Thursday, November 19, 2009

Karakteristik Dari Sebuah Konektor Sosial

Kamis, 19 November 2009 | 15:39 WIB

KOMPAS.com - Dalam buku berjudul “Meeting Business Needs by Meeting Social Needs in Small Communities: Why Size Matters”, Julie Wittes Schlack, Michael Jennings dan Manila Austin mengidentifikasi lima karakteristik seorang pelanggan yang bersifat “sosial” Karakteristik itu adalah: “Status & Self-Esteem”, “Expressing Identity”, “Giving & Getting Help”, “Affiliation & Belonging”, dan “Sense of Community

Seperti dibahas sebelumnya, tidak cukup perusahaan secara pasif menunggu terciptanya hubungan dengan customer, change agents, dan competitor. Perusahaan harus secara aktif menciptakan platform yang memfasilitasi terciptanya hubungan antara semua elemen tersebut. Salah satu platform itu adalah social connector. Dengan mengacu pada karakteristik tersebut, dapat dipelajari bagaimana perusahaan dapat menciptakan konektor sosial yang efektif.

Status dan Self Esteem. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang ingin diperhatikan. Dalam piramida kebutuhan psikologis manusia, pencapaian dan penghargaan dari orang lain disebut sebagai kebutuhan tertinggi setelah aktualisasi diri. Tetapi, pada budaya timur seperti negara-negara Asia, termasuk Indonesia, keinginan untuk diakui dan dihargai ini mungkin menyamai atau lebih tinggi daripada keinginan aktualisasi diri.

Untuk itu, suatu konektor sosial harus mampu memenuhi hasrat ini. Hal ini misalnya dapat dicapai dengan memberikan platform dimana anggota komunitas dapat menyuarakan pendapat, dan pendapat tersebut dapat dinilai positif atau negatif oleh anggota lainnya. Untuk komunitas offline “status” ini dapat ditentukan oleh jabatan atau peranannya dalam komunitas tersebut. Dalam komunits online, ini dapat berupa jumlah pemilih (MyStarbucks Idea), jumlah pemirsa (YouTube), atau bahkan jumlah orang yang memberi komentar status (Facebook, Twitter)

Expressing Identity. Hal kedua yang tidak terlepas dari sifat dasar manusia, terutama manusia yang menghargai kebebasan, adalah keinginan mengekspresikan identitasnya yang unik. Setiap individu memiliki keinginan untuk dihargasi sebagai seseorang yang spesial. Berbeda dengan orang lain, dan memiliki ciri khas yang tak dapat ditiru. Dalam konsep new wave, kami menyebutnya sebagai karakter.

Konektor sosial harus mampu memberikan wadah bagi tiap individu untuk menyatakan keunikan pribadinya. Hal yang paling sederhana dapat dilihat dalam penggunaan avatar untuk komunitas online. Gambar kecil berukuran tak lebih dari 300 piksel ini, merupakan ekspresi pribadi yang unik. Kalau dalam komunitas sepeda motor, misalnya, identitas terlihat dari bagaimana orang tersebut melakukan modifikasi.

Giving and Getting Help. Meskipun, seperti disebutkan diatas, salah satu motivasi melakukan interaksi sosial adalah mendapatkan pengakuan dan status, ternyata mencari dan memberikan bantuan juga merupakan komponen penting dalam setiap interaksi sosial. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 76 persen pembeli mengandalkan pada rekomendasi teman untuk sumber informasi mengenai produk. Sedangkan hanya 15 persen yang percaya pada informasi dari iklan.

Beberapa ahli bahkan menilai bahwa jejaring sosial merupakan program referral paling besar dan effektif. Memberikan dan meminta rekomendasi serta bantuan adalah sesuatu yang sangat natural terjadi dalam suatu hubungan sosial. Berbagai testimonial yang muncul secara natural dalam berbagai forum adalah bukti dari keinginan ini. Beberapa social media memanfaatkannya dengan memberikan kemampuan menciptakan daftar favorit (Twitter, Amazon), atau dengan sekedar memberikan tanda ’like’ yang otomatis menyebarkannya kepada seluruh teman dalam jejaring sosial (FriendFeed, Facebook).

Affiliation and Belonging. Meskipun di atas disebutkan bahwa memiliki identitas yang unik adalah salah satu hasrat manusia, di lain pihak, ada kecenderungan pula untuk mendambakan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sebagai individu, seringkali kita merasa tidak mampu melakukan perubahan besar. Lain halnya jika kita menjadi bagian dari suatu komunitas sosial. Jika salah satu regu olahraga Indonesia berhasil memenangkan suatu turnamen internasional yang prestisius, banyak warga negara Indonesia akan turut merasa bangga.

Ikatan ini dapat tercipta melalui dibentuknya budaya dan tradisi yang khas, yang membedakan dengan pihak lain. Untuk negara, ini berarti bendera, bahasa, dan tanah air. Untuk komunitas sosial, ini dapat berupa, seragam, dialek khusus, dan mungkin tempat berkumpul (alamat website). Penggunaan sapaan Gan di komunitas online Kaskus misalnya. Atau istilah tall, venti dan grande bagi penggemar Starbucks.

Sense of Community. Karakteristik sosial terakhir yang diidentifikasi oleh Schlack, Jennings dan Austin dalam bukunya, berkaitan dengan keinginan berkumpul dan menjadi bagian dari sesuatu yang dapat menopang-nya melalui kesulitan. Keinginan ini juga didorong oleh perasaan ”senasib dan sepenanggungan” yang dialami.

Disini, keinginan yang harus dipenuhi adalah terjadinya interaksi pribadi yang lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan rasional, tapi juga kebutuhan emosional dan bahkan spiritual. Komunitas online yang akhirnya berkumpul untuk melakukan amal bersama, memberikan sense of community ini. Sehingga interaksi antara individu yang tercipta lebih dari tujuan utama dibentuknya komunitas tersebut.

Berdasarkan pengamatan kami, suatu platform konektor sosial yang berhasil, baik secara sadar maupun tidak, telah menerapkan lima prinsip diatas. Baik itu dilakukan secara online di dunia maya, ataupun secara offline dalam interaksi secara langsung. Sehingga, ada baiknya, sebelum mencoba memanfaatkan atau menciptakan suatu social connector, dilakukan evaluasi terlebih dahulu apakah sudah dapat menampung dan memenuhi lima karakteristik makhluk sosial tersebut.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

No comments: