Sunday, October 11, 2009

INVESTASI: Mengorganisasikan Pengeluaran

Minggu, 11 Oktober 2009 | 02:39 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi keuangan

Tunjangan hari raya atau THR diberikan kepada karyawan perusahaan saat seputar hari raya, termasuk Lebaran lalu. Untuk apa dana THR tersebut Anda pergunakan? Tentu setiap orang memiliki hak menggunakan dananya, tetapi dalam konsep perencanaan keuangan pendapatan yang tidak terkelola malah bisa menimbulkan beban baru.

Jika THR digunakan sebagai uang muka untuk membeli barang tertentu, maka hal itu akan menjadi beban baru. Yang terjadi selanjutnya, jumlah kewajiban menjadi bertambah. Oleh sebab itu, agar pendapatan bermanfaat, tidak ada salahnya kita mengorganisasikan pengeluaran.

Ada orang yang menentukan pengeluaran berdasarkan penghasilan. Kalau penghasilan meningkat, pengeluaran juga bertambah. Hanya saja terkadang pertambahan kebutuhan untuk pengeluaran lebih besar ketimbang peningkatan penghasilan.

Contohnya, penggunaan THR sebagai uang muka pembelian motor. Pada bulan-bulan berikut, jumlah pengeluaran dipastikan bertambah karena ada angsuran kredit yang mesti dibayar, sementara penghasilan belum tentu bertambah. Karena itu, agar tidak terjebak dalam ”perangkap” peningkatan penghasilan, mulailah mengalkulasi kebutuhan dari sisi pengeluaran. Salah satu caranya dengan mengorganisasikan pengeluaran.

Pengeluaran primer

Secara singkat, organisasi pengeluaran dibagi menjadi tiga jenjang, yakni pengeluaran primer, pengeluaran sekunder, dan pengeluaran tersier. Sepanjang pengeluaran untuk kebutuhan primer terpenuhi, maka walaupun pengeluaran sekunder dan atau tersier tidak ada, tidak akan menjadi masalah.

Pengeluaran primer adalah sandang, pangan, dan papan. Jika tiga hal ini belum terpenuhi, tentu akan menimbulkan masalah. Yang kerap menjadi problem sebenarnya bukanlah esensi dari sandang, pangan, dan papan, melainkan jenis dan keinginan masing-masing orang terhadap ketiga hal tersebut.

Soal papan, misalnya. Orang boleh jadi sudah memiliki rumah, tetapi masih ingin memiliki rumah kedua, ketiga, dan seterusnya. Padahal, rumah kedua dan seterusnya sebenarnya bukan lagi kebutuhan primer, melainkan sudah masuk ke jenjang kebutuhan sekunder atau tersier. Jadi, yang dimaksudkan sebagai rumah sebagai kebutuhan primer adalah rumah untuk ditinggali.

Demikian juga dalam memaknai sandang. Esensinya kita bisa berpakaian layak.

Soal merek terkenal atau tidak, itu bukan lagi kebutuhan primer. Itu masuk ke area kebutuhan sekunder atau tersier. Jika Anda tidak memakai kemeja buatan Italia dan hanya menggunakan kemeja buatan Bandung, toh Anda tidak akan kedinginan, bukan?

Begitu juga dengan kebutuhan pangan. Intinya bagaimana tubuh cukup mendapat asupan makanan. Sepanjang tubuh tidak lapar dan terpenuhinya asas kesehatan, itulah makna kebutuhan akan pangan. Jika Anda gemar makan sup sirip ikan hiu atau daging sapi impor dari Hokaido, maka itu bukan kebutuhan primer. Itu hanyalah kebutuhan tersier sebab tanpa makan kedua jenis makanan itu toh Anda tidak kekurangan gizi.

Dari uraian di atas, jelas, kebutuhan pengeluaran jika dilakukan bijaksana dan sesuai esensi bukanlah hal sulit. Berapa pun kecilnya penghasilan, Anda pasti mampu memenuhi kebutuhan primer.

Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana jika membeli rumah saja belum bisa? Bagaimana jika membeli kendaraan juga belum bisa? Benar. Tempat berteduh adalah rumah. Tetapi, rumah selain dibeli—jika sudah mampu—bisa juga disewa. Dengan menyewa rumah, Anda toh juga sudah menempati rumah.

Langkah selanjutnya meningkatkan kinerja keuangan sehingga rumah yang sebelumnya hanya mampu disewa bisa dimiliki. Itulah kemudian perlunya pengorganisasian pengeluaran, yakni membuat prioritas dalam memenuhi kebutuhan.

Kemauan dan disiplin

Dalam kaidah pengelolaan keuangan pribadi yang lebih modern, pengeluaran primer bisa dibagi lagi menjadi tiga, yakni kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, papan. Kemudian kebutuhan pengeluaran untuk investasi dan proteksi. Intinya, betapapun kecil penghasilan, jika Anda menginginkan adanya perbaikan kualitas hidup, maka harus ada alokasi untuk investasi.

Dana inilah yang nantinya bisa Anda pergunakan membeli rumah. Perlu ada juga proteksi berupa asuransi. Uang pertanggungan asuransi itulah yang nanti akan bermanfaat untuk keluarga jika sudah jatuh tempo atau terjadi risiko pada diri Anda.

Dengan pengorganisasian atau restrukturisasi alokasi pengeluaran seperti itu, peluang hidup dengan relatif memadai akan lebih mudah dicapai. Dalam bahasa lebih terang, fokus pada esensi pengeluaran primer akan membantu Anda selanjutnya bisa memenuhi kebutuhan sekunder maupun tersier.

Yang paling penting, Anda mesti memiliki ukuran sendiri tentang esensi dimaksud. Bukan ukuran yang dipakai tetangga atau atasan Anda. Anda juga harus memiliki keyakinan dan kesungguhan bertindak sebagaimana prinsip pengelolaan keuangan pribadi. Kata kuncinya kemauan dan disiplin.

KOMPAS

No comments: