Sunday, December 20, 2009

Investasi & Keuangan: Rekapitulasi Investasi

Minggu, 20 Desember 2009 | 03:01 WIB

Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Meskipun saat liburan biasanya digunakan untuk berlibur, tetapi bisa juga digunakan untuk merenung, mengevaluasi apa yang sudah diraih sepanjang 2009, dan apa yang hendak dilakukan tahun mendatang.

Evaluasi itu mestinya, salah satu bagiannya juga menyangkut aspek keuangan, termasuk investasi karena investasi hakikatnya menjadi bagian rutin dari semua orang.

Apa yang dievaluasi terkait investasi? Tentu banyak. Mulai dari apakah tujuan investasi tahun 2009 sesuai rencana? Kalau ya, apa penyebabnya. Dan sebaliknya, jika gagal, apa pula pemicunya.

Ini penting untuk sebisa mungkin menghindari penyebab kegagalan. Di sisi lain, bukan berarti pendorong keberhasilan Anda berinvestasi tahun 2009 otomatis akan berulang kembali tahun mendatang. Karena itu, evaluasi obyektif perlu dilakukan agar investasi tahun 2010 bisa lebih baik ketimbang tahun ini. Lantas, langkah apa yang mesti dilakukan?

Pertama, periksa semua portofolio investasi Anda, apa pun bentuknya. Bandingkan dengan tahun sebelumnya. Berapa besar peningkatan atau penurunannya?

Setelah Anda menemukan angkanya, coba cermati lagi lebih detail. Jenis investasi apa saja yang nilainya meningkat dan sumber peningkatan itu. Langkah berikut lakukan pengecekan terhadap hasil investasi. Untuk mudahnya kita gunakan contoh berikut.

Umpamakan Anda investasi di tanah, rumah, saham, deposito berjangka, dan mungkin reksa dana. Untuk investasi di tanah dan rumah cukup mudah menghitungnya. Cermati pergerakan nilai jual obyek kena pajak tanah dimaksud dan juga perkembangan harga di sekitar lokasi tanah Anda. Dari situ bisa ketahuan berapa persen kenaikan nilai aset investasi Anda.

Demikian pula saham. Jika mengacu pada perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, selama 2009 sudah terjadi peningkatan indeks lebih kurang 80 persen. Itu berarti kalau portofolio saham Anda berbanding lurus dengan pergerakan indeks, maka Anda sebenarnya sudah lebih kaya 80 persen, khusus untuk portofolio saham.

Realitasnya belum tentu seperti itu karena IHSG yang bertumbuh 80 persen itu hanyalah perhitungan yang dimulai dari 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Desember 2009. Artinya, jika Anda sudah memiliki saham sejak jauh sebelumnya, maka yang perlu dilihat adalah berapa harga beli saham dibandingkan dengan harga pasar saat ini. Selisihnya menjadi keuntungan potensial Anda.

Dalam investasi reksa dana Anda mesti membandingkan nilai aset bersih saat membeli dan berapa saat ini. Jadi, kalau kenaikannya di bawah 80 persen, bukan hal yang mesti membuat Anda kecewa karena 80 persen peningkatan harga dipastikan bukan target Anda. Karena itu, apakah investasi Anda berhasil atau tidak—khususnya di saham dan reksa dana—harus dibandingkan antara harga saat ini dan target perolehan yang hendak dicapai. Lazimnya kenaikan harga saham dalam setahun bagi investor konservatif 15-20 persen. Jadi, kalau perolehan Anda di atas itu, Anda boleh bersenang hati.

Bagaimana jika perolehan potensial saham Anda di bawah itu? Boleh jadi, ada yang keliru dengan pilihan saham yang Anda pegang. Konsekuensinya, Anda mesti mengkaji kembali saham-saham pilihan investasi Anda.

Hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap dana dalam bentuk deposito. Memang, pada 2009 tidak ada bank yang ditutup, tetapi tingkat bunga tiap-tiap bank berbeda-beda. Yang mesti dicermati adalah apakah tingkat bunga deposito sudah setimpal dengan kondisi banknya.

Tahap kedua

Semua yang dipaparkan di atas secara ringkas disebut rekapitulasi perhitungan investasi. Setelah itu dilakukan, Anda akan mendapat gambaran jelas investasi yang memberikan keberhasilan dan apa pula yang mungkin hanya membebani. Jika ini sudah jelas, Anda boleh melangkah ke tahapan kedua.

Lalu, apa yang dimaksud dengan tahapan kedua? Menyiapkan alokasi aset portofolio berdasarkan hasil investasi tahun 2009. Pertanyaan awal yang mesti dijawab, apa tujuan investasi Anda tahun mendatang? Apakah peningkatan nilai investasi bertumbuh lebih besar daripada tahun ini? Atau ada hal lain yang lebih spesifik. Terserah Anda menentukan tujuan tersebut. Yang jelas, semuanya mesti jelas dan pasti.

Dalam kaitan penyusunan rencana investasi tahun mendatang, setelah memastikan tujuan investasi tentunya, Anda mesti mencermati asumsi-asumsi yang mungkin bisa menjadi kenyataan.

Mengenai indeks harga saham gabungan, misalnya. Kenaikan sangat signifikan atau mencapai 80 persen tahun ini, besar kemungkinan tidak akan terjadi lagi tahun depan. Jika pertumbuhannya berjalan normal, maka kenaikan indeks tidak akan lebih dari 30 persen. Dari mana angka ini muncul? Tentu saja ada perhitungannya dan sulit dipaparkan di rubrik ini karena keterbatasan tempat.

Demikian juga dengan perkiraan suku bunga. Sangat mungkin tingkat bunga deposito tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini karena perkiraan inflasi juga lebih tinggi.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, ada baiknya alokasi investasi Anda berbeda dibandingkan dengan yang Anda lakukan pada tahun ini agar hasilnya bisa lebih optimal dan tujuan keuangan Anda dapat tercapai. Selamat mencoba.

KOMPAS

No comments: