Sunday, August 9, 2009

Investasi & Keuangan: Potensi Untung Vs Potensi Rugi

Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:08 WIB

Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Berbahagialah Anda jika sudah sejak lama melakukan investasi di pasar modal karena hari-hari ini indeks melaju, menembus angka yang hampir tidak diperkirakan sebelumnya.

Pada akhir Juli lalu, indeks harga saham gabungan menembus 2.200. Pada awal 2009, indeks masih pada kisaran 1.300-1.400. Pada saat itu, hampir semua analis hanya berani mematok angka paling tinggi 1.800 sebagai capaian indeks akhir tahun. Saya sendiri pada awal tahun superoptimistis dan memasang angka target 2.000 untuk akhir 2009.

Banyak analis kemudian merevisi ramalannya, ada yang memasukkan angka 2.500 sebagai target baru, tetapi ada juga yang memasang angka 2.800.

Tentu angka indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak datang dari langit. IHSG merupakan implikasi transaksi saham di pasar modal. Harga saham sendiri merupakan implikasi berbagai faktor, antara lain ekonomi makro lokal, regional, dan internasional serta sosial politik yang berpengaruh pada kondisi mikro perusahaan. Hal itu ditambah hitung-hitungan teknis, di mana harga suatu saham bisa berubah terkait fenomena yang terjadi saat itu dan fenomena sejenis bisa berulang.

Naik turunnya indeks bisa memberikan pengaruh terhadap pelaku di pasar modal. Kalau investor sudah memegang saham, kenaikan indeks sebagai cerminan kenaikan harga saham akan memberikan potensi keuntungan (potential gain).

Misalnya, awal tahun ini Anda membeli saham ”X” seharga Rp 1.000 per lembar, indeks masih 1.400-an, dan saat ini Anda masih memegang saham tersebut. Kini, ketika indeks berada di angka 2.200, harga saham ”X” sudah berubah menjadi, katakanlah, Rp 1.500. Berarti Anda berpotensi untung 50 persen hanya dalam 6 bulan. Kalau saham ”X” tersebut Anda jual sekarang dan Anda memiliki 1 juta lembar, keuntungan Anda mencapai Rp 500 juta. Sangat luar biasa.

Hal sebaliknya bisa terjadi jika harga saham Anda merosot. Ini sudah terjadi tahun silam. Pada awal tahun indeks berada pada angka 2.800, merosot hingga sekitar 1.300 pada akhir tahun. Bisa jadi saham ”X” yang Anda beli seharga Rp 2.000 per lembar dan pada akhir tahun 2008 harganya Rp 1.000, berarti Anda berada dalam posisi potensi merugi (potential loss) Rp 1.000. Kalau Anda memiliki 500.000 lembar, berarti potensi kerugian Anda Rp 500 juta.

Dalam praktiknya, keuntungan potensial bisa membesar dan juga kerugian potensial bisa tidak terealisasi bila Anda yakin saham Anda suatu ketika akan naik harganya. Itulah yang belakangan ini banyak terjadi pada investor. Ketika tahun silam mengalami potensi kerugian besar, ia tidak serta-merta menjual semua saham (cut loss) karena yakin saham yang dia pegang akan kembali meningkat harganya.

Membalik posisi

Lalu, bagaimana membalik potensi merugi menjadi potensi untung? Tentu saja ada banyak hal yang mesti dianalisis, tetapi yang paling utama, saham yang Anda pegang memiliki nilai fundamental bagus. Artinya, kalaupun harganya turun, itu lebih disebabkan faktor psikologis pasar, bukan karena fundamental yang jelek. Itu bisa diukur dari berbagai rasio saham tersebut. Misalnya, price earning ratio, yang membandingkan antara harga dan laba perusahaan lalu dibandingkan dengan perusahaan sejenis. Artinya, bisa saja harga saham tersebut sebenarnya ”terlalu murah”. Jika itu yang terjadi, tidak perlu khawatir karena suatu ketika harganya pasti naik kembali.

Anda juga mesti melihat kapitalisasi pasar saham tersebut. Saham yang kapitalisasinya besar tentu tidak mudah ”digoreng”, jadi harganya akan bergerak seiring dengan perkembangan ekonomi makro, mikro perusahaan, dan ekspektasi pasar.

Apakah cara itu sudah cukup? Akan jauh lebih baik jika terhadap saham yang dalam posisi potensial merugi tetapi memiliki nilai fundamental bagus dilakukan lagi pembelian (disebut averaging down).

Artinya, bila Anda memiliki saham ”X” dengan harga beli Rp 2.000 sebanyak 100 lembar, lalu harganya turun menjadi Rp 1.000, Anda tidak perlu menjualnya. Beli lagi saham ”X” seharga Rp 1.000 sebanyak 100 lembar juga sehingga Anda memiliki 200 lembar saham ”X” yang jika dirata-ratakan harganya Rp 1.500 per lembar. Memang Anda masih berpotensi merugi, tetapi untuk mengalami pembalikan harga menuju Rp 1.500 tentu lebih cepat daripada menunggu harga kembali ke Rp 2.000. Seandainya harga kembali ke Rp 2.000, malah Anda sudah mengantongi potensi keuntungan Rp 500 per lembar.

Tentu saja strategi di atas hanya bisa Anda lakukan jika investasi Anda di pasar modal bersifat jangka menengah-panjang. Artinya, Anda ”bermain” saham tidak menggunakan dana untuk belanja rumah tangga.

Jika dana yang Anda pakai berinvestasi berasal dari dana sehari-hari, Anda sebenarnya melakukan perdagangan saham karena saham yang Anda beli tidak dimaksudkan untuk dipegang dalam kurun waktu lama. Maka, yang bisa Anda pertimbangkan adalah memasang batas berapa potensi kerugian atau potensi keuntungan yang bisa ”dipelihara”.

Bila 10 persen, maka jika harga saham Anda telah naik 10 persen, dalam sehari atau seminggu, segera jual. Anda tidak boleh serakah berharap harga terus meningkat sebab bisa juga terjadi sebaliknya. Demikian juga ketika dalam posisi potensial merugi. Kalau nilainya sudah 10 persen di bawah harga beli, juga dilepas dan hasil penjualannya masuk lagi ke saham lain.

Yang penting, dalam kurun waktu satu bulan atau enam bulan, sesuai dengan target Anda, secara konsolidasi seluruh transaksi bisa menghasilkan keuntungan 10 persen. Selamat mencoba.

KOMPAS

No comments: