Sunday, May 2, 2010

INVESTASI: Investasi Aktif

Minggu, 2 Mei 2010 | 02:55 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi Keuangan

Apa yang sebaiknya dilakukan seorang investor setelah menentukan investasi pilihannya? Ada beberapa pilihan. Misalnya, mendiamkan saja investasi tersebut dalam kurun waktu tertentu dengan harapan investasi yang sudah dilakukan akan memberikan imbal hasil yang tinggi. Contohnya, membeli tanah di sebuah lokasi. Beberapa tahun kemudian, harga tanah tersebut akan mengalami peningkatan.

Demikian juga ketika seseorang membeli saham, baik itu saham perusahaan secara langsung, maupun saham di pasar modal. Setelah dibeli, saham tersebut dibiarkan saja, kendati harganya naik ataupun turun. Baru setelah beberapa tahun kemudian, saham tersebut dijual, dengan ekspektasi harganya sudah meningkat. Ini disebut dengan investasi pasif.

Namun, dalam realitasnya, yang terjadi bisa bertolak belakang dengan harapan. Harga tanah yang sudah dibeli, misalnya, boleh jadi mengalami penurunan. Kenapa? Karena tanah tersebut akan digusur. Demikian juga dengan saham suatu perusahaan. Karena perusahaan tidak berprestasi, harga saham terus menurun. Dan, ketika pembiaran terjadi, ujung-ujungnya, harga saham tersebut malah semakin menurun. Oleh karena itu, untuk menghindari hal semacam itu, perlu dipertimbangkan investasi aktif.

Investasi aktif adalah investasi yang dikelola secara aktif oleh seorang investor terhadap seluruh portofolio investasi yang dimilikinya. Katakanlah investasi di pasar modal. Atau lebih spesifik lagi investasi di saham. Pembelian saham dimaksud, mestinya memiliki peruntukan dan jangka waktu investasi (time horizon) yang berbeda, yakni untuk yang berjangka menengah panjang dan jangka pendek. Jangka menengah panjang umumnya di atas 1 tahun, sedangkan jangka pendek adalah di bawah 1 tahun.

Setelah menentukan jumlah dana untuk setiap jangka waktu investasi, langkah berikutnya adalah memilih saham-saham dan tindakan yang akan dilakukan terhadap setiap saham tersebut. Mengenai pilihan saham, seorang investor aktif mesti menentukan sendiri sektor yang akan dimasuki sesuai dengan keyakinan. Dan, pilihan sektor ini bisa berbeda dengan kondisi pasar. Artinya, kalau di pasar, sektor yang memiliki kapitalisasi terbesar adalah sektor A, seorang investor aktif tidak mesti menempatkan dana terbesarnya di sektor A, tetapi bisa saja di sektor B, C, atau D. Dengan kata lain, pilihan sektor dapat berbeda dengan kebanyakan investor lainnya.

Dalam praktiknya, seorang investor aktif akan menempatkan dananya pada saham yang berbeda sektor, di mana pilihan sektor-sektor tersebut bersifat sangat individual.

Langkah berikutnya adalah menentukan pilihan saham pada setiap sektor. Dalam satu sektor biasanya terdiri atas beberapa emiten yang skala usahanya berbeda dan saling berkompetisi satu sama lain. Investor boleh memilih beberapa saham dalam sektor yang sama.

Risiko

Apakah ini tidak berisiko? Jelas ada risikonya. Kalau kondisi ekonomi tengah mengalami penurunan dan kemudian memukul sektor tersebut, sangat mungkin kinerja semua emiten di sektor itu akan terpengaruh. Tetapi, jika sektor tersebut berkembang, semua emiten yang ada di situ juga akan menghasilkan kinerja cemerlang. Selanjutnya, harga sahamnya meningkat.

Di sisi lain, bisa juga terjadi persaingan usaha antaremiten semakin ketat. Ada yang kinerjanya merosot, ada juga yang mencorong. Dus, kalau investor bersikap aktif, saham yang kinerjanya merosot bisa dilepas dan dana dipindahkan ke emiten yang lebih unggul. Tentu saja untuk bisa melakukan hal semacam ini, investor mesti memantau perkembangan kinerja dari emiten-emiten secara rutin dan melakukan reaksi secara cepat terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

Langkah aktif lainnya adalah melakukan perdagangan saham secara harian atau mingguan. Hal ini khususnya terhadap investasi saham yang jangka waktu investasinya di bawah 1 tahun. Artinya, investor boleh melakukan jual beli saham setiap saat, bahkan setiap hari. Dengan kata lain, saham yang dibeli dipegang dalam kurun waktu 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, atau malah 1 hari saja. Inilah yang disebut dengan perdagangan saham aktif. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga keahlian. Investor mesti mengetahui kondisi fundamental dari masing-masing emiten. Lalu mempelajari karakteristik pasar dan perilaku investor lainnya. Investor juga mesti memiliki data pergerakan harga dari setiap saham yang akan dibeli dan atau dijual.

Hal yang dipaparkan di atas hanyalah sekelumit pengertian investasi aktif di pasar saham. Hal yang sama juga bisa dilakukan di investasi sektor riil. Dalam investasi tanah, misalnya. Seorang investor aktif akan melakukan riset terlebih dahulu tentang kemungkinan perkembangan di sekitar tanah dimaksud. Dan, setelah tanah dibeli, riset tetap dilakukan. Lalu, berdasarkan informasi yang diperoleh, seorang investor aktif bisa saja membeli lagi tanah lain di sekitar tanah yang sudah dibeli. Karena bisa saja muncul perkembangan yang akan terjadi di lokasi tersebut. Misalnya, akan ada pembangunan. Ini jelas akan mendongkrak harga. Sebelum pembangunan terjadi, seorang investor aktif akan mencuri start dengan menambah investasi tanah di sekitar lokasi dimaksud.

Simpulannya, bukanlah hal sulit untuk menjadi investor aktif. Persyaratannya hanyalah kemauan untuk meluangkan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja keberanian mengambil risiko. Tetapi, potensi keuntungan yang diperoleh lazimnya juga akan lebih besar ketimbang sekadar menjadi investor pasif.

KOMPAS

No comments: