BLOGSPOT atas

Sunday, February 28, 2010

INVESTASI: Apakah Transaksi SWAP?

Minggu, 28 Februari 2010 | 02:54 WIB

Adler Haymans Manurung - Praktisi Keuangan

Baru-baru ini seorang pengusaha didatangi seorang pemasar keuangan untuk menawarkan jasa keuangan. Pengusaha ini mempunyai pendapatan dalam valuta asing dan hampir seluruh biaya yang dikeluarkan dalam bentuk rupiah. Artinya, pembayaran bahan baku semua dari Indonesia dengan mata uang rupiah, gaji buruh dalam rupiah juga, bahkan pinjaman saat ini dalam bentuk rupiah, dan sebagainya. Pemasar tersebut menawarkan transaksi SWAP kepada pengusaha ini yang bisa menguntungkannya.

Transaksi SWAP adalah transaksi keuangan antara dua pihak yang mempunyai kepentingan. transaksi memberikan keuntungan kepada kedua pihak. Transaksi SWAP dapat dilakukan dengan dua transaksi yang sangat terkenal, yaitu transaksi SWAP tingkat bunga dan transaksi SWAP valuta asing.

Transaksi SWAP tingkat bunga adalah pihak yang melakukan transaksi ingin mengubah tingkat bunga yang saat ini dimiliki, misalnya tingkat bunga tetap menjadi tingkat bunga mengambang dan sebaliknya.

Artinya, pihak yang bertransaksi ingin mengubah tingkat bunga dari mengambang menjadi tetap atau dari tingkat bunga tetap menjadi tingkat bunga mengambang. Untuk kasus SWAP tingkat bunga, transaksi yang bisa dilakukan adalah pinjaman dan investasi. Pihak tertentu yang mempunyai pinjaman dengan tingkat bunga tetap diubah menjadi tingkat bunga mengambang dan sebaliknya dari tingkat bunga mengambang menjadi tingkat tetap.

Demikian juga pihak tertentu yang mempunyai investasi yang hasil pengembaliannya (sering juga disebut kupon) dengan tingkat bunga tetap akan diubah menjadi tingkat bunga mengambang dan sebaliknya.

Pihak yang melakukan transaksi SWAP ini melakukan perubahan karena sifat dari usaha atau kemampuan yang dimilikinya. Biasanya, yang terjadi, perusahaan ingin melakukan perubahan dari tingkat bunga mengambang menjadi tetap karena kemudahan pihak tersebut melakukan perhitungan atas bisnisnya. Apabila pengeluaran tingkat bunga dapat dipastikan, pengusaha dapat memastikan segala aktivitas bisnis yang dilakukan. Apabila tingkat bunga mengambang yang diinginkan, biasanya tingkat bunga tersebut juga pasti bisa diramalkan pada kisaran tertentu.

Bantuan bank

Pihak yang ingin melakukan transaksi ini dapat dilakukan sendiri atau juga melalui bantuan pihak bank. Biasanya, transaksi SWAP banyak dilakukan dengan pihak bank. Pihak-pihak yang melakukan transaksi tidak saling kenal, yang penting arus kas transaksi tersebut berjalan selama periode yang diperjanjikan.

Untuk transaksi SWAP melalui bank, pihak yang bertransaksi akan mempunyai biaya apabila dibandingkan dengan langsung sendiri dengan pihak lain. Adapun untuk transaksi yang langsung dilakukan pihak terkait, antara pihak sudah saling kenal dan masing-masing sangat membutuhkan sesuai dengan keinginannya.

Tingkat bunga tetap dalam transaksi adalah tingkat bunga tetap yang harusnya dibayarkan kepada pihak lain atau bank di mana seseorang mempunyai pinjaman. Biasanya seseorang atau perusahaan melakukan pinjaman kepada pihak lain atau bank harus dikenai bunga. Bunga tersebut ada yang tetap, ada juga yang mengambang.

Tingkat bunga tetap maksudnya bunga yang dibayar peminjam sama sepanjang waktu periode pinjaman tersebut. Tingkat bunga mengambang merupakan tingkat bunga yang dirujuk kepada sesuatu tingkat bunga, misalkan tingkat bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) atau JIBOR (Jakarta Interest Board Offering Rate) atau SIBOR (Singapore Interest Board Offering Rate) atau LIBOR (London Interest Board Offering Rate). Pinjaman dari bank dikenakan sebesar SBI + 4 persen.

Misalkan, PT Janjimatogu Porsea Realty memiliki hotel dan resor, di mana hotel dan resor ini mempunyai pendapatan dalam bentuk dollar AS dan biaya yang dikeluarkan umumnya dalam rupiah. Laporan keuangan perusahaan telah dibuat dalam valuta asing, yaitu dollar AS. Adapun biaya yang dikeluarkan dalam bentuk dollar AS tidak begitu besar, hanya sekitar 5 persen dari pendapatan perusahaan. Namun, saat ini perusahaan mempunyai utang dalam bentuk rupiah dengan tingkat bunga tetap sebesar 15 persen per tahun selama lima tahun, yang dibayarkan sekali enam bulan.

Perusahaan tersebut bisa membayar dengan tingkat bunga mengambang. Perusahaan bisa mencari pihak lain yang ingin melakukan perubahan tingkat bunga pinjamannya dari mengambang menjadi tetap. Artinya, pihak lain tersebut membayar tingkat bunga 15 persen yang harus dibayar oleh PT Janjimatogu Porsea Realty dan perusahaan ini membayar tingkat bunga mengambang yang harus dibayar pihak lain tersebut. PT Janjimatogu Porsea Realty bisa juga mendatangi bank untuk mendapatkan lawannya melakukan transaksi bank. Biasanya, bank mempunyai klien yang membutuhkan transaksi SWAP ini agar nasabahnya bisa menguntungkan dalam menjalankan perusahaannya.

Apabila transaksi SWAP tingkat bunga di mana yang ditransaksikan investasi, cara transaksinya juga sama dengan transaksi SWAP tingkat bunga dengan pinjaman. Transaksi SWAP valuta asing, maka para pihak membutuhkan arus kas valuta asing dan metode transaksinya juga melakukan proses yang sama.

Misalkan, PT Janjimatogu Porsea Realty ingin transaksi valuta asing yang membutuhkan rupiah dengan PT Indonesia Investasi Capital yang membutuhkan dollar AS. Kedua perusahaan bisa melakukan transaksi SWAP dalam bentuk valuta, di mana perusahaan bisa mendapatkan keuntungan.

KOMPAS

Sunday, February 21, 2010

Investasi Langsung

Minggu, 21 Februari 2010 | 03:15 WIB

Elvyn G Masassya - Praktisi Keuangan

Investasi langsung adalah menempatkan uang secara langsung pada perusahaan, proyek, atau bisnis dengan harapan bisa memperoleh tingkat imbal hasil yang menarik. Polanya bisa bermacam-macam. Jika perusahaan yang menjalankan bisnis berbentuk perseroan terbatas atau CV, dana yang Anda tempatkan bisa ditukar dengan saham pada perusahaan tersebut.

Dengan kata lain, dana Anda menjadi equity. Oleh perusahaan dimaksud, dana yang sudah dalam bentuk equity itu akan dipakai sebagai modal usaha. Imbal hasil yang Anda peroleh berupa dividen yang akan dibagikan pada setiap tahun, dengan catatan perusahaan memperoleh keuntungan dan pemegang saham setuju untuk membagikan laba sebagai dividen.

Model ini tidak jauh beda dengan membeli saham di pasar modal. Hanya saja, saham di pasar modal dengan mudah bisa diperjualbelikan dan harganya bisa naik turun. Sementara, jika menempatkan dana sebagai saham di perusahaan yang belum go public, harganya lebih bersifat statis. Harga saham hanya bisa naik turun jika memang ada pihak yang ingin membeli kepemilikan tersebut secara langsung atau terjadi negosiasi bilateral.

Penempatan dana sebagai modal sebuah perusahaan juga memungkinkan Anda untuk turut serta mengelola perusahaan, baik sebagai komisaris, direksi, ataupun pemilik. Namun, konsekuensinya, keberhasilan ataupun kegagalan perusahaan menjadi tanggung jawab Anda.

Dalam bentuk lain, investasi langsung bisa dilakukan dengan cara menempatkan dana dalam sebuah proyek bisnis. Katakanlah, sebuah perusahaan memiliki banyak proyek dan perusahaan tersebut kekurangan modal kerja untuk menggarap proyek dimaksud. Anda bisa ikut serta melakukan investasi, misalnya, memberikan pinjaman dana secara langsung dan perusahaan itu akan membayar kembali setelah proyek selesai dengan memberikan imbal hasil. Imbal hasil ini bisa lebih besar dari tingkat bunga kredit bank. Mengingat, proses mendapatkan dana pinjaman dari Anda relatif lebih mudah ketimbang perusahaan itu meminjam dari bank.

Selain dengan cara pinjam meminjam, investasi di sebuah proyek yang dimiliki suatu perusahaan bisa juga dilakukan dengan cara ”bagi hasil”. Ini lebih bergantung kesepakatan kedua pihak. Bedanya, kalau dalam bentuk pinjam meminjam, Anda sebagai investor akan mendapatkan imbal hasil sebagaimana diperjanjikan, tidak peduli, apakah proyek tersebut meraup keuntungan besar atau malah merugi.

Sebaliknya, dengan konsep bagi hasil, Anda turut menanggung risiko jika proyek merugi. Namun, Anda akan mendapatkan imbal hasil besar pula jika proyek berhasil mendulang keuntungan.

Memilih partner

Memilih jenis investasi dan menjaga segala risikonya merupakan faktor yang jauh lebih penting. Ada beberapa hal yang selayaknya menjadi perhatian.

Pertama, pahami dengan siapa Anda hendak bekerja sama. Faktor partner merupakan hal yang paling penting dari investasi langsung.

Jika Anda belum mengenal partner secara langsung, rekam jejaknya layak untuk dipelajari. Faktor integritas, pengalaman, dan kompetensi di bisnis tersebut mesti menjadi pertimbangan utama. Konkretnya, fakta yang pernah dialami partner, keberhasilan dan kegagalannya, lebih layak dipertimbangkan ketimbang janji manis ketika bernegosiasi dengan Anda.

Kedua, sedikit banyak memahami tentang proyek atau bisnis yang akan dimasuki. Ini bisa dilakukan dengan mempelajari lebih dahulu karakteristik proyek atau bisnis dimaksud. Bagaimana proses bisnisnya, dari mana keuntungan akan diperoleh, dan tentu saja risiko dalam bisnis tersebut.

Jika Anda tidak memiliki keahlian dalam proyek bisnis dimaksud, Anda boleh bertanya kepada yang sudah punya pengalaman atau ahli dalam proyek bisnis sejenis. Dalam bahasa yang lebih akademis, ada baiknya Anda melakukan studi kelayakan proyek. Apa pun hasil dari studi tersebut, akhirnya bergantung kepada diri Anda sendiri. Walaupun bisnisnya dianggap prospektif, tetapi kalau Anda tidak memiliki minat, sebaiknya tidak usah dimasuki.

Ketiga, membuat perjanjian berdasarkan kontrak hukum yang kuat. Benar, kepercayaan merupakan hal penting dalam berbisnis atau melakukan investasi langsung. Namun, investor yang profesional tidak pernah memercayakan dana hanya berdasarkan komitmen lisan yang tidak ada bukti dokumennya.

Oleh karena itu, kalau Anda hendak melakukan investasi langsung, maka A to Z dari pola penempatan dana Anda berikut hak dan kewajiban mesti dituangkan dalam kontrak hitam putih di depan notaris. Dengan demikian, kalau salah satu pihak wanprestasi atau ingkar janji, Anda sudah memiliki dokumen yang kuat untuk melakukan penuntutan.

Keempat, memahami horizon investasi terhadap proyek bisnis yang dimasuki. Artinya, apakah Anda ingin menempatkan dana di perusahaan yang menjalankan bisnis itu dalam kurun waktu yang lama atau kemudian Anda akan keluar setelah memperoleh imbal hasil sebagaimana diinginkan. Time horizon investasi seperti ini penting diputuskan sejak awal karena akan berdampak pada hasil final dari seluruh investasi Anda.

KOMPAS

Sunday, February 7, 2010

INVESTASI: Amankah Bermain Transaksi Berjangka?

Minggu, 7 Februari 2010 | 02:53 WIB


Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Baru-baru ini seorang investor ditawari investasi dengan nama bermain pada Indeks Hang Seng. Modal awal investasi sebesar 20.000 ribu dollar AS dan bermain dengan 2.000 dollar AS untuk 5 dollar AS per point.

Bila dilakukan transaksi selama 10 hari per bulan, akan diperoleh keuntungan sebesar 1.100 dollar AS per bulan (dalam rupiah sekitar Rp 10 juta, dengan nilai kurs sekitar Rp 9.000 per dollar AS).

Ada juga investor yang telah melikuidasi atau mencairkan investasi pada deposito, reksa dana, saham, dan emas hanya untuk melakukan investasi pada Indeks Hang Seng. Ada pula tawaran dari para marketer bahwa dana awal yang dimiliki investor pasti tidak hilang, bahkan akan menguntungkan. Amankah berinvestasi pada produk ini?

Produk investasi yang ditawarkan kepada investor kelihatannya merupakan produk transaksi berjangka (Futures). Adapun transaksi berjangka merupakan transaksi di antara dua pihak yang akan diselesaikan beberapa waktu mendatang dengan harga tertentu pula.

Bila transaksi dilakukan oleh investor dengan produk berjangka komoditas seperti kopi atau CPO, maka produk ini dikenal dengan Forward. Tetapi, investor bisa melakukan transaksi ini melalui bursa, maka lawan investor bursa dan bursa menyembunyikan pihak lain serta penyelesaian transaksi bisa dilakukan setiap saat atau pada akhir penutupan bursa berjangkanya. Produk ini dikenal dengan Futures.

Investor yang ingin melakukan transaksi Futures di Indonesia harus menggunakan bursa berjangka, yaitu PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Perusahaan ini di bawah pengawasan Bapebti, lembaga pemerintah di bawah Menteri Perdagangan. Investor yang ingin bertransaksi di BBJ harus melalui anggota BBJ yang dikenal dengan perusahaan pialang berjangka dan investor harus membuka rekening pada anggota BBJ.

Dana awal yang diminta oleh pemasaran perusahaan berjangka sebesar 20.000 dollar AS merupakan dana untuk pembukuan rekening. Bila investor bertransaksi untuk komoditas dengan harga tertentu, maka kenaikan dan penurunan harga komoditas mengakibatkan dana investor mengalami kenaikan atau penurunan dari dana awal yang disetor semula.

Bila harga komoditas turun terus dan transaksi investor selalu menggunakan yang besar, dana investor pasti habis dan akibatnya investor akan diminta untuk menambah dana awal tersebut. Misalnya, sekali transaksi dilakukan 1.000 dollar AS, maka dana sebesar 20.000 dollar AS akan habis dalam sepuluh hari. Ini risiko pertama yang harus dipahami investor agar investor bisa mengantisipasinya sehingga kerugian bisa diminimalkan.

Bila investor bertransaksi dengan Indeks Hang Seng, penurunan Indeks Hang Seng sebesar 1 point membuat dana awal investor akan berkurang sebesar 5 dollar AS untuk satu kontrak. Jika kontrak yang dilakukan investor sebesar 100 kontrak, kerugian investor juga semakin besar, yaitu sebesar 500 dollar AS.

Gejolak indeks

Setiap hari investor harus memerhatikan gejolak indeks dan dana yang dimiliki. Karena lawan investor adalah bursa dan transaksi pasti diakuntansikan setiap hari, maka risiko tidak bayar akan tidak muncul dan investasi investor tidak akan mengalami kerugian dan bisa dikatakan aman.

Sebagai catatan, Indeks Hang Seng mempunyai volatilities sebesar 3.467,81 untuk periode 2009. Pada akhir tahun Indeks Hang Seng pada level 21.872,5 dan pada akhir Januari pada level 20.121,99, berarti terjadi penurunan 1.750,51 atau terjadi penurunan 8 persen dari level di akhir tahun 2009. Bila investor mempunyai perjanjian/kontrak penurunan satu point sebesar 5 dollar AS, kerugian investor senilai 8.752 dollar AS. Demikian pula bila Indeks Hang Seng naik, investor akan untung dan dana awal investor akan meningkat.

Investor harus menggunakan perusahaan pialang untuk bertransaksi di bursa. Risiko kedua adalah moral hazard dari perusahaan pialang tersebut. Walaupun sebenarnya perusahaan terdaftar di bursa, persoalan moral hazard membuat investor perlu berhati-hati. Oleh karena itu, iInvestor harus meminta perusahaan berjangka untuk membuka rekening investor di bursa agar transaksi tercatat dan bisa
dipertanggungjawabkan di kemudian hari, terutama ketika investor melakukan pelaporan pajak setiap tahun. Investor juga bisa bertanya ke bursa bahwa rekeningnya ada di bursa.

Investor juga perlu mencari informasi mengenai perusahaan tempat investor bertransaksi. Informasi sebanyak mungkin perlu didapatkan investor agar dapat membuat keputusan untuk keamanan investasi. Informasi perusahaan yang diperoleh investor bukan saja tentang sejarah atau transaksi, melainkan juga tentang personal dari pengelola perusahaan. Investor juga harus mengenal pemasar dari perusahaan pialang tempat investor melakukan transaksi. Pengenalan dan dekat dengan pemasar merupakan salah satu cara membuat keamanan dari investasi investor pada produk ini.

Perhatikan pula periode investasi. Untuk produk ini, investor lebih baik melakukan transaksi dengan periode yang lebih pendek. Pendeknya periode investasi membuat investor bisa cepat mengambil keputusan dan meminimalkan kerugian. Semakin panjang periode investasi, maka risiko yang dihadapi semakin tinggi.
Investor harus menyadari bahwa investasi pada bursa berjangka merupakan investasi berisiko. Risiko investasi pada bursa berjangka lebih tinggi dari investasi pada saham. Padahal pada pikiran beberapa pihak risiko saham paling tinggi. Oleh karena itu, investor juga perlu berhati-hati dan cermat agar investasi menguntungkan.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, January 31, 2010

Investasi: Restrukturisasi Investasi

Minggu, 31 Januari 2010 | 03:04 WIB

Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Anda mungkin telah menikmati hasil investasi yang memuaskan pada tahun 2009. Apalagi kalau Anda berinvestasi di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 2.535, dari sebelumnya 1.350-an di posisi akhir tahun 2008 atau meningkat sebesar 86 persen, jelas termasuk kenaikan yang luar biasa.

Bandingkan, dengan kalangan yang berinvestasi dalam bentuk dollar AS. Nilai rupiah yang menguat, malah membuat para pemegang dollar AS merugi, ketika dollar AS dihitung dalam rupiah. Jadi, kalau Anda ”kebetulan” menanam dana di pasar modal, tahun 2009 merupakan tahun panen, yang boleh jadi peningkatan sebesar 86 persen itu tidak akan berulang lagi di tahun 2010.

Bagaimana dengan investasi Anda di bidang-bidang lain? Kemungkinan besar tidak seindah investasi di pasar modal. Indikasinya bisa dilihat dari beberapa hal. Pertama, pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2009, hanya sekitar 10 persen. Implikasinya, kucuran sumber dana modal kerja dan kredit investasi ke sektor riil tidak terlalu besar.

Selanjutnya, dengan modal kerja yang terbatas, geliat sektor riil juga terbatas. Dan pada gilirannya, potensi keuntungan dari kegiatan di sektor riil juga tidak terlalu besar. Lebih jauh lagi, sangat mungkin omzet transaksi perdagangan juga menurun. Imbas dari semua itu, potensi gain dari investasi yang terkait dengan sektor riil juga rendah. Malah, beberapa kalangan mungkin mengalami kerugian. Misalnya, yang menempatkan dana dalam bentuk investasi di apartemen yang baru dibangun. Peningkatan harganya tidaklah sedahsyat investasi lainnya, atau malah, sulit untuk mencari pembeli.

Bunga

Kedua, tingkat bunga yang berada pada level 6 persen. Benar laju inflasi juga rendah, yakni di angka 2,7 persen, sehingga pemilik dana yang menempatkan uang dalam bentuk deposito berjangka masih bisa menikmati return sekitar 3 persen per tahun. Tapi itu belum dipotong pajak. Setelah dipotong, tentu netto-nya menjadi lebih rendah.

Konkretnya, penempatan dana dalam bentuk deposito berjangka sebagai suatu investasi di tahun 2009, dari sisi return jelas tidak menarik sama sekali. Apalagi, jika dana tersebut ditempatkan dalam bentuk tabungan, hasilnya bisa zero, setelah dikurangi dengan inflasi dan pembayaran pajak bunga.

Dengan situasi seperti itu, jelas, kendati sebagian dari Anda mungkin menikmati gain luar biasa besar di pasar modal, sebagian lagi mungkin juga malah mengalami masalah dengan investasi di tahun 2009. Dan kalau Anda termasuk yang tertimpa masalah, lantas apa yang mesti dilakukan di tahun 2010, terkait dengan kegiatan investasi Anda? Beberapa hal berikut mungkin bisa dijadikan referensi.

Pertama, merancang kembali alokasi investasi berdasarkan tujuan keuangan yang hendak dicapai di tahun 2010 dengan mempertimbangkan aspek makroekonomi, mikro, dan juga politik serta tentu saja tujuan keuangan itu sendiri. Mengenai hal ini sudah pula dibahas dalam beberapa tulisan terdahulu.

Kedua, melakukan restrukturisasi terhadap investasi yang belum memberikan gain bagus atau malah dalam kondisi bermasalah. Apa yang dimaksud dengan restrukturisasi? Singkatnya adalah mengupayakan investasi yang belum baik menjadi baik dan atau investasi yang bermasalah menjadi tidak bermasalah. Apa contohnya? Kita mulai dengan investasi saham di pasar modal.

Bahwa secara umum harga saham di pasar modal mengalami peningkatan adalah fakta. Tetapi, jika dilihat per saham, ada saham yang tidak mengalami kenaikan harga. Di samping itu, ada investor yang membeli saham, ketika harga sudah terlalu tinggi, sehingga belum memperoleh potensi gain. Situasi semacam ini banyak dialami pelaku di pasar modal dan terhadap saham-saham semacam itu tentu harus ada solusinya. Seperti apa?

Ada beberapa alternatif yang bisa ditempuh. Jika Anda yakin bahwa fundamental value dari saham tersebut cukup baik, maka terhadap saham-saham yang harganya belum meningkat malah bisa dilakukan pembelian lagi. Jadi portofolio saham Anda ditambah. Dan kalau saat ini harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga ketika dulu Anda beli, maka secara rata-rata biaya yang Anda keluarkan untuk membeli saham tersebut menjadi lebih rendah. Ini disebut juga dengan istilah averaging down.

Cara lain adalah segera melepas saham kendati rugi. Ini layak jika saham memang tidak memiliki fundamental value yang kuat. Dengan menjual saham dimaksud, Anda memperoleh cash yang bisa diinvestasikan kembali ke saham lain. Dengan harapan keuntungan atau gain dari saham yang baru bisa menutupi kerugian dari saham yang Anda jual. Dalam hal ini tentu saja Anda harus juga memperhitungkan dividen yang sudah Anda peroleh dari saham tersebut.

Itu jika restrukturisasi hendak dilakukan untuk saham. Bagaimana dengan investasi lain? Anda juga mungkin mengalami masalah pada investasi di sektor riil, misalnya ikut teman menjalankan bisnis dan ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Apa yang mesti dilakukan?

Bisnis

Jika tidak berjalannya suatu bisnis, di mana Anda menanamkan uang di dalam bisnis tersebut, lebih dikarenakan faktor ekonomi makro, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, ekonomi seperti sebuah siklus, akan mengalami masa baik, setelah melewati masa surut. Kalau penyebabnya seperti ini, yang perlu dicermati hanyalah soal cash flow. Artinya, bagaimana agar cash in flow tetap bisa lebih besar dibandingkan dengan cash out flow.

Namun jika kondisinya sudah memburuk, di mana cash out flow lebih besar dibandingkan dengan cash in flow, Anda mesti mempertimbangkan dua hal: menambah modal, baik dari kantong sendiri maupun mengajak partner lain dan atau melepas bisnis tersebut. Menambah modal dan atau mengajak mitra bisa dipertimbangkan jika memang bisnisnya masih prospektif dan Anda memiliki kemampuan untuk menjalankan bisnis dimaksud.

Persoalannya lebih kepada faktor makro. Tetapi, jika masalah yang dialami oleh bisnis Anda terkait dengan ketidakmampuan mengelola bisnis, ada baiknya berpikir ulang untuk meneruskan bisnis tersebut. Karena faktornya bukan makroekonomi, melainkan di internal Anda. Dengan kata lain, kendati makroekonomi membaik, belum tentu bisnis Anda menguntungkan.

Dari contoh di atas jelas, investasi yang Anda lakukan, di pasar modal maupun sektor riil, jika mengalami masalah, tidak boleh dilakukan pembiaran. SeMesti ada langkah korektif yang disebut restrukturisasi, baik itu dalam rangka perbaikan maupun mengurangi kerugian yang lebih parah.

KOMPAS

Sunday, January 24, 2010

Investasi dengan Pinjaman Bank

Minggu, 24 Januari 2010 | 02:59 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Baru-baru ini datang pertanyaan mengenai investasi dengan dana dari bank. Investor memperoleh dana cukup lumayan dengan tingkat bunga 1,6 persen per bulan selama lima tahun. Artinya, investor harus bisa menghasilkan return minimum sekitar 2% per bulan agar bisa membayar bunga bank tersebut. Ke mana investor harus melakukan investasi agar menguntungkan investor dan dananya tidak kehilangan?

Dalam melakukan investasi, investor harus memahami tujuan dana yang dimiliki. Adapun tujuan investasi dengan uraian sebelumnya bahwa investor ingin melakukan investasi yang hasilnya minimum 1,6 persen karena ada kewajiban kepada pihak bank sebesar 1,6 persen per bulan dengan periode 5 tahun. Tujuan ini juga menyatakan bahwa investasi investor bisa berkurang dananya selama periode lima tahun, tetapi pada akhir tahun kelima dananya sudah terpenuhi untuk membayar pinjaman serta investor harus bisa membayar bunga 1,6 persen per bulannya.

Alternatif investasi yang bisa dilakukan investor adalah pertama, melakukan investasi pada instrumen investasi yang menghasilkan tingkat pengembalian minimum 1,6 persen per bulannya selama 5 tahun. Tetapi, investasi tersebut harus bisa menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari bunga yang dibayarkan kepada bank agar ada hasil bagi investor dan investor tidak memperkaya pihak lain atau kerja rodi dan tidak menikmati keuntungan.

Dalam kasus investasi ini, dana awal investor tidak pernah turun setiap bulannya. Kedua, investor melakukan investasi kepada instrumen investasi yang pada akhir periode nilainya sama dengan pinjaman kepada bank dan bisa memberikan hasil investasi lebih tinggi dari tingkat bunga yang diberikan bank. Dana yang diterima dari bank tersebut bisa berfluktuatif setiap bulan, tetapi ada kemampuan untuk membayar bunga bank sebesar 1,6 persen setiap bulannya. Investor tidak perlu mendapatkan dana untuknya, tetapi di akhir periode ada dana yang dibayar ke bank untuk pengembalian pinjaman bank.

Dalam melaksanakan investasi sesuai tujuan yang diuraikan sebelumnya, investor dapat melakukan dengan dua cara, yaitu dengan melakukan sendiri atau diberikan kepada ahlinya. Bila memilih pengelolaan sendiri, investor harus memiliki minimum tiga karakteristik yang dilakukan, yaitu pertama, investor mempunyai waktu yang banyak. Waktu ini sangat penting karena perlu penanganan yang konsisten setiap waktu terutama pergerakan harga instrumen investasi dan pengaruh kebijakan pemerintah atas investasi yang dilakukan.

Kedua, investor mau mengurusi administrasi pengelolaan dana yang dikerjakan. Investor harus bisa melihat atau mencatat kapan pembayaran dan penerimaan dana. Apakah dana yang dimiliki masih cukup untuk membayar pembelian saham.

Ketiga, investor juga harus mempunyai keahlian untuk menganalisis pasar serta saham-saham yang akan diinvestasikan. Bila tidak memiliki tiga karakteristik yang diuraikan sebelumnya, investor bisa meminta bantuan kepada pihak lain yang bisa mengelolanya dengan persyaratan yang telah dikemukakan sebelumnya, yaitu tingkat pengembalian minimum 1,6 persen per bulan dan pada akhir tahun kelima dana pinjaman bank bisa dikembalikan.

Bila ini yang dipilih, investor masuk pada pengelolaan dana antara investor dengan pihak pengelola dana yang dianggap investor ahli dalam mengelola dana. Untuk kasus kedua ini, investor harus mempunyai kontrak dengan pihak yang mengelola dana tersebut. Dalam kontrak tersebut, tujuan dan hasil yang diinginkan investor harus dimuat secara jelas agar tidak terjadi persoalan di belakang hari.

Kontrak dengan pengelola dana investor merupakan pegangan secara hukum yang bisa digunakan di kemudian hari bila ada perselisihan. Janji-janji yang tidak tertulis dalam kontrak tidak bisa dituntut di belakangan hari. Walaupun ada janji tertulis tetapi tidak dituangkan dalam kontrak tidak bisa dituntut di belakang hari karena kontrak tersebut menjadi patokan atas kerja sama pengelolaan dana tersebut.

Investor harus pintar memilih pengelola dana agar dana yang dimiliki tidak menjadi bunting karena dana diperoleh dari pinjaman bank. Investor harus mengetahui track record dari pengelola dana serta siapa sebenarnya di belakang pengelola dana tersebut. Nama besar pengelola dana bukan menjadi ukuran bahkan kepemilikan asing juga bukan menjadi patokan. Kehati-hatian investor sangat penting karena risiko tetap di pundak investor dan investor sendiri yang akan mengalami kerugian. Pengelola dana hanya memperoleh fee atas pengelolaannya.

Untuk melakukan alternatif investasi tersebut, baik dilakukan sendiri maupun dengan pihak lain yang dianggap ahli, instrumen investasi yang dapat diinvestasikan sangat bervariasi. Berdasarkan data empiris yang diperoleh, instrumen investasi yang dapat memenuhi keinginan atau uraian sebelumnya adalah saham dan reksa dana.

Investasi pada saham membutuhkan berbagai keahlian serta investor harus mempunyai waktu agar bisa memonitor saham tersebut. Investor juga harus bisa menilai saham tersebut agar pilihan investor tepat dan dapat memenuhi tujuan investasi yang telah diuraikan sebelumnya.

Investor harus masuk kepada investasi yang tingkat pengembaliannya bisa setiap bulannya 1,6 persen. Investor tidak bisa melakukan strategi beli sekarang dan tahan sampai dengan 5 tahun, tetapi investor harus melakukan trading (beli dan keluar setiap ada kesempatan).

Saham yang bisa diinvestasikan investor harus lebih baik dari pergerakan saham secara keseluruhan yang dikenal dengan indeks. Berdasarkan data empiris yang dipublikasikan www.finansialbisnis.com bahwa saham badan usaha milik negara (BUMN) yang mempunyai pergerakan lebih bagus dari indeks. Saat ini ada sekitar 15 saham BUMN yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

Bila investor memilih reksa dana sebagai instrumen investasi, ada dua jenis reksa dana investasi yang layak diinvestasikan, yaitu reksa dana campuran dan reksa dana saham. Investor harus mengingat bahwa hasil yang telah dicapai reksa dana di masa lalu belum tentu tercapai di masa datang.

Oleh karena itu, investor dapat memilih reksa dana yang portofolionya sesuai dengan uraian sebelumnya mengenai saham-saham BUMN. Jika reksa dana campuran, maka investor juga memilih reksa dana yang portofolionya saham-saham yang bagus dan obligasi yang bagus pula. Investor harus melakukan penelitian dan bertanya kepada yang sudah ahlinya. Sekali lagi risiko investasi tetap pada investor, penulis hanya menguraikan saja. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

Sunday, January 17, 2010

Investasi: Resolusi Investasi Tahun Macan

Minggu, 17 Januari 2010 | 02:42 WIB

Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Ketika krisis ekonomi terjadi tahun 1997 dan 2008, cukup banyak orang berhasil dalam berinvestasi. Tetapi, pada tahun-tahun ketika ekonomi bertumbuh pesat, ada juga yang gagal berinvestasi. Bagaimana resolusi investasi pada Tahun Macan ini?

Investasi dibagi menjadi beberapa jenis. Untuk memudahkan, kita bagi menjadi dua area: investasi sektor riil dan investasi pasar modal. Kedua area tersebut tidak bisa dilepaskan kondisinya dari faktor makroekonomi dan faktor internal pelaku atau investor.

Contoh pengaruh faktor ekonomi adalah laju inflasi. Kalau inflasi tinggi, tingkat bunga juga akan tinggi sehingga pemilik dana akan menempatkan uangnya di bank. Sebaliknya, bila tingkat bunga rendah, pemilik dana akan menempatkan dana pada saham. Tetapi, bunga rendah, termasuk bunga pinjaman, sektor riil akan bergerak. Bila kinerjanya bagus, harga saham juga berpotensi menguat.

Dalam realitasnya, kita melihat kondisi perekonomian Indonesia tahun 2009 jauh lebih baik daripada tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4 persen. Nilai tukar rupiah bertengger di sekitar Rp 9.500 per dollar AS. Laju inflasi juga tergolong sangat rendah, yakni di bawah 3 persen.

Indeks pasar saham berada pada angka 2.530-an. Ini jauh lebih tinggi daripada tahun 2008 yang berada pada angka 1.355. Bursa Efek Indonesia bahkan tergolong salah satu bursa yang memberi hasil tertinggi di dunia, yaitu mencapai 86 persen.

Fakta yang terjadi pada setiap investor bisa sangat berbeda. Di pasar modal, misalnya. Kendati secara umum mayoritas investor mestinya menuai keberhasilan, tetapi bila pemilihan waktu masuk membeli saham keliru bukan tidak mungkin yang dituai kegagalan alias merugi. Walaupun secara menyeluruh indeks meningkat hingga 86 persen, tetapi tetap ada saham-saham yang harganya jatuh, khususnya saham berkategori ”gorengan”.

Dari paparan di atas, jelas bahwa tidak peduli tahun kapan pun, yang paling berpengaruh adalah cara investor menyikapi berbagai fenomena ekonomi pada tahun tersebut. Demikian pula pada Tahun Macan ini.

Bagaimana perkiraan ekonomi makro? Konsensus para ekonom dan juga proyeksi beberapa lembaga riset ternama memperlihatkan, tahun 2010 bisa lebih baik daripada tahun 2009. Untuk pertumbuhan ekonomi, misalnya, diperkirakan bisa di atas 5 persen. Ini masih lebih tinggi ketimbang 2009 yang diperkirakan 4,4 persen.

Demikian juga dengan nilai tukar rupiah, diperkirakan akan menguat dan bisa berada pada angka Rp 9. 000 per dollar AS. Di sisi lain, laju inflasi diduga akan lebih tinggi dari tahun 2009, yakni sekitar 6 persen. BI rate diperkirakan meningkat menjadi 7,5 persen, paling tidak itu akan terjadi pada semester kedua 2010. Dampaknya, suku bunga dana mestinya juga lebih tinggi dari sekarang. Sementara untuk pasar modal, banyak kalangan yakin angka indeks masih akan tumbuh 20-25 persen dan berada pada kisaran 2.900-3.000 pada akhir tahun 2010.

Tentukan tujuan

Dalam realitasnya, investasi bersifat dinamis dan lebih dipengaruhi perilaku saat keputusan investasi dilakukan. Lalu, bagaimana konkretnya?

Pertama, kembali ke rumus awal. Tentukan tujuan keuangan pada 2010. Dengan perkiraan keadaan ekonomi akan lebih baik, mestinya tujuan keuangan juga harus lebih menantang.

Kedua, tentukan cara mencapai tujuan keuangan melalui investasi dengan mengacu pada berbagai asumsi ekonomi. Siapkan alokasi investasi strategic asset allocation ke berbagai jenis instrumen investasi. Bila Anda memiliki banyak sumber dana dan ingin masuk ke semua jenis investasi, baik sektor riil maupun sektor keuangan, maka alokasinya tentu berbeda dari tahun sebelumnya.

Ketiga, pastikan ekspektasi rasional Anda terhadap imbal hasil dari semua instrumen investasi yang dipilih. Dalam hal ini, penggunaan logika dan analisis sangat penting. Jangan berkeyakinan bila pasar modal akan seperti tahun 2009 yang tumbuh 86 persen. Untuk mengukur berapa kemungkinan bertumbuhnya, lihat riwayat tahun-tahun sebelumnya.

Itu sebabnya banyak analis yakin indeks pasar modal akan naik hanya sekitar 20 persen. Itu berarti ekspektasi Anda juga sebaiknya pada kisaran angka tersebut.

Lalu jika dihitung menyeluruh dengan menggabungkan ekspektasi imbal hasil di deposito, obligasi, reksa dana atau investasi lain, tentu akan menghasilkan angka yang boleh jadi tidak setinggi itu.

Dari paparan di atas jelas, jika Anda ingin membuat resolusi investasi pada tahun 2010, maka siapkan beberapa resolusi yang masuk akal. Contohnya, investasi tetap bertumbuh berkelanjutan dan memiliki pencapaian tertentu. Perbaiki imbal hasil setiap jenis instrumen investasi. Itu yang utama.

Resolusi lain, misalnya, sempurnakan pola pengambilan keputusan, tidak lagi melibatkan perasaan atau pengaruh orang lain. Ini penting sebab beberapa kegagalan ataupun keberhasilan investasi Anda tahun 2009 boleh jadi bukan karena keputusan sendiri melainkan karena dorongan eksternal.

Kondisi seperti ini jelas tidak akan berulang. Jadi, kesimpulannya, resolusi investasi tidak selalu mesti dalam bentuk angka, tetapi bisa saja lebih fundamental dan berdampak jangka panjang. Dengan kata lain, membuat target kualitatif adalah resolusi yang lebih membumi.

KOMPAS

Sunday, January 10, 2010

Investasi: Ke Arah Mana Bursa?

Minggu, 10 Januari 2010 | 03:00 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Awal tahun biasanya merupakan titik awal bagi seseorang untuk melakukan investasi. Bila dana sudah diinvestasikan dan sudah berbentuk portofolio, maka pertanyaan yang timbul, apakah portofolio tersebut akan diteruskan atau melakukan perubahan. Bila dana masih dalam bentuk tunai, ke mana dana tersebut diinvestasikan? Apakah ke saham atau ke instrumen obligasi atau reksa dana? Pertanyaan yang muncul, ke mana harus melakukan investasi?

Berbagai pihak telah menyebutkan bahwa bursa saham akan terus mengalami peningkatan dan akan menyentuh level lebih dari 3.000. Pada akhir tahun 2008, IHSG ditutup pada level 1.355,408, di mana level ini merupakan level yang drop tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2009, IHSG mengalami kenaikan yang tajam sampai pada level 2.534,356 walaupun terjadi peristiwa politik dan berbagai kasus hukum yang belum diselesaikan karena lemahnya leadership. Berarti terjadi kenaikan IHSG sebesar 86,98 persen atau ada keuntungan investor yang melakukan investasi pada saham indeks. Tingginya tingkat pengembalian investasi pada Bursa Efek Indonesia ini masih lebih rendah dari Bursa China dan masih lebih rendah dari Bursa Rusia.

Apakah hasil yang dicapai pada tahun 2009 akan terulang pada tahun 2010 ini? Bila masih berulang, maka selayaknya melakukan investasi pada Bursa Saham Indonesia. Seperti pada awal tulisan ini bahwa bursa masih dianggap sebagai investasi yang menguntungkan karena IHSG bisa menembus angka 3.000. Bahkan, berita di beberapa koran, IHSG ditargetkan ke level 3.300 sampai dengan 3.400 dan merupakan target IHSG dari sebuah lembaga pengelola bursa.

Pertumbuhan

Berdasarkan perhitungan, dengan berbagai alasan bahwa IHSG paling rendah pada level 2.900 pada akhir tahun 2010. Artinya terjadi pertumbuhan IHSG paling rendah sebesar 14,43 persen. Bila IHSG ditargetkan pada level 3.300, maka terjadi pertumbuhan IHSG sebesar 30,21 persen sehingga IHSG kelihatannya sudah diharapkan mengalami peningkatan.

Bila diperhatikan tingkat bunga yang diberikan instrumen yang bebas risiko sekitar 6,5 persen dan sudah menjadi asumsi pada APBN 2010, maka investasi pada saham sudah lebih tinggi. Tetapi, risk premium yang diberikan sekitar 8 persen sudah wajar untuk investasi pada saham yang menjadi pilihan investor merupakan perdebatan. Melihat besarnya risk premium tersebut, maka sudah selayaknya melakukan investasi di saham. Sebenarnya, berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan berbagai akademisi, risk premium di negara-negara berkembang sebesar 6-8 persen sehingga angka risk premium tersebut sudah sangat wajar. Adapun alasan yang membuat IHSG bisa bertumbuh sebesar nilai tersebut disebabkan berbagai faktor.

Pertama, tingkat bunga masih tetap pada level 6,5 persen, di mana saat ini SBI pada level 6,25 persen. Bila pemerintah ingin menaikkan tingkat bunga ke lebih tinggi, kemungkinan tidak akan melebihi 7,5 persen. Artinya, pemerintah bisa menaikkan tingkat bunga hanya maksimum dua kali dengan kenaikan 50 bps (0,5 persen). Biasanya, tingkat bunga yang meningkat membuat bursa mengalami penurunan sehingga akan terjadi perpindahan dana dari instrumen saham ke instrumen berpendapatan tetap. Tetapi, kenaikan tingkat bunga dianggap tidak signifikan sehingga bursa akan menurun dalam waktu singkat dan kembali mengalami kenaikan.

Pada posisi ini sebenarnya, investor menjual saham ketika tingkat bunga akan dinaikkan dan membeli kembali ketika tingkat bunga sudah dinaikkan serta stabil kembali. Sebenarnya, berdasarkan kalkulasi dan informasi yang telah beredar, pemerintah akan menaikkan tingkat bunga walaupun waktunya belum jelas. Tanda-tanda kenaikan tingkat bunga terlihat dari ditundanya kenaikan harga listrik dan pemerintah akan menaikkan harga BBM karena tidak menaikkannya pada tahun 2009 diakibatkan pemilu.

Kenaikan

Adanya kenaikan harga berakibat pada kenaikan inflasi dan akhirnya kenaikan tingkat bunga. Kedua, pertumbuhan kredit yang disalurkan perbankan. Pertumbuhan kredit pada tahun 2010 ini direncanakan sekitar 17-20 persen di mana pertumbuhan pada tahun 2009 diperkirakan lebih rendah sekitar 12-14 persen. Pertumbuhan kredit yang lebih dari tahun 2009 menyebabkan perusahaan dapat meningkatkan laba bersih sehingga ada peningkatan harga saham.

Ketiga, kinerja pemerintah yang menginginkan adanya pertumbuhan yang lebih baik sehingga pemerintah membuat usaha-usaha melalui kebijakan untuk membantu masyarakat pebisnis. Pemerintahan sekarang yang didominasi Partai Demokrat akan mempunyai hasrat untuk membuat ekonomi lebih baik, ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5 persen, maka harapan perusahaan akan menyumbang perekonomian. Perusahaan yang terdaftar di bursa, yang paling mempunyai kesempatan karena sudah dikenal dan teruji manajemennya. Adanya pertumbuhan ini mengakibatkan harga saham akan mengalami kenaikan.

Keempat, ekspektasi pebisnis dan masyarakat. Dengan berbagai situasi yang telah terjadi, maka harapan para pebisnis ingin meningkatkan pendapatannya. Adanya harapan kenaikan pendapatan membuat pebisnis berusaha meningkatkan kinerjanya sehingga pertumbuhan akan terjadi. Kelima, kondisi politik dalam negeri yang mulai stabil. Kondisi politik yang sudah stabil akibat adanya pemenang pemilu dan sekaligus memegang tampuk pemerintahan memberikan kepercayaan baik untuk lokal maupun luar negeri. Kondisi ini menarik pemilik dana melakukan investasi sehingga meningkatkan pendapatan perusahaan dan akhirnya meningkatkan harga saham di bursa.

Keenam, investor asing sebagai pendorong kenaikan bursa. Semua pihak telah mengetahui bahwa bursa kita banyak didorong oleh transaksi investor asing. Bila asing telah masuk melakukan transaksi di bursa, maka IHSG terus mengalami kenaikan. Investor lokal juga menaikkan investasinya. Tetapi, sayangnya investor lokal selalu terlambat keluar, bahkan masuknya ke bursa juga telat. Akibatnya keuntungan yang diperoleh kecil, bahkan ada yang mengalami kerugian.

Oleh karena itu, bila melihat harga saham sekarang ini dan investor asing belum masuk, maka sudah saatnya memasukkan atau melakukan investasi pada saham sebelum ketinggalan kereta. Tetapi, harus diingat bahwa investasi pada saham mempunyai risiko adanya kemungkinan harga saham menurun tajam sehingga risiko tetap di tangan investor dan keputusan juga di tangan investor.

KOMPAS

Saturday, January 9, 2010

Siapa Miliarder Amerika Pencetak Uang Tahun 2009?

Sabtu, 9 Januari 2010 | 06:36 WIB

KOMPAS.com - Raja ritel online semakin kaya. Berkat Kindle, yang mencetak rekor penjualan pada bulan November dan meningkatnya jumlah pengunjung ke Amazon.com pada m musim liburan, menurut Alexa.com, Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon.com ini pun mencetak banyak keuntungan pada tahun 2009.

Naiknya saham Amazon.com membuat keuntungan Bezos naik 7,3 miliar dollar AS dalam 12 bulan terakhir. Saham ini naik 175 persen sejak Januari tahun lalu. Ini membuat Jeff Bezos berada di urutan keenam daftar miliarder Amerika pencetak uang versi Majalah Forbes tahun 2009.

Larry Page, salah satu pendiri Google yang tahun lalu berada di posisi puncak dengan perolehan 11,9 miliar dollar AS pada tahun 2008, kini berada di urutan kelima dengan perolehan 8,4 miliar dollar AS antara Januari 2009 hingga pertengahan Desember 2009. Di belakang Page adalah mitra seumur hidupnya, Sergey Brin dengan perolehan 8,2 miliar dollar AS.

Dalam menyusun peringkat ini, Majalah Forbes melihat miliarder yang memiliki saham di perusahaan publik dan memperhitungkan keuntungan surat berharga dalam dollar. Pihak Forbes tidak memasukkan saham yang dibeli dan dijual dalam periode tersebut.

Ini menjadi tahun yang baik bagi saham-saham teknologi lebar. Indeks Nasdaq naik 40 persen pada tahun 2009, mengalahkan S&P 500 senilai 19 persen.

Enam pemenang saham terbesar masuk dalam daftar orang memiliki saham-saham di perusahaan perangkat lunak atau perusahaan internet. Di belakang Page dan Brin adalah Larry Ellison (Oracle), Bill Gates (Microsoft), Bezos dan Steve Ballmer (Microsoft). Kalau digabungkan, enam orang yang bergerak di bidang teknologi ini mencetak 44 miliar dollar AS selama 12 bulan terakhir.

Ralph Lauren, yang memperoleh 1,3 miliar dollar AS pada tahun 2009, satu-satunya miliarder di bidang fashion yang memenuhi kualifikasi. Namun para pengecer lain berlari cepat. Richard Hayne's Urban Outfitters memperoleh 120 persen, sementara Leslie Wexner's Limited Brands naik 90 persen (bukan miliarder namun masuk dalam daftar kualifikasi).

Lima besar pemenang saham di Amerika mempertaruhkan keberuntungan mereka di bidang keuangan. Di antaranya salah satu pendiri Blackstone Stephen Schwarzman (1,5 miliar dollar AS) dan miliarder hudge-fund Daniel Och (lebih dari 1,3 miliar dollar AS).

Jika tahun 2008 merupakan akhir dari masa keemasan ekuisitas swasta, tahun 2009 menunjukkan bahwa investor masih mempercayakan uang mereka kepada manajer yang bertahan dalam krisis keuangan yang terburuk.

Saham Blackstones naik 110 persen tahun ini, masih sulit untuk dirayakan mengingat saham-saham investasi raksasa masih turun 60 persen sejak go public tahun 2007. Yang juga kembali berjaya adalah Sheldon Adelson. Saham Las Vegas Sands miliknya naik 1.000 persen sejak Maret lalu, masih butuh pendorong lebih kuat bagi konglomerat kasino ini. Nilai saham Adelson jatuh hingga 24 miliar dollar AS pada tahun 2008, dan menyebabkannya menjadi pecundang terbesar tahun lalu.

KOMPAS

Sunday, January 3, 2010

[Road to $100/day]: Re-write the Articles

Setelah melakukan keyword research terhadap beberapa ide pada bulan Juli-Agustus 2009 didapat beberapa turunan keyword (micro niche keyword bahkan dapat disebut juga super micro niche keyword).

Pekerjaan setelah itu adalah mencari konten sesuai dengan keyword. Ini dilakukan dari bulan Agustus 2009 s/d November 2009....cukup lama.....karena saya harus bekerja dari pagi sampai malam hari........saya pikir cukup 1 bulan asalkan konsisten melakukannya.

Bulan Desember 2009 dibuatkan domain, hanya terpilih 2 domain untuk di-online kan.

Nah....pekerjaan lain yang cukup melelahkan juga adalah "Re-write the Articles". Artikel yang sudah didapat ditulis ulang untuk memberikan kesan unik dimata Google Search Engine, tentu saja artikel berbahasa inggris.

Saya hanya membutuhkan 1 jam untuk me-rewrite 1 artikel. Sekali lagi kalau konsisten dalam waktu 1 bulan bisa terselesaikan.

Target untuk posting artikel adalah akhir bulan ini artinya 2 buah domain yang sudah diregistrasi dapat di-onlinekan dan dapat di browse.

Akhir bulan Maret 2010, 2 website tersebut diproyeksikan sudah dapat dicari melalui Google Search Engine artinya Internal linking dan External linking sudah dilakukan dengan baik begitu juga submit ke beberapa directory.....tidak lupa PPC dan PPS sudah nyantol disana.

Saya pikir tidak lama lagi....dalam waktu 6 bulan kedepan...sudah ada penghasilan beberapa ratus dollar per harinya.....Insya ALLAH.....harus optimis......


Salam Sukses
Idam

Konsultasi Investasi & Keuangan: Investasi Tanpa Beban

Minggu, 3 Januari 2010 | 03:37 WIB

Elvyn G Masassya
Praktisi keuangan

Masih ingat peristiwa yang terjadi pada sebuah bank swasta, yang belakangan ini ramai diberitakan media massa? Fenomena yang menimpa bank tersebut ditengarai sarat berbagai kepentingan. Mulai dari kepentingan baik, hingga kepentingan yang kurang jelas. Lepas dari itu, tidak ada salahnya kita cermati apa khususnya yang menimpa sebagian pengguna bank tersebut sehingga dananya tidak bisa kembali.

Awalnya sekadar mengharapkan tingkat bunga tinggi dari deposito berjangka. Ketika bank tersebut menawarkan bunga cukup menarik, para nasabah pun berdatangan.

Karena di bank mana pun, sepanjang deposito yang ditempatkan tidak lebih dari Rp 2 miliar, dana deposan akan aman, sesuai peraturan pemerintah. Dus, menempatkan dana di bank, sebenarnya merupakan pilihan investasi yang paling minim risikonya.

Lantas kenapa terjadi masalah? Dalam praktiknya, sebagian bank kemudian mencoba mendiversifikasikan bisnis dengan menjadi pemasar produk pasar uang. Bisa dalam bentuk reksa dana atau malah structure product. Produk tersebut kemudian ditawarkan kepada para deposan.

Sebagian deposan tertarik karena dijanjikan imbal hasil lebih tinggi. Apakah keliru? Jelas tidak. Reksa dana saham, misalnya, bisa saja memberikan imbal hasil jauh di atas deposito berjangka jika pengelolaannya dilakukan dengan benar. Masalahnya, dalam memasarkan produk tersebut, pihak bank belum tentu menjelaskan reksa dana dimaksud bukanlah produk bank, bukan produk yang dijamin pemerintah, dan tidak termasuk dalam portofolio bank. Lebih dari itu, produk tersebut berisiko. Risiko bukan urusan bank karena bank hanya sebagai agen pemasar.

Di sisi lain, karena pengetahuan tentang produk keuangan relatif minim dan atau tergiur iming-iming imbal hasil besar, ditambahi kondisi yang menawarkan produk adalah bank, maka banyak deposan tergiur.

Lebih jauh lagi, mungkin saja dalam perjanjian pembelian produk sudah dicantumkan produk dimaksud bukan milik bank. Bank hanya sebagai agen penjual dan risiko sepenuhnya ditanggung pemilik dana. Tetapi, karena telanjur tergiur imbal hasil yang besar, isi perjanjian tidak dicermati teliti. Para pemilik dana yang notabene deposan langsung saja membubuhkan tanda tangan. Selanjutnya, deposito berubah bentuk menjadi reksa dana atau produk sejenis.

Malapetaka tiba ketika bank tersebut bermasalah. Benar, pemerintah melakukan bail out, tetapi hanya dana nasabah yang tercatat dalam buku bank, sedangkan para pemegang reksa dana bukanlah deposan.

Masalahnya, sebagian dari pemegang produk reksa dana boleh jadi sebelumnya deposan di bank sama. Kemudian deposito tersebut dikonversi menjadi reksa dana tanpa memahami konsekuensinya. Cerita menjadi lain jika deposan tidak tahu-menahu perpindahan dananya menjadi reksa dana. Jika seperti ini adanya, jelas oknum bank sangat mungkin mencurangi deposan.

Pelajaran

Apa yang bisa dipetik dari fenomena di atas? Paling tidak ada dua pelajaran penting.

Pertama, jangan mudah tergiur iming-iming imbal hasil besar meskipun diberikan pihak bank. Semakin tinggi potensi imbal hasil, maka semakin besarlah risiko yang melekat di dalamnya.

Dalam kisah di atas, semestinya pihak bank transparan menjelaskan kepada calon investor segala risiko yang melekat. Jika pihak bank tidak menjelaskan, maka calon investor mesti bertanya seluas-luasnya. Ringkasnya, jangan pernah berkata ”ya” sebelum Anda memahami segala potensi keuntungan dan risiko yang melekat pada sebuah produk.

Kedua, jangan pernah tidak serius ketika melakukan perjanjian investasi. Anda tentu pernah melihat isi perjanjian kartu kredit atau perjanjian lain yang berhubungan dengan kegiatan keuangan. Pernahkah Anda mempelajari detail? Mungkin saja tidak.

Dengan mudahnya Anda membubuhkan tanda tangan, padahal mungkin ada klausul yang memberatkan Anda. Pahamilah, ketidakpedulian terhadap isi perjanjian merupakan awal terjadinya penderitaan kemudian hari jika terjadi ”apa-apa” dengan produk investasi Anda.

Lantas bagaimana agar investasi tidak menjadi beban, tetapi benar-benar sebagai tindakan positif yang membantu Anda mencapai tujuan keuangan?

Ada beberapa saran. Pertama, investasi dilakukan dengan perencanaan matang dalam rangka mencapai tujuan keuangan. Investasi jangan dilakukan jika hanya berdasarkan tawaran agen penjual produk. Bagi mereka, yang penting produk bisa dijual sebanyak-banyaknya. Mau untung atau rugi bukan urusan agen penjual. Karena itu, kalaupun Anda tertarik, cermati apakah produk yang hendak Anda beli karena tawaran tersebut sesuai atau tidak dengan tujuan keuangan Anda. Jangan hanya melihat iming-iming saja.

Kedua, investasi memiliki perikatan kontrak antara pemilik dana dengan pihak yang menginvestasikan. Jangan pernah menganggap remeh isi perjanjian. Jika tidak paham, jangan beli produk tersebut sampai Anda paham. Minta bantuan teman atau ahli hukum untuk menjelaskan konsekuensi isi perjanjian.

Ketiga, tingkatkan pengetahuan tentang produk investasi. Benar saat ini bank atau lembaga keuangan apa pun memiliki tenaga penjual yang bisa menjelaskan produk. Tetapi, jangan lupa, pihak penjual bukan berada di pihak Anda. Karena itu, sedikit banyak Anda pribadi mesti memiliki pengetahuan dasar agar bisa berargumentasi dengan pihak penjual. Untuk memahami produk investasi, Anda bisa belajar mandiri melalui berbagai buku atau bertanya kepada ahlinya.

Kesimpulannya, investasi merupakan perpaduan dari keterampilan, pengetahuan, dan seni, termasuk ”nyali” yang mesti sesuai dengan karakteristik pribadi. Kegagalan atau keberhasilan, beban atau kesenangan, bergantung kepada Anda dalam menentukan keputusan.

KOMPAS

Friday, January 1, 2010

Tutup 2009, Wall Street Turun Tajam

Jumat, 1 Januari 2010 | 08:12 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Menutup tahun 2009, saham-saham di Wall Street, Kamis (31/12/2009) waktu setempat, jatuh tajam.

Pasar tertekan oleh kekhawatiran bakal dinaikkannya tingkat suku bunga dalam waktu dekat seiring dengan membaiknya data pekerjaan.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melorot 123,64 poin atau 1,17 persent pada 10.424,87. Kemudian indeks komposit Nasdaq berkurang 22,13 poin (0,97 persen) ke posisi 2.269,15 serta indeks Standard & Poor’s 500 jatuh 1,02 persen (11,52 poin) ke posisi 1.114,90.

KOMPAS

Sunday, December 27, 2009

Melayani Obrolan Calon Pembeli

Minggu, 27 Desember 2009 | 03:54 WIB

Sejak internet berkembang di Tanah Air, semakin banyak bisnis yang dikelola melalui dunia maya. Coba saja cari di mesin pencari Google dengan kata kunci ”bisnis online” atau ”toko online”, maka keluarlah jutaan situs yang menjual berbagai macam produk barang maupun jasa.

Bagi mereka yang terjun ke bisnis di dunia maya, dibutuhkan kreativitas agar situs bisnis mereka dilirik pengunjung di antara jutaan situs lainnya. Bayu Amperiawan mengaku punya cara agar situs yang dibuatnya langsung muncul ketika orang mengetik kata ”toko coklat” di mesin pencari Google. Namun, ia enggan mengungkap rahasia cara memunculkan situsnya agar tampil di urutan pertama peringkat Google.

Agar konsumen merasa aman membeli cokelat dari toko virtualnya, Bayu dan Lisnawati mendaftarkan produknya ke Departemen Kesehatan. Pada kemasan produk yang dikirim kepada pembeli, Lisnawati juga selalu mencantumkan tanggal kedaluwarsa.

Sementara itu, Felicia memperkenalkan situs bisnisnya melalui blog dan jejaring sosial semacam Facebook. Semua orang yang tercatat menjadi temannya di jejaring sosial tadi ia undang untuk berkunjung ke Kadoplus. Felicia juga memperkenalkan situsnya dengan cara menyebar brosur di tempat keramaian.

Untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan, Susan dan Irene, pemilik Toko Djiraf, membuka jalur khusus yang bisa diakses melalui program obrolan di dunia maya. Program obrolan ini bisa diakses pada jam kerja, setiap hari Senin-Jumat pukul 10.00-17.00. Sedangkan pada hari Sabtu, layanan obrolan ini hanya bisa sampai pukul 13.00. ”Pembeli biasanya bertanya tentang detail produk yang dijual melalui program obrolan tadi,” tutur Irene.

Menurut Irene, pengalaman berbisnis melalui online sangat berbeda dengan menjual barang langsung di toko. ”Kami harus bisa menanamkan kepercayaan kepada konsumen karena mereka tidak melihat langsung barangnya. Kadang ada konsumen yang ragu soal kualitas barang dan urusan pengiriman karena takut tidak sampai,” ungkap Irene. Djiraf mempertahankan ciri khas tokonya dengan tetap mempertahankan produk buatan mereka sendiri yang terbuat dari kertas, kayu, dan tanah liat.(IND/IYA)

KOMPAS

TOKOPEDIA: Mal Virtual bagi Penggemar Belanja

Minggu, 27 Desember 2009 | 04:09 WIB

Berbelanja kini semakin mudah dan cepat. Kalau dulu orang yang gemar berbelanja di dunia maya harus berkunjung dari satu situs ke situs lainnya, kini ada mal virtual yang lengkap menyediakan segala kebutuhan. Dijamin kaki tidak akan pegal untuk menelusuri mal bernama Tokopedia ini.

”Kami membuat situs dengan konsep mal. Mereka yang tidak bisa membuat situs sendiri bisa membuka toko di Tokopedia,” tutur Leontinus Alpha Edison (28), akrab disapa Leo, salah satu penggagas berdirinya situs www.tokopedia.com.

Di Tokopedia, mereka yang ingin berjualan bisa mendaftar secara gratis lalu membuka toko dengan memajang produk yang ditawarkan di situs tersebut. Para penjual inilah yang menjadi penyewa tempat di mal Tokopedia. Namun, berbeda dengan mal di dunia nyata, sewa tempat di Tokopedia untuk sementara digratiskan selama satu tahun sejak situs ini diluncurkan bulan Agustus tahun 2009 lalu.

Leo menggagas situs itu bersama temannya, William Tanuwijaya (28). Menurut Leo, ide untuk membuat mal di dunia maya itu sudah ada sejak tahun 2007, tapi tidak segera terlaksana karena ketika itu mereka belum memiliki investor. Leo dan William kini mengelola Tokopedia di sebuah ruko di kompleks rumah kantor Permata Senayan, Jakarta Pusat.

Namanya juga mal, berbagai kategori barang tersedia di sini, mulai dari pakaian dan aksesorinya, mainan anak-anak, perlengkapan bayi, alat elektronik, produk kecantikan, film, musik, hingga alat-alat sulap dan makanan. Bahkan, sang moderator juga menyediakan kategori ”dewasa” di mal virtual ini.

Gagasan untuk membuat mal ini berawal dari pengalaman William menjadi moderator di forum diskusi dunia maya bernama Kafe Gaul.

Ketika itu banyak anggota yang menjadikan forum diskusi tersebut untuk berjualan. Karena tidak tertib administrasi, akhirnya banyak anggota yang tertipu.

Di mal virtual ini, Tokopedia berperan sebagai moderator yang mengawasi dan mengelola transaksi jual beli. Mereka juga akan melacak kebenaran transaksi yang sudah dilakukan. ”Kami masih menerapkan sistem bayar secara manual, yaitu lewat transfer di mesin tunai mandiri atau langsung lewat bank karena orang Indonesia masih meragukan soal keamanan kartu kredit,” tutur William.

Untuk sementara, Tokopedia juga lebih fokus untuk membangun komunitas lebih dulu sebelum nantinya mereka akan menarik komisi dari hasil penjualan. Karena itu mereka memakai moto ”belanja gak belanja yang penting ngumpul”. (IND)

KOMPAS

Membangun Bisnis di Dunia Maya

Minggu, 27 Desember 2009 | 03:45 WIB

Lusiana Indriasari & Yulia Sapthiani

Pengguna internet adalah pasar yang bisa digarap untuk memulai sebuah bisnis. Berbekal keyakinan itu, sebagian anak muda merintis usaha dengan membuka toko di dunia maya.

Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Menurut situs www.internetworldstats.com yang mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2008 tercatat lebih dari 25 juta pengguna internet di Indonesia dari populasi 237 juta penduduk Indonesia. Padahal pada tahun 2000, pengguna internet di Indonesia masih sekitar 2 juta orang.

Jumlah pengguna internet yang tumbuh pesat seperti gambaran tadi membuat Bayu Amperiawan (43) optimistis bisnis toko cokelat yang ia kembangkan bersama Lisnawati (32), istrinya, bakal maju. Dengan memasang merek dagang Ayla, Bayu mendesain sendiri toko virtualnya dengan nama www.tokocoklat.com.

Sesuai dengan produk yang dijualnya, Bayu memakai warna serba coklat untuk toko virtualnya. Ia lalu memasang foto berbagai jenis produk cokelat buatan istrinya sendiri, berikut harga yang ditawarkan dan tabel ongkos kirim ke luar kota. Selain cokelat, Lisnawati juga memproduksi kue basah dan kue kering.

Bayu dan Lisnawati memulai bisnis di dunia maya pada tahun 2006. Sebelumnya, Lisnawati hanya memasarkan cokelat dan kue kering buatannya dari pintu ke pintu. Namun, karena penjualan mereka tidak tumbuh baik, Bayu berinisiatif memasarkan produk itu melalui internet.

Sejak awal diluncurkan, toko cokelat virtual itu sudah berkembang pesat. Lisnawati memang yakin bahwa produk cokelat bisa diterima pasar karena awet hingga 16 bulan. Cokelat juga tidak mengenal musim seperti kue kering yang hanya laris saat Lebaran atau Natal.

”Kapan saja orang ingin mengungkapkan perasaan hatinya, mereka bisa mengirimkan cokelat,” kata Bayu. Toko Coklat menjual produknya dengan harga Rp 2.000 untuk cokelat batangan dan Rp 20.000-Rp 90.000 untuk cokelat dalam kemasan kotak atau stoples.

Karena bisnis yang dibangun bersama istrinya menunjukkan kemajuan, Bayu memutuskan keluar dari pekerjaannya setelah 15 tahun bekerja di perusahaan teknologi informasi di Jakarta. Ia ingin total mengelola situs dan melayani pesanan toko virtualnya, sementara sang istri lebih berkonsentrasi pada pengembangan produk.

Kalau Bayu menawarkan cokelat, Felicia Santoso (26) menawarkan rangkaian bunga sebagai kado di toko virtual miliknya, www.kadoplus.com. Di situs yang didominasi warna merah muda dan dihiasi berbagai gambar bunga itu, Felicia berkreasi membuat rangkaian bunga untuk berbagai keperluan, seperti ulang tahun, pernikahan, ucapan simpati, duka cita, dan lain-lain.

Felicia baru memulai bisnisnya tahun 2008. Ia dibantu sang pacar, Steven Aliwarga (27), untuk membuat situs guna memasarkan produknya. Felicia lalu mendatangkan bunga-bunga segar dari Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia.

Beberapa bunga, seperti lily dan tulip, bahkan didatangkan dari negara lain, seperti China dan Belanda. Untuk menyimpan bunga agar tetap segar, Felicia memiliki lemari pendingin berukuran besar di rumahnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Luar negeri

Pesanan yang mengalir ke Toko Coklat datang dari berbagai daerah di Indonesia. Terkadang mereka juga mendapat pesanan dari luar negeri, seperti Amerika, Australia, dan Singapura. Toko Coklat juga memasok produk ke supermarket buat Total Buah Segar dan All Fresh di Jakarta. ”Kebetulan ada teman yang bekerja di kedua supermarket itu,” tutur Lisnawati yang mengaku omzetnya rata-rata bisa mencapai Rp 15 juta per bulan.

Felicia enggan menyebut berapa omzet per bulan. Ia hanya menyebut rata-rata ia menerima 10 pesanan bunga, bingkisan boneka, kue, dan buah-buahan setiap hari. Kadoplus mematok harga bervariasi untuk rangkaian bunga segar, yaitu Rp 300.000-Rp 1,5 juta, tergantung tingkat kesulitan cara merangkainya dan bahan baku yang digunakan.

Untuk melayani pembeli, Felicia mempekerjakan tiga karyawan. Ia juga berencana membuka toko betulan di dekat rumahnya. ”Supaya orang bisa berbelanja langsung dan melihat barangnya,” tutur Felicia.

Tidak semua yang berbisnis di internet mengawali usahanya langsung dari dunia maya. Seperti dilakukan kakak beradik Susan Limena (38) dan Irene Wiguna (30), yang memiliki usaha menjual berbagai macam barang, seperti jam dinding, pigura, aksesori rambut, dompet, lampu, alat tulis, dan lain sebagainya.

Sebelum merambah dunia maya, Susan dan Irene sudah memiliki dua toko dalam pengertian fisik di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan di Surabaya, Jawa Timur. Toko itu bernama Djiraf. Untuk memasarkan produk yang dijual di kedua tokonya, mereka lalu membuat situs www.djiraf.com melalui jasa seorang desainer situs.

Susan dan Irene memulai bisnisnya pada tahun 1997 dengan membuat pernak-pernik seperti kotak pensil dan stoples dari kertas daur ulang atau daun. Untuk menjual pernak-pernik itu mereka membuka toko di rumah mereka di Mataram dengan nama Djiraf Recycle Spot.

Toko itu hanya bertahan 1,5 tahun karena keduanya harus pindah ke Surabaya, Jawa Timur, untuk kuliah. Namun, pada tahun 2001, toko Djiraf buka kembali di Mataram dan tahun 2007 sudah memiliki cabang di Surabaya.

Setelah dipasarkan melalui internet, Irene mengaku, produk Djiraf tidak hanya dikenal di Mataram dan Surabaya. Mereka sudah menerima pesanan dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Padang, dan Manado. Mereka yang membuka usaha di dunia maya ini menggandeng kurir atau perusahaan pengiriman barang untuk mengantarkan pesanan kepada para konsumen.

KOMPAS

KONSULTASI INVESTASI: Evaluasi Investasi 2009


Minggu, 27 Desember 2009 | 03:21 WIB



Adler Haymans Manurung
PRAKTISI KEUANGAN

Evaluasi merupakan tindakan untuk melihat, menyelidiki atas tindakan yang dilakukan sebelumnya. Dalam evaluasi atas investasi, investor harus mengumpulkan semua tindakan investasi yang dilakukan. Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan rencana investasi yang dilakukan pada tahun sebelumnya untuk periode sekarang.

Apa saja yang direncanakan untuk investasi pada saat rencana itu dibuat dan ditandatangani sebagai acuan melakukan investasi? Investor harus membuat ringkasan atas rencana investasi tersebut.

Ringkasan tersebut paling utama mengenai tingkat pengembalian yang ditargetkan. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data tingkat pengembalian dari patokan (benchmark return) atau sebagai pembanding atas tindakan investasi yang dilakukan.

Dalam tindakan ini, investor juga harus mendapatkan risiko yang direncanakan dalam rencana investasi tersebut. Bila investor sudah mendapatkan risiko tingkat pengembalian investasi, maka perlu didapatkan risiko patokan agar bisa diperbandingkan.

Tindakan kedua, investor harus menghitung tingkat pengembalian yang dicapai investor atas investasi yang dilakukan. Tingkat pengembalian ini merupakan tingkat pengembalian nominal. Ada pun hasil perhitungan tingkat pengembalian investasi dari investor yaitu hasil bagi dari selisih nilai portofolio aset investasi (nilai akhir tahun sekarang dikurangi nilai akhir tahun lalu) dengan nilai akhir tahun sebelumnya.

Kemudian, investor harus menyesuaikan tingkat pengembalian tersebut terhadap inflasi. Tingkat pengembalian yang telah disesuaikan dengan inflasi dikenal dengan tingkat pengembalian riil. Semua pihak berharap tingkat bunga riil yang diperoleh bernilai positif. Artinya, ada kelebihan tingkat pengembalian yang diperoleh dari inflasi.

Bila tingkat pengembalian riil negatif, berarti inflasi lebih tinggi dari tingkat pengembalian nominal. Dengan demikian, dana yang dimiliki investor akan berkurang dan bisa pula disebutkan bahwa kekuatan daya beli mengalami penurunan.

Bila tingkat pengembalian investasi telah dapat dihitung, maka dilakukan evaluasi dengan rencana. Apakah hasil yang diperoleh lebih tinggi dari rencana atau lebih rendah. Biasanya diharapkan tingkat pengembalian yang diperoleh minimal sama dengan rencana investasi. Jika hasil yang diperoleh lebih kecil dari rencana, berarti ada tindakan yang salah ketika berinvestasi atau rencana investasi yang ketinggian.

Untuk melihat keberhasilan, investor juga dapat memerhatikan hasil yang dicapai oleh pihak lain.
Jika hasil yang dicapai pihak lain tersebut sama seperti yang kita capai, maka tidak ada persoalan. Tetapi, jika hasil tidak sama atau lebih kecil dari pihak lain, maka ada persoalan yang dilakukan. Akan lebih lagi bila membandingkan hasil investasi dengan portofolio yang sama. Perbandingan yang dilakukan harus sepadan.

Ketinggian-kerendahan

Kenapa hasil yang dicapai tersebut melebihi atau kurang dari rencana investasi? Jawabannya adalah apakah rencana investasi ketinggian atau kerendahan. Bila tindakan ini yang terjadi, maka investor harus hati-hati membuat rencana investasi selanjutnya. Jika jawabannya bukan demikian, maka harus dicari kenapa bisa terjadi.

Apakah ketika melakukan investasi awal sudah tepat? Apakah investor sudah membeli instrumen investasi sebagai bagian dari portofolio investasi sudah tepat waktunya? Apakah investor membeli pada saat ketinggian sehingga hasil yang diperoleh sangat kecil? Apakah investor membeli awal sangat kerendahan sehingga hasil yang diperoleh sangat tinggi telah terjadi.

Investor harus berharap membeli instrumen investasi pada waktu yang tepat. Tindakan kedua yaitu melakukan evaluasi atas besaran masing-masing instrumen investasi. Jangan-jangan telah terjadi bahwa besaran investasi terjadi pada instrumen yang mengalami penurunan sangat tajam sehingga hasil yang dicapai sangat kecil.

Selanjutnya, jika investor tidak menemukan persoalan pada kasus ini, maka investor harus menilik pada persoalan yang lain. Apakah investor salah memilih instrumen investasi atau saham yang dibuat dalam portofolio investor. Kesalahan ini terjadi karena investor tidak melakukan analisis terhadap instrumen yang ada. Alasan investor tidak melakukannya karena tidak mengetahui cara menganalisisnya.

Investor dapat berdiskusi dengan analis investasi agar didapatkan instrumen investasi yang tepat. Investor harus mengingat bahwa dalam melakukan investasi, investor membeli prospek dari investasi yang dilakukan investor, bukan membeli masa lalu instrumen tersebut.

Bila saham yang dibeli, maka investor membeli prospek perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Bila obligasi yang dibeli, maka investor membeli janji penerbit obligasi dan prospek perusahaan di masa mendatang akan bertumbuh. Bila prospek perusahaan bagus dan arus kas yang baik, maka bunga obligasi dan janji perusahaan dapat ditepati serta harga saham perusahaan akan mengalami peningkatan.

Apakah investor melakukan perdagangan atas instrumen investasi yang dimiliki? Artinya, investor melakukan ambil untung (profit taking) atas instrumen tersebut. Bila investor tidak melakukannya, maka investor akan kehilangan kesempatan atas profit yang ada.

Investor perlu juga melakukan ambil untung agar hasil yang diperoleh menjadi optimal. Tetapi, aksi ambil untung tersebut harus dengan market timing yang tepat. Jangan-jangan investor kehilangan kesempatan yang ada karena dilakukannya ambil aksi untung. Aksi ambil untung harus dipahami bahwa harga dari instrumen itu akan turun dari harga yang dijual sehingga investor memperoleh untung.

Berdasarkan hasil evaluasi ini, investor dapat mengetahui tindakan yang dilakukan selama satu periode yang lalu. Investor dapat melihat kelemahan dan kelebihan tindakan investasi yang dilakukan.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Sunday, December 20, 2009

Investasi & Keuangan: Rekapitulasi Investasi

Minggu, 20 Desember 2009 | 03:01 WIB

Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Meskipun saat liburan biasanya digunakan untuk berlibur, tetapi bisa juga digunakan untuk merenung, mengevaluasi apa yang sudah diraih sepanjang 2009, dan apa yang hendak dilakukan tahun mendatang.

Evaluasi itu mestinya, salah satu bagiannya juga menyangkut aspek keuangan, termasuk investasi karena investasi hakikatnya menjadi bagian rutin dari semua orang.

Apa yang dievaluasi terkait investasi? Tentu banyak. Mulai dari apakah tujuan investasi tahun 2009 sesuai rencana? Kalau ya, apa penyebabnya. Dan sebaliknya, jika gagal, apa pula pemicunya.

Ini penting untuk sebisa mungkin menghindari penyebab kegagalan. Di sisi lain, bukan berarti pendorong keberhasilan Anda berinvestasi tahun 2009 otomatis akan berulang kembali tahun mendatang. Karena itu, evaluasi obyektif perlu dilakukan agar investasi tahun 2010 bisa lebih baik ketimbang tahun ini. Lantas, langkah apa yang mesti dilakukan?

Pertama, periksa semua portofolio investasi Anda, apa pun bentuknya. Bandingkan dengan tahun sebelumnya. Berapa besar peningkatan atau penurunannya?

Setelah Anda menemukan angkanya, coba cermati lagi lebih detail. Jenis investasi apa saja yang nilainya meningkat dan sumber peningkatan itu. Langkah berikut lakukan pengecekan terhadap hasil investasi. Untuk mudahnya kita gunakan contoh berikut.

Umpamakan Anda investasi di tanah, rumah, saham, deposito berjangka, dan mungkin reksa dana. Untuk investasi di tanah dan rumah cukup mudah menghitungnya. Cermati pergerakan nilai jual obyek kena pajak tanah dimaksud dan juga perkembangan harga di sekitar lokasi tanah Anda. Dari situ bisa ketahuan berapa persen kenaikan nilai aset investasi Anda.

Demikian pula saham. Jika mengacu pada perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, selama 2009 sudah terjadi peningkatan indeks lebih kurang 80 persen. Itu berarti kalau portofolio saham Anda berbanding lurus dengan pergerakan indeks, maka Anda sebenarnya sudah lebih kaya 80 persen, khusus untuk portofolio saham.

Realitasnya belum tentu seperti itu karena IHSG yang bertumbuh 80 persen itu hanyalah perhitungan yang dimulai dari 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Desember 2009. Artinya, jika Anda sudah memiliki saham sejak jauh sebelumnya, maka yang perlu dilihat adalah berapa harga beli saham dibandingkan dengan harga pasar saat ini. Selisihnya menjadi keuntungan potensial Anda.

Dalam investasi reksa dana Anda mesti membandingkan nilai aset bersih saat membeli dan berapa saat ini. Jadi, kalau kenaikannya di bawah 80 persen, bukan hal yang mesti membuat Anda kecewa karena 80 persen peningkatan harga dipastikan bukan target Anda. Karena itu, apakah investasi Anda berhasil atau tidak—khususnya di saham dan reksa dana—harus dibandingkan antara harga saat ini dan target perolehan yang hendak dicapai. Lazimnya kenaikan harga saham dalam setahun bagi investor konservatif 15-20 persen. Jadi, kalau perolehan Anda di atas itu, Anda boleh bersenang hati.

Bagaimana jika perolehan potensial saham Anda di bawah itu? Boleh jadi, ada yang keliru dengan pilihan saham yang Anda pegang. Konsekuensinya, Anda mesti mengkaji kembali saham-saham pilihan investasi Anda.

Hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap dana dalam bentuk deposito. Memang, pada 2009 tidak ada bank yang ditutup, tetapi tingkat bunga tiap-tiap bank berbeda-beda. Yang mesti dicermati adalah apakah tingkat bunga deposito sudah setimpal dengan kondisi banknya.

Tahap kedua

Semua yang dipaparkan di atas secara ringkas disebut rekapitulasi perhitungan investasi. Setelah itu dilakukan, Anda akan mendapat gambaran jelas investasi yang memberikan keberhasilan dan apa pula yang mungkin hanya membebani. Jika ini sudah jelas, Anda boleh melangkah ke tahapan kedua.

Lalu, apa yang dimaksud dengan tahapan kedua? Menyiapkan alokasi aset portofolio berdasarkan hasil investasi tahun 2009. Pertanyaan awal yang mesti dijawab, apa tujuan investasi Anda tahun mendatang? Apakah peningkatan nilai investasi bertumbuh lebih besar daripada tahun ini? Atau ada hal lain yang lebih spesifik. Terserah Anda menentukan tujuan tersebut. Yang jelas, semuanya mesti jelas dan pasti.

Dalam kaitan penyusunan rencana investasi tahun mendatang, setelah memastikan tujuan investasi tentunya, Anda mesti mencermati asumsi-asumsi yang mungkin bisa menjadi kenyataan.

Mengenai indeks harga saham gabungan, misalnya. Kenaikan sangat signifikan atau mencapai 80 persen tahun ini, besar kemungkinan tidak akan terjadi lagi tahun depan. Jika pertumbuhannya berjalan normal, maka kenaikan indeks tidak akan lebih dari 30 persen. Dari mana angka ini muncul? Tentu saja ada perhitungannya dan sulit dipaparkan di rubrik ini karena keterbatasan tempat.

Demikian juga dengan perkiraan suku bunga. Sangat mungkin tingkat bunga deposito tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini karena perkiraan inflasi juga lebih tinggi.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, ada baiknya alokasi investasi Anda berbeda dibandingkan dengan yang Anda lakukan pada tahun ini agar hasilnya bisa lebih optimal dan tujuan keuangan Anda dapat tercapai. Selamat mencoba.

KOMPAS

Sunday, December 13, 2009

Investasi: Perencanaan Investasi 2010

Minggu, 13 Desember 2009 | 03:27 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Akhir tahun 2009 telah dekat.

Salah satu tindakan penting yang harus dilakukan pada saat ini adalah membuat perencanaan investasi untuk periode 2010. Tindakan ini diperlukan agar ada pegangan untuk melakukan investasi.

Untuk investasi pada tahun 2010, indikator penting yang harus dipahami investor adalah arah tingkat bunga dan kapan (waktu) perubahan tingkat bunga tersebut. Arah tingkat bunga pada tahun 2010 dapat diperoleh investor melalui berita di media massa. Pada situasi sekarang ini, banyak seminar proyeksi ekonomi 2010 yang diberitakan. Diberitakan pula pendapat para pakar dan pengamat ekonomi. Bahkan, investor yang mempunyai tabungan dan menjadi nasabah bank sekarang telah diundang untuk mendengarkan para pengamat ekonomi tersebut mengenai perekonomian pada masa tahun 2010.

Investor juga dapat memerhatikan proyeksi pemerintah terhadap perekonomian pada tahun 2010. Pemerintah setiap tahun mengajukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk disetujui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam APBN tersebut diuraikan asumsi yang dipergunakan pemerintah untuk membuat APBN. Adapun asumsi yang paling minimal dalam APBN harus ada ialah tingkat inflasi, tingkat bunga, dan nilai kurs.

Tingkat inflasi dan tingkat bunga merupakan indikator yang berhubungan. Irving Fisher (1930) menyatakan, tingkat bunga nominal merupakan hasil jumlah tingkat bunga riil dan tingkat inflasi. Beberapa tahun lalu tingkat bunga riil ditargetkan Bank Indonesia sebesar 2 persen. Namun, dua tahun lalu target tingkat bunga riil diturunkan menjadi 1 %. Bila pemerintah menargetkan inflasi sebesar 5 %, maka tingkat bunga sekitar 6 %. Bila tingkat bunga SBI sekarang sebesar 6,5 %, maka kelihatan tingkat bunga tidak akan berubah.

Akan tetapi, apabila dilihat tingkat bunga inflasi yang terjadi tahun 2009 sekitar 3,5 %, maka tingkat inflasi yang diproyeksikan sebesar 5 % sehingga ada kecenderungan pemerintah tidak bisa mengontrol inflasi pada tahun 2010.

Seharusnya proyeksi inflasi dari pemerintah paling maksimal sama dengan tahun sebelumnya atau lebih kecil.

Berbagai analisis memang melihat bahwa tingkat inflasi akan terjadi lebih tinggi pada tahun 2010 karena harga beberapa komoditas mengalami kenaikan serta harga minyak juga mempunyai kecenderungan naik. Dengan demikian, kenaikan inflasi sudah mungkin terjadi bila pengendalian tidak dilakukan dengan menghantam sumber inflasi tersebut agar inflasi tidak meningkat. Analisis berbagai pihak menyatakan bahwa kenaikan tingkat bunga akan dilakukan pada semester kedua tahun depan karena semester pertama tahun 2010 merupakan periode konsolidasi untuk periode selanjutnya.

Berdasarkan informasi tersebut, investor dapat membuat perencanaan untuk meningkatkan keuntungan pada semester pertama (bahkan empat bulan) tahun 2010 sebelum melakukan perubahan. Investor bisa melakukan investasi pada saham pada empat bulan pertama tahun 2010 dan kemudian mengubah portofolio investasi ke yield lebih tinggi satu atau dua bulan kepada investasi yang memiliki bunga. Biasanya investasi pada saham akan drop bila tingkat bunga mengalami kenaikan.

Efek Januari

Investor bisa melakukan investasi pada Desember ini karena pada empat bulan mendatang ada beberapa kejadian yang menarik. Salah satu kejadian yang harus diperhatikan adalah ”January Effect”, di mana semua fund manager melakukan perubahan strategi untuk investasi karena ekspektasi pendapatan perusahaan pada tahun 2010. Biasanya harga saham naik pada Januari sampai April dan pada bulan Mei cenderung stagnan. Sedangkan Juni ada kecenderungan stagnan dan menurun sampai bulan September dan Oktober.

Investor yang memiliki dana segar untuk masuk pada tahun 2010 sebaiknya mulai memilih obligasi yang jatuh tempo pada April sampai Juni dengan tingkat bunga (kupon) tinggi. Kemudian, pada saat dana investasi jatuh tempo, investor sudah siap membeli instrumen investasi dengan tingkat bunga tinggi karena telah dinaikkannya tingkat bunga. Artinya, investor masih mempunyai investasi pada instrumen di luar saham apabila terjadi saham tiba-tiba mengalami penurunan karena faktor informasi yang jelek pada periode tersebut.

Bila investor mempunyai pembayaran yang cukup besar pada periode ini, investor harus memastikan besaran pembayaran tersebut. Kemudian investor melakukan investasi dengan periode sampai satu bulan pembayaran akan dilakukan. Artinya, investor tidak mengalami wanprestasi atas pembayaran tersebut. Sebaiknya diinvestasikan pada instrumen pasar uang supaya risikonya lebih kecil, bahkan dianggap nol, terkecuali risiko institusinya.

Investor yang melakukan perencanaan investasi 2010 seharusnya tetap menimbang risiko yang dihadapi serta risiko yang bisa ditoleransi. Bila investor bisa menoleransi risiko yang lebih besar, tidak salah investor melakukan investasi pada saham alokasinya lebih tinggi. Jika investor tidak bisa menerima atau menoleransi risiko tersebut, investor bisa membeli atau menginvestasikan dana pada obligasi pemerintah. Akan tetapi, investor harus tetap berpikir jangka panjang untuk melakukan investasi agar diperoleh hasil maksimal.

Thursday, December 10, 2009

Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran

(tulisan dua dari dua)

Kamis, 10 Desember 2009 | 07:54 WIB

KOMPAS.com - 2012. Perkara Anda suka atau tidak dengan film-nya, itu mungkin masalah lain. Kami juga tidak ingin memperdebatkan apakah kiamat benar-benar akan terjadi pada tahun 2012. Satu hal yang kami ingin angkat dari cerita di atas adalah esensi yang kami tangkap dari sudut pandang pemasaran. Kehancuran yang ia gambarkan dalam ’2012’ adalah wajah yang sama dengan situasi dunia pemasaran seperti saat ini, di mana kita hidup di jaman yang chaos, penuh dengan krisis, di mana “kiamat-kiamat kecil” seakan hidup dalam kehidupan kita sehari-hari, dan menjadikannya bagian dari dinamika ruang lingkup dunia pemasaran yang kita geluti.

Dunia pemasaran saat ini tengah bergerak, mengalami transformasi besar-besaran, akibat berbagai krisis atau “kiamat kecil” yang sudah lewati, juga akibat pergerakan lanskap yang sangat cepat berubahnya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, terutama dengan era Internet Web 2.0 dan berbagai kemajuan teknologi gadget yang ada telah merubah praktek pemasaran dari yang tadinya bersifat top-down dan vertikal, menjadi serba sejajar dan horisontal.

Satu yang dapat menolong untuk mengarungi lanskap yang penuh dengan turbulens dan kekacauan adalah pendekatan baru yang berkata kunci CONNECT! di mana praktek pemasaran yang serba ter-CONNECT! di dunia New Wave-lah yang dapat mempersiapkan pemasar untuk memenangkan pertempuran pemasaran. CONNECT! adalah ibarat kapal raksasa yang digambarkan oleh film 2012 itu sebagai penyelemat peradaban manusia (baca: dalam hal ini dunia pemasaran) di tengah masuknya kita ke era orde baru dunia pemasaran.

Apa yang kami lihat, alami, dan dalami tentang pergeseran pemasaran selama dua puluh tahun belakang di MarkPlus, membawa kami pada kesimpulan bahwa pemasaran memang terus mengalami transformasi. Namun apa yang terjadi belakangan ini, ketika Web 2.0 merubah tatanan lingkungan bisnis, merupakan yang paling dasyhat sepanjang pengalaman kami menggeluti dunia marketing.

Meskipun di satu sisi, prediksi bahwa teknologi internet telah mengubah konsumen semakin emosional rupanya betul kejadian, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dampak dari perkembangan internet Web 2.0 memang membuat segala sesuatu di dunia pemasaran berubah total. Wajah internet menjadi lain sama sekali, menjadi lebih manusiawi, lebih interaktif, partisipatif, dan lebih sosial.

Teknologi bukannya membawa konsumen menjadi robot-robot budak teknologi, tapi justru sebaliknya, menjadi manusia seutuhnya. Utuh bersama emosinya, aspirasinya, perasaannya, dan bersama jiwanya. Sesuai dengan hipotesa kami mengenai Marketing 3.0 bahwa pada akhirnya marketing harus menyentuh dan meng-CONNECT! secara holistik ke benak, perasaan, dan jiwa pelanggan.

Apa yang telah kami jelaskan, setidaknya memberikan gambaran bahwa dunia pemasaran secara globalnya memang berubah, dari orde lama ke orde baru.

Orde lama dunia pemasaran sudah semakin menuju hari kiamat, tidak perlu menunggu tanggal 12 Desember 2012, karena saat ini dan detik ini pun sudah semakin terlihat bahwa pola praktek pemasarannya yang mengacu pada pemahaman marketing yang legacy, penuh dengan praktek vertikal, sudah semakin ditinggalkan oleh stakeholdernya, terutama para konsumen.

Dunia pemasaran tengah memasuki sebuah orde baru, babak baru, peradaban baru, yang mengacu pada pemahaman marketing yang bersifat “New Wave,” bersandar pada praktek pemasaran yang serba ter-CONNECT! secara horisontal.

Welcome to the new world marketing order!


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Wednesday, December 9, 2009

Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran

(tulisan satu dari dua)

Rabu, 9 Desember 2009 | 10:16 WIB

KOMPAS.com - Di tengah seiring perjalanan waktu, dunia terus berubah dan pemasaran juga tentunya ikut berubah, dan begitu juga sebaliknya langkah pemasaran yang dilakukan oleh pemasar-pemasar yang visioner juga mengubah dunia. Sebut saja Mark Zuckeberg yang mengubah dunia lewat Facebook, Jawed Karim, Chad Hurley and Steve Chen mengubah dunia lewat YouTube, Jimmy Wales dan Larry Sanger mengubah dunia lewat Wikipedia, dan banyak lagi technopreneur lain.

Sejak Tim O’Reilly, seorang pakar teknologi internet, memproklamasikan lahirnya Web 2.0 pada saat membuat O’Reilly Media Web 2.0 Conference di tahun 2004, kita seperti hidup di dunia yang lain. Generasi baru internet ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi, berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, berkomunitas, atau berkolaborasi satu sama lain.

Kekuatan Web 2.0 yang menelurkan berbagai produk Social Networking menjadi kian menggila. Situs-situs seperti Facebook, YouTube, MySpace, Flickr, Wikipedia, dan lain sebagainya kian digandrungi para netizen, yang melihat bahwa internet yang sesungguhnya adalah yang begini, yang lebih cool, lebih interaktif, lebih partisipatif, dan lebih sosial.

Dengan kekuatan baru yang ditawarkan oleh kecanggihan generasi baru Internet ini, berbagai kalangan sudah melihat bahwa perubahan besar sedang terjadi. Thomas Friedman, kolumnis dari New York Times, mencetuskan tesisnya mengenai “The World is Flat” di mana ia berkata bahwa kemajuan teknologi berbasis Internet akan mampu mentransformasikan dan membebaskan individu, membebaskan potensinya, membebaskan kreativitasnya, dan membebaskan kabapibilitasnya. Dengan teknologi tersebut, umat manusia, siapa saja, di mana saja, kapan saja, bisa bersaing di tingkat global, asalkan terhubung ke Internet.

Thomas Friedman tidak sendirian ketika mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia tengah berubah total. Karena pemikirannya disambut secara eksplisit maupun implisit oleh beberapa pemerhati lain.

Chris Andersen sebelumnya juga sudah mengungkap hal yang kurang lebih sama pada artikel editorialnya di majalah Wired ketika mengemukakan untuk pertama kalinya mengenai ‘Long Tail’, sebuah fenomena di mana dominasi pemain besar akan runtuh digantikan oleh jutaan pemain kecil yang mendominasi 80 persen pasar. Di tengah terjadinya peralihan dari korporasi ke individu, dengan adanya Internet Web 2.0, siapapun bisa jadi produsen, siapapun bisa jadi distributor, siapapun bisa jadi promoter, maka tak heran kalau majalah Time memberikan penghargaan Person of the Year pada tahun 2006 lalu kepada Anda (Ya, Anda semua), yang termasuk 5 miliar umat manusia yang mengontrol dunia.

Setidaknya setelah Web 2.0 merebak dan menjadi sebuah hype yang mengglobal, dan juga tesis Thomas Friedman mengenai “The World is Flat” yang menjadi percakapan di mana-mana, kalangan media juga menyambutnya dengan mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia tengah mengalami perubahan yang sangat dasyhat.

Majalah Business Week, contohnya, memberikan berbagai laporannya tentang bagaimana efek teknologi internet di era Web 2.0, mulai dari praktek kolaborasi masal yang ditawarkan oleh kekuatan teknologi Web 2.0, dunia blogosphere yang akan merubah cara kita melakukan bisnis dan pemasaran, dan juga fenomena social media secara keseluruhan.

Seiring dengan masuknya kita ke dalam awal abad-21 ini, dunia teknologi semakin memberikan interaksi, partisipasi, dan peluang untuk berkolaborasi, sehingga membawa kita untuk melakukan praktek pemasaran yang bertumpu pada jejaring yang saling ter-CONNECT!


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

Tuesday, December 8, 2009

Tiga Tingkatan untuk CONNECT!

Selasa, 8 Desember 2009 | 08:35 WIB

KOMPAS.com - Bagi kami ada tiga tingkatan CONNECT! Yang pertama adalah Mobile CONNECT!. Pertanyaan testingnya adalah "Are you well-CONNECTED?" di dunia online maupun offline. Jika Anda punya 10,000 teman di Facebook, dan 25,000 lain mengantri, juga punya ribuan kartu nama yang didapat dari mana saja, dan kartu nama Anda juga ada di mana-mana, maka Anda sesungguhnya adalah orang yang punya mobilitas tinggi dan itu salah satu pertanda Well-Connected.

Obama punya belasan juta teman online. Karena itu, tim Obama for America (OFA) bisa berkomunikasi dengan mereka at any time. Itu semua bisa terjadi karena sudah banyak gadget yang bisa jadi konektor! Sedemikian banyak gadget yang ada, sudah sepantasnya disingkat jadi MOBILE saja. Selama Anda ber "mobile-ria" ke mana-mana Anda bisa tetap bisa berkomunikasi, untuk menjadi seseorang yang well-Connected, punya mobilitas tinggi merambah dunia Online dan Offline. Informasi update bisa masuk at any time kalau Anda Well-Connected !

Customer Insight dan Competitor Intelligence juga bisa "tertangkap" lebih gampang kalau Anda Well-Connected! Begitu juga dengan informasi mutakhir tentang Teknologi, Politik, Ekonomi dan Sosial. Expert-Opinion tetap diperlukan karena analisa seorang ahli bisa lebih dalam. Tapi masalahnya sering terlambat! Sedang kalau Anda Mobile CONNECT! semuanya bisa Personal, Available, Immediate dan Real Time! Selalu up-to-date, selalu terdepan dalam berbagai hal yang terkait dengan dinamika lanskap.

Tingkat kedua adalah Experiential CONNECT!. Pertanyaan yang relevan di sini adalah "How Deep is your CONNECTION?" Bukan cuma hanya “Are you Well-Connected?” atau masalah seberapa eksisnya Anda karena mobilitas Anda yang tinggi. Tapi yang menjadi penting adalah bagaimana orang bisa merasakan dan mengalami ke-eksis-an Anda tersebut.

Mungkin dari 10,000 teman di Facebook tadi, hanya sedikit yang mempunyai Experience Connection. Karena itu seorang Marketer juga harus ‘meningkatkan‘ tingkatan level connection-nya dari Mobile ke Experiential.

Offline Experiential event yang berdasarkan kaidah kekuatan multisensor yang menggugah panca indera kita (multisensory), juga ada kekuatan emosional (emotional), dan kekuatan rasa saling membagi (Sense of sharing). Tiga kaidah yang disingkat menjadi MES ini dapat menimbulkan "deep connection" atau koneksi yang dalam karena pengalaman yang mendalam.

Berbagai gadget baru yang kita pakai (seperti iPhone, Blackberry, dan lain sebagainya) tidak sekedar membantu connection kita secara "mobile" tapi sekaligus eksperiensial dan juga mobile. Sudah merupakan tugas bagi seorang marketer untuk dapat membuat ekstensi dari offline experience itu menjadi online experience.

Obama melanjutkan diskusi atau entertainment yang terjadi di offline campaign-nya di Internet! Dengan demikian, intimacy dan enthusiasm yang ada di dunia offline bisa berlanjut dengan excitement dan engagement yang didapati dari dunia online. Demikian juga bisa terjadi sebaliknya, dari online ke offline.

Dan, tingkat paling tinggi dalam CONNECT! adalah Social CONNECT! Dunia New Wave adalah dunia di mana hubungan sosial antar pelanggan adalah segala-galanya. Customer sudah mulai tidak percaya marketer. Mereka cuma percaya teman-temannya di dalam komunitas yang sama, karena itu Social Connect! punya tingkatan tertinggi.

Di dalam hal tingkatan koneksi sosial ini, pertanyaan yang tepat sekarang adalah "How Strong is the CONNECTIVITY?" Komunitas yang punya Strong Connectivity akan berinteraksi sendiri tanpa pemimpin yang formal. Seringkali terjadinya dadakan, spontan dan informal! Tapi terus kenapa mereka mau berkomunitas dengan konektivitas yang tinggi? Karena ada lima karakteristik yang disingkat SEGAS. Apa itu? “Status & Self-Esteem”, “Expressing Identity”, “Giving & Getting Help”, “Affiliation & Belonging”, dan “Sense of Community.”


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS