Sunday, November 8, 2009

Investasi & Keuangan: Hemat Vs Pelit

Minggu, 8 November 2009 | 02:56 WIB



Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Anda pernah disebut pelit oleh teman ataupun handai tolan? Atau memang selalu dianggap pelit karena, kendati memiliki uang banyak, tetapi tidak pernah mau berbagi dengan yang membutuhkan pertolongan? Jangan dulu berkecil hati. Boleh jadi mereka keliru. Anda sebenarnya tidak pelit, tetapi hemat.

Pertanyaannya, bagaimana membedakan hemat dengan pelit? Dan apa saja rumusan untuk bisa bersikap hemat tetapi tidak dianggap pelit? Jawabannya ada di berbagai buku tentang perencanaan keuangan, tetapi tidak ada salahnya kita ulas di rubrik ini.

Hemat adalah bagaimana mengelola pengeluaran sehingga bisa melakukan cost saving. Misalnya, tidak membeli barang-barang yang tidak diperlukan, lebih mengutamakan fungsi barang ketimbang prestise, gengsi, ataupun stimulus emosional lain, bisa membedakan mana kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan, dan hanya mengeluarkan uang untuk hal-hal bermanfaat.

Banyak sekali aktivitas dalam keseharian yang bisa menggambarkan makna hemat. Kalau Anda berangkat ke kantor mengendarai mobil seorang diri, misalnya, sementara kantor Anda bisa dijangkau dengan transportasi umum yang cukup baik, sebenarnya Anda tergolong belum mau menghemat. Anda sebenarnya bisa bersama-sama rekan berangkat ke kantor dalam satu mobil dan kemudian berbagi biaya bensin.
Membeli pakaian saat musim sale juga perilaku hemat, dengan catatan barang yang dibeli merupakan kebutuhan.

Kebalikannya, perilaku boros, mengeluarkan uang sudah menjadi semacam hobi, membeli apa saja sekadar untuk memuaskan keinginan, kendati barang yang dibeli sama sekali tidak diperlukan, membeli barang baru yang sesampai di rumah mungkin lupa tadi membeli apa. Pendeknya, pengeluaran menjadi sangat besar terhadap hal-hal yang tidak memiliki aspek fungsi, melainkan sekadar gengsi.

Bagaimana agar makna hemat tidak kemudian terjerumus menjadi pelit? Intinya adalah perencanaan keuangan. Apa pun penyebab pengeluaran uang, didasarkan atas perencanaan untuk memenuhi kebutuhan, baik itu kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier.

Bagaimana dengan hal yang tidak direncanakan tetapi tiba-tiba tergolong kebutuhan? Golongkan pengeluaran seperti itu dalam pengeluaran tersier, termasuk dalam hal ini jika Anda suka memberikan bantuan keuangan kepada orang lain.

Jika pendapatan Anda, misalnya, 100, maka yang boleh dialokasikan untuk pengeluaran primer, sekunder, dan tersier tidak lebih dari 70 persen Katakanlah, untuk kebutuhan primer 50 persen dari pendapatan, 15 persen untuk kebutuhan sekunder, dan 10 persen untuk kebutuhan tersier. Ketika ada yang meminta bantuan, gunakan dana dari alokasi yang 10 persen itu. Tidak boleh lebih. Kalau lebih, Anda melanggar prinsip yang sudah dicanangkan.

Pelit

Hal-hal di atas sangatlah berbeda dengan pelit. Pelit adalah ketika seseorang bahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri pun enggan mengeluarkan uang. Jadi, persoalannya bukan lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginan, tetapi hampir tidak mau mengeluarkan uang. Uang hanya disimpan, tidak jelas peruntukannya untuk apa. Jangankan membantu orang lain, membantu diri sendiri saja enggan.

Ketika perilaku pelit terus berada di dalam diri, maka sebenarnya kebebasan finansial tidak akan pernah diraih. Kenapa? Karena yang dimaksud dengan kebebasan finansial adalah ketika seseorang sudah tidak memikirkan soal uang lagi untuk memenuhi kebutuhan.

Kebutuhan itu bersifat relatif. Jadi, kebebasan finansial bukan berarti mesti memiliki uang satu karung. Uang yang hanya sekian lembar pun, jika sudah mampu memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier bisa dianggap sebagai kalangan yang sudah terbebas dari masalah finansial. Sementara, orang-orang pelit, walaupun uangnya banyak, selalu saja merasa kekurangan, sehingga tetap berkeinginan mencari uang terus. Bukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan demi mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Dus, sudah menyimpang dari norma yang lazim berlaku dalam konsep keuangan pribadi.

Karena itu, hindari perilaku pelit agar tidak dianggap ”miring” secara sosial oleh masyarakat.

Itu adalah perilaku pelit paling berbahaya. Ada lagi pelit yang lain. Mereka adalah orang yang jika untuk dirinya sendiri mau mengeluarkan uang berapa pun, bukan sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi malah lebih banyak untuk memuaskan keinginan. Hal yang sama tidak akan pernah dilakukan untuk orang lain.

Kalangan seperti di atas enggan berbagi. Tercukupi secara finansial, tetapi miskin secara sosial. Oleh karena itu, perilaku semacam ini pun tidak sesuai dengan prinsip keuangan pribadi di mana semestinya ada sebagian dari pendapatan yang harus dialokasikan untuk melakukan tanggung jawab sosial dan menjadi bagian dari pengeluaran tersier. Terserah Anda, mau jadi pelit atau hemat.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

No comments: