Sunday, July 19, 2009

INVESTASI & KEUANGAN: Main Saham dengan Informasi Internal

Minggu, 19 Juli 2009 | 03:15 WIB

Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Beberapa minggu lalu pernah dibahas mengenai bermain saham dengan informasi eksternal. Pertanyaannya, apakah ada informasi internal? Umumnya, informasi internal ini merupakan faktor penting untuk digunakan investor dalam bertransaksi.

Tuturan empiris Eugene F Fama (1970), harga saham yang ditransaksikan investor di bursa maupun di luar bursa, merupakan refleksi informasi di perusahaan. Artinya, informasi tersebut membuat harga saham naik atau turun dan perubahan ini membuat investor bertransaksi. Bila informasi tersebut sangat bagus, harga saham diduga akan naik dan sebaliknya. Investor harus mengingat, ujung seluruh informasi harus dikaitkan dengan laba bersih perusahaan pada tahun bersangkutan.

Informasi dari internal perusahaan dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar: informasi negatif dan informasi positif.

Kedua informasi itu dapat berdampak positif maupun negatif terhadap laba bersih perusahaan. Bila informasi itu berdampak negatif, harga saham di bursa akan ditransaksikan menurun sebab investor akan langsung menjual sahamnya dan menunggu untuk membeli kembali pada harga lebih rendah. Bila berdampak positif, investor akan beradu cepat membeli saham karena kemungkinan mendapat capital gain.

Laba bersih turun karena kenaikan harga bahan baku meningkat dan harga penjualan tidak bisa dinaikkan.

Bank mengalami kredit macet cukup besar karena ada perusahaan yang mendapat kredit bangkrut atau dalam proses memburuk pendapatannya.

Informasi negatif

Umumnya, informasi negatif lamban diberitakan atau diinformasikan perusahaan kepada publik karena ketakutan penurunan harga saham. Adapun informasi positif ialah perusahaan berekspansi karena permintaan produk naik cukup tajam, perusahaan ingin mengakuisisi perusahaan yang sangat menguntungkan. Bila perusahaan mengakuisisi perusahaan yang masih dikembangkan, harga saham tidak akan naik sehingga investor harus menunggu waktu tepat untuk membeli saham.

Pada sisi lain, perusahaan tak boleh sembarangan mengumumkan informasi perusahaan. Investasi yang masih direncanakan tidak boleh diumumkan kepada publik karena bisa menyesatkan investor. Salah satu contoh, direktur mengumumkan perusahaan berencana mengakuisisi perusahaan lain. Tindakan itu salah besar karena akuisisi belum terjadi dan ada kemungkinan tidak terjadi. Akibat pengumuman ini, investor mempunyai ekspektasi laba bersih perusahaan akan naik sehingga harga saham akan naik dan investor berlomba membeli saham itu.

Bila akuisisi tidak terjadi, tetapi harga saham terlanjur naik dan investor sudah membeli lalu harga saham drop, siapa menanggung kerugian investor? Banyak sekali informasi seperti ini dilakukan direksi perusahaan terdaftar di bursa dan tidak mendapat hukuman.

Pengumuman laba bersih perusahaan setiap kuartal atau pengumuman laba bersih tahunan pada awal tahun bisa membuat harga saham drop atau naik dalam jangka pendek. Tetapi, pengumuman laba bersih bisa membuat harga saham drop terus karena laba bersih akan berlanjut menurun sampai tahun-tahun mendatang. Bila pengumuman laba bersih hanya memberi fluktuasi harga saham dalam jangka pendek, investor harus menjual karena akan drop. Bila harga drop mencapai 5-10 persen, investor harus kembali membeli karena harga saham akan berbalik naik.

Tindakan investor untuk informasi internal yang diterima bisa beragam. Sebaiknya investor harus mengecek ulang informasi yang diperoleh secara berseliweran itu. Perusahaan yang terdaftar di bursa umumnya memiliki orang yang melayani investor, disebut investor relation, kepada siapa investor bisa bertanya karena mereka mempunyai seluruh informasi perusahaan. Nomor telepon mereka ada di situs perusahaan bersangkutan.

Ada beberapa tindakan harus dilakukan investor dalam memperoleh informasi tersebut dan kembali tergantung dari jenis informasi yang diperoleh. Bila informasi tersebut berdampak positif dan jangka panjang, investor bisa langsung membeli dan menyimpannya sesuai periode yang diduga. Bila informasi negatif, investor harus menjual dengan kecepatan tinggi (beradu cepat dengan investor lain) supaya bisa menjual dengan harga lebih tinggi dan kemudian membeli kembali setelah mencapai harga tertentu agar tetap memiliki saham itu. Bila saham diduga tidak bisa naik cepat, investor tidak perlu membeli.

Investor yang memperoleh informasi positif dapat langsung membeli saham dan bisa menjual kembali setelah naik 10 persen. Bila yakin naik sampai 20 persen investor sebaiknya menunggu sampai angka tersebut dan baru menjual. Angka itu telah memperhitungkan tingkat bunga bila investor berinvestasi pada deposito atau obligasi pemerintah.

Investor juga tidak bisa bertransaksi karena memperoleh informasi dari orang dalam perusahaan (insider information), yaitu mendapat informasi privat dan langsung bertransaksi serta mendapat kapital tinggi, dikenal dengan abnormal return. Investor hanya bertransaksi dengan informasi internal bila informasi tersebut tidak diperoleh secara privat. Ada sanksi atas perbuatan yang dianggap tindak pidana tersebut. Selamat bermain saham.

KOMPAS

No comments: