BLOGSPOT atas

Sunday, June 13, 2010

Expatriat Pun Berniaga Maya dari Bali

Laporan wartawan KOMPAS Robertus Benny Dwi Koesnanto

Minggu, 13 Juni 2010 | 09:40 WIB

BALI, KOMPAS.com — Selain Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan niaga, posisi Bali sebagai pusat pariwisata sekaligus pintu ekspor aneka produk ke mancanegara rupanya mendapat tempat tersendiri dalam bisnis di dunia maya.

Sejumlah pemodal melihat Pulau Dewata sangat strategis untuk membuka tokonya. Di Denpasar, Bali, ada toko online yang menduduki peringkat ke-56 untuk kategori Indonesia versi Alexa.com.

Situs itu memajang beraneka ragam barang. Kantor utamanya di Denpasar, Bali. Pengelolanya justru expatriat dari Belanda, Arnold Sebastian Egg dan Rymco Lupker.

Keduanya mengaku, selain karena dikenal di seluruh dunia sehingga lebih mudah untuk menawarkan barang-barang, Bali dipilih juga karena dirasa lebih nyaman untuk berkantor.

Ini sekaligus menggambarkan keberadaan toko online semata-mata tidak terbatas tempat asal infrastrukturnya mendukung.

Dibangun sejak 2005, menurut Arnold, situsnya perlahan tapi pasti telah memosisikan diri sebagai situs pemasangan iklan terbesar dengan lebih dari 1 juta pengunjung per hari.

Berdasarkan Alexa.com, pada April 2010 situs ini berada di peringkat ke-45, tertinggi dibanding situs toko online lain di Indonesia. Melalui situs ini, perusahaan dan atau perorangan dapat menjual dan membeli produk dan atau jasa secara mudah, cepat, dan aman.

Menjadi member di toko gratis tanpa ada biaya sedikit pun. Bagi pembeli, misalnya, penamaan kategori yang populer didukung dengan fitur kotak pencarian iklan yang memberikan hasil yang relevan terhadap apa yang dicari.

"Sedangkan bagi penjual, selain promosi di situs-situs ternama, toko online mini dimungkinkan di sini dan dilengkapi dengan URL subdomain pribadi," kata Arnold di Denpasar, awal Juni ini.

Rymco menimpali, Indonesia telah membangun potensi transaksi online yang luar biasa. Ini antara lain didukung dengan terus meningkatnya pengguna internet yang kini diperkirakan jumlahnya mencapai 30 juta orang.

"Meskipun ini baru awal dari pertumbuhan industri jual beli online di Indonesia, potensi Indonesia sangat besar," terangnya.

Rymco dan Arnold sepakat, kaum perempuan memegang peranan penting dalam bidang e-commerce dan penggunaan internet. Hal itu antara lain dipengaruhi dengan keaktifan kaum perempuan dalam aneka jejaring sosial online, seperti Facebook dan Twitter.

Dia mengungkapkan, dari data yang ada, pertumbuhan jual beli secara umum mencapai sekitar 15 persen per bulan pada tahun 2009.

Sementara transaksi jual beli produk perempuan pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan transaksi jual beli online secara umum, yakni mencapai sekitar 85 persen sejak saat itu hingga lima bulan pertama tahun ini per bulan.

"Lebih dari itu, kami senang situs kami dan situs lain yang sejenis telah memberi pengaruh signifikan bagi pengusaha kecil hingga menengah untuk memiliki akses yang sama ke pasaran luas seperti yang dimiliki pengusaha besar,'' tambah Rymco.

Ada lagi toko online berbasis di Bali yang belum masuk peringkat 100 utama di Alexa.com, yang juga dikelola oleh ekspatriat. Rencananya, situs itu mulai tahun ini akan beroperasi sepenuhnya.

Pendiri sekaligus CEO-nya adalah Christopher Benz, alumnus Vilanova University Philadelphia, AS. Dia terpilih dalam nominasi Ernst and Young sebagai Social Entrepreneur of the Year Award tahun 2008. Setahun kemudian, dia dinobatkan majalah Business Week sebagai salah satu Pengusaha Sosial Amerika paling menjanjikan.

Sebelum mengelola itu, dia sudah merintis dua situs yang fokus pada penghubung produsen berbagai macam produk, terutama kerajinan hingga fashion, di beberapa daerah di Indonesia dengan pasar ekspor.

Sementara situs lainnya melayani pembelian grosir dan perusahaan di seluruh dunia dengan pengadaan produk berkualitas dengan jumlah lebih dari 13.000 produk di katalognya.

Dua hal itu pula yang kemudian menarik Benz untuk tinggal di Bali dari dua tempatnya berdomisili sebelumnya, New York dan London.

Benz tertarik membuka toko online di Indonesia setelah beberapa tahun lalu pernah kesulitan mengirim hadiah ke salah satu temannya di negeri ini melalui toko online.

Melihat ini sebagai kesempatan, ia lalu melakukan survei ke 4 juta-5 juta warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Poinnya sama dengan pengalamannya, yakni apa yang dilakukan ketika akan mengirim sesuatu kepada sanak saudara maupun teman mereka di Indonesia.

Rupanya sebagian besar masih melalui jalan offline, yakni sekadar mengirim barang melalui pos atau transfer sejumlah uang. "Ini menarik karena berarti kesempatan untuk membuka toko online di Indonesia masih besar," kata Benz, beberapa waktu lalu di Sanur, Bali.

Legalitas menjadi hal yang dinilai paling penting oleh Benz. Situsnya kini dilengkapi dengan berbagai sistem teknologi canggih untuk menjamin keamanan belanja online.

Ini setidaknya menghapus reputasi Indonesia yang termasuk dalam jajaran atas rawan pencurian. Katakanlah di beberapa mesin pemroses kartu kredit secara online, seperti Authorize.net, jika mesin mendeteksi orang yang belanja dari Indonesia, otomatis mesin meminta otorisasi.

Kita diharuskan mengirim scan kartu kredit bolak-balik dan menandatangani pernyataan bahwa kartu kredit itu benar milik kita.

Kehadiran situs itu sedikit banyak memberi nama baik bagi Indonesia. Tingkat penipuan juga menurun seiring makin berkualitasnya cara pandang orang Indonesia terhadap internet.

"Bukan hanya menawarkan lebih dari 40.000 produk, mulai dari buku hingga peralatan elektronik, dari produk fashion hingga kerajinan," kata Benz.

Ia ingin memberikan kenyamanan sekaligus keamanan berbelanja online dengan daerah tujuan ke seluruh wilayah Indonesia. Untuk keamanan proses pembayaran, penggunaan kartu kredit dapat melalui telepon dan atau situs web sebagaimana mestinya.

KOMPAS

Beli Kambing "Online", Mengapa Tidak?

Laporan wartawan KOMPAS Robertus Benny Dwi Koesnanto

Minggu, 13 Juni 2010 | 08:19 WIB

BALI, KOMPAS.com — Rasa penasaran muncul ketika suatu hari seorang kawan memasang sejumlah foto kambing peranakan ettawa (PE) di sebuah situs jejaring sosial.

Mulanya saya kira ia hanya pamer piaraan kesayangannya. Namun, belakangan setelah saya tanya lebih jauh, barulah saya tahu ia juga menjual kambing-kambing itu secara online.

Cukup dengan googling sebentar, ternyata pasar kambing pun kini tersaji di internet. Seperti terlihat dalam beberapa situs, kambing-kambing ditawarkan, mulai dari anakan, betina siap kawin, betina sudah bunting, hingga pejantan dengan aneka kualitas.

Selain memajang foto, penjual pun menambahkan detailnya, seperti panjang telinga sekian sentimeter hingga ukuran gigi sang kambing. Pindahnya pasar kambing ke internet itu adalah salah satu penanda pesatnya perkembangan toko online atau virtual saat ini.

Beberapa tahun lalu, kita hanya bisa mengakses barang-barang elektronik, seperti televisi dan tape recorder, buku, hingga kamera digital yang jelas dan terukur garansinya. Kini, hampir semua barang ditawarkan secara online, baik melalui situs web khusus, laman blog, maupun situs pertemanan dan jejaring sosial.

Aneka produk fashion, dari baju anak-anak hingga dewasa, dari sarung hingga mukena, dapat dengan mudah dipesan. Demikian pula aneka produk kecantikan, kerajinan, dan oleh-oleh khas daerah.

Soal sistem pembayaran, ada yang benar-benar online atau sistem 50:50, yakni penawaran dilakukan secara online namun pembayaran masih lewat transfer via ATM atau kantor pos. Modal ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah dilakukan dalam satu media di bisnis ini, yakni internet.

Menghapus jarak

Menjajakan aneka produk busana muslim, misalnya, sudah dilakoni Desy Wulandari, warga Denpasar, setengah tahun terakhir. Mulanya hal itu dilakukan di sela-sela kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan kargo.

Modal pertamanya hanya berkisar Rp 500 juta. Selain lewat blognya, Desy juga memasang produknya via jejaring sosial seperti Facebook dengan nama yang sama dengan versi blognya.

Desy mengaku setiap hari ada saja pesanan yang harus dilayaninya, hingga akhirnya ia memilih keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan sepenuhnya mengurusi toko online-nya.

"Mula-mulanya saya memang sering membeli aneka produk secara online. Dari sana lalu terpikir untuk membuka toko online sendiri dan ternyata laku," kata Desy, akhir Mei lalu, seraya mengaku beromzet rata-rata Rp 10 juta per bulan.

Ia kini menyiapkan situs web khusus sebagai tempat baru menjajakan dagangannya. Ia yakin bahwa pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan melalui jalan ini, baik bagi dirinya maupun lingkungan di sekitarnya.

Ia juga menerapkan sistem kulakan, memproduksi sendiri barang-barangnya, juga menitipkan jasa pembuatan ke orang atau pihak lain. Mata rantai pemberdayaan itu berjalan dari satu pihak ke pihak lain, yang bermuara pada kepuasan konsumen akhir.

Pilihan membuka situs web tersendiri telah lebih dulu dipilih Arif Wicaksono yang bersama istrinya, Rukha Wicaksono, mengembangkan butik online.

Arif mengaku, omzet usahanya terus berkembang hingga mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Dan, hal itu antara lain juga dipengaruhi oleh adanya situs web tersebut. Tentu saja pembukaan situs web itu harus diimbangi dengan penataan tampilan dan terus memperbarui produk dan tampilannya.

"Selain itu, kami juga melakukan search engine optimization sehingga situs web kami selalu muncul di halaman-halaman awal ketika orang menggunakan fasilitas mesin pencarian di internet," kata Arif.

Desy mengaku, hampir sebagian besar wilayah di Indonesia pernah memesan produknya, mulai dari Banda Aceh hingga sejumlah kota di Papua. Ini sejalan dengan misi internet yang dapat menjangkau semua wilayah asalkan ada jaringannya.

Khusus pemesan produk yang ditawarkan secara online, misalnya, harus memastikan ada tidaknya jasa pos pengantar hingga wilayahnya. Ini sekaligus menjadi gambaran pemerataan wilayah dan akses mendapatkan informasi sekaligus barang yang diinginkan.

Belanja secara online maupun jumlah toko online di Indonesia diprediksi akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah pengguna internet di Tanah Air. Cukup dengan memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook, misalnya, yang awal tahun ini menurut survei eMarketer penggunanya di Indonesia mencapai 15,3 juta, bisa dibayangkan potensi sebuah jual beli secara online. Jumlah itu lebih kurang separuh jumlah pengguna aktif internet di Tanah Air.

Perkembangan teknologi dalam mengakses internet juga ikut memengaruhi, salah satunya penggunaan teknologi 3G. Menurut data salah satu operator seluler, Telkomsel, misalnya, servis dan layanan produk Flash maupun BlackBerry Internet Service (BIS) melalui Telkomsel di wilayah Bali dan Nusa Tenggara terus meningkat pesat.

Pada periode April 2009-2010, misalnya, layanan Flash time based meningkat hingga 135 persen, unlimited 353 persen, volume based 165 persen, dan angka fenomenal dicatat pada layanan Flash small denomination hingga 1.247 persen.

Lonjakan itu terus berlanjut pada empat bulan pertama tahun ini. Layanan Flash time based meningkat hingga 131 persen, unlimited 105 persen, volume based 81 persen, dan Flash small denomination sekitar 86 persen.

Corporate Communications Telkomsel Bali Nusa Tenggara Hari Purwanto mengungkapkan, untuk penggunaan BlackBerry di Balinusra pada Februari-Maret 2010, pertumbuhannya masih di atas 100 persen, yakni sekitar 120 persen, dengan pertumbuhan pelanggan di Kupang (NTT) yang paling tinggi mencapai sekitar 123 persen.

Porsi BIS Unlimited Bulanan masih terbesar dengan porsi 43 persen, diikuti BIS Unlimited harian 24 persen. Yang menarik adalah data bahwa pelanggan BIS Paket Social Networking selama Februari-Maret 2010 tumbuh hingga 117 persen.

Dasar kepercayaan

Pengamat multimedia di Bali, Roy Rudolf Huizen, menyatakan, sebagaimana etika bisnis dengan media apa pun, dasar kepercayaan menjadi yang utama dalam praktik toko online atau e-bisnis. Ketika Anda dapat dipercaya, barang yang Anda tawarkan berkualitas, dan kualitas itu mampu Anda jaga ketika barang itu sampai di tangan konsumen, bisnis Anda akan berjalan terus.

"Seperti halnya pemesanan kambing secara online itu. Asal cocok, kambingnya sesuai pesanan, pesanannya tidak masalah ketika sampai di konsumen, waktunya tepat sesuai kesepakatan, maka kemungkinan besar pembelinya bertambah di masa selanjutnya," kata Roy.

Menurut Roy, salah satu tolok ukur mendapatkan kepercayaan adalah memantapkan unsur legalitas, yang antara lain meliputi sistem dan cara pembayaran yang jelas, pengiriman, serta proses monitoring secara keseluruhan atas barang-barang yang dijual.

Bagi konsumen, Roy tetap meminta agar mereka tetap bijaksana sekaligus hati-hati dan selektif terhadap pihak yang ingin menipu atau mencuri data keuangan seseorang melalui sistem ini. Maka dari itu, unsur legalitas menjadi tolok ukur utama.

Internet yang makin mudah diakses dengan berbagai media terbukti tak hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga telah menjadi bagian dari gaya hidup zaman ini.

Benarlah bila pergeseran kebutuhan pada informasi secara terus-menerus terjadi dan kehidupan menjadi terasa lebih cepat. Selamat menikmati kecepatan-kecepatan tak terduga di dunia belanja online.

KOMPAS

INVESTASI: Inovasi Keuangan

Minggu, 13 Juni 2010 | 02:56 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi Keuangan
Bukan hal yang keliru kalau ada yang beranggapan bahwa besarnya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya kekayaan. Seseorang yang penghasilannya di atas Rp 10 juta sebulan, misalnya, bisa saja kehidupan keuangannya lebih ”susah” ketimbang karyawan yang penghasilannya sebesar Rp 5 juta per bulan.
Kok bisa begitu? Bisa saja. Sebab, berapa pun kecilnya penghasilan, sepanjang pengeluaran lebih rendah ketimbang pemasukan, berarti memiliki cash flow positif yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kekayaan.
Di sisi lain, berapa pun besarnya penghasilan, jika pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan, posisi keuangan akan defisit. Itu berarti sebagian kebutuhan akan dibiayai oleh utang. Dus, tidak ada sumber dana yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan aset. Yang ada adalah penurunan kekayaan secara bertahap karena aset akan dipergunakan untuk pembayaran utang.
Oleh karena itu, tingkat kekayaan seseorang sebenarnya tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan lebih bergantung pada karakter pengelolaan penghasilan. Singkatnya, berapa pun kecilnya penghasilan, tetap dimungkinkan menjadi kaya jika mau dan mampu melakukan inovasi dalam pengelolaan keuangan.
Apa itu inovasi keuangan? Sederhananya adalah melakukan hal yang berbeda dalam pengelolaan keuangan. Misal, jika orang kebanyakan menggunakan kartu kredit untuk berutang, dalam koridor inovasi keuangan, penggunaan kartu kredit adalah untuk memanfaatkan tenggang pembayaran sehingga Anda bisa menggunakan dana pihak lain, dalam kurun waktu tertentu tanpa biaya apa pun.
Jadi, jika Anda berbelanja pada hari ini dan kemudian melunasinya sebelum jatuh tempo, berarti Anda bisa mendapatkan tambahan cash flow dalam kurun waktu tersebut, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal.
Bayangkan, jika Anda bisa membeli barang dengan harga ”X”, misalnya, lalu menjualnya kembali dengan harga ”X” plus keuntungan, Anda telah berbisnis tanpa modal dan bahkan memperoleh untung. Dengan kata lain, utang yang digunakan untuk kegiatan produktif merupakan salah satu inovasi keuangan. Apalagi jika utang itu sendiri diperoleh tanpa biaya apa pun, seperti penggunaan kartu kredit di atas.
Bagaimana jika utang itu menimbulkan biaya bunga? Tidak masalah. Sepanjang biaya bunga masih lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh, tetap saja Anda tergolong kalangan yang inovatif. Jadi, ringkasnya, menumbuhkembangkan aset bisa dilakukan tanpa modal. Modal itu diperoleh dari utang. Lalu dipergunakan untuk berbisnis. Dan hasil bisnis tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan biaya utang itu sendiri.
Aset produktif
Contoh inovasi keuangan lainnya adalah memiliki sebanyak mungkin aset produktif dibandingkan aset konsumtif. Pernahkah Anda melihat pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal?
Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain, rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis. Bagaimana dengan Anda? Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu. Dan rumah yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban. Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.
Selain rumah, coba lihat lagi berbagai kekayaan yang Anda miliki. Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong produktif. Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda. Begitu juga dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan. Ringkasnya, aset produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.
Inovasi keuangan juga bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi, uang menghasilkan uang. Bagaimana caranya? Lakukan investasi aktif.
Investasi aktif adalah secara reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan. Di pasar modal, misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain. Ini memang tidak salah. Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan semakin merosot.
Nah, seorang investor aktif tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada harga yang lebih rendah. Kenapa? Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah untuk jangka panjang. Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di kolom ini.
Yang terakhir adalah inovasi keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih banyak yang tergolong ”nice to have”.
Jika Anda bisa memotong biaya ”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih produktif. Selamat mencoba.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Saturday, June 12, 2010

PROFIL USAHA: Meraup Dollar AS dari Kulit Kerang

Sabtu, 12 Juni 2010 | 03:18 WIB

Oleh Siwi Yunita C

Di tangan Nur Handiah Jaime Taguba, kulit kerang simping atau capiz shell tak lagi hanya sampah. Dengan kreativitasnya, kulit kerang yang bertebaran di pantai Cirebon, Jawa Barat, itu menjadi berbagai perkakas bernilai dollar AS. Pemilik Perusahaan Multi Dimensi Shell Craft ini yang mampu membawa kulit kerang pantura menembus dunia.

Pasar kerajinan kulit kerang di Eropa dan Amerika Serikat yang sebelumnya hanya dikuasi Filipina telah ia jajaki. Jerman, Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Polandia, Bulgaria, Rusia, dan Amerika Serikat menjadi negara-negara tujuan ekspornya selama ini.

Setiap bulannya perusahaan yang ia pimpin bisa mengirim sekitar dua kontainer kerajinan ke pasar internasional. Sebuah volume ekspor yang tidak kecil bagi pengusaha yang memulai usaha dari nol ini.

Kesuksesan Nur itu berawal dari kejeliannya melihat peluang. Awalnya perempuan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 49 tahun yang lalu itu memanfaatkan tumpukan kulit kerang untuk diekspor ke Filipina pada tahun 2000.

Kebetulan ibu dari lima anak ini mempunyai relasi dengan para perajin kulit kerang di tanah kelahiran suaminya, Jaime Taguba, di Filipina.

”Awalnya hanya menyuplai bahan baku saja. Kebetulan pembuatan kerajinannya ada di Filipina. Jadi, kami memasok bahan bakunya,” kata Nur di bengkel kerjanya, April 2010.

Meski sudah mampu mengurangi sampah pantai dan ikut terlibat dalam menghidupi warga sekitar, termasuk nelayan, Nur tidak ingin berhenti di titik itu.

Menurutnya kerang yang ia kirimkan seharusnya bisa lebih berharga lagi jika ada nilai tambahnya. Akhirnya ia mulai menjual bahan baku dengan kondisi lebih baik lagi, yakni yang sudah dibersihkan. Dari hasil jual kulit kerang bersih itu, ia bisa mendapatkan hasil yang lebih dan bisa mempekerjakan lebih banyak orang.

Dalam perkembangannya, Nur pun berinisiatif menggeluti industri kerajinan sendiri. Dibantu sang suami, Nur mengawali kreativitasnya dalam mengolah kulit kerang menjadi kap lampu di bengkel kerjanya di Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.

Mulanya hanya jenis lampu gantung, lalu berkembang menjadi berbagai macam produk lain dengan model dan ukuran. Lampu duduk, misalnya, ada yang model berdiri serta ditempel di dinding. Kesemuanya menggunakan bahan kulit kerang, terutama kerang simping yang diperolehnya dari para nelayan di pantura.

Dari sekadar lampu itu, hasil karyanya berkembang lagi menjadi furnitur. Meja rias dengan berbagai bentuk yang unik dan glamor, meja tamu, hingga kursi santai. Inovasinya terus mengalir hingga kemudian muncul dinding berornamen kerang hingga lantai keramik dari kerang. Perhiasan mulai dari gelang, kalung, hingga anting pun tak luput dari bidikannya.

Bahannya pun tak lagi hanya dari kerang simping, tetapi juga dari kerang dara atau kerang lain yang selama ini juga hanya menjadi sampah dan terbuang begitu saja di tepi pantai. Sesuatu yang diyakini juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia, negara dengan lebih dari 17.000 pulau ini.

Dengan sentuhan seni dan kreativitas, sampah kulit kerang yang awalnya tak berharga itu kini berubah menjadi perkakas cantik dan glamor yang digemari masyarakat, terutama di Eropa.

Tujuh ruang pamernya di Cirebon, Bali, dan Jakarta kini penuh dengan berbagai macam hasil karya kerangnya. Bahkan, bisa dikatakan hanya menggambarkan sedikit dari karya yang telah ia buat.

Usahanya juga telah mengangkat perekonomian warga di sekitarnya. Jumlah karyawan di bengkel kerjanya kini tidak hanya 60 orang seperti saat ia memulai karier sebagai pengekspor kulit kerang, tetapi berkembang menjadi 500 orang. Mereka rata-rata adalah kaum perempuan dan ibu-ibu di sekitar pusat kerajinannya, yang awalnya tidak bekerja. Kini perekonomian keluarga mereka terbantu.

Kuncinya di kreativitas

Kreativitas selama ini memang menjadi kunci yang selalu dipegang Nur Handiah. Selama ini saingan berat bisnisnya adalah para perajin dari Filipina yang telah lebih dulu terjun dalam industri kulit kerang.

Nur memang sempat menyewa desain khusus. Namun, ia akhirnya lebih memilih belajar mendesain sendiri karena selama ini desainnya ternyata juga bisa diterima di pasaran internasional.

Bukan hal yang mudah menciptakan barang yang laku di pasaran. Demi sebuah ide, Nur harus meluangkan waktu untuk belajar, membuka wawasan, membaca berbagai rubrik desain, dan menyempatkan diri untuk berkontemplasi, bahkan survei.

Promosinya dalam mengenalkan kerajinan kulit kerangnya juga tak terbatas di dalam ruang pamer. Ketika harus bertemu dengan orang lain, perempuan yang selalu berpenampilan rapi ini mengenakan berbagai pernak-pernik dari kulit kerang, mulai dari aksesori hingga tas tangan. Semuanya agar langsung diketahui orang lain. Bahkan, rumahnya pun berhias kulit kerang.

Ia juga memutar otak untuk bisa membuat barangnya tetap terjangkau di pasaran. Dengan trik desain tertentu, sebuah sofa berhiaskan kulit kerang bisa berharga lebih murah dibandingkan dengan sofa yang dibuat oleh perajin dari Filipina. Dengan berbagai jalan itulah ia mampu bersaing dengan perajin luar negeri lain meski baru saja memulai bisnis sepuluh tahun lalu.

Nur mengakui, bisnisnya memang sempat surut ketika dunia digoyang krisis ekonomi akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Meski demikian, pasarnya tidak mati.

Permintaan dari Amerika Serikat memang berkurang, tetapi Eropa tetap memberikan tempat bagi kerajinannya. Kini pasar kerajinannya di Amerika Serikat berangsur-angsur pulih.

Di dalam negeri sendiri, kerajinan kulit kerang belum banyak ditiru oleh perajin lain. Padahal, bahan baku sangat mudah didapati. Nur tidak pernah kesulitan mendapatkan 60 ton kulit kerang setiap bulan untuk bahan bakunya. ”Mungkin orang mengira ini kerajinan dari sampah sehingga kurang menarik, mungkin juga karena keuntungannya kecil,” katanya merendah.

Meski demikian, Nur mengaku tetap setia pada kulit kerang. Menurutnya, yang penting bukan dari mana bahannya, tetapi jadi apa hasilnya. Bagi Nur, sampah bisa menjadi apa saja tergantung dari cara merawatnya. Jika dibuang tetap, akan menjadi sampah. Namun, jika dirawat, bisa lebih berguna, misalnya kulit kerang bisa dinilai dalam dollar AS seperti apa yang telah ia lakukan.

KOMPAS

Sunday, June 6, 2010

Apa Itu "Bancassurance"?

Minggu, 6 Juni 2010 | 06:14 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan
Belakangan ini perbankan banyak melakukan hubungan kerja dengan perusahaan asuransi. Bahkan, banyak perusahaan asuransi mencoba melakukan kerja sama yang cukup intens dengan perbankan.
Kita bisa lihat berita di surat kabar berikut gambar terlihat bahwa sebuah perusahaan asuransi melakukan penandatanganan dengan sebuah bank untuk menawarkan produknya. Bank tersebut menawarkan produk asuransi dari perusahaan asuransi. Pihak bank menyebutnya bancassurance.
Artinya, bancassurance diperoleh dari dua kata, yaitu bank dan asuransi. Bancassurance bukan menyatakan bahwa semua produk bank tersebut diasuransikan atau semua produk bank tersebut semakin terjamin. Saat ini produk perbankan secara umum dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), di mana untuk deposit maksimum Rp 2 miliar.
Bank mau menawarkan produk asuransi untuk meningkatkan fee-base bank yang bersangkutan. Oleh karena itu, bank mendirikan sebuah divisi tersendiri untuk menawarkan produk asuransi ini yang dikenal divisi bancassurance. Adanya divisi ini membuat bank tersebut menjadi sebuah usaha yang menawarkan semua produk yang diinginkan konsumen/nasabahnya.
Bila nasabah merasa tidak nyaman dengan produk banknya karena investasi melebihi penjaminan, maka nasabah bisa meminta asuransi atas produk tersebut. Penawaran produk asuransi ini awalnya ditawarkan kepada nasabah spesial yang dikenal nasabah prioritas karena dana yang dimilikinya cukup besar di bank yang bersangkutan.
Namun, karena fee-base yang diterima cukup besar, maka selayaknya produk ini dibuat menjadi produk massal sehingga timbullah divisi bancassurance tersebut.
Bagi karyawan bank, penawaran produk ini membuat kepercayaan menjadi lebih meningkat karena mereka bisa menawarkan lebih banyak produk kepada nasabah. Kemampuan staf juga semakin meningkat. Pengetahuan yang bertambah akan meningkatkan karier karyawan bersangkutan. Di sisi lain, ini juga menjadi cara menahan konsumer agar tidak lari ke bank yang lain.
Kenapa perusahaan asuransi menggunakan bank untuk memasarkan produk asuransinya? Padahal, selama ini perusahaan asuransi mempunyai pemasar yang cukup andal, bahkan mereka umumnya ”bermuka tembok” untuk menawarkan produknya agar bisa diterima publik.
Perusahaan asuransi merasa lebih aman dan efisien bila melakukan pemasaran dengan menggunakan bank. Konsumen yang datang ke bank umumnya sudah melek mengenai produk investasi dan asuransi.
Perusahaan asuransi juga tidak perlu mempersiapkan kantor untuk para agen penjual asuransi yang dimiliki bank karena bank umumnya mempunyai cabang. Perusahaan asuransi menjadikan bank sebagai perpanjangan distribusi (channel distribution) untuk menawarkan produknya.
Perusahaan asuransi hanya mendidik agen-agen yang bekerja di bank tersebut untuk menjual produknya. Adanya produk asuransi di bank tersebut membuat perusahaan asuransi lebih terpercaya karena dana yang diterima langsung bisa masuk ke rekening perusahaan asuransi di bank tersebut. Penjualan produk asuransi melalui bank akan lebih tepat karena sudah menggunakan teknologi yang sesuai, berhubung bank selalu menggunakan teknologi dalam menawarkan produk.
Pertanyaan yang timbul, produk asuransi apa saja yang ditawarkan oleh bank kepada konsumennya? Produk asuransi dapat dikelompokkan menjadi produk asuransi jiwa dan produk asuransi nonjiwa. Adapun produk asuransi nonjiwa seperti asuransi kebakaran rumah, asuransi kredit rumah, asuransi kehilangan barang, terutama untuk mobil dan sebagainya. Adapun produk asuransi jiwa seperti asuransi seumur hidup dan asuransi jiwa berjangka. Semua produk ini diminati masyarakat yang mempunyai pandangan jauh ke depan.
Konsumen akan bertanya, kenapa harus membeli produk bancassurance dari bank, dan kenapa tidak langsung kepada perusahaan asuransi tersebut? Konsumen akan mendapatkan kemudahan dan efisiensi bila membelinya dari bank. Misalkan, bila konsumen sudah punya rencana untuk membeli produk asuransi jiwa dan bertanya langsung kepada marketing atau agen di bank tersebut. Pihak bank akan membantu konsumen untuk menghitung seluruh kebutuhan dan langsung melakukan transfer di bank yang bersangkutan.
Waktu yang dibutuhkan konsumen akan lebih sedikit karena tidak perlu mondar-mandir untuk mendapatkan formulir dan mentransfer dana untuk membayar premi asuransi. Bahkan, konsumen bisa menyimpan sertifikatnya di bank yang bersangkutan pada safety box yang tersedia.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai pelaku bancassurance, peminat penawaran ini semakin meningkat.
Total penjualan premi yang dilakukan para agen asuransi dibandingkan yang dijual melalui bank sudah hampir sama. Sebelumnya, penjualan melalui agen yang dikenal dengan penjualan konvensional cukup mendominasi. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran penjualan produk asuransi.
Konsumer tidak perlu sungkan menanyakan kepada marketer bank untuk mendapatkan bancassurance. Mudah-mudahan tindakan tersebut dapat mempermudah dan membantu konsumen.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, May 30, 2010

INVESTASI: Investasi Hari Tua

Minggu, 30 Mei 2010 | 02:51 WIB

Oleh Elvyn G Masassya, Praktisi keuangan

Basic welfare adalah kesejahteraan pada tingkat yang paling dasar, yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, terjaminnya hari tua, dan terjaminnya kesehatan. Sebuah negara bisa dianggap berhasil menyejahterakan masyarakatnya seandainya kelima hal tersebut terpenuhi. Dalam realitasnya, apa yang terjadi?

Mungkin dalam level tertentu, semua masyarakat Indonesia saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun, untuk papan, benar, belum semua rakyat memilikinya. Bahkan, ada yang menyewa pun tidak mampu sehingga masih ada yang terpaksa menghuni gubuk liar.

Bagaimana dengan jaminan hari tua? Ini masih menjadi isu besar. Karena di kalangan kelas menengah pun, tidak sedikit orang-orang yang pada masa mudanya berkecukupan, tetapi setelah di usia tua hidup menderita karena tidak memiliki harta dan penghasilan. Demikian juga dengan kesehatan. Masih sangat banyak kalangan yang tidak mampu berobat ke rumah sakit dan masih sangat banyak yang tidak sanggup memelihara kesehatan sehingga terserang berbagai penyakit.

Kebebasan finansial mesti dimulai dengan pencapaian tingkat kesejahteraan paling mendasar, yakni kelima hal di atas. Oleh karena itu, ada baiknya dibahas, bagaimana caranya hal tersebut bisa diraih masyarakat, khususnya mengenai jaminan keuangan pada hari tua dan terjaminnya kesehatan.

Jaminian sosial

Bagi para karyawan, sebenarnya sudah ada program jaminan sosial tenaga kerja, yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yang salah satunya dikenal dengan sebutan Jamsostek. Dalam realitas, belum semua tenaga kerja menjadi peserta Jamsostek. Masih ada persepsi bahwa menjadi peserta Jamsostek hanya menambah biaya. Secara filosofis, pandangan seperti itu keliru.

Sebagaimana dipaparkan di atas, salah satu basic welfare adalah terpenuhinya jaminan hari tua atau dalam istilah Jamsostek disebut sebagai JHT. Hal ini sebenarnya merupakan bagian dari perencanaan keuangan. Seseorang yang mulai bekerja, misalnya, selain mencari penghasilan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, tentu harus melakukan investasi dan menabung untuk hari tua. Tujuannya agar pada hari tua, orang tidak menderita.

Program JHT yang dikelola Jamsostek sebenarnya memiliki landasan berpikir seperti itu, yakni membantu agar para pekerja tidak menderita pada hari tua. Oleh karena itu, setiap bulan sebagian penghasilan dari pekerja disisihkan untuk membayar iuran JHT, di mana setelah pekerja memasuki usia pensiun, seluruh iuran JHT tersebut berikut imbal hasilnya diserahkan kembali kepada si pekerja. Dengan kata lain, peran Jamsostek adalah mengelola dana para pekerja dan mengadministrasikannya sekaligus memberikan perlindungan bagi pekerja.

Banyak kalangan belum memahami hal tersebut karena berbagai alasan. Iuran Jamsostek, misalnya, tidak sepenuhnya menjadi beban pekerja. Saat ini, berdasarkan ketentuan, iuran JHT Jamsostek adalah sebesar 5,7 persen dari penghasilan si pekerja. Namun, yang menjadi beban pekerja hanya 2 persen, sedangkan 3,7 persen lagi menjadi tanggung jawab perusahaan pemberi kerja.

Bagi sementara orang, angka 2 persen itu bisa dianggap beban. Demikian juga dengan perusahaan pemberi kerja. Kewajiban yang 3,7 persen dianggap menambah biaya perusahaan. Sekali lagi, pandangan seperti ini bukan saja menyesatkan, tetapi juga bisa disebut sebagai missresponsibility, alias tidak bertanggung jawab

Dana titipan.

Iuran yang 2 persen dari pekerja sebenarnya merupakan dana titipan yang akan mereka nikmati pada masa tua. Jadi, persis seperti menabung. Bagi perusahaan, kendati membayar 3,7 persen, tentunya menjadi hal lumrah karena sudah sewajarnya perusahaan memberikan kesejahteraan bagi pekerjanya. Malah di sisi lain, jika kesejahteraan termasuk hari tua si pekerja sudah terjamin, tentunya diharapkan si pekerja bisa melakukan pekerjaan dengan lebih produktif.

Kalau iuran itu dititipkan ke Jamsostek untuk dikelola, apakah hasilnya akan baik? Dari data-data yang dikomunikasikan melalui surat kabar, kita melihat bahwa setiap tahun Jamsostek memberikan imbal hasil yang secara persentase malah jauh di atas tingkat bunga tabungan maupun deposito. Jadi, melalui lembaga semacam Jamsostek, iuran tersebut bisa mendapatkan imbal hasil lebih besar ketimbang si pekerja menabung sendiri di bank.

Jelas, sebenarnya untuk memperoleh jaminan keuangan pada hari tua, pekerja bisa menjadi peserta Jamsostek. Lebih dari itu, seorang pekerja yang menjadi peserta Jamsostek sejatinya juga mendapatkan perlindungan kesehatan. Jika sakit, mereka bisa mendatangi rumah sakit rujukan dan memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu, juga mendapatkan perlindungan kecelakaan kerja. Artinya, ketika sedang bekerja mengalami kecelakaan, maka akan mendapatkan santunan. Bahkan, juga mendapatkan jaminan kematian, semacam asuransi jiwa. Jika pekerja meninggal baik karena sakit maupun kecelakaan, ahli waris akan memperoleh santunan.

Ringkasnya, pencapaian kesejahteraan dasar, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan jaminan hari tua, sesungguhnya tidak selalu mesti dikelola sendiri. Menjadi peserta Jamsostek, berdasarkan undang-undang, mesti diikuti semua pekerja di negara ini.

Belakangan, malah terdengar bahwa setiap peserta Jamsostek yang memenuhi persyaratan bisa memperoleh bantuan uang muka perumahan. Jadi, kalau peserta Jamsostek hendak mengambil KPR dari bank, uang muka bisa dipinjam dari Jamsostek dengan bunga yang amat reñdah. Artinya, kebutuhan akan papan juga bisa terpenuhi.

KOMPAS

Sunday, May 23, 2010

Mengapa Harga Saham Naik-Turun?

Minggu, 23 Mei 2010 | 03:52 WIB


Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan

Pada tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pernah melewati level 3.000 dan merupakan level tertinggi sejak berdirinya BEI. Kenaikan IHSG sampai pada level 3.000 membuat berbagai pihak merasakan keuntungan dan menginginkan terus berlanjut. Bagi para ekonom maupun analis finansial, IHSG merupakan indikator utama ekonomi. Artinya, kenaikan IHSG menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang. Sebaliknya, penurunan IHSG menunjukkan adanya penurunan ekonomi pada masa mendatang.

Berbagai pihak mempunyai pendapat mengenai IHSG ini dan dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok IHSG akan melebihi 3.000 serta kelompok IHSG di antara 2.900 dan 3.000, tetapi kedua kelompok setuju IHSG meningkat dari IHSG pada akhir tahun 2009.

Sri Mulyani

Dalam dua minggu terakhir, kita menyaksikan bahwa harga saham di bursa turun dan naik. Tetapi, penurunan tajam dari level 3.000 sampai dengan level 2.800 merupakan penurunan yang dominan. Penurunan ini sempat dinyatakan disebabkan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pihak tertentu terlalu memaksakan alasan ini.

Namun, penurunan IHSG bukanlah seutuhnya karena mundurnya Menteri Keuangan, bahkan oleh faktor eksternal yang sangat berpengaruh. Faktor eksternal yang sangat berpengaruh karena bursa New York menurun tajam juga pada periode dua minggu terakhir dan tepatnya ketika pengumuman Menteri Keuangan mundur dari jabatan tersebut.

Pada sisi lain, ada problem di Yunani

yang sangat memengaruhi negara-negara Eropa. Jerman harus turun tangan untuk membereskan persoalan Yunani tersebut dengan memberikan bantuan pinjaman.

Sesuai dengan uraian tersebut, kenaikan atau penurunan IHSG disebabkan kenaikan atau penurunan harga saham perusahaan yang terdaftar di bursa tersebut. Jika harga saham perusahaan tersebut naik secara keseluruhan, IHSG akan naik. Demikian juga jika harga saham perusahaan turun secara keseluruhan, IHSG turun. Bila harga saham yang naik seimbang dengan harga saham yang turun, IHSG akan tidak naik dan turun. Hal itu disebut stagnan atau berfluktuasi sekitar level tersebut.

Faktor internal

Kenaikan dan penurunan harga saham bisa diakibatkan faktor internal perusahaan dan faktor eksternal perusahaan. Faktor internal perusahaan merupakan informasi yang berasal dari perusahaan. Adapun kenaikan laba bersih perusahaan merupakan faktor yang membuat harga saham naik.

Kenaikan laba bersih ini tidak terlepas dari usaha manajemen perusahaan melakukan tindakan ekspansi atau meningkatkan pendapatan perusahaan. Biasanya, informasi dari perusahaan yang membuat harga saham naik akan diinformasikan secepatnya. Tetapi, informasi yang membuat harga saham perusahaan turun umumnya ditutup-tutupi oleh perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus transparan agar investor mengetahui dan dapat menilai harga saham guna membuat keputusan atas saham tersebut.

Perusahaan selayaknya membuat publik ekspose yang tidak diwajibkan oleh regulator. Keterbukaan yang tidak disyaratkan regulator ini dikenal dengan keterbukaan voluntir (voluntary disclosure). Umumnya, perusahaan yang melakukan voluntary disclosure mempunyai harga saham yang lebih stabil dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan voluntary dislcosure.

Menurut penelitian, perusahaan yang mempunyai informasi bagus akan diumumkan secepatnya dan perusahaan yang mempunyai informasi jelek akan diumumkan paling lama. Hal ini dapat terlihat pada pengumuman laporan keuangan perusahaan yang harus diumumkan paling lambat tanggal 31 Maret untuk periode tahun sebelumnya.

Perusahaan yang mempunyai laporan keuangan bagus akan mengumumkan atau melaporkannya kepada badan pengawas bursa, bahkan bursanya sendiri secepatnya sekitar awal bulan Februari. Sedangkan perusahaan yang mempunyai laporan keuangan yang kurang bagus akan mengumumkannya pada akhir periode persyaratan yang diinginkan peraturan oleh regulator. Faktor internal ini merupakan faktor yang bisa dikendalikan perusahaan sehingga manajemen perusahaan mencoba melakukan pengendaliannya untuk kepentingan perusahaan

Faktor eksternal

Faktor eksternal juga merupakan faktor penting dalam membuat penurunan atau kenaikan harga saham di bursa. Faktor eksternal merupakan faktor yang tidak bisa dikendalikan perusahaan sehingga sering disebut dengan systematic risk bila risikonya muncul karena faktor eksternal tersebut.

Faktor eksternal dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu faktor eksternal yang datang dari dalam negeri dan faktor eksternal dari luar negeri. Faktor eksternal ini seperti kebijakan pemerintah dan juga hukum permintaan serta penawaran atas harga barang-barang yang ditunjukkan inflasi dan juga valuta asing.

Salah satu faktor eksternal yang cukup dominan memengaruhi bursa adalah tingkat bunga. Tetapi, kebijakan pemerintah tentang utang juga bisa memengaruhi bursa. Penurunan bursa lain, baik bursa regional (yang terdekat) maupun bursa negara-negara maju, seperti New York dan London, juga memengaruhi harga saham. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa Bursa Efek Indonesia berkointegrasi dengan bursa-bursa tersebut.

Investor harus memerhatikan gejolak pasar di berbagai negara dan kebijakan yang diambil pemerintah maupun pemerintah negara-negara maju yang mengakibatkan harga saham mengalami perubahan. Sering kali faktor eksternal lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan faktor internal perusahaan.

KOMPAS

Sunday, May 16, 2010

I N V E S T A S I: Investasi Kreativitas

Minggu, 16 Mei 2010 | 03:59 WIB

ELvyn G Masassya, praktisi keuangan

Benar, sebagian kalangan beranggapan bahwa yang namanya investasi mesti bermodalkan uang. Tidak salah memang. Namun, sangat keliru jika investasi semata-mata menyangkut uang. Berapa pun dana yang dimiliki dan diinvestasikan, jika tidak diikuti dengan strategi dan kreativitas, dana tersebut bisa hilang. Di sisi lain, seseorang yang tidak memiliki uang bisa menghasilkan uang jika mampu melakukan investasi kreativitas.

Anda tentu pernah mendengar sebuah grup musik yang berhasil menjual ratusan ribu keping CD dan jutaan pengguna nada sambung pribadi atau ring back tone (RBT) memakai lagu mereka. Sejak itu, grup tersebut menjadi salah satu grup musik yang bukan saja terkenal, tetapi juga kaya raya. Kenapa bisa begitu? Karena mereka telah melakukan investasi kreativitas.

Contoh lain, Anda tentu juga mengetahui seorang penulis novel yang bukunya terjual ratusan ribu kopi dan bahkan buku tersebut dijadikan film. Dampaknya, sama seperti grup musik di atas, sang penulis buku menjadi sangat populer dan juga memperoleh pendapatan luar biasa. Ini juga karena yang bersangkutan melakukan investasi kreativitas.

Jadi, ini sekaligus membuktikan bahwa yang namanya investasi bukan sekadar dalam bentuk penanaman dana. Pertanyaannya, bagaimana melakukan investasi kreativitas sehingga ”imbal hasil” investasinya tidak berbeda jauh dengan investasi konvensional.

Ubah cara pandang

Pertama, mengubah penafsiran tentang investasi dan biaya. Bagi perusahaan, investasi dan biaya ini sangat jelas bedanya. Sebuah perusahaan yang hendak membangun pabrik, misalnya, akan menyebutkan pabrik tersebut sebagai investasi dan kemudian perusahaan memperlakukannya sebagai penanaman modal. Namun, jika perusahaan tersebut hanya akan menyewa pabrik, maka itu diperlakukan sebagai biaya.

Nah, dalam kaitan dengan investasi kreativitas, cukup banyak kalangan yang beranggapan bahwa pengeluaran uang untuk suatu kegiatan dianggap sebagai biaya. Misalnya, anak Anda menyukai musik, lalu minta dibelikan alat musik. Pernahkah Anda berpikir bahwa alat musik yang Anda belikan itu, jika dipergunakan secara baik, akan membuat anak Anda mahir bermusik dan kemudian suatu ketika bisa menjadi musisi terkenal?

Ketika itu terjadi, dana yang sudah Anda keluarkan untuk membeli alat-alat musik bukanlah biaya, melainkan semacam ”capital expenditure” yang menjadi bagian dari investasi kreativitas. Ringkasnya, untuk bisa memahami investasi kreativitas, ubah dulu cara pandang tentang biaya dan investasi itu sendiri.

Kedua, melakukan perencanaan investasi kreativitas. Coba cek potensi apa yang ada dalam diri Anda dan atau anak Anda yang selama ini sekadar dianggap sebagai hobi. Misalnya, Anda suka berkebun bunga, memodifikasi kendaraan bermotor, melukis, menulis, dan bernyanyi. Semua kesukaan tersebut jika dikelola dan direncanakan secara sistematis bisa menjadi investasi kreativitas yang muaranya adalah memberikan imbal hasil finansial.

Ambil contoh, kesukaan Anda adalah berkebun. Awalnya, Anda mungkin hanya ingin menanam berbagai jenis bunga untuk selanjutnya sekadar dinikmati keindahannya. Namun, untuk melakukan hal tersebut, Anda mesti meluangkan waktu, mulai dari mencari bibit, mencari pupuk, menyirami, hingga menggunting.

Semua kegiatan itu Anda lakukan karena ingin mendapatkan kesenangan dan kegembiraan. Namun, di sisi lain, Anda juga mengeluarkan dana yang mungkin jumlahnya cukup besar. Kalau Anda penggemar bunga anggrek, mungkin Anda akan mencari bibitnya di daerah tertentu atau malah ke luar negeri. Coba semua hal tersebut direncanakan dan dikelola bukan sebagai kesenangan, melainkan investasi kreativitas, hasilnya sangat mungkin tidak hanya kesenangan, tetapi juga manfaat finansial.

Bagaimana caranya? Untuk berkebun bunga, contohnya. Jika Anda penggemar bunga yang sangat fanatik semestinya menyukai berbagai jenis bunga. Bunga-bunga yang Anda sukai itu, jika ditanam dengan benar, dirawat dengan standar terbaik, suatu ketika hasilnya bisa dijual dan bahkan bisa menutupi seluruh pengeluaran Anda. Tentu saja, untuk bisa melakukan semua itu, Anda juga dituntut memahami seluk-beluk berkebun bunga, memasarkannya, dan memperlakukan kebun bunga Anda sebagai bisnis yang berbasis hobi.

Ketiga, membangun komunitas investor kreativitas. Artinya, Anda sebagai, apakah itu penggemar kebun bunga, pelukis, penggemar modifikasi mobil, dan atau penggemar apa pun, sebaiknya membangun jejaring di bidang yang sama. Kenapa? Melalui jejaring, kreativitas akan terus tertantang, akan memperoleh informasi baru, dan bahkan cara-cara baru dalam melakoni kreativitas.

Kreativitas dan bisnis

Muaranya, semua itu akan memudahkan Anda untuk mengonversi investasi kreativitas dimaksud menjadi suatu bisnis yang menyenangkan. Bahkan, kerap kali, transaksi bisnis bisa terjadi di antara anggota komunitas. Misalnya, Anda memiliki jenis bunga langka yang dicari banyak kalangan. Dengan mudah biaya yang telah Anda keluarkan untuk memperoleh bunga tersebut akan kembali ketika teman-teman Anda, para anggota komunitas, ramai-ramai membelinya dari Anda.

Intinya, investasi kreativitas bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan profesi apa saja, atau malah memfokuskan diri dalam aktivitas yang berdasarkan kreativitas sehingga disebut sebagai pekerja kreatif. Intinya, aktivitas yang berbasis kesenangan itu sebenarnya merupakan investasi, bukan sekadar pengeluaran biaya, jika dijalankan dengan cara yang benar. Investasi kreativitas juga merupakan salah satu cara menuju kebebasan finansial.

KOMPAS

Sunday, May 9, 2010

INVESTASI: Harga dan Volume Transaksi

Minggu, 9 Mei 2010 | 03:47 WIB

Oleh Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Dua minggu lalu telah dibahas mengenai pola harga saham yang dapat dipergunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan.

Pembahasannya tidak berkait dengan variabel lain atau volume transaksi saham tersebut. Tulisan kali ini akan mengaitkannya dengan volume transaksi.

Volume transaksi adalah jumlah saham yang ditransaksikan. Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan satu lot sebanyak 500 saham. Pembahasan pola harga saham dengan volume transaksi di BEI atau bursa mana pun, terlebih dahulu dibahas mengenai level pendukung (supporting level) dan level penahan (resistance level).

Level pendukung adalah level harga atau juga indeks yang menyatakan bahwa pada level tersebut akan banyak investor membeli saham. Artinya, volume pembelian sangat banyak sehingga harga saham tidak mungkin turun karena begitu besarnya investor yang akan membeli pada level harga tersebut. Adapun penentuan level tersebut disebabkan oleh adanya seni teknis yang dilakukan pada pola saham sehingga ditemukan level tersebut.

Bila level pendukung tersebut dapat dipecahkan, itu akan menuju level harga terendah untuk berikutnya. Kejadian ini sering terjadi karena harga saham yang telah mencapai level terendah akan terus menuju level terendah berikutnya dan akan berlanjut apabila tidak ada yang mendukung harga atau tidak adanya investor yang membuat pembelian yang cukup besar.

Seni teknis

Selanjutnya, level penahan, yaitu level harga atau juga indeks yang menyatakan bahwa harga saham akan sulit naik ke level harga tertinggi berikutnya dikarenakan banyaknya investor yang menjual pada harga tersebut. Penentuan level penahan ini juga seperti pada penentuan level pendukung, yaitu menggunakan seni teknis. Bila terjadi juga pembelian besar-besaran dan bisa menembus penjualan yang sangat besar, harga saham akan menuju level tertinggi berikutnya.

Level harga pendukung dan penahan tersebut ditentukan dengan berbagai cara dan seni yang dimiliki para analis teknis. Pendekatan paling sederhana dengan menghubungkan nilai terendah yang terdekat pada periode terakhir serta periode waktu sehingga ditemukan nilai level harga terendah. Demikian juga level harga penahan, yaitu menghubungkan dua level tertinggi dan menarik garis lurus serta waktu sehingga ditemukan level harga penahan. Informasi ini dipergunakan analis atau investor untuk melakukan pembelian dan penjualan saham.

Konsep harga level pendukung dan harga level penahan merupakan konsep pengembangan dari penawaran dan permintaan. Bila permintaan lebih besar dari penawaran, harga tersebut akan lebih tinggi. Harga saham tidak mungkin naik bila permintaan pada saham tersebut tidak mengalami kenaikan. Artinya, bila volume transaksi terus meningkat dan volume pembelian menuju harga yang lebih tinggi, harga terus meningkat. Artinya, harga saham yang terjadi telah dikaitkan dengan volume transaksi saham.

Harga saham yang meningkat dengan dukungan volume transaksi yang meningkat membuat harga tersebut akan tidak rapuh atau penurunannya tidak sedrastis pada harga saham lain. Bila harga saham meningkat dengan volume transaksi yang kecil, ada kemungkinan harga saham tersebut akan drop tajam, seperti kenaikan harga saham yang tidak didukung volume transaksi. Ada beberapa saham yang diperdagangkan di BEI mempunyai kecenderungan harga yang terus naik, tetapi tidak didukung volume transaksi yang besar pula.

Informasi

Investor melakukan transaksi dagang atau bermain saham di bursa, maka investor perlu mendapatkan data agar informasi yang dimiliki investor lengkap. Dengan demikian, pengambilan keputusan menggunakan dasar informasi tersebut. Informasi tersebut masih sangat sederhana, tetapi memberikan indikasi kepada investor untuk bertransaksi saham. Data ini bisa diperhatikan investor melalui order yang ditunjukkan pada komputer harga di broker. Bila investor sudah menggunakan data ini, investor juga sudah melakukan tindakan pengambilan keputusan yang sedikit lengkap.

Sebaiknya investor melakukan transaksi saham, baik membeli maupun menjual, dengan memerhatikan volume transaksi saham pada harga yang diinginkan. Bila harga saham mengalami kenaikan atau penurunan dengan volume transaksi yang kecil, sebaiknya investor menghindarinya. Bila investor mengikuti irama pemain saham tersebut, kemungkinan yang terjadi adalah investor mengalami kerugian dalam jangka pendek atau keuntungan dalam jangka panjang.

Selanjutnya, level pendukung bisa menjadi level penahan dan sebaliknya level penahan berubah menjadi level pendukung pada masa mendatang. Bila awalnya level pendukung harga yang terjadi dan terjadi tekanan jual sehingga memecahkan level harga pendukung menuju harga terendah berikutnya. Bila harga berbalik dari level terendah tersebut, level pendukung awal sebelumnya menjadi level penahan. Demikian juga bila awalnya level penahan dan dorongan pembelian sangat besar sehingga memecahkan level penahan menuju level harga tertinggi berikutnya. Harga saham kembali turun karena faktor lain, maka level penahan tersebut menjadi level pendukung karena harga saham sedang turun.

Investor juga harus hati-hati dalam membeli atau menjual saham dengan menggunakan analisis teknis ini. Investor ingin mendapatkan keuntungan, tetapi investor juga harus siap

rugi. Investor yang memiliki dana dan risiko tetap pada investor dan tulisan ini hanya menguraikan untuk membantu investor agar tidak mengalami kerugian yang tajam.

KOMPAS

Sunday, May 2, 2010

INVESTASI: Investasi Aktif

Minggu, 2 Mei 2010 | 02:55 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi Keuangan

Apa yang sebaiknya dilakukan seorang investor setelah menentukan investasi pilihannya? Ada beberapa pilihan. Misalnya, mendiamkan saja investasi tersebut dalam kurun waktu tertentu dengan harapan investasi yang sudah dilakukan akan memberikan imbal hasil yang tinggi. Contohnya, membeli tanah di sebuah lokasi. Beberapa tahun kemudian, harga tanah tersebut akan mengalami peningkatan.

Demikian juga ketika seseorang membeli saham, baik itu saham perusahaan secara langsung, maupun saham di pasar modal. Setelah dibeli, saham tersebut dibiarkan saja, kendati harganya naik ataupun turun. Baru setelah beberapa tahun kemudian, saham tersebut dijual, dengan ekspektasi harganya sudah meningkat. Ini disebut dengan investasi pasif.

Namun, dalam realitasnya, yang terjadi bisa bertolak belakang dengan harapan. Harga tanah yang sudah dibeli, misalnya, boleh jadi mengalami penurunan. Kenapa? Karena tanah tersebut akan digusur. Demikian juga dengan saham suatu perusahaan. Karena perusahaan tidak berprestasi, harga saham terus menurun. Dan, ketika pembiaran terjadi, ujung-ujungnya, harga saham tersebut malah semakin menurun. Oleh karena itu, untuk menghindari hal semacam itu, perlu dipertimbangkan investasi aktif.

Investasi aktif adalah investasi yang dikelola secara aktif oleh seorang investor terhadap seluruh portofolio investasi yang dimilikinya. Katakanlah investasi di pasar modal. Atau lebih spesifik lagi investasi di saham. Pembelian saham dimaksud, mestinya memiliki peruntukan dan jangka waktu investasi (time horizon) yang berbeda, yakni untuk yang berjangka menengah panjang dan jangka pendek. Jangka menengah panjang umumnya di atas 1 tahun, sedangkan jangka pendek adalah di bawah 1 tahun.

Setelah menentukan jumlah dana untuk setiap jangka waktu investasi, langkah berikutnya adalah memilih saham-saham dan tindakan yang akan dilakukan terhadap setiap saham tersebut. Mengenai pilihan saham, seorang investor aktif mesti menentukan sendiri sektor yang akan dimasuki sesuai dengan keyakinan. Dan, pilihan sektor ini bisa berbeda dengan kondisi pasar. Artinya, kalau di pasar, sektor yang memiliki kapitalisasi terbesar adalah sektor A, seorang investor aktif tidak mesti menempatkan dana terbesarnya di sektor A, tetapi bisa saja di sektor B, C, atau D. Dengan kata lain, pilihan sektor dapat berbeda dengan kebanyakan investor lainnya.

Dalam praktiknya, seorang investor aktif akan menempatkan dananya pada saham yang berbeda sektor, di mana pilihan sektor-sektor tersebut bersifat sangat individual.

Langkah berikutnya adalah menentukan pilihan saham pada setiap sektor. Dalam satu sektor biasanya terdiri atas beberapa emiten yang skala usahanya berbeda dan saling berkompetisi satu sama lain. Investor boleh memilih beberapa saham dalam sektor yang sama.

Risiko

Apakah ini tidak berisiko? Jelas ada risikonya. Kalau kondisi ekonomi tengah mengalami penurunan dan kemudian memukul sektor tersebut, sangat mungkin kinerja semua emiten di sektor itu akan terpengaruh. Tetapi, jika sektor tersebut berkembang, semua emiten yang ada di situ juga akan menghasilkan kinerja cemerlang. Selanjutnya, harga sahamnya meningkat.

Di sisi lain, bisa juga terjadi persaingan usaha antaremiten semakin ketat. Ada yang kinerjanya merosot, ada juga yang mencorong. Dus, kalau investor bersikap aktif, saham yang kinerjanya merosot bisa dilepas dan dana dipindahkan ke emiten yang lebih unggul. Tentu saja untuk bisa melakukan hal semacam ini, investor mesti memantau perkembangan kinerja dari emiten-emiten secara rutin dan melakukan reaksi secara cepat terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Langkah aktif lainnya adalah melakukan perdagangan saham secara harian atau mingguan. Hal ini khususnya terhadap investasi saham yang jangka waktu investasinya di bawah 1 tahun. Artinya, investor boleh melakukan jual beli saham setiap saat, bahkan setiap hari. Dengan kata lain, saham yang dibeli dipegang dalam kurun waktu 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, atau malah 1 hari saja. Inilah yang disebut dengan perdagangan saham aktif. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga keahlian. Investor mesti mengetahui kondisi fundamental dari masing-masing emiten. Lalu mempelajari karakteristik pasar dan perilaku investor lainnya. Investor juga mesti memiliki data pergerakan harga dari setiap saham yang akan dibeli dan atau dijual.

Hal yang dipaparkan di atas hanyalah sekelumit pengertian investasi aktif di pasar saham. Hal yang sama juga bisa dilakukan di investasi sektor riil. Dalam investasi tanah, misalnya. Seorang investor aktif akan melakukan riset terlebih dahulu tentang kemungkinan perkembangan di sekitar tanah dimaksud. Dan, setelah tanah dibeli, riset tetap dilakukan. Lalu, berdasarkan informasi yang diperoleh, seorang investor aktif bisa saja membeli lagi tanah lain di sekitar tanah yang sudah dibeli. Karena bisa saja muncul perkembangan yang akan terjadi di lokasi tersebut. Misalnya, akan ada pembangunan. Ini jelas akan mendongkrak harga. Sebelum pembangunan terjadi, seorang investor aktif akan mencuri start dengan menambah investasi tanah di sekitar lokasi dimaksud.

Simpulannya, bukanlah hal sulit untuk menjadi investor aktif. Persyaratannya hanyalah kemauan untuk meluangkan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja keberanian mengambil risiko. Tetapi, potensi keuntungan yang diperoleh lazimnya juga akan lebih besar ketimbang sekadar menjadi investor pasif.

KOMPAS

Sunday, April 25, 2010

Pola-pola Harga Saham

Minggu, 25 April 2010 | 04:27 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Dua minggu lalu telah dibahas mengenai pergerakan harga saham yang dibuat dalam bentuk chart (grafik). Berdasarkan grafik tersebut investor dapat mengambil keputusan untuk membeli atau menjual saham. Selanjutnya, investor akan bertanya, apakah hanya itu saja yang dapat digambarkan oleh pergerakan harga saham? Apakah tidak ada informasi lain yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan? Mengingat investor ingin membeli saham dan memperoleh keuntungan di masa mendatang.

Pola (pattern) pertama yang sering kita lihat bahwa harga saham tersebut mempunyai kecenderungan menurun dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada pola ini harga saham tersebut mengalami drop tajam sampai sekitar 20 persen sampai dengan 30 persen dari harga sebelumnya dan kemudian naik lagi sebesar 10 persen sampai 25 persen dari harga sebelumnya. Harga tersebut terus juga mengalami penurunan seperti uraian sebelumnya sehingga terjadi pola yang menurun dalam jangka waktu panjang maupun pendek.

Pola kedua yang juga ditunjukkan adalah harga saham tersebut berfluktuasi mengalami peningkatan dari harga sebelumnya sampai pada level tertentu, baik terjadi dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Kenaikan yang dilihat secara jangka panjang bukan menyatakan bahwa harga saham tersebut tidak mengalami penurunan. Penurunan terjadi juga.

Biasanya, manusia yang kegemukan juga tidak baik karena ada kemungkinan menimbulkan penyakit. Harga saham juga demikian. Bila terus mengalami kenaikan juga tidak bagus karena harga yang terjadi bukan karena harga wajar, melainkan terjadi harga yang menggelembung (buble). Investor yang belakangan membeli akan mengalami kerugian bila harga drop tajam dari harga yang dibeli investor pada saat harga ketinggian. Investor melakukan pembelian ketika harga naik dan menjualnya ketika harga berfluktuasi turun dan tindakan ini dilakukan berulang-ulang sehingga investor mengalami keuntungan.

Pola ketiga, harga saham tersebut berfluktuasi pada level harga tertentu dan tidak bergerak naik atau turun kepada level yang lain. Artinya, harga saham tersebut mengalami penurunan sedikit dan naik lagi pada posisi semula. Kemudian harga tersebut naik lagi sekitar 5 persen dan turun kembali pada posisi semula sehingga harga saham tersebut kelihatan stationer pada harga tertentu.

Investor yang smart bisa mengalami keuntungan pada pola harga ini. Investor melakukan pembelian pada level harga keseimbangan dan menjualnya pada saat naik 5 persen. Bila harga mempunyai kecenderungan turun, investor melakukan penjualan dan membeli kembali di harga lebih yang dilaksanakan pada satu hari. Artinya, pembelian dan penjualan dilakukan pada hari yang sama dan sering disebut dengan teknik netting dan dimungkinkan terjadi di sekuritas tempat investor bertransaksi. Kelihatannya bursa tutup mata akan hal ini.

Selanjutnya, investor juga bisa melihat pola jangka pendek, yaitu pola terjadi dua titik puncak. Harga saham tersebut mengalami kenaikan sampai pada level harga tertentu dan turun kembali pada level tertentu dan naik lagi sampai pada level tertinggi sebelumnya.

Artinya, pola harga terjadi pada dua puncak untuk periode yang pendek. Pola ini juga terjadi pada harga yang turun dengan dropnya harga atau juga turun secara perlahan sampai pada level tertentu dan naik pada level tertentu dan kembali turun sampai pada level terendah sebelumnya dan kembali naik terus sehingga terjadi dua level terendah yang sama posisinya.

Pada dua pola ini investor bisa mengambil keuntungan dengan melakukan tindakan transaksi dagang (trading) saham. Pola ini kerap dilakukan oleh investor yang masih muda karena fluktuasinya harga, sementara investor yang berumur tidak layak melakukan transaksi ini.

Pola sebelumnya menceritakan adanya dua level tertinggi dan terendah. Harga saham juga mempunyai kemungkinan tiga level tertinggi atau terendah, bahkan bisa sampai empat level. Investor bisa memanfaatkan level harga tersebut untuk mendapatkan keuntungan dan menikmati bermain saham.

Pola ”manusia”

Investor juga bisa melihat terjadi pola harga yang membentuk bukit kecil dan kemudian bukit besar dan bukit kecil. Pola ini sama seperti pola manusia bagian atas. Polanya membentuk bahu (shoulders) kemudian bentuk kepala (head) dan kemudian pola bahu. Pola ini dikenal dengan pola shoulders head shoulders (SHS) pada analisa teknis. Investor akan memperoleh keuntungan yang cukup besar bila bisa memahami pola harga saham ini.

Investor mulai membeli saham pada harga ketika shoulders sudah terjadi. Harga saham mengalami peningkatan dan kembali agak turun membentuk penurunan dan investor mengambil tindakan menjual saham. Jika harga saham tersebut sudah mencapai level harga yang terendah pada pola bahu sebelum pola kepala terjadi, investor kembali membeli dan naik sedikit investor melakukan tindakan jual sehingga investor mengalami keuntungan.

Harga saham juga bisa membentuk seperti kuali penggorengan yang tidak begitu tinggi. Pola ini dikenal dengan saucers bisa terbuka ke atas atau terbuka ke bawah. Bila saucers terbuka ke atas, posisi harga mengalami penurunan dan kemudian naik. Investor harus membeli ketika sudah terendah dan kelihatannya cenderung naik sehingga investor mengalami keuntungan. Bila saucers terbuka ke bawah, sama seperti kuali ditelungkupkan sehingga harga cenderung naik dan turun kembali. Investor harus membeli ketika harga naik dan menjualnya ketika harga masih posisi melandai atau mengalami penurunan.

Adanya pemahaman pola harga dalam jangka pendek maupun jangka panjang membuat investor bisa mengambil keputusan pada pola harga saham tersebut. Investor tidak bisa meninggalkan begitu saja saham yang dibeli dan tidak dipantau secara saksama. Investor harus mempunyai waktu yang cukup bila menggunakan pola harga saham yang diuraikan sebelumnya. Risiko juga pasti dijumpai investor ketika melakukan transaksi saham pada berbagai pola yang diuraikan. Tetapi, kehati-hatian investor sangat dibutuhkan agar terjadi keuntungan. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

Sunday, April 18, 2010

I N V E STAS I: Berusaha dalam Musik

Minggu, 18 April 2010 | 04:22 WIB

Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Jika Anda termasuk penggemar musik dan kerap membeli CD atau kaset atau pengguna RBT, boleh jadi Anda sering kebingungan menghafal nama-nama penyanyi atau grup band baru. Sejak beberapa tahun belakangan, industri musik Indonesia kebanjiran artis baru. Hampir setiap hari ada CD atau kaset yang beredar.

Industri musik telah membius banyak kaum muda sebagai wilayah profesi yang menjanjikan.

Seiring dengan perkembangan musik yang demikian dahsyat, bermunculan pula berbagai perusahaan rekaman indie.

Pertanyaannya, apakah perusahaan semacam itu bisa sukses? Apakah menanamkan dana dalam industri musik bisa dianggap sebagai investasi?

Industri musik pada dasarnya bisa dikategorikan menjadi dua area besar, yakni industri musik panggung dan industri musik rekaman. Untuk industri musik panggung, artis penyanyi mendapatkan kontrak untuk show. Dalam hal ini, yang mendapatkan kontrak bisa hanya si artis, bisa juga berikut band pengiring. Dan dewasa ini sudah cukup banyak kalangan yang menjalankan bisnis entertainment semacam ini, mulai dari menjadi agen artis atau sekaligus menyediakan segala sesuatu yang menyangkut industri musik panggung.

Untuk industri rekaman, prosesnya relatif lebih panjang. Seorang artis penyanyi yang akan membuat album rekaman harus menyiapkan lagu yang akan dinyanyikan. Untuk itu, produser sang artis mesti membeli lagu dari pencipta lagu. Kemudian, lagu yang terpilih mesti dibuatkan aransemen oleh penata musik. Bisa saja seluruh lagu diaransemen oleh penata musik yang sama, tetapi bisa juga satu lagu untuk satu penata musik.

Penata musik

Untuk mengaransemen lagu, penata musik membutuhkan pemain gitar, bas, keyboards, drum, dan lainnya. Ini tentu ada biayanya. Proses pembuatan aransemen lagu dilakukan di studio rekaman. Keseluruhan proses produksi album tersebut tentu memakan biaya dan waktu yang cukup panjang. Setelah lagu selesai diaransemen dan dinyanyikan, masih ada proses mixing dan mastering, yakni semacam sentuhan akhir agar musik bisa terdengar lebih halus, bersih, dan sesuai dengan karakter lagu. Semua proses tersebut disebut dengan pembuatan master rekaman.

Pada tahap berikutnya, produser mesti melakukan duplikasi atau memperbanyak rekaman itu menjadi CD dan kaset yang siap edar. Agar CD tersebut menarik perhatian, tentu mesti didesain, baik untuk informasi maupun penciptaan daya tarik visual bagi yang melihat CD tersebut. Setelah itu, barulah CD dicetak dan siap untuk didistribusikan.

Apakah ada jaminan bahwa CD tersebut akan laku di pasar? Sama sekali tidak ada. Kendati musik merupakan kebutuhan bagi semua orang, tapi kadar kebutuhannya bisa berbeda. Ada yang sekadar mendengar musik dari radio atau televisi, tetapi ada juga yang ingin memiliki CD/kaset dari penyanyi. Oleh karena itu, CD dan kaset dari penyanyi baru mesti dipromosikan agar dikenal oleh masyarakat.

Promosi bisa menggunakan jalur radio, televisi, surat kabar, majalah, dan pertunjukan dari si artis. Dalam praktiknya, biaya yang dikeluarkan produser untuk promosi bisa lebih besar ketimbang biaya pembuatan master rekaman.

Jadi, seorang produser musik rekaman mesti melakukan investasi untuk membayar artis, membayar pencipta lagu, membayar penata musik, menyewa studio rekaman, membayar biaya mixing dan mastering, membiayai proses reproduksi atau duplikasi dari CD dan kaset, serta menanggung biaya promosi artis.

Kembalinya investasi

Bagaimana investasi tersebut bisa kembali? Ada tiga sumber. Pertama, dari hasil penjualan CD/kaset. Pada masa lalu ada penyanyi yang CD atau kasetnya laku sampai jutaan keping. Tetapi, dewasa ini sangat sulit untuk bisa menjual CD/kaset sampai jutaan keping. Bisa laku ratusan ribu atau malah puluhan ribu saja sudah sangat hebat. Kenapa demikian? Karena saat ini banyak sekali artis bermunculan sehingga di antara mereka terjadi persaingan yang ketat. Lebih dari itu, lagu-lagu si artis diputar di berbagai radio sehingga para penikmat musik lebih suka mendengarkan lewat radio dan belum tentu mau membeli CD/kaset dari si artis.

Kedua, ring back tone (RBT). Inilah alternatif baru dalam industri musik yang berkembang pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Para pengguna telepon mengunduh lagu yang disukainya dan menjadikannya sebagai nada sambung pribadi.

Sebuah lagu yang disukai bisa diunduh oleh jutaan pengguna telepon seluler. Dan pendapatan yang diperoleh seorang produser serta artis dari bisnis RBT ini bisa jauh lebih tinggi dibandingkan hasil penjualan CD.

Ketiga, pertunjukan. Ketika artis mulai beranjak populer, biasanya akan ada permintaan untuk show yang dilakukan di daerah-daerah. Untuk show tersebut artis dan produser selaku manajemen pengelola artis akan memperoleh pendapatan. Bayangkan, jika dalam sebulan ada empat kali penampilan, dan honor sekali tampil adalah Rp 10 juta, maka akan diperoleh Rp 40 juta. Apalagi, jika sekali tampil dibayar sebesar Rp 30 juta-Rp 40 juta, maka perolehan honor show bisa di atas pendapatan hasil penjualan CD.

Apakah semua artis dan produser bisa meraup pendapatan sebagaimana dipaparkan di atas? Jelas tidak. Dalam realitasnya, bisa disebut, artis dan produser yang sukses dalam industri musik rekaman hanya 10 persen dari total pelaku. Kenapa demikian? Karena yang namanya seni musik sangat bergantung pada selera pasar. Album rekaman dan artis yang akan sukses adalah yang mampu memenuhi selera pasar.

KOMPAS

Saturday, April 17, 2010

PROFIL USAHA: Maju dengan Sekolah Bloger

Sabtu, 17 April 2010 | 03:45 WIB


Stefanus Osa Triyatna

Mungkin agak aneh terdengar, kalau bikin blog mesti ada sekolahnya. Akan tetapi, itulah bisnis blog yang dijadikan peluang oleh Asri Tadda, pemuda Luwu Timur, Sulawesi Selatan, untuk membangun semangat kewirausahaan mandiri tanpa harus memiliki kantor.

Kegetolan Asri Tadda (29) mampir di warung internet telah mengubah kehidupannya, bahkan mengubah arah cita-cita sebagai dokter sebagaimana diharapkan orangtuanya. Padahal, ke warung internet (warnet) itu dilakukan di sela-sela kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Alasan sulitnya membiayai kuliah membuat pemuda kelahiran Pabeta, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu memulai bisnis online sejak awal tahun 2007. Asri menekuni aktivitas online sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2005.

Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief ini, kegemarannya mampir di warnet bikin kesal keluarganya. Karena menekuni bisnis online, kuliahnya sempat tersendat-sendat. Namun, beginilah cara Asri membiayai kuliahnya.
Maklum, Asri mengaku hanyalah seorang pengelola petak pertambakan air asin dan penggiling gabah. Itulah modal untuk membiayai kuliahnya.

Padahal, di warnet itulah Asri menghabiskan waktunya membaca kisah-kisah sukses pengusaha besar. Sampai-sampai, dirinya tertarik untuk bisa berwirausaha. Syukur-syukur bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

”Dari membaca-baca, terutama informasi masalah sosial, saya menulis berbagai opini di surat kabar lokal,” kata Asri.

Awal tahun 2007 Asri mengenal bisnis blogging melalui program blog advertising. Perkenalannya dengan dunia blog dimulai dari aktivitas untuk menulis dan memublikasikan artikel, puisi, dan tulisan curahan hati alias curhat secara online pada media hosting blog gratis.

Karena rajin mencari informasi seputar bagaimana cara menghasilkan uang dari internet, akhirnya Asri menemukan titik terang dalam bisnis online hingga saat ini.

Asri mengakui, hambatan terbesarnya adalah keterampilan. Dia sama sekali tidak punya dasar pengetahuan tentang internet dan website sehingga awal perjalanan bisnis online-nya sangat lambat. Semua prosesnya otodidak.

”Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing,” kata Asri.

Hingga saat ini dia memiliki sekitar 200 blog dengan berbagai tema dan semuanya disajikan dalam bahasa Inggris. Meskipun sibuk, Asri menyempatkan diri meng-update blog-blog tersebut. Bahkan, dia punya target membuat 2-3 blog baru setiap bulan. Semua ini sebenarnya menjadi investasi bisnis online ke depan.

Bisnis serius

Sejak April 2009, Asri bersama rekan-rekannya di AstaMedia Group meluncurkan AstaMedia Blogging School pada bulan Maret 2009 di Makassar. Namun, sekolah itu baru diluncurkan secara resmi ke publik pada 16 Mei 2009.

Tujuannya adalah berbagi peluang mendapatkan penghasilan dan membuka lapangan pekerjaan alternatif, khususnya bagi generasi muda. Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu Blogging Basic untuk para pemula, Blogging Pro untuk mereka yang sudah fokus mengelola dan mengoptimalkan blog sebagai sumber penghasilan, dan Blogging for Professionals untuk mereka yang memiliki profesi tertentu, tetapi sangat ingin belajar blogging.

Asri menjamin, dalam masa maksimal tiga bulan setelah proses pendidikan dan pelatihan selesai, para siswa yang sudah lulus di Blogging Pro akan memiliki penghasilan dari blog-blog mereka. Apalagi, tenaga pengajarnya adalah para bloger senior yang sudah malang melintang dalam dunia blog advertising dan menghasilkan banyak uang dari blogging sehingga secara tidak langsung juga turut menumbuhkan motivasi bagi para siswa.

Target utama Blogging School ini adalah kalangan generasi muda. Namun, dirinya tidak menutup diri jika ada kalangan masyarakat umum. Saat ini ada sekitar 100 siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. 

Sebagian besar di antara mereka kini sudah berpenghasilan di atas 250 dollar AS atau Rp 2 juta per bulan.
”Memang, mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini adalah tantangan kami di AstaMedia Blogging School,” kata Asri, yang pernah juara kedua Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tingkat nasional tahun 2008.

Dapat dikenal

Pengetahuan blogging diharapkan dapat dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia dan menjadi lapangan kerja alternatif yang minim modal, tetapi dengan potensi yang sangat besar.

Asri mengakui, ada beberapa orang yang menyangsikan bisnisnya karena ilmu blogging sesungguhnya sudah sangat berlimpah di internet. Hanya saja, tidak semua orang bisa belajar tanpa pendampingan. Buktinya, tingkat kesuksesan AstaMedia Blogging School kini mencapai 85 persen. Artinya, hanya sekitar satu orang dari setiap kelas yang menemui hambatan berarti dalam mencapai penghasilan online.

Saat ini Asri mengatakan sudah menghasilkan 12 angkatan alumni Blogging Pro dan 20 angkatan tingkat dasar. Siswa di AstaMedia Blogging School memang diberikan jaminan, dalam masa maksimal tiga bulan akan mendapatkan penghasilan online dari blog. Hal ini sudah dibuktikan pada semua angkatan alumni.
Bahkan, sebagian besar dari siswa sudah menghasilkan uang dari blog mereka pada akhir bulan pertama masa belajar atau malah ketika sedang mengikuti pelajaran kelas.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, April 11, 2010

Analisis Teknis Awal di Bursa Saham

Minggu, 11 April 2010 | 04:04 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Apakah analisis teknis saham itu?

Bagaimana menggunakannya? Analisis teknis merupakan sebuah pendekatan untuk menilai (membeli atau menjual) saham di bursa tanpa menggunakan perhitungan matematis atau prospek perusahaan pada masa mendatang. Para pemain saham di bursa menggunakan pendekatan ini karena dianggap lebih sederhana daripada pendekatan lainnya.

Semua investor telah memahami bahwa informasi yang dimiliki perusahaan akan terefleksi pada harga saham. Harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan refleksi informasi yang ada pada perusahaan. Bila harga saham mengalami peningkatan, investor yang membeli saham memperoleh informasi yang cukup bagus mengenai perusahaan terebut. Sebaliknya, bila harga saham perusahaan di bursa menurun, informasi yang buruk dalam perusahaan sedang beredar dan sudah diterima investor. Adanya informasi perusahaan yang beredar bagi para investor atau di pasar membuat jumlah permintaan dan penawaran terhadap saham mengalami fluktuasi.

Teori Dow

Pendekatan ini dimulai oleh Charles Dow dan selanjutnya terkenal dengan teori Dow dan juga pendiri The Wall Street Journal. Dow membuat gambar (chart) atas semua harga saham tersebut dengan waktu yang panjang maka pengikut pendekatan ini dikenal sebagai Chartist Analyst.

Harga saham di bursa bisa pada satu hari hanya tiga jenis, yaitu harga penutupan, harga terendah, dan harga tertinggi. Harga penutupan adalah harga saham yang transaksinya terjadi terakhir sekali dan biasanya pada penutupan pasar. Transaksi saham di bursa ditutup pada pukul 16.00. Saham yang mempunyai transaksi jual-beli sampai pukul 16.00 disebutkan harga penutupannya merupakan harga tersebut. Bila investor melihat surat kabar esok harinya, disebut harga transaksi terakhir dan menjadi harga penutupan.

Ada tiga premis dalam pendekatan teknis ini, yaitu, pertama, tindakan pasar selalu mendiskon harga atas informasi. Artinya, informasi yang masuk kepada investor melalui publik ekspose perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa selalu didiskon investor untuk saham tersebut. Misalkan, investor mendapatkan informasi dari perusahaan dan dari berbagai pihak dengan harga Rp 12.000 per saham maka investor tidak langsung menerima harga tersebut, tetapi akan menurunkan/mendiskon harga tersebut.

Kedua, harga-harga saham di bursa mempunyai arah atau kecenderungan, baik jangka pendek dan jangka panjang. Kecenderungan harga saham bisa saja naik atau turun. Umumnya, kecenderungan ini dibutuhkan investor agar bisa mengambil keputusan untuk membeli atau menjual atau menahan saham yang dimiliki atau akan dimiliki.

Ketiga, pola harga saham yang terjadi tersebut akan berulang kembali pada masa mendatang. Artinya, pola harga yang terjadi pada masa lalu akan berulang kembali. Bila pola harga tersebut terulang, investor dapat mengambil kebijakan untuk membeli atau menjual atau menahan saham yang akan dimiliki.

Grafik pergerakan

Grafik ketiga harga ini dibuat untuk periode jangka panjang. Grafik akan menunjukkan pergerakan harga. Bila sekaligus tiga harga digrafikkan dan dibuat dalam jangka panjang, ada sedikit kebingungan. Kemudian, analis chart hanya menggunakan harga penutupan. Gambar harga saham yang dibuat dalam jangka panjang memperlihatkan pergerakan harga tersebut. Gambar tersebut membuat sumbu datar (horizontal) adalah waktu dan sumbu vertikalnya harga saham.

Grafik harga saham ini dibuat secara harian dengan jangka panjang, tetapi harga masa lalu bukan harga pada masa mendatang karena harga masa mendatang tidak diketahui. Grafik harga saham tersebut bisa mendatar karena harga tidak bergerak atau tidak berubah. Harga bisa juga naik terus dan kemudian menurun sehingga membuat sebuah perbukitan dan berulang lagi membuat perbukitan yang sangat besar.

Bahkan, juga harga tersebut bisa membuat lembah yang dalam karena harga turun terus dan naik kemudian. Charles Dow membuat grafik ini dan memberikan pandangannya sehingga grafik tersebut mempunyai arti dan memberikan masukan kepada investor untuk membeli atau menjual saham.

Bila grafik harga dilihat dalam jangka panjang, misalnya bulanan dan tahunan, investor melihat kecenderungan harga yang sangat mendasar. Artinya, ke arah mana sebenarnya harga saham tersebut bergerak. Bahkan, sejumlah pihak akademik mencoba membuat siklus arah pergerakan harga saham. Untuk kasus Indonesia, harga saham yang ditunjukkan indeks sedang pada siklus keempat pada posisi kenaikan.

Pergerakan harga dengan jangka panjang ini berguna untuk melihat gambaran harga saham secara keseluruhan.

Pergerakan harga jangka panjang ini dipergunakan investor untuk mengetahui apakah situasi masa lalu akan terulang kembali. Bila terulang kembali, investor bisa mengambil keputusan dalam rangka membeli atau menjual saham yang dimiliki atau akan dimiliki investor.

Bila pergerakan harga mingguan dan bulanan dibuat pembuat analisis, analisis dikenal dengan kecenderungan jangka menengah. Akhirnya, pergerakan harga harian dikenal dengan kecenderungan dengan minor (minor trend). Pergerakan harian disebut dengan kecenderungan minor karena sangat jangka pendek dan belum dapat secara signifikan dipergunakan secepatnya untuk membeli atau menjual saham walaupun ada yang menggunakannya untuk transaksi harian.

Grafik harga dipergunakan investor untuk membeli dan menjual saham yang akan dimiliki. Investor harus hati-hati menggunakan analisis teknis ini karena kesalahan akan merugikan investor.

KOMPAS

Sunday, April 4, 2010

Investasi: Alokasi Aset Investasi

Minggu, 4 April 2010 | 03:42 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang sukses ataupun gagal dalam berinvestasi. Salah satu faktor yang paling menentukan adalah strategi ataupun cara mengalokasikan aset investasi.

Umpamakan Anda memiliki dana Rp 1 miliar. Dan teman Anda juga memiliki dana dalam jumlah yang sama. Lalu Anda berdua sama-sama melakukan investasi. Bisa dipastikan, hasil investasi tersebut akan berbeda.

Katakanlah, Anda dan teman Anda sama-sama melakukan diversifikasi alias ”tidak menempatkan semua telur dalam satu keranjang”. Artinya, dana Rp 1 miliar itu dibelikan saham, obligasi, reksa dana, tanah, dan mungkin emas. Lantas, apakah hasilnya akan sama? Tidak, karena saham yang dibeli mungkin berbeda.

Atau kalaupun membeli saham yang sama, tetapi jangka waktu investasi pada saham itu tidak sama. Anda hanya 6 bulan, sedangkan teman Anda mungkin 1 tahun. Konkretnya, kendati pilihan instrumen sama, tetapi jika jangka waktu investasi berbeda, hasilnya bisa berbeda pula.

Oleh karena itu, diversifikasi saja belumlah cukup untuk bisa meraih sukses dalam berinvestasi. Lebih dari itu, diversifikasi harus diikuti dengan perhitungan mengenai berapa besar alokasi dana pada setiap instrumen investasi. Inilah yang mungkin membedakan Anda dengan teman Anda.

Selain itu, alokasi tersebut juga mesti diikuti dengan time horizon investasi yang jelas, yakni apakah untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Kemudian, dalam alokasi aset tersebut, yang nantinya disebut sebagai portfolio investasi, Anda mesti memutuskan apakah akan menggunakan pendekatan investasi aktif ataukah investasi pasif.

Alokasi aset

Alokasi aset pada hakikatnya adalah investasi dengan melakukan klasifikasi yang berbeda untuk tiap jenis aset. Klasifikasi itu terdiri atas jenis investasi, jumlah, risiko, potensi keuntungan, jangka waktu, dan juga cara mengelola investasi itu sendiri.

Ada investasi dalam bentuk produk riil atau di sektor riil dan investasi dalam bentuk ”kertas berharga” yang diperdagangkan di pasar modal. Dalam hal ini, termasuk tetapi tidak terbatas, pada saham, obligasi, reksa dana, indeks, dan sebagainya.

Pilihan Anda terhadap alokasi aset investasi tersebut tentunya mesti disesuaikan dengan tujuan investasi itu sendiri. Pada umumnya, para investor menginginkan return yang besar dari setiap jenis investasi yang dilakukan. Dan kalau bisa return yang tinggi tersebut diraih dalam jangka pendek. Namun, ada juga yang menginginkan hasil stabil dalam kurun waktu yang panjang. Dus, tujuan investasi yang berbeda akan menghasilkan strategi alokasi investasi yang berbeda.

Setelah Anda memastikan tujuan investasi, barulah kemudian memilah alokasi aset investasi yang relevan dan sekaligus memperhitungkan ekspektasi imbal hasil serta risiko yang terkandung di dalam jenis investasi dimaksud. Katakanlah, Anda memilah aset investasi menjadi 50 persen di sektor riil dan 50 persen di pasar modal. Untuk yang di sektor riil, Anda pilah lagi menjadi properti, tanah, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Anda juga sekaligus memastikan berapa tahun investasi di sektor riil tersebut akan Anda pegang.

Sementara, yang 50 persen lagi dialokasikan untuk saham, obligasi, dan reksa dana. Jumlah pada setiap instrumen investasi itu tentu bergantung juga pada risk taking capacity yang melekat pada diri Anda. Jika Anda termasuk risk taker dan berorientasi jangka pendek menengah, tentu saham bisa menjadi pilihan yang terbesar. Selanjutnya reksa dana saham dan baru obligasi.

Diversifikasi

Ketika Anda mengalokasikan dana untuk investasi di saham, maka saham jenis apa yang Anda beli? Di sektor mana? Suka tidak suka, Anda harus juga melakukan diversifikasi lebih lanjut. Pertama, bagi dana saham Anda pada beberapa sektor ekonomi. Lalu, saham untuk papan atas yang berfundamen bagus dalam jangka menengah untuk kepastian dividen dan saham pada lapis kedua yang menjanjikan potensi capital gain.

Kedua, pilah reksa dana yang Anda beli dalam beberapa jenis, yakni reksa dana saham, reksa dana obligasi, dan reksa dana campuran. Ketiga, Anda dapat juga membeli obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah, dengan risiko sangat rendah.

Setelah Anda mengalokasikan dana pada setiap jenis investasi tersebut, maka berikutnya adalah, apakah Anda akan melakukan investasi secara pasif atau aktif. Kalau investasi pasif, nasib investasi Anda akan bergantung sepenuhnya pada pergerakan pasar. Untuk saham, misalnya, jika saham yang mengalami pergerakan harga dan kemudian Anda melepasnya, maka Anda akan mendulang keuntungan.

Demikian juga dengan reksa dana saham, yang jika indeks meningkat maka nilai asset value (NAV) dari reksa dana tersebut juga meningkat. Namun, jika harga saham jatuh, investasi Anda juga akan jatuh. Pendeknya, semua bergantung pada pergerakan pasar dengan konsep paling dasar, yakni, buy low sell high.

Namun, jika Anda memiliki nyali dan juga kemampuan investasi yang memadai, Anda bisa juga memilih strategi investasi aktif. Artinya, keberhasilan dan ataupun kegagalan investasi Anda tidak sepenuhnya bergantung pasar, tetapi lebih kepada diri Anda dalam mengambil inisiatif, terlepas bagaimanapun kondisi pasar.

Misalnya, ketika harga saham berjatuhan dan mungkin termasuk saham yang Anda miliki, maka tindakan Anda bukanlah menjual saham itu, melainkan kembali membeli, bahkan dalam jumlah lebih besar. Atau Anda membeli saham lapis kedua, yang Anda yakini memiliki potensi besar untuk bergerak, kendati investor lain kurang berminat. Hal sama juga berlaku untuk reksa dana dan obligasi. Anda aktif melakukan perdagangan dan pertukaran jenis instrumen investasi yang Anda yakini memiliki potensi capital gain dalam horizon investasi Anda.

KOMPAS