Sunday, March 28, 2010

INVESTASI: Apakah MTN?

Minggu, 28 Maret 2010 | 04:05 WIB

Adler Haymans Manurung
Praktisi Keuangan

Baru-baru ini ada pertanyaan soal produk baru instrumen investasi yang periodenya lebih pendek dari obligasi. Produk tersebut dikenal dengan Medium Term Notes (MTN) dan banyak diterbitkan perusahaan. Pertanyaannya, bagaimana investasi pada produk ini, apa risikonya, di mana bisa mendapatkan produk ini, serta bagaimana pula perpajakannya?

MTN adalah surat utang yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dalam rangka kebutuhan dana untuk membiayai investasi perusahaan agar bisa bertumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Surat utang ini mempunyai umur kurang dari lima tahun dan lebih lama dari satu tahun. Bila surat utangnya kurang dan sama dengan satu tahun tidak disebut dengan MTN, tetapi produk surat utang untuk jangka pendek yang dikenal surat utang pasar uang.

Surat utang ini mempunyai kupon atau bunga yang dibayarkan sesuai dengan kesepakatan, bisa dua kali setahun, empat kali setahun, atau sekali setahun. Kupon surat utang ini bisa dua macam, yaitu kupon tetap dan kupon mengambang. Bila kupon tetap, maka investor akan memperoleh kupon tetap selama periode surat utang tersebut. Jika surat utang ini memiliki kupon mengambang, maka ada patokan yang dipergunakan untuk menentukan kuponnya dan ditambahkan premium untuk menarik investor, misalnya patokannya rata-rata tingkat bunga deposito enam bulan bank yang dimiliki pemerintah, seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI dan ditambahkan premium 7 persen.

Bila rata-rata tingkat bunga deposito enam bulan untuk ketiga bank tersebut 6,5 persen, maka kupon yang diberikan surat utang ini sebesar 13,5 persen. Biasanya kupon tersebut ditentukan sekali enam bulan agar perubahan tingkat bunga yang terjadi bisa didapati surat utang ini. Namun, surat utang ini lebih dominan diterbitkan dengan tingkat bunga tetap untuk kepastian perencanaan keuangan perusahaan dan juga pemanis bagi investor agar menariknya surat utang ini.

Jangka pendek

Surat utang ini diterbitkan perusahaan, disesuaikan dengan investasi perusahaan yang umumnya jangka pendek dan menengah, seperti periode surat utang ini yang diuraikan sebelumnya. Produk ini sengaja diterbitkan perusahaan atau merupakan terobosan para perusahaan investment banking (di Indonesia dikenal dengan sekuritas) untuk mendapatkan produk investasi yang periodenya lebih kecil dari obligasi. Pada sisi lain, produk ini dibuat untuk mencocokkan kebutuhan perusahaan dan keinginan investor.

Produk ini diterbitkan perusahaan dengan cepat, dengan bantuan perusahaan sekuritas tersebut, tidak seperti obligasi yang harus melalui penawaran yang sangat ketat dengan regulasi Bapepam. Keketatan regulasi Bapepam atas obligasi dikarenakan penghimpunan dana publik. Adapun MTN bisa diterbitkan besarannya cukup kecil mulai dari Rp 5 miliar hingga ratusan miliar. MTN sering kali tidak membutuhkan peringkat dari Perusahaan Pemeringkat Efek di Indonesia, tetapi MTN yang beredar belakangan ini sudah mulai mempunyai peringkat karena investor mensyaratkan adanya peringkat tersebut. MTN hanya bisa ditawarkan kepada pihak tertentu yang totalnya kurang dari 50 pihak. Bila pembeli MTN melebihi 50 orang, maka harus melalui proses penawaran umum di Bapepam sehingga penawaran MTN tidak seperti obligasi. Dan umumnya peminat MTN ini sudah ada dan langsung diterbitkan.

Investor yang ingin melakukan investasi pada produk ini harus memerhatikan periode dari MTN karena periodenya belum cocok untuk investor. Likuiditas produk ini tidak seperti obligasi yang mempunyai likuiditas sudah terjamin dikarenakan adanya proses penerbitan melalui Bapepam. Kupon yang diberikan MTN juga harus diperhatikan oleh investor agar sesuai dengan keinginan dan ekspektasi investor. Penerbit MTN juga harus menjadi perhatian, di mana investor harus melakukan investigasi agar mendapatkan informasi yang lengkap mengenai penerbit obligasi. Manajemen perusahaan penerbit MTN sangat penting dikarenakan manajemen tersebut yang memutuskan menerbitkannya serta mau membayar bunga dan prinsipalnya. Investor sebaiknya bisa mendapatkan investor lain yang melakukan investasi pada MTN. Bila investor mengetahui investor lain dan biasa melakukan investasi, maka investor mempunyai pandangan sedikit lebih baik karena investor yang lain kemungkinan sudah menghitung risikonya.

Risiko

Investor dalam membeli surat utang mempunyai berbagai macam risiko yang harus dipahami. Risiko utama yang dihadapi dan paling penting adalah tidak mampu bayarnya penerbit surat utang. Ketidakmampuan penerbit surat utang sebaiknya harus bisa dideteksi investor lebih awal, baik pada saat membeli atau sudah berjalannya waktu. Sebaiknya investor meminta penerbit mempunyai pihak lain untuk membeli surat utang agar investor bisa terhindar dari persoalan yang dihadapi, sekaligus membuat surat utang ini menjadi likuid.

Risiko kedua yang harus dihadapi investor adalah risiko tingkat bunga. Artinya, bila tingkat bunga mengalami kenaikan, maka investor kehilangan kesempatan memperoleh kupon yang lebih besar. Akan tetapi, tingkat bunga yang turun tidak menjadi persoalan pada MTN. Bahkan, adanya kenaikan atau penurunan tingkat bunga bukan menjadi persoalan bagi investor bila tingkat bunga yang diperoleh tetap dan premium sangat tinggi. Selanjutnya, risiko daya beli menjadi salah satu risiko yang melekat pada produk ini. Pada saat jatuh dana yang diinvestasikan belum tentu kemampuan daya belinya sama dengan ketika dana pertama kali diinvestasikan pada produk tersebut.

Perpajakan atas produk ini tergantung dari pembeli MTN. Bila perorangan yang membeli MTN akan dikenai tarif umum. Artinya, investor yang memperoleh kupon akan dikenai pajak 20 persen dan kemudian pada akhir periode pelaporan SPT, maka investor akan dikenai sesuai tarif pajak investor perorangan. Untuk lebih jelasnya, investor bisa bertanya kepada pihak pajak. Jika bank yang membeli MTN, bunga MTN tidak dikenai pajak, tetapi pada akhir tahun dikenai pajak sesuai pajak perusahaan untuk pendapatan perusahaan. Bila reksa dana membeli MTN, perlakuannya sama seperti pengenaan pajak kupon obligasi. Sungguh menarik karena memberikan keuntungan bagi investor.

Adanya perlakuan pajak atas MTN seperti obligasi, Bapepam perlu membuat regulasi yang seimbang antara obligasi dan MTN. Proses MTN sangat pendek, sedangkan obligasi sangat panjang. Akibatnya, MTN merasa diuntungkan dan berlomba menerbitkan MTN walaupun ada sisi negatifnya. Oleh karena itu, produk investasi ini bisa menarik berbagai investor untuk berinvestasi pada reksa dana karena adanya keuntungan pajak tersebut. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

1 comment:

Anonymous said...

superintendent of cops and the state Marketingcompany and we can receive bonus [url=http://www.burchjp.com]トリーバーチ[/url]for your first 2 campaigns a receipt book front and their seat are normally placed [url=http://www.burchjp.com]トリーバーチ 靴[/url]the Safe n Sound Platinum car seat and Section J in general please visit my BCA http://www.burchjp.com[/url] Bangladesh He trains freelancers with store test charges 1000 I am an expert from