BLOGSPOT atas

Friday, February 20, 2009

[Kompas 100]: Panorama: "A Builder of Integrated Travel and Tourism Business"

Bagian 10 dari 100

Jumat, 20 Februari 2009 | 07:18 WIB

Tahukah Anda banyak bisnis yang sukses dan berskala besar bermula dari hobi?
Anda mungkin familiar dengan sejumlah orang yang melukis untuk mengisi waktu luang, kemudian mulai menjual lukisannya.

Begitu juga dengan cerita orang-orang yang hobi masak-memasak dan sering mengundang orang menikmati hidangannya bisa berhasil mendirikan restoran yang laris. Lalu tentang orang-orang yang gemar jadi panitia berbagai event kemudian mendirikan perusahaan event organizer terkenal.

Tapi karena yang namanya hobi itu tidak terbatas, maka tidak terbatas pula skala bisnis yang bisa dibuat. Di Amerika ada orang yang hobi membuat model pesawat dan kemudian mendirikan perusahaan designer model pesawat yang dilengkapi dengan para insinyur penerbangan. Di Australia ada orang yang gemar meracik berbagai macam bir dan kemudian mendirikan perusahaan pembuat bir independen terbesar di Australia.

Kisah serupa ternyata juga terjadi di industri parawisata Indonesia, seperti yang dialami Adhi Tirtawisata, mantan lawyer yang pada saat ini dikenal sebagai salah satu icon di industri ini. Awalnya dimulai dengan kegemaran Adhi dalam membantu orang untuk berwisata. Dan karena sudah hobi, maka meski harus mengurus sendiri dari tiket hingga sopir, semua dijalankan dengan ringan.

Yang menjadi tantangan bagi Adhi adalah ketika ia menjalankan bisnis berbasis hobi ini di tahun 60-an, dimana alat komunikasi yang tersedia sangat terbatas. Ini berbeda dengan jaman sekarang, keberadaan Internet membuat orang yang ingin mengubah hobi yang digemarinya menjadi bisnis mampu menjangkau pasar global dengan relatif lebih mudah. Karena itu, setelah mengalami kegagalan dalam mengelola sendiri bisnisnya, Adhi akhirnya memutuskan untuk bekerja bagi orang lain, agar masih bisa berbisnis di bidang yang masih merupakan hobi-nya.

Karena memang sudah bertekad membangun bisnis dari hobi, Adhi menjadikan waktu bekerja di perusahaan lain sebagai kesempatan belajar mengelola sebuah bisnis travel. Dan ini bukan sekedar dalam hal urusan rutin operasional, tapi juga bagaimana mengembangkan bisnis travel. Sehingga, ketika akhirnya punya kesempatan lagi, Adhi tidak ragu untuk mendirikan cikal bakal PT Panorama Sentrawista Tbk (PANR) di tahun 1972.

Bermula dari sekedar menjual tiket pesawat terbang, saat ini bisnis PANR sudah berkembang pesat, lebih dari sekedar inbound dan outbound businesses. Inbound business-nya bukan hanya menjadi layanan end-to-end bagi turis mancanegara, namun pelan tapi pasti membuat PANR memiliki pilar bisnis tambahan, yaitu transportasi. Di bisnis transportasi ini PANR punya merek-merek bus wisata yang dikenal luas seperti White Horse atau Gray Line yang banyak membawa rombongan turis mancanegara.

Meski sudah berhasil mengembangkan pilar bisnis seperti transportasi dan belakangan ini MICE, tidak berarti langkah pengembangan PANR terhenti. Misalnya, dalam pengembangan jaringan pelayanan, selain melakukannya sendiri dibawah nama Panorama Tours, PANR juga membangun jaringan pelayanan dengan sistem franchise dengan nama Panorama World. Hal tersebut terakhir ini secara tidak langsung menunjukkan kekuatan merek Panorama.

Keberanian sejumlah investor untuk mengambil franchise Panorama World bisa jadi didasari oleh sejumlah alasan berikut: asosiasi PANR sebagai sebuah perusahaan terintegrasi dalam travel and tourism yang membidik segmen kelas atas baik inbound maupun outbound, punya track record bagus dalam hal jumlah turis dari luar yang berhasil didatangkan, serta punya layanan corporate travel management domestik dan internasional yang dijadikan pilihan banyak perusahaan yang rutin mengirimkan karyawan berprestasi untuk berwisata.

Belum lagi adanya aliansi dengan pemain bereputasi di pasar internasional seperti Carlson Wagonlit Travel Worldwide dan Chan Brothers Travel Singapore yang bisa menjadi indikator lain kekuatan merek PANR. Nama Adhi Tirtawisata yang tahun 2008 mendapatkan The Lifetime Entrepreneur of the Year dari Ernst & Young, dan juga dikenal sebagai pelopor inbound business sekaligus icon industri pariwisata Indonesia, juga bisa menjadi alasan yang kuat bagi para investor franchise Panorama World.

Meskipun demikian, kami mengidentifikasi potensi ancaman yang bisa menjadi penghambat langkah PANR di masa datang. Ekspansi yang dilakukan PANR untuk memastikan layanan terintegrasi berkualitas tinggi, terutama di bidang-bidang yang sebenaranya bisa dilakukan pihak lain dengan kualitas tinggi tapi lebih murah, akan mengurangi efektivitas layanan terintegrasi tersebut. Inilah yang menjadi tantangan bagi perusahaan yang memberikan layanan terintegrasi, bagaimana tahu kapan untuk make or buy.

Selain menjadi builder of integrated travel and tourism, PANR juga dikenal inovatif dalam memperluas pasar. Kalau produknya selama ini fit untuk segmen kelas atas, PANR kini mulai mengembangkan budget traveling products. Bila ini berjalan dengan baik, bukan tak mungkin kalau PANR akan dikenal sebagai an integrated and comprehensive travel and tourism company.

"Philip Kotler's Executive Class: 96 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Thursday, February 19, 2009

Indonesia Miliki Lembaga Keuangan Syariah Terbanyak Se-Dunia

Kamis, 19 Februari 2009 | 11:19 WIB

BANDUNG, KAMIS — Meski bergerak lambat dalam perkembangan ekonomi syariah, saat ini Indonesia menjadi negara dengan jumlah bank dan lembaga keuangan yang berlandaskan sistem syariah terbanyak di dunia.

"Hal ini terbukti dengan hadirnya 33 bank, 46 lembaga asuransi, dan 17 mutual fund yang menganut sistem syariah," kata pakar ekonomi syariah sekaligus Direktur Tazkia Institute Dr Syafi’i Antonio pada seminar "Rekonstruksi Pemikiran Ekonomi Syariah dan Implementasinya" di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Rabu, seperti ditulis situs web Unpad.

Dikatakan, lambatnya pergerakan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia disebabkan adanya dualisme antara kaum ulama dan para ekonom yang sibuk pada bidangnya masing-masing.

Ulama hanya bergaul pada masalah akidah, ibadah, munakalah, dan jinayah, sedangkan pengetahuan mengenai mualamah dan transaksi bisnis sangat minim. "Sementara para ekonom, ahli di bidang fiskal, moneter, dan masalah finansial lainnya minim mempelajari syariah," kata Dr. Syafi’i Antonio di hadapan Rektor Unpad Prof Dr Ir Ganjar Kurnia, DEA dan unsur pimpinan Unpad, para guru besar, dan mahasiswa.

Penulis 12 buku perbankan dan leadership dan komite ahli Bank Indonesia itu memaparkan materi berjudul "Islamic Finance, Global Development, Local Challenges, and HRD Opportunities".

Masalah tersebut, kata Syafi’i Antonio belum ditambah dengan kurangnya keberanian Indonesia mendirikan bank Islam. Padahal, Indonesia disebut-sebut sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. "Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Inggris. Negara dengan minoritas umat Muslim itu justru berani mendirikan Islamic Bank of Britain", ucapnya.

Inggris berani mencantumkan secara eksplisit kata "Islamic" sebagai representasi lembaga keuangan dengan sistem syariah yang mengharamkan riba di dalamnya.

Sementara Indonesia masih ketakutan mencantumkan kata tersebut dan hanya berani menggunakan kata "syariah". Meski Bank Indonesia telah memiliki Islamic Bank, tetapi kata itu masih diterjemahkan sebagai bank syariah.

Tantangan yang perlu dihadapi Indonesia ke depan adalah menggerakkan bank syariah menjadi bank Islam. Pergerakan inilah, menurut Syafi’i, menjadi faktor yang sangat penting agar Indonesia dapat keluar dari permasalahan besar, yaitu rendahnya penghasilan masyarakat.

"Jika pendapatan rendah, nutrisi masyarakat akan terganggu yang berakibat pada munculnya beragam penyakit. Jika masyarakat sudah rentan terhadap penyakit maka produktivitas menjadi rendah yang lagi-lagi berakibat pada minimnya pendapatan," katanya.

Diakuinya, meski banyak bank berlogo syariah, dalam kenyataannya belum mampu menghidupkan sektor perekonomian masyarakat kecil. "Dinamakan syariah, apabila rukun dan syarat Islam terpenuhi. Namun, apabila masih melupakan pengusaha kecil dan hanya membantu pengusaha kaya, bukan Islam namanya," kata Syafi’i Antonio.

EDJ
Sumber : Ant

Kompas

PELEMAHAN RUPIAH: Mahalnya Ongkos Menahan Rupiah

Kamis, 19 Februari 2009 | 09:45

JAKARTA. Sepanjang Februari 2009, rupiah benar-benar tak berdaya. Rabu (18/2) pukul 20.45 WIB, rupiah tumbang ke level Rp 12.075 per dolar Amerika Serikat (AS). Gerakan rupiah juga liar.

Kepala Tresuri BNI Rosady T. A. Montol bilang, bukan rupiah saja yang loyo, tapi hampir semua mata uang selain dolar AS. Mata uang hijau ini kian perkasa setelah Presiden Barack Obama menandatangani stimulus fiskal, Selasa (17/2). Ini akan mendorong investor berburu dolar dan membeli obligasi pemerintah AS.

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono menambahkan, faktor kedua penyebab lemahnya rupiah bulan ini adalah penurunan BI Rate sebesar 0,5%. "Penurunan itu bagus, cuma waktunya tidak tepat, karena rupiah sudah berada Rp 11.700," jelasnya, kemarin.

Kedua analis ini pun melihat angka Rp 12.000 sebagai batas psikologis baru rupiah. Artinya, dalam jangka pendek ini, rupiah masih akan tertekan di sekitar angka itu.

Biaya mengerem rupiah

Nasib rupiah di semester satu ini agaknya memang suram. Satu-satunya bekal rupiah menguat adalah bantuan Bank Indonesia (BI) untuk mengguyur dolar ke pasar.

Masalahnya, Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa melihat sikap BI yang kurang aktif mengintervensi pasar. "Mestinya dalam kondisi begini BI harus lebih banyak intervensi," sesal Purbaya.
Masalahnya, ongkos BI untuk meredam tekanan jual rupiah itu mahal. Cadangan devisa makin menipis. Per 30 Januari 2008, brankas devisa tersisa US$ 50,87 miliar. "BI beralasan dana segitu merupakan batas aman psikologis pasar," ujar Yudhi.

Tony juga melihat BI terlalu berhati-hati dalam mengamankan rupiah. Tapi ia sependapat dengan BI, cadangan devisa di bawah US$ 50 miliar akan berefek negatif bagi pasar. "Teorinya, cadangan devisa yang aman itu setara empat bulan impor. Saat ini, cadangan devisa cukup untuk 4,5 bulan impor," jelasnya.

Nilai cadangan devisa itu sudah turun banyak. Juli 2008, cadangan devisa masih sekitar US$ 57 miliar. Artinya, dalam enam bulan, devisa negara amblas US$ 6 miliar.

Kalau dirata-rata, ongkos menahan rupiah US$ 1 miliar per bulan. Cuma, di September 2008, cadangan devisa deras mengucur keluar untuk menutup minggatnya dana asing saat Lehman Brothers bangkrut. "Jumlahnya bisa US$ 3 miliar-US$ 4 miliar. Jadi, kemungkinan, intervensi BI di bulan-bulan kemarin hanya ratusan juta dolar saja," terang Tony.

Masalahnya, kita tak bisa berharap cadangan devisa bertambah subur tahun ini. Bukan cuma ekspor melorot, dana asing yang masuk pun terbatas akibat krisis.

Tony masih berharap rupiah menguat ke bawah Rp 11.000 di semester dua. "Dengan syarat ada capital inflow." Ia juga menyarankan pemerintah menambah fasilitas swap dengan negara lain atau mencari stand by loan bilateral untuk menambal dompet devisa itu.

Rika Theo, Badrut Tamam KONTAN

- Muhammad Idham Azhari

[Kompas 100]: Adhi Karya: "A Popular Construction Company"

Bagian 9 dari 100

Kamis, 19 Februari 2009 | 07:05 WIB

Usaha untuk tampil beda bagi yang memiliki nama [belakang] dan kemampuan yang kurang lebih sama, ada banyak bentuknya.

Meski dari namanya sudah jelas apa artinya, tetap saja banyak orang yang penasaran dengan asal mula nama group band Koes Plus. Kebetulan dalam band tersebut ada satu orang yang bukan bagian dari keluarga Koeswoyo, yaitu Murry yang menjadi drummer. Padahal ada anggota keluarga Koeswoyo yang sebenarnya drummer yang bagus, Nomo Koeswoyo. Nomo juga adalah ayah penyayi cilik jaman dulu Chicha Koeswoyo yang dikenal dengan lagunya “Heli” yang pertama kali dinyanyikan pertengahan tahun 70-an dan sampai sekarang masih terkenal.

Yang pasti penyebabnya bukan perselisihan di antara anggota keluarga, kalau melihat bahwa para anggota keluarga Koeswoyo dulu bahkan tinggal dalam satu komplek. Generasi kedua mereka, termasuk yang tidak masuk dalam Koes Plus ataupun Koes Bersaudara (dimana Murry sempat diganti Nomo) bahkan pernah membuat group band yang sempat popular. Bagi kami, langkah Nomo yang tidak bergabung dalam group band bersama saudara-saudaranya justru dilakukan untuk menunjukkan eksistensinya.

Kisah yang terjadi dengan keluarga Koeswoyo ini mirip dengan kondisi beberapa perusahaan konstruksi BUMN yang semuanya menggunakan nama “Karya”. Tapi berbeda dengan anggota keluarga Koeswoyo, mereka belum dibentuk dalam satu grup atau holding company. Mau tak mau, mereka akan bersaing satu sama lain, termasuk dalam brand equity.

Kalau Nomo Koeswoyo tampil beda dengan tidak masuk dalam Koes Plus, lain pula yang dilakukan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), salah satu BUMN konstruksi terbesar di Indonesia. Logo bundar berwarna merah dengan tulisan ADHI di tengahnya bisa ditemukan di depan proyek konstruksi skala besar di berbagai sudut kota Jakarta dan kota besar lainnya. Ini adalah langkah besar ADHI untuk menjadikan dirinya lebih populer dibandingkan dengan BUMN Karya lainnya.

Dengan cara seperti itu, bahkan mereka yang bukan target market langsung ADHI menjadi tahu logo dan namanya. Memang banyak yang penasaran mengapa perusahaan B2B seperti ADHI merasa perlu mendapatkan brand awareness dari konsumen kebanyakan.

Jawaban yang gampang adalah posisi ADHI sebagai sebuah perusahaan public -- pertama diantara BUMN konstruksi lainnya -- sejak 18 Maret 2004. Investor ritel, yang awam terhadap berbagai laporan perusahaan, menjadi gampang mengambil keputusan investasi di perusahaan yang mereka kenali, sekalipun itu perusahaan B2B. Apalagi setelah go-public perusahaan ini mendapatkan exposure di Infrastructure Summit I (2005) dan II (2006).

Dengan mengusung tagline “Beyond Construction”, ADHI berniat berkembang dari sekedar berbisnis di konstruksi, ke EPC (engineering procurement construction) dan investasi. Belakangan, ADHI bahkan sudah merambah bisnis di mancanegara, seperti di Oman, Qatar, India, dan bahkan membentuk anak perusahaan di Singapura. Singkat kata, logo dan tagline baru adalah simbolisasi dari proses pengembangan bisnis ADHI.

Namun kami melihat bahwa terlalu fokus pada growth dapat mengalihkan perhatian manajemen dari upaya memperkuat kapasitas perusahaan men-deliver pekerjaan dengan kualitas tinggi. Bagaimanapun juga, seperti terlihat pada model Besanko, growth tersebut harus diimbangi dengan upaya melakukan efisiensi, yang pada akhirnya akan mendukung kemampuan perusahaan menawarkan harga yang kompetitif bagi customer.

Tampaknya ini disadari betul oleh Bambang Triwibowo, Direktur Utama ADHI yang baru dilantik 19 Juni 2008. Dengan membentuk tim khusus peningkatan efisiensi,peningkatan kompetensi SDM,dan pengurangan biaya bunga, dg mengevaluasi cash flow system yg ada, mantan Direktur Operasi PT Pembangunan Perumahan ini hendak memfokuskan perusahaan pada peningkatan kinerja internal dan juga pada proyek yang sudah berjalan.

Di pihak lain, inovasi yang terus menerus juga menjadi perhatian utama bagi salah satu pemenang penghargaan “CEO Idaman 2008” versi majalah Warta Ekonomi ini. Langkah Bambang Triwibowo tersebut mulai terlihat pada implementasi beton Pre-cast Slab yang inovatif yang pertama kali dilakukan di Indonesia dalam proyek ADHI untuk membangun jalan tol Kanci–Pejagan, yang dimulai Oktober 2008. Selain itu, keberhasilan divisi Penelitian dan Pengembangan yang dibentuknya juga akan dilihat dari dihindarinya reinventing the wheel dalam perusahaan, terutama pada proyek-proyek baru ADHI.

Berbagai langkah penyempurnaan di perusahaan yang pernah mendapat penghargaan sebagai “The Most Admired Company” ini diharapkan bisa mentransformasikan ADHI dari a popular construction company menjadi the most reputable construction company in Indonesia.

"Philip Kotler's Executive Class: 97 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Wednesday, February 18, 2009

Hebat! Indonesia Tujuan Wisata Spa Terbaik di Dunia

Rabu, 18 Februari 2009 | 21:11 WIB

JAKARTA, RABU — Indonesia terpilih menjadi tujuan wisata spa terbaik di dunia melalui penghargaan yang akan dianugerahkan International Wellness Awards kepada Indonesia dalam International Travel Bourse di Berlin, Jerman.

"Mengapa Indonesia? Sebab Indonesia mampu mempertahankan warisan budaya leluhur dikombinasikan dengan hasil riset terbaru," kata Pimpinan Selected Hotel Promotion Inc. (Organisasi Pariwisata Internasional Ternama), Frank Pfaller, dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Rabu (18/2).

"Indonesia melalui Bali telah terpilih sebagai "The Best Spa Destination in The World," tambahnya.

Penghargaan tersebut akan diserahkan dalam rangka penyelenggaraan pameran pariwisata tahunan yang bergengsi, yaitu International Tourism Bourse (ITB) di Berlin, Jerman, awal Maret 2009.

"Rencananya, upacara penganugerahan akan dihadiri oleh para tokoh pariwisata terkemuka dari seluruh penjuru dunia," katanya.

Hal itu karena kegiatan ITB merupakan pameran terbesar yang melibatkan ribuan pelaku bisnis di dunia pariwisata internasional. Penghargaan tersebut rencananya akan diterima langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang akan hadir dalam kegiatan ITB di Berlin.

Bali dinilai merupakan kawasan wisata spa terbaik karena mampu memelihara kebudayaan asli leluhur termasuk warisan raja-raja kuno. Bahkan, terminologi khas Bali dalam kaitannya dengan spa seperti boreh dan lulur telah diakui secara internasional.

Raja juga dapat penghargaan

Pada kesempatan yang sama, Raja Denpasar IX, Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pamecutan juga akan dianugerahi penghargaan Senses Wellness Award 2009 dari organisasi yang sama.

Raja Denpasar IX juga akan menerima "The Five-star-Diamond Lifetime Achievement Award" yang akan diberikan oleh Presiden American Academy of Hospitality Sciences Joe Cinque atas sumbangsih dan pengabdiannya dalam hal hubungan pertukaran dan perkembangan kebudayaan internasional.

"Kami mewakili masyarakat spa di Bali akan berangkat dalam acara tersebut di samping karena tahun ini Bali terpilih menjadi tujuan spa terbaik dunia," kata Raja Denpasar IX Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pamecutan.

Ia berharap, penerimaan penghargaan tersebut dapat lebih memperkenalkan pariwisata Indonesia kepada dunia internasional.

Raja Denpasar IX rencananya akan berangkat dan membawa rombongan misi kebudayaan yang terdiri dari 80 raja dan sultan seluruh Indonesia yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara.

"Kami juga akan membawa tim kesenian Bali klasik dan kesenian dari seluruh nusantara untuk mempromosikan adat tradisi budaya kita kepada dunia. Prinsipnya bukan Indonesia untuk pariwisata, tetapi pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia," katanya.

MSH
Sumber : Antara

Kompas

[Kompas 100]: AKR Corporindo: "A Distribution Master in the Indonesian Chemical Materials Business"

Bagian 8 dari 100

Rabu, 18 Februari 2009 | 07:26 WIB

Tidak ada yang namanya pendekar instan di film-film silat. Semuanya harus melalui tempaan yang panjang dan melelahkan, didukung oleh kesabaran, ketekunan serta kepintaran. Kalau tidak, bisa-bisa baru berhasil menjadi pendekar ketika sudah lanjut usia.

Analogi pendekar di film silat ini adalah gambaran perjalanan bisnis PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang dibangun Soegiarto Adikoesoema dari Surabaya pada tahun 1960 sebagai sebuah perusahaan dagang bahan-bahan kimia. Ini adalah dunia yang kecil. Orang gampang tahu siapa yang jual dan siapa yang beli, kualitas produk yang ada di pasar, serta apa saja kegunaan dari bahan-bahan kimia yang diperjualbelikan.

Bagi AKRA, hal ini kemudian dijadikan tantangan untuk pelan tapi pasti mengubah diri menjadi lebih dari sekedar perusahaan dagang bahan-bahan kimia biasa. Dengan mengenali rupa-rupa bahan kimia yang dibutuhkan di Indonesia pada saat itu dan siapa yang membutuhkannya, di tahun 1970-an AKRA kemudian masuk sebagai importir bagi Unilever, perusahaan global consumer goods yang produknya dipakai di banyak rumah tangga Indonesia dari generasi ke generasi. Setelah berhasil menjadi importir Unilever, AKRA lalu berusaha menjadikan diri sebagai importir andalan Unilever.

Untuk sebuah perusahaan dagang atau importir, menjadi pemasok andalan perusahaan global merupakan upaya branding yang efektif. Dengan ini, AKRA bukan hanya berusaha mempertahankan posisi tersebut tapi juga meningkatkan diri. Dengan brand yang mulai dikenal luas, AKRA pelan tapi pasti memposisikan diri sebagai perantara yang handal antara pabrikan global bahan-bahan kimia dan perusahaan global yang butuh bahan-bahan kimia kelas dunia sebagai bahan baku produknya.

Sampai pada tahapan tersebut, AKRA seolah seperti pendekar yang menguasai jurus silat andalan baru, yang sulit ditandingi. Hal ini jelas memperkuat kepercayaan diri untuk melangkah ke tahap kependekaran berikutnya. Inilah yang kemudian dilakukan oleh AKRA dengan mencoba berkembang dari sekadar perantara yang handal menjadi sebuah pabrikan bahan kimia kelas dunia.

Dalam melangkah menjadi pabrikan bahan kimia, AKRA berusaha memilih bukan hanya berdasarkan keberadaan bahan baku yang unik dan melimpah di Indonesia, tapi keluasan pasar yang bisa dibidik. Ini dilakukan AKRA agar punya bargaining position yang bagus ketika berhadapan dengan perusahaan yang akan membutuhkan produknya. Melalui anak perusahaan Sorini Agro Asia Corporindo (SOBI) yang didirikan di tahun 1983, AKRA bukan hanya menjadi pabrikan bahan kimia untuk perusahaan global tapi bahkan menjadi pemain terbesar kedua dan pesaing terkuat pemain nomor satu.

Tapi keberadaan SOBI tidak membuat AKRA melupakan posisinya sebagai perantara yang handal untuk produk-produk kimia. Untuk mendukung posisi ini, AKRA yang sejak tahun 1992 dipimpin Haryanto Adikoesoemo, yang tahun 2008 terpilih sebagai Entrepreneur of the Year versi Ernst & Young, membangun tangki dan gudang bahan kimia di berbagai pelabuhan utama Indonesia. Fasilitas tersebut kemudian ditambah dengan berbagai fasilitas pendukung lainnya di pelabuhan seperti harbour mobile cranes dan port handling dan armada truk milik sendiri yang memungkinkannya perusahaan menawarkan integrated logistics solutions untuk bahan-bahan kimia.

Kemampuan menawarkan solusi seperti tersebut di atas membuat AKRA semakin percaya diri untuk tidak hanya menjadi perantara dalam bahan-bahan kimia dasar tapi juga masuk ke bisnis hilir industri perminyakan Indonesia di tahun 2005, seiring dengan deregulasi yang memungkinkan perusahaan minyak non Pertamina menjual BBM non subsidi di Indonesia.

Langkah tersebut jelas merupakan peningkatan kemampuan AKRA sebagai sebuah perusahaan distribusi bahan-bahan kimia, karena sudah bisa masuk ke tahapan outsourcing proses logistik. Tidak berlebihan kalau AKRA kini merupakan pendekar distribusi bahan-bahan kimia di Indonesia.

"Philip Kotler's Executive Class: 98 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Tuesday, February 17, 2009

Dampak Krisis Global Mulai Mengancam

Selasa, 17 Februari 2009 | 18:33 WIB

JAKARTA, SELASA — Dampak krisis ekonomi global mulai mengancam Indonesia. Tanda-tandanya adalah adanya perlambatan ekonomi dan Tingkat Product Domestic Bruto (PDB) pada triwulan IV tahun 2008 turun minus 3,6 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

"Kalau nanti pertumbuhan kuartal I minus juga, berarti Indonesia sudah resesi. Kan resesi itu pertumbuhan minus pada dua kuartal berturut-turut. Jadi kita tunggu saja," kata anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Drajad Haribowo, di gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/2).

Drajad mengakui, banyak kalangan yang menyatakan bahwa dampak krisis ini jauh lebih cepat masuk ke Indonesia karena cepatnya perlambatan harga-harga komoditas. Pasalnya, seluruh Indonesia mengandalkan sektor komoditas. "Faktor yang banyak mempengaruhi adalah ekspor yang kemudian terus berputar ke dalam," ujarnya.

Drajad mengatakan, pihaknya belum dapat memprediksi kondisi ekonomi pada triwulan I 2009. Namun, menurutnya, pelaku pasar perlu lebih berhati-hati dan waspada. Karena potensi-potensi kerugian di Singapura belum keluar semua. Padahal, banyak orang Indonesia yang memiliki aset di Singapura.

"Kalau nilai aset di sana anjlok dan sekarang sudah mulai artinya kekayaan orang Indonesia semakin ambruk. Padahal, kekayaan orang Indonesia di Singapura adalah salah satu penggerak daya beli dan pertumbuhan ekonomi," katanya.

ANI

Kompas

Komentar: "Siapkan diri Anda dengan dana darurat ditangan (cash tentunya) jikalau PHK masal terjadi. Minimal dana darurat adalah 3 kali gaji sebulan. Atau lebih bagus lagi investasikan uang Anda ke Emas yang memiliki likuiditas yang bagus"

[Kompas 100]: Ciputra Surya: "A Reputable Township Developer in Surabaya"

Selasa, 17 Februari 2009 | 07:25 WIB

Bisnis properti adalah bisnis yang menjual masa depan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana dari awal memilih jenis masa depan yang akan di jual dalam jangka panjang. Ini butuh “jam terbang” dan pemahaman unspoken customer needs.

Terus terang ini bukan suatu hal yang mudah bagi PT Ciputra Surya Tbk (CTRS), anak perusahaan dari PT Ciputra Development Tbk (CTRA), ketika mendirikan CitraRaya. CTRA adalah pengembang dengan fokus di Jawa Timur, spesifiknya di wilayah Surabaya dan sekitarnya, ditambah dengan sebuah proyek residential di Lampung. Sekalipun merupakan perusahaan yang dilahirkan oleh legenda di industri properti Indonesia, tapi Surabaya bisa dibilang pasar baru bagi CTRA dan CTRS.

Namun CTRS paham benar soal menjual masa depan. Melalui riset yang dilakukan, CTRS menangkap unspoken needs orang-orang Surabaya yang menjadikan Jakarta dan Singapura sebagai benchmark. Yang kemudian dipilih adalah Singapura. Maka dibangunlah kawasan township CitraRaya dengan asosiasi yang kuat pada Singapura.

Perumahan kelas atas di wilayah Surabaya Barat, yang yang dibangun sejak 1989 ini, secara konsisten menjaga image Singapura-nya sebagai positioning yang kuat. Namun positioning yang kuat ini tentunya juga didukung oleh diferensiasi yang nyata, yang ditunjukkan dengan memunculkan berbagai content dan context yang bisa langsung menciptakan impresi sebagai miniatur Singapura dan sekaligus alat brand communication yang ampuh. Dengan konsistensi itu, CitraRaya berhasil mendatangkan pembeli dan pengunjung dari seluruh wilayah Surabaya, meskipun terletak di pinggiran kota Surabaya.

Sebagai bagian dari Group Ciputra, CTRS mewarisi visi dan misi sang pendiri, Ir Ciputra yang sering di sebut pelopor bisnis properti modern di Indonesia. Sang pelopor ini selalu berprinsip: Kalau mendirikan kawasan, haruslah menguntungkan. Ini adalah janji terhadap pembeli. Dan “janji adalah hutang”. Oleh sebab itu, Group Ciputra selalu menunjukkan komitmen terhadap upaya meramaikan kawasan yang dikembangkannya.

Sehubungan dengan itu, keputusan CTRS untuk memisahkan pembangunan dan pemasaran sebuah kawasan affordable housing di sebelah utara CitraRaya, kami lihat sebagai keputusan yang tepat. Dengan langkah ini, dapat dihindari terjadinya pengaburan positioning dari CitraRaya sebagai perumahan yang modern dan elit, layaknya Singapura.

Adanya strategi marketing yang nyata ini berhasil menciptakan Marketing Value yang kuat bagi CTRS. Salah satu hasil nyata manfaat dari marketing value adalah kasus G-Walk. Pusat jajanan di dalam CitraRaya ini dulu cukup mengkhawatirkan karena sepi pengunjung pada awal pendiriannya. Namun CTRS berhasil mengubahnya menjadi pusat nongkrong yang trendi di kalangan anak muda Surabaya. G-Walk menjadi tempat bagi orang yang ingin “merasakan” Singapura tanpa harus meninggalkan Surabaya.

Pembentukan Marketing Strategy yang kuat seperti ini bisa menjadi kunci utama kemampuan CTRS untuk tetap kompetitif di masa mendatang. Hal ini diuji dalam proyek baru dan ambisius yang sedang dibangun di gerbang masuk Surabaya Barat, yaitu Ciputra World Surabaya. Proyek komersial CTRS yang pertama ini akan menjadi ujian dari kemampuan perusahaan dalam menciptakan Marketing Value yang kuat bagi pemegang saham dan para tenant.

Jika CTRS konsisten dalam menciptakan dan menjaga positioning yang relevan dan berarti (relevant and meaningful) terhadap target market-nya, didukung oleh diferensiasi yang nyata, serta aplikasi branding yang solid, kami melihat bahwa perusahaan ini akan dapat terus kompetitif dan unggul sebagai: A reputable township developer in Surabaya.

"Philip Kotler's Executive Class: 99 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Monday, February 16, 2009

[Kompas 100]: Charoen Pokphand Indonesia: "An Integrated Poultry-Related Company"

Senin, 16 Februari 2009 | 07:21 WIB

Ada satu menu makanan yang disenangi oleh semua kalangan di Indonesia. Daging Ayam. Selain karena berbagai alasan yang berhubungan dengan agama, seperti umat Muslim yang tidak mengonsumsi daging babi dan umat Hindu yang tidak mengonsumsi daging sapi, daging ayam adalah alternatif sumber protein yang harganya relatif paling murah. Hampir tiap warung makan di Indonesia menjual daging ayam dalam berbagai bentuk dan rasa.

Karena itu, bisnis yang berhubungan dengan ayam harusnya dapat berkembang dengan pesat di sini. Potensi berkembangnya pasar ini juga masih tinggi, kalau kita melihat tingkat konsumsi ayam per kapita di Indonesia yang hanya mencapai 4,5 kg. Ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 34 kg, mengingat pola makan antara kedua negara ini tidaklah terlalu berbeda.

Salah satu perusahaan yang bergantung pada konsumsi daging ayam di Indonesia adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Perusahaan ini bergerak di bidang pakan ternak, bibit ayam (day-old-chicken/DOC), dan daging ayam olahan atau dapat disebut an integrated poultry related company. Secara tidak langsung, meningkatnya pertumbuhan konsumsi ayam di Indonesia akan semakin mendongkrak naik kinerja perusahaan yang menguasai 35 persen pangsa pasar pakan ternak dan DOC di Indonesia ini.

CPIN adalah bagian dari Charoen Pokphand Food (CPF), pemain regional di bidang agribisnis yang beroperasi di Thailand, Kamboja, China, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, Turki, Taiwan, dan Vietnam. CPF sendiri adalah bagian dari The Charoen Pokphand Group, konglomerasi bisnis terbesar di Thailand yang berdiri sejak 1921.

Bagi CPIN, beroperasi di Indonesia pada saat ini membawa tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kasus flu burung yang hingga kini masih belum bisa terselesaikan secara tuntas. Dalam hal ini, flu burung berefek ganda. Selain ancaman bagi pemilik peternakan yang harus memusnahkan seluruh ternaknya jika ditemukan kasus flu burung di sekitar wilayahnya, kasus flu burung juga berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keamanan mengonsumsi daging ayam.

Karena itu, ada baiknya CPIN proaktif meminimalisasi tantangan tersebut di atas. Misalnya dengan melakukan edukasi masyarakat. Baik terhadap peternak ayam, agar tidak memelihara ayam di rumah dan membantu menghentikan penyebaran flu burung maupun terhadap masyarakat, untuk menjelaskan bahwa daging ayam yang diolah dengan benar akan tetap terjaga keamanannya.

Tantangan lainnya adalah kenyataan bahwa industri pakan ternak memang sudah menjadi industri komoditas. Dalam kondisi seperti ini, cost-leadership yang didukung oleh peningkatan efisiensi proses menjadi andalan. Terlebih lagi, dalam kondisi ekonomi yang sulit dan tidak menentu, pelanggan cenderung sangat reaktif terhadap perubahan harga. Brand loyalty sudah semakin menurun sehingga pembeli akan dengan mudah pindah ke produsen lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Sebagai bagian dari konglomerasi yang memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun di bidang pakan ternak, CPIN memiliki competitive advantage di sini. Didukung oleh sistem dan proses yang matang, disertai pembelajaran dari berbagai negara di Asia, CPIN berpotensi untuk lebih dapat menerapkan cost leadership dibandingkan kompetitornya. Cost leadership ini dapat dicapai dengan meningkatkan efisiensi dalam proses maupun dalam penggunaan bahan baku. Inilah Marketing Value yang kami lihat dimiliki oleh CPIN, yang bisa diandalkan untuk terus bersaing dan tetap survive melewati krisis ekonomi global.

"Philip Kotler's Executive Class: 100 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Sunday, February 15, 2009

Cara Aman Memilih Password: Password Favorit "1234"

Minggu, 15 Februari 2009 | 10:07 WIB

WASHINGTON, MINGGU — Berpikirlah dua kali sebelum memilih password bagi e-mail, rekening bank online atau tiket pesawat.

Password yang tak memperlihatkan bayangan apa-apa atau perbedaan, merupakan umpan yang menarik bagi para pembajak informasi. Demikian dikatakan sebuah pengkajian baru AS, seperti dilaporkan AFP, Minggu (15/2).

Analisis statistik atas 28.000 password yang belum lama ini dicuri dari sebuah laman internet terkenal AS dan dimuat di internet mengungkapkan bahwa orang sering menganggap password sebagai suatu hal yang kurang penting.

Survei itu menemukan bahwa 16 persen pengguna komputer memakai nama pertama sebagai password mereka, atau seringnya nama sendiri atau nama anak mereka, demikian menurut pengkajian yang dipublikasikan Information Week.

Sebanyak 14 persen lainnya mengandalkan pada kombinasi keyboard yang termudah untuk mengingatnya, seperti "1234" atau "12345678". "QWERTY" merupakan password paling populer di kalangan para pengguna keyword bahasa Inggris. Demikian pula, "AZERTY", bagi masyarakat Eropa.

Sebanyak 5 persen dari password yang dicuri itu adalah nama-nama acara televisi atau bintang terkenal di kalangan kawula muda, seperti "Hannah", yang diambil dari nama penyanyi dan pelakon acara musik televisi Hannah Montana. Password kondang lainnya adalah "Pokemon", "Matrix" atau "Ironman"

Sebesar 3 persen menggunakan password yang merupakan ungkapan sikap, seperti "I don't care", "whatever" atau "No".

Ada juga password berupa pilihan sentimental, seperti "iloveyou" dan kebalikannya, "ihateyou".

Robert Graham dari perusahaan keamanan komputer Errata Security, yang menganalisis dan menerbitkan berbagai kesimpulan, memberikan nasihat kepada para pengguna komputer demi memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap penerobosan di lokamaya.

Ia menganjurkan agar para pengguna komputer memilih sebuah password yang lebih panjang dari delapan karakter atau huruf, dengan satu huruf besar dan satu simbol.


ONO
Sumber : Ant

Kompas

Komentar: "Gunakan strong password yang sulit ditebak seperti kombinasi huruf dan angka (alfanumerik) untuk semua login/sign-in kegiatan on-line Anda di Internet. Anda tidak mau kehilangan kesempatan ataupun uang bukan? karena lalai menggunakan strong password. Silahkan lihat bahasan IT Security lain (ancaman virus dan keluarganya) di http://1st-VirusUpdate.Blogspot.com"

INVESTASI & KEUANGAN: Investasi Ketika TIngkat Bunga Turun

ADLER HAYMANS MANURUNG / PRAKTISI KEUANGAN

Pemerintah telah menurunkan tingkat bunga sebesar 50 bps pada awal Februari sehingga tingkat bunga BI menjadi 8,25 persen.

Kompas

[Kompas 100]: Sorini Agro Asia Corporation: A Leading Global Player from East Java

Minggu, 15 Februari 2009 | 04:42 WIB

POSISI sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia dan didukung dengan kekayaan alam melimpah sering kali membuat banyak perusahaan Indonesia terlupa untuk menggarap pasar internasional. Apalagi berpikir menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar global. Tapi tidak berarti Indonesia tidak punya yang bisa disebut -- meminjam salah satu judul film terkenal Tom Cruise -- A Few Leading Global Player.

Tidak mudah untuk menjadi anggota klub elit tersebut. Karena bukan hanya harus mampu menciptakan keunikan produk tapi juga mampu menjaga standar kualitas tinggi dalam jangka waktu lama seperti yang dituntut perusahaan-perusahaan global. Dan hal tersebut terakhir biasanya sudah membuat takut kebanyakan perusahaan Indonesia.

Soegiarto Adikoesoemo, pendiri Aneka Kimia Raya (AKR), termasuk salah satu yang tidak takut, bukan hanya untuk memenuhi standar kualitas perusahaan global tapi juga untuk bersaing dengan pemain global di bidang bisnis yang digelutinya. Awalnya, Soegiarto adalah importir produk sorbitol dari Roquette, perusahaan nomor satu di dunia untuk produk ini, untuk Unilever. Tapi setelah memahami lebih jauh tentang bisnis sorbitol, terutama melimpahnya bahan bakunya, singkong dan tapioka, di Indonesia, di tahun 1983 Soegiarto mendirikan Sorini Asia Agro Corporporindo (SOBI), perusahaan pembuat sorbitol di Pasuruan Jawa Timur.

Dari awal berdirinya, SOBI bukan hanya sekedar mengandalkan keunikan singkong dan tapioka yang ada di Indonesia, tapi juga berdasarkan pengalaman sebagai importir untuk Unilever. Dimana, jika produsen mampu menjaga standar kualitas tinggi dalam jangka waktu lama, perusahaan global akan menempel terus sebagai pelanggan. Setahun setelah pabriknya resmi beroperasi di tahun 1987, SOBI sudah masuk ke pasar Jepang, salah satu pasar yang sekalipun bersedia membayar tinggi juga punya tuntutan standar kualitas tinggi.

Kesuksesan yang diraih di pasar Jepang membuat jalan SOBI masuk ke perusahaan global lain lebih mudah. Boleh dibilang di sektor business to business yaitu perusahaan yang memasok bahan baku untuk perusahaan lain, kemampuan masuk ke pasar dengan tuntutan standar kualitas tinggi menjadi alat efektif pemasaran. Istilah gampangnya, it speaks for itself! Pelan tapi pasti, daftar perusahaan global yang menjadi pelanggannya terus bertambah. Dan perusahaan global yang menjadi pelanggannya adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam FORTUNE most admired global companies seperti antara lain Unilever, P&G, Colgate Palmolive, BASF, Nestle, Glaxo Smith Kline dan Abbott.

Sorbitol buatan SOBI merupakan bahan baku untuk produk farmasi, pasta gigi, makanan minuman dan kosmetik. Sebelumnya, Roquette mendominasi pasokan ke perusahaan-perusahaan global tersebut di atas. Dan kini Roquette mesti bersaing dengan SOBI yang merupakan pemain nomer dua di pasar global untuk sorbitol.

Di tahun 1992, tampuk kepemimpinan AKR dan SOBI diserahkan Soegiarto kepada anaknya, Haryanto Adikoesoemo. Di tangan Haryanto, yang tahun 2008 terpilih sebagai Entrepreneur of the Year versi Ernst & Young, SOBI semakin kukuh menjadi pemain global, dan produknya telah masuk ke 70 negara.

"Philip Kotler's Executive Class: 101 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Saturday, February 14, 2009

[Kompas 100]: Modernland: A Pioneer of Modern Residential Complex in Tangerang

Sabtu, 14 Februari 2009 | 15:21 WIB

Jika Anda sudah tinggal di kawasan Tangerang di awal 90-an, Anda pasti kenal Kota Modern. Saat itu, kawasan perumahan tersebut menjadi wilayah paling elite di seluruh Tangerang, dan bahkan terkadang disebut sebagai “Menteng-nya Tangerang”. Pengembang Kota Modern, PT Modernland Realty Tbk (MDLN), memang cukup jeli melihat kebutuhan pasar kalangan atas di daerah tersebut yang mengidamkan lokasi tinggal yang asri dan hijau, tetapi tidak jauh dari kota Tangerang.

Namun, kejayaan di saat awal pendiriannya itu sulit untuk dipertahankan terus menerus. Krisis moneter pada tahun 1998 sedikit banyak berkontribusi pada berkurangnya kekuatan brand Kota Modern, sepanjang 1999 hingga 2003. Meskipun demikian, MDLN masih berhasil menggandeng Keppel Land, salah satu perusahaan pengembang top dari Singapura, pada awal tahun 2005, untuk pembangunan perumahan baru di daerah Cakung. Kerja sama ini terbukti berhasil mengangkat kembali nama MDLN di calon pembeli rumah di Tangerang.

Selain beraliansi dengan Keppel, MDLN juga bekerja sama dengan Premier, developer asal Perancis, untuk mengembangkan dua cluster perumahan di lokasi paling strategis dalam Kota Modern. Kepercayaan perusahaan properti bereputasi internasional terhadap MDLN dapat menjadi indikator kompetensi fundamental yang dimiliki oleh pengembang ini. Tentunya, perusahaan bereputasi internasional tidak akan bekerja sama dengan sembarang pihak, terutama yang tidak bisa mendukung ekspansi yang efektif di suatu negara.

Namun, kami melihat bahwa ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh MDLN, dalam upaya perkembangan perusahaan ke depan. Salah satunya adalah keputusannya membangun rusunami di dalam kawasan Kota Modern. Hal ini dapat mengaburkan image kawasan itu sebagai daerah elite. Jika tidak dilakukan manajemen yang rapi, diferensiasi Kota Modern akan terancam, yang diiringi menurunnya competitiveness mereka.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah banyaknya produk MDLN yang kurang diketahui masyarakat umum. Sedikit yang tahu bahwa, selain sebagai pengembang Kota Modern, MDLN juga mengembangkan dua perumahan di kawasan Cakung, sebuah perumahan kelas atas di Pondok Cabe, dan padang golf malam pertama di Indonesia di dalam Kota Modern. Bahkan, permainan golf malam hari ini sudah ditawarkan oleh MDLN sejak tahun 1995, jauh sebelum night-golfing menjadi tren di Indonesia.

Manajemen brand hierarchy di MDLN selama ini tampaknya belum dapat menyatukan kekuatan semua produk yang dikembangkan untuk dapat memperkuat brand equity dari nama “ModernLand”. Corporate branding yang kuat adalah salah satu faktor yang sebenarnya dapat menjadi andalan MDLN untuk meningkatkan daya saing di dalam industrinya, terutama untuk produk yang baru.

Beberapa hal inilah yang tampaknya sedang diperhatikan oleh jajaran manajemen baru MDLN. Tim manajemen saat ini, yang dibentuk akhir 2007, memiliki tantangan besar dalam meningkatkan kekuatan brand MDLN. Dengan keberhasilan mendapatkan berbagai penghargaan dari beberapa organisasi pada tahun 2008, sepertinya jajaran manajemen berada dalam jalur yang benar.

Jika tim yang dipimpin oleh Edwyn Lim, dengan pengalaman 15 tahun lebih di dunia properti, berhasil kembali mengangkat nama MDLN, bisa jadi perusahaan ini dapat membangunkan kembali brand besar mereka di Tangerang. Bahkan tidak mustahil, MDLN berkembang menjadi suburban developer ternama di Jabodetabek, dan bahkan menjadi the iconic suburban developer of Jakarta. *

"Philip Kotler's Executive Class: 102 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Waspadai Money Mole

Pada 2007, sebuah survei menyebutkan, kejahatan di dunia maya telah menimbulkan kerugian perusahaan di dunia hingga US$ 1 triliun. Fakta ini makin menuntut pengguna internet, terutama yang sering bertransaksi via internet dan perusahaan yang mengandalkan dunia maya untuk lebih berhati-hati.

INVESTOR DAILY

Friday, February 13, 2009

[Kompas 100]: Wijaya Karya: "A Quiet Integrated Construction Company"

Jumat, 13 Februari 2009 | 07:30 WIB

Nama dan logonya ada dimana-mana, terutama di tiang pancang kabel listrik PLN yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi ada dimana-mana di tempat yang tidak gampang dilihat banyak orang membuat masyarakat umum susah mengenalinya. Apalagi kalau diminta mengenali diferensiasinya.
Itulah yang terjadi pada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), sebuah perusahaan BUMN konstruksi. Namun, begitu melihat lebih dekat, perusahaan ini diferensiasinya langsung gampang dikenali terutama kalau melihat produknya yang sejauh ini tidak ditawarkan para pesaingnya dan bisa memperkuat kualitas pekerjaan konstruksi. Melalui anak perusahaan WIKA Beton, WIKA memproduksi tiang pancang beton yang dipakai bukan hanya untuk tiang pancang listrik tapi juga tiang pancang bangunan beton.

Dengan melihat sekilas keberadaan anak perusahaan tersebut, maka setiap orang yang bergerak di industri konstruksi tidak ragu menyebutnya sebagai the most integrated construction company in Indonesia. Positioning tersebut membuat WIKA bisa dianggap sebagai perusahaan yang paling diuntungkan dengan rencana pemerintah menggenjot berbagai proyek infrastruktur. Karena dengan memiliki anak perusahaan yang punya peran sentral dalam proses konstruksi, terbuka luas kemungkinan untuk menaikkan margin tapi tetap dengan kualitas tinggi, sesuatu yang diimpikan di industri konstruksi.

Rupanya posisi tersebut membuat WIKA lebih percaya diri dalam menggarap peluang baru di bisnis infrastruktur, seperti munculnya program pembangunan berbagai pembangkit listrik. WIKA yang sebelumnya sudah masuk lewat tiang pancang listrik, mulai terlibat lebih dalam ke proses pembangunan pembangkit listrik. Kalau langkah ini berkembang luas dan tidak ada yang mengimbangi, maka tanpa banyak gembar-gembor WIKA bisa-bisa berevolusi menjadi an integrated infrastructure company yang didukung bisnis konvensional konstruksi, seperti EPC (engineering, procurement, construction).

Hanya saja, kalau melihat unit bisnis lain yang dimilikinya, seperti operator jalan tol, gedung, realty, dan bahkan tabung gas, bisa-bisa positioning solid yang mulai dikenali di dunia infrastruktur mulai tergerus. Apalagi kalau di bisnis seperti pembuatan tabung gas, ternyata WIKA terpaksa mengalokasikan resources yang semestinya bisa digunakan untuk memperkuat bisnis intinya, entah itu sebagai integrated construction company atau sebagai integrated infrastructure company. Padahal membesarnya peluang di bisnis infrastruktur di Indonesia pasti akan mengundang para pemain lain yang boleh jadi tidak akan ragu-ragu menandingi diferensiasi yang saat ini dimiliki WIKA.

Tampaknya kondisi tersebut dipahami benar oleh Bintang Perbowo, orang luar WIKA yang baru satu tahun duduk sebagai direktur utama WIKA. Setelah mengidentifikasi sejumlah diferensiasinya, Bintang menjadikan penajaman corporate culture dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia sebagai prioritas programnya. Ini akan dilakukan melalui pembentukan knowledge management system untuk memfasilitasi transfer of knowledge antar bagian yang pada akhirnya diharapkan akan menstimulasi terjadinya inovasi terus menerus. Sejalan dengan motto “Spirit of Innovation”.

Apabila proses tersebut bisa berjalan lancar, ini akan berimbas ke penguatan diferensiasi. Memang ini yang mesti dilakukan agar WIKA memiliki Marketing Value yang solid.

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Jaminan KPR Redam Kemerosotan Tajam Dow Jones

Jumat, 13 Februari 2009 | 06:13 WIB

NEW YORK, JUMAT - Kemerosotan tajam nilai saham di bursa Wall Street, New York, berhasil diredam oleh laporan kemungkinan kembali dikeluarkan penjaminan bagi kredit kepemilikan rumah (KPR) bermasalah oleh pemerintah AS. Kabar mengenai kembali kemungkinan diberikannya subsidi terhadap pemegang KPR itu ternyata lebih besar pengaruhnya di bursa Wall Street ketimbang kabar paket stimulus senilai 789 miliar dollar AS dan rencana revisi penalangan kredit macet perbankan.

Badan Pendanaan Perumahan Federal menolak mengomentari laporan tersebut. Indeks industrial Dow Jones merosot 6,77 atau 0,09 persen menjadi 7.932,76 setelah sempat turun lebih dari 245 poin pada sesi awal transaksi. Indeks saham unggulan itu tercatat 20 November lalu merosot 142 poin dan ditutup menjadi 7.552,29 yang merupakan terendah dalam 5 tahun.

Sementara indikator saham terkemuka lainnya ditutup menguat. Indeks The Standard & Poor's 500 naik 1,45 atau 0,17 persen menjadi 835,19 dan indeks gabungan Nasdaq melonjak 11,21 atau 0,73 persen menjadi 1.541,71.


JIM
Sumber : AP

Kompas

Thursday, February 12, 2009

[Kompas 100]: Suryainti Permata: A Low-Profile King of "Ruko"

Kamis, 12 Februari 2009 | 07:08 WIB

Lima tahun yang lalu, majalah bisnis bulanan SWA pernah menulis liputan menarik mengenai raja-raja bisnis Surabaya yang low profile, bukan hanya di tingkat nasional tapi bahkan di kota mereka sendiri. Gaya low profile para raja bisnis itu bukan hanya terbatas pada gaya pakaian, gedung dan lokasi kantor, tapi juga, misalnya, ketika naik pesawat. Ada raja bisnis yang bisa membeli hotel di negara tetangga dengan uang tunai, tapi naik pesawat selalu duduk di kelas ekonomi dan sering membawa tas plastik.

Dengan gaya yang low profile, maka susah bagi orang luar Surabaya untuk gampang mengenali mereka. Boleh jadi banyak orang Surabaya yang juga tidak mengenali raja bisnis yang suka naik pesawat kelas ekonomi itu. Maklum sebagian para raja bisnis itu memang dikenal sebagai raja bisnis di lingkungan terbatas.

Salah satu raja bisnis yang low profile itu adalah Henry J. Gunawan, yang bangga disebut sebagai "tokoh Tionghoa yang nasionalis" dan saat ini juga duduk sebagai Ketua Umum Persatuan Anggar dan REI Jawa Timur. PT. Suryainti Permata Tbk. (SIIP), yang didirikannya di tahun 1992, mendapat julukan sebagai Raja Ruko dari Surabaya. Maklum SIIP bukan hanya sekedar membangun banyak ruko tapi sekaligus menjadi ruko yang banyak dikenal luas di Surabaya.

Positioning seperti itu, tentu akan memudahkan SIIP kalau akan ekspansi ke wilayah lain. SIIP bisa menggunakan deretan pencapaiannya di kota kedua terbesar di Indonesia untuk meyakinkan calon pembeli atau mungkin potential partner. Meskipun demikian, kami melihat bahwa positioning semacam itu bisa tidak terlihat nyata ketika business landscape berubah, seperti saat resesi ekonomi dunia yang dampaknya mulai terasa di Indonesia.

Kalau dilihat dari perjalanan bisnisnya, SIIP tidak ragu untuk melakukan repositioning ketika business landscape berubah. Prinsip market-centric ini berhasil membawa pengembang ini dari sekedar penjual tanah di awal awal tahun pendiriannya, hingga kini menjadi salah satu pengembang yang diperhitungkan di Surabaya. Harus diakui, langkah go-public yang dilakukan pada tahun 1997 punya peran memacu SIIP untuk menciptakan positioning yang relevan dengan business landscape yang dihadapi.

Di sisi lain, yang namanya repositioning tidak gampang dilakukan semudah membalik tangan. Pengalaman kami menunjukkan ketika positioning suatu perusahaan tidak dikenal luas, repositioning jadi gampang dilakukan. Tapi kalau positioning suatu perusahaan terlanjur banyak dikenal, prosesnya menjadi lebih rumit.

Inilah tantangan ke depan yang kami lihat bakal dihadapi SIIP. Sebagai perusahaan public, mau tak mau SIIP harus bisa menunjukkan bahwa mereka memiliki marketing fundamental yang memungkinkan pemanfaatan peluang baru. Bisa jadi positioning sebagai raja ruko akan sangat menguntungkan untuk masuk ke daerah yang dilanda boom harga komoditas, seperti yang terjadi di tahun lalu.

Tapi dengan harga komoditas yang bergejolak dan relatif masih sedikitnya daerah yang sukses dalam pelaksanaan otonomi daerah, bisa jadi Surabaya tetap tempat terbaik bagi SIIP. Seiring dengan evolusi Surabaya menjadi metropolitan, yang ditandai dengan munculnya berbagai mall dan office building baru yang megah, mau tak mau SIIP pun mesti menanggapi perubahan ini. Inilah yang sedang dilakukannya dengan mengembangkan beberapa proyek premium di Surabaya, seperti dua perumahan di wilayah pemukiman kelas atas, dan juga pembangunan kondominium premium di Surabaya Barat, di samping membangun future flagship product di sekitar Bandara Juanda Surabaya

Tentu ini akan berjalan mulus kalau SIIP bisa berevolusi menjadi pengembang properti premium. Imagenya sebagai "raja ruko", walau mampu mengangkat brand equity di kalangan pembeli dan investor kelas menengah, dapat menjadi bumerang saat SIIP mencoba memasuki pasar premium. Maklum positioning bukan hanya sekedar tagline tapi juga capacity to deliver.

Dengan memiliki positioning yang memiliki cakupan yang lebih luas tapi tetap sangat jelas, SIIP akan dengan mudah menunjukkan seberapa tinggi marketing fundamental yang dimilikinya

"Philip Kotler's Executive Class: 100 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Wednesday, February 11, 2009

Mau Meraup Dollar di Dunia Maya?

Rabu, 11 Februari 2009 | 22:17 WIB

INTERNET kini menjadi wahana bagi peselancar dunia maya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa harus berjerih lelah. Dengan memanfaatkan fasilitas pemasang iklan, pemilik website atau weblog pun menikmati kucuran dana dari setiap pengunjung yang mampir di domain-nya.

Cukup dengan mendaftarkan website atau weblog di program penyedia iklan milik Google, Adsense, uang terus mengalir sekalipun pemiliknya sedang tidur. Setidaknya itu gambaran besar mereka yang mau memanfaatkan teknologi yang semakin maju dan mudah.

Demikian dipaparkan oleh penulis buku Langkah Mudah Meraup Dollar Lewat Internet, Taufik Hidayat, dalam unjuk bincang di Kompas Gramedia Edu and Book Fair 2009 di Kota Semarang, Rabu (11/2). Taufik menjelaskan, lewat Adsense, pemasukan didapat dari setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs web.

Sistem bayar per klik inilah yang menghadirkan tantangan bagi para blogger untuk menghadirkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Sebelumnya, Google akan menyeleksi layak tidaknya sebuah situs web dipasang iklan. Setelah itu, langkah selanjutnya tentu memperbanyak pengunjung.

Caranya, bergabung dengan komunitas dengan minat yang sama, atau memanfaatkan jejaring sosial, seperti Friendster atau Facebook. "Selain itu, buat judul-judul yang menarik perhatian. Buat orang penasaran lebih dulu," kata Taufik yang juga pengajar Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank BPD Jateng.

Tidak hanya itu, kelebihan Adsense, menurut Taufik, adalah iklan yang dipasang sesuai dengan isi blog sehingga kemungkinan pengunjung mengklik iklan lebih besar. Meskipun demikian, pemilik blog tetap harus bekerja keras untuk memperbarui isi blog atau website-nya secepat mungkin agar pengunjung semakin tertarik.

"Kalau rajin meng-update, setiap bulan penghasilan pemilik blog berkisar 100-700 dollar AS tanpa harus berkeringat," tutur Taufik.
Lukni Maulana (24), mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang mengungkapkan, dirinya belum mengetahui cara memasang iklan di blog, padahal sudah banyak orang yang menyarankan dia untuk memasang iklan. "Ternyata caranya sangat mudah, saya akan langsung mencoba," ucapnya.

Amanda Putri Nugrahanti

Kompas

- Muhammad Idham Azhari

[Kompas 100]: Danamon: "A Unique Multi-Specialist Bank"

Rabu, 11 Februari 2009 | 07:51 WIB

Tidak mudah untuk menjadi pemain di industri perbankan Indonesia, terutama kalau tidak masuk dalam empat besar dalam ukuran aset. Inilah yang antara lain dihadapi oleh PT Bank Danamon Indonesia, Tbk (BDMN), yang merupakan bank kelima terbesar dalam segi asset. Kebetulan, pada saat ini perbedaan total aset antara pemain keempat dan kelima terbesar cukup jauh.

Tapi kondisi tersebut rupanya jauh-jauh hari sudah diperhitungkan oleh BDMN, terutama kalau mengingat bahwa empat besar bank di Indonesia punya presence dan business network yang tidak gampang ditandingi oleh pemain lain. Dan apa yang dilakukan BDMN? Being different!

Dalam prakteknya, BDMN memang melakukan segala cara untuk menjadikan diri benar-benar different. Meski menemukan sesuatu yang baru di industri perbankan bukan suatu hal yang mudah, tapi BDMN jeli mengemas berbagai model bisnis yang sebetulnya bukan baru menjadi lebih segar. Tengok misalnya yang dilakukan di bisnis pembiayaan mikro melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP).

Di DSP ini BDMN mencoba menjadi spesialis untuk para pedagang di pasar becek. Ini sebuah langkah yang mengejutkan, karena dengan jumlah potensi nasabah pembiayaan mikro yang besar, tapi hanya dipilih satu segmen saja. BDMN punya alasan bahwa dengan memilih satu segmen saja, akan lebih mudah dalam membangun customer intimacy.

BDMN sadar bahwa nasabah potensial perbankan mikro punya kebutuhan unik yang tidak semua bank sanggup melayani dengan baik. Lihat saja, meski Grameen sudah menjadi bahan cerita yang dikenal luas di seluruh dunia, tapi ternyata tidak banyak lembaga keuangan di dunia yang sanggup menggarap pasar Bottom of the Pyramid dengan sukses. Dengan memilih salah satu segmen, BDMN bisa membangun value proposition DSP yang solid, yaitu kenyamanan, kemudahan, dan kecepatan.

DSP bukan hanya satu-satunya cara yang ditempuh BDMN agar menjadi pemain unik. Ketika banyak bank yang masih ragu bagaimana melihat potensi bisnis pembiayaan otomotif yang atraktif tapi juga beresiko tinggi, BDMN dengan cerdik memilih mengakuisisi perusahaan multifinance, ADIRA Finance. Belakangan bank lain pun kemudian mengambil langkah serupa.

Di bisnis multifinance, ADIRA Finance juga menjadi perusahaan yang diikuti langkahnya terutama dalam hal keputusannya untuk melayani semua merek kendaraan. ADIRA Finance juga tidak membatasi pembiayaan hanya pada sepeda motor, walaupun pembiayaan roda dua punya tingkat pertumbuhan tinggi seiring dengan tingginya pertumbuhan sepeda motor yang tinggi selama 5 tahun terakhir.

Yang mungkin sulit diikuti langkahnya oleh perusahaan sejenis adalah keberhasilannya membentuk corporate culture yang solid dan sesuai dengan bisnis autofinancing. Karena itu BDMN memutuskan untuk tidak berupaya banyak mengubah corporate culture ADIRA Finance. Mereka sadar bahwa tidak perlu mengubah sesuatu yang sudah bekerja dengan baik. Culture BDMN belum tentu dapat diterapkan secara langsung ke perusahaan seperti ADIRA Finance.

Untuk mendukung agar setiap unit bisnisnya bisa menjadi spesialis terbaik di lini bisnis yang dimasukinya, BDMN mendirikan suatu corporate university yang diharapkan bisa manjadi leadership engine-nya. Selain itu, implementasi IT system sudah mengarah ke integrasi antar lini bisnis yang antara lain akan memungkinkan sharing informasi nasabah. Yang tersebut terakhir ini akan meningkatkan kemampuan cross selling antar lini bisnis yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan promotion dan selling.

Atau mengacu pada Besanko, pengembangan IT system tersebut memungkinkan strategy value yang tinggi. Berbagai inovasi yang dilakukan BDMN telah mengundang perhatian banyak orang.

Tapi inovasi BDMN yang layak dilihat tidak terbatas bagaimana menciptakan lini bisnis baru melainkan dalam writing new rules of the game. Pemain lain bisa saja melakukan dalam skala yang lebih besar berbagai inovasi BDMN. Tapi BDMN telah membuat setiap 12 lini bisnisnya bukan sekedar spesialis biasa, tapi kumpulan spesialis yang akan membuatnya menjadi A Unique Multi-Specialist Bank.

Philip Kotler's Executive Class: 101 Days To Go

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

Tuesday, February 10, 2009

INFO INVESTASI: Bukan Berarti Berhenti Berinvestasi

SELASA, 10 FEBRUARI 2009

Krisis ekonomi dunia belum jelas akan berujung di mana. Namun ini bukan alasan untuk berhenti berinvestasi. Mereka yang memiliki pandangan ke depan umumnya justru berani berinvestasi saat ekonomi sedang melambat.

Orang yang punya tujuan finansial yang jelas akan terus berinvestasi. Karena itu saya tidak menyarankan untuk berhenti berinvestasi," ujar penasihat keuangan, Ligwina Hananto. Hal senada dikatakan pula oleh Edisjah, Agency Director PT Asuransi Jiwa Sequis Life, serta Budi Hikmat, Director PT Bahana TCW Investment Management. Dituturkan, yang namanya business cycle pasti turun dan naik. Namun seiring waktu toh keadaan akan kembali membaik.

Kompas

Media "Online" Jadi Sumber Terpercaya Pebisnis Indonesia

Selasa, 10 Februari 2009 | 14:52 WIB

JAKARTA, SELASA — Media online ternyata menempati posisi tertinggi sebagai sumber informasi terpercaya para pebisnis di Indonesia, mengalahkan media massa lain.

Hal tersebut disampaikan Direktur Edelman Trustbarometer Aditya Chandra Wardhana dalam konferensi pers terkait hasil survei perusahaan tersebut atas tingkat kepercayaan masyarakat terhadap satu instansi, Selasa (10/2) di Jakarta.

Dari hasil survei 200 orang elite informasi, ia mengatakan, ada tiga sumber informasi paling dipercaya menurut kalangan elite informasi Indonesia, yakni isi berita online, berita televisi, dan komunikasi langsung dari manajemen perusahaan.

Tingkat kepercayaan para elite informasi yang berpendidikan sarjana untuk konten online mencapai 41 persen, televisi (40 persen), dan komunikasi langsung pada manajemen perusahaan (36 persen).

Sementara untuk tingkat kepercayaan di tingkat media konvensional, artikel di majalah bisnis berada di peringkat kedua mencapai 35 persen, diikuti radio (29 persen), dan terakhir surat kabar (27 persen).

Aditya mengatakan, survei dilakukan kepada para eksekutif yang berusia 25 hingga 65 tahun, dengan penghasilan mencapai Rp 30 juta ke atas. "Mereka terbiasa mengikuti berita online karena mereka butuh informasi cepat untuk mengambil keputusan," ujarnya.

Menurutnya, kebanyakan dari mereka membutuhkan informasi awal dari setiap kebijakan atau peristiwa terkait isu global yang kemungkinan berdampak pada usaha di sektor masing-masing. "Selanjutnya mereka akan mengontak secara pribadi pengamat-pengamat yang biasanya sudah mereka kenal," ujar dia.

Dari hasil survei itu ternyata media massa menjadi institusi yang paling bisa dipercaya, mencapai 77 persen, dibandingkan dengan korporasi, pemerintah, dan LSM. Dari hasil survei, pengusaha berada di urutan kedua dengan persentase sebesar 62 persen, LSM diurutan ketiga (46 persen), dan pemerintah (45 persen).

Edelman sendiri merupakan perusahaan yang telah melakukan survei terkait kepercayaan masyarakat atas kondisi aktual secara global. Survei dilakukan dalam 10 tahun terakhir di 20 negara, dan tingkat error margin-nya mencapai 5 persen.


EDJ
Sumber : Ant

Kompas

[Kompas 100]: "From Market Perception to Marketing Fundamental"

Selasa, 10 Februari 2009 | 07:48 WIB

by Hermawan Kartajaya and Taufik

Apa kabar pembaca Kompas.com sekalian?
Setelah tahun lalu menikmati serial New Wave Marketing selama 100 hari, mulai 10 Februari hingga 26 Mei 2009 kami akan membahas Strategy dan Marketing Fundamental dari perusahaan publik dalam daftar Kompas100.

Serial ini sekaligus countdown kedatangan Philip Kotler, the father of modern marketing, ke Indonesia. Selain merayakan ulang tahunnya ke-78 pada tanggal 27 Mei, Kotler akan membawakan seminar Marketing in Turbulent Times: Discovering Opportunities in a Recession with Chaotic Management System.

Mengapa Marketing Fundamental?

Dari 2004 hingga 2007, Bursa Efek Indonesia mengalami pertumbuhan yang spektakuler. Pertumbuhan ini tercatat sebagai yang terbaik di Asia Tenggara, dan sejajar dengan kinerja bursa saham Shanghai dan Bombay. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah bursa pada Januari 2008. Namun, resesi ekonomi global pada tahun 2008 mendorong indeks untuk jatuh hingga 50 persen di akhir tahun. Walaupun volatilitas bukanlah sesuatu yang asing di dunia pasar modal, penurunan tajam seperti ini patut dicermati lebih dalam. Apakah fenomena ini cerminan dari lemahnya fundamental perusahaan publik di Indonesia?

Mungkin tidak adil jika kita terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan itu hanya berdasarkan harga saham. Ekonom seperti John Burr Williams melihat Market Value sebagai nilai dari suatu perusahaan atau aset, berdasarkan persepsi pasar terhadap nilai fundamentalnya. Karena penilaian ini lebih banyak tergantung kepada persepsi pasar, terkadang investor dapat menentukan nilai suatu perusahaan terlalu tinggi (overvalue) atau terlalu rendah (undervalue). Dalam masa turbulen seperti sekarang ini kecenderungan overvalue dan undervalue menjadi lebih besar.

Penilaian dari suatu perusahaan yang juga populer adalah Book Value. Perhitungan Book Value melibatkan analisis mendalam dari income statement dan balance sheet – suatu konsep klasik yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli pada abad ke 15. Book Value mempertimbangkan profitability dari suatu perusahaan dan juga kondisi finansial saat ini. Namun Book Value hanyalah cerminan dari kinerja masa lampau perusahaan. Adanya beberapa kelemahan, seperti praktik tax shield dan tidak diperhitungkannya cost of capital serta non-interest working capital mengurangi tingkat akurasi dari Book Value sebagai indikator kemampuan nyata dari perusahaan untuk menciptakan value bagi pemegang saham.

Selanjutnya, Stern Stewart & Company mengembangkan konsep Economic Value Added (EVA). Konsep ini melakukan revisi terhadap analisis tradisional dari income statement dan balance sheet untuk menghitung Economic Value suatu perusahaan. Dalam EVA income statement, praktik tax shield dihindari, dan cost of capital diperhitungkan. Dalam EVA balance sheet, non-interest working capital disertakan dalam perhitungan. Dengan ini, EVA memperhitungkan secara lebih mendalam jumlah kekayaan atau economic profit yang diciptakan suatu perusahaan untuk pemegang sahamnya. Namun, semenjak awal perkembangannya, EVA lebih banyak diterapkan terhadap bagian operasional dan sumber daya manusia. EVA digunakan untuk menemukan titik titik yang masih bisa diperbaiki dan juga menghitung jumlah insentif yang tepat untuk pegawai.

David Besanko, profesor Kellog School of Management, melakukan analisa yang lebih dalam terhadap EVA dan menemukan empat hal utama yang berhubungan dengan strategi suatu perusahaan. Besanko menyatakan bahwa untuk mendapatkan EVA yang lebih tinggi, suatu perusahaan harus meningkatkan gross margin, menurunkan rasio antara Sales, General, Administration (SG&A) Expense dan Sales, menurunkan rasio antara capital dan sales, dan meningkatkan Market Share. Ini adalah empat faktor fundamental yang menentukan Strategy Value suatu perusahaan.

Lebih dalam lagi, bisa dikatakan bahwa fundamental suatu perusahaan ditentukan oleh Marketing Value yang dimilikinya. Suatu perusahaan dapat meningkatkan gross margin, menurunkan rasio SG&A terhadap sales, menurunkan rasio capital terhadap sales, dan mendapatkan market share yang lebih tinggi melalui positioning, differentiation, dan brand (PDB) yang solid. PDB suatu perusahaan bisa menjadi dasar penentuan target segmennya, marketing mix, dan service process yang mereka tawarkan. PDB itu sendiri dibentuk berdasarkan analisa mendalam terhadap perubahan, kompetitor, pelanggan, dan perusahaan (change, competitor, customer, company).

Marketing dan Strategy akan menunjukkan apakah suatu perusahaan memiliki fundamental yang kuat untuk tetap bertahan melalui krisis dan menciptakan value bagi pemegang saham. Oleh sebab itu, saatnya kita beralih cara pandang: from market perception to marketing fundamental!

Philip Kotler's Executive Class: 102 Days To Go

Kompas

Monday, February 9, 2009

HARGA EMAS HARI INI: Harga Si Kuning Melorot Lagi

Senin, 9 Februari 2009 | 15:05

SINGAPURA. Sudah dua hari ini, harga emas di Asia terus melorot. Hal ini terjadi setelah beberapa investor melakukan aksi jual untuk menarik keuntungan atas melonjaknya harga si kuning pada minggu lalu.

Penyebab lainnya, adanya kenaikan di pasar bursa regional membuat turunnya permintaan emas sebagai investasi alternatif.

“Adanya aksi para spekulan dia pasar emas saat ini membuat emas melorot. Kami memprediksikan aksi profit taking akan tetap marak pada satu hingga dua minggu mendatang,” jelas Analis Credit Suisse, Tobias Merath.

Saat ini, harga emas untuk pengantaran cepat turun sebesar 0,9% menjadi US$ 903,34 per troy ounce. Pada pukul 11.00 waktu Singapura, emas berada pada posisi US$ 929,70 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas untuk pengantaran bulan Februari melorot 0,9% menjadi US$ 906,30 di Nymex divisi Comex.

Meski demikian, harga emas diperkirakan akan mengalami rebound pada minggu ini seiring adanya rencana kebijakan baru AS tentang anggaran belanjanya.

Pada tanggal 6 dan 7 Februari lalu, sekitar 27 trader, investor dan analis yang disurvei dari Tokyo hingga Chicago pada 5 Februari dan 6 Februari menyarankan untuk membeli emas.

Barratut Taqiyyah Bloomberg

Kontan ONLINE

Kompas100 "Marketing Cases"

Senin, 9 Februari 2009 | 14:44 WIB

Apa kabar pembaca Kompas.com sekalian?

Setelah tahun lalu menikmati serial New Wave Marketing selama 100 hari, mulai 10 Februari hingga 26 Mei 2009 kami akan membahas Stategy dan Marketing Fundamental dari perusahaan publik yang tercatat dalam daftar Kompas100.

Apa latar belakang kami menulis serangkaian artikel ini? Banyak pihak yang hanya melihat harga saham, atau Market Value, suatu perusahaan sebagai indikator bagus-tidaknya perusahaan tersebut. Namun bagi kami, strategi dan marketing merupakan hal yang lebih fundamental bagi sebuah perusahaan.

Dalam artikel pertama, kami akan menelaah lebih dalam mengenai mengapa kami merasa Marketing Fundamental lebih mencerminkan keadaan suatu perusahaan dibandingkan Market Perception. Lalu, dalam 100 artikel berikutnya, kami akan membahas satu persatu perusahaan yang termasuk dalam daftar Kompas100. Akan kami paparkan marketing fundamental dari perusahaan tersebut yang didasarkan atas studi literatur dan wawancara tertulis maupun langsung dengan pihak perusahaan. Artikel terakhir, atau ke-102, akan menjadi tulisan penutup kami.

Serial artikel kami ini sekaligus menjadi countdown kedatangan Philip Kotler, the father of modern marketing, ke Indonesia. Pada tanggal 27 Mei, bertepatan dengan ulang tahunnnya ke 78, Professor Kotler akan mengunjungi Jakarta dan membawakan One-Day Executive Roundtable Class dengan topik Marketing in Turbulent Times: Discovering Opportunities in a Recession with Chaotic Management System. Beliau akan membawakan konsep yang diambil dari bukunya yang terbaru, berjudul Chaotics.

Terakhir, sekaligus sebagai disclaimer, perlu kami sampaikan bahwa rangkaian tulisan ini bukan merupakan analisis saham perusahaan yang bersangkutan. Tulisan ini akan membahas fundamental strategi dan marketing dari perusahaan publik. Dengan memahami hal ini, pada akhirnya diharapkan masyarakat luas dapat ikut-serta mendukung perusahaan-perusahaan tersebut dalam membangun perekonomian Indonesia.

Selamat menikmati!


Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

BISNIS VALENTINE: Mencetak Laba dari Karikatur Valentine

Senin, 9 Februari 2009 | 11:18

JAKARTA. Gambar karikatur dapat menjadi kado unik di hari kasih sayang atau valentine. Pada momen ini, para penggambar karikatur panen pesanan.

Misalkan saja gerai online karikaturis.com milik Suardi. Gerai ini sudah kebanjiran order karikatur khusus valentine sejak awal bulan Februari. Tak heran jika gerai ini sudah menutup order pesanan khusus valentine-nya.

Gerai karikaturis.com menyediakan jasa karikatur wajah, badan dan latar belakang yang dikerjakan secara manual dan digital. Untuk karikatur digital, media cetaknya bisa kertas dan mug.

Karikaturis.com dibangun Suardi dan adiknya, Zulkifli, sejak pertengahan tahun 2008 lalu. Kebetulan, kedua kakak beradik tersebut sangat hobi menggambar.

Dengan modal Rp 5 juta, kini karikaturis.com menjadi usaha dengan omset sekitar Rp 5 juta perbulan dengan margin keuntungan sampai 80%.

Menjelang valentine, kedua kakak beradik tersebut sangat kerepotan. Mereka menggarap 50 pesanan mug karikatur valentine dan 10 gambar karikatur.

Lantaran, saban mug karikatur dan gambar karikatur, perlu waktu antara tiga sampai lima hari untuk mengerjakan desain dan cetaknya. Repotnya lagi jika pemesan minta gambarnya diperbaiki. "Kebanyakan pasangan valentine minta karikatur mug karena unik," tandas Zulkifli.

Menurut Zulkifli, pada hari biasa pesanan mug karikatur hanya sekitar 20 buah perbulan. Sedangkan karikatur di kertas hanya sekitar lima pesanan saja.

Khusus untuk mug karikatur, Suardi dan Zulkifli membanderolnya dengan harga Rp 52.000. Rinciannya Rp 17.000 untuk harga mug dan Rp 35.000 untuk jasa desain.

"Margin dari mug-nya saja, kita sudah dapat 30%," ujar Zulkifli. Kedua kakak beradik ini memang punya pabrik mug sendiri di daerah Plumpang, Jakarta Utara, dengan kapasitas produksi 100 unit mug per hari.

Sementara itu, untuk gambar karikatur manual, harganya Rp 250.000 per kepala. Sedang untuk karikatur digital Rp 150.000 per kepala. "Kalau wajah yang dilukis lebih dari satu, harga bisa nego lagi," lanjut Zulkifli.

Suardi dan Zulkifli juga menyediakan jasa cetak foto di mug valentine bikinannya. Banderol harganya cukup Rp 17.000 saja. "Pemesan tinggal kirim fotonya lewat email," ujar Zulkifli.

Lain lagi cerita Novita. Ibu muda pemilik gerai online caricature.alfyori.com ini sudah kerepotan menggarap empat pesanan karikatur dari empat pasangan yang akan merayakan valentine.

Menurut Novita, gerai online yang baru didirikan delapan bulan lalu tersebut mengkhususkan diri pada pengerjaan desain ruangan, website, banner, ilustrasi buku, ilustrasi kartu undangan dan karikatur secara digital.

Khusus untuk karikatur wajah, bakalan dicetak diatas kertas foto. Harganya Rp 100.000 per kepala.

Jadi kalau ada empat pasangan, dalam waktu pengerjaan tiga hari Novita sudah membawa pulang Rp 800.000. "Karena usaha ini jasa, maka margin saya bisa saja 100%," ujarnya.

Novita mengaku, pesanan khusus valentine kali ini sepi. Lantaran, pesanan karikaturnya tak sebanyak pesanan pada hari-hari biasa. "Akhir tahun lalu karikatur saya panen. Saya kerjakan 18 karikatur sekaligus. Tetapi valentine ini hanya empat," ujarnya.

Aprillia Ika

Kontan ONLINE

Ekspor Merosot Cuma Asumsi?

Senin, 9 Februari 2009 | 03:58 WIB

Oleh FAISAL BASRI

Entah sudah berapa kali pemerintah mengutik-utik asumsi APBN. Belakangan ini bahkan frekuensinya hampir mingguan. Sungguh menyesakkan proses perencanaan pembangunan di negeri kita. Krisis ekonomi dunia sudah teramat nyata, tetapi kita masih saja disibukkan oleh perubahan-perubahan asumsi APBN. Satu setengah bulan sudah tahun 2009 berlalu, entah kapan mulai merealisasikan belanja pembangunan dan atau dana stimulus untuk meredam pelambatan pertumbuhan ekonomi dan ancaman ledakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kalau tahun-tahun sebelumnya yang kerap jadi biang keladi perubahan besaran-besaran APBN adalah fluktuasi harga minyak, kini merembet ke hampir semua besaran makroekonomi. Pekan lalu, pemerintah berancang-ancang mengerek turun asumsi pertumbuhan ekspor dan pertumbuhan ekonomi.

Tak dimungkiri bahwa perkembangan ekonomi dunia dari hari ke hari kian buruk. World Economic Outlook terbitan Dana Moneter Internasional edisi Oktober 2008 mencantumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi (output) dunia tahun 2009 sebesar 3,0 persen. Namun, sebulan kemudian dikoreksi menjadi 2,2 persen. Pada akhir Januari lalu, IMF kembali melakukan koreksi, yang cukup drastis, menjadi hanya 0,5 persen.

Sejalan dengan koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia tahun 2009 pun dikoreksi, dari 4,1 persen pada Oktober 2008 menjadi 2,0 persen pada November 2008, dan minus 2,8 persen, Januari 2009. Dari perbandingan itu tampak koreksi pada pertumbuhan perdagangan dunia lebih tajam ketimbang koreksi pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Pemerintah tampaknya merespons kecenderungan pemburukan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia dengan usulan mengoreksi asumsi pertumbuhan ekspor dan produk domestik bruto pada APBN 2009. Pertumbuhan ekspor dikerek turun dari 5,9 persen pada awal Januari lalu menjadi 5 persen pada akhir Januari dan akhirnya 2,5 persen pada minggu pertama Februari 2009. Bahkan, pemerintah sudah menghitung pertumbuhan ekspor hanya 1 persen. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor tahun 2008 sebesar 13,7 persen, berarti kinerja ekspor Indonesia tahun ini akan merosot sangat tajam.

Seandainya perekonomian dunia terus mengalami pemburukan lebih lanjut dari yang diperkirakan dewasa ini, bisa saja pertumbuhan ekspor kita akan lebih buruk lagi, katakanlah mengalami pertumbuhan negatif. Dengan kata lain, volume ekspor tahun ini akan lebih rendah daripada tahun lalu. Apakah dengan begitu pemerintah lantas akan mengoreksi lagi target pertumbuhan ekonominya?

Sebetulnya, kemerosotan ekspor tak akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi apabila pada waktu yang bersamaan impor pun turun secara proporsional. Bahkan, bertolak dari pengalaman krisis tahun 1998 dan kejadian di China belakangan ini, kemerosotan impor lebih parah ketimbang penurunan ekspor sehingga menghasilkan perbaikan neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account). Lebih jauh lagi, kemerosotan pertumbuhan impor yang lebih tajam daripada pertumbuhan ekspor justru memberikan sumbangsih positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Perekonomian domestik

Maka, lebih baik kita menyiapkan serangkaian langkah untuk mengamankan perekonomian domestik dan langkah terobosan untuk menyiasati kelesuan pasar global. Namun, ada baiknya lebih dulu mengawalinya dengan sejumput optimisme.

Mayoritas ekspor kita adalah komoditas primer dan produk-produk manufaktur bernilai tambah rendah. Salah satu karakteristik menonjol dari produk-produk seperti itu adalah permintaannya kurang peka terhadap perubahan pendapatan atau bahasa teknisnya low income elasticity of demand. Jadi, kalaupun dunia mengalami resesi, volume ekspor kita tak akan anjlok.

Kita tak banyak mengekspor mobil, barang elektronik canggih, dan jasa-jasa modern yang mahal. Justru sebaliknya, produk-produk sejenis itu kebanyakan kita impor. Karena permintaan terhadap produk-produk tersebut sangat peka terhadap perubahan pendapatan, niscaya impor kita untuk produk-produk itu akan turun lebih drastis ketimbang penurunan ekspor kita. Maka, bisa diperkirakan hasil akhirnya akan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan eksternal, khususnya transaksi berjalan.

Kekhawatiran bahwa kemerosotan ekspor akan mengakibatkan gelombang besar PHK bisa diredam jika kita memaksimalkan potensi pasar dalam negeri. Pusatkan saja perhatian pada tiga produk, yakni elektronik, tekstil dan pakaian jadi, serta sepatu. Terutama, berantas habis impor ilegal. Asosiasi produsen elektronik menengarai bahwa lebih dari separuh impor elektronik dilakukan secara ilegal. Porsi yang cukup besar diduga terjadi pula untuk impor tekstil, pakaian jadi, sepatu, serta makanan dan minuman.

Lalu, permudah dan bantu habis-habisan para tenaga kerja kita yang mencari nafkah di luar negeri dengan memberikan jaminan perlindungan hukum. Satu sumber lagi yang berpotensi bagi penerimaan devisa adalah sektor pariwisata.

Dengan pembenahan mendasar di sektor ini, setidaknya kita masih bisa berharap tak terjadi penurunan jumlah pengunjung. Sumbangan TKI dan wisatawan asing sangat besar peranannya dalam penerimaan devisa dan peredam angka pengangguran.

Rasanya, daya tahan kita menghadapi kelesuan ekonomi dunia bisa tak seburuk bayangan angka-angka yang tersajikan belakangan ini asalkan kita mau kerja keras. Buktikan bahwa kita bisa jadi bangsa mandiri.

Faisal Basri Pengamat Ekonomi

Kompas

Sunday, February 8, 2009

Perilaku Investasi

Minggu, 8 Februari 2009 | 01:13 WIB

Elvyn G Masassya Praktisi keuangan

Apakah benar, ketika seseorang berinvestasi tujuannya memupuk kekayaan sebagaimana kerap dipromosikan lembaga atau institusi yang menjual produk keuangan?

Jawabannya tidak. Pemupukan kekayaan hanyalah salah satu dari banyak tujuan investasi. Jadi, ketika tujuan investasi sudah tidak jelas, jangan heran jika banyak investor menuai kegagalan dalam investasinya. Dus, sebelum melakukan dan memilih alat investasi, pastikan dulu tujuan investasi Anda dan kemudian sesuaikan dengan perilaku investasi ketika memilih alat berinvestasi.

Secara konsep, paling tidak ada empat tujuan investasi. Pertama, melindungi modal dan aset dari inflasi. Kedua, memperoleh pendapatan rutin untuk membiayai keseharian. Ketiga, membangun kekayaan dan meningkatkan aset yang telah dimiliki. Keempat, spekulasi dalam rangka mendapatkan keuntungan besar.

Jika dilihat sepintas, tampaknya keempat tujuan investasi tersebut sama saja. Atau sering kali semuanya menjadi tujuan bagi seorang investor. Apakah memang demikian? Jelas tidak.

Lihat tujuan pertama: memproteksi aset dan modal dari jeratan inflasi. Tujuan ini biasanya hanya dimiliki kalangan yang telah mencapai kemapanan finansial. Artinya, investasi bukan lagi untuk memupuk kekayaan. Pilihan investasinya lebih yang berisiko rendah. Misalnya, dana hanya ditempatkan di deposito berjangka atau surat berharga pasar uang berjangka pendek. Sepanjang hasilnya di atas tingkat inflasi, pemilik dana merasa cukup puas. Aset absolutnya bertambah, namun nilai bersih sebenarnya tetap. Yang lebih penting adalah asetnya likuid, jika diperlukan setiap saat dana tersedia.

Beda dengan kalangan yang berinvestasi untuk memperoleh pendapatan rutin dalam rangka membiayai belanja harian. Menempatkan dana dalam bentuk deposito berjangka saja jelas tidak mencukupi. Karena itu, pilihan investasinya pun mesti lebih beragam. Sebutlah menempatkan dana dalam obligasi pemerintah, BUMN, atau swasta yang imbal hasilnya lebih tinggi daripada deposito berjangka.

Bisa juga menempatkan sebagian dana dalam bentuk saham yang fundamentalnya bagus sehingga mampu rutin membayar dividen rutin. Atau menempatkan dana langsung ke sektor riil, misalnya membeli rumah toko yang kemudian disewakan. Jadi, intinya, investasi yang dilakukan diharapkan bisa memberi pendapatan rutin cukup besar dibandingkan deposito berjangka.

Tujuan ketiga: memupuk kekayaan, di mana hasil investasi diharapkan bisa lebih besar ketimbang tujuan kedua. Dalam model ini, dana yang diinvestasikan belum akan dinikmati dalam jangka pendek. Misalnya, dana ditempatkan di deposito berjangka, maka bunganya akan ditambahkan ke dalam pokok pinjaman untuk didepositokan kembali. Lalu, ketika membeli saham dan mendapat dividen dan gain, akan diinvestasikan lagi untuk membeli saham lain bersama pokoknya.

Jika pola semacam ini dilakukan dalam kurun waktu cukup lama, katakanlah 10 tahun, maka jumlah aset dan modal Anda akan berlipat ganda. Namun, pola investasi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan yang untuk biaya sehari-harinya sudah memiliki dari sumber lain.

Yang terakhir, investasi sudah bersifat spekulatif. Mereka dalam golongan selalu mencari jenis investasi yang berani memberi imbal hasil sangat tinggi dan terkadang tidak masuk akal. Kita pernah mendengar kisah Qisar dan Maddoff di mana pihak penggalang dana menggunakan skema ponzi alias piramida uang.

Jika Anda termasuk pihak yang masuk pada awal dan segera keluar, maka Anda beruntung. Tetapi, jika Anda masuk belakangan, maka besar kemungkinan dana Anda sudah raib diberikan kepada pihak yang lebih dulu masuk sebelum Anda.

Investasi bersifat spekulatif juga kerap terjadi di pasar modal. Saham-saham tertentu yang tidak memiliki fundamental bagus ”digoreng” sedemikian rupa sehingga harganya meningkat. Jika Anda tergiur, Anda akan ikut membeli. Pada saat yang sama, pihak ”penggoreng” telah mengambil keuntungan dengan menjual kembali saham tadi.

Sesuaikan dengan tujuan

Ringkasnya, investasi bersifat spekulatif lazimnya tindakan investasi yang tidak didasari analisis, masuk ke jenis investasi ”abu-abu” dan menempatkan dana dalam jumlah cukup besar karena ingin mendapat keuntungan besar dalam jangka pendek.

Berangkat dari tujuan investasi di atas, korelasikan dengan perilaku investasi Anda. Contoh sederhana, sangat tidak mungkin Anda memiliki tujuan investasi spekulatif jika Anda tergolong penakut atau tidak berani mengambil risiko. Investasi ini hanya bisa dilakukan mereka yang ”berani mati” dan ”berani kehilangan uang”.

Dalam realitasnya kita melihat begitu banyak investor yang kemudian melapor pada polisi, menangis tersedu-sedu, atau malah menjadi gila ketika kehilangan dana investasinya. Sebenarnya ini aneh. Karena ketika berani berspekulasi, mestinya berani pula menanggung akibatnya.

Dalam praktiknya, kebanyakan yang berinvestasi spekulatif sebenarnya memiliki tujuan mempunyai pendapatan rutin dalam rangka membiayai kebutuhan sehari-hari. Kalau memang seperti itu faktanya, mestinya pilihan investasinya adalah yang berisiko moderat, bahkan rendah.

Kesimpulannya, perilaku investasi mesti sejalan dengan tujuan investasi. Jika kedua hal ini tidak sinkron, maka besar kemungkinan investasi akan gagal.

Kompas