Friday, September 4, 2009

From Broadcasting to Networking

Tulisan 8 dari 100

Jumat, 4 September 2009 | 13:03 WIB

New Wave Trend #1:
From (One-to-Many) Broadcasting to (Many to-many) Networking

Masih ingat salah satu kasus blunder paling legendaris dalam sejarah dunia pemasaran? Ya, New Coke, yang merupakan produk Coca-cola yang paling cepat matinya.

Coca-Cola ketika itu mengeluarkan New Coke sebagai reaksi atas hasil blind test yang dilakukan Pepsi. Namun, karena pelanggan merasakan bahwa New Coke ini bukanlah minuman Coke yang mereka kenal selama ini, mereka pun memprotesnya dan akhirnya Coca-Cola pun mengeluarkan kembali produk originalnya yang disebut Coke Classic.

Kasus new Coke kini terulang lagi! Hanya saja kejadiannya ada di perusahaan lain yaitu Ikea. Perusahaan ritel perabot untuk rumah dari Swedia ini kini tengah diprotes dan diban oleh konsumennya sendiri atas alasan yang cukup sederhana, mengganti font dan typeface-nya dari Futura ke Verdana.

Ikea menganggap pergantian bentuk desain huruf mereka sebagai hal yang sangat rasional. Lebih murah memakai Verdana yang gratis dan tersedia di mana-mana ketimbang Futura yang tersedia secara custom-made.

Sayangya Ikea tidak dapat melihat gambarannya secara luas. Konsumen telah secara emosional mempunyai rasa memiliki terhadap typeface Futura dan melihatnya sebagai bagian integral dari merek Ikea yang sejak enam puluh tahun lalu terkenal trendi dan stylish.

Makannya setelah membaca buku katalog Ikea untuk edisi 2010 yang ditulis menggunakan font verdana, kontan konsumen yang mengamuk langsung berteriak di Twitter, “loh kok berubah?”

Seperti yang dikutip di majalah Time, kasus pergantian font Ikea menjadi trending topic di Twitter pada tanggal 26 Agustus lalu. Topik ini bahkan mengalahkan berita kematian Ted Kennedy. Tipikal komen yang beredar di Twitter pada hari itu memang agak memanas. Dari Tokyo ada yang ngetwit “Ikea, gila hentikan verdana!”, dari Dublin ada yang bilang “Sudah kelewat batas!”, dari Melbourne ada yang mengatakan “Kejijikan saya tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.”

Konsumen yang marah juga mengekspresikan diri mereka di berbagai situs jejaring seperti Facebook, MySpace, sampai ke forum di dunia online. Majalah Time melaporkan bahwa di online forum Typophile yang merupakan forum komunitas buat mereka yang maniak dengan typeface dan font, menaikan semacam bendera setengah tiang dengan mengatakan “Ini hari yang sangat menyedihkan.”

Beberapa orang juga menggerakan petisi lewat online sebagai upaya untuk memberitahu kepada Ikea bahwa dunia menolak Verdana karena tidak sesuai dengan gaya desain Ikea, sekaligus bertujuan untuk membuat Ikea supaya berubah pikiran dengan balik lagi ke font-nya yang lama.

Kasus Ikea ini membuktikan bahwa di dunia New Wave seperti sekarang, semakin sulit untuk menyetop komen-komen dari publik yang beredar tentang merek Anda. Opini publik tentang merek Anda terus beredar kemana-mana karena mereka sekarang memiliki banyak alat untuk melakukan itu semua.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dari yang tadinya one-to-many ke one-to-one dan sekarang di era many-to-many. Didorong oleh teknologi Web 2.0 yang menyebabkan membanjirnya aplikasi berbasiskan jejaring dari banyak ke banyak Ini yang menyebabkan internet telah berubah. Teknologi Web 2.0 membuat internet bersifat lebih interaktif dan dinamis. Interaksi dengan komunitas menjadi lebih memungkinkan karena pada dasarnya kekuatan sesungguhnya dari aplikasi internet yang bersifat Web 2.0 adalah read & write.

Di era New Wave, teknologi broadcasting yang bersifat dari satu ke banyak (one-to-many) tidak mati. Lewat Facebook, Twitter, Plurk, Blog, online Forum dan lain sebagainya, kita bisa menyiarkan atau memborbardir sebuah pesan. Hanya saja kini teknologi broadcasting lebih canggih karena memberikan fasilitas platform untuk networking di dalam jejaring pula.

Dulu di era one-to-many kita menyebarkan satu message ke mana-mana memang dengan tujuan hanya untuk mem-broadcast suatu hal. Sekarang, tujuannya bukan hanya sekedar untuk broadcast namun juga sekaligus ber-networking lewat jejaring sosial. Trickle down effect dari sebuah pesan menjadi sangat luar biasa karena ia kini dapat diteruskan secara real-time oleh siapa saja yang menerima, mendengar, atau melihat.

Perkembangan Internet dengan Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin cepat. Di dunia yang serba horisontal ini, berkat perkembangan teknologi internet, semua orang punya kesempatan yang sama untuk terhubung dan saling menghubungi.

Kasus New Font di Ikea yang merupakan jelmaan kasus “New Coke” di era New Wave memberikan contoh tersendiri bahwa karakter sebuah merek dijaga bukan hanya oleh perusahaan namun juga konsumennya sendiri. Kalau misalnya saja sebuah merek melakukan akvititas-aktivitas yang dianggap melenceng dari karakternya, maka pelanggan akan langsung memprotesnya.

Di era New Wave ini, semua serba horisontal. Suara protest konsumen disiarkan secara langsung dengan orang-orang lain di komunitas jejaringnya yang menyebarkannya dalam bentuk apa saja, lewat apa saja, untuk siapa saja, dimana saja, kemana saja, dan kapan saja.

Bagaimana Pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

No comments: