Wednesday, May 20, 2009

[Kompas 100]: Sampoerna Agro: "A Rising Star in the Palm Oil Plantation Sector"

Rabu, 20 Mei 2009 | 07:47 WIB

KOMPAS.com — Apa persamaan dan perbedaan Sabeer Bhatia dan Mark Zuckerberg?

Dua-duanya menjual saham dari perusahaan yang didirikan dan dimilikinya ke Microsoft. Tapi besar saham yang dijual berbeda persentasenya. Bhatia menjual seluruh saham yang dimilikinya di Hotmail yang didirikannya, sementara Zuckerberg hanya menjual sebagian kecil dari saham yang dimilikinya di Facebook yang didirikan bersama teman-temannya.

Bukan hanya itu saja perbedaannya. Meski tidak pensiun sama sekali, nama Bhatia tidak lagi dikenal banyak orang. Padahal setelah menjual saham, ia sempat kerja di Microsoft sebelum keluar mendirikan sejumlah perusahaan sendiri, termasuk beberapa aktivitas di India.

Ini beda dengan Zuckerberg. Dengan tetap berada di Facebook, ia seolah seperti tetap berada di orbit, seiring dengan semakin populernya situs ini. Dan bukan hanya di dunia ICT saja namanya populer, tapi bahkan di non-ICT.

Apa yang terjadi pada Bhatia dan Zuckerberg bisa menjadi perbandingan dengan apa yang terjadi pada Putera Sampoerna. Sampoerna seolah-olah adalah kombinasi keduanya, menjual seluruh saham, tapi tetap punya pengaruh pada perusahaan yang sahamnya telah ia lepas dan tentu saja tidak pensiun. Untuk hal yang tersebut terakhir ini, selain terlibat dalam kegiatan sosial, Sampoerna masuk di bidang bisnis yang berbeda dengan bisnis yang digeluti keluarga besarnya selama empat generasi.

Salah satu yang dimasuki Putera Sampoerna adalah bisnis perkebunan, yaitu bisnis sawit. Di tahun 2006, Sungai Rangit, perusahaan pengelola kelapa sawit di Kalimantan Tengah, diakuisisi, dan setahun kemudian Sampoerna mengakuisisi Selapan Jaya, perusahaan pengelola lahan sawit di Sumatera Selatan, yang kemudian diubah namanya menjadi Sampoerna Agro (SGRO). Sungai Rangit kemudian dijadikan bagian SGRO yang go public di tahun 2007.

Meski merupakan pemain baru di bisnis perkebunan kelapa sawit, Sampoerna tidak ragu untuk mengulang pendekatan yang dulu dijalankan di industri rokok. Mirip dengan bisnis rokok bahwa bahan baku punya peranan menentukan, bisnis kelapa sawit sebetulnya juga demikian. Yang menarik, meski Indonesia kini dikenal sebagai produsen terbesar kelapa sawit dunia, dan mengundang banyak pemain baru untuk masuk di dalamnya, tapi ternyata tidak banyak perusahaan, baik yang baru, maupun lama, yang melihat arti strategis mendapatkan bahan baku kelapa sawit, yaitu kecambah atau benih kelapa sawit.

Padahal kalau dilihat nilai bisnisnya, kebutuhan kecambah sawit Indonesia adalah ratusan juta benih. Dengan harga kecambah yang cukup tinggi, maka nilai bisnisnya juga besar. Jadi sebetulnya merupakan hal yang wajar kalau SGRO juga menggeluti bisnis kecambah alias benih kelapa sawit.

Yang menarik, ternyata pemain yang masuk di bisnis ini tidak banyak, terutama dilihat dari perusahaan yang mengantongi sertifikat dari Departemen Pertanian, yaitu hanya tujuh pemain alias jauh di bawah jumlah perusahaan yang berbisnis kelapa sawit. Kebetulan, investasinya mahal dan butuh keterampilan dan pengetahuan teknis jauh lebih tinggi dibandingkan usaha perkebunan sawit. Di bisnis benih kelapa sawit, SGRO masuk melalui PT Binasawit Makmur, yang selain dipakai sendiri, juga dijual.

Di bisnis benih kelapa sawit itu sendiri, SGRO menjual enam varietas kecambah DxP Sriwijaya, yang punya kelebihan dalam bentuk hasil panen yang lebih tinggi, ekstrasi minyak yang lebih banyak dan lebih tahan terhadap kekeringan dan penyakit. Memang kalau dilihat dari kontribusi penjualan, memang sangat kecil, alias layak sebagai bisnis sampingan. Tapi benih kelapa sawit ini punya nilai semakin strategis kalau melihat tren bahwa kebutuhan akan lebih besar dari pasokan.

Kalau di bisnis benih kelapa sawit, SGRO terlihat serius, apalagi di bisnis kelapa sawitnya itu sendiri. Meski pada saat ini SGRO bisa digolongkan sebagai perusahaan perkebunan kelapa sawit kelas menengah, tapi SGRO sudah memiliki bank tanah yang jauh lebih luas dari kebunnya sekarang dan siap dikonversi menjadi kebun kelapa sawit dalam jangka pendek. Dengan kombinasi luas lahan dan aktivitas di benih kelapa sawit, maka bukan hal yang berlebihan kalau SGRO disebut sebagai a rising star in the palm oil plantation sector.

"Philip Kotler's Executive Class: 7 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: