Sunday, June 28, 2009

Investasi dan Keuangan: "Review" Investasi

Minggu, 28 Juni 2009 | 03:14 WIB

Elvyn G Masassya - praktisi keuangan

Jika Anda berinvestasi sejak awal 2009, pekan depan usia investasi Anda telah mencapai enam bulan.

Tentu saja, investasi pada semester pertama 2009 terdiri atas investasi baru dan juga investasi yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh sebelumnya, tetapi masih dipegang saat ini. Pertanyaannya, apakah kemudian semua investasi tersebut dibiarkan begitu saja? Bagaimana cara melakukan monitoring terhadap seluruh portofolio investasi Anda?

Sebagian dari Anda dipastikan memiliki catatan lengkap mengenai investasi yang dilakukan. Tetapi, sebagian lagi, bahkan mungkin ”cuek bebek” saja dengan investasi yang dimiliki. Kenapa demikian?

Bisa karena beberapa hal. Misalnya, memang tidak terlalu peduli karena uangnya sudah sangat banyak atau malah mungkin lupa berapa investasi yang dimiliki. Tetapi, bisa saja ini karena investasi memiliki horizon waktu panjang. Jadi, kalangan ini tidak terlalu peduli dengan apa yang tengah terjadi. Mereka hanya akan melihat hasil investasinya sesuai horizon yang telah ditetapkan. Misalnya, membeli tanah dalam kurun waktu lima tahun. Maka, lima tahun kemudian baru dilakukan pengecekan berapa harga tanah di sekitar dan baru selanjutnya tanah itu dijual atau dikembangkan.

Hal yang sama juga diberlakukan terhadap investasi di pasar modal. Misalnya, pertengahan tahun lalu membeli saham, lalu pada akhir tahun ketika harga saham berjatuhan, investor model ini masih tetap memegang saham tersebut. Dia mengalami potensi merugi, tetapi sahamnya tidak dijual sehingga kerugian hanya bersifat potensi.

Hari-hari ini, ketika indeks saham meningkat, dipastikan investor model begini sudah dalam keadaan berpotensi untung. Jika yang bersangkutan bermaksud memegang saham tersebut untuk satu tahun saja, maka hari-hari ini yang bersangkutan pasti tengah ”pesta” keuntungan.

Lantas bagaimana caranya melakukan kajian portofolio investasi? Sederhana. Buka kembali catatan Anda tentang semua aset investasi yang Anda miliki. Secara umum, investor personal membagi portofolio investasinya ke dalam dua jenis, yakni investasi portofolio dan investasi langsung ke sektor riil.

Investasi portofolio bisa dibagi lagi ke dalam berbagai bentuk, mulai dari deposito berjangka, obligasi ritel, reksadana, hingga saham. Bahkan, kalau mau lebih ritel lagi, reksadana juga bisa dipilah menjadi reksadana saham, reksadana obligasi dan reksadana campuran, atau bahkan reksadana pasar uang. Saham juga bisa dipilah berdasarkan sektor dan atau peruntukannya. Demikian juga dengan investasi langsung. Mungkin Anda memiliki tanah, apartemen, restoran, dan lain sebagainya.

Cermati imbal hasil

Nah, setelah memilah semua aset investasi Anda, cermati lagi berapa persen yield on investment atau imbal hasil total portofolio Anda. Angkanya berpulang pada tiap orang. Kendati aset investasinya berjumlah sama, bisa saja target maupun realisasinya akan sangat berbeda karena bergantung pada tindakan si investor dalam mengelola investasinya.

Secara umum, setiap investor lazimnya akan membagi peruntukan investasinya untuk jangka pendek atau kurun waktu di bawah satu tahun, lalu jangka menengah dan jangka panjang. Imbal hasil yang dinginkan dalam kurun waktu tersebut juga bisa berbeda. Investasi langsung pada tanah, properti atau restoran, misalnya, biasanya pada tahun-tahun awal, keuntungannya belum begitu bagus. Tetapi, setelah sekian tahun, imbal hasilnya bisa sangat memuaskan.

Secara lebih konkret, kajian terhadap investasi bisa dilakukan secara lebih ritel, sebagai berikut. Pertama, hitung secara tahunan imbal hasil investasi Anda. Katakanlah, di portofolio saham.

Bisa saja saat ini Anda sudah memiliki keuntungan potensial dan sebagian saham Anda dijual. Hitung berapa keuntungan yang diperoleh, lalu bandingkan dengan total investasi Anda di saham, bukan hanya terhadap saham yang dijual. Ini disebut yield on investment terhadap portofolio saham. Ini penting, sebab bukan tidak mungkin sebagian saham Anda yang lain sebenarnya berada dalam keadaan berpotensi rugi, atau jika belum direalisasi atau dijual kemungkinan keuntungannya juga tidak besar. Hal yang sama Anda lakukan juga terhadap investasi yang lain.

Kedua, setelah mengetahui imbal hasil total dan imbal hasil masing-masing portofolio, bandingkan dengan target Anda, baik itu berjangka pendek, menengah, atau panjang. Kira-kira jika portofolio Anda dibiarkan apa adanya, apakah target Anda tercapai?

Jika tidak, maka Anda mesti melakukan balancing portfolio atau penyesuaian portofolio. Artinya, ada jenis investasi yang mesti Anda pertahankan, ada yang dilepas dan bahkan mungkin ada yang mesti Anda tambahi dana pada investasi sama.

Contohnya, investasi di saham. Mungkin sebagian saham Anda memperoleh keuntungan, sebagian lagi berpotensi merugi. Lalu, apa yang akan Anda lakukan terhadap yang berpotensi rugi? Langsung menjual mumpung saham lain Anda untung? Belum tentu harus demikian.

Coba cek saham yang saat ini dalam keadaan berpotensi rugi. Jika fundamental emitennya cukup bagus, malah Anda sebaiknya membeli lagi. Harganya lebih murah dan ketika digabungkan dengan harga pembelian sebelumnya harga pembelian rata-rata Anda menjadi lebih murah.

Dampaknya, ketika harga saham tersebut membaik, Anda akan lebih cepat memperoleh keuntungan. Tetapi, horizon investasi di saham tersebut mesti diubah, dari yang semula bersifat jangka pendek, menjadi berjangka menengah, atau malah berjangka panjang.

Lakukan rutin

Ringkasnya, kajian terhadap portofolio investasi mesti dilakukan rutin. Kalau tidak bulanan, lakukan secara semesteran, tidak peduli apakah horizon investasi Anda bersifat jangka pendek atau panjang. Berdasarkan hasil kajian akan ketahuan apakah tujuan investasi Anda tercapai dan apakah kondisi investasi Anda berada di ”jalan yang benar” atau perlu membelokkan arah.

Apa pun hasil kajian Anda, tidak perlu khawatir dan tidak perlu pula berpesta pora, jika ada keuntungan besar. Investasi adalah tindakan menambah nilai pada uang Anda secara terus-menerus. Bukan sekadar mencari keuntungan sesaat.

Kompas

No comments: