Sunday, July 26, 2009

Investasi dan Keuangan: Pemeringkatan Investasi

Minggu, 26 Juli 2009 | 04:38 WIB

Elvyn G Masassya Praktisi Keuangan

Beberapa waktu lalu ada riset pada beberapa ribu responden tentang pilihan investasi saat ini. Hasilnya, masyarakat kebanyakan menempatkan tanah sebagai pilihan teratas, diikuti pilihan investasi lain, seperti emas, deposito, obligasi, saham, tabungan, rumah, dan mobil.

Tidak begitu jelas, apakah pilihan investasi tersebut muncul dari pernyataan responden atau pihak periset yang memberi pilihan tersebut. Hal itu perlu ditanyakan karena beberapa pilihan investasi yang disebutkan sebenarnya bisa menjadi konsumtif jika tidak hati-hati menyikapinya. Karena itu, tidak ada salahnya kita bahas kembali pilihan investasi, kelebihan, dan kekurangannya.

Tanah, misalnya, jika lokasinya strategis, lazimnya dari waktu ke waktu harganya akan meningkat. Di lokasi strategis biasanya akan terjadi perkembangan ekonomi sehingga ada permintaan terhadap tanah di sekitar yang ujungnya mendongkrak harga. Jadi, kata kuncinya adalah lokasi dan ini terkait dengan informasi rencana pengembangan. Kalaupun ada rencana pengembangan, tetapi lokasi tanah tidak strategis, malah bisa kena gusur dengan ganti rugi rendah.

Investasi berbentuk tanah juga dipengaruhi faktor luas tanah dan peruntukannya di sekitar lokasi. Jika tanah yang dibeli terlalu besar dan tujuan pembeliannya dijual kembali dalam bentuk ”mentah”, ada baiknya melihat apakah di lokasi itu nantinya akan dibangun perumahan.

Selanjutnya emas yang dikenal sebagai alat investasi tradisional dalam bentuk perhiasan, digunakan sebagai ”simpanan” yang sewaktu-waktu dapat dijual kembali, bahkan jika membutuhkan dana mendesak bisa digadaikan.

Instrumen keuangan

Lantas bagaimana dengan pilihan investasi lain, seperti saham, obligasi, dan deposito? Deposito berjangka pasti memberi imbalan setiap bulan bagi pemilik dan risikonya relatif rendah. Itu pula mengapa imbal hasil deposito berjangka relatif paling rendah dibandingkan produk lain di sektor keuangan.

Saham merupakan pilihan investasi yang berpotensi memberi hasil paling tinggi daripada investasi lain. Selain potensi dividen, investor juga mendapat capital gain jika harga sahamnya naik.

Masalahnya, di bursa yang masih berkembang seperti Bursa Efek Indonesia, kenaikan harga saham tidak selalu disebabkan perbaikan fundamental perusahaan yang sahamnya diperdagangkan, tetapi bisa juga karena faktor lain. Misalnya, ”digoreng” pihak tertentu dengan cara membeli dalam jumlah besar lalu investor lain ikut-ikutan. Setelah harga meroket, penggoreng menjual kembali dan harga saham seketika ambruk.

Demikian juga obligasi. Saat ini bahkan ada obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah. Obligasi bisa menjadi alternatif menarik investasi jangka panjang karena investor akan mendapat imbalan bunga pasti dan kemungkinan capital gain jika harga obligasi naik. Obligasi juga berisiko lebih rendah daripada saham.

Sebagian masyarakat juga menganggap tabungan dan membeli mobil adalah investasi. Benarkah demikian?

Tabungan hakikatnya bukan alat investasi karena bisa ditarik kapan dan di mana saja sehingga sifatnya lebih sebagai kemudahan transaksi dan kebutuhan likuiditas. Tingkat bunga juga tabungan jauh di bawah bunga deposito yang bahkan kalau dihitung netto bisa di bawah laju inflasi.

Lain halnya dengan mobil. Jika penggunaannya untuk diproduktifkan, dalam arti disewakan dan pemilik mobil memperoleh pendapatan, maka mobil bisa dijadikan investasi. Itu pun dengan catatan pendapatan mampu menutupi biaya operasional, masih di atas penurunan nilai kendaraan, dan bisa menutup biaya pembelian kendaraan dalam waktu tidak terlalu lama. Lazimnya, 3-5 tahun dan pada tahun kelima pemilik kendaraan bisa menjual kendaraannya untuk mendapat capital gain.

Jika kendaraan semata-mata hanya untuk keperluan pribadi, apalagi hanya dipajang di garasi, maka itu sama sekali bukan investasi melainkan konsumtif belaka.

Kesimpulannya, pilihan investasi sesungguhnya tidak bisa diberi peringkat sebab masing-masing memiliki karakteristik risiko dan potensi keuntungan berbeda. Lagi pula setiap orang memiliki tujuan keuangan yang belum tentu sama.

Idealnya investor membagi dananya ke dalam berbagai jenis investasi dengan persentase berbeda-beda, disesuaikan dengan jangka waktu dan tujuan investasi. Lalu, secara periodik mengkaji ulang portofolio investasinya dan menentukan persentase baru.

KOMPAS

No comments: