Sunday, December 27, 2009

TOKOPEDIA: Mal Virtual bagi Penggemar Belanja

Minggu, 27 Desember 2009 | 04:09 WIB

Berbelanja kini semakin mudah dan cepat. Kalau dulu orang yang gemar berbelanja di dunia maya harus berkunjung dari satu situs ke situs lainnya, kini ada mal virtual yang lengkap menyediakan segala kebutuhan. Dijamin kaki tidak akan pegal untuk menelusuri mal bernama Tokopedia ini.

”Kami membuat situs dengan konsep mal. Mereka yang tidak bisa membuat situs sendiri bisa membuka toko di Tokopedia,” tutur Leontinus Alpha Edison (28), akrab disapa Leo, salah satu penggagas berdirinya situs www.tokopedia.com.

Di Tokopedia, mereka yang ingin berjualan bisa mendaftar secara gratis lalu membuka toko dengan memajang produk yang ditawarkan di situs tersebut. Para penjual inilah yang menjadi penyewa tempat di mal Tokopedia. Namun, berbeda dengan mal di dunia nyata, sewa tempat di Tokopedia untuk sementara digratiskan selama satu tahun sejak situs ini diluncurkan bulan Agustus tahun 2009 lalu.

Leo menggagas situs itu bersama temannya, William Tanuwijaya (28). Menurut Leo, ide untuk membuat mal di dunia maya itu sudah ada sejak tahun 2007, tapi tidak segera terlaksana karena ketika itu mereka belum memiliki investor. Leo dan William kini mengelola Tokopedia di sebuah ruko di kompleks rumah kantor Permata Senayan, Jakarta Pusat.

Namanya juga mal, berbagai kategori barang tersedia di sini, mulai dari pakaian dan aksesorinya, mainan anak-anak, perlengkapan bayi, alat elektronik, produk kecantikan, film, musik, hingga alat-alat sulap dan makanan. Bahkan, sang moderator juga menyediakan kategori ”dewasa” di mal virtual ini.

Gagasan untuk membuat mal ini berawal dari pengalaman William menjadi moderator di forum diskusi dunia maya bernama Kafe Gaul.

Ketika itu banyak anggota yang menjadikan forum diskusi tersebut untuk berjualan. Karena tidak tertib administrasi, akhirnya banyak anggota yang tertipu.

Di mal virtual ini, Tokopedia berperan sebagai moderator yang mengawasi dan mengelola transaksi jual beli. Mereka juga akan melacak kebenaran transaksi yang sudah dilakukan. ”Kami masih menerapkan sistem bayar secara manual, yaitu lewat transfer di mesin tunai mandiri atau langsung lewat bank karena orang Indonesia masih meragukan soal keamanan kartu kredit,” tutur William.

Untuk sementara, Tokopedia juga lebih fokus untuk membangun komunitas lebih dulu sebelum nantinya mereka akan menarik komisi dari hasil penjualan. Karena itu mereka memakai moto ”belanja gak belanja yang penting ngumpul”. (IND)

KOMPAS

1 comment:

Leontinus said...

Terima kasih sudah turut mendukung tokopedia melalui blog Anda. Tetap semangat.