BLOGSPOT atas

Sunday, May 30, 2010

INVESTASI: Investasi Hari Tua

Minggu, 30 Mei 2010 | 02:51 WIB

Oleh Elvyn G Masassya, Praktisi keuangan

Basic welfare adalah kesejahteraan pada tingkat yang paling dasar, yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, terjaminnya hari tua, dan terjaminnya kesehatan. Sebuah negara bisa dianggap berhasil menyejahterakan masyarakatnya seandainya kelima hal tersebut terpenuhi. Dalam realitasnya, apa yang terjadi?

Mungkin dalam level tertentu, semua masyarakat Indonesia saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun, untuk papan, benar, belum semua rakyat memilikinya. Bahkan, ada yang menyewa pun tidak mampu sehingga masih ada yang terpaksa menghuni gubuk liar.

Bagaimana dengan jaminan hari tua? Ini masih menjadi isu besar. Karena di kalangan kelas menengah pun, tidak sedikit orang-orang yang pada masa mudanya berkecukupan, tetapi setelah di usia tua hidup menderita karena tidak memiliki harta dan penghasilan. Demikian juga dengan kesehatan. Masih sangat banyak kalangan yang tidak mampu berobat ke rumah sakit dan masih sangat banyak yang tidak sanggup memelihara kesehatan sehingga terserang berbagai penyakit.

Kebebasan finansial mesti dimulai dengan pencapaian tingkat kesejahteraan paling mendasar, yakni kelima hal di atas. Oleh karena itu, ada baiknya dibahas, bagaimana caranya hal tersebut bisa diraih masyarakat, khususnya mengenai jaminan keuangan pada hari tua dan terjaminnya kesehatan.

Jaminian sosial

Bagi para karyawan, sebenarnya sudah ada program jaminan sosial tenaga kerja, yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yang salah satunya dikenal dengan sebutan Jamsostek. Dalam realitas, belum semua tenaga kerja menjadi peserta Jamsostek. Masih ada persepsi bahwa menjadi peserta Jamsostek hanya menambah biaya. Secara filosofis, pandangan seperti itu keliru.

Sebagaimana dipaparkan di atas, salah satu basic welfare adalah terpenuhinya jaminan hari tua atau dalam istilah Jamsostek disebut sebagai JHT. Hal ini sebenarnya merupakan bagian dari perencanaan keuangan. Seseorang yang mulai bekerja, misalnya, selain mencari penghasilan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, tentu harus melakukan investasi dan menabung untuk hari tua. Tujuannya agar pada hari tua, orang tidak menderita.

Program JHT yang dikelola Jamsostek sebenarnya memiliki landasan berpikir seperti itu, yakni membantu agar para pekerja tidak menderita pada hari tua. Oleh karena itu, setiap bulan sebagian penghasilan dari pekerja disisihkan untuk membayar iuran JHT, di mana setelah pekerja memasuki usia pensiun, seluruh iuran JHT tersebut berikut imbal hasilnya diserahkan kembali kepada si pekerja. Dengan kata lain, peran Jamsostek adalah mengelola dana para pekerja dan mengadministrasikannya sekaligus memberikan perlindungan bagi pekerja.

Banyak kalangan belum memahami hal tersebut karena berbagai alasan. Iuran Jamsostek, misalnya, tidak sepenuhnya menjadi beban pekerja. Saat ini, berdasarkan ketentuan, iuran JHT Jamsostek adalah sebesar 5,7 persen dari penghasilan si pekerja. Namun, yang menjadi beban pekerja hanya 2 persen, sedangkan 3,7 persen lagi menjadi tanggung jawab perusahaan pemberi kerja.

Bagi sementara orang, angka 2 persen itu bisa dianggap beban. Demikian juga dengan perusahaan pemberi kerja. Kewajiban yang 3,7 persen dianggap menambah biaya perusahaan. Sekali lagi, pandangan seperti ini bukan saja menyesatkan, tetapi juga bisa disebut sebagai missresponsibility, alias tidak bertanggung jawab

Dana titipan.

Iuran yang 2 persen dari pekerja sebenarnya merupakan dana titipan yang akan mereka nikmati pada masa tua. Jadi, persis seperti menabung. Bagi perusahaan, kendati membayar 3,7 persen, tentunya menjadi hal lumrah karena sudah sewajarnya perusahaan memberikan kesejahteraan bagi pekerjanya. Malah di sisi lain, jika kesejahteraan termasuk hari tua si pekerja sudah terjamin, tentunya diharapkan si pekerja bisa melakukan pekerjaan dengan lebih produktif.

Kalau iuran itu dititipkan ke Jamsostek untuk dikelola, apakah hasilnya akan baik? Dari data-data yang dikomunikasikan melalui surat kabar, kita melihat bahwa setiap tahun Jamsostek memberikan imbal hasil yang secara persentase malah jauh di atas tingkat bunga tabungan maupun deposito. Jadi, melalui lembaga semacam Jamsostek, iuran tersebut bisa mendapatkan imbal hasil lebih besar ketimbang si pekerja menabung sendiri di bank.

Jelas, sebenarnya untuk memperoleh jaminan keuangan pada hari tua, pekerja bisa menjadi peserta Jamsostek. Lebih dari itu, seorang pekerja yang menjadi peserta Jamsostek sejatinya juga mendapatkan perlindungan kesehatan. Jika sakit, mereka bisa mendatangi rumah sakit rujukan dan memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu, juga mendapatkan perlindungan kecelakaan kerja. Artinya, ketika sedang bekerja mengalami kecelakaan, maka akan mendapatkan santunan. Bahkan, juga mendapatkan jaminan kematian, semacam asuransi jiwa. Jika pekerja meninggal baik karena sakit maupun kecelakaan, ahli waris akan memperoleh santunan.

Ringkasnya, pencapaian kesejahteraan dasar, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan jaminan hari tua, sesungguhnya tidak selalu mesti dikelola sendiri. Menjadi peserta Jamsostek, berdasarkan undang-undang, mesti diikuti semua pekerja di negara ini.

Belakangan, malah terdengar bahwa setiap peserta Jamsostek yang memenuhi persyaratan bisa memperoleh bantuan uang muka perumahan. Jadi, kalau peserta Jamsostek hendak mengambil KPR dari bank, uang muka bisa dipinjam dari Jamsostek dengan bunga yang amat reƱdah. Artinya, kebutuhan akan papan juga bisa terpenuhi.

KOMPAS

Sunday, May 23, 2010

Mengapa Harga Saham Naik-Turun?

Minggu, 23 Mei 2010 | 03:52 WIB


Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan

Pada tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pernah melewati level 3.000 dan merupakan level tertinggi sejak berdirinya BEI. Kenaikan IHSG sampai pada level 3.000 membuat berbagai pihak merasakan keuntungan dan menginginkan terus berlanjut. Bagi para ekonom maupun analis finansial, IHSG merupakan indikator utama ekonomi. Artinya, kenaikan IHSG menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang. Sebaliknya, penurunan IHSG menunjukkan adanya penurunan ekonomi pada masa mendatang.

Berbagai pihak mempunyai pendapat mengenai IHSG ini dan dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok IHSG akan melebihi 3.000 serta kelompok IHSG di antara 2.900 dan 3.000, tetapi kedua kelompok setuju IHSG meningkat dari IHSG pada akhir tahun 2009.

Sri Mulyani

Dalam dua minggu terakhir, kita menyaksikan bahwa harga saham di bursa turun dan naik. Tetapi, penurunan tajam dari level 3.000 sampai dengan level 2.800 merupakan penurunan yang dominan. Penurunan ini sempat dinyatakan disebabkan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pihak tertentu terlalu memaksakan alasan ini.

Namun, penurunan IHSG bukanlah seutuhnya karena mundurnya Menteri Keuangan, bahkan oleh faktor eksternal yang sangat berpengaruh. Faktor eksternal yang sangat berpengaruh karena bursa New York menurun tajam juga pada periode dua minggu terakhir dan tepatnya ketika pengumuman Menteri Keuangan mundur dari jabatan tersebut.

Pada sisi lain, ada problem di Yunani

yang sangat memengaruhi negara-negara Eropa. Jerman harus turun tangan untuk membereskan persoalan Yunani tersebut dengan memberikan bantuan pinjaman.

Sesuai dengan uraian tersebut, kenaikan atau penurunan IHSG disebabkan kenaikan atau penurunan harga saham perusahaan yang terdaftar di bursa tersebut. Jika harga saham perusahaan tersebut naik secara keseluruhan, IHSG akan naik. Demikian juga jika harga saham perusahaan turun secara keseluruhan, IHSG turun. Bila harga saham yang naik seimbang dengan harga saham yang turun, IHSG akan tidak naik dan turun. Hal itu disebut stagnan atau berfluktuasi sekitar level tersebut.

Faktor internal

Kenaikan dan penurunan harga saham bisa diakibatkan faktor internal perusahaan dan faktor eksternal perusahaan. Faktor internal perusahaan merupakan informasi yang berasal dari perusahaan. Adapun kenaikan laba bersih perusahaan merupakan faktor yang membuat harga saham naik.

Kenaikan laba bersih ini tidak terlepas dari usaha manajemen perusahaan melakukan tindakan ekspansi atau meningkatkan pendapatan perusahaan. Biasanya, informasi dari perusahaan yang membuat harga saham naik akan diinformasikan secepatnya. Tetapi, informasi yang membuat harga saham perusahaan turun umumnya ditutup-tutupi oleh perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus transparan agar investor mengetahui dan dapat menilai harga saham guna membuat keputusan atas saham tersebut.

Perusahaan selayaknya membuat publik ekspose yang tidak diwajibkan oleh regulator. Keterbukaan yang tidak disyaratkan regulator ini dikenal dengan keterbukaan voluntir (voluntary disclosure). Umumnya, perusahaan yang melakukan voluntary disclosure mempunyai harga saham yang lebih stabil dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan voluntary dislcosure.

Menurut penelitian, perusahaan yang mempunyai informasi bagus akan diumumkan secepatnya dan perusahaan yang mempunyai informasi jelek akan diumumkan paling lama. Hal ini dapat terlihat pada pengumuman laporan keuangan perusahaan yang harus diumumkan paling lambat tanggal 31 Maret untuk periode tahun sebelumnya.

Perusahaan yang mempunyai laporan keuangan bagus akan mengumumkan atau melaporkannya kepada badan pengawas bursa, bahkan bursanya sendiri secepatnya sekitar awal bulan Februari. Sedangkan perusahaan yang mempunyai laporan keuangan yang kurang bagus akan mengumumkannya pada akhir periode persyaratan yang diinginkan peraturan oleh regulator. Faktor internal ini merupakan faktor yang bisa dikendalikan perusahaan sehingga manajemen perusahaan mencoba melakukan pengendaliannya untuk kepentingan perusahaan

Faktor eksternal

Faktor eksternal juga merupakan faktor penting dalam membuat penurunan atau kenaikan harga saham di bursa. Faktor eksternal merupakan faktor yang tidak bisa dikendalikan perusahaan sehingga sering disebut dengan systematic risk bila risikonya muncul karena faktor eksternal tersebut.

Faktor eksternal dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu faktor eksternal yang datang dari dalam negeri dan faktor eksternal dari luar negeri. Faktor eksternal ini seperti kebijakan pemerintah dan juga hukum permintaan serta penawaran atas harga barang-barang yang ditunjukkan inflasi dan juga valuta asing.

Salah satu faktor eksternal yang cukup dominan memengaruhi bursa adalah tingkat bunga. Tetapi, kebijakan pemerintah tentang utang juga bisa memengaruhi bursa. Penurunan bursa lain, baik bursa regional (yang terdekat) maupun bursa negara-negara maju, seperti New York dan London, juga memengaruhi harga saham. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa Bursa Efek Indonesia berkointegrasi dengan bursa-bursa tersebut.

Investor harus memerhatikan gejolak pasar di berbagai negara dan kebijakan yang diambil pemerintah maupun pemerintah negara-negara maju yang mengakibatkan harga saham mengalami perubahan. Sering kali faktor eksternal lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan faktor internal perusahaan.

KOMPAS

Sunday, May 16, 2010

I N V E S T A S I: Investasi Kreativitas

Minggu, 16 Mei 2010 | 03:59 WIB

ELvyn G Masassya, praktisi keuangan

Benar, sebagian kalangan beranggapan bahwa yang namanya investasi mesti bermodalkan uang. Tidak salah memang. Namun, sangat keliru jika investasi semata-mata menyangkut uang. Berapa pun dana yang dimiliki dan diinvestasikan, jika tidak diikuti dengan strategi dan kreativitas, dana tersebut bisa hilang. Di sisi lain, seseorang yang tidak memiliki uang bisa menghasilkan uang jika mampu melakukan investasi kreativitas.

Anda tentu pernah mendengar sebuah grup musik yang berhasil menjual ratusan ribu keping CD dan jutaan pengguna nada sambung pribadi atau ring back tone (RBT) memakai lagu mereka. Sejak itu, grup tersebut menjadi salah satu grup musik yang bukan saja terkenal, tetapi juga kaya raya. Kenapa bisa begitu? Karena mereka telah melakukan investasi kreativitas.

Contoh lain, Anda tentu juga mengetahui seorang penulis novel yang bukunya terjual ratusan ribu kopi dan bahkan buku tersebut dijadikan film. Dampaknya, sama seperti grup musik di atas, sang penulis buku menjadi sangat populer dan juga memperoleh pendapatan luar biasa. Ini juga karena yang bersangkutan melakukan investasi kreativitas.

Jadi, ini sekaligus membuktikan bahwa yang namanya investasi bukan sekadar dalam bentuk penanaman dana. Pertanyaannya, bagaimana melakukan investasi kreativitas sehingga ”imbal hasil” investasinya tidak berbeda jauh dengan investasi konvensional.

Ubah cara pandang

Pertama, mengubah penafsiran tentang investasi dan biaya. Bagi perusahaan, investasi dan biaya ini sangat jelas bedanya. Sebuah perusahaan yang hendak membangun pabrik, misalnya, akan menyebutkan pabrik tersebut sebagai investasi dan kemudian perusahaan memperlakukannya sebagai penanaman modal. Namun, jika perusahaan tersebut hanya akan menyewa pabrik, maka itu diperlakukan sebagai biaya.

Nah, dalam kaitan dengan investasi kreativitas, cukup banyak kalangan yang beranggapan bahwa pengeluaran uang untuk suatu kegiatan dianggap sebagai biaya. Misalnya, anak Anda menyukai musik, lalu minta dibelikan alat musik. Pernahkah Anda berpikir bahwa alat musik yang Anda belikan itu, jika dipergunakan secara baik, akan membuat anak Anda mahir bermusik dan kemudian suatu ketika bisa menjadi musisi terkenal?

Ketika itu terjadi, dana yang sudah Anda keluarkan untuk membeli alat-alat musik bukanlah biaya, melainkan semacam ”capital expenditure” yang menjadi bagian dari investasi kreativitas. Ringkasnya, untuk bisa memahami investasi kreativitas, ubah dulu cara pandang tentang biaya dan investasi itu sendiri.

Kedua, melakukan perencanaan investasi kreativitas. Coba cek potensi apa yang ada dalam diri Anda dan atau anak Anda yang selama ini sekadar dianggap sebagai hobi. Misalnya, Anda suka berkebun bunga, memodifikasi kendaraan bermotor, melukis, menulis, dan bernyanyi. Semua kesukaan tersebut jika dikelola dan direncanakan secara sistematis bisa menjadi investasi kreativitas yang muaranya adalah memberikan imbal hasil finansial.

Ambil contoh, kesukaan Anda adalah berkebun. Awalnya, Anda mungkin hanya ingin menanam berbagai jenis bunga untuk selanjutnya sekadar dinikmati keindahannya. Namun, untuk melakukan hal tersebut, Anda mesti meluangkan waktu, mulai dari mencari bibit, mencari pupuk, menyirami, hingga menggunting.

Semua kegiatan itu Anda lakukan karena ingin mendapatkan kesenangan dan kegembiraan. Namun, di sisi lain, Anda juga mengeluarkan dana yang mungkin jumlahnya cukup besar. Kalau Anda penggemar bunga anggrek, mungkin Anda akan mencari bibitnya di daerah tertentu atau malah ke luar negeri. Coba semua hal tersebut direncanakan dan dikelola bukan sebagai kesenangan, melainkan investasi kreativitas, hasilnya sangat mungkin tidak hanya kesenangan, tetapi juga manfaat finansial.

Bagaimana caranya? Untuk berkebun bunga, contohnya. Jika Anda penggemar bunga yang sangat fanatik semestinya menyukai berbagai jenis bunga. Bunga-bunga yang Anda sukai itu, jika ditanam dengan benar, dirawat dengan standar terbaik, suatu ketika hasilnya bisa dijual dan bahkan bisa menutupi seluruh pengeluaran Anda. Tentu saja, untuk bisa melakukan semua itu, Anda juga dituntut memahami seluk-beluk berkebun bunga, memasarkannya, dan memperlakukan kebun bunga Anda sebagai bisnis yang berbasis hobi.

Ketiga, membangun komunitas investor kreativitas. Artinya, Anda sebagai, apakah itu penggemar kebun bunga, pelukis, penggemar modifikasi mobil, dan atau penggemar apa pun, sebaiknya membangun jejaring di bidang yang sama. Kenapa? Melalui jejaring, kreativitas akan terus tertantang, akan memperoleh informasi baru, dan bahkan cara-cara baru dalam melakoni kreativitas.

Kreativitas dan bisnis

Muaranya, semua itu akan memudahkan Anda untuk mengonversi investasi kreativitas dimaksud menjadi suatu bisnis yang menyenangkan. Bahkan, kerap kali, transaksi bisnis bisa terjadi di antara anggota komunitas. Misalnya, Anda memiliki jenis bunga langka yang dicari banyak kalangan. Dengan mudah biaya yang telah Anda keluarkan untuk memperoleh bunga tersebut akan kembali ketika teman-teman Anda, para anggota komunitas, ramai-ramai membelinya dari Anda.

Intinya, investasi kreativitas bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan profesi apa saja, atau malah memfokuskan diri dalam aktivitas yang berdasarkan kreativitas sehingga disebut sebagai pekerja kreatif. Intinya, aktivitas yang berbasis kesenangan itu sebenarnya merupakan investasi, bukan sekadar pengeluaran biaya, jika dijalankan dengan cara yang benar. Investasi kreativitas juga merupakan salah satu cara menuju kebebasan finansial.

KOMPAS

Sunday, May 9, 2010

INVESTASI: Harga dan Volume Transaksi

Minggu, 9 Mei 2010 | 03:47 WIB

Oleh Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Dua minggu lalu telah dibahas mengenai pola harga saham yang dapat dipergunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan.

Pembahasannya tidak berkait dengan variabel lain atau volume transaksi saham tersebut. Tulisan kali ini akan mengaitkannya dengan volume transaksi.

Volume transaksi adalah jumlah saham yang ditransaksikan. Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan satu lot sebanyak 500 saham. Pembahasan pola harga saham dengan volume transaksi di BEI atau bursa mana pun, terlebih dahulu dibahas mengenai level pendukung (supporting level) dan level penahan (resistance level).

Level pendukung adalah level harga atau juga indeks yang menyatakan bahwa pada level tersebut akan banyak investor membeli saham. Artinya, volume pembelian sangat banyak sehingga harga saham tidak mungkin turun karena begitu besarnya investor yang akan membeli pada level harga tersebut. Adapun penentuan level tersebut disebabkan oleh adanya seni teknis yang dilakukan pada pola saham sehingga ditemukan level tersebut.

Bila level pendukung tersebut dapat dipecahkan, itu akan menuju level harga terendah untuk berikutnya. Kejadian ini sering terjadi karena harga saham yang telah mencapai level terendah akan terus menuju level terendah berikutnya dan akan berlanjut apabila tidak ada yang mendukung harga atau tidak adanya investor yang membuat pembelian yang cukup besar.

Seni teknis

Selanjutnya, level penahan, yaitu level harga atau juga indeks yang menyatakan bahwa harga saham akan sulit naik ke level harga tertinggi berikutnya dikarenakan banyaknya investor yang menjual pada harga tersebut. Penentuan level penahan ini juga seperti pada penentuan level pendukung, yaitu menggunakan seni teknis. Bila terjadi juga pembelian besar-besaran dan bisa menembus penjualan yang sangat besar, harga saham akan menuju level tertinggi berikutnya.

Level harga pendukung dan penahan tersebut ditentukan dengan berbagai cara dan seni yang dimiliki para analis teknis. Pendekatan paling sederhana dengan menghubungkan nilai terendah yang terdekat pada periode terakhir serta periode waktu sehingga ditemukan nilai level harga terendah. Demikian juga level harga penahan, yaitu menghubungkan dua level tertinggi dan menarik garis lurus serta waktu sehingga ditemukan level harga penahan. Informasi ini dipergunakan analis atau investor untuk melakukan pembelian dan penjualan saham.

Konsep harga level pendukung dan harga level penahan merupakan konsep pengembangan dari penawaran dan permintaan. Bila permintaan lebih besar dari penawaran, harga tersebut akan lebih tinggi. Harga saham tidak mungkin naik bila permintaan pada saham tersebut tidak mengalami kenaikan. Artinya, bila volume transaksi terus meningkat dan volume pembelian menuju harga yang lebih tinggi, harga terus meningkat. Artinya, harga saham yang terjadi telah dikaitkan dengan volume transaksi saham.

Harga saham yang meningkat dengan dukungan volume transaksi yang meningkat membuat harga tersebut akan tidak rapuh atau penurunannya tidak sedrastis pada harga saham lain. Bila harga saham meningkat dengan volume transaksi yang kecil, ada kemungkinan harga saham tersebut akan drop tajam, seperti kenaikan harga saham yang tidak didukung volume transaksi. Ada beberapa saham yang diperdagangkan di BEI mempunyai kecenderungan harga yang terus naik, tetapi tidak didukung volume transaksi yang besar pula.

Informasi

Investor melakukan transaksi dagang atau bermain saham di bursa, maka investor perlu mendapatkan data agar informasi yang dimiliki investor lengkap. Dengan demikian, pengambilan keputusan menggunakan dasar informasi tersebut. Informasi tersebut masih sangat sederhana, tetapi memberikan indikasi kepada investor untuk bertransaksi saham. Data ini bisa diperhatikan investor melalui order yang ditunjukkan pada komputer harga di broker. Bila investor sudah menggunakan data ini, investor juga sudah melakukan tindakan pengambilan keputusan yang sedikit lengkap.

Sebaiknya investor melakukan transaksi saham, baik membeli maupun menjual, dengan memerhatikan volume transaksi saham pada harga yang diinginkan. Bila harga saham mengalami kenaikan atau penurunan dengan volume transaksi yang kecil, sebaiknya investor menghindarinya. Bila investor mengikuti irama pemain saham tersebut, kemungkinan yang terjadi adalah investor mengalami kerugian dalam jangka pendek atau keuntungan dalam jangka panjang.

Selanjutnya, level pendukung bisa menjadi level penahan dan sebaliknya level penahan berubah menjadi level pendukung pada masa mendatang. Bila awalnya level pendukung harga yang terjadi dan terjadi tekanan jual sehingga memecahkan level harga pendukung menuju harga terendah berikutnya. Bila harga berbalik dari level terendah tersebut, level pendukung awal sebelumnya menjadi level penahan. Demikian juga bila awalnya level penahan dan dorongan pembelian sangat besar sehingga memecahkan level penahan menuju level harga tertinggi berikutnya. Harga saham kembali turun karena faktor lain, maka level penahan tersebut menjadi level pendukung karena harga saham sedang turun.

Investor juga harus hati-hati dalam membeli atau menjual saham dengan menggunakan analisis teknis ini. Investor ingin mendapatkan keuntungan, tetapi investor juga harus siap

rugi. Investor yang memiliki dana dan risiko tetap pada investor dan tulisan ini hanya menguraikan untuk membantu investor agar tidak mengalami kerugian yang tajam.

KOMPAS

Sunday, May 2, 2010

INVESTASI: Investasi Aktif

Minggu, 2 Mei 2010 | 02:55 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi Keuangan

Apa yang sebaiknya dilakukan seorang investor setelah menentukan investasi pilihannya? Ada beberapa pilihan. Misalnya, mendiamkan saja investasi tersebut dalam kurun waktu tertentu dengan harapan investasi yang sudah dilakukan akan memberikan imbal hasil yang tinggi. Contohnya, membeli tanah di sebuah lokasi. Beberapa tahun kemudian, harga tanah tersebut akan mengalami peningkatan.

Demikian juga ketika seseorang membeli saham, baik itu saham perusahaan secara langsung, maupun saham di pasar modal. Setelah dibeli, saham tersebut dibiarkan saja, kendati harganya naik ataupun turun. Baru setelah beberapa tahun kemudian, saham tersebut dijual, dengan ekspektasi harganya sudah meningkat. Ini disebut dengan investasi pasif.

Namun, dalam realitasnya, yang terjadi bisa bertolak belakang dengan harapan. Harga tanah yang sudah dibeli, misalnya, boleh jadi mengalami penurunan. Kenapa? Karena tanah tersebut akan digusur. Demikian juga dengan saham suatu perusahaan. Karena perusahaan tidak berprestasi, harga saham terus menurun. Dan, ketika pembiaran terjadi, ujung-ujungnya, harga saham tersebut malah semakin menurun. Oleh karena itu, untuk menghindari hal semacam itu, perlu dipertimbangkan investasi aktif.

Investasi aktif adalah investasi yang dikelola secara aktif oleh seorang investor terhadap seluruh portofolio investasi yang dimilikinya. Katakanlah investasi di pasar modal. Atau lebih spesifik lagi investasi di saham. Pembelian saham dimaksud, mestinya memiliki peruntukan dan jangka waktu investasi (time horizon) yang berbeda, yakni untuk yang berjangka menengah panjang dan jangka pendek. Jangka menengah panjang umumnya di atas 1 tahun, sedangkan jangka pendek adalah di bawah 1 tahun.

Setelah menentukan jumlah dana untuk setiap jangka waktu investasi, langkah berikutnya adalah memilih saham-saham dan tindakan yang akan dilakukan terhadap setiap saham tersebut. Mengenai pilihan saham, seorang investor aktif mesti menentukan sendiri sektor yang akan dimasuki sesuai dengan keyakinan. Dan, pilihan sektor ini bisa berbeda dengan kondisi pasar. Artinya, kalau di pasar, sektor yang memiliki kapitalisasi terbesar adalah sektor A, seorang investor aktif tidak mesti menempatkan dana terbesarnya di sektor A, tetapi bisa saja di sektor B, C, atau D. Dengan kata lain, pilihan sektor dapat berbeda dengan kebanyakan investor lainnya.

Dalam praktiknya, seorang investor aktif akan menempatkan dananya pada saham yang berbeda sektor, di mana pilihan sektor-sektor tersebut bersifat sangat individual.

Langkah berikutnya adalah menentukan pilihan saham pada setiap sektor. Dalam satu sektor biasanya terdiri atas beberapa emiten yang skala usahanya berbeda dan saling berkompetisi satu sama lain. Investor boleh memilih beberapa saham dalam sektor yang sama.

Risiko

Apakah ini tidak berisiko? Jelas ada risikonya. Kalau kondisi ekonomi tengah mengalami penurunan dan kemudian memukul sektor tersebut, sangat mungkin kinerja semua emiten di sektor itu akan terpengaruh. Tetapi, jika sektor tersebut berkembang, semua emiten yang ada di situ juga akan menghasilkan kinerja cemerlang. Selanjutnya, harga sahamnya meningkat.

Di sisi lain, bisa juga terjadi persaingan usaha antaremiten semakin ketat. Ada yang kinerjanya merosot, ada juga yang mencorong. Dus, kalau investor bersikap aktif, saham yang kinerjanya merosot bisa dilepas dan dana dipindahkan ke emiten yang lebih unggul. Tentu saja untuk bisa melakukan hal semacam ini, investor mesti memantau perkembangan kinerja dari emiten-emiten secara rutin dan melakukan reaksi secara cepat terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Langkah aktif lainnya adalah melakukan perdagangan saham secara harian atau mingguan. Hal ini khususnya terhadap investasi saham yang jangka waktu investasinya di bawah 1 tahun. Artinya, investor boleh melakukan jual beli saham setiap saat, bahkan setiap hari. Dengan kata lain, saham yang dibeli dipegang dalam kurun waktu 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, atau malah 1 hari saja. Inilah yang disebut dengan perdagangan saham aktif. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga keahlian. Investor mesti mengetahui kondisi fundamental dari masing-masing emiten. Lalu mempelajari karakteristik pasar dan perilaku investor lainnya. Investor juga mesti memiliki data pergerakan harga dari setiap saham yang akan dibeli dan atau dijual.

Hal yang dipaparkan di atas hanyalah sekelumit pengertian investasi aktif di pasar saham. Hal yang sama juga bisa dilakukan di investasi sektor riil. Dalam investasi tanah, misalnya. Seorang investor aktif akan melakukan riset terlebih dahulu tentang kemungkinan perkembangan di sekitar tanah dimaksud. Dan, setelah tanah dibeli, riset tetap dilakukan. Lalu, berdasarkan informasi yang diperoleh, seorang investor aktif bisa saja membeli lagi tanah lain di sekitar tanah yang sudah dibeli. Karena bisa saja muncul perkembangan yang akan terjadi di lokasi tersebut. Misalnya, akan ada pembangunan. Ini jelas akan mendongkrak harga. Sebelum pembangunan terjadi, seorang investor aktif akan mencuri start dengan menambah investasi tanah di sekitar lokasi dimaksud.

Simpulannya, bukanlah hal sulit untuk menjadi investor aktif. Persyaratannya hanyalah kemauan untuk meluangkan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja keberanian mengambil risiko. Tetapi, potensi keuntungan yang diperoleh lazimnya juga akan lebih besar ketimbang sekadar menjadi investor pasif.

KOMPAS

Sunday, April 25, 2010

Pola-pola Harga Saham

Minggu, 25 April 2010 | 04:27 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Dua minggu lalu telah dibahas mengenai pergerakan harga saham yang dibuat dalam bentuk chart (grafik). Berdasarkan grafik tersebut investor dapat mengambil keputusan untuk membeli atau menjual saham. Selanjutnya, investor akan bertanya, apakah hanya itu saja yang dapat digambarkan oleh pergerakan harga saham? Apakah tidak ada informasi lain yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan? Mengingat investor ingin membeli saham dan memperoleh keuntungan di masa mendatang.

Pola (pattern) pertama yang sering kita lihat bahwa harga saham tersebut mempunyai kecenderungan menurun dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada pola ini harga saham tersebut mengalami drop tajam sampai sekitar 20 persen sampai dengan 30 persen dari harga sebelumnya dan kemudian naik lagi sebesar 10 persen sampai 25 persen dari harga sebelumnya. Harga tersebut terus juga mengalami penurunan seperti uraian sebelumnya sehingga terjadi pola yang menurun dalam jangka waktu panjang maupun pendek.

Pola kedua yang juga ditunjukkan adalah harga saham tersebut berfluktuasi mengalami peningkatan dari harga sebelumnya sampai pada level tertentu, baik terjadi dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Kenaikan yang dilihat secara jangka panjang bukan menyatakan bahwa harga saham tersebut tidak mengalami penurunan. Penurunan terjadi juga.

Biasanya, manusia yang kegemukan juga tidak baik karena ada kemungkinan menimbulkan penyakit. Harga saham juga demikian. Bila terus mengalami kenaikan juga tidak bagus karena harga yang terjadi bukan karena harga wajar, melainkan terjadi harga yang menggelembung (buble). Investor yang belakangan membeli akan mengalami kerugian bila harga drop tajam dari harga yang dibeli investor pada saat harga ketinggian. Investor melakukan pembelian ketika harga naik dan menjualnya ketika harga berfluktuasi turun dan tindakan ini dilakukan berulang-ulang sehingga investor mengalami keuntungan.

Pola ketiga, harga saham tersebut berfluktuasi pada level harga tertentu dan tidak bergerak naik atau turun kepada level yang lain. Artinya, harga saham tersebut mengalami penurunan sedikit dan naik lagi pada posisi semula. Kemudian harga tersebut naik lagi sekitar 5 persen dan turun kembali pada posisi semula sehingga harga saham tersebut kelihatan stationer pada harga tertentu.

Investor yang smart bisa mengalami keuntungan pada pola harga ini. Investor melakukan pembelian pada level harga keseimbangan dan menjualnya pada saat naik 5 persen. Bila harga mempunyai kecenderungan turun, investor melakukan penjualan dan membeli kembali di harga lebih yang dilaksanakan pada satu hari. Artinya, pembelian dan penjualan dilakukan pada hari yang sama dan sering disebut dengan teknik netting dan dimungkinkan terjadi di sekuritas tempat investor bertransaksi. Kelihatannya bursa tutup mata akan hal ini.

Selanjutnya, investor juga bisa melihat pola jangka pendek, yaitu pola terjadi dua titik puncak. Harga saham tersebut mengalami kenaikan sampai pada level harga tertentu dan turun kembali pada level tertentu dan naik lagi sampai pada level tertinggi sebelumnya.

Artinya, pola harga terjadi pada dua puncak untuk periode yang pendek. Pola ini juga terjadi pada harga yang turun dengan dropnya harga atau juga turun secara perlahan sampai pada level tertentu dan naik pada level tertentu dan kembali turun sampai pada level terendah sebelumnya dan kembali naik terus sehingga terjadi dua level terendah yang sama posisinya.

Pada dua pola ini investor bisa mengambil keuntungan dengan melakukan tindakan transaksi dagang (trading) saham. Pola ini kerap dilakukan oleh investor yang masih muda karena fluktuasinya harga, sementara investor yang berumur tidak layak melakukan transaksi ini.

Pola sebelumnya menceritakan adanya dua level tertinggi dan terendah. Harga saham juga mempunyai kemungkinan tiga level tertinggi atau terendah, bahkan bisa sampai empat level. Investor bisa memanfaatkan level harga tersebut untuk mendapatkan keuntungan dan menikmati bermain saham.

Pola ”manusia”

Investor juga bisa melihat terjadi pola harga yang membentuk bukit kecil dan kemudian bukit besar dan bukit kecil. Pola ini sama seperti pola manusia bagian atas. Polanya membentuk bahu (shoulders) kemudian bentuk kepala (head) dan kemudian pola bahu. Pola ini dikenal dengan pola shoulders head shoulders (SHS) pada analisa teknis. Investor akan memperoleh keuntungan yang cukup besar bila bisa memahami pola harga saham ini.

Investor mulai membeli saham pada harga ketika shoulders sudah terjadi. Harga saham mengalami peningkatan dan kembali agak turun membentuk penurunan dan investor mengambil tindakan menjual saham. Jika harga saham tersebut sudah mencapai level harga yang terendah pada pola bahu sebelum pola kepala terjadi, investor kembali membeli dan naik sedikit investor melakukan tindakan jual sehingga investor mengalami keuntungan.

Harga saham juga bisa membentuk seperti kuali penggorengan yang tidak begitu tinggi. Pola ini dikenal dengan saucers bisa terbuka ke atas atau terbuka ke bawah. Bila saucers terbuka ke atas, posisi harga mengalami penurunan dan kemudian naik. Investor harus membeli ketika sudah terendah dan kelihatannya cenderung naik sehingga investor mengalami keuntungan. Bila saucers terbuka ke bawah, sama seperti kuali ditelungkupkan sehingga harga cenderung naik dan turun kembali. Investor harus membeli ketika harga naik dan menjualnya ketika harga masih posisi melandai atau mengalami penurunan.

Adanya pemahaman pola harga dalam jangka pendek maupun jangka panjang membuat investor bisa mengambil keputusan pada pola harga saham tersebut. Investor tidak bisa meninggalkan begitu saja saham yang dibeli dan tidak dipantau secara saksama. Investor harus mempunyai waktu yang cukup bila menggunakan pola harga saham yang diuraikan sebelumnya. Risiko juga pasti dijumpai investor ketika melakukan transaksi saham pada berbagai pola yang diuraikan. Tetapi, kehati-hatian investor sangat dibutuhkan agar terjadi keuntungan. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

Sunday, April 18, 2010

I N V E STAS I: Berusaha dalam Musik

Minggu, 18 April 2010 | 04:22 WIB

Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Jika Anda termasuk penggemar musik dan kerap membeli CD atau kaset atau pengguna RBT, boleh jadi Anda sering kebingungan menghafal nama-nama penyanyi atau grup band baru. Sejak beberapa tahun belakangan, industri musik Indonesia kebanjiran artis baru. Hampir setiap hari ada CD atau kaset yang beredar.

Industri musik telah membius banyak kaum muda sebagai wilayah profesi yang menjanjikan.

Seiring dengan perkembangan musik yang demikian dahsyat, bermunculan pula berbagai perusahaan rekaman indie.

Pertanyaannya, apakah perusahaan semacam itu bisa sukses? Apakah menanamkan dana dalam industri musik bisa dianggap sebagai investasi?

Industri musik pada dasarnya bisa dikategorikan menjadi dua area besar, yakni industri musik panggung dan industri musik rekaman. Untuk industri musik panggung, artis penyanyi mendapatkan kontrak untuk show. Dalam hal ini, yang mendapatkan kontrak bisa hanya si artis, bisa juga berikut band pengiring. Dan dewasa ini sudah cukup banyak kalangan yang menjalankan bisnis entertainment semacam ini, mulai dari menjadi agen artis atau sekaligus menyediakan segala sesuatu yang menyangkut industri musik panggung.

Untuk industri rekaman, prosesnya relatif lebih panjang. Seorang artis penyanyi yang akan membuat album rekaman harus menyiapkan lagu yang akan dinyanyikan. Untuk itu, produser sang artis mesti membeli lagu dari pencipta lagu. Kemudian, lagu yang terpilih mesti dibuatkan aransemen oleh penata musik. Bisa saja seluruh lagu diaransemen oleh penata musik yang sama, tetapi bisa juga satu lagu untuk satu penata musik.

Penata musik

Untuk mengaransemen lagu, penata musik membutuhkan pemain gitar, bas, keyboards, drum, dan lainnya. Ini tentu ada biayanya. Proses pembuatan aransemen lagu dilakukan di studio rekaman. Keseluruhan proses produksi album tersebut tentu memakan biaya dan waktu yang cukup panjang. Setelah lagu selesai diaransemen dan dinyanyikan, masih ada proses mixing dan mastering, yakni semacam sentuhan akhir agar musik bisa terdengar lebih halus, bersih, dan sesuai dengan karakter lagu. Semua proses tersebut disebut dengan pembuatan master rekaman.

Pada tahap berikutnya, produser mesti melakukan duplikasi atau memperbanyak rekaman itu menjadi CD dan kaset yang siap edar. Agar CD tersebut menarik perhatian, tentu mesti didesain, baik untuk informasi maupun penciptaan daya tarik visual bagi yang melihat CD tersebut. Setelah itu, barulah CD dicetak dan siap untuk didistribusikan.

Apakah ada jaminan bahwa CD tersebut akan laku di pasar? Sama sekali tidak ada. Kendati musik merupakan kebutuhan bagi semua orang, tapi kadar kebutuhannya bisa berbeda. Ada yang sekadar mendengar musik dari radio atau televisi, tetapi ada juga yang ingin memiliki CD/kaset dari penyanyi. Oleh karena itu, CD dan kaset dari penyanyi baru mesti dipromosikan agar dikenal oleh masyarakat.

Promosi bisa menggunakan jalur radio, televisi, surat kabar, majalah, dan pertunjukan dari si artis. Dalam praktiknya, biaya yang dikeluarkan produser untuk promosi bisa lebih besar ketimbang biaya pembuatan master rekaman.

Jadi, seorang produser musik rekaman mesti melakukan investasi untuk membayar artis, membayar pencipta lagu, membayar penata musik, menyewa studio rekaman, membayar biaya mixing dan mastering, membiayai proses reproduksi atau duplikasi dari CD dan kaset, serta menanggung biaya promosi artis.

Kembalinya investasi

Bagaimana investasi tersebut bisa kembali? Ada tiga sumber. Pertama, dari hasil penjualan CD/kaset. Pada masa lalu ada penyanyi yang CD atau kasetnya laku sampai jutaan keping. Tetapi, dewasa ini sangat sulit untuk bisa menjual CD/kaset sampai jutaan keping. Bisa laku ratusan ribu atau malah puluhan ribu saja sudah sangat hebat. Kenapa demikian? Karena saat ini banyak sekali artis bermunculan sehingga di antara mereka terjadi persaingan yang ketat. Lebih dari itu, lagu-lagu si artis diputar di berbagai radio sehingga para penikmat musik lebih suka mendengarkan lewat radio dan belum tentu mau membeli CD/kaset dari si artis.

Kedua, ring back tone (RBT). Inilah alternatif baru dalam industri musik yang berkembang pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Para pengguna telepon mengunduh lagu yang disukainya dan menjadikannya sebagai nada sambung pribadi.

Sebuah lagu yang disukai bisa diunduh oleh jutaan pengguna telepon seluler. Dan pendapatan yang diperoleh seorang produser serta artis dari bisnis RBT ini bisa jauh lebih tinggi dibandingkan hasil penjualan CD.

Ketiga, pertunjukan. Ketika artis mulai beranjak populer, biasanya akan ada permintaan untuk show yang dilakukan di daerah-daerah. Untuk show tersebut artis dan produser selaku manajemen pengelola artis akan memperoleh pendapatan. Bayangkan, jika dalam sebulan ada empat kali penampilan, dan honor sekali tampil adalah Rp 10 juta, maka akan diperoleh Rp 40 juta. Apalagi, jika sekali tampil dibayar sebesar Rp 30 juta-Rp 40 juta, maka perolehan honor show bisa di atas pendapatan hasil penjualan CD.

Apakah semua artis dan produser bisa meraup pendapatan sebagaimana dipaparkan di atas? Jelas tidak. Dalam realitasnya, bisa disebut, artis dan produser yang sukses dalam industri musik rekaman hanya 10 persen dari total pelaku. Kenapa demikian? Karena yang namanya seni musik sangat bergantung pada selera pasar. Album rekaman dan artis yang akan sukses adalah yang mampu memenuhi selera pasar.

KOMPAS

Saturday, April 17, 2010

PROFIL USAHA: Maju dengan Sekolah Bloger

Sabtu, 17 April 2010 | 03:45 WIB


Stefanus Osa Triyatna

Mungkin agak aneh terdengar, kalau bikin blog mesti ada sekolahnya. Akan tetapi, itulah bisnis blog yang dijadikan peluang oleh Asri Tadda, pemuda Luwu Timur, Sulawesi Selatan, untuk membangun semangat kewirausahaan mandiri tanpa harus memiliki kantor.

Kegetolan Asri Tadda (29) mampir di warung internet telah mengubah kehidupannya, bahkan mengubah arah cita-cita sebagai dokter sebagaimana diharapkan orangtuanya. Padahal, ke warung internet (warnet) itu dilakukan di sela-sela kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Alasan sulitnya membiayai kuliah membuat pemuda kelahiran Pabeta, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu memulai bisnis online sejak awal tahun 2007. Asri menekuni aktivitas online sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2005.

Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief ini, kegemarannya mampir di warnet bikin kesal keluarganya. Karena menekuni bisnis online, kuliahnya sempat tersendat-sendat. Namun, beginilah cara Asri membiayai kuliahnya.
Maklum, Asri mengaku hanyalah seorang pengelola petak pertambakan air asin dan penggiling gabah. Itulah modal untuk membiayai kuliahnya.

Padahal, di warnet itulah Asri menghabiskan waktunya membaca kisah-kisah sukses pengusaha besar. Sampai-sampai, dirinya tertarik untuk bisa berwirausaha. Syukur-syukur bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

”Dari membaca-baca, terutama informasi masalah sosial, saya menulis berbagai opini di surat kabar lokal,” kata Asri.

Awal tahun 2007 Asri mengenal bisnis blogging melalui program blog advertising. Perkenalannya dengan dunia blog dimulai dari aktivitas untuk menulis dan memublikasikan artikel, puisi, dan tulisan curahan hati alias curhat secara online pada media hosting blog gratis.

Karena rajin mencari informasi seputar bagaimana cara menghasilkan uang dari internet, akhirnya Asri menemukan titik terang dalam bisnis online hingga saat ini.

Asri mengakui, hambatan terbesarnya adalah keterampilan. Dia sama sekali tidak punya dasar pengetahuan tentang internet dan website sehingga awal perjalanan bisnis online-nya sangat lambat. Semua prosesnya otodidak.

”Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing,” kata Asri.

Hingga saat ini dia memiliki sekitar 200 blog dengan berbagai tema dan semuanya disajikan dalam bahasa Inggris. Meskipun sibuk, Asri menyempatkan diri meng-update blog-blog tersebut. Bahkan, dia punya target membuat 2-3 blog baru setiap bulan. Semua ini sebenarnya menjadi investasi bisnis online ke depan.

Bisnis serius

Sejak April 2009, Asri bersama rekan-rekannya di AstaMedia Group meluncurkan AstaMedia Blogging School pada bulan Maret 2009 di Makassar. Namun, sekolah itu baru diluncurkan secara resmi ke publik pada 16 Mei 2009.

Tujuannya adalah berbagi peluang mendapatkan penghasilan dan membuka lapangan pekerjaan alternatif, khususnya bagi generasi muda. Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu Blogging Basic untuk para pemula, Blogging Pro untuk mereka yang sudah fokus mengelola dan mengoptimalkan blog sebagai sumber penghasilan, dan Blogging for Professionals untuk mereka yang memiliki profesi tertentu, tetapi sangat ingin belajar blogging.

Asri menjamin, dalam masa maksimal tiga bulan setelah proses pendidikan dan pelatihan selesai, para siswa yang sudah lulus di Blogging Pro akan memiliki penghasilan dari blog-blog mereka. Apalagi, tenaga pengajarnya adalah para bloger senior yang sudah malang melintang dalam dunia blog advertising dan menghasilkan banyak uang dari blogging sehingga secara tidak langsung juga turut menumbuhkan motivasi bagi para siswa.

Target utama Blogging School ini adalah kalangan generasi muda. Namun, dirinya tidak menutup diri jika ada kalangan masyarakat umum. Saat ini ada sekitar 100 siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. 

Sebagian besar di antara mereka kini sudah berpenghasilan di atas 250 dollar AS atau Rp 2 juta per bulan.
”Memang, mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini adalah tantangan kami di AstaMedia Blogging School,” kata Asri, yang pernah juara kedua Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tingkat nasional tahun 2008.

Dapat dikenal

Pengetahuan blogging diharapkan dapat dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia dan menjadi lapangan kerja alternatif yang minim modal, tetapi dengan potensi yang sangat besar.

Asri mengakui, ada beberapa orang yang menyangsikan bisnisnya karena ilmu blogging sesungguhnya sudah sangat berlimpah di internet. Hanya saja, tidak semua orang bisa belajar tanpa pendampingan. Buktinya, tingkat kesuksesan AstaMedia Blogging School kini mencapai 85 persen. Artinya, hanya sekitar satu orang dari setiap kelas yang menemui hambatan berarti dalam mencapai penghasilan online.

Saat ini Asri mengatakan sudah menghasilkan 12 angkatan alumni Blogging Pro dan 20 angkatan tingkat dasar. Siswa di AstaMedia Blogging School memang diberikan jaminan, dalam masa maksimal tiga bulan akan mendapatkan penghasilan online dari blog. Hal ini sudah dibuktikan pada semua angkatan alumni.
Bahkan, sebagian besar dari siswa sudah menghasilkan uang dari blog mereka pada akhir bulan pertama masa belajar atau malah ketika sedang mengikuti pelajaran kelas.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, April 11, 2010

Analisis Teknis Awal di Bursa Saham

Minggu, 11 April 2010 | 04:04 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Apakah analisis teknis saham itu?

Bagaimana menggunakannya? Analisis teknis merupakan sebuah pendekatan untuk menilai (membeli atau menjual) saham di bursa tanpa menggunakan perhitungan matematis atau prospek perusahaan pada masa mendatang. Para pemain saham di bursa menggunakan pendekatan ini karena dianggap lebih sederhana daripada pendekatan lainnya.

Semua investor telah memahami bahwa informasi yang dimiliki perusahaan akan terefleksi pada harga saham. Harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan refleksi informasi yang ada pada perusahaan. Bila harga saham mengalami peningkatan, investor yang membeli saham memperoleh informasi yang cukup bagus mengenai perusahaan terebut. Sebaliknya, bila harga saham perusahaan di bursa menurun, informasi yang buruk dalam perusahaan sedang beredar dan sudah diterima investor. Adanya informasi perusahaan yang beredar bagi para investor atau di pasar membuat jumlah permintaan dan penawaran terhadap saham mengalami fluktuasi.

Teori Dow

Pendekatan ini dimulai oleh Charles Dow dan selanjutnya terkenal dengan teori Dow dan juga pendiri The Wall Street Journal. Dow membuat gambar (chart) atas semua harga saham tersebut dengan waktu yang panjang maka pengikut pendekatan ini dikenal sebagai Chartist Analyst.

Harga saham di bursa bisa pada satu hari hanya tiga jenis, yaitu harga penutupan, harga terendah, dan harga tertinggi. Harga penutupan adalah harga saham yang transaksinya terjadi terakhir sekali dan biasanya pada penutupan pasar. Transaksi saham di bursa ditutup pada pukul 16.00. Saham yang mempunyai transaksi jual-beli sampai pukul 16.00 disebutkan harga penutupannya merupakan harga tersebut. Bila investor melihat surat kabar esok harinya, disebut harga transaksi terakhir dan menjadi harga penutupan.

Ada tiga premis dalam pendekatan teknis ini, yaitu, pertama, tindakan pasar selalu mendiskon harga atas informasi. Artinya, informasi yang masuk kepada investor melalui publik ekspose perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa selalu didiskon investor untuk saham tersebut. Misalkan, investor mendapatkan informasi dari perusahaan dan dari berbagai pihak dengan harga Rp 12.000 per saham maka investor tidak langsung menerima harga tersebut, tetapi akan menurunkan/mendiskon harga tersebut.

Kedua, harga-harga saham di bursa mempunyai arah atau kecenderungan, baik jangka pendek dan jangka panjang. Kecenderungan harga saham bisa saja naik atau turun. Umumnya, kecenderungan ini dibutuhkan investor agar bisa mengambil keputusan untuk membeli atau menjual atau menahan saham yang dimiliki atau akan dimiliki.

Ketiga, pola harga saham yang terjadi tersebut akan berulang kembali pada masa mendatang. Artinya, pola harga yang terjadi pada masa lalu akan berulang kembali. Bila pola harga tersebut terulang, investor dapat mengambil kebijakan untuk membeli atau menjual atau menahan saham yang akan dimiliki.

Grafik pergerakan

Grafik ketiga harga ini dibuat untuk periode jangka panjang. Grafik akan menunjukkan pergerakan harga. Bila sekaligus tiga harga digrafikkan dan dibuat dalam jangka panjang, ada sedikit kebingungan. Kemudian, analis chart hanya menggunakan harga penutupan. Gambar harga saham yang dibuat dalam jangka panjang memperlihatkan pergerakan harga tersebut. Gambar tersebut membuat sumbu datar (horizontal) adalah waktu dan sumbu vertikalnya harga saham.

Grafik harga saham ini dibuat secara harian dengan jangka panjang, tetapi harga masa lalu bukan harga pada masa mendatang karena harga masa mendatang tidak diketahui. Grafik harga saham tersebut bisa mendatar karena harga tidak bergerak atau tidak berubah. Harga bisa juga naik terus dan kemudian menurun sehingga membuat sebuah perbukitan dan berulang lagi membuat perbukitan yang sangat besar.

Bahkan, juga harga tersebut bisa membuat lembah yang dalam karena harga turun terus dan naik kemudian. Charles Dow membuat grafik ini dan memberikan pandangannya sehingga grafik tersebut mempunyai arti dan memberikan masukan kepada investor untuk membeli atau menjual saham.

Bila grafik harga dilihat dalam jangka panjang, misalnya bulanan dan tahunan, investor melihat kecenderungan harga yang sangat mendasar. Artinya, ke arah mana sebenarnya harga saham tersebut bergerak. Bahkan, sejumlah pihak akademik mencoba membuat siklus arah pergerakan harga saham. Untuk kasus Indonesia, harga saham yang ditunjukkan indeks sedang pada siklus keempat pada posisi kenaikan.

Pergerakan harga dengan jangka panjang ini berguna untuk melihat gambaran harga saham secara keseluruhan.

Pergerakan harga jangka panjang ini dipergunakan investor untuk mengetahui apakah situasi masa lalu akan terulang kembali. Bila terulang kembali, investor bisa mengambil keputusan dalam rangka membeli atau menjual saham yang dimiliki atau akan dimiliki investor.

Bila pergerakan harga mingguan dan bulanan dibuat pembuat analisis, analisis dikenal dengan kecenderungan jangka menengah. Akhirnya, pergerakan harga harian dikenal dengan kecenderungan dengan minor (minor trend). Pergerakan harian disebut dengan kecenderungan minor karena sangat jangka pendek dan belum dapat secara signifikan dipergunakan secepatnya untuk membeli atau menjual saham walaupun ada yang menggunakannya untuk transaksi harian.

Grafik harga dipergunakan investor untuk membeli dan menjual saham yang akan dimiliki. Investor harus hati-hati menggunakan analisis teknis ini karena kesalahan akan merugikan investor.

KOMPAS

Sunday, April 4, 2010

Investasi: Alokasi Aset Investasi

Minggu, 4 April 2010 | 03:42 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang sukses ataupun gagal dalam berinvestasi. Salah satu faktor yang paling menentukan adalah strategi ataupun cara mengalokasikan aset investasi.

Umpamakan Anda memiliki dana Rp 1 miliar. Dan teman Anda juga memiliki dana dalam jumlah yang sama. Lalu Anda berdua sama-sama melakukan investasi. Bisa dipastikan, hasil investasi tersebut akan berbeda.

Katakanlah, Anda dan teman Anda sama-sama melakukan diversifikasi alias ”tidak menempatkan semua telur dalam satu keranjang”. Artinya, dana Rp 1 miliar itu dibelikan saham, obligasi, reksa dana, tanah, dan mungkin emas. Lantas, apakah hasilnya akan sama? Tidak, karena saham yang dibeli mungkin berbeda.

Atau kalaupun membeli saham yang sama, tetapi jangka waktu investasi pada saham itu tidak sama. Anda hanya 6 bulan, sedangkan teman Anda mungkin 1 tahun. Konkretnya, kendati pilihan instrumen sama, tetapi jika jangka waktu investasi berbeda, hasilnya bisa berbeda pula.

Oleh karena itu, diversifikasi saja belumlah cukup untuk bisa meraih sukses dalam berinvestasi. Lebih dari itu, diversifikasi harus diikuti dengan perhitungan mengenai berapa besar alokasi dana pada setiap instrumen investasi. Inilah yang mungkin membedakan Anda dengan teman Anda.

Selain itu, alokasi tersebut juga mesti diikuti dengan time horizon investasi yang jelas, yakni apakah untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Kemudian, dalam alokasi aset tersebut, yang nantinya disebut sebagai portfolio investasi, Anda mesti memutuskan apakah akan menggunakan pendekatan investasi aktif ataukah investasi pasif.

Alokasi aset

Alokasi aset pada hakikatnya adalah investasi dengan melakukan klasifikasi yang berbeda untuk tiap jenis aset. Klasifikasi itu terdiri atas jenis investasi, jumlah, risiko, potensi keuntungan, jangka waktu, dan juga cara mengelola investasi itu sendiri.

Ada investasi dalam bentuk produk riil atau di sektor riil dan investasi dalam bentuk ”kertas berharga” yang diperdagangkan di pasar modal. Dalam hal ini, termasuk tetapi tidak terbatas, pada saham, obligasi, reksa dana, indeks, dan sebagainya.

Pilihan Anda terhadap alokasi aset investasi tersebut tentunya mesti disesuaikan dengan tujuan investasi itu sendiri. Pada umumnya, para investor menginginkan return yang besar dari setiap jenis investasi yang dilakukan. Dan kalau bisa return yang tinggi tersebut diraih dalam jangka pendek. Namun, ada juga yang menginginkan hasil stabil dalam kurun waktu yang panjang. Dus, tujuan investasi yang berbeda akan menghasilkan strategi alokasi investasi yang berbeda.

Setelah Anda memastikan tujuan investasi, barulah kemudian memilah alokasi aset investasi yang relevan dan sekaligus memperhitungkan ekspektasi imbal hasil serta risiko yang terkandung di dalam jenis investasi dimaksud. Katakanlah, Anda memilah aset investasi menjadi 50 persen di sektor riil dan 50 persen di pasar modal. Untuk yang di sektor riil, Anda pilah lagi menjadi properti, tanah, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Anda juga sekaligus memastikan berapa tahun investasi di sektor riil tersebut akan Anda pegang.

Sementara, yang 50 persen lagi dialokasikan untuk saham, obligasi, dan reksa dana. Jumlah pada setiap instrumen investasi itu tentu bergantung juga pada risk taking capacity yang melekat pada diri Anda. Jika Anda termasuk risk taker dan berorientasi jangka pendek menengah, tentu saham bisa menjadi pilihan yang terbesar. Selanjutnya reksa dana saham dan baru obligasi.

Diversifikasi

Ketika Anda mengalokasikan dana untuk investasi di saham, maka saham jenis apa yang Anda beli? Di sektor mana? Suka tidak suka, Anda harus juga melakukan diversifikasi lebih lanjut. Pertama, bagi dana saham Anda pada beberapa sektor ekonomi. Lalu, saham untuk papan atas yang berfundamen bagus dalam jangka menengah untuk kepastian dividen dan saham pada lapis kedua yang menjanjikan potensi capital gain.

Kedua, pilah reksa dana yang Anda beli dalam beberapa jenis, yakni reksa dana saham, reksa dana obligasi, dan reksa dana campuran. Ketiga, Anda dapat juga membeli obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah, dengan risiko sangat rendah.

Setelah Anda mengalokasikan dana pada setiap jenis investasi tersebut, maka berikutnya adalah, apakah Anda akan melakukan investasi secara pasif atau aktif. Kalau investasi pasif, nasib investasi Anda akan bergantung sepenuhnya pada pergerakan pasar. Untuk saham, misalnya, jika saham yang mengalami pergerakan harga dan kemudian Anda melepasnya, maka Anda akan mendulang keuntungan.

Demikian juga dengan reksa dana saham, yang jika indeks meningkat maka nilai asset value (NAV) dari reksa dana tersebut juga meningkat. Namun, jika harga saham jatuh, investasi Anda juga akan jatuh. Pendeknya, semua bergantung pada pergerakan pasar dengan konsep paling dasar, yakni, buy low sell high.

Namun, jika Anda memiliki nyali dan juga kemampuan investasi yang memadai, Anda bisa juga memilih strategi investasi aktif. Artinya, keberhasilan dan ataupun kegagalan investasi Anda tidak sepenuhnya bergantung pasar, tetapi lebih kepada diri Anda dalam mengambil inisiatif, terlepas bagaimanapun kondisi pasar.

Misalnya, ketika harga saham berjatuhan dan mungkin termasuk saham yang Anda miliki, maka tindakan Anda bukanlah menjual saham itu, melainkan kembali membeli, bahkan dalam jumlah lebih besar. Atau Anda membeli saham lapis kedua, yang Anda yakini memiliki potensi besar untuk bergerak, kendati investor lain kurang berminat. Hal sama juga berlaku untuk reksa dana dan obligasi. Anda aktif melakukan perdagangan dan pertukaran jenis instrumen investasi yang Anda yakini memiliki potensi capital gain dalam horizon investasi Anda.

KOMPAS

Sunday, March 28, 2010

INVESTASI: Apakah MTN?

Minggu, 28 Maret 2010 | 04:05 WIB

Adler Haymans Manurung
Praktisi Keuangan

Baru-baru ini ada pertanyaan soal produk baru instrumen investasi yang periodenya lebih pendek dari obligasi. Produk tersebut dikenal dengan Medium Term Notes (MTN) dan banyak diterbitkan perusahaan. Pertanyaannya, bagaimana investasi pada produk ini, apa risikonya, di mana bisa mendapatkan produk ini, serta bagaimana pula perpajakannya?

MTN adalah surat utang yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dalam rangka kebutuhan dana untuk membiayai investasi perusahaan agar bisa bertumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Surat utang ini mempunyai umur kurang dari lima tahun dan lebih lama dari satu tahun. Bila surat utangnya kurang dan sama dengan satu tahun tidak disebut dengan MTN, tetapi produk surat utang untuk jangka pendek yang dikenal surat utang pasar uang.

Surat utang ini mempunyai kupon atau bunga yang dibayarkan sesuai dengan kesepakatan, bisa dua kali setahun, empat kali setahun, atau sekali setahun. Kupon surat utang ini bisa dua macam, yaitu kupon tetap dan kupon mengambang. Bila kupon tetap, maka investor akan memperoleh kupon tetap selama periode surat utang tersebut. Jika surat utang ini memiliki kupon mengambang, maka ada patokan yang dipergunakan untuk menentukan kuponnya dan ditambahkan premium untuk menarik investor, misalnya patokannya rata-rata tingkat bunga deposito enam bulan bank yang dimiliki pemerintah, seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI dan ditambahkan premium 7 persen.

Bila rata-rata tingkat bunga deposito enam bulan untuk ketiga bank tersebut 6,5 persen, maka kupon yang diberikan surat utang ini sebesar 13,5 persen. Biasanya kupon tersebut ditentukan sekali enam bulan agar perubahan tingkat bunga yang terjadi bisa didapati surat utang ini. Namun, surat utang ini lebih dominan diterbitkan dengan tingkat bunga tetap untuk kepastian perencanaan keuangan perusahaan dan juga pemanis bagi investor agar menariknya surat utang ini.

Jangka pendek

Surat utang ini diterbitkan perusahaan, disesuaikan dengan investasi perusahaan yang umumnya jangka pendek dan menengah, seperti periode surat utang ini yang diuraikan sebelumnya. Produk ini sengaja diterbitkan perusahaan atau merupakan terobosan para perusahaan investment banking (di Indonesia dikenal dengan sekuritas) untuk mendapatkan produk investasi yang periodenya lebih kecil dari obligasi. Pada sisi lain, produk ini dibuat untuk mencocokkan kebutuhan perusahaan dan keinginan investor.

Produk ini diterbitkan perusahaan dengan cepat, dengan bantuan perusahaan sekuritas tersebut, tidak seperti obligasi yang harus melalui penawaran yang sangat ketat dengan regulasi Bapepam. Keketatan regulasi Bapepam atas obligasi dikarenakan penghimpunan dana publik. Adapun MTN bisa diterbitkan besarannya cukup kecil mulai dari Rp 5 miliar hingga ratusan miliar. MTN sering kali tidak membutuhkan peringkat dari Perusahaan Pemeringkat Efek di Indonesia, tetapi MTN yang beredar belakangan ini sudah mulai mempunyai peringkat karena investor mensyaratkan adanya peringkat tersebut. MTN hanya bisa ditawarkan kepada pihak tertentu yang totalnya kurang dari 50 pihak. Bila pembeli MTN melebihi 50 orang, maka harus melalui proses penawaran umum di Bapepam sehingga penawaran MTN tidak seperti obligasi. Dan umumnya peminat MTN ini sudah ada dan langsung diterbitkan.

Investor yang ingin melakukan investasi pada produk ini harus memerhatikan periode dari MTN karena periodenya belum cocok untuk investor. Likuiditas produk ini tidak seperti obligasi yang mempunyai likuiditas sudah terjamin dikarenakan adanya proses penerbitan melalui Bapepam. Kupon yang diberikan MTN juga harus diperhatikan oleh investor agar sesuai dengan keinginan dan ekspektasi investor. Penerbit MTN juga harus menjadi perhatian, di mana investor harus melakukan investigasi agar mendapatkan informasi yang lengkap mengenai penerbit obligasi. Manajemen perusahaan penerbit MTN sangat penting dikarenakan manajemen tersebut yang memutuskan menerbitkannya serta mau membayar bunga dan prinsipalnya. Investor sebaiknya bisa mendapatkan investor lain yang melakukan investasi pada MTN. Bila investor mengetahui investor lain dan biasa melakukan investasi, maka investor mempunyai pandangan sedikit lebih baik karena investor yang lain kemungkinan sudah menghitung risikonya.

Risiko

Investor dalam membeli surat utang mempunyai berbagai macam risiko yang harus dipahami. Risiko utama yang dihadapi dan paling penting adalah tidak mampu bayarnya penerbit surat utang. Ketidakmampuan penerbit surat utang sebaiknya harus bisa dideteksi investor lebih awal, baik pada saat membeli atau sudah berjalannya waktu. Sebaiknya investor meminta penerbit mempunyai pihak lain untuk membeli surat utang agar investor bisa terhindar dari persoalan yang dihadapi, sekaligus membuat surat utang ini menjadi likuid.

Risiko kedua yang harus dihadapi investor adalah risiko tingkat bunga. Artinya, bila tingkat bunga mengalami kenaikan, maka investor kehilangan kesempatan memperoleh kupon yang lebih besar. Akan tetapi, tingkat bunga yang turun tidak menjadi persoalan pada MTN. Bahkan, adanya kenaikan atau penurunan tingkat bunga bukan menjadi persoalan bagi investor bila tingkat bunga yang diperoleh tetap dan premium sangat tinggi. Selanjutnya, risiko daya beli menjadi salah satu risiko yang melekat pada produk ini. Pada saat jatuh dana yang diinvestasikan belum tentu kemampuan daya belinya sama dengan ketika dana pertama kali diinvestasikan pada produk tersebut.

Perpajakan atas produk ini tergantung dari pembeli MTN. Bila perorangan yang membeli MTN akan dikenai tarif umum. Artinya, investor yang memperoleh kupon akan dikenai pajak 20 persen dan kemudian pada akhir periode pelaporan SPT, maka investor akan dikenai sesuai tarif pajak investor perorangan. Untuk lebih jelasnya, investor bisa bertanya kepada pihak pajak. Jika bank yang membeli MTN, bunga MTN tidak dikenai pajak, tetapi pada akhir tahun dikenai pajak sesuai pajak perusahaan untuk pendapatan perusahaan. Bila reksa dana membeli MTN, perlakuannya sama seperti pengenaan pajak kupon obligasi. Sungguh menarik karena memberikan keuntungan bagi investor.

Adanya perlakuan pajak atas MTN seperti obligasi, Bapepam perlu membuat regulasi yang seimbang antara obligasi dan MTN. Proses MTN sangat pendek, sedangkan obligasi sangat panjang. Akibatnya, MTN merasa diuntungkan dan berlomba menerbitkan MTN walaupun ada sisi negatifnya. Oleh karena itu, produk investasi ini bisa menarik berbagai investor untuk berinvestasi pada reksa dana karena adanya keuntungan pajak tersebut. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

Sunday, March 21, 2010

INVESTASI: Tabungan Berjangka

Minggu, 21 Maret 2010 | 03:45 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Apakah Anda sering merasa cemburu dengan teman sekantor yang notabene bergaji tidak jauh beda dengan Anda, tetapi kehidupan finansialnya jauh lebih? Ya, teman sekantor ataupun tetangga sebelah rumah bisa memiliki kondisi keuangan yang lebih bagus dari Anda dan Anda lantas mencurigainya.

Anda berprasangka, teman atau tetangga Anda melakukan korupsi, menerima suap, atau mungkin memelihara tuyul sehingga bisa lebih kaya daripada Anda. Lebih mengerikan lagi, karena memikirkan kehidupan mereka yang lebih baik dan hati Anda tidak bisa menerima semua realitas itu, Anda mulai menyebar gosip, fitnah yang pada akhirnya malah akan membuat Anda lebih tertekan. Bisa-bisa stres, migrain, dan masuk rumah sakit.

Padahal, keberhasilan teman kantor atau tetangga Anda menjadi lebih makmur bukan karena melakukan korupsi, menerima suap, apalagi memelihara tuyul. Keberhasilan mereka lebih karena perilaku cerdas dalam mengelola uang. Boleh jadi mereka melakukan investasi secara berkala, meredam hasrat konsumtif, berhemat, dan mengelola uang berdasarkan rasionalitas.

Sementara Anda, barangkali bersikap sebaliknya. Uang gaji habis demikian cepat karena dipakai untuk memenuhi keinginan sekunder dan tertier. Berlagak seperti orang yang berpenghasilan tak terhingga. Memiliki gaya hidup seperti konglomerat, berutang kanan kiri dan lain sebagainya. Alhasil, bukan semakin kaya, melainkan semakin merana. Sementara teman dan tetangga Anda, semakin baik kondisi finansialnya. Dus, agar Anda tidak semakin jauh masuk ke ranah kesulitan finansial, mungkin ada baiknya direnungkan kembali, apa penyebab semua itu. Salah satunya, sangat mungkin karena Anda tidak melakukan investasi. Dan, kalaupun melakukan investasi, hanya ala kadarnya.

Mudah

Lalu bagaimana mengatasi semua persoalan tersebut? Mudah. Yang paling utama, buang dulu rasa curiga, sirik, cemburu, dan segala macam penyakit hati serta prasangka buruk dari diri Anda. Urusan teman dan tetangga Anda bukan urusan Anda. Jadi, percuma saja Anda menerka-nerka sebab dan asal-muasal kekayaan teman Anda.

Setelah berhasil menyingkirkan segala macam perasaan dendam tidak berguna itu, barulah Anda bisa menggunakan kewarasan pikiran untuk memperbaiki kondisi finansial di jalan yang baik dan benar pula.

Pertama, memperbaiki pola konsumsi sehingga pengeluaran lebih rendah dibandingkan pemasukan. Hal ini menjadi syarat utama. Pangkas habis semua pengeluaran tidak utama. Dan, ini tidak terlalu sulit karena kontrolnya ada pada diri Anda. Jika Anda belum berhasil menerapkan konsep ini, sangatlah sulit untuk bisa mendapatkan kehidupan finansial yang lebih baik.

Kedua, lakukan investasi secara berkala. Apa maksudnya? Coba lihat kembali pola pengelolaan investasi Anda selama ini. Mungkin Anda memiliki tabungan di bank. Atau memiliki deposito berjangka. Anda menganggap hal itu sebagai investasi. Untuk deposito berjangka memang bisa dimasukkan ke dalam kategori investasi. Tetapi, tabungan sebenarnya bukanlah investasi, melainkan sekadar kemudahan bertransaksi alias menjaga likuiditas. Ya, sebab, gaji yang Anda peroleh dan dimasukkan ke dalam tabungan, secara bertahap Anda tarik melalui ATM atau cara lain, dan dipakai untuk berbelanja dan segala keperluan. Lebih dari itu, bunga yang diperoleh dari tabungan sangat kecil. Tidak jauh beda dengan laju inflasi sehingga sebenarnya nilai uang yang ada di tabungan Anda tidak pula bertambah, tetapi malah bisa berkurang. Oleh karena itu, salah satu solusinya adalah investasi berkala.

Untuk melakukan investasi berkala, bukan soal sulit. Anda bisa memilih apakah itu dilakukan dalam bentuk penempatan dana di tabungan atau membeli produk investasi lainnya secara berkala, termasuk dalam hal ini, investasi pada saham dan atau reksa dana di pasar modal. Bagaimana konkretnya?

Kalau Anda punya tabungan, pilah tabungan Anda menjadi paling tidak dua rekening. Yang satu adalah untuk kemudahan bertransaksi. Artinya, ketimbang uang gaji disimpan di bawah bantal, lebih baik ditaruh di bank dan ditarik pada saat Anda perlukan untuk membiayai pelbagai keperluan. Jadi, tujuannya memang sebagai alat memudahkan bertransaksi. Karena Anda akan mendapatkan kartu ATM yang sekaligus berfungsi sebagai kartu debet dan bisa digunakan pada saat berbelanja. Konkretnya, tabungan yang pertama bukanlah investasi, melainkan kemudahan pembayaran dan menjaga keamanan saja.

Setelah itu, buka rekening tabungan yang lain, di mana Anda mesti menyetorkan dana secara rutin ke rekening tersebut, dan tidak boleh dicairkan hingga batas waktu tertentu. Misalnya, 10 tahun ke depan, atau bahkan lebih dari itu dan peruntukannya bisa untuk mencapai target tujuan keuangan di suatu saat nanti. Bisa untuk membiayai sekolah anak dan lain sebagainya. Selain itu, tabungan seperti ini biasanya dilengkapi dengan target perolehan dana. Bisa Rp 1 miliar atau Rp 2 miliar. Terserah Anda dan kemampuan Anda menabung secara reguler.

Bertambah

Tabungan seperti ini, disebut juga dengan tabungan berjangka dan biasanya dilengkapi pula dengan asuransi jiwa. Artinya, jika terjadi sesuatu hal pada diri Anda dalam kurun masa menabung, ahli waris akan mendapatkan santunan sebesar target tabungan itu sendiri. Jadi, umpamakan Anda baru menyetor Rp 100 juta, jika terjadi ”apa-apa”, ahli waris Anda tetap akan mendapatkan Rp 1 miliar. Tetapi, jika tidak terjadi ”apa-apa”, dana Rp 1 miliar itu akan Anda peroleh 10 tahun mendatang.

Itu cara yang paling sederhana dalam melakukan investasi secara berkala. Cara lain adalah dengan membeli saham di pasar modal secara bertahap. Pilih beberapa saham yang memang fundamental perusahaannya bagus. Targetkan bahwa yang diinginkan dari saham tersebut adalah dividen dan tentu saja potensi capital gain dalam jangka menengah panjang. Misalnya, untuk jangka waktu 3-5 tahun. Jika sudah mendapatkan pilihan saham, belilah secara berkala. Beli bukan karena ada isu atau rumor. Dan, bahkan, ketika saham tersebut mengalami penurunan harga, tidak perlu panik. Malah itu merupakan kesempatan bagi Anda untuk menambah portofolio dana dalam saham dimaksud.

Dengan cara seperti itu, jumlah investasi Anda akan bertambah secara bertahap dan Anda tidak akan mengalami ”gangguan” ketika pasar saham turun ataupun naik sebab target Anda adalah jangka menengah panjang. Pola investasi berkala semacam ini, berdasarkan historical empiris, akan memberikan hasil lebih besar dibandingkan dengan cara ”keluar masuk” pada satu saham. Sebab, belum tentu Anda ”masuk atau keluar” pada saat yang tepat. Ringkasnya, jika memang Anda bermaksud berinvestasi, investasi tersebut jangan ”diotak-atik” hanya karena terjebak rumor dan apalagi godaan konsumsi untuk menggunakan potensi capital gain jangka pendek yang sudah melekat pada saham Anda.

KOMPAS

Sunday, March 14, 2010

Apakah DIRE?

Minggu, 14 Maret 2010 | 03:41 WIB


Oleh Adler Haymans Manurung - Praktisi Keuangan

Pada akhir Desember 2007, Bapepam-LK menerbitkan Peraturan Nomor IX.C.15 tentang pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum oleh Dana Investasi Real Estat (DIRE) berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

DIRE dibutuhkan oleh investor yang ingin melakukan investasi dalam bentuk real estat, termasuk mereka yang ingin memiliki real estat secara tidak langsung. Sebenarnya peraturan yang berkaitan dengan DIRE diterbitkan sebanyak tiga buah yang saling berkaitan.

Konsep DIRE tertuang dalam Peraturan Nomor IX.M.1 yang menyatakan bahwa DIRE adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan pada aset real estat, aset yang berkaitan dengan real estat dan atau kas dan setara kas. Real estat adalah tanah secara fisik dan bangunan di atasnya. Aset yang berkaitan dengan real estat adalah efek perusahaan real estat yang tercatat di Bursa Efek dan atau diterbitkan oleh perusahaan real estat. Perusahaan real estat yang menerbitkan obligasi tidak bisa dianggap sebagai aset yang berkaitan dengan real estat sehingga DIRE tidak bisa menginvestasikan dananya pada obligasi yang diterbitkan perusahaan real estat.

Berdasarkan konsep tersebut, DIRE bisa melakukan investasi langsung pada aset real estat dan efek. Namun, DIRE juga bisa menginvestasikan pada perusahaan yang dikenal dengan SPC (special purpose company) dan SPC ini yang melakukan investasi terhadap aset real estat dan mengusahakannya.

Aset

Bila DIRE menggunakan SPC, DIRE harus memiliki saham paling tidak 99,9 persen dari saham SPC tersebut. Artinya, SPC ini bisa saja belum terdaftar di bursa tetapi memiliki aset. Untuk SPC harus mendistribusikan seluruh keuntungan atau hasil investasi SPC kepada DIRE. Bila DIRE mempunyai keuntungan/hasil, bisa didistribusikan kepada pemegang unit penyertaan DIRE.

Dana yang dikumpulkan oleh DIRE harus diinvestasikan paling sedikit 50 persen pada aset real estat. Selanjutnya, DIRE bisa melakukan investasi pada aset real estat dan aset yang berkaitan dengan real estat paling kurang 80 persen dari nilai aktiva bersih (NAB)-nya di mana paling sedikit 50 persen pada aset real estat. DIRE juga bisa melakukan investasi kas atau setara kas paling tinggi 20 persen.

Adapun instrumen kas dan setara kas yaitu deposito yang dapat ditarik setiap saat dan rekening koran. Konsep investasi DIRE secara jelas menunjukkan makna reksa dana DIRE. Artinya, penilaian aset DIRE tidak bisa dilakukan setiap hari karena valuasinya sangat membutuhkan data yang cukup banyak dan kemungkinan tidak seperti harga saham atau obligasi yang berubah-ubah setiap hari harganya.

Akibatnya, nilai wajar DIRE hanya bisa didapatkan paling tidak satu kali satu tahun. Misalnya, DIRE Janjimatogu Porsea telah mengumpulkan dana sebesar Rp 350 miliar dan dana DIRE tersebut diinvestasikan pada aset real estat sebanyak Rp 250 miliar dan saham perusahaan real estat yang terdaftar di Bursa Efek sebanyak Rp 70 miliar serta deposito on call sebesar Rp 30 miliar. Contoh alokasi investasi DIRE Janjimatogu Porsea ini jelas menyatakan tidak akan bisa menghitung NAB DIRE setiap hari karena perhitungan aset real estat sebesar Rp 250 miliar tidak mungkin dilakukan setiap hari karena membutuhkan biaya untuk menilainya.

Salah satu DIRE ini berbentuk reksa dana KIK dan agak berbeda dengan reksa dana konvensional karena DIRE KIK mempunyai Rapat Umum Pemegang Unit Penyertaan (RUPUP). Dalam RUPUP tersebut dilaporkan semua aktivitas DIRE sehingga DIRE harus transparan agar pemegang unit penyertaan mengetahui dananya diinvestasikan ke mana saja. NAB DIRE ini juga dilaporkan pada RUPUP walaupun sebenarnya pemegang unit penyertaan bisa meminta informasi sebelum RUPUP. Informasi NAB ini harus transparan dan merupakan filosofi dari transaksi di pasar modal yang menganut transparansi.

Dalam hal penilaian aset real estat yang harus dilaporkan pada RUPUP dan sekaligus untuk menilai aset satu kali dalam setahun, DIRE harus menggunakan penilai. Adapun penilai yang dapat dipakai DIRE adalah penilai yang terdaftar di Bapepam-LK. Namun, aset yang berkaitan dengan real estat harus diumumkan sekali sebulan dan dimuat pada situs web dari manajer investasi yang mengelola DIRE tersebut. Harga saham tersebut dapat diperoleh manajer investasi melalui harga penutupan dari efek di Bursa Efek.

Pada RUPUP, DIRE harus menyampaikan laporan keuangan yang telah diperiksa (diaudit) oleh akuntan publik. Adapun akuntan publik yang bisa melakukan audit pada DIRE adalah akuntan publik yang terdaftar di Bapepam-LK. DIRE tidak boleh memberikan audit laporan keuangan kepada akuntan tidak terdaftar karena ada persyaratan akuntan publik untuk melakukan aktivitas di pasar modal.

Saham

DIRE tidak diizinkan melakukan investasi tanah kosong atau berinvestasi pada properti yang masih dalam tahap pembangunan. DIRE juga dilarang untuk meminjamkan dan atau menjaminkan asetnya kepada pihak lain untuk kepentingan pihak lain. Artinya, DIRE yang memiliki sebuah aset strategis di Jalan Sudirman, Jakarta, tidak dapat meminjamkan atau menjaminkan aset tersebut untuk kepentingan pihak lain di mana DIRE kemungkinan mendapatkan fee. DIRE tidak bisa melakukan transaksi margin atau juga melakukan pinjaman kepada pihak lain. Aset real estat yang bisa diinvestasikan DIRE hanya aset real estat yang berdomisili di wilayah Republik Indonesia.

DIRE harus menahan aset real estat yang dimiliki paling sedikit dua tahun dan tidak bisa mengalihkannya kepada pihak lain terkecuali telah mendapat persetujuan melebihi setengah dari pemegang unit penyertaan pada RUPUP.

Dua tahun telah muncul peraturan DIRE ini belum satu pun DIRE yang ada di pasar untuk diinvestasikan oleh investor. Salah satu faktor yang membuat manajer investasi belum membuat DIRE ini disebabkan tidak menguntungkan investor. Saham-saham perusahaan real estat juga belum menjadi perhatian investor di Bursa.

Belum ada satu pun hasil empiris yang menyatakan bahwa saham perusahaan real estat lebih baik dari saham perusahaan lainnya. Pada sisi lain, DIRE yang melakukan investasi pada real estat akan dikenai pajak secara tarif umum sehingga hasil yang diperoleh DIRE tidak maksimum.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, March 7, 2010

I N V E S T AS I: Investasi Nonfinansial

Minggu, 7 Maret 2010 | 04:09 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Investasi bisa berhubungan dengan uang. Apakah itu menempatkan dana dalam bentuk deposito berjangka, bermain saham, obligasi, reksa dana, membeli tanah, rumah, dan lain sebagainya. Bagaimana pula investasi nonfinansial?

Selama Anda melakukan investasi, apakah selalu menuai keuntungan? Jika ya, apakah hasilnya memadai? Atau di sisi lain, apakah investasi Anda kerap merugi? Jika ya, apa penyebabnya? Salah satu penyebabnya adalah, karena investasi finansial Anda tidak dibarengi dengan investasi nonfinansial yang memiliki korelasi dengan investasi finansial tersebut. Ada beberapa jenis investasi nonfinansial.

Berapa banyak waktu yang sudah kita alokasikan untuk mencermati, mengelola, dan memonitor bahwa investasi finansial yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Sebut saja, Anda membeli sebidang tanah di sebuah lokasi, dengan berbagai alasan. Setelah Anda beli, pernahkah Anda luangkan waktu untuk mengecek keberadaan tanah tersebut dan berbagai hal yang berubah di sekitar tanah dimaksud.

Pernahkah Anda mencari tahu secara periodik berapa perkembangan harga tanah di sekitar lokasi tanah yang sudah Anda miliki? Jangan-jangan, tahu-tahu tanah itu sudah diduduki oleh pemukim liar. Benar bahwa tanah tersebut adalah kepunyaan Anda. Namun, untuk mengeluarkan pemukim liar dari tentu diperlukan biaya dan mungkin menimbulkan masalah lain. Atau, tiba-tiba tanah Anda tersebut termasuk yang akan dibebaskan karena akan ada pembangunan jalan umum.

Jika hal ini Anda ketahui belakangan, bisa jadi tanah tersebut akan menjadi sangat murah ketika Anda mendapatkan ganti rugi. Dengan kata lain, investasi Anda dalam bentuk tanah akan merugi karena Anda tidak meluangkan waktu untuk melihat perkembangan yang terjadi di sekitar lokasi tanah tersebut.

Investasi tenaga.

Ketika Anda melakukan investasi, berapa besar tenaga dan perhatian Anda curahkan secara detail terhadap investasi tersebut, baik ketika akan dimulai maupun sesudah berjalan? Sebagian dari Anda mungkin memberi perhatian dan tenaga yang besar ketika investasi hendak dilakukan. Namun, ketika investasi sudah berjalan, apakah tenaga yang Anda kontribusikan sama besarnya? Belum tentu.

Lihat misalnya ketika Anda memutuskan membeli saham di pasar modal. Mungkin pada awalnya Anda mencari tahu informasi mengenai saham dimaksud, baik yang berupa informasi fundamental maupun sekadar rumor. Ketika saham sudah dibeli, sangat mungkin perhatian Anda hanya pada rumor di pasar modal tanpa mau melihat kondisi fundamental saham dimaksud. Padahal, kondisi fundamental saham akan berubah seiiring dengan aktivitas dari emiten yang sahamnya Anda beli.

Walhasil, karena Anda terlalu cuek, pergerakan harga saham dan keputusan untuk melepas atau menambah porsi saham tidak lagi akurat. Ujung-ujungnya, Anda akan kehilangan kesempatan untuk meraup gain dan atau malah mengalami capital loss. Hal itu disebabkan Anda enggan mencurahkan sedikit tenaga dan perhatian terhadap investasi (saham) yang Anda lakukan.

Investasi pikiran

Investasi pikiran memastikan bahwa semua investasi yang Anda lakukan benar-benar sudah dipikirkan secara rasional, bukan karena emosional atau pengaruh pihak lain, termasuk pemasar produk investasi. Melakukan investasi pikiran bukan soal mudah. Pengetahuan yang terbatas kerap menjadi kendala untuk memahami apakah sebuah produk investasi sesuai dengan tujuan investasi Anda.

Sangatlah berbahaya melakukan investasi tanpa memiliki pemahaman yang dalam terhadap investasi dimaksud. Untuk itu, Anda mesti mempelajari investasi yang akan Anda lakukan, dengan mencari tahu dari buku-buku investasi ataupun bertanya kepada yang ahli.

Yang mesti diingat tempat bertanya bukanlah kepada pemasar produk investasi, melainkan kepada pihak lain yang tidak punya kepentingan dengan investasi. Jangan pernah memulai suatu investasi jika Anda masih ragu dan belum memahami investasi dimaksud.

Investasi jejaring

Investasi net working atau jejaring adalah investasi nonfinansial yang bukan saja akan membantu Anda dalam hal berinvestasi finansial, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan bahkan karier pribadi. Kepiawaian Anda membangun jejaring, apalagi yang memberikan nilai tambah bagi hidup Anda, akan memberikan banyak manfaat.

Misalnya, Anda mengenal eksekutif di bidang pasar modal, perbankan, dan bidang lain. Dengan jejaring tersebut, Anda akan mendapatkan informasi primer tentang perkembangan di sektor investasi. Ini berbeda misalnya jejaring Anda umumnya adalah kalangan awam. Tentu, manfaat yang Anda peroleh tidak terlalu besar. Oleh karena itu, investasi jejaring merupakan salah satu kunci sukses untuk berinvestasi di bidang finansial.

Masih dibutuhkan berbagai investasi nonfinansial lain yang bisa mendorong keberhasilan Anda dalam berinvestasi. Namun, intinya adalah, keberhasilan ataupun kegagalan dalam investasi keuangan sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari berbagai faktor nonfinansial. Oleh karena itu, sudah pada tempatnya Anda memberikan perhatian pada hal-hal tersebut sebelum melakukan investasi.

KOMPAS

Sunday, February 28, 2010

INVESTASI: Apakah Transaksi SWAP?

Minggu, 28 Februari 2010 | 02:54 WIB

Adler Haymans Manurung - Praktisi Keuangan

Baru-baru ini seorang pengusaha didatangi seorang pemasar keuangan untuk menawarkan jasa keuangan. Pengusaha ini mempunyai pendapatan dalam valuta asing dan hampir seluruh biaya yang dikeluarkan dalam bentuk rupiah. Artinya, pembayaran bahan baku semua dari Indonesia dengan mata uang rupiah, gaji buruh dalam rupiah juga, bahkan pinjaman saat ini dalam bentuk rupiah, dan sebagainya. Pemasar tersebut menawarkan transaksi SWAP kepada pengusaha ini yang bisa menguntungkannya.

Transaksi SWAP adalah transaksi keuangan antara dua pihak yang mempunyai kepentingan. transaksi memberikan keuntungan kepada kedua pihak. Transaksi SWAP dapat dilakukan dengan dua transaksi yang sangat terkenal, yaitu transaksi SWAP tingkat bunga dan transaksi SWAP valuta asing.

Transaksi SWAP tingkat bunga adalah pihak yang melakukan transaksi ingin mengubah tingkat bunga yang saat ini dimiliki, misalnya tingkat bunga tetap menjadi tingkat bunga mengambang dan sebaliknya.

Artinya, pihak yang bertransaksi ingin mengubah tingkat bunga dari mengambang menjadi tetap atau dari tingkat bunga tetap menjadi tingkat bunga mengambang. Untuk kasus SWAP tingkat bunga, transaksi yang bisa dilakukan adalah pinjaman dan investasi. Pihak tertentu yang mempunyai pinjaman dengan tingkat bunga tetap diubah menjadi tingkat bunga mengambang dan sebaliknya dari tingkat bunga mengambang menjadi tingkat tetap.

Demikian juga pihak tertentu yang mempunyai investasi yang hasil pengembaliannya (sering juga disebut kupon) dengan tingkat bunga tetap akan diubah menjadi tingkat bunga mengambang dan sebaliknya.

Pihak yang melakukan transaksi SWAP ini melakukan perubahan karena sifat dari usaha atau kemampuan yang dimilikinya. Biasanya, yang terjadi, perusahaan ingin melakukan perubahan dari tingkat bunga mengambang menjadi tetap karena kemudahan pihak tersebut melakukan perhitungan atas bisnisnya. Apabila pengeluaran tingkat bunga dapat dipastikan, pengusaha dapat memastikan segala aktivitas bisnis yang dilakukan. Apabila tingkat bunga mengambang yang diinginkan, biasanya tingkat bunga tersebut juga pasti bisa diramalkan pada kisaran tertentu.

Bantuan bank

Pihak yang ingin melakukan transaksi ini dapat dilakukan sendiri atau juga melalui bantuan pihak bank. Biasanya, transaksi SWAP banyak dilakukan dengan pihak bank. Pihak-pihak yang melakukan transaksi tidak saling kenal, yang penting arus kas transaksi tersebut berjalan selama periode yang diperjanjikan.

Untuk transaksi SWAP melalui bank, pihak yang bertransaksi akan mempunyai biaya apabila dibandingkan dengan langsung sendiri dengan pihak lain. Adapun untuk transaksi yang langsung dilakukan pihak terkait, antara pihak sudah saling kenal dan masing-masing sangat membutuhkan sesuai dengan keinginannya.

Tingkat bunga tetap dalam transaksi adalah tingkat bunga tetap yang harusnya dibayarkan kepada pihak lain atau bank di mana seseorang mempunyai pinjaman. Biasanya seseorang atau perusahaan melakukan pinjaman kepada pihak lain atau bank harus dikenai bunga. Bunga tersebut ada yang tetap, ada juga yang mengambang.

Tingkat bunga tetap maksudnya bunga yang dibayar peminjam sama sepanjang waktu periode pinjaman tersebut. Tingkat bunga mengambang merupakan tingkat bunga yang dirujuk kepada sesuatu tingkat bunga, misalkan tingkat bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) atau JIBOR (Jakarta Interest Board Offering Rate) atau SIBOR (Singapore Interest Board Offering Rate) atau LIBOR (London Interest Board Offering Rate). Pinjaman dari bank dikenakan sebesar SBI + 4 persen.

Misalkan, PT Janjimatogu Porsea Realty memiliki hotel dan resor, di mana hotel dan resor ini mempunyai pendapatan dalam bentuk dollar AS dan biaya yang dikeluarkan umumnya dalam rupiah. Laporan keuangan perusahaan telah dibuat dalam valuta asing, yaitu dollar AS. Adapun biaya yang dikeluarkan dalam bentuk dollar AS tidak begitu besar, hanya sekitar 5 persen dari pendapatan perusahaan. Namun, saat ini perusahaan mempunyai utang dalam bentuk rupiah dengan tingkat bunga tetap sebesar 15 persen per tahun selama lima tahun, yang dibayarkan sekali enam bulan.

Perusahaan tersebut bisa membayar dengan tingkat bunga mengambang. Perusahaan bisa mencari pihak lain yang ingin melakukan perubahan tingkat bunga pinjamannya dari mengambang menjadi tetap. Artinya, pihak lain tersebut membayar tingkat bunga 15 persen yang harus dibayar oleh PT Janjimatogu Porsea Realty dan perusahaan ini membayar tingkat bunga mengambang yang harus dibayar pihak lain tersebut. PT Janjimatogu Porsea Realty bisa juga mendatangi bank untuk mendapatkan lawannya melakukan transaksi bank. Biasanya, bank mempunyai klien yang membutuhkan transaksi SWAP ini agar nasabahnya bisa menguntungkan dalam menjalankan perusahaannya.

Apabila transaksi SWAP tingkat bunga di mana yang ditransaksikan investasi, cara transaksinya juga sama dengan transaksi SWAP tingkat bunga dengan pinjaman. Transaksi SWAP valuta asing, maka para pihak membutuhkan arus kas valuta asing dan metode transaksinya juga melakukan proses yang sama.

Misalkan, PT Janjimatogu Porsea Realty ingin transaksi valuta asing yang membutuhkan rupiah dengan PT Indonesia Investasi Capital yang membutuhkan dollar AS. Kedua perusahaan bisa melakukan transaksi SWAP dalam bentuk valuta, di mana perusahaan bisa mendapatkan keuntungan.

KOMPAS