Sunday, May 10, 2009

[Kompas 100]: TKIM: The Largest Stationary Producer in Indonesia

Minggu, 10 Mei 2009 | 05:09 WIB

KOMPAS.com - Banyak yang kaget ketika sovereign credit rating Jepang dibawah Botswana.

Terlepas dari perdebatan orang mengenai metode yang dipakai untuk penetapan credit rating, Botswana yang memang tidak banyak dikenal orang sebetulnya punya kondisi ekonomi yang bagus.

Negara yang tidak punya lautan ini merupakan salah satu perekonomian sukses di Afrika dengan pendapatan per kapita yang cukup tinggi. Dan beda dengan negara Afrika lainnya yang juga punya komoditas tambang, negara ini bisa dibilang tidak kena kutukan dengan kekayaan tambang yang dimiliki.

Negara ini adalah salah satu penghasil utama berlian di dunia. Pendapatan berlian yang menyumbang hampir separo dari pendapatan negara, diperoleh melalui Debswana, perusahaan yang 50% sahamnya dimiliki pemerintah Botswana bersama dengan perusahaan raksasa berlian dunia De Beers. De Beers ini yang kemudian membawa berlian asal Botswana yang berkualitas tinggi ke seluruh dunia.

Debswana, terlepas dari komposisi pemegang sahamnya, adalah contoh perusahaan yang tidak banyak dikenal orang tapi akhirnya berhasil membawa produknya tersebar ke seluruh dunia dengan harga yang bagus. Banyak perusahaan dari negara berkembang yang kaya dengan sumber daya alam, yang sebetulnya bisa seperti Debswana. Contohnya adalah PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Meski pasar Indonesia sudah cukup besar, TKIM yang didirikan di tahun 1972 lebih fokus ke pasar luar negeri dengan komposisi penjualan ekspor lebih dari 70% atau lebih dari dua kali lipat penjualan di pasar domestik. Pasar utamanya mencakup Jepang, Australia, Timur Tengah, Amerika, Eropa, dan negara-negara Asia lainnya.

Hebatnya, yang diekspor oleh TKIM bukan kertas-kertas komoditas melainkan kertas-kertas bermerek yang harganya lebih tinggi, seperti photocopy paper, stationery, uncoated wood free and art paper dan mempunyai merek-merek terkenal seperti antara lain Paperline, Sinarline, Sinar Dunia, Sinar Copy, dan Sinar Laser.

Ini bisa diwujudkan TKIM karena anak perusahaan Asia Pulp & Paper (APP) ini memang merupakan salah satu pabrik kertas terbesar di dunia yang juga terintegrasi secara vertikal. TKIM punya fasilitas produksi stationary terbesar di dunia yang berada di area seluas 200 hektar.

Dari fasilitas produksi ini, TKIM menghasilkan produk seperti caustic soda, writing and printing paper, coated art paper and board, high gloss cast coated paper, stationery, carbonless paper, continuous stock form, file folder, photocopy paper dan shopping bags serta produk konversi seperti exercise books, pads, spirals, loose leaf, diaries, hard back books, envelopes, continuous stationery, fancy products, coated & uncoated inkjet paper, paper bags dan publishing.

Tantangan ke depan bagi TKIM yang semakin nyata terlihat adalah semakin pedulinya konsumen negara-negara maju terhadap environmental sustainability. Apalagi, industri kertas menggunakan bahan baku pohon yang didapat dari hutan.

Padahal, hutan adalah andalan negara-negara dunia untuk mengurangi dampak global warming. Tren ini tampaknya dibaca oleh TKIM karena dalam beberapa tahun terakhir mulai membangun citra korporat yang ramah lingkungan. Berbagai upaya dilakukan antara lain dengan mendapatkan ecolabel certification di beberapa negara serta melakukan berbagai kegiatan corporate social responsibility terutama yang terkait dengan kehutanan.

Pada dasarnya, kertas akan tetap dibutuhkan. Pasalnya, banyak orang yang lebih suka membaca atau bertransaksi di atas kertas ketimbang di atas layar digital. Karena itu, bisnis TKIM sangat prospektif. Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir juga muncul gerakan di negara-negara maju untuk lebih paperless. Ini tentu saja harus mulai diantisipasi oleh TKIM jika ingin tetap sustainable sebagai a branded paper and stationary exporter.

"Philip Kotler's Executive Class: 17 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: