Wednesday, December 9, 2009

Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran

(tulisan satu dari dua)

Rabu, 9 Desember 2009 | 10:16 WIB

KOMPAS.com - Di tengah seiring perjalanan waktu, dunia terus berubah dan pemasaran juga tentunya ikut berubah, dan begitu juga sebaliknya langkah pemasaran yang dilakukan oleh pemasar-pemasar yang visioner juga mengubah dunia. Sebut saja Mark Zuckeberg yang mengubah dunia lewat Facebook, Jawed Karim, Chad Hurley and Steve Chen mengubah dunia lewat YouTube, Jimmy Wales dan Larry Sanger mengubah dunia lewat Wikipedia, dan banyak lagi technopreneur lain.

Sejak Tim O’Reilly, seorang pakar teknologi internet, memproklamasikan lahirnya Web 2.0 pada saat membuat O’Reilly Media Web 2.0 Conference di tahun 2004, kita seperti hidup di dunia yang lain. Generasi baru internet ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi, berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, berkomunitas, atau berkolaborasi satu sama lain.

Kekuatan Web 2.0 yang menelurkan berbagai produk Social Networking menjadi kian menggila. Situs-situs seperti Facebook, YouTube, MySpace, Flickr, Wikipedia, dan lain sebagainya kian digandrungi para netizen, yang melihat bahwa internet yang sesungguhnya adalah yang begini, yang lebih cool, lebih interaktif, lebih partisipatif, dan lebih sosial.

Dengan kekuatan baru yang ditawarkan oleh kecanggihan generasi baru Internet ini, berbagai kalangan sudah melihat bahwa perubahan besar sedang terjadi. Thomas Friedman, kolumnis dari New York Times, mencetuskan tesisnya mengenai “The World is Flat” di mana ia berkata bahwa kemajuan teknologi berbasis Internet akan mampu mentransformasikan dan membebaskan individu, membebaskan potensinya, membebaskan kreativitasnya, dan membebaskan kabapibilitasnya. Dengan teknologi tersebut, umat manusia, siapa saja, di mana saja, kapan saja, bisa bersaing di tingkat global, asalkan terhubung ke Internet.

Thomas Friedman tidak sendirian ketika mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia tengah berubah total. Karena pemikirannya disambut secara eksplisit maupun implisit oleh beberapa pemerhati lain.

Chris Andersen sebelumnya juga sudah mengungkap hal yang kurang lebih sama pada artikel editorialnya di majalah Wired ketika mengemukakan untuk pertama kalinya mengenai ‘Long Tail’, sebuah fenomena di mana dominasi pemain besar akan runtuh digantikan oleh jutaan pemain kecil yang mendominasi 80 persen pasar. Di tengah terjadinya peralihan dari korporasi ke individu, dengan adanya Internet Web 2.0, siapapun bisa jadi produsen, siapapun bisa jadi distributor, siapapun bisa jadi promoter, maka tak heran kalau majalah Time memberikan penghargaan Person of the Year pada tahun 2006 lalu kepada Anda (Ya, Anda semua), yang termasuk 5 miliar umat manusia yang mengontrol dunia.

Setidaknya setelah Web 2.0 merebak dan menjadi sebuah hype yang mengglobal, dan juga tesis Thomas Friedman mengenai “The World is Flat” yang menjadi percakapan di mana-mana, kalangan media juga menyambutnya dengan mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia tengah mengalami perubahan yang sangat dasyhat.

Majalah Business Week, contohnya, memberikan berbagai laporannya tentang bagaimana efek teknologi internet di era Web 2.0, mulai dari praktek kolaborasi masal yang ditawarkan oleh kekuatan teknologi Web 2.0, dunia blogosphere yang akan merubah cara kita melakukan bisnis dan pemasaran, dan juga fenomena social media secara keseluruhan.

Seiring dengan masuknya kita ke dalam awal abad-21 ini, dunia teknologi semakin memberikan interaksi, partisipasi, dan peluang untuk berkolaborasi, sehingga membawa kita untuk melakukan praktek pemasaran yang bertumpu pada jejaring yang saling ter-CONNECT!


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

KOMPAS

No comments: