BLOGSPOT atas

Friday, September 11, 2009

Investor Tidak Lagi Mengejar Keuntungan?

Jumat, 11 September 2009 | 20:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perilaku para investor dalam berinvestasi sudah bergeser. Prioritas investor saat ini adalah keamanan (security) dan kesederhanaan (simplicity), bukan lagi pada keuntungan sebesar mungkin (high returns)

Demikian Managing Director Asia Region Head, Securities and Fund Services, Citi Hongkong David Russell, dalam acara seminar Citi Indonesia - 5th Annual Capital Market Update 2009.

“Secara strategis, investor institusional kini menggeser tujuan investasi mereka kepada pengembalian (returns) dan likuiditas (liquidity), sedangkan investor perorangan (retail) memfokuskan diri kepada perlindungan modal (capital protection) dan penambahan keuntungan (income upside),“ sebut Russell.


Situasi serupa, menurut Director, Securities and Funds Services Business Head, Citi Indonesia, Margeret Tang, juga terjadi di Indonesia. “Investor domestik juga menginginkan keamanan dan kesederhanaan,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, untuk memenuhi kebutuhan nasabah serta mengikuti pergeseran tren tersebut, Citi sebagai Global Custodian Bank menyediakan berbagai layanan serta fasilitas bagi nasabah dalam melaksanakan berbagai transaksi dan kebutuhan investasi para nasabah.

EDJ

KOMPAS

From Competition to Coopetition

Jumat, 11 September 2009 | 15:09 WIB

KOMPAS.com - Terkadang kompetitornya kompetitor Anda adalah sekutu yang stratejik untuk diajak kompromi. Di akhir juli lalu, berita mengenai beraliansinya Microsoft dengan Yahoo untuk melawan Google akhirnya terkuak. Microsoft telah lama tertarik untuk membeli Yahoo, karena perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates ini ingin membesarkan mesin pencarian dan pasar iklan berdasarkan pencarian. Search engine yang ia miliki selama ini, seperti MSN dan Windows Live, masih jauh dari harapan untuk bisa melawan Google.

Keinginan Microsoft masuk ke pasar search engine semakin menjadi-jadi, mengingat gerak-gerik Google terus mengancam pasar yang notabenenya menjadi domain Microsoft. Dengan diluncurkannya Chrome, Google ingin mengganggu browser-nya Microsoft yaitu Internet Explorer. Dengan Google Docs, Google ingin pula masuk ke pasar yang sama dengan paket Microsoft Office.

Dengan latar belakang seperti itu, Microsoft berniat untuk hit-back ke Google dengan mengeluarkan killer-app untuk mesin pencarian Google. Bulan Juni 2009 lalu, Microsoft meluncurkan Bing, yang menurut mereka merupakan bentuk ideal yang mereka miliki untuk melawan dominasi Google. Dengan demikian ada tiga merek; Google, Yahoo, dan Bing, yang berlaga di pertarungan antar search engine di dunia Internet.

Gap antara perusahaan ini dengan yang lain memang sangat besar, seakan-akan pertarungan antara “David melawan Goliath.” Google yang menguasai pangsa pasar sebesar 70 persen adalah ibarat ‘Goliath.’ Maka tak heran kalau pesaingnya (Microsoft dan Google) melihat peluang untuk kolaborasi sebagai upaya strategik, mengingat keduanya menguasai 28 persen pangsa pasar. Microsoft memang memosisikan diri sebagai pemain kecil, seorang ‘David’, yang harus rutin melempar batu untuk merobohkan Goliath. Yahoo adalah ‘batu’ yang dilempar tersebut, karena Yahoo adalah jawaban Microsoft untuk melawan Google.

Deal yang dilakukan diantara Microsoft dan Yahoo tetap menjaga ladangnya masing-masing, dalam arti Yahoo akan didukung sistem back-end yang ada di Bing, dan Yahoo sendiri tetap terus dengan mesin pencariannya dan tetap menjadi apa yang selama ini menjadi kompetensinya yaitu menjadi sebuah portal. Dua-duanya tetap berkompetisi, namun berkolaborasi secara etikal dalam arti aliansi antara keduanya tetap melewati proses hukum yang ada di Amerika.

Yahoo sendiri masih menganggap Bing sebagai kompetitor besar mereka, ketika mengatakan “kami berkolaborasi di back-end dengan Bing, namun di front-end kami tetap berkompetisi dengannya. Steve Ballmer, CEO dari Microsoft mengatakan bahwa, “kolaborasi antar keduanya akan menciptakan inovasi dan terobosan terbaru di dalam dunia search engine, menciptakan nilai baru untuk pengiklan, dan menyediakan wada alternatif bagi pengguna search engine yang selama ini didominasi oleh satu perusahaan.”

Cerita mengenai kompetisi yang menjadi lebih sifatnya kolaboratif memang semakin terlihat terutama di perusahaan-perusahaan internet. Facebook dengan Twitter contohnya, meskipun bersaing dikategori yang hampir mirip di platform penyedia jejaring sosial, malah berkolaborasi dalam hal penyebaran status update untuk membuat senang para penggunanya yang ekspresif.

Persaingan di Era Horisontal

Peter Drucker telah lama meramalkan bahwa inovasi dan value perusahaan akan terciptakan lewat networks. Dinamika kolaborasi dari network dan partnership menjadi salah satu prinsip utama di lanskap bisnis yang terus berubah seperti sekarang. Social Capital perusahaan dalam menjalin hubungan dengan yang lain lewat network, seperti yang tergambarkan dari cara mereka berkolaborasi dan melakukan aliansi, menjadi semakin penting, untuk dapat mengimbangi Human Capital dan Physical Capital yang ia miliki terutama untuk mendongkrak inovasi dan pertumbuhan.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat dunia semakin transparan, informasi yang mengalir menjadi lebih banyak dan dapat diakses dari mana-mana, kapan saja, dan untuk siapa saja. Dengan demikian, knowledge menjadi lebih mudah diakuisisi, barriers to entry lama kelamaan menjadi lebih berkurang.

Di era yang serba terbuka ini, kue perusahaan tidak lagi digerogoti oleh tersangka yang kita semua tahu (“usual suspect”). Pemain baru terus bermunculan dan mereka datang dari mana-mana. Pemain sebesar Microsoft sudah tidak dapat lagi tumbuh dan mendominasi industrinya secara tenang. Di kategori operating system ia ditantang oleh Linux yang berbasiskan open source, dilakukan secara komunal dan kolektif. Di kategori lain, Microsoft yang sangat vertikal dan selama ini mendikte industri, ditantang oleh Google yang juga tampil secara flat dan horisontal.

Persaingan menjadi semakin menjadi-jadi. Dengan semakin horisontal dan terbukanya pasar, berarti pasar akan dijejali oleh siapa saja yang qualified untuk bermain di sana. Kompetitor baru bisa saja masuk ke pasar yang sama. Keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh siapa yang telah lama mendominasi pasar tersebut. Keunggulan kompetitif tidak lagi ditentukan oleh cheaper, better, atau faster. Namun keunggulan kompetitif di zaman New Wave ini ditentukan oleh siapa yang tampil lebih smart dapat menyeimbangi kapan harus berkompetisi dan kapan harus berkolaborasi dengan memperhatikan norma hukum kompetisi yang berlaku.

Bagaimana pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Wednesday, September 9, 2009

From Close to Open Market

Rabu, 9 September 2009 | 22:54 WIB

KOMPAS.com - Banyak di antara Anda yang mungkin kenal Craigslist. Ya, situs ini sebuah web platform, yang memasilitasi informasi mengenai apa yang sedang dicari dan apa yang sedang ingin dijual oleh orang. Bentuknya bisa apa saja mulai dari properti, kerja, barang, jasa, erotik, sampai nasihat pun ada di sana. Maka tak heran kalau ada orang yang bilang, "Dengan craigslist, anda bisa jual ibu mertua anda di sana."

Situs terbesar nomor 27 di dunia ini terus mengancam koran-koran yang menawarkan jasa iklan baris. Kenapa? Karena Craigslist menawarkannya secara gratis pada umumnya, berbasiskan komunitas dan sangat lokal.

Di saat industri media cetak dengan bisnis iklannya melesu di mana-mana, Craigslist justru malah terus tumbuh melesat. Pemasukannya dari perolehan iklan lowongan kerja dan properti terus naik setahun belakangan menjadi 100 juta dollar. Tahun 2004 lalu, omsetnya masih berada di angka 9 juta dollar AS.

Di saat perusahaan web lainnya seperti Amazon.com punya 20 ribu karyawan, eBay punya 16 ribu, Craigslist hanya punya 30 karyawan dan karena itu berhasil menekan banyak beban perusahaannya. Dan bukan itu saja, 30 orang itu rata-rata kerja sebagai programmer, customer service officer, dan bagian keuangan. Jadi tidak ada orang human resources, sales, dan marketing, praktis Craigslist mungkin menjadi salah satu dari sedikit perusahaan yang tidak pernah meeting internal.

Di lihat dari sejarahnya, Craigslist sekitar hampir 15 tahun lalu dimulai oleh pendirinya bernama Craig Newmark, yang menawarkan jasa informasi gratis bagi komunitas di San Francisco (SF) yang ingin tahu mengenai berbagai event dan aktivitas yang ada di kota tersebut.

Ketika itu informasinya ke anggota komunitas disebarkan lewat platform mailing list. Dari situ komunitasnya berkembang menjadi besar. Ketika itu pula anggotanya sudah punya top of mind; kalau ada apa-apa di SF tanya saja ke Craig. Dari SF, Craiglist hadir ke kota-kota lain yang menurut kabar kini berjumlah di 700 kota di 70 negara.

Meskipun lahir di era dotcom, Craigslist memang didesain sebagai perusahaan yang anti dotcom. Lewat misinya yang sangat non-komersial, Craigslist diposisikan sebagai layanan untuk komunitas di masing-masing area yang ingin menyebarkan informasi mengenai apa yang ingin dicari dan ingin dijual oleh anggotanya. Jika diperhatikan dari bentuk platformnya memang sangat sederhana. Meskipun mirip dengan eBay, namun di craigslist tidak diperlukan transaksi karena ia hanya jembatan informasi antara buyer dan seller.

Jadi proses bisnisnya bisa dibilang sangat tidak ruwet dan tradisional. Tampilan dan desainnya yang tidak menggunakan keindahan grafis jauh dari bentuk platform lain seperti eBay tampil labih cantik. Pengkategorian dan klasifikasinya hampir mirip dengan eBay, yang memang harus jelas, user friendly, dan gampang dicari.

Hanya saja karena berbasiskan komunitas dan kumpulan manusia-manusia, apa yang ada di sana memang banyak, dari yang legal sampai yang hal-hal yang aneh. Sebagai contoh belakangan ini Craigslist ditekan oleh beberapa instansi hukum terkait di Amerika yang melihat situs ini lama kelamaan sebagai pasar bukan saja biro jodoh namun juga untuk prostitusi. Makanya situs ini lantas mengambil jalan untuk mengkomersialisasikan kategori layanan erotiknya.

Kalau di dunia ada Craigslist, di Indonesia ada Kaskus yang kini telah menjadi komunitas online terbesar, dikunjungi kurang lebih 600 ribu orang per harinya. Kaskus, yang berasal dari kata kasak kusuk, bermulai dari komunitas kecil yang kemudian berkembang pesat karena mengambil posisi yang pas sebagai forum 'underground' penduduk online di Indonesia.

Dan pada akhirnya ia berhasil mengkomersialisasikan forumnya sebagai penyedia fasilitas ketemunya penjual dan pembeli. Begitu besarnya Kaskus sekarang, sampai-sampai Craig Newmark, founder dari Craigslist, mengakui bahwa ia adalah komunitas web yang kuat. Pengakuan itu disampaikan di facebook status Craig, yang screenshot-nya dishare oleh anggota Kaskus bulan Agustus lalu.

Sebuah pengakuan yang mengesankan terutama karena datang dari salah satu ikon dunia web saat ini, bahkan Craig pun tahun lalu dicatat sebagai Top 25 most powerful people on web versi Business Week.

Melihat kedua fenomena Craigslist dan Kaskus, kita dapat sama-sama melihat bahwa di era New Wave ini, pasar memang menjadi semakin berubah. Keempat tren yang telah dijelaskan sebelumnya di dalam kolom ini kemarin membawa angin baru ke market yang berubah dari tertutup ke relatif lebih terbuka.

Pasar global telah menjadi datar dan semua marketer memiliki kesempatan yang sama. Dengan adanya teknologi terutama didorong oleh berbagai macam platform yang ada di dunia online dan mobile, penjual dapat menjangkau pembeli tanpa batas.

Dan di sisi lain, pembeli mendapatkan keleluasan untuk memilih berbagai penawaran dari manapun untuk mendapatkan value yang terbaik. Pasar, secara gampang, dapat diartikan sebagai tempat ketemunya penjual dan pembeli, dimana ia diatur oleh hukum dan mekanisme supply dan demand.

Ajarannya Adam Smith 200 tahun lalu bahwa pasar pada akhirnya diatur oleh invisible hand, mungkin benar di era New Wave ini. Teknologi memungkinkan mekanisme pasar menjadi lebih terbuka karena ia bisa diatur, dibuat, dan dikunjungi oleh siapa saja.

Bagaimana pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Monday, September 7, 2009

From Belief to Humanity

Senin, 7 September 2009 | 15:35 WIB

KOMPAS.com - Anda pastinya sudah mendengar kabar baru bahwa posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar nomor empat di dunia saat ini sudah tergeser oleh sebuah negara baru.

Negara baru tersebut dinamakan Republic of Facebook di mana populasinya kini sudah tumbuh hingga 250 juta. Sekitar 120 juta di antaranya mengunjungi ‘negara’ tersebut setidaknya sekali sehari. Menurut “Badan Pusat Statistik” Facebook, lebih dari dua per tiga penduduk Republik Facebook adalah orang dewasa. Pertumbuhan tercepat populasinya ada di segmen 35 tahun ke atas. Menurut Erick Qualman dalam Socialnomics, segmen yang juga cukup pesat tumbuhnya adalah wanita umur 55-65 tahun.

Dari sisi hubungan sosialnya, penduduk di Facebook memiliki rata-rata 120 kawan. 30 juta orang terus mengabarkan statusnya setiap hari paling tidak sekali. Banyak aktivitas sosial yang juga dilakukan di sana oleh para penduduknya. Setiap bulannya sekitar satu miliar foto dan 10 juta video terus diupload di sana. Total konten yang diisi dan di-share oleh penduduknya—dalam bentuk web links, berita baru, postingan blog, catatan harian, dan foto—mencapai satu miliar setiap minggunya.

Facebook ibarat sebuah negara yang memiliki banyak suku dan etnis, karena sampai saat ini ia telah menggunakan 50 bahasa lain selain bahasa Inggris. Dari sini dapat dilihat bahwa penduduknya memang tidak hanya berasal di Amerika saja. Hingga saat ini 70 persen dari penduduknya berasal dari orang di luar Amerika.

Salah satu kekuatan yang mendorong pertumbuhan jumlah pengguna Facebook adalah mobile connector. Di dunia, ada sekitar 65 juta user aktif yang mengakses jejaring sosial ini lewat handphone. Menurut data yang dikeluarkan oleh Facebook, user yang menggunakan aplikasi Facebook di handphone praktis menjadi 50 persen lebih aktif ketimbang mereka yang non Facebook-mobile. Di 60 negara di dunia saat ini telah ada 180 selular operator yang menjual produk telekomunikasinya menggunakan Facebook Mobile.

Sejak Juni 2009 lalu, menurut kabar, Facebook telah menjadi web nomor satu yang paling sering diakses oleh orang di Indonesia yang kini jumlah pengguna internet diperkirakan sekitar 31 juta orang.

Data-data tersebut semakin membuktikan bahwa teknologi web 2.0 dengan berbagai platform social media lainnya telah dan bakal terus mentransform kehidupan kita sehari-hari. Situs jejaring baru mungkin bakal terus berdatangan. Kalau lima tahun yang lalu kita terlarut dalam friendster-an, sekarang kita jadi getol facebook-an, ngetwit lewat Twitter dan lain sebagainya. Merek-nya mungkin berbeda-beda, namun tujuan dasarnya tetap sama yaitu untuk social networking.

Revolusi baru penggerak perubahan sosial budaya

Seperti yang dikatakan dalam kolom ini sebelumnya, perkembangan teknologi dengan aplikasi berbasiskan Web 2.0—yang memberikan kesempatan bagi pengguna untuk read, write, and share dalam sebuah komunitas jejaringan sosial—telah menjadi bagian utama yang membawa kita masuk ke era New Wave. Ia tidak saja menjadi sebuah revolusi, namun juga penggerak perubahan sosial budaya.

Berbagai aplikasi jejaring sosial seperti Wikipedia, Youtube, Twitter, Facebook, Secondlife, eRepublik, dan lain sebagainya menjadi bagian dari revolusi yang menggerakan kembali semangat komunal di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Ia berbasiskan jejaring komunitas; merupakan wadah untuk jejaring komunitas; dibesarkan oleh komunitas; kontennya diatur dan diisi secara kolektif oleh anggota komunitasnya sendiri.

Apa yang dikatakan oleh Majalah Newsweek awal Februari 2009 bahwa “We are all Socialist Now” dan juga Kevin Kelly di majalah Wired edisi Mei 2009 yang mengatakan “The New Socialism: Global Collectivist Society Is Coming Online” mungkin ada benarnya.

Fenomena Web 2.0 ini seperti mengingatkan kita kembali ke peribahasa yang populer di Indonesia “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Ia berlandaskan filosofi paham sosialisme yang bersemangatkan persaudaraan, bertujuan untuk memakmurkan dengan usaha kolektif yang produktif. Semua individu berorientasikan kepada terciptanya suatu kebahagiaan bersama, dan itu tercipta dari masyarakat yang hidup secara kolektif dan hidup saling tolong menolong.

Jika dilihat dari sejarah dan perkembangannya di era sekarang, maka tak heran kalau platform yang berbasiskan kolektivisme dan komunal, baik itu di dunia online dan offline, menjadi mudah ‘dijual’ untuk orang-orang di Indonesia.

Meskipun dulu struktur dan politiknya sangat vertikal, Indonesia, notabene-nya adalah collectivist society. Struktur sosial dan pola budayanya bisa dibilang sudah sejak dulu bersemangatkan horisontal, mulai dari aktivitas arisan, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat, kerja bakti, kalau sakit saling mengunjungi, sampai beramai-ramai mengantar jenazah.

Berbagai macam kekacauan yang belakangan terjadi, seperti aksi terorisme, tsunami, sampai gempa bumi di Tasikmalaya baru-baru ini, terus memanggil kembali rasa kemanusiaan dan solidaritas masyarakat. Dan itu terlihat secara langsung dari berapa sering kita mendengarkan dan menyanyikan lagu “Berita Kepada Kawan” yang dibawakan Ebiet G. Ade di dunia offline, sampai ekspresi yang kita berikan di Twitter, Facebook, dan lain sebagainya.

Di tengah berkembangnya dunia teknologi informasi dan komunikasi, kita semua saling terjaring dalam dunia sosial dan budaya yang baru yang lebih humanis. Contoh di dunia maya sudah membuktikan pula bahwa agama (belief) yang bersifat vertikal bisa hidup berdampingan dengan aspek kemanusiaan (humanity) dan sosial-budaya yang bersifat horizontal.

Di era New Wave, dengan segala platform yang kita gunakan, kita dapat menjelajah galaksi dan membuka cakrawala baru di mana tiap-tiap manusia semakin kecil dan tidak berarti. Pertentangan agama dan etnik yang sangat vertikal menjadi tidak ada artinya. Karena di era ini, embel-embel suku, agama, ras, etnis, lantas nyaris tidak kelihatan lagi secara nyata. Yang terlihat adalah semangat horisontal yang berlandaskan kemanusiaan dan rasa persaudaraan.

Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Sunday, September 6, 2009

From G7 to G20

Minggu, 6 September 2009 | 06:26 WIB

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) memang luar biasa. Teroris saja yang katanya anti-Amerika juga hijau melihat mata uang Dollar Amerika (USD). Buktinya mereka bayar hotel di Ritz Carlton dan Marriott pakai USD ketika menjalani aksi teror belum lama ini di Jakarta. Tidak pakai kartu kredit, tapi dalam bentuk kontan 400 dollar AS. Hebat dong Amerika?

Seberapa benci kita dengan Amerika, tapi kalau melihat mata uangnya yang ditulis "In God We Trust", mata orang langsung hijau. Meski saat ini perekonomiannya masih sakit, AS memang tetap menjadi kekuatan tersendiri di perekonomian dunia.

Seperti kita ketahui pemerintahnya defisit sebesar1 triliun dollar AS! Langkah untuk menutup defisit biasanya dilakukan oleh dua hal; menerbitkan surat utang dan mencetak uang. Untuk menerbitkan surat hutang, AS sudah punya langganannya yaitu pemerintah Cina. Ditawari terus oleh AS, Pemerintah Cina pada dasarnya can't say no ke Amerika. Kalau tidak dibeli, AS hancur, Cina juga hancur karena surat utangnya Amerika di Cina selama ini sudah hampir 1 triliun dollar.

Pemerintah AS memang sangat kompeten dalam memutar dollar AS. Orang Cina dikasih kebebasan untuk membanjiri pasar Amerika lewat produk-produknya yang dijual murah dengan main volume dengan margin kecil, untuk dapat mata uang dolar Amerika. Pada akhirnya uang-uang tersebut dalam bentuk dollar AS balik lagi ke AS lewat surat hutang.

Untuk menutupi defisitnya, AS bisa saja mencetak uang. Bahkan mungkin sampai saat ini mereka sudah mencetak dollar AS yang lebih banyak, hanya saja tak kentara dari tingkatan inflasi. Kenapa demikian? Pertama, masyarakat di sana takut untuk belanja. Kedua, mata masyarakat global masih terus hijau melihat dollar AS karena itu mereka terus menyerap dan menyimpannya sebagai cadangan investasi.

Mesin konsumsi di AS memang cukup besar dilihat dari populasinya yang berjumlah 306 juta orang. GDP per kapita tinggi yaitu sekitar 47.000 dollar AS. Karena memang negara kaya, makanya ia menjadi negara tujuan ekspor negara-negara berkembang. Contohnya Cina ekspor ke sana dan India menawarkan layanan outsourcing untuk perusahaan-perusahaan sana.

Tapi saat ini mesin konsumsi kurang jalan karena konsumen di sana yang sedang kebelit hutang tidak berani untuk spend. Produk kartu kredit sangat populer di sana mengingat budaya masyarakatnya yang terdidik untuk ngutang ketimbang menabung. Bayangkan saja, satu orang bisa punya 20 sampai 120 kartu kredit. Tak heran kalau bank-bank rontok karena nasabahnya tidak bisa bayar hutang.

Pemerintahan AS yang dipimpin Obama saat ini memang ditinggali warisan yang tidak sedap. Dengan minus satu triliun, sampai kapan Amerika bisa selamat dengan menjual surat hutangnya terus-terusan ke Cina? Dan sampai kapan Paman Sam bisa cetak uang terus? Akankah AS tumbang?

Power Shift

Dr Mahathir Mohammad, bekas Perdana Menteri Malaysia, pernah meramalkan bahwa suatu saat ekonomi Amerika dengan mata uang dollarnya akan tumbang. Mahathir sendiri sudah sejak lama percaya akan itu, dengan mengambil keputusan strategis di tahun 1998 ketika mata uangnya di-pegged melawan Dollar Amerika. Keputusan itu membuatnya dicecari oleh IMF dan dunia mengecapnya anti-barat. Apalagi ketika krisis tersebut, ia juga melakukan bail-out terhadap beberapa perusahaan di sana yang ketika itu diambang kehancuran.

Dunia barat saat ini seperti kemakan dengan kritik sendiri. Di era krisis seperti sekarang, beberapa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah di beberapa negara Asia pada saat krisis 97/98 lalu, yang dulu dikritik oleh dunia barat, justru menjadi obat yang mereka makan untuk menyelamatkan perekonomian di negara-negara mereka yang tengah sakit.

Langkah melakukan bailout, proteksionisme, dan kebijakan-kebijakan yang mengarah ke paham sosialis ketimur-timuran, justru menjadi obat penenang di tengah kekacauan yang melanda mereka di resesi global kali ini—yang dicap sebagai yang terdashyat sejak Great Depression tahun 1929.

Mahathir mungkin ada benarnya. Krisis seperti sekarang menunjukan bahwa kekuatan dunia barat lama kelamaan terlihat memudar. Kekuatan antara barat dan timur lama kelamaan semakin seimbang.

Begitu pula kalau dilihat dari kekuatan antara negara yang maju dan berkembang. Selama ini negara-negara maju yang tergabung dalam G7 (AS, Inggris Raya, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, dan Jepang) secara rutin memainkan peran konstruktif dalam mengkoordinasikan kebijakan global mengenai perekonomian dunia. Artinya selama ini mereka secara vertikal mendikte negara-negara lain, termasuk negara-negara berekembang.

Namun saat ini semuanya telah berubah. Krisis finansial global saat ini membuktikan bahwa negara-negara G7 bukan lagi kekuatan sentral perekonomian dunia. Sebuah entitas baru yang mengikutsertakan kekuatan di barisan lama (old-line powers) dan juga big-hitters dari negara-negara berkembang yang tergabung di G20 adalah kelompok utama kekuatan perekonomian sesungguhnya di era globalisasi.

Negara G20, yang beranggotakan negara-negara G7, Uni Eropa, Cina, India, Rusia, Australia, Brazil, Korea Selatan, Arab Saudi, Indonesia, Argentina, Turki, dan Afrika Selatan, merupakan kekuatan baru di panggung perekonomian dunia, di mana banyak dari negara berkembang yang tergabung di sana merupakan investor yang besar di negara-negara maju.

Seperti yang ditulis di dalam artikel “Global Governance: Goodbye G7, Hello G20” di majalah Economist, 20 November 2008 lalu, kekuatan kelompok G7 telah secara perlahan memudar. Mereka tidak lagi merepresentasikan wajah perekonomian dunia sebagaimana yang diperlihatkan oleh kelompok G20, yaitu kelompok 20 negara perekonomian besar di dunia yang menghimpun hampir 90 persen GNP dunia, 80 persen total perdagangan dunia dan dua per tiga penduduk dunia.

Perkembangan teknologi terus mempercepat proses globalisasi ekonomi, di mana kita semakin hidup dalam dunia yang serba terinterkoneksi. Resesi perekonomian global yang dimulai pada tahun 2008 lalu adalah contoh bagaimana sakitnya perekonomian dan sistem finansial di AS secara horisontal menular ke negara-negara lain yang tehubung di jaringan perekenomian dan finansial global.

Maka dari itu, di dalam kondisi perekonomian global seperti sekarang kelompok G7 tampil lebih horisontal, menunjukan sikap kompromi, dan kolaboratif dengan negara-negara berkembang. Semakin kompetitifnya negara-negara berkembang, permasalahan dunia global harus diselesaikan bersama-sama melalui G20. Sebab di era globalisasi, kita semua saling terhubung. Satu tumbang, semua bisa-bisa ikut tumbang.

Pergeseran dari G7 ke G20 menunjukan bahwa kekuatan perekonomian dunia diseimbangi oleh negara maju dan berkembang, sehingga terjadi pula pergeseran kekuatan dari yang tadinya didominasi secara vertikal oleh G7 menjadi lebih horisontal.

Bagaimana Pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

From Ideology to Persona

Minggu, 6 September 2009 | 04:55 WIB

KOMPAS.com — Nama Hatoyama adalah satu klan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial politik di Jepang. Berasal dari kaum kosmopolitan, berpendidikan, dan kaya raya, dinasti ini memegang peranan politik pada beberapa era di Jepang, sebut saja Kazuo Hatoyama (anggota parlemen di akhir abad ke-19), Ichiro Hatoyama (Perdana Menteri, 1955-1956), dan Iichiro Hatoyama (Menteri Luar Negeri, 1976-1977), hingga terakhir Yukio Hatoyama yang pada tahun 2009 terpilih menjadi Perdana Menteri.

Karena secara turun temurun menelurkan politisi andal, tak heran kalau keluarga ini dipandang oleh media sebagai "Keluarga Kennedy-nya Jepang". Yukio memenangi pemilihan umum di Negeri Sakura baru-baru ini melalui penampilan dengan pendekatan yang sangat horizontal.

Pertama, Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang dipimpinnya berhasil menumbangkan Partai Demokrat Liberal (LDP) lewat koalisi dengan Partai Sosial Demokrat (SDP) dan Partai Baru Rakyat (PNP). LDP telah memerintah sejak tahun 1955, dan sejak itu hanya pernah sekali di tahun 1993 (di tengah era Japan's Lost Decade) ditumbangkan oleh gabungan koalisi partai oposisi yang memerintah Jepang.

Pendekatan Yukio yang horizontal juga dapat terlihat dari karakter dirinya dan ideologi yang diusung oleh partainya yang percaya bahwa harus dirobohkannya perananan status quo di Jepang, yang selama ini semakin memudar kredibilitasnya akibat birokrasi dan pemerintahan yang dikelola secara salah.

Sejak tahun 1990, Jepang terus mengalami stagnasi dalam hal ekonomi, dan kondisinya juga terus semakin parah di tahun belakangan. Indikator makro terakhir memberikan gambaran betapa hancurnya perekonomian Jepang; di April 2009 lalu perekonomian Jepang anjlok 15,2 persen. Itu merupakan sebuah "prestasi" tersendiri di antara negara-negara industrialis lainnya yang, meskipun terpuruk, tetapi tidak sampai seekstrem itu.

Ekspor dari perusahaan-perusahaan yang terkenal di kala ekonomi Jepang booming di tahun 1980-an, Toyota, Nissan, dan Honda terus turun hingga 70 persen sehingga banyak di antara mereka yang menyelamatkan biaya inventori dengan menutup pabrik.

Di tengah kekacauan ini, Yukio Hatoyama membawa manifesto bersifat reformasi yang menitikberatkan perubahan dari birokrasi vertikal ke masyarakat horizontal. Seperti yang dikutip oleh BBC, ia mengatakan “Kami akan menciptakan masyarakat horizontal yang terikat hubungan kemanusiaan. Bukan masyarakat vertikal yang berkutat dengan kepentingan-kepentingan tertentu.”

Sikap politiknya memang tidak umum untuk ukuran Jepang yang terkenal sangat vertikal dan konservatif, apalagi di berbagai kesempatan, Yukio yang terkenal eksentrik dan dijuluki alien oleh istrinya sendiri, selalu mengatakan bahwa “Politik itu adalah Cinta.”

Apa yang telah diuraikan di atas semakin meyakinkan kami bahwa era New Wave adalah era ketika dunia politik juga ikut berubah. Pertama, menjual ideologi partai ke konstituen sudah tidak cukup lagi karena, yang juga tak kalah penting, adalah bagaimana tampil memesona dengan karakter yang kuat dan diferensiasi yang memang mengakar dalam DNA-nya dan bukan dibuat-buat. Ideologi partai tentu tetap diperlukan, terutama karena ia merupakan pooling factor untuk menjaring dan mengomunitaskan konstituen yang memiliki keyakinan yang sama.

Kedua, pendekatan yang sifatnya vertikal semakin lama tidak laku lagi karena yang dapat dijual adalah sikap politik yang horizontal. Pendekatan yang bersifat transaksional sekarang semakin bergeser menjadi relasional untuk menjamin adanya loyalitas dari para konstituen.

Perkembangan internet dengan Web 2.0 telah melahirkan dunia politik baru; Politic 2.0. Berkembangnya teknologi juga telah membuka dunia politik dan birokrasi yang lebih transparan. Sejak adanya televisi berita 24 jam sehari 7 hari seminggu dan ditambah lagi internet, kita kini lebih punya akses melihat gambaran politik secara nyata.

Barack Obama adalah contoh seorang praktisi di dunia politik 2.0. Ia tampil secara horizontal dengan menggunakan berbagai macam media di dunia maya, dengan memanfaatkan situs web dan berbagai media sosial, seperti Facebook, YouTube, Twitter, dan lain sebagainya, untuk melakukan percakapan dengan audiensnya. Ia pun tampil lebih memesona dengan menonjolkan karakter dirinya yang horizontal dan universal, dan betul-betul memiliki diferensiasi yang benar-benar berbeda, didasari DNA yang bukan dibuat-buat.

Itu yang membuat ia berhasil mengalahkan Hillary Clinton di pemilihan pendahuluan Partai Demokrat tahun 2008, dan meraih simpati para konstituennya dalam mengalahkan John McCain.

Selain itu pula, sebagai contoh seorang praktisi sukses di dunia Politic 2.0, Obama juga mencatat rekor penggalangan donasi publik, yang ia dekati secara langsung lewat berbagai sosial media.

Pada akhirnya, dunia memang semakin berubah. Sikap dan praktik politik di zaman sekarang semakin lebih horizontal. Di era horizontal ini, ideologi partai masih penting karena ia merupakan pooling factor. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana tampil lebih memesona secara horizontal dengan memperlihatkan karakter yang kuat secara konsisten.

Bagaimana pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Investasi: Ketika Bunga Deposito "Berguguran"

Minggu, 6 September 2009 | 03:03 WIB


Elvyn G Masassya, praktisi keuangan

Akhir-akhir ini bank-bank berskala besar bersepakat menurunkan bunga deposito menjadi maksimal 8 % per tahun. Angka itu diperoleh dari tingkat bunga SBI rate plus 1,5 %. Itu pun dengan catatan, yang bisa menikmati bunga 8 % itu adalah deposan besar dengan jumlah dana biasanya di atas Rp 1 miliar.

Sebelumnya, kalangan ini bisa memperoleh bunga deposito 10 %-12 %. Di sisi lain, deposan yang dananya berkisar jutaan dan puluhan juta rupiah sejak lama hanya mendapatkan imbalan bunga rendah, umumnya sebesar penjaminan LPS atau bahkan di bawah itu.

Mengapa bank-bank mesti menurunkan bunga, jawabannya karena penurunan bunga diharapkan akan menurunkan bunga pinjaman sehingga kredit akan mengucur dan sektor riil bergerak. Lalu pada gilirannya ekonomi akan bertumbuh.

Apakah realitasnya demikian? Dibutuhkan diskusi panjang untuk memastikan asumsi semacam itu akan benar terjadi. Penurunan bunga kredit tentu hanya akan terjadi jika selain bunga dana turun juga bank-bank melakukan efisiensi dan risiko di sektor riil itu turun. Dengan cara ini selisih antara bunga dana dan bunga pinjaman menjadi lebih kecil.

Terlepas dari tujuan penurunan bunga deposito seperti disebutkan di atas, hal yang lebih pas dibahas dalam rubrik ini adalah dampak penurunan bunga deposito itu sendiri. Yang jelas, bagi sebagian besar deposan, penurunan bunga deposito merupakan penurunan pendapatan dan bagi sebagian lagi mungkin imbal hasil bukan merupakan faktor utama. Kalangan ini juga mempertimbangkan faktor risiko dan pelayanan yang diberikan bank. Lalu, bagaimana dengan Anda?

Sebagaimana diketahui, jika penempatan dana berbentuk deposito merupakan bagian investasi, tentu penurunan bunga tersebut layak dikaji. Pertama, berapa besar dampak penurunan tersebut? Apakah mengganggu total pendapatan? Kedua, bagaimana pengaruhnya terhadap risiko investasi Anda. Ketiga, bagaimana respons yang selayaknya dilakukan?

Dampak

Mengenai dampak terhadap pendapatan, tentu saja bagi setiap orang berbeda-beda. Jika deposito Anda berjangka waktu satu tahun dan sudah ada di bank sejak lama dan belum jatuh tempo dalam waktu dekat, Anda tidak perlu khawatir. Bunga yang Anda peroleh akan tetap sama dengan sebelumnya karena deposito Anda sudah ”terikat kontrak” untuk diberikan bunga yang lebih tinggi ketimbang yang saat ini berlaku. 

Tetapi, jika deposito Anda berjangka waktu satu bulan, maka ketika deposito tersebut diperpanjang, tentunya akan dikenakan bunga baru yang lebih reñdah dibandingkan dengan sebelumnya.

Dus, dalam empat bulan ke depan tahun 2009 pendapatan bunga deposito Anda akan lebih sedikit. Berapa sedikit? Umpamakan deposito Anda Rp 1 miliar. Bila sebelumnya Anda mendapatkan bunga 10 % per tahun, maka untuk bulan-bulan ke depan bunga yang Anda peroleh maksimal 8 %. Berarti ada pengurangan 2 %. Artinya, jika sebelumnya memperoleh Rp 100 juta per tahun atau Rp 8,3 juta per bulan, maka nantinya Anda hanya akan mendapatkan bunga deposito Rp 80 juta per tahun atau Rp 6,6 juta per bulan sebelum pajak. Dengan kata lain, Anda mengalami potensi penurunan pendapatan Rp 1,7 juta per bulan sehingga untuk 4 bulan ke depan potensi pendapatan yang hilang Rp 6,8 juta. Apakah ini signifikan? Bisa ya dan tidak. Bergantung pada masing-masing orang.

Yang jauh lebih penting adalah kalau Anda tetap menempatkan dana di bank dengan bunga yang sama dengan bank lain. Yang semestinya menjadi perhatian adalah risiko pada bank tersebut. Bank A dan bank B sebenarnya memiliki kualitas pengelolaan berbeda sehingga risikonya juga berbeda. Jadi, kalau bank A dan bank B memberikan bunga sama, tentunya Anda mesti memilih bank yang risikonya lebih reñdah dan pelayanan lebih baik karena tingkat bunga sebenarnya merupakan cerminan risiko masing-masing bank.
Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan kedua, yakni bagaimana dampak penurunan bunga terhadap risiko investasi. Risiko adalah lawan dari imbal hasil atau tingkat bunga.

Kalau imbal hasil rendah, tentu risiko juga mesti rendah. Jadi, ketika Anda hendak menempatkan deposito di sebuah bank dan kalau tingkat bunga di antara bank-bank tersebut sama, agar deposito Anda tidak meningkat risikonya, pilihan terhadap bank terbaik merupakan hal mutlak. Dengan kata lain, bukan masalah Anda hanya mendapatkan bunga deposito 8 % sepanjang bank Anda masih lebih bagus dibandingkan dengan bank lain.

Yang terakhir, bagaimana merespons penurunan bunga tersebut terhadap portofolio investasi Anda secara menyeluruh?

Jika potensi pendapatan yang hilang tidak terlalu signifikan, tentu bukan masalah tetap menempatkan dana di deposito. Apalagi deposito merupakan jenis investasi paling likuid dan rendah risikonya dibandingkan dengan jenis investasi lain.

Namun, Anda juga mesti melihat aspek horizon investasi. Jika sebagian investasi Anda berjangka menengah-panjang, maka menempatkan dana di deposito dengan tingkat bunga rendah untuk jangka panjang bukanlah pilihan pas. Dengan kata lain, jika tetap ada deposito, maka mesti berjangka waktu pendek sehingga bila suatu ketika bunga deposito meningkat Anda masih memiliki kesempatan menikmati bunga tinggi karena deposito Anda akan mengalami penyesuaian tingkat bunga.

KOMPAS

- Muhammad Idham Azhari

Friday, September 4, 2009

From Broadcasting to Networking

Tulisan 8 dari 100

Jumat, 4 September 2009 | 13:03 WIB

New Wave Trend #1:
From (One-to-Many) Broadcasting to (Many to-many) Networking

Masih ingat salah satu kasus blunder paling legendaris dalam sejarah dunia pemasaran? Ya, New Coke, yang merupakan produk Coca-cola yang paling cepat matinya.

Coca-Cola ketika itu mengeluarkan New Coke sebagai reaksi atas hasil blind test yang dilakukan Pepsi. Namun, karena pelanggan merasakan bahwa New Coke ini bukanlah minuman Coke yang mereka kenal selama ini, mereka pun memprotesnya dan akhirnya Coca-Cola pun mengeluarkan kembali produk originalnya yang disebut Coke Classic.

Kasus new Coke kini terulang lagi! Hanya saja kejadiannya ada di perusahaan lain yaitu Ikea. Perusahaan ritel perabot untuk rumah dari Swedia ini kini tengah diprotes dan diban oleh konsumennya sendiri atas alasan yang cukup sederhana, mengganti font dan typeface-nya dari Futura ke Verdana.

Ikea menganggap pergantian bentuk desain huruf mereka sebagai hal yang sangat rasional. Lebih murah memakai Verdana yang gratis dan tersedia di mana-mana ketimbang Futura yang tersedia secara custom-made.

Sayangya Ikea tidak dapat melihat gambarannya secara luas. Konsumen telah secara emosional mempunyai rasa memiliki terhadap typeface Futura dan melihatnya sebagai bagian integral dari merek Ikea yang sejak enam puluh tahun lalu terkenal trendi dan stylish.

Makannya setelah membaca buku katalog Ikea untuk edisi 2010 yang ditulis menggunakan font verdana, kontan konsumen yang mengamuk langsung berteriak di Twitter, “loh kok berubah?”

Seperti yang dikutip di majalah Time, kasus pergantian font Ikea menjadi trending topic di Twitter pada tanggal 26 Agustus lalu. Topik ini bahkan mengalahkan berita kematian Ted Kennedy. Tipikal komen yang beredar di Twitter pada hari itu memang agak memanas. Dari Tokyo ada yang ngetwit “Ikea, gila hentikan verdana!”, dari Dublin ada yang bilang “Sudah kelewat batas!”, dari Melbourne ada yang mengatakan “Kejijikan saya tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.”

Konsumen yang marah juga mengekspresikan diri mereka di berbagai situs jejaring seperti Facebook, MySpace, sampai ke forum di dunia online. Majalah Time melaporkan bahwa di online forum Typophile yang merupakan forum komunitas buat mereka yang maniak dengan typeface dan font, menaikan semacam bendera setengah tiang dengan mengatakan “Ini hari yang sangat menyedihkan.”

Beberapa orang juga menggerakan petisi lewat online sebagai upaya untuk memberitahu kepada Ikea bahwa dunia menolak Verdana karena tidak sesuai dengan gaya desain Ikea, sekaligus bertujuan untuk membuat Ikea supaya berubah pikiran dengan balik lagi ke font-nya yang lama.

Kasus Ikea ini membuktikan bahwa di dunia New Wave seperti sekarang, semakin sulit untuk menyetop komen-komen dari publik yang beredar tentang merek Anda. Opini publik tentang merek Anda terus beredar kemana-mana karena mereka sekarang memiliki banyak alat untuk melakukan itu semua.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dari yang tadinya one-to-many ke one-to-one dan sekarang di era many-to-many. Didorong oleh teknologi Web 2.0 yang menyebabkan membanjirnya aplikasi berbasiskan jejaring dari banyak ke banyak Ini yang menyebabkan internet telah berubah. Teknologi Web 2.0 membuat internet bersifat lebih interaktif dan dinamis. Interaksi dengan komunitas menjadi lebih memungkinkan karena pada dasarnya kekuatan sesungguhnya dari aplikasi internet yang bersifat Web 2.0 adalah read & write.

Di era New Wave, teknologi broadcasting yang bersifat dari satu ke banyak (one-to-many) tidak mati. Lewat Facebook, Twitter, Plurk, Blog, online Forum dan lain sebagainya, kita bisa menyiarkan atau memborbardir sebuah pesan. Hanya saja kini teknologi broadcasting lebih canggih karena memberikan fasilitas platform untuk networking di dalam jejaring pula.

Dulu di era one-to-many kita menyebarkan satu message ke mana-mana memang dengan tujuan hanya untuk mem-broadcast suatu hal. Sekarang, tujuannya bukan hanya sekedar untuk broadcast namun juga sekaligus ber-networking lewat jejaring sosial. Trickle down effect dari sebuah pesan menjadi sangat luar biasa karena ia kini dapat diteruskan secara real-time oleh siapa saja yang menerima, mendengar, atau melihat.

Perkembangan Internet dengan Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin cepat. Di dunia yang serba horisontal ini, berkat perkembangan teknologi internet, semua orang punya kesempatan yang sama untuk terhubung dan saling menghubungi.

Kasus New Font di Ikea yang merupakan jelmaan kasus “New Coke” di era New Wave memberikan contoh tersendiri bahwa karakter sebuah merek dijaga bukan hanya oleh perusahaan namun juga konsumennya sendiri. Kalau misalnya saja sebuah merek melakukan akvititas-aktivitas yang dianggap melenceng dari karakternya, maka pelanggan akan langsung memprotesnya.

Di era New Wave ini, semua serba horisontal. Suara protest konsumen disiarkan secara langsung dengan orang-orang lain di komunitas jejaringnya yang menyebarkannya dalam bentuk apa saja, lewat apa saja, untuk siapa saja, dimana saja, kemana saja, dan kapan saja.

Bagaimana Pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Thursday, September 3, 2009

10 Kekuatan yang Menyebabkan Horisontalisasi Pemasaran (Bagian 2)

Tulisan 7 dari 100

Kamis, 3 September 2009 | 08:02 WIB

Mohon izin memulai dengan omongan khas gaya kaskuser: “Ini bukan repost, gan!” Judul tulisan ini sama dengan yang kemarin, karena memang ini merupakan sambungannya. Seperti yang ditulis di kolom ini kemarin, perkembangan Internet dengan Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin cepat. Di dunia yang serba horisontal ini, berkat perkembangan teknologi internet, semua orang sekarang punya kesempatan yang sama untuk terhubung, dihubungi, dan menghubungi.

Seperti yang dikatakan pula kemarin, dunia yang serba horisontal ini bukan hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi semata. Memang pendorong nomor satu adalah perubahan teknologi dari yang bersifat one-to-many ke many-to-many. Perubahan teknologi ini kontan mengundang datangnya sembilan tren lain.

Berikut penjelasan singkatnya, yang mana penjelasan lebih lengkap mengenai masing-masing trend akan dihadirkan dalam 10 artikel berikutnya di kolom ini.


New Wave Trend #1:
From (One-to-Many) Broadcasting to (Many to-many) Networking

Teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dari yang tadinya one-to-many ke one-to-one dan sekarang di era many-to-many. Didorong oleh teknologi Web 2.0 yang menyebabkan membanjirnya aplikasi berbasiskan jejaring dari banyak ke banyak Ini yang menyebabkan internet telah berubah. Teknologi Web 2.0 membuat internet bersifat lebih interaktif dan dinamis. Interaksi dengan komunitas menjadi lebih memungkinkan karena pada dasarnya kekuatan sesungguhnya dari aplikasi internet yang bersifat Web 2.0 adalah read & write.

Perkembangan teknologi yang aplikasi Web 2.0 menyebabkan orang jadi lebih mudah mengekspresikan dirinya, berpartisipasi, melakukan networking, membentuk komunitas lewat situs jejaring, dan banyak hal lainnya. Teknologi yang sama memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan yang sama, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu.

New Wave Trend #2:
From Ideology to Persona

Berkembangnya teknologi juga telah membuka dunia politik dan birokasi lebih transparan. Sejak adanya televisi berita 24/7 dan ditambah lagi internet, kita kini lebih punya akses melihat gambaran politik secara nyata. Sudah semakin susah untuk menutup-nutupi sesuatu.

Masih ingat ketika Barrack Obama bertarung melawan Hillary Clinton di konvensi Partai Demokrat untuk pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008 lalu? Di situ kita melihat bahwa pada akhirnya di dunia yang horizontal seperti sekarang ideologi partai bukan menjadi yang terpenting lagi di dunia politik, yang terpenting adalah siapa yang dapat tampil lebih mempesona dan lebih horizontal. Itu juga yang membedakan Obama melawan McCain di saat kampanye pemilihan presiden yang lalu.

New Wave Trend #3:
From G7 to G20

Perkembangan teknologi terus mempercepat proses globalisasi ekonomi, di mana kita semakin hidup dalam dunia yang serba terinterkoneksi. Resesi perekonomian global yang dimulai pada tahun 2008 lalu adalah contoh bagaimana sakitnya perekonomian dan sistem finansial di Amerika Serikat secara horisontal menular ke negara-negara lain yang terkonek di jaringan perekenomian dan finansial global.

Resesi global kali ini —yang dicap sebagai yang terdashyat sejak Great Depression tahun 1929—membuat kacau perekonomian di sejumlah negara, terutama mereka yan tergabung dalam kelompok G7 (Amerika Serikat, Inggris Raya, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, dan Jepang). Dalam sejarah perekonomian dunia, negara-negara tersebut secara rutin memainkan peran konstruktif sdalam mengkoordinasikan kebijakan global mengenai perekonomian dunia. Artinya selama ini mereka secara vertikal mendikte negara-negara lain, termasuk negara-negara berekembang.

Namun saat ini semuanya telah berubah. Seperti yang ditulis di dalam artikel “Global Governance: Goodbye G7, Hello G20” di majalah Economist, 20 November 2008 lalu, kekuatan kelompok G7 telah secara perlahan memudar. Mereka tidak lagi merepresentasikan wajah perekonomian dunia sebagaimana yang diperlihatkan oleh kelompok G20, yaitu kelompok 20 negara perekonomian besar di dunia yang menghimpun hampir 90 persen GNP dunia, 80 persen total perdagangan dunia dan dua per tiga penduduk dunia.

Maka dari itu, di dalam kondisi perekonomian global seperti sekarang kelompok G7 tampil lebih horisontal, menunjukan sikap kompromi, dan kolaboratif dengan negara-negara berkembang. Semakin kompetitifnya negara-negara berkembang terutama Cina dan India, permasalahan dunia global harus diselesaikan bersama-sama secara horisontal melalui G20.

New Wave Trend #4:
From Belief to Humanity

Di tengah berkembangnya dunia teknologi informasi dan komunikasi, kita semua saling terjaring dalam dunia sosial dan budaya yang baru yang lebih humanis. Contoh di dunia maya sangat membuktikan pula bahwa agama yang bersifat vertikal bisa hidup berdampingan dengan aspek kemanusiaan dan sosial-budaya yang bersifat horizontal.

Di era new wave dengan segala teknologi yang kita gunakan, kita dapat menjelajah galaksi dan membuka cakrawala baru di mana tiap-tiap manusia semakin kecil dan tidak berarti. Pertentangan agama dan etnik yang sangat vertikal menjadi tidak ada artinya.


New Wave Trend #5:
From Close to Open Market

Keempat tren di atas membawa angin baru ke market yang berubah dari tertutup ke relatif lebih terbuka. Pasar global telah menjadi datar dan semua marketer memiliki kesempatan yang sama. Dengan adanya teknologi terutama didorong oleh berbagai macam platform yang ada di dunia online dan mobile, penjual dapat menjangkau pembeli tanpa batas. Dan di sisi lain, pembeli mendapatkan keleluasan untuk memilih berbagai penawaran dari manapun untuk mendapatkan value yang terbaik.

Platform yang memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli yang sifatnya customer-to-customer (C2C) seperti eBay, Alibaba, dan Kaskus di dunia online merupakan contoh konkret bahwa di era New Wave, pasar semakin horisontal.

New Wave Trend #6:
From Competition to Co-opetition

Perkembangan dunia teknologi telah merubah semua yang ada di lingkungan bisnis mulai dari lingkungan makro hingga mikro. Di tengah pasar yang semakin terbuka, pesaingan semakin menyimpan segudang peluang dan juga tantangan tersendiri bagi pemasar.

Di era New Wave ini, persaingan yang sehat terjadi ketika lapangan permainannya sama datar. Di sini, semua pemain berada pada posisi yang sejajar, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kita bisa menang karena kita memang lebih unggul daripada yang lain, bukan karena kita menjelek-jelekan lawan atau bermain kasar.

Kunci untuk meredam munculnya permainan kasar dari lawan pada akhirnya ditentukan oleh siapa yang mau berkolaborasi secara fair dengan kompetitor. Trend yang dinamakan Co-opetition ini menjadi contoh tersendiri di erah New Wave, bagaimana pemasar pun semakin mehorisontalkan diri dengan kompetitornya.


New Wave Trend #7:
The Rise of New Customer: Digital Native

Salah satu dari tiga konsumen baru yang terus berkembang adalah masyarakat tulen New Wave yang dinamakan Digital Native alias konsumen yang asli digital. Konsumen seperti ini merupakan penduduk asli planet New Wave yang sangat well-connected dengan dunia digital. Konsumen seperti ini sifatnya transendental, tidak terkotakan secara umur, demografis, geografis, strata sosial dan status lainnya. Benang merah dari konsumen ‘baru’ semacam ini adalah mereka ‘hidup’ 24 jam secara horisontal di planet New Wave.

Sudah saatnya bagi pemasar untuk mengenali mereka, mengetahui perilaku mereka, dan menggali anxiety & desire yang mereka miliki.


New Wave Trend #8:
The Rise of New Customer: ‘New’ Emerging Youth

Konsumen baru kedua adalah “New Emerging Youth” atau konsumen baru berumur delapan hingga dua puluh empat tahun yang merupakan generasi baru di era milenium. Merekalah yang memegang peranan berikutnya di sektor ekonomi, setelah punahnya generasi baby-boomer dan semakin menuanya generasi X. Beranjak dewasa dengan berbagai macam alat teknologi informasi dan komunikasi, secara otomatis paradigma mereka menjadi sangat New Wave dan serba horisontal. Sudah menjadi keharusan tersendiri bagi para New Wave Marketer untuk mengenali, memahami, dan menghampiri mereka secara horisontal.


New Wave Trend #9:
The Rise of New Customer: ‘New’ Urban Women

Konsumen ketiga di era New Wave adalah “New Urban Women” atau kaum wanita urban yang secara metafora datang dari planet venus tapi kini telah migrate ke planet New Wave. Kaum wanita secara alami dapat dipandang sebagai pembawa gerakan horisontal, terutama karena isu-isu seputar perbedaan gender yang dicatat dalam sejarah.
Women still and will always rule! Kaum wanita tetap membawa gerakan horisontal di era New Wave ini. Dengan kecanggihan alat teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang, kekuatan mereka dalam melakukan word of mouth dan word of mouse menjadi lebih besar. Merekalah yang dapat mengajari para New Wave Marketer untuk bagaimana menjadi pemasar yang lebih menunjukan sisi emosional dan humanisme.

New Wave Trend #10:
The Connectors

Trend kesepuluh, yang tak kalah penting adalah Connector yang menghubungkan para pemasar dengan lingkungan bisnisnya; kompetitor, konsumen, dan para change agents yang aktif membentuk perubahan tatanan makro mulai dari perubahan teknologi, politik dan legal, ekonomi, sosial budaya, dan pasar.

Connector terdiri atas tiga jenis yaitu mobile interaction, experiential events, dan social media ada di belahan dunia online dan offline. Dengan adanya connector, pemasar di era New Wave dapat menerapkan apa yang dinamakan Always-on Connection, yang bukan lagi sifatnya 24/7 tapi 60/60/24/7. Kenapa? Karena setiap detik telah terjadi koneksi yang menghubungkan perusahaan (Company) dengan 3C lainnya dalam lainnnya; Change agents, Competitor, dan Customer. Tanpa Connector, pemasar harus bersiap-siap menelan ajal.

Bagaimana pendapat Anda?


Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Wednesday, September 2, 2009

10 Kekuatan yang Menyebabkan Horisontalisasi Pemasaran

Tulisan 6 dari 100

Rabu, 2 September 2009 | 08:12 WIB

Kekuatan teknologi memang semakin hebat. Teknologi pencarian di Google contohnya, diibaratkan sebagai malaikat pencatat amal baik dan buruk. Ketik nama merek Anda di sana, dan akan terlihat betul perbuatan apa yang telah Anda lakukan selama ini. Kalau banyak yang positif, tentunya bagus karena dapat mempengaruhi otak, hati, dan jiwa konsumen.

Tapi kalau hasil pencarian yang ditampilkan di halaman pertama di situs tersebut berisikan amukan dan caci-maki konsumen yang tidak puas, itu saatnya Anda harus hati-hati. Perbanyaklah amal baik. Makanya slogan unofficial dari Google yang terkenal adalah ”Don’t Be Evil” alias jangan jadi setan.

Di Amerika, banyak pengelola rumah peribadatan yang semakin frustasi karena jumlahnya terus menurun. Sebegitu frustasinya, ada satu yang menulis di papan pengumuman di depan rumah peribadatannya dengan mengatakan ”Banyak hal yang tidak bisa dijawab oleh Google, maka dari itu datanglah ke mari untuk meminta jawaban.”

Kita semua tahu bahwa Google, yang notabene-nya perusahaan pemasang iklan, adalah fenomena internet yang telah menjadi bagian dari wawasan kita dalam mencari informasi mulai dari yang besar sampai yang terkecil, melihat dunia luar (contohnya Google Earth), mendengar (Google Alert), dan berkolaborasi dengan rekan sekantor (Google Docs, Gmail, Google Talk).

Tidak hanya merevolusi industri teknologi informasi, Google juga merubah banyak tatanan industri mulai dari media (Google news, YouTube/Google Video) sampai perpustakaan (Google Books, Google Scholar).

Google adalah internet, dan internet adalah Google. Dengan misinya yang sangat horisontal yaitu ”Mengelola informasi dunia dan membuatnya mudah diakses dan berguna,” Google telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tulen dunia New Wave, yang ingin mencari, melacak, dan menggunakan sebuah informasi. Google merupakan contoh tersendiri bahwa di era New Wave, kita telah masuk ke dunia yang transparan dan lebih terbuka.

Internet sendiri saat ini masih terus berevolusi. Teknologi Web 2.0 contohnya telah merubah pengalaman kita dalam menggunakan internet. Dulu di era Web 1.0, internet masih bersifat satu arah, statis, dan ekslusif. Kalangan yang berkutat di dunia teknologi informasi dan komunikasi sering mengatakan bahwa era Web 1.0 adalah eranya kita melihat tapi tidak bisa ’menyentuh.’ Memang betul, dulu di era web 1.0 kita hanya bisa mencari, browsing, dan read-only. Google pada waktu muncul tahun 1998 adalah satu contoh produk Web 1.0.

Tapi dunia internet kini telah berubah. Teknologi Web 2.0 membuat internet bersifat lebih interaktif dan dinamis. Interaksi dengan komunitas menjadi lebih memungkinkan karena pada dasarnya kekuatan sesungguhnya dari aplikasi internet yang bersifat Web 2.0 adalah read & write. Dalam arti lain, kita ini eranya kita dapat melihat sekaligus menyentuh. You can look and you can also touch!

Seiring dengan perubahan teknologi internet dari era Web 1.0 ke 2.0, mereka yang tadinya berkutat di aplikasi era lama mentransform diri ke era yang baru. Contohnya Google yang kini banyak mengeluarkan produk-produk yang bersifat kolaboratif, interaktif, dan partisifatif sesuai dengan Web 2.0 experience.

Di era internet seperti ini pula, orang yang tadinya amatir menjadi terlihat profesional. Contohnya untuk membuat sebuah blog pribadi, Anda tidak perlu mengerti mendalam tentang programming, cukup pergi ke penyedia platform untuk blogging seperti blogspot, wordpress, myspace, multiply, dan lain sebagainya.

Dengan Web 2.0 orang jadi lebih mudah mengekspresikan dirinya, berpartisipasi, melakukan networking, membentuk komunitas lewat situs jejaring, dan banyak hal lainnya. Teknologi yang sama memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan yang sama, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya lewat kolom ini, kita masuk ke dalam alam baru di mana tatanan lanskap bisnis telah berubah menjadi datar. Segala aktor dalam lingkungan bisnis saling terhubung dan duduk sama rata; mulai dari agen-agen yang membawa perubahan industri (kalangan di dunia teknologi, birokrat, ekonomi, sosial dan budaya), kompetitor, konsumen, dan perusahaan saling membaur.

Sebagai contoh adalah jika Anda membuat sebuah platform berbasiskan internet portal. Meskipun intensi utama dari portal tersebut adalah sebagai wadah untuk konsumen Anda agar bisa saling berinteraksi, tapi tetap saja portal Anda tersebut disusupi oleh kompetitor Anda. Alih-alih yang ikut nimbrung di sana adalah kumpulan kompetitor Anda.

Perkembangan Internet dengan Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin cepat. Di dunia yang serba horisontal ini, berkat perkembangan teknologi internet, semua orang punya kesempatan yang sama untuk terhubung.

Perlu dicatat bahwa apa yang saya katakan sebagai dunia yang serba horisontal ini bukan hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi semata. Memang pendorong nomor satu adalah perubahan teknologi dari yang bersifat one-to-many ke many-to-many. Perubahan teknologi ini kontan mengundang datangnya sembilan tren lain yang mendorong horisontalisasi pemasaran.

Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Tuesday, September 1, 2009

Horisontalisasi Pemasaran

Tulisan 5 dari 100

Selasa, 1 September 2009 | 07:40 WIB

Beberapa dari Anda mungkin masih teringat dengan iklan Cadbury yang menampilkan Gorilla yang secara emosionil, penuh dengan passion menggebuk drum dan memainkan lagu Phil Collins ”In the Air Tonight.” Iklan yang diluncurkan pada tahun 2007 tersebut tadinya hanya hanya diputar untuk jaringan televisi di negeri Inggris.

Setelah muncul di Youtube dan situs video sharing lainnya, si gorilla itu akhirnya ditonton oleh enam juta orang dalam waktu tiga bulan pertama setelah on-air. Sebuah prestasi yang luar biasa apalagi mengingat masih banyak orang yang membicarakannya sampai sekarang.

Di tahun 2009 ini, satu kampanye pemasaran yang menyita banyak orang adalah kontes ”The Best Job in The World” yang mana si kontestan ditawari pekerjaan di Gugusan Great Barrier Reef, Australia dengan penghasilan sebesar Rp 1 miliar dalam enam bulan. Lantas apa kerjanya? Menjadi penjaga Pulau Hamilton, salah satu pulau di gugusan tersebut.

Sebagai penjaga pulau ini, Anda tidak hanya dibayar dengan harga selangit, tapi juga dapat menikmati semua keindahan ibarat di surga, mulai dari menyusuri pantai pasir putih, menyelam bawah laut, kerja sambil berlibur. Menyenangkan bukan apabila dapat bekerja menyerupai liburan dengan gaji yang besar pula?

Kontes The Best Job in the World yang digelar oleh Badan Pariwisata Negara Bagian Queensland, Australia, tersebut akhirnya dimenangi oleh Ben Southall dari Inggris. Dengan dibayar Rp 1 Milliar untuk enam bulan kerja, Ben memiliki tugas untuk mempromosikan pulau-pulau di wilayah Gugusan Barrier Reef tersebut dan melaporkan setiap kejadian yang ada di sana ke seluruh dunia melalui blog, twitter, album foto, video, dan berbagai interview di media.

Banyak orang yang awalnya tidak mengira kalau kontes itu sebetulnya adalah kampanye untuk promosi daerah. Kontes ”The Best Job in the World” ini menjadi pembicaraan banyak orang dan menciptakan pemberitaan di press yang sangat intensif, termasuk di antaranya program dokumenter dari stasiun TV BBC yang tertarik menjadikan fase penyaringan di kontes ini sebagai reality show. Diperkirakan impact yang didapati oleh kampanye ini lewat acara stasiun tersebut berkisar sebesar 100 juta dollar dari budget yang minim yaitu sekitar 1,2 juta dollar.

Kampanye ini akhirnya menang banyak penghargaan dari industri periklanan sepanjang tahun 2009, termasuk beberapa kategori award di ajang Cannes Lions International Advertising Festival yang sangat bergengsi. Sebuah kampanye yang sangat smart, dan menempuh jalan yang low-budget high impact.

Selama ini perusahaan yang pintar selalu mengidam-idamkan pola pemasaran yang didasari modal kecil tapi menghasilkan secara luar biasa. Mereka selalu mencari jalan untuk meningkatkan impact dari langkah pemasaran seiring dengan melakukan penurunan ongkos implementasi. Praktek seperti ini kini menjadi trend, terutama dengan perubahan lanskap yang semakin kacau dengan berbagai macam bentuk krisis. Dengan perkembangan teknologi New Wave dengan internet, berbagai macam alat konektor, pola low-budget high impact menjadi sangat mungkin.

Dulu kita hidup di zaman yang vertikal. Meskipun slogan yang beken adalah konsumen sebagai raja, namun pada kenyataannya yang pemasarlah yang bergaya seperti raja. Kenapa? Karena konsumen hanyalah target dari si pemasar dan pemasar masih memegang kendali dan otoritas. Di zaman yang vertikal itu, segala aktivitas pemasaran dikerjakan secara top-down dari perusahaan ke konsumen sebagai obyek.

Di zaman yang horisontal di era New Wave Marketing ini, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer. Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya. Secara konsep, New Wave Marketing mengakomodir hubungan horisontal antara perusahaan, konsumen, kompetitor, dan agen-agen yang merubah tatanan makro. Di dalam proses pemasaran, konsumen kini dapat untuk berpartisipasi sehingga segala aktivitas semakin efisien dari segi biaya.

Kesuksesan kampanye komunikasi ”The Best Job in The World” menjadi contoh bahwa di zaman New Wave yang horisontal, pemasar hanya perlu memikirkan sebuah ide konseptual yang stratejik sebagai pemicu, untuk kemudian dituangkan ke dalam implementasi yang bersifat taktikal yang mana aktivitasnya dikerjakan bukan oleh pemasar, melainkan oleh konsumennya.

Dulu aktivitas promosi pariwisata daerah seperti ini mungkin lebih banyak dikerjakan in-house oleh instansi terkait, bekerja sama dengan biro iklan, tim PR dan event organizer. Effort yang digalang menjadi lebih besar untuk mendatangkan energi pemasaran yang maksimal.

Namun kini, pemasar tidak perlu susah payah lagi, cukup mencari orang seperti Ben Southall yang mengerjakan segala aktivitas untuk dalam hal ini, mempromosikan gugusan pulau di sekitar Pulau Hamilton. Dialah yang melaporkan setiap kejadian yang ada di sana ke seluruh dunia melalui blog, twitter, album foto, video, dan berbagai interview di media. Dengan demikian energi pemasaran yang dikeluarkan bisa jadi lebih besar dan efisien apalagi karena didukung word of mouth (kekuatan offline) dan word of mouse (kekuatan online).

Bagaimana pendapat Anda?

Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Monday, August 31, 2009

Ketika Marketing 3.0 Tiba

Tulisan 4 dari 100

Senin, 31 Agustus 2009 | 08:18 WIB

Saat ini kita hidup di dunia yang baru di mana krisis dan chaos menjadi ‘menu makanan’ sehari-hari. Lingkungan bisnis semakin complex, penuh dengan kekacauan.
Di kurun waktu sepuluh tahun terakhir, kita sudah melihat betapa hebatnya badai-badai dan kekacauan yang terjadi di lingkungan bisnis mulai dari krisis ekonomi di Asia, meledaknya balon dot-com, skandal pelaporan keuangan (contoh Enron dan Worldcom), gerakan teroris, gerakan anti-globalisasi, perubahan iklim, krisis energi, krisis pangan, skandal investasi, sampai resesi perekonomian global tahun 2008.

Di tengah berbagai macam badai dan munculnya Scumbag Millionaire mulai dari Jeffrey Skilling (Enron) sampai Bernard Madoff yang telah menghasilkan 50 triliun dollar AS dari investasi berskema Ponzi (atau skema piramid), langkah bisnis perusahaan terus menjadi sorotan publik. Tingkat kepercayaan diri di internal perusahaan terus menurun. Tingkat kepercayaan publik terhadap perusahaan juga terus menurun. Dan celakanya lagi, teknologi new-wave yang memperluas jaringan media informasi, menjadikan dunia semakin transparan, sehingga sudah semakin susah bagi perusahaan untuk memutup aib dirinya.

Publik membutuhkan aktivitas dan proses bisnis yang didasari oleh prinsip dan nilai-nilai yang lebih etis dan fair. Kini tidak cukup lagi bagi perusahaan untuk searching for excellence, karena di tengah perubahan lanskap seperti sekarang yang menjadi keharusan adalah searching for meaning.
Di tengah badai-badai krisis dan jatuhnya reputasi perusahaan, sudah saatnya bagi pemasar adalah meninjau ulang dan menjual nilai-nilai, prinsip, dan karakter yang dimiliki dan dijunjung-tinggi, agar dapat tampil stand-out dan terus berupaya senantiasa meninggalkan warisan bagi masyarakat.

Marketing 3.0

Di era sekarang, pemasaran saat ini tidak hanya diterjemahkan dalam pengertian positioning, diferensiasi dan merek yang dibungkus dalam identitas merek, integritas merek, dan menghasilkan citra merek. Dunia pemasaran perlu menunjukkan nilai-nilai (spiritual) dalam pemasaran.
Nilai-nilai yang ditebarkan itu diyakini tidak hanya mendongkrak profit tetapi juga menjamin kelanggenan dan penguatan karakter brand, sekaligus membentuk diferensiasi yang tidak tertandingi.

Di dalam buku ”Marketing 3.0: Values-Driven Marketing” Philip Kotler dan saya mengatakan, perusahaan seharusnya tidak hanya memasarkan produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan harus pula menonjolkan manfaat spiritual.

Pendekatan pemasaran berbasis nilai ini diyakini akan memperoleh hasil yang berbeda. Karena perusahaan atau pemilik merek tidak sekadar memberikan kepuasan atau mengincar profitabilitas, melainkan memiliki compassion, dan keberlanjutan. Model bisnis yang menyeimbangkan pencetakan profit dan tanggung jawab sosial seperti itu sungguh didambakan oleh banyak pemain bisnis.

Kita tahu bahwa, perjalanan waktu telah membuat model pemasaran berubah, dari Marketing 1.0 ke Marketing 2.0 - dari product centric ke customer-centric era. Dan sekarang marketing telah mentransformasi diri ke dalam human-centric era. Itulah yang dikatakan sebagai Marketing 3.0.

Perbandingan Antara Marketing 1.0, 2.0, dan 3.0

Marketing 1.0
Product-centric Marketing
Marketing 2.0
Customer-oriented Marketing
Marketing 3.0
Values-driven Marketing
Objektif Perusahaan
Menjual produk
Memuaskan dan membuat konsumen loyal
Membuat dunia yang lebih baik
Pemicu Arus Pergerakan
Industrial Revolution
Teknologi informasi dan komunikasi
Teknologi New Wave
Bagaimana Perusahaan Melihat Konsumen
Mass buyers dengan kebutuhan fisik
Konsumen yang memiliki rasional dan emosional
Konsumen yang secara holistic memiliki mind, heart, dan spirit.
Kunci Konsep Pemasaran
Pengembangan produk
Diferensiasi
Nilai-nilai (values)
Panduan Pemasaran Perusahaan
Spesifikasi produk
Positioning perusahaan dan produk
Visi, Misi, dan Values dari Perusahaan
Nilai yang Dijual Perusahaan
Fungsional
Fungsional dan emosional
Fungsional, emosional, dan spiritual, Emotional, and Spiritual
Interaksi Dengan Konsumen
Transaksional yang bersifat top-down (One-to-Many )
Hubungan intimasi yang bersifat one-to-one
Kolaborasi antar jejaring konsumen (many-to-many)
Marketing 1.0 mengandalkan rational intelligent: Produk bagus, harga terjangkau. Konsumen memilih produk berdasarkan tinggi-rendahnya harga yang ditawarkan produsen. Pada level ini konsumen sangat mudah berpindah.

Marketing 2.0 berbasiskan emotional intelligent: Sentuhlah hati customer. Meski suatu produk lebih mahal dibanding yang lain, tapi tetap dipilih konsumen, sebab ia sudah memiliki ikatan emosional dengan produknya.

Marketing 3.0 berdasarkan spiritual intelligent: Lakukan semua dengan Nilai-Nilai Universal seperti kasih dan ketulusan maka profit akan datang. Pada tahap ini, merek telah menjadi “reason for being.” Karena merek itu maka si konsumen diakui keberadaannya.

Values-driven marketing adalah model untuk Marketing 3.0, yang melekatkan nilai-nilai pada misi dan visi perusahaan. Gagasan ini akan memperbaiki persepsi publik terhadap marketing dan membimbing perusahaan dan pemasar untuk menginkorporasikan visi yang lebih manusiawi dalam memilih tujuan mereka.

Marketing 3.0 ini akan terlihat dari seberapa dalam hubungan hubungan produsen dengan konsumen atau stakeholder-nya. Wujud spiritualisme adalah bagaimana mencintai jejaring stateholder bisnis kita dengan modal dan menjunjung tinggi kejujuran. Jika sudah sampai tahap spiritual sedemikian itu, hubungan antara perusahaan dengan siapapun yang berkepentingan, apakah itu konsumen, karyawan, supplier, akan langgeng terus.

Marketing 3.0 inilah yang merupakan cikal bakal pemikiran bahwa pada akhirnya marketing menjadi horisontal, di mana sisi humanisme si pemasar membuat pasar menjadi datar. Artinya, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer. Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya.

Bagaimana pendapat Anda?

Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Sunday, August 30, 2009

Mengelola Kekacauan di Era New Wave

Tulisan 3 dari 100

Minggu, 30 Agustus 2009 | 06:14 WIB

KOMPAS.com - Dari dulu kita memiliki kecenderungan untuk mendengar apa yang kita dengar, membicarakan apa yang kita dengar, dan melihat apa yang kita lihat. Di era New Wave ini, dengan segala media baru yang berkembang, wawasan kita dalam mendengar, berbicara, dan melihat menjadi semakin luas.

Dengan adanya handphone, aplikasi internet seperti Blog, Facebook, Twitter, dan lain sebagainya, informasi baik itu yang berdasarkan fakta maupun gosip terus diteruskan oleh orang lewat jejaringnya. Celakanya adalah apabila informasi yang disalurkan tersebut membuat kita semua jadi ragu untuk mengambil keputusan.

Seperti yang ditulis dalam kolom ini kemarin, ‘kekacauan’ dalam lingkungan kita sehari-hari sudah menjadi normalitas. Di dalam konteks ekonomi contohnya, normalitas baru tersebut mewujud dalam bentuk kombinasi antara perekonomian yang boom, turun, resesi, bahkan depresi dalam siklus yang kian-kian cepat. Normalitas baru yang mewujud dalam bentuk chaos itu tentu saja siap setiap saat memakan korbannya.

Di Amerika, kekacauan akibat krisis ekonomi seperti saat ini membuat banyak orang semakin kreatif. Semakin banyak orang di sana yang mempleseti nama-nama dari brand tersohor, sesuai dengan era krisis. Contohnya Dowjones menjadi Downjones. Slogan life’s good dari perusahaan elektronik LG dipleseti menjadi life’s tough. Perusahaan mobil Chrysler menjadi Crisisler. Merek ban Goodyear menjadi Badyear. Perusahaan Sony yang terkenal dengan slogannya “Like No Others” menjadi Sorry: Broke Like Others.

Philip Kotler dan John A. Caslione, dalam buku mereka, “Chaotic: The Business of Managing and Marketing in the Age of Turbulence” untuk menyiasati era turbulens ini diperlukan sebuah sistem yang kuat dalam mengelola kekacauan tersebut. Itu yang disebut oleh kedua penulis sebagai Chaotics Management.

Chaotics Management merupakan suatu pendekatan sistematis dalam mendeteksi, menganalisis, dan merespon kondisi turbulensi dan chaos yang terjadi. Secara umum, Chaotics Management ini terdiri atas tiga komponen utama, yaitu:

Pertama, mendeteksi sumber turbulensi. Terdapat sumber turbulensi yang dapat dideteksi oleh perusahaan (detectable turbulence) maupun yang tidak dapat dideteksi oleh perusahaan (undetectable turbulence). Terhadap sumber turbulensi yang dapat dideteksi oleh perusahaan (detectable turbulence), maka perusahaan perlu membangun suatu early warning system untuk mendeteksi sebanyak dan secepat mungkin turbulensi yang akan terjadi untuk meminimalisir risiko maupun menangkap peluang secara optimal. Sedangkan sumber turbulensi yang tidak dapat dideteksi oleh perusahaan akan menciptakan chaos bagi perusahaan.

Kedua, merespon chaos dengan membuat sejumlah skenario utama. Skenario utama ini sebagai sebuah perencanaan stratejik yang digunakan untuk membuat perencanaan jangka panjang. Seorang pemimpin harus mampu mendorong anak buahnya untuk dapat menginvestigasi dan menganalisis secara lebih mendalam berbagai skenario terburuk sekalipun. Skenario yang dibangun secara efektif akan dapat memberikan gambaran terhadap kondisi yang terjadi. Masing-masing skenario membutuhkan respon strategi yang berbeda.

Ketiga, memilih strategi berdasarkan prioritas skenario dan sikap dalam menghadapi risiko (risk attitude). Berdasarkan berbagai skenario yang telah disusun, seorang pemimpin perlu memilih respon strategi yang tepat dalam menghadapi skenario tersebut. Dengan adanya ketidakpastian, maka berbagai skenario beserta respon strategi yang ada perlu disikapi secara seksama termasuk berbagai kemungkinan respon yang mungkin berbeda disesuaikan dengan prioritas dan kondisi yang terjadi serta pertimbangan mengenai risk and opportunity yang dikehendaki.

Perusahaan yang hidup di dalam era turbulensi ini harus siap menghadapi gejolak tersebut. Karena pada dasarnya dalam kondisi lingkungan seturbulens apapun, selalu menyisakan peluang. Namun itu semua tergantung seberapa lihai kita dalam melakukan analisa mendalam terhadap tinjauan lanskap bisnis. Di sini yang menjadi sangat diperlukan adalah kemampuan kita mengubah noise menjadi data, informasi, knowledge, dan akhirnya wisdom. Pada akhirnya yang menjadi fundamental di dalam era turbulens ini adalah insting kita sendiri.

Bagaimana pendapat Anda?

Hermawan Kartajaya

KOMPAS

Investasi & Keuangan: Bermain Saham "Medium Cap"

Minggu, 30 Agustus 2009 | 03:15 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Bermain saham berkapitalisasi besar telah diuraikan pada tulisan dua minggu lalu. Masih ada saham berikut, yaitu saham berkapitalisasi menengah yang dikenal sebagai saham medium cap atau saham lapis kedua. Saham ini merupakan saham yang mempunyai kapitalisasi pasar di bawah saham kapitalisasi saham besar dengan kapitalisasi pasar antara Rp 300 miliar dan Rp 750 miliar. Bila pasar membesar, besaran angka ini akan berubah.

Pergerakan harga saham di bursa dapat dianalogikan seperti kereta api yang menaiki perbukitan. Gerbongnya dikelompokkan menjadi tiga besar.

Gerbong pertama dimulai dengan kepala kereta api dan satu dua gerbong pembawa penumpang. Biasanya gerbong penumpang di bagian depan dianggap spesial sehingga dalam permainan saham dianggap saham berkapitalisasi besar. Gerbong berikutnya merupakan kelas yang sedikit lebih rendah, dikenal sebagai saham berkapitalisasi medium. Gerbong berikut kelasnya paling murah dan dianggap sebagai saham berkapitalisasi kecil.

Rangkaian kereta api akan diawali gerbong paling depan sehingga bila saham akan bergerak naik atau turun, akan dimulai dengan saham berkapitalisasi besar. Biasanya saat gerbong paling utama dan kepala kereta sudah sampai di puncak perbukitan, gerbong berikut baru mulai menaiki perbukitan. Ketika gerbong utama sudah menurun, gerbong tengah akan mencapai puncak dan gerbong paling belakang mulai menaiki perbukitan. Analogi inilah yang terjadi pada permainan saham.

Indikator

Saham lapis kedua mulai naik harganya bila harga saham berkapitalisasi besar sudah mencapai puncak. Besaran puncak kenaikan ini tidak ada satu ahli pun yang menyatakan angkat tepatnya. Bisa jadi 20 % atau bahkan di atas 100 %. Tetapi, pemain yang sangat pintar akan memiliki perhitungan. Angka yang digunakan tingkat bunga yang berlaku ditambah premium risiko bermain saham. Tingkat bunga bisa dianggap tingkat bunga bebas risiko yang paling tinggi, bukan bunga deposito bank.

Saat ini tingkat bunga wajar sekitar 6,5 %, maka premi risiko secara agregat sebesar 6 %-8 % (sesuai berbagai penelitian), dengan jumlah kedua hasil ini sekitar 12,5 % sampai 14,5 %. Artinya, bila terjadi kenaikan 14,5 % saham tersebut dalam jangka pendek, maka selayaknya keluar mencari saham lain yang belum naik. Patokan angka ini bisa juga dipergunakan investor karena saham yang sudah naik sekitar 15 % dalam jangka pendek akan menurun sementara waktu dan kemudian naik lagi sesuai informasi yang diperoleh.

Investor bisa melihat indeks saham berkapitalisasi besar yang dihitung berbagai lembaga di www.finansialbisnis.com. Kenaikan indeks saham berkapitalisasi besar bisa digunakan sebagai bahan masuk ke saham kelompok medium cap. Bila indeks saham berkapitalisasi besar mendatar atau tidak turun, maka sudah ada indikasi kenaikan saham medium cap. Investor sudah harus mulai masuk untuk membeli saham. Dana investor yang ditransaksikan dalam saham berkapitalisasi besar dikeluarkan dengan cara menjual saham tersebut lalu membeli saham berkapitalisasi medium.

Ada puluhan saham kelompok medium cap yang dapat dibeli sekaligus bersamaan atau beberapa saham lebih dulu lalu beberapa saham lagi setelah keluar. Biasanya, saham berprospek bagus akan mulai naik harga. Investor harus mencari informasi lebih detail dalam rangka mendapatkan saham terbaik untuk dibeli.

Dalam bermain saham, investor membeli prospek perusahaan. Karena adanya prospek, terjadi kenaikan harga dan investor mendapat keuntungan atas kenaikan harga tersebut. Bila perusahaan tidak memiliki prospek, kemungkinan harga saham tersebut tidak akan naik.

Informasi

Informasi mengenai saham sangat banyak berkeliaran di bursa, baik analisis mendalam analis pasar atas informasi perusahaan maupun rumor. Bahkan dapat beredar informasi untuk membujuk investor bermain saham walaupun tidak ada informasi sebenarnya. Adanya transaksi saham tersebut membuat pemain saham bisa menangguk keuntungan. Dengan demikian, informasi tersebut harus benar-benar diperhatikan investor dalam bermain saham di bursa terutama untuk saham kelompok ini.

Bila harga saham ini sudah tidak bergerak dan tidak ada informasi beredar untuk membuat saham naik, maka sebaiknya investor harus menjual dan mencari saham lain yang berprospek.

Bila strategi investasi investor untuk jangka panjang, maka informasi internal perusahaan sangat dibutuhkan agar tidak salah memilih saham medium cap. Bila sudah mendapat informasi internal sesuai uraian sebelumnya, maka likuiditas saham perlu diperhatikan.

Likuiditas kecil tidak perlu dibeli karena investor akan kerepotan untuk menjualnya kemudian. Bila investor mempunyai strategi trading, maka investor harus memilih saham yang paling likuid dan harga sahamnya berfluktuasi agar mendapat keuntungan. Investor juga memerhatikan rumor dalam perdagangan saham karena rumor membuat saham berfluktuasi. Investasi harus jangka pendek benar dengan memerhatikan bila kenaikan 3 %-5 %, maka investor sudah harus menjual.

Dalam bermain saham medium cap, investor juga menghadapi risiko rugi. Salah satu risiko terbesar adalah risiko likuiditas, yaitu tersedia likuiditas dalam jangka pendek, tetapi tiba-tiba tidak ada likuiditasnya. Kecermatan dan perhatian yang baik bisa membuat investor untung. Selamat berinvestasi.

KOMPAS

Saturday, August 29, 2009

Ketika Kekacauan Menjadi Normalitas Baru

Tulisan 2 dari 100

Sabtu, 29 Agustus 2009 | 08:51 WIB

KOMPAS.com — Bagi saya, nempel terusnya khaos ke dalam “menu” keseharian kita adalah satu karakteristik yang menggambarkan kerasnya bisnis lanskap di dunia New Wave ini.

Masih ingat tahun lalu ketika harga minyak menyentuh angka 100 dollar AS per barrel? Buat banyak orang, itu merupakan batas psikologis yang sangat mencekam, terutama untuk kalangan bisnis.

Saya masih ingat ketika itu kita baru saja masuk ke tahun baru 2008. Berselang tujuh bulan setelah itu, harga minyak sempat naik sampai 147 dollar AS per barrel pada tanggal 11 Juli 2008 gara-gara uji coba misil Iran. Tepat sebulan kemudian, minyak turun lagi sampai angka 112 dollar AS per barrel.

Licinnya minyak dengan harganya yang terus naik turun drastis ibarat roller coaster di tahun lalu membuat menteri keuangan dan gubernur bank sentral di seluruh dunia kebingungan. Kenapa? Karena mereka tidak tahu harus bagaimana.

Kini kita memasuki era yang disebut Alan Greenspan, mantan Kepala Bank Sentral Amerika, sebagai “the age of turbulence”. Coba saja lihat bagaimana GM atau Ford yang begitu perkasa dan menjadi langganan singgasana Fortune 500 kini tak berdaya minta pertolongan pemerintah agar tidak jatuh ke jurang kebangkrutan.

Surat kabar dan perusahaan-perusahaan iklan besar tiba-tiba berguguran ketika perusahaan-perusahaan mulai mengalihkan anggaran iklannya dari media massa koran dan televisi 30 detik ke media-media baru online, seperti blog, e-mail, situs-situs web, podcast, dan sebagainya. Bahkan, negara maju sekuat Islandia (Iceland) tiba-tiba saja “bangkrut” karena tak mampu menalangi kebangkrutan yang dialami bank-banknya yang serempak berguguran menyusul terjadinya krisis global tahun lalu.

Mengenai turbulensi lingkungan bisnis global ini, menarik sekali jawaban Gary Becker, salah satu ekonom kesohor Amerika Serikat pemenang Nobel, pada Oktober 2008 lalu ketika ditanya mengenai seberapa parah dan lama krisis ekonomi yang kita hadapi kini. Jawaban sang ekonom pendek saja, “Nobody knows, I certainly don’t know”. Pesannya: “Don’t trust economists who say they know”.

Karena kenyataan seperti ini, maha guru pemasaran, Philip Kotler, dalam buku terbarunya, Chaotic: The Business of Managing and Marketing in the Age of Turbulence (fortcoming, 2009, ditulis bersama John A Caslione) menyebutkan bahwa kini kita telah memasuki era “khaos” bahwa turbulensi lingkungan baru sudah menjelma menjadi kenormalan baru (turbulence is the new normality).

Sesungguhnya, Kotler bukanlah pakar pertama yang mengendus datangnya era ini. Peter Drucker di tahun 1990-an sudah memprediksikan datangnya era diskontinuitas melalui buku legendarisnya, The Age of Discontinuity.

Pendiri Intel, Andy Grove, dalam buku larisnya, Only The Paranoid Survive, menyebut datangnya era ini sebagai munculnya apa yang ia sebut “inflection point”, yaitu ketika industri berubah 180 derajat menuju keseimbangan baru.

Atau Clayton Christensen yang mengintroduksi munculnya “disruptive technologies” yang memicu tsunami lingkungan industri dan perekonomian secara keseluruhan.

New normality

Dengan adanya perkembangan baru ini, Kotler menyimpulkan bahwa saat ini kita memasuki sebuah era baru yang tak akan bakal balik lagi (irreversible), yang menunjukkan bahwa risiko bisnis menjadi kian besar dan ketidakmenentuan menjadi “menu” harian yang tak bisa dielakkan oleh setiap pelaku bisnis.

Dalam bahasa Kotler, dunia bisnis kini memasuki era ketika kita memasuki keseimbangan baru dengan “normalitas baru”(new normality) bahwa normalitas tersebut bukannya ditandai stabilitas dan certainty seperti terdapat pada era-era sebelumnya, tapi terbentuk dari ketidakmenentuan, diskontinuitas, dan khaos. Normalitas baru tersebut mewujud dalam bentuk kombinasi antara perekonomian yang boom, turun (downturn), resesi, bahkan depresi dalam siklus yang kian-kian cepat.

Normalitas baru yang mewujud dalam bentuk khaos itu tentu saja siap setiap saat memakan korbannya. Formatnya bisa di tingkat perekonomian dengan korban seperti negara sebesar Amerika atau negara sekecil Islandia.

Di tingkat industri, yang jadi korban adalah industri media konvensional (televisi dan surat kabar) dan industri periklanan yang ditinggal para pengiklan yang masuk media baru online, atau di tingkat perusahaan seperti GM dan Ford yang diterpa gelombang tsunami krisis global.

Dalam normalitas baru tersebut, perekonomian dunia menjadi semakin terkoneksi dan terindependensi satu sama lain. Tak ada satu pun negara di tiap jengkal dunia ini yang bisa luput dari gelombang khaos global, semuanya akan disapu habis tanpa ampun dan tanpa melihat besar kecil negara yang bersangkutan.

Kata Kotler, teknologi dan globalisasi yang menjadi forces of change utama telah menghasilkan apa yang disebutnya “interlocking fragility” dengan level yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

Dalam kondisi rapuh tersebut, bencana di suatu negara akan dengan cepat berimbas dan menyebar ke negara lain, secepat virus flu babi. Dengan kenyataan baru ini maka para pelaku bisnis akan semakin sulit memprediksikan, apalagi menghitung risiko dan ketidakmenentuan yang terjadi dalam lingkungan bisnis.

Dalam situasi krisis seperti sekarang, harus diingat bahwa chaos is the new normality. Tidak ada yang bisa dipegang. Pembuatan keputusan semakin sulit karena informasi baik yang berdasarkan fakta atau sekadar gosip terus berkembang dan mengalir, diteruskan oleh orang-orang lewat berbagai macam konektor, baik itu di dunia offline maupun online.

Bagaimana pendapat Anda?

Hermawan Kartajaya

KOMPAS