usaha dari ruang tamu.

Magno menjadi merek barang kayu fungsional ukuran kecil buatan Singgih, ikonnya radio yang peralatan elektroniknya dari Panasonic dan dapat dihubungkan dengan iPod dan MP3 lain.

Maka, kesederhanaan radio kayu Magno justru mendatangkan rasa dekat. Serat kayu terlihat jelas karena Singgih menggunakan minyak kayu dalam pengerjaan akhir. Tanpa layar penunjuk gelombang, pemilik radio harus memakai perasaan saat mencari stasiun radio favorit meskipun untuk radio ukuran lebih besar Singgih menyediakan layar pencari gelombang.

Begitulah konsep Singgih. Demi penghargaan pada sumber daya alam dia membuang segala pernak-pernik tidak mendasar sebagai tandingan terhadap nafsu mengada-adakan yang tidak esensial.

Mendunia lewat internet

Sejak awal Singgih menyasar pasar ekspor. Dia bersikukuh produknya harus memakai merek Magno, mencantumkan nama dia sebagai perancang karena produknya dibangun dengan konsep dan latar belakang, dan asal produk.

Sikap hidupnya yang melihat gelas sebagai setengah penuh membuahkan hasil. Prototipe radio Magno yang memenangi juara dua kompetisi desain International Design Resource Association di Seattle tahun 1997 menarik perhatian mitra penyelenggara pameran dari Jepang. Maka, mulai pertengahan 2005 radionya dipesan profesor desain di Jepang walau jumlahnya kecil.

Itu menjadi lompatan besar pertama Singgih karena pembeli di Jepang memasukkan Magno di dalam situs internet www.ecomiyage.com. ”Itu toko internet pertama saya. Setelah ada di internet Magno jadi mendunia,” kata Singgih.

Keberhasilan masuk ke pasar Jepang menjadi kunci yang membuka pintu ke banyak tempat. Magno dengan radio sebagai ikon, kini dijual melalui internet di Amerika Serikat untuk pasar Kanada, AS, dan sebagian Eropa; Jerman untuk pasar Eropa; dan segera di Shanghai untuk Hongkong, Taiwan, dan daratan China; Korea; dan Australia.

Tanggal 18 Maret Singgih akan menerima penghargaan Brit Insurance Design of The Year 2009 kategori desain produk untuk radio kayunya dari Design Museum London.

Sebelumnya, Magno mendapat Good Design Award kategori inovasi dan eksperimental desain dari Japan Industrial Design Promotion Organization (2008); Grand Award dari Design for Asia Award, Hong Kong Design Centre (radio, 2008); Index Award di Denmark (2008); dan Design Plus Award di Ambiente, Frankfurt, Jerman (Februari 2009).

Kini Singgih dan Tri Wahyuni sudah memberdayakan 30 penduduk Kandangan dalam Piranti Works dengan mengajak mereka mengikuti tuntutan kerja industri: memenuhi standar kuantitas, kualitas, harga, kontinuitas, dan waktu meskipun kerja itu mengandalkan tangan dan menjaga kelestarian lingkungan. Dan, Singgih kini ditantang pertanyaan, apa produk berikut setelah radio? (Ninuk Mardiana Pambudy)

Kompas

INVESTASI & KEUANGAN: "Emotionfinance"

ELVYN G MASASSYA / PRAKTISI KEUANGAN

Umpamakan Anda tengah berjalan-jalan di suatu mal bersama handai tolan, lalu melihat ada sepatu bagus, apakah Anda langsung ingin membelinya? Atau, ketika Anda sedang dalam perjalanan, lalu mendengar iklan radio di sebuah mal tengah diselenggarakan diskon besar-besaran, apakah kemudian Anda akan segera menuju mal tersebut?

Jika hal-hal seperti diatas kerap melanda diri Anda, Anda perlu waspada sebab pengelolaan keuangan Anda pada dasarnya lebih didominasi emosi, impuls yang dipengaruhi pihak eksternal. Di sini Anda tidak mampu menyortir dengan logika dan kemudian emosi sesaat yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan keuangan Anda.

.........

Kompas

Saturday, March 7, 2009

Laba Besar dari Miniatur Kendaraan

Sabtu, 7 Maret 2009 | 13:21 WIB

Jangan membuang potongan kayu bekas yang berserakan di sekitar Anda. Alih-alih menjadi sampah, potongan kayu tersebut bisa menghasilkan fulus cukup lumayan.

Heru Harmanta, pemilik Agung Handicraft, telah membuktikannya. Bermula dari upaya mengutak-atik potongan kayu yang berserakan di rumahnya, is kini dikenal sebagai pembuat miniatur kendaraan seperti mobil dan motor yang memiliki nilai jual tinggi.

Bermodal awal sekitar Rp 2 juta, kini lelaki berusia 39 tahun ini mampu meraup omzet puluhan juta per bulan dari bisnis ini. Maklum, meski terlihat sepele dan gampang dibuat, ternyata cukup banyak orang menggemari miniatur kendaraan bikinan Heru.

Ketika memulai usahanya, Heru hanya dibantu dua orang karyawan untuk membuat miniatur tersebut. Setiap bulan, ia cuma mampu memproduksi sekitar 100 miniatur.

Lantaran produksinya masih terbatas, Heru hanya menawarkan produknya ke kawasan wisata terdekat, yakni Malioboro dan Candi Prambanan. "Awalnya, banyak orang masih menganggap aneh, tapi akhirnya mereka suka juga," katanya. Dari hasil jualan miniatur ini, Heru meraup omzet sekitar Rp 2 juta. "Saya baru balik modal dalam delapan bulan," ujarnya.

Tapi, itu cerita lalu. Saat ini, bisnis Heru terus merangkak naik. Sekarang, omzetnya sudah mencapai Rp 35 juta sampai Rp 60 juta per bulan. Jumlah karyawannya telah bertambah menjadi 15 orang. Kapasitas produksinya kini telah meningkat menjadi sekitar 1.000 miniatur per bulan, bahkan bisa lebih besar lagi. "Memang, belakangan ada penurunan 20% karena krisis global," kata Heru.

Heru mengaku mengambil marjin yang lumayan besar dari usaha ini. "Harga jual miniatur ini sekitar enam kali lipat dari harga bahan baku. Kalau dihitung, marjinnya bisa sampai 200 persen," beber Heru. Adapun bahan bakunya adalah kayu sono keling, mahoni, dan jati. Lantaran cuma sisa potongan kayu, harganya terbilang murah.

Untuk memasarkan produk ini, Heru sering mengikuti pameran dan bekerjasama dengan dinas pariwisata dan industri setempat untuk mendapatkan pasar potensial. Ia mengaku, sulit mencari pasar jika bergerilya sendiri. "Sebelumnya, saya sempat memasarkan ke toko toko besar. Tapi, hasilnya tak seberapa karena tak ada lonjakan permintaan," ujarnya.

Kreatif bikin model

Agar pasarnya semakin luas, Heru juga berjuaIan lewat internet. Berkat rajin ikut pameran dan berjualan di dunia maya, Heru sudah mengekspor produknya ke Eropa, Australia, Amerika Serikat, Asia, dan Timur Tengah. "Pengunjung di pameran internasional terlihat antusias membeli produk saya," ujarnya sumringah.

Kini, Heru memiliki kurang lebih 115 model miniatur kendaraan aneka ukuran. Harganya mulai dari Rp 3.000 sampai Rp 300.000 per unit. Sejauh ini, model ,yang paling diminati pembeli adalah motor Harley Davidson.

Jika ingin menggeluti bisnis ini, pria yang sempat mengecap bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini punya saran. "Modal awal menekuni bisnis ini sekitar Rp 2 juta," ujarnya. Menurutnya, uang sebesar itu cukup untuk membuat 200 unit miniatur.

Modal lain yang tak kulah penting adalah kreativitas membuat model, dan jeli mencari celah pasar. Maklum, saat ini pesaing di bisnis ini lumayan banyak. "Ada sekitar 21 pemain. Kebanyakan bekas karyawan saya," imbuhnya. (Kontan/Dessy Rosalina)

Agung Handicraft
Desa Klurak Baru Bokoharjo, Prambanah Sleman, Yogyakarta
Telp. (0274) 496668

Kompas

[Kompas 100]: Perdana Gapuraprima: A Fast Growing Medium Sized Developer

Bagian 26 dari 100

Sabtu, 7 Maret 2009 | 13:14 WIB

AJAX Amsterdam memang tidak seperti Real Madrid atau MU. Kita tahu dua klub tersebut bukan hanya punya prestasi yang bagus tapi juga tumbuh sebagai institusi bisnis yang solid dan pastinya kaya yang bisa membeli pemain terhebat yang money can buy. Hal tersebut terakhir ini membedakan mereka dengan Ajax, yang ukuran bisnisnya jauh lebih kecil. Tapi kalau untuk kontribusi dalam perkembangan sepakbola, Ajax bisa jadi lebih baik dari Real Madrid ataupun MU.

Selain menjadi klub pertama yang memperkenalkan total football, Ajax hingga kini juga dikenal sebagai penghasil pemain-pemain hebat yang di kemudian hari menjadi bintang di klub-klub besar Eropa. Begitu hebatnya produk internal Ajax, maka menjelang final Champions League tahun 1996, para wartawan yang terpesona pada penampilan Ajax sampai bilang ke Juventus, “If you can’t beat them, buy them!” Dan Juventus –yang akhirnya mengalahkan Ajax– kemudian memang membeli beberapa pemain yang dulu dikalahkannya.

Tapi sejak 5 tahun terakhir wajah dunia sepakbola mulai berubah. Masuknya investor kakap yang bingung bagaimana menghabiskan uangnya, membuat klub dengan size sekelas Ajax tidak bisa lagi bergerak sepesat di awal pertengahan tahun 90-an. Apa yang terjadi di Ajax bisa juga dialami oleh perusahaan berskala menengah yang pada suatu titik mengalami kesulitan untuk berkembang pesat. Inilah yang misalnya terjadi pada PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA).

Perusahaan pengembang properti ini terpaksa menghentikan berbagai proyek yang direncanakan untuk tahun 2009 karena efek dari krisis ekonomi global yang sedang melanda. GPRA bahkan terpaksa menghentikan pembangunan hotel bintang 5, beserta fasilitas resort-nya, di Bali, yang sebenarnya diharapkan dapat menjadi salah satu flagship product mereka. Begitu juga dengan pembangunan menara HIPMI, yang ditunda untuk sementara, agar dapat ditinjau kembali manfaatnya bagi semua stakeholders.

GPRA sebenarnya cukup lama bermain di pasar properti Indonesia. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1987 sebagai bagian dari Gapura Prima Grup – yang memiliki sejarah lebih panjang lagi di dunia properti sejak didirikan tahun 1980 oleh Gunarso S. Margono. Namun baru 3-4 tahun belakangan ini GPRA menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa, dengan mencatat kenaikan laba bersih hingga 250,8% pada tahun 2007. Ini dihasilkan dari pengembangan GPRA saat itu yang meliputi tiga proyek apartemen, dan lima proyek perumahan landed house.

Pertumbuhan spektakular ini membawa GPRA untuk mendapatkan Indonesia Property Award 2005 dan 2006, dari Majalah Property & Bank, sebagai pengembang residensial dan apartemen terbaik. Bahkan pada tahun 2008, Rudy Margono, Presiden Direktur GPRA, mendapatkan penghargaan The Young Entrepreneur In Property Development, dari institusi yang sama.

Pada tahun 2008, GPRA membangun dan memasarkan Kebagusan City, produk low cost apartement di wilayah Jakarta Selatan. Seperti halnya sebagian besar pembangunan rusunami dan apartemen murah, Kebagusan City memang cukup sukses menarik minat pembeli. Ini semakin diperkuat oleh komitmen GPRA untuk tidak hanya membangun apartemen murah saja, tapi juga disertai beberapa fasilitas lainnya seperti pusat perbelanjaan, perkantoran dan juga tempat hiburan keluarga.

Dalam menghadapi dampak krisis global, sebagai pengembang skala menengah, GPRA tentunya harus mulai berhati-hati dalam melangkah ke depan. Memasuki tahun 2009, perusahaan akan lebih fokus pada existing projects, terutama landed house yang membutuhkan investasi relatif lebih rendah dibandingkan apartemen. Proyek apartemen yang masih diteruskan adalah tipe low cost, seperti pembangunan Kebagusan City. Perusahaan bahkan mempertimbangkan mengkonversi beberapa kondo menjadi budget apartement. Dalam upaya efisiensi lainnya, GPRA akan semakin mengurangi pinjaman dari bank, dan lebih mengandalkan dana internal maupun pembayaran dimuka dari calon pembeli.

Namun kami melihat bahwa tidak cukup hanya berhasil survive melewati krisis finansial ini. GPRA harus mampu keluar lebih kuat dengan memanfaatkan krisis ini sebagai kesempatan untuk melakukan konsolidasi internal dan mengevaluasi arah perusahaan demi memperkuat fundamentalnya.

Tantangan terbesar yang kami lihat adalah bagaimana GPRA dapat membangun positioning yang kuat yang ditopang oleh differensiasi yang nyata. Sebagai pemain menengah, tentunya GPRA tidak dapat mengandalkan ukuran perusahaan ataupun kekuatan finansialnya untuk mengungguli kompetitor. GPRA harus dapat menemukan segmen spesifik yang dapat dilayaninya lebih baik dibandingkan kompetitor.

Langkah GPRA selama ini, yang mencoba menggarap semua kesempatan yang terbuka, serta aktif mengembangkan properti sesuai permintaan pasar, memang berhasil memicu pertumbuhan spektakuler selama 2004-2007. Namun, di sisi lain, ini menyebabkan GPRA mengembangkan berbagai jenis properti, mulai dari residensial seperti Bukit Cimanggu City di Bogor, hingga pusat belanja seperti Bekasi Trade Center. Dari pembangunan kelas bawah, seperti Kebagusan City hingga apartemen elit seperti The Bellezza Permata Hijau. Ini mengurangi kemampuan GPRA untuk membangun keunikan dan ciri khas tersendiri diantara ratusan pengembang properti di Indonesia. Sehingga GPRA tampaknya belum berhasil membangun positioning yang nyata yang dihargai oleh para pembeli properti di Indonesia.

Di sini letak tantangan GPRA. Jika dalam masa krisis GPRA berhasil bertahan secara finansial dengan melakukan berbagai efisiensi internal, dan juga sekaligus dapat memanfaatkan saat-saat ini untuk menata ulang strategi marketing perusahaan, terutama dalam hal positioning yang tentunya sesuai dengan resources yang dimiliki perusahaan, maka GPRA akan keluar dari krisis semakin kuat, dan kembali menjadi salah satu pengembang properti menengah dengan pertumbuhan paling cepat.

"Philip Kotler's Executive Class: 81 Days To Go"

Hermawan Kertajaya, Taufik

Kompas

Wall Street Terguncang oleh Laporan PHK di AS

Sabtu, 7 Maret 2009 | 04:41 WIB

NEW YORK, SABTU - Kalangan investor di bursa saham Wall Street, New York, telah terbiasa menghadapi kabar negatif dari kondisi ekonomi AS. Namun, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mencapai lebih dari 600.000 karyawan tetap menimbulkan guncangan tersendiri bagi transaksi Wall Street.

Sejumlah nilai saham sempat melambung, terperosok sebelum kembali menguat sehingga mewarnai penutupan transaksi dengan nilai beragam setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengeluarkan laporan PHK pada Februari. Menurut Departemen Tenaga Kerja AS, jumlah mereka yang terkena PHK mencapai 651.000 dan tingkat pengangguran melonjak hingga 8,1 persen.

Indeks industrial Dow Jones naik 32,5 poin serta ditutup pada 6.626,94. Indeks The Standard & Poor’s 500 naik kurang dari 1 poin serta ditutup pada 6.683,38. Sementara indeks gabungan Nasdaq turun 5,74 atau 0,44 persen serta ditutup pada 1.293,85.

JIM

Kompas

Friday, March 6, 2009

ANJURAN BERSEDEKAH DAN LARANGAN BERBUAT KIKIR

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
(QS. Shaba (34): 39)

Bersedekah dapat membuat kita merasa lebih tenteram di hati. Kenapa demikian? hal itu disebabkan karena Allah SWT menjajikan kepada hamba-hambanya yang beriman akan melapangkan rezki orang tersebut jikalau orang itu mau untuk memberikan sebagian rezeki yang ia miliki untuk membantu saudara-saudaranya.

Ketenteraman hati, tidak hanya dapat diukur lewat materil semata, ketenteraman hati yang diberikan adalah sebuah rasa nikmat yang dapat kita rasakan dan itu hanya dapat kita rasakan ketika telah melakukan anjuran sedekah tersebut, timbul rasa kebahagiaan tersendiri di dalam jiwa.

Rezeki yang Allah SWT milliki sangat luas. Kita sebagai manusia harus mencarinya dengan penuh kesungguhan, akan tetapi jangan sampai melalaikan kita dari beribadah kepada-Nya. Kewajiban kita sebagai seorang suami adalah memberikann nafkah kepada istri dan anak-anak, jangan sampai kita melalaikan mereka. Karena ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh seoarang suami.

Salah satu cara membuka pintu-pintu rizki adalah dengan bersedekah. Oleh karena itu sedekah harus diintensifkan sedini mungkin dan menjadi suatu aktifitas yang sering kita lakukan. Manfaat dari sedekah adalah dengan bertambahnya keimanan seseorang kepada Allah SWT, dan Allah tidak akan mengurangi sedekahnya orang tersebut melainkan akan terus ditambah berkali-kali lipat. Hal ini diterangkan dalam surat Al-Baqarah : 261, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui".

Sedekah akan jauh lebih baik jika kita menafkahkan rezeki yang dikeluarkan itu didapatkan dengan cara yang baik atau halal juga. Kriteria rezeki yang barokah sehingga nantinya baik untuk disedekahkan adalah seperti berikut uraiannya.

Pertama rezki yang kita cari ini haruslah dicari karena iman didalam hati, artinya kita tidak hanya mencari rizki, tetapi harus didasarkan niat mencari keridhoan Allah SWT.

Kedua, mencarinya melalui jalan yang halal, walaupun sedikit itu lebih baik dari pada kita mendapat banyak rezki tetapi haram.

Ketiga adalah bersyukur kepada Allah SWT atau Qona'ah, menerima apa adanya rezki yang kita dapatkan setiap harinya, berapapun besarnya. Dibalik kesabaran itu yakinlah suatu saat kita akan mendapatkan rezki yang lebih banyak dari-Nya.

Dan yang keempat yaitu jangan sampai kita mencari rezki tetapi melalaikan kita dari mengingat dan beribadah kepada Allah Ta'ala. Bukannya mendapatkan rezki yang barokah malah kita akan mendapatkan murka Allah SWT.

Oleh karena itu wahai saudaraku marilah kita mencari rezki yang Allah ridhoi jalannya, tanpa melalaikan kita dari beribadah kepada-Nya sehingga semakin banyak rezki yang kita dapatkan semakin banyak pula sedekah yang kita keluarkan. Amin Ya Robbal 'Alamin.

Sumber: Buletin Al-Amanah masjid Polda Metro Jaya, Sholat Jum'at tanggal 6 Maret 2009

[Kompas 100]: BII: "An Important Dot Candidate of A Regional Bank"

Jumat, 6 Maret 2009 | 07:11 WIB

Pernah dengar film Pirates of Silicon Valley?

Ini sebuah film drama televisi tahun 1999 yang dibuat tak lama setelah Steve Jobs kembali ke Apple yang di back-up oleh Bill Gates. Kebetulan film tersebut menggambarkan perjalanan dua legenda industri ICT dunia, sejak dari nobody sampai jadi somebody. Hanya saja, yang lebih banyak mewarnai film tersebut adalah Steve Jobs.

Perjalanan hidup Steve Jobs memang menarik sebagai sebuah film. Meski tidak digambarkan dalam film tersebut, ia adalah anak yang oleh ibu biologisnya –mahasiswi yang hamil di luar nikah– ingin agar diadopsi oleh orang tua lain yang belum punya anak tapi lulusan universitas. Singkat cerita itu tidak tercapai dan Steve Jobs sendiri bahkan kemudian drop out dari Reed College.

Film ini sendiri dibuka dengan adegan persiapan Steve Jobs dalam pembuatan iklan Mac yang legendaris di tahun 1984 dan tak lama kemudian ada adegan demonstrasi penuh kekerasan di kampus University of California, Berkeley di tahun 70-an dimana Steve Jobs juga ikut. Ini adalah sebuah pengkontrasan yang menarik, mengingat gambaran orang yang revolusioner selalu dikaitkan dengan demonstrasi yang sebetulnya jarang sekali menghasilkan tokoh yang akhirnya mengubah sejarah. Sementara itu, bersama mahasiswa UC Berkeley bernama Steve Wozniak, Steve Jobs mengubah sejarah manusia.

Sayangnya, beda dengan Bill Gates, ia adalah orang yang terlambat matang. Sukses yang datang begitu cepat membuat dia sulit mengendalikan diri. Ibu dari anak biologisnya yang pertama meninggalkan Jobs setelah tidak tahan lagi dengan perlakuannya. Dan yang lebih parah lagi adalah ketika ia ditendang dari perusahaan yang dibuat dan dibangunnya menjadi sebuah perusahaan ICT terkemuka. Pada saat yang bersamaan, Bill Gates yang tadinya sempat dianggap remeh, pelan tapi pasti terus menjadi pengendali dalam membangun Microsoft sebagai perusahaan ICT raksasa.

Yang menarik adalah bahwa ia berhasil menjadikan kedua peristiwa tersebut sebagai sebuah pelajaran berharga. Istilah dia sendiri, seperti yang dikemukakan ketika Jobs –seorang drop out– memberikan pidato wisuda di Stanford University, kedua peristiwa tersebut adalah ”dots” dalam perjalanan hidupnya yang membuat dia akhirnya lebih matang dan berhasil comeback ke Apple dengan sukses. Menurutnya, yang namanya connecting the dots itu hanya bisa dilakukan untuk menggambarkan berbagai milestones di masa lalu yang akhirnya bisa membentuk seseorang di masa kini.

Bisa jadi PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) adalah salah satu dot dari Maybank Malaysia, yang tahun lalu mengakuisisinya dengan harga yang disebut-sebut kemahalan. Ini ditambah anggapan bahwa bank negeri jiran yang kini sudah hadir di 14 negara itu seperti kepepet untuk memiliki satu-satunya bank dengan ukuran cukup besar yang dipasangi stiker on sale. Kami yakin Maybank, yang sebetulnya dulu pernah punya joint venture bank di Indonesia, tentu sudah mengenal cukup baik peta perbankan Indonesia termasuk BNII itu sendiri.

Boleh jadi tak banyak yang ingat kalau BNII adalah bank pertama di Indonesia yang memperkenalkan perbankan elektronik dan cash deposit machine (CDM) sehingga kuat di jaringan elektronik. Hanya saja, dalam perkembangannya BNII memang tidak seagresif bank-bank lain dalam meningkatkan kapasitas jaringan elektronik yang menyebabkannya tidak bisa me-leverage posisi sebagai yang pertama melakukannya. Dan, berbagai kasus mengenai pionir-pionir yang sukses menunjukkan adanya ketekunan untuk selalu memimpin proses pembaruan dari produk yang dirintisnya.

Meskipun demikian, BNII tetap termasuk sebagai salah satu bank besar dengan jaringan distribusi pelayanan yang signifikan, seperti 20.000 jaringan ATM di bawah ATM PRIMA, ATM BERSAMA, ALTO, CIRRUS dan DBS/POSB Bank Singapura selain kantor cabang, phone banking dan internet banking. BNII juga aktif di sektor UKM/Komersial, Konsumer dan Korporasi. Dan itu didukung dengan produk untuk individu seperti kartu kredit, KPR, deposito, pinjaman dan layanan perbankan prioritas serta produk-produk yang ditujukan bagi nasabah korporasi seperti trade finance, cash management, pinjaman, kustodian dan foreign exchange.

Pendek kata, apa yang sudah dibangun BNII akan membuat Maybank bisa lebih fokus untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi di area dimana BNII belum begitu kuat seperti misalnya perbankan syariah dan remittance. Kalau proses ini bisa dilakukan dengan jangka waktu yang singkat, bisa jadi Maybank tidak butuh waktu lama untuk meng-connect the dots yang membuatnya menjadi a regional bank yang diperhitungkan, dimana BNII adalah dot terpentingnya.

"Philip Kotler's Executive Class: 82 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Thursday, March 5, 2009

Buah Pikiran Sjahrir Tidak Lekang oleh Waktu

Kamis, 5 Maret 2009 | 22:07 WIB

JAKARTA, KAMIS — Salah satu kemurungan kita saat ini adalah penyalahgunaan kekuasaan yang disebabkan masih adanya faham feodalisme. Hal ini membuat orang pada posisi ingin dilayani, dan bukan untuk melayani. Demikian disampaikan oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama ketika menyampaikan makna Peringatan Seratus Tahun Sutan Sjahrir, Kamis (5/3) di Balai Agung DKI Jakarta. "Budaya feodal tersebut harus dikikis," ujar Jakob.

Menurut Jakob, Sjahrir adalah sosok yang kental, hangat, dan konsekuen dengan prinsip kemanusiaan. Turut hadir dalam peringatan tersebut putra Sjahrir, Kriya Arsjah Sjahrir, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, calon presiden Prabowo Subianto, anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Hukum Adnan Buyung Nasution, pengacara senior Todung Mulya Lubis, dan lainnya.

Buah pemikiran lain Sjahrir adalah sistem ekonomi pasar sosial yang mengombinasikan peran sosial peran negara dan peran pasar, yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat.

Sementara itu, Gubernur Fauzi Bowo mengatakan, mantan Perdana Menteri Indonesia pertama ini perlu mendapat perhatian yang lebih besar. "Penghargaan (gelar) pahlawan secara lebih proporsional juga harus dimulai," ujar Bowo.

Sementara itu, M Fadjroel Rahman yang sempat mencalonkan capres dari jalur independen mengatakan, buah pemikiran Sjahrir tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Beberapa buah pemikirannya adalah mengenai sistem pajak progresif, usulan sekolah gratis hingga usia 15 tahun, penjelasan mengenai peran negara, pelarangan anak-anak di bawah umur untuk bekerja, dan lainnya. "Jika Soekarno disebut Bapak Proklamator, Bung Hatta disebut Bapak Koperasi, maka Sutan Sjahrir layak disebut Bapak Kesejahteraan Negara karena buah-buah pikirannya," ujar Fadjroel.

HIN

Kompas

Vatikan: Perbankan Barat Harus Melihat Sistem Keuangan Islam



Kamis, 5 Maret 2009 | 16:42 WIB

ROMA, KAMIS — Vatikan mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Vatikan bilang, perbankan dunia seharusnya melongok pada peraturan keuangan Islam untuk meningkatkan kembali kepercayaan para nasabahnya di tengah krisis global seperti sekarang ini.

“Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan pihak bank dengan para nasabahnya. Selain itu, spirit kejujuran harus tecermin dalam setiap jasa layanan yang diberikan,” demikian seperti yang tertulis dalam artikel harian Vatikan Osservatore Romano, Selasa (3/3) waktu setempat.

Loretta Napoleoni dan Claudia Segre, Abaxbank Spa Fixed Income Strategist, dalam artikel tersebut menulis, perbankan barat dapat menggunakan sejumlah alat, seperti obligasi syariah yang lebih dikenal dengan sukuk sebagai jaminan (collateral). “Sukuk juga dapat digunakan untuk mendanai industri otomotif atau pekan Olimpiade di London nanti,” tulis mereka.

Sebelumnya, pada 7 Oktober lalu, Paus Benedict XVI berpidato, konklusi dari hancurnya pasar finansial saat ini merefleksikan tidak ada yang abadi selain keberadaan Tuhan. Vatikan juga selalu menyoroti kondisi perekonomian global dan merilis sejumlah artikel yang mengkritik model pasar bebas yang banyak berdampak buruk dalam dua dekade terakhir ini.

Sementara itu, Editor Osservatore Giovanni Maria Vian mengatakan, “Agama yang hebat selalu memiliki atensi yang penuh terhadap dimensi perekonomian masyarakatnya.” (Barratut Taqiyyah/Kontan)

Kompas

Komentar: "Akhirnya Perbankan Syariah dapat dijadikan acuan untuk perbankan dunia......jadi segeralah rubah portofolio investasi anda ke investasi berbasis syariah seperti produk PRULink Syariah Equity Fund...."

[Kompas 100]: International Nickel Indonesia: "An Efficient Nickel Miner"

Bagian 24 dari 100

Kamis, 5 Maret 2009 | 07:21 WIB

Produser The Italian Job memang tepat memilih Mini Cooper. Secara finansial, terutama dalam proses produksi, sebenarnya ini bisa merupakan keputusan yang salah. Seperti yang ditulis di Wikipedia, mobil Mini Cooper yang dipakai di film tersebut dibeli dengan harga pasar. Padahal, Fiat menawarkan gratis mobil mereka untuk dipakai dalam film tersebut, bahkan memberikan tambahan uang.

Tapi, produser film tersebut tidak berpikir jangka pendek. Dia ingin mobil yang masuk di sana bukan sekedar numpang lewat tapi memang masuk menjadi bagian dari cerita dengan karakter yang kuat. Dan seperti kita ketahui, Mini Cooper di film tersebut terlihat sebagai mobil yang efisien yang mampu membawa beban berat tapi tetap tangguh dan lincah dalam melakukan berbagai manuver.

Tentu sungguh menarik kalau dunia bisnis punya perusahaan yang punya karakter seperti Mini Cooper dalam The Italian Job. Maklum, dunia bisnis sering menghadapi kondisi yang berubah drastis. Kalau perusahaan tidak bisa efisien dan tangguh serta lincah dalam menghadapi lingkungan bisnis yang berubah drastis, tentu akan punya masalah dalam menjaga kelangsungan usaha.

Industri yang bergerak di bisnis komoditi adalah contoh industri yang menghadapi perubahan lingkungan yang drastis. Sebelum munculnya kasus Lehman Brothers, semua perusahaan yang bergerak di bisnis komoditi seolah-olah kejatuhan hujan emas. Tapi setelah kasus itu muncul, yang diiringi dengan kepanikan di seluruh dunia, harga komoditi jatuh dan perusahaan yang bergerak di bisnis ini menghadapi perubahan situasi 180 derajat.

Ini yang misalnya yang terjadi pada komoditas nikel dimana harganya sempat di sekitar 51,000 dollar AS per ton di pertengahan 2007 dan kini di harga $9,500 per ton. Sehingga perusahaan yang bergerak di bisnis ini, seperti PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO), menghadapi kondisi yang bertolak belakang dalam kurun waktu 1 tahun. Melemahnya pasar nikel dunia bahkan membuat laba bersih INCO tahun 2008 turun 69,4% dibandingkan laba tahun sebelumnya.

Kami yakin sebagai anak perusahaan Vale Inco, produsen nikel terbesar kedua dunia setelah Norilsk Nickel dari Russia, INCO memang tidak gampang digoyahkan oleh penurunan tersebut. Perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia sejak 1968 ini memang melihat prospek jangka panjang dari bisnis nikel. Ini sesuai dengan Kontrak Karya dengan pemerintah yang baru saja diperpanjang hingga tahun 2025. Kontrak Karya ini mencakup wilayah 218,529 hektar di wilayah Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara.

Wilayah kerja INCO sendiri sebagian besar berada di Sorowako, yang merupakan salah satu sumber nikel terbesar di dunia, disamping Cuba dan New Caledonia. INCO juga sedang melakukan pengembangan pada areal baru di wilayah Bahodopi dan Pomalaa, yang juga menjanjikan sumber nikel yang berlimpah. Adapun jenis nickel yang ditambang oleh INCO adalah nickel laterite, yang diperkirakan akan berkembang menjadi sumber nikel terpenting untuk memenuhi kebutuhan dunia. Sehingga tampaknya perusahaan tidak perlu khawatir lagi dengan kecukupan cadangan nikel yang dimiliki.

INCO sendiri sebenarnya hanya menghasilkan nickel matte, yang masih harus diproses lagi. Nickel matte dari INCO seluruhnya dijual berdasarkan kontrak penjualan jangka panjang dengan dua pemegang saham terbesarnya, Vale Inco dan Sumitomo. Dengan kontrak yang bersifat “wajib dibeli” ini, sebenarnya INCO tidak perlu khawatir lagi mengenai marketing dan sales. Hanya saja, harga jual nickel matte berdasarkan harga internasional –dalam hal ini harga London Metal Exchange– yang, seperti dibahas sebelumnya, berada diluar kendali INCO sendiri.

Di sinilah letak tantangan kedepan bagi INCO, yang sejak 2006 dipimpin oleh Arif S. Siregar. Tanpa ada kemampuan untuk mengendalikan harga, satu-satunya cara perusahaan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan adalah dengan manajemen proses, yang secara spesifik berarti mengendalikan cost tanpa mengorbankan quality dari hasil ataupun kemampuan untuk delivery sesuai perjanjian.

Upaya mempertahankan kualitas oleh INCO ditunjukkan salah satunya dalam keberhasilannya memperoleh akreditasi ISO 9001 versi 2008. Sedangkan upaya cost cutting antara lain dilakukan dengan mengalihkan sumber energi pembangkit listrik dari bahan bakar fosil ke alternatif yang lebih murah, seperti penggunaan PLTA. Perbaikan jalan tambang untuk memperlama umur pemakaian ban kendaraan transportasi juga merupakan upaya lain peningkatan efisiensi INCO.

Jika INCO mampu bertahan melewati pelemahan pasar nikel dunia dengan manajemen proses yang mampu menekan cost produksi, tanpa menghentikan upaya pengembangan usaha melalui persiapan areal baru, maka saat krisis berlalu dan market demand nikel di dunia mulai meningkat, resources INCO akan siap untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Philip Kotler's Executive Class: 83 Days To Go"

New Wave Marketing Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Wednesday, March 4, 2009

[Kompas 100]: Berlian Laju Tanker: "A Leading Tanker Operator in the World"

Bagian 23 dari 100

Rabu, 4 Maret 2009 | 06:53 WIB

Dulu Britannia Rules the Waves punya diferensiasi yang kuat.

Armada kapal perang Inggris memang sangat ditakuti lawan baik di dunia nyata maupun film. Di dunia nyata, ada Laksamana Nelson yang diabadaikan melalui patung di Trafalgar Square. Sementara di film, selalu ditampilkan Inggris pada abad 18 atau 19 yang digambarkan dalam 2 versi: sebagai jagoan, seperti Kapten Jack Aubrey –diperankan Russell Crowe– dalam film Master and Commander: The Far Side of the World; atau sebagai pecundang, seperti dalam trilogi Pirates of the Caribbean.

Yang menarik, antara Laksamana Nelson di dunia nyata dan Jack Aubrey di film ada titik persinggungan dalam hal perang dengan Napoleon –penguasa Perancis yang legendaris– dan lautan yang ditaklukkan. Untuk perang dengan Napoleon, Nelson akhirnya meninggal di Perang Trafalgar, sementara Aubrey mengalahkan kapal Acheron milik Perancis yang jauh lebih besar dan punya senjata lebih bagus. Untuk lautan yang ditaklukkan, keduanya punya kemiripan, yaitu menaklukkan lautan yang ganas dan jauh dari negeri asalnya.

Yang namanya menaklukkan lautan yang ganas dan jauh dari negeri asalnya memang bukan hal mudah di jaman dulu dan sekarang. Jaman dulu dan sekarang besarnya armada dan kecanggihan kapal yang dimiliki menjadi necessary conditions-nya. Tapi kalau sudah masuk ke satisfying high quality customers, ini menyangkut kombinasi antara operational excellence, track record, jangkauan layanan serta keberadaan di semua rute pelayaran dunia.

Kondisi yang berat tersebut bisa dipenuhi oleh PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) dan kini perusahaan ini bahkan dikenal sebagai a leading tanker operator in the world. Didirikan di tahun 1981 sebagai pemain domestik tanker minyak Pertamina, BLTA kemudian berkembang ke tanker untuk bahan-bahan kimia dan gas. BLTA bukan hanya berkembang dalam hal jenis produk, tapi juga dalam jangkauan pasar, jaringan pemasaran dan tentu saja armada tanker-nya.

Ini semua diperlukan karena seiring dengan berjalannya waktu, BLTA bukan hanya bergantung pada Pertamina tapi bahkan mampu menjadi pilihan perusahaan minyak dan kimia terkemuka dunia, seperti Exxon Mobil, Shell, BASF, SABIC dan Dow Chemical. Kemampuan tersebut semakin kuat setelah BLTA mengakuisisi operator tanker lainnya, termasuk Chembulk Tankers LLC dari Amerika Serikat di tahun 2007. Selain Chembulk Tankers, BLTA juga memiliki Asean Maritime Corporation yang diambil alih pada tahun 1998, beserta anak perusahaannya Gold Bridge Shipping Corporation.

Selain melalui akuisisi, BLTA juga meningkatkan jaringan di seluruh dunia dengan pendirian anak perusahaan, antara lain: GBLT UK Shipmanagement (UK) di Glasgow, GBLT Shipmanagement Pte Ltd di Singapore, dan Gold Bridge Shipping Ltd di Hongkong. Untuk mendukung jaringannya itu, BLTA juga memiliki presence di Bangkok, Shanghai, Beijing, Behai, Mumbai, Dubai, Westport, dan Sao Paolo. Sehingga pada saat ini, BLTA punya armada tanker besar dan jumlahnya banyak serta end-to-end operation, termasuk dalam menghadapi ketatnya regulasi di berbagai penjuru dunia terkait dengan bisnis tanker operator.

Dengan jaringan yang luas ini, tidak heran kalau komposisi pelanggan BLTA tersebar diseluruh dunia, tanpa ada satu pelanggan yang menyumbang lebih dari 5 persen penerimaan perusahaan, kecuali Pertamina sebesar 6 persen. Walaupun perusahaan ini mendapatkan 90 persen penghasilannya dari luar negeri, tapi sepertinya potensi perkembangan di Indonesia juga menjadi target ke depan bagi BLTA, ini seiring dengan undang-undang yang mewajibkan penggunaan kapal berbendera Indonesia untuk mengangkut muatan antar pelabuhan di Indonesia. Dengan kondisi Pertamina yang saat ini masih menggunakan operator berbendera asing pada 70 persen dari kapal yang mereka sewa, BLTA melihat potensi pertumbuhan yang signifikan dari pasar nasional ini.

Harus diakui, kunci sukses perkembangan BLTA, yang dual listing di BEI dan bursa Singapura di tahun 2006, bukan hanya terletak pada reputasi yang bagus dalam safety dan reliability dan ketersedian armada tanker, tapi juga dalam hal competitive prices. Dan kami melihat hal tersebut terakhir sebagai sebuah tantangan bagi BLTA, terutama setelah krisis finansial yang terjadi di dunia akan memaksa BLTA untuk mengurangi margin-nya agar tetap competitive.

Namun luasnya jaringan kerja dan juga diversifikasi perusahaan yang antara mencakup kimia cair, minyak mentah, BBM, dan gas cair, dapat menjadi salah satu keunggulan BLTA dalam menghadapi krisis finansial kali ini. Andalan lain BLTA dalam meningkatkan competitiveness-nya adalah variasi kapal yang dioperasikan oleh perusahaan. Dengan ukuran kapasitas kapal dari 1.250 DWT hingga 150.000 DWT, dan jenis kapal yang dapat mengangkut muatan cair dari berbagai jenis, BLTA mampu memberikan total solution bagi pelanggannya.

BLTA sendiri sepertinya cukup optimistis dalam menghadapi krisis finansial kali ini. Bahkan Widihardja Tanudjaja, Presiden Direktur dari BLTA, yakin bahwa krisis kali ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kekuatan dan terus tumbuh. Ini didasari pengalaman masa lalunya dimana pertumbuhan setelah krisis justru adalah periode pertumbuhan BLTA yang paling cepat.


"Philip Kotler's Executive Class: 84 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Tuesday, March 3, 2009

Usai Menukik Tajam, Dow Jones Kembali Menanjak

Selasa, 3 Maret 2009 | 22:30 WIB

NEW YORK, SELASA - Nilai saham di bursa Wall Street terdongkrak naik Selasa (3/3) setelah mengalami penurunan tajam. Kenaikan ini berlangsung setelah pemerintah AS mengumumkan perincian sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan ketersediaan kredit.

Bank Sentral AS, The Federal Reserve, berencana mengucurkan pinjam hingga senilai 200 miliar dollar AS untuk meningkatkan tingkat kredit usaha kecil dan konsumsi pada bidang otomotif, pendidikan, kartu kredit serta jenis pengeluaran lain. The Fed telah mengumumkan rencana tersebut akhir tahun lalu.

Indeks industrial Dow Jones ditutup Senin (2/3) jauh di bawah 7.000 serta berada pada 6.763 atau terendah sejak 25 April 1997. Indeks Dow Jones telah menurun lebih dari 52 persen sejak menyentuh rekor tertinggi hingga 14.164,53 pada Oktober 2007.

Pada setengah jam pertama pembukaan transaksi Selasa, indeks industrial Dow Jones naik 76,07 atau 1,1 persen menjadi 6.839,36. Harga saham terkadang kembali melambung setelah terjadi aksi pelepasan secara besar-besaran saat pelaku pasar kembali tertarik mengajukan pembelian terhadap nilai saham yang merosot.


JIM
Sumber : AP

Kompas

[Kompas 100]: Total: "A Price Setter in the Thin Margins Industry"

Selasa, 3 Maret 2009 | 07:31 WIB

Juninho bukanlah sekedar jagoan tendangan bola mati biasa. Memang ia tidak setenar Ronaldino ataupun David Beckham. Bahkan, ia bukan langganan tim inti kesebelasan nasional Brazil. Tapi kalau untuk urusan dibicarakan oleh sesama pemain, dan bukan penonton, wartawan atau komentator bola, Juninho-lah orangnya.

Seperti yang minggu lalu dikupas di Kompas, ia punya jenis tendangan yang berbeda. Di mana bola yang ditendangnya seolah mati di udara, sehingga sangat sulit ditebak arahnya. Kalau dalam urusan tendangan bola mati ada Juninho, maka di dunia konstruksi Indonesia ada PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL).

Dunia konstruksi identik dengan thin margins. Sehingga yang namanya men-set harga yang jauh lebih tinggi daripada para pesaing, jarang-jarang terjadi. Apalagi kalau itu dilakukan pada repeat customers.

TOTL bisa melakukan berbagai hal yang tidak biasa itu. Rahasianya? Strateginya tidak ada yang berbeda dengan yang dilakukan oleh para pesaingnya, karena perusahaan ingin quality focused dan customer oriented.

Tapi eksekusinya di tangan TOTL jadi berbeda. Dan disinilah menariknya, karena kebanyakan orang tertarik pada aspek strategi tapi lupa pada soal eksekusi. Dalam kasus TOTL, kemampuan eksekusinya diasah berdasarkan pada keyakinan bahwa pelanggan masih menghargai kualitas, karena hasil yang berkualitas pasti akan lebih menguntungkan pada jangka panjang. Selain itu, pelanggan masih menghargai kemampuan perusahaan konstruksi untuk mengakomodasi permintaan ekstra mereka. Yang tersebut terakhir ini menyangkut keunikan gedung yang dibangun dan tepat waktunya proses konstruksi yang dilakukan.

Kebetulan sejak dahulu TOTL punya keyakinan seperti itu. Pada saat didirikan pada tahun 1970 dengan nama PT Tjahja Rimba Kentjana, perusahaan melayani semua jenis pekerjaan konstruksi. Mulai dari perumahan hingga infrastruktur. Sehingga fokus utamanya adalah meningkatkan keuntungan. Namun pada awal 1980-an, perusahaan melakukan restrukturisasi besar-besar-an yang selain melahirkan manajemen baru, juga menghasilkan keputusan untuk mengkhususkan diri pada pembangunan gedung dengan fokus pada excellence. Mulai saat itulah dimulai prinsip baru TOTL.

Dibawah arahan Ir. Komajaya, yang sebelumnya sempat bekerja dibawah Ciputra selama 17 tahun, TOTL mulai membangun kompetensi yang spesifik pada gedung, khususnya pembangunan commercial dan high rise, salah satunya adalah apartemen tertinggi di Jakarta pada saat ini, The Peak di jalan Sudirman. Perlahan-lahan TOTL memperkuat differensiasi mereka dan sekaligus meningkatkan brand image perusahaan yang akan menjadi andalan utamanya sampai saat ini.

Komitmen Komajaya terhadap kualitas dan pelanggan inipun secara konsisten terus dipertahankan hingga kini. Manajemen, yang sekarang dipimpin oleh Ir. Reyno St. A, telah mengimplementasikan sistem manajemen SDM yang memastikan bahwa semangat dan values perusahaan dimengerti dan dijiwai oleh seluruh karyawan TOTL, yang kini telah mencapai lebih dari 1.100 orang.

Hingga saat ini, sekitar 75 persen dari pelanggan TOTL adalah repeat customers. Padahal margin yang dipatok oleh TOTL sekitar 5-8 persen, cukup tinggi mengingat rata-rata industri yang hanya sekitar 3 persen. Namun pelanggan lama sudah menyadari betul value dari kualitas dan orientasi pelanggan yang ditawarkan oleh TOTL. Mereka tidak keberatan membayar lebih untuk peace of mind dan tentunya juga, total lifetime cost yang sebenarnya bersaing, bahkan lebih rendah. Semua ini didukung oleh konsistensi menepati waktu delivery dan after sales service yang kuat.

Namun disinilah letak tantangan bagi TOTL. Dengan sebagian besar pelanggan adalah repeat customers, walau di satu sisi menunjukkan stabilitas bisnis mereka, juga dapat menjadi indikasi bahwa pengguna jasa konstruksi baru belum sepenuhnya menghargai keunggulan yang ditawarkan TOTL. Ini tentu mengurangi potensi TOTL untuk terus berkembang.

Ancaman lain adalah kenyataan bahwa competitive advantage yang ditawarkan TOTL, meskipun sekarang merupakan sesuatu yang unik di industri jasa konstruksi, tapi sebenarnya sesuatu yang generic, dan dapat ditiru oleh pemain yang lain dengan relatif gampang. Apabila TOTL tidak terus berupaya mencari dan mengembangkan competitive advantage yang baru, yang tidak bisa — atau setidaknya sulit — untuk ditiru, bukan mustahil bahwa pesaing akan menawarkan keunggulan yang sama dalam waktu beberapa tahun kedepan. Jika terjadi demikian, kualitas pengerjaan dan orientasi pelanggan akan menjadi hygiene factor yang dimiliki semua pemain.

Akan tetapi, jika TOTL dapat terus berada di depan para pesaingnya, dengan terus melakukan edukasi pelanggan maupun inovasi yang berkesinambungan, bukan hanya dalam hal teknis konstruksi, tapi juga dalam hal strategi bisnis, maka TOTL dapat terus bertahan dan tumbuh, bukan hanya sebagai perusahaan konstruksi swasta terbesar di Indonesia, dan tapi juga salah satu dari sedikit perusahaan yang bisa menjadi a price setter in the thin margins industry.

"Philip Kotler's Executive Class: 85 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Sukuk: Mengejar Ketertinggalan dari Malaysia

Selasa, 3 Maret 2009 | 05:38 WIB

Salah satu kejayaan Malaysia yang membuat Indonesia tidak berarti dalam pergulatan pasar modal dunia adalah penerbitan obligasi berbasis syariah atau akrab dikenal sukuk. Penerbitan sukuk dalam mata uang ringgit di pasar domestik Malaysia telah mendominasi seluruh penerbitan sukuk di dunia selama kurun waktu 2002 sampai 2005.

Pada tahun 2007, sebanyak 76 persen dari obligasi yang diterbitkan Pemerintah Malaysia adalah berbentuk sukuk. Adapun Pemerintah Indonesia baru menerbitkan sukuk dua kali, yakni pada Agustus 2008 dan Februari 2009.

Dua seri sukuk pemerintah yang terbit pada Agustus 2008 diserap pasar senilai Rp 4,699 triliun dan masuk ke APBN 2008. Adapun pada penerbitan sukuk ritel Februari 2009 senilai Rp 5,556 triliun, dan kemudian digunakan untuk membiayai defisit APBN 2009.

Bandingkan dengan Malaysia yang sukses menerbitkan sukuk pada denominasi ringgit senilai 39,548 miliar dollar AS antara tahun 2002 dan Oktober 2008. Ini belum termasuk sukuk yang diterbitkan dalam denominasi dollar AS.

Sigit Pramono dan A Aziz Setiawan, peneliti dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, dalam sebuah artikelnya, menyebutkan, potensi besar penerbitan obligasi syariah internasional, baik oleh perusahaan maupun pemerintah, belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia, termasuk badan usaha milik negara (BUMN). Padahal, instrumen ini sudah lama dimanfaatkan oleh banyak negara.

Lihat catatan Departemen Keuangan yang menunjukkan, penerbitan sukuk internasional terus meningkat. Pada tahun 2002, penerbitan sukuk masih 4,9 miliar dollar AS. Jumlah itu meningkat berlipat kali pada tahun 2007 menjadi lebih dari 30,8 miliar dollar AS. Jumlah ini makin meningkat pada 2008 yang mencapai 84,1 miliar dollar AS. Sementara, Indonesia belum sekalipun memasuki pasar sukuk internasional.

Serangan teroris

Dirjen Bimbingan Organisasi Masyarakat Islam, Departemen Agama, Nazaruddin Umar mengatakan, Malaysia memperoleh manfaat sangat besar pascaserangan teroris ke World Trade Centre (WTC) dan Markas Pentagon pada 9 September 2001. Dampak peristiwa itu adalah banyak dana asal Timur Tengah yang dicurigai sebagai sumber dana teroris. Akibatnya, para pemilik dana di negara-negara Arab mulai khawatir akan adanya pembekuan uang mereka di Amerika Serikat.

Atas dasar itu, mereka menarik dananya dari Amerika Serikat dalam jumlah besar. Tempat pengalihan itu, antara lain, Malaysia, yang sudah siap dengan sukuk pertamanya sejak tahun 2002. Setidaknya ada dana 800 miliar dollar AS yang ditarik dari Amerika Serikat saat itu, dan hingga saat ini masih mencari tempat untuk berinvestasi.

Hasil survei Islamic Finance Service Malaysia menunjukkan, pasar obligasi syariah dunia tahun 2005 tumbuh hingga 300 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini disebabkan berbagai faktor. Pertama, posisi obligasi syariah di Malaysia pada akhir tahun 2004 telah berhasil mencapai 6,7 miliar dollar AS.

Kedua, penjualan obligasi Pemerintah Pakistan pada bulan Januari 2005 yang mencapai 600 juta dollar AS, padahal permintaan yang masuk lebih besar dua kali lipat, yakni 1,2 miliar dollar AS. Ketiga, pada tahun 2005, Bank Pembangunan Islam (IDB) mengeluarkan obligasi syariah senilai 500 juta dollar AS.

Keempat, penjualan obligasi syariah di Bahrain diperoleh dana sebesar 152,2 juta dollar AS. Dan kelima, adanya penjualan obligasi syariah oleh dua perusahaan penjamin emisi global ternama, seperti CitiGroup dan HSBC Bank yang mencatat nilai 600 juta dollar AS.

Dengan kondisi itu, Sigit Pramono dan A Aziz Setiawan mengutarakan, sukuk merupakan sumber pembiayaan yang sangat menjanjikan. Apalagi, Indonesia membutuhkan dana dalam jumlah signifikan untuk membangun infrastruktur.

Sukuk istishna

Indonesia seharusnya bersiap dengan mengajukan proyek-proyek yang layak untuk dibiayai oleh pembiayaan syariah karena banyak pemegang dana di dunia yang mencari infrastruktur untuk dibiayai. Mekanisme pembiayaan proyek melalui sukuk sudah banyak dikenal di dunia, yakni sukuk istishna. Sementara, Pemerintah Indonesia baru berhasil menerbitkan sukuk yang didasari oleh jaminan aset dengan transaksi sewa menyewa kekayaan, yakni ijarah.

Saat ini, kebutuhan dana untuk membangun infrastruktur di Indonesia hingga tahun 2014 mencapai Rp 1.429 triliun. Sementara, pemerintah hanya mampu memenuhi Rp 451 triliun dari kebutuhan itu. Kekurangan Rp 978 triliun diharapkan ditutupi dari berbagai sumber, di antaranya, pihak swasta yang diharapkan berkontribusi Rp 365,36 triliun lewat proyek public private partnership (kemitraan swasta dan masyarakat/PPP).

Namun, mengundang pihak swasta untuk ikut serta bukan perkara mudah, apalagi di saat likuiditas sedang sangat ketat saat ini akibat krisis keuangan global. Dalam kondisi inilah, pembiayaan syariah diharapkan mengambil posisi strategis.

Jika dalam satu kali lelang sukuk internasional, seperti di Pakistan pada tahun 2005, ada kelebihan penawaran hingga 1,2 miliar dollar AS, maka sumber pembiayaan untuk proyek dengan menggunakan sukuk istishna sangat besar.

Jika setiap dollar AS setara Rp 11.000, maka dana berlebih yang tidak terserap dalam satu kali lelang sukuk mencapai Rp 13,2 triliun. Itu cukup menjanjikan untuk membiayai proyek-proyek.

Departemen Keuangan mengaku sudah menyampaikan permintaan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk memperoleh daftar proyek infrastruktur yang layak dibiayai sukuk. Namun, realisasi penerbitannya mungkin baru terjadi di semester II-2009.

Sebaiknya bergegas

Indonesia sebaiknya bergegas karena Pemerintah Malaysia sudah memulai pembiayaan proyek infrastruktur dengan sukuk, sejak tahun 2005, melalui perusahaan bentukan sendiri, yakni Cagamas Berhad.

Cagamas dimodali 150 juta ringgit dan langsung menerbitkan sukuk untuk membiayai proyek perumahan bagi pegawai negeri aktif. Setelah aktif mempromosikan sukuk di Hongkong, Singapura dan Timur Tengah, mereka memperoleh dana 2,05 miliar ringgit bagi pegawai negeri mereka.

Sukuk memang diterbitkan bukan untuk membuat aset berkurang, tetapi justru sebaliknya, membuat penerbitnya bertambah kaya. Jika penerbitnya pemerintah, maka tujuan sukuk adalah menambah kesejahteraan rakyat.(Orin Basuki)

Kompas

Pertama Kali Sejak 1997, Dow Jones Turun di Bawah 7.000

Selasa, 3 Maret 2009 | 05:16 WIB

NEW YORK, SELASA — Kekhawatiran investor terhadap prospek perusahaan keuangan AS dan resesi telah menenggelamkan indeks industrial Dow Jones ke bawah 7.000 atau pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari 11 tahun. Krisis kredit dan resesi telah memangkas nilai Dow Jones lebih dari separuhnya sejak indeks ini mencapai angka tertinggi di atas 14.000 pada Oktober 2007.

Menurut kalkulasi awal, indeks Dow Jones merosot 299,64 atau 4,24 persen dan berada pada 6.763,29. Dow Jones terakhir kali ditutup di bawah 7.000 pada 1 Mei 1997.

Sejumlah indikator saham lainnya juga merosot. Indeks The Standard & Poor's 500 merosot 34,27 atau 4,7 persen menjadi 700,82. Sementara itu, indeks gabungan Nasdaq turun 54,99 atau 4 persen menjadi 1.322,85.

"Di tengah memburuknya kondisi ekonomi, nilai-nilai saham masih terus memburuk dan bahkan lebih memburuk," kata Bill Strazzullo, Kepala Ahli Strategi Pasar Bell Curve Trading. Strazzullo yakin terdapat kans signifikan indeks The Standard & Poor's 500 dan Dow Jones akan jatuh seperti pada tahun 1995 masing-masing mencapai 500 dan 5.000.

Tahap pemulihan ekonomi AS memerlukan isyarat kesehatan di antara sejumlah perusahaan keuangan. Namun, selama tahun ini sejumlah perusahaan perbankan dan asuransi mengalami kerugian berlipat ganda meskipun mendapatkan suntikan dana ratusan miliar dollar AS dari Pemerintah AS.

Sejumlah nilai saham di bursa Wall Street berjatuhan setelah American International Group Inc melaporkan kerugian kuartalnya senilai 61,7 miliar dollar AS. Hal itu berlangsung saat Pemerintah AS sepakat menyuntikkan lebih banyak dana ke AIG. AIG akan menerima bantuan lagi senilai 30 miliar dollar AS setelah Pemerintah AS berjanji menanamkan investasi di perusahaan ini senilai 150 miliar dollar AS.


JIM
Sumber : AP

Kompas

Monday, March 2, 2009

[Kompas 100]: Indocement: "The Aspiring Solutions-Provider in Indonesia's Cement Industry"

Bagian 21 dari 100

Senin, 2 Maret 2009 | 07:19 WIB

Mengajari bayi makan merupakan tantangan yang mengasyikkan.

Bagi banyak orang tua yang punya bayi, itu seperti dipaksa untuk melakukan eksplorasi habis-habisan. Bisa dalam hal mencari kandungan makanan yang bagus, pilihan rasa yang tersedia, gampang tidaknya mendapatkan suatu merek, cara menyajikan makanan dan cara menyuapi. Proses eksplorasi semacam itu muncul karena para bayi yang menjadi end user itu tidak pernah bisa mengungkapkan apa maunya dan apa yang sebetulnya bagus untuk mereka.

Kalau orang tua dipaksa melakukan eksplorasi bermacam-macam, bisa dibayangkan tantangan yang dihadapi produsen makanan bayi. Mereka mesti bisa mempengaruhi para orang tua, yang merupakan influencer (dan sekaligus decision maker) agar memilih produknya, terutama yang dilengkapi dengan kandungan yang khas dari mereka. Dan biasanya proses edukasi tersebut dilakukan melalui dokter anak.

Perusahaan makanan bayi bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengalami tantangan dalam menjual produknya. Produsen semen adalah contoh lain yang juga mengalami tantangan dalam menjual produknya. Maklum, pemilik rumah, meski merupakan orang yang sebenarnya merupakan pembeli semen, begitu bergantung pada kontraktor atau tukang bangunan dalam mengambil keputusan.

Dan, pada suatu masa, bisnis semen ini hampir mirip dengan bisnis kecap. Jarang sekali ada merek nasional, karena terkait dengan karakteristik khasnya dalam hal ketergantungan pada kedekatan lokasi pabrik dengan pasar. Karena 35 persen komponen biaya di industri semen terletak pada biaya distribusi maka semen yang bersifat bulky tidak mudah dijual lintas geografi jika ingin tetap kompetitif secara harga.

Tapi seiring dengan ketatnya persaingan, yang namanya penjualan lintas geografi sudah mulai terlihat. Apalagi persaingan antar produsen yang sebetulnya berada di area yang sama. Tentu akan repot kalau perang harga cuma satu-satunya cara memenangkan persaingan.

Inilah yang sedang dihadapi PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP) yang kebetulan bukanlah pemain terbesar di industri ini. Hampir selusin pabriknya terkonsentasi hanya di pulau Jawa. INTP perlu differentiation lain sebagai celah untuk bersaing. Ini boleh jadi disadari betul oleh INTP. Berbekal merek Semen Tiga Roda yang mempunyai tingkat awareness yang tinggi, INTP mulai membangun jaringan kemitraan dengan para retailer sejak awal tahun 2007.

INTP memang punya tiga customer penting, yaitu end-user, retailer, dan industry. Seringkali retailer bisa menjadi senjata INTP untuk berperan sebagai influencer dan mempengaruhi end-user. Inilah yang menginspirasi terbentuknya Mitra Semen Tiga Roda (MSTR), program yang dibentuk untuk meningkatkan loyalitas para penjual semen terhadap INTP.

Program loyalitas ini unik karena memiliki kartu keanggotaan yang bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di beberapa merchant. Program ini juga menganut sistem poin. Program seperti ini mungkin biasa-biasa saja jika ditemui di industri business-to-customer (B2C) dimana program ditujukan langsung kepada end-user. Bedanya, anggota program ini adalah para pedagang semen, sehingga bisa dibilang ini adalah program loyalitas business-to-business (B2B). Program ini sangat emosional, bahkan kami sempat menjumpai MSTR di facebook. Padahal, banyak orang yang menyangka industri semen adalah industri komoditas.

Langkah membangun kemitraan ini bukanlah langkah instan. Proses edukasi para mitra merupakan langkah jangka panjang. Semua ini mungkin sebuah investasi bagi INTP mengingat jaringan kemitraan dengan pedagang ini bisa menjadi modal kuat untuk bisa memberikan solusi kepada end-user.

Selama ini, aspirasi produsen semen untuk menjadi solutions-provider bagi end-user seringkali terbentur kendala struktur distribusinya. Produsen tidak mempunyai akses langsung ke end-user. Retailer-lah yang bisa menjembatani hubungan tersebut. Jika berhasil membangun jaringan kemitraan ini tidak hanya di pulau Jawa, bukan mustahil INTP menjadi the first solutions-provider in Indonesia’s cement industry.

"Philip Kotler's Executive Class: 86 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Sunday, March 1, 2009

Krisis Buktikan Prinsip Ekonomi Islam Lebih Baik

Minggu, 1 Maret 2009 | 20:52 WIB

JAKARTA, MINGGU - Krisis ekonomi global yang terjadi saat ini membuat dunia memandang bahwa prinsip-prinsip perdagangan Islam lebih baik ketimbang dunia Barat.

"Di Barat banyak manipulasi-manipulasi atau penggelembungan yang membuat perekonomian di banyak negara runtuh," kata Direktur World Islamic Economis Forum Young Leaders Forum Sri Nazir Razak di Jakarta, Minggu (1/3).

Menurut Nazir, dalam World Islamic Economics Forum (WIEF) ini yang terpenting adalah membangun jaringan yang kuat dalam ekonomi antarnegara-negara Islam. "Kita akan melihat posisi ekonomi Islam sekarang dan mendatang, apa yang bisa membuat ekonomi negara-negara Islam bisa lebih baik lagi," ungkap Nazir.

WIEF dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Minggu (1/3). Ada 1.500 delegasi dari 35 negara yang menghadiri WIEF yang kelima ini.

Ada beberapa sesi dalam forum WIEF yang diselenggarakan hari ini. Pertama, dari Forum Pengusaha Wanita menekankan peran ganda para wanita dalam konteks sosial, organisasi dan individu. "Acara ini memberikan para wanita pengusaha platform untuk memperkuat kerjasama di antara para wanit pelaku usha dari seluaruh penjuru dunia dan membangun pemahamn yang sama atas kebutuhan bersama," kata Pimpinan WIEF Forum Pengusaha Wanita Norraesah Mohamad.

Sedangkan Forum Pemimpin Muda mengangkat topik mengenai suksesi kepemimpinan dalam upaya mewujudkan kesempatan yang lebih baik dalam kepemimpinan bisnis dan peran dari keuangan Islam di saat krisis global seperti saat ini

"Saat ini adalah kesempatan emas bagi komunitas Muslim untuk mengangkat isu pertumbuhan dana dan keuangan dari komunitas Islam sebagai alat untuk merevitalisasi kepemimpinan Muslim dan mempertegas posisinya dalam tataran dunia," Razak.

C4-09

Kompas

Komentar: "Ayo kita beralih dari investasi konvensional ke investasi berbasis syariah, seperti produk investasi yang dikeluarkan PRUDENTIAL. Contoh produk yang diinvestasikan ke saham adalah, PRULink Syariah Equity Fund. Prinsip syariah diterapkan pada produk ini, yaitu hanya perusahaan-perusahaan yang berlabel 'Halal' dan 'Jujur' dimasukkan dalam portofolio ini, artinya kita tidak perlu khawatir terhadap kinerja perusahaan2 ini dan Insya ALLAH tahan terhadap goncangan krisis keuangan eksternal"

[Kompas 100]: Mobile-8: A Fighter in A Price War Influenced Industry

Minggu, 1 Maret 2009 | 14:04 WIB

SEISI stadion Olimpiade Beijing berdiri dan memberikan tepukan bagi Samia Yusuf. Ini mungkin hal yang biasa, kalau sang pelari tersebut adalah pelari pertama yang masuk finis. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ketika para pesaingnya di lomba lari 200 meter sudah finis dan sedang melakukan peregangan, Samia belum separo jalan.

Semula tak banyak orang yang memperhatikan. Dan sudah biasanya perhatian diberikan kepada calon-calon juara yang akhirnya menjadi juara 1, 2 dan 3. Tapi begitu kamera televisi menangkap sebuah titik yang bergerak di lintasan dan kemudian terlihat semakin jelas, barulah seisi stadiun sadar apa yang terjadi.

Olimpiade sebetulnya bukan sekedar urusan siapa yang tercepat, terkuat dan tertinggi tapi juga semangat pantang menyerah. Dan Samia –yang datang dari Somalia, yang dianggap negara gagal – dengan badan kerempeng dan sebetulnya bukan atlet yang pas untuk berlomba di lari 200 meter itu merupakan contoh terbaik semangat pantang menyerah. Sehingga di Olimpiade Beijing bukan hanya Michael Phelps atau Usain Bolt saja yang bisa dijadikan inspirasi tapi juga Samia Yusuf.

Semangat pantang menyerah Samia memang sungguh dramatis. Tak heran kemudian Samia menjadi salah satu cerita menarik di Olimpiade Beijing yang dimuat di sejumlah media utama dunia. Tapi di kehidupan sehari-hari kita sering menemukan cerita semangat pantang menyerah yang bisa jadi tidak sedramatis tapi layak untuk diperhatikan.

Dunia bisnis kita juga menyimpan banyak cerita tentang perusahaan-perusahaan yang pantang menyerah, yang dengan keterbatasan resources dan memiliki size yang kecil tapi tidak ragu untuk bersaing dengan pemain yang memiliki resources lebih banyak dan size yang puluhan atau ratusan kali lipat. Dengan ketekunannya mereka bisa menciptakan layanan yang unik dan menemukan ceruk atau bahkan segmen yang tidak tergarap oleh pemain-pemain yang lebih besar. Inilah yang misalnya terjadi di industri seluler Indonesia.

Dalam industri ini sebetulnya sudah terlalu banyak pemain, kalau melihat jumlah pemain yang mencapai 11. Apalagi 3 pemain besar dalam industri seluler menguasai sekitar 80 persen pangsa pasar, dan 20-an persen selebihnya diperebutkan 8 pemain lainnya. Repotnya lagi, industri ini resource hungry, alias butuh modal besar yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tapi tantangan tersebut tidak menghalangi PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) yang masuk dalam 8 pemain lainnya untuk melakukan eksplorasi pasar. FREN misalnya menawarkan perlindungan asuransi kecelakaan dan rawat inap kepada pelanggan sebagai upaya menjaga loyalitas dan sekaligus menarik pelanggan baru. Dengan cara seperti ini, FREN seperti seorang pejuang yang ingin keluar dari jebakan perang harga yang mewarnai industri seluler sejak 2 tahun terakhir dan kedepan.

"Philip Kotler's Executive Class: 88 Days To Go"

Hermawan Kertajaya, Taufik

Kompas

Sekali Lagi Reksa Dana Terbatas

ADLER HAYMANS MANURUNG / PRAKTISI KEUANGAN

Dalam situasi krisis ini, pertanyaannya bagaimana menyiasati situasi saat ini agar terjadi pembangunan, tetapi bisa membukukan keuntungan secara baik.

Salah satu lembaga yang cukup baik didirikan untuk memenuhi keinginan investor tersebut adalah Reksa Dana Terbatas (RDT). Berdasarkan peraturan Bapepam IV.C.5, RDT adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari pemodal profesional yang selanjutnya diinvestasikan manajer investasi pada portofolio efek.

Investornya harus profesional, yaitu pemodal yang memiliki kemampuan membeli unit penyertaan dan menganalisis risiko terhadap reksa berbentuk kontrak investasi kolektif pernyataan terbatas.

Reksa dana ini bisa membeli efek (saham) perusahaan yang belum terdaftar di bursa, tetapi masih dalam pengembangan sehingga disebut juga equity private fund bila semua dana yang dimiliki untuk saham.

Perusahaan tersebut bisa saja baru berdiri dengan dana dari reksa dana terbatas ini. Tetapi, bisa juga RDT membeli saham perusahaan pembangunan pelabuhan (belum jadi) atau pelabuhan yang sudah jadi atau saham hotel yang sudah jadi dan beroperasi, tetapi belum terdaftar di bursa. Investasi RDT sangat luas dan bebas, tetapi harus dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, dibutuhkan investor profesional.

Konsep investasi RDT memberikan arti risiko RDT sangat bervariasi. Bila investasi sudah jelas, investor akan mempunyai risiko jelas. Bila investasinya belum jelas, RDT akan punya risiko pada masa mendatang.

RDT tidak mungkin muncul bila direncanakan sembarangan karena akan membuat reputasi manajer investasi berantakan.

RDT ini harus beraset awal minimum Rp 25 miliar dan bisa lebih tinggi dan nilainya kelipatan Rp 5 miliar. Jumlah investor tidak bisa melebihi 50 pihak sehingga maksimum sebanyak 49 pihak. Bila setiap pihak berinvestasi Rp 5 miliar dan 49 pihak menjadi pemegang unit, minimum investasi investor pada reksa dana besarnya Rp 245 miliar. Tetapi, nilai batasan maksimum setiap investor tidak disebutkan dalam peraturan Bapepam sehingga nilai investasi awal bisa semaksimum mungkin.

Mudah didirikan

RDT sangat mudah didirikan karena tidak seperti reksa dana konvensional. Pendiriannya ibarat mendirikan usaha karena manajer investasi dan bank kustodian membuat perjanjian dalam bentuk kontrak investadi kolektif (KIK) dengan diaktakan notaris.

Bila sudah ada akta KIK, manajer investasi harus menyampaikan pernyataan kepada Bapepam paling lambat 10 hari setelah akta KIK ditandatangani dan manajer investasi menunggu surat efektif dari Bapepam. Sampai saat ini baru satu RDT yang izinnya dikeluarkan Bapepam. Adapun manajer investasi yang telah mengelola RDT adalah PT Bahana TCA Asset MAnagement.

Dalam peraturan IV.C.5 disebutkan cara perhitungan nilai aktiva bersih (NAB) RDT. Perhitungan dan publikasi NAB dilakukan setiap tiga bulan dan manajer investasi diwajibkan memberi penilaian wajar atas seluruh portofolio investasi.

Perhitungan nilai pasar wajar ini tidak wajib mengikuti peratuean Bapepam IV.C.2. Oleh karena itu, manajer investasi harus mencari nilai pasar wajar portofolio investasi agar investasi tidak dirugikan. Manajer investasi bisa menggunakan penilaian perusahaan penilai atau penilai bisnis. Sebaiknya, profesional penilai tersebut harus terdaftar di Bapepam.

Karena perhitungan NAB RDT setiap tiga bulan sekali, reksa dana ini tidak wajib mempublikasikan NAB harian di surat kabar seperti reksa dana konvensional. Tetapi, NAB yang dihitung setiap tiga bulan tersebut wajib diketahui investor. Manajer investasi dapat mempublikasikannya melalui media masa atau mengirimkan kepada investor.

NAB RDT juga merupakan laporan yang harus disampaikan manajer investasi kepada Bapepam. Laporan NAB harus disampaikan paling lambat 12 hari setelah berakhirnya periode tiga bulan tersebut.

Laporan lain yang harus disampaikan manajer investasi adalah laporan tahunan. Laporan ini wajib diperiksa akuntan publik yang terdaftar di Bapepam dan wajib disampaikan kepada pemegang unit penyertaan RDT.

Laporan ini paling lambat disampaikan pada akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan. Kata periksa oleh akuntan publik agak berbeda dengan melakukan audit, tetapi interpretasinya sama seperti yang dikerjakan akuntan publik.

RDT ini harus dikelola manajer investasi yang berpengalaman minimum lima tahun. Posisi manajer bisa juga diisi mereka yang belum berpengalaman asalkan mempunyai sertifikasi Chartered Financial Analyst (CFA).

Disamping itu, perusahaan juga harus mempunyai modal disetor sekurang-kurangnya Rp 25 miliar dan ini agak berbeda dari perusahaan manajer investasi yang kini banyak mengelola reksa dana.

Di sisi lain, manajer investasi harus mempunyai minimum satu unit RDT yang nilainya Rp 5 miliar. Perusahaan manajer investasi tidak wajib mempunyai unit reksa dana yang dia kelola. Kewajiban modal setor Rp 25 miliar ini merupakan satu faktor untuk bisa memiliki unit RDT.

Bubar

RDT bisa dibubarkan, sama halnya seperti reksa dana konvensional. Persyaratan pembubaran adalah adanya perintah Bapepam sesuai peraturan perundang-undangan pasar modal. Pembubaran juga bisa karena kesepakatan antara manajer investasi dan bank kustodian dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari pemegang unit penyertaan.

Adanya persetujuan dari pemegang unit penyertaan mengakibatkan diperlukannya pertemuan di antara pemegang unit penyertaan melalui rapat umum pemegang unit penyertaan (RUPUP). Manajer investasi harus mencantumkan hak RUPUP ini di dalam kontrak investasi kolektif RDT. Selamat berinvestasi.

Kompas