Sunday, July 5, 2009

Investasi & Keuangan: Kaya dari Bermain Saham?

Minggu, 5 Juli 2009 | 03:03 WIB

Adler Haymans Manurung - praktisi keuangan

Belakangan berita surat kabar sangat banyak menceritakan bursa saham mengalami kenaikan atau penurunan cukup tajam. Ada juga berita investor mendapat keuntungan atas hasil investasinya mencapai 400 %. Bila dibandingkan dengan investasi pada produk lain, tidak mungkin mendapat keuntungan sebesar itu. Pertanyaannya, mungkinkah kaya dari bermain saham?

Kaya yang dimaksud adalah mempunyai dana lebih dari dana yang diharapkan, bahkan tidak perlu bekerja lagi, tetapi masih bisa hidup dari hasil uang simpanan.

Kaya juga berarti tidak perlu memikirkan bagaimana mendapatkan uang, tetapi uang datang sendiri karena sudah berlebih akibat dikumpulkan sangat lama pada masa lalu.

Kaya dari bermain saham artinya dana terkumpul karena keuntungan dari transaksi saham di bursa. Bila pemilik dana berinvestasi pada saham BUMI saat harganya Rp 470 dan kini mencapai Rp 2.000 per saham, investor tersebut mendapat keuntungan 325,53 %. Artinya, dalam tempo sangat singkat dana sudah berlipat ganda. Bahkan keuntungan itu bila dihitung dalam setahun mencapai 650 %, cukup mengagumkan, bukan?

Bila investor juga masuk ke saham ASII, ia akan mendapat untung cukup besar pula. Saham ini pernah mencapai harga Rp 10.000 per lembar dan kini Rp 24.000, berarti investor mencapai keuntungan sekitar 140 % dalam waktu kurang dari enam bulan.

Banyak lagi saham lain yang memberi tingkat pengembalian cukup menggembirakan bagi investor yang tepat melakukan investasi saham. Sayangnya, investor hanya melakukan investasi dalam jumlah kecil dengan alasan melakukan diversifikasi. Bayangkan bila investor melakukan investasi satu juta saham.

Bila investor bertransaksi jual beli, pada harga tinggi menjual dan membeli kembali saat harga turun, keuntungan akan lebih tinggi lagi. Adanya harga saham yang naik dan kembali turun sudah sering terjadi, terutama pada saham yang kerap digoreng. Artinya, investor yang piawai bertransaksi dalam sehari bisa memperoleh keuntungan dua atau tiga kali karena saham bisa dua, tiga, bahkan empat kali naik-turun seperti yoyo.

Untuk mendapat saham yang memberi tingkat pengembalian tinggi, investor harus memerhatikan saham tersebut secara saksama. Bila perlu, harus menunggu di depan monitor transaksi harga saham. Tetapi, ada juga pemain saham yang tidak memberi perhatian saksama dan tetap mendapat keuntungan besar.

Investor juga bisa menghubungi analis perusahaan pialang di mana investor bertransaksi untuk berdiskusi. Investor harus menyimak dan menganalisis agar hasil dapat lebih maksimal. Investor juga harus mengenal analis tersebut supaya lebih wajar bertransaksi saham yang diinginkan. Tetapi, belakangan ini karena IHSG naik terus, sering kali investor tidak menggunakan pandangan analis karena apa pun yang dibeli pasti naik. Informasi yang diperlukan investor adalah keberlangsungan hidup dari saham yang akan diinvestasikan.

Dua pendekatan

Investor dapat menggunakan dua pendekatan dalam analisis saham, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.

Pendekatan fundamental mencoba menganalisis saham sampai mendapatkan harga intrinsik saham dan kemudian membandingkannya dengan harga pasar saham. Bila harga intrinsik saham lebih tinggi daripada harga pasar, saham tersebut dibeli. Pendekatan ini mencoba meramal harga saham dengan menggunakan informasi fundamental perusahaan. Analis dengan pendekatan ini juga mencoba menganalisis perkembangan tingkat bunga ke depan. Pendekatan fundamental menyatakan, dalam membeli saham yang dibeli prospek perusahaan.

Pendekatan teknikal menggunakan volume transaksi dan harga saham masa lalu untuk menentukan harga. Biasanya, harga saham dibuat dalam bentuk gambar (chart) sehingga ditemukan kemungkinan harga saham yang akan terjadi. Asumsi yang sering didengungkan pencinta pendekatan ini, pola harga saham akan berulang kembali. Karena itu, pendekatan ini juga sangat bagus dan dapat menentukan kapan membeli saham.

Ada juga investor yang menggunakan kedua pendekatan tersebut dalam bertransaksi. Pendekatan fundamental digunakan untuk mendapatkan harga intrinsik saham dan pendekatan teknikal untuk menentukan waktu membeli saham. Biasanya, penggunaan dua pendekatan ini memberi hasil lebih optimal daripada hanya satu pendekatan.

Tetapi, investor juga harus hati-hati karena transaksi saham mempunyai risiko cukup tinggi dibandingkan dengan transaksi deposito, obligasi, dan properti. Bila investor tidak kuat melihat harga saham menaik atau menurun tajam, jangan mencoba karena bisa membuat jantung investor tidak berdenyut.

Umumnya, investor usia muda bisa menolerir transaksi yang sangat fluktuatif. Bermain saham tidak disarankan untuk investor yang tidak bisa menolerir risiko tersebut, umumnya mereka yang berumur lebih dari 60 tahun. Investor yang mempunyai pekerjaan tetap dan dana yang dimiliki tidak dipergunakan untuk periode minimum lima tahun sebaiknya mencoba transaksi saham.

Yang harus diperhatikan, bila harga drop, jangan panik. Investor tetap sabar karena harga saham bisa naik kembali, terutama perusahaan yang kinerjanya baik atau berumur panjang.

Kompas

- Muhammad Idham Azhari

No comments: