Thursday, November 12, 2009

Pelajaran New Wave Michelin Man

Kamis, 12 November 2009 | 07:51 WIB

KOMPAS.com - Di awal ke-20, sejarah juga mencatat bahwa Michelin sudah ada dimana-mana. Dari 25 mobil yang berkeliaran di jalanan, berarti ada 100 ban. 60 sampai 70 dari ban tersebut adalah bannya Michelin. Dan itu bukan hanya ada di Eropa, tapi juga di Mesir, pulau Jawa, Argentina, Brazil, dan kawasan indo-china.

Seiring dengan perkembangan jaman, Michelin dihadapi berbagai tantangan terutama pemain-pemain baru yang bermunculan. Kini ia masih mendominasi papan atas, market share di tingkat dunia saat ini terus didominasi secara balap-balapan antara Bridgestone dari Jepang dan Michelin sendiri.

Ia tetap menjadi konektor karena Michelin Man sendiri adalah karakter yang didesain untuk mengkonek secara horisontal perusahaan dengan pelanggannya. Dari sejak awal, Michelin bersaudara seakan sudah percaya bahwa langkah pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan harus berarti bagi pelanggan, bukan hanya semata bagi perusahaannya sendiri.

Michelin bersaudara seakan sudah meramalkan dari jauh hari, sejak akhir abad ke-19, bahwa sebuah perusahaan bukan saja harus membuat produk yang lebih baik, tapi ia juga harus menolong dan membuat hidup pelanggannya lebih baik. Inilah yang menjadi dasar utama dari langkah pemasarannya selama ini.

Bagaimana ia menolong dan membuat hidup pelanggannya lebih baik? Tentunya lewat berbagai macam konektor yang ia miliki. Karakter Michelin Man tampil sangat eksperiensial dalam berbagai kesempatan di dunia offline dan online, seperti event balapsepeda (Tour de France), Formula 1, MotoGP, dan lainnya, di mana wujud Michelin Man betul-betul tampil seutuhnya layaknya manusia.

Kegiatan eksperiensial lain seperti yang yang dilakukan selama 10 tahun belakangan lewat program “Michelin Challenge Bibendum” juga merupakan contoh bagaimana Michelin Man begitu aktif dalam kapasitasnya sebagai ‘malaikat’ untuk motorist yang menolong dan membuat hidup orang-orang menjadi lebih baik.

Konektor yang sifatnya mobile tentunya adalah Michelin Guide yang kini tampil dua versi warna merah untuk hotel dan restoran, dan warna hijau untuk turis, yang kesemuanya berisikan rating Michelin Stars. Panduan yang sudah ada sejak 1900 ini, kini telah masuk ke dunia mobile yang online, mengikutsertakan peta digital (ViaMichelin) dan juga Aplikasi iPhone yang berisikan pula panduan untuk banyak produk dan servis yang dapat ditemukan di perjalanan.

ViaMichelin kian tampil menjadi otoritas, seiring dengan posisinya sebagai portal komprehensif yang sangat meaningful bagi pengguna. Di portal untuk motorist ini, terdapat berbagai informasi seputar peta perjalanan, rute, hotel, restoran, majalah otomotif, majalah kuliner, majalah travel, dan tentunya pembedahan produk dan layanan yang berhubungan dengan Michelin. Ia menjadi konektor sosial di mana hubungan sosial para motorist yang selama ini terbiasa menukar informasi di dunia offline dicoba untuk di-online-kan.

Pelajaran New Wave yang dapat kita petik dari langkah Michelin adalah untuk membangun brand yang solid memang harus dilakukan lewat pembangunan karakter. Karakter Michelin Man selama ini bukan saja dikenal masyarakat luas, tapi ia juga dicintai. Kenapa? DNA-nya jelas, yaitu ia adalah “temannya masyarakat.” Di tengah perubahan lanskap yang terjadi selama ratusan tahun belakangan, ia tetap ada menjadi bagian dari sejarah industri sehingga orang-orang menyebutnya “malaikat penjaga motoris.”

Ia dicintai karena konsisten. Michelin Man, meskipun bisa berubah-rubah bentuk, tapi pembawaan karakternya tetap sama dan konsisten, mengacu pada DNA “temannya masyarakat” dan klarifikasi dirinya sebagai “malaikat penjaga motoris.” Dan tentunya ia dicintai karena betul-betul bisa mengkonek secara holistik, ke benak, hati, dan jiwa konsumen, sehingga ia bisa diterima oleh konsumennya ini karena apa yang ia lakukan sejak akhir abad 1800 hingga sekarang adalah sangat berarti.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

No comments: