Thursday, May 14, 2009

[Kompas 100]: Medco: "A Promising Challenger to the Big Boys"

Kamis, 14 Mei 2009 | 08:01 WIB

Menteri perminyakan Arab Saudi dan negara lain diculik, disandera dan dibebaskan.

Itulah yang terjadi di tahun 1975. Saat itu yang menjadi Menteri Perminyakan Arab Saudi adalah Ahmed Zaki Yamani. Ia adalah menteri perminyakan yang paling diingat dunia, terutama ketika OPEC melakukan embargo menyusul Perang Arab Israel di tahun 1973.

Mulai menjadi menteri perminyakan ketika baru menginjak usia awal 30-an, Yamani memang berhasil mengubah wajah negara-negara anggota OPEC. Meski tidak punya senjata tercanggih atau pasukan tentara yang ditakuti, gerak langkah OPEC selama Yamani ada di sana selalu diikuti orang. Bahkan pertemuan tahunan OPEC selalu menarik perhatian orang, kurang lebih mirip seperti pertemuan G-7 atau setidaknya G-20 dalam tahun-tahun terakhir ini.

Yang menarik, ketika harga minyak di tahun 2007 mulai bergerak menaik, dan akhirnya berpuncak di pertengahan tahun 2008, ternyata susah untuk menemukan gerak harmonis negara-negara OPEC. Yang justru muncul adalah para kepala negara anggota utama OPEC yang tidak ragu-ragu menyuarakan kepentingan strategisnya masing-masing. Kalau saja ada figur sekelas Yamani, bisa jadi hal tersebut tidak terjadi.

Yamani yang bukan anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi dan menyelesaikan studi di Harvard Law School alias satu almamater dengan Presiden Obama, mulai menjadi penasehat kerajaan di tahun 1958 dan menjadi menteri perminyakan mulai tahun 1962. Pelan tapi pasti, ia kemudian muncul menjadi menteri perminyakan yang kuat di Arab Saudi, termasuk menjadi pemutus soal produksi minyak Arab Saudi, sampai akhirnya diberhentikan oleh Raja Arab Saudi di tahun 1986. Yamani adalah pelajaran menarik mengenai seseorang yang punya determinasi tinggi membangun industri perminyakan, meski bukan dari negara maju ataupun perusahaan raksasa minyak dunia serta tidak mempunyai background di industri perminyakan.

Arifin Panigoro, dalam skala dan lingkup yang berbeda, punya determinasi yang tidak kalah dengan Yamani. Berbekal semangat entrepreneurial, Arifin mendirikan perusahaan yang menjadi cikal bakal PT Medco Energi International Tbk (MEDC) di tahun 1980 yang bergerak di oil and gas drilling services. Pelan tapi pasti MEDC berhasil membangun kompetensi sebagai salah satu pemain terkemuka bisnis ini di Indonesia. Di tahun 1992, MEDC mulai memperluas bisnisnya ke oil and gas exploration and production dengan mengambil alih ladang minyak kecil di Tesoro, Kalimantan Timur.

Di tahun 1994, selain go public, MEDC melakukan pengembangan bisnis ke industri kimia dengan memanfaatkan cadangan gas yang ada di Tarakan. Setahun kemudian MEDC mulai memperdalam bisnis oil and gas exploration and production dengan mengambil alih seluruh saham Stanvac Indonesia di tahun 1995 dari Exxon dan Mobil Oil. Di tahun 1997, MEDC berpatungan dengan PT Pertamina untuk mengoperasikan kilang methanol Pertamina di Pulau Bunyu Kalimantan Timur.

MEDC mulai menginternasional di tahun 2004 setalah mengambil alih Novus Petroleum, sebuah perusahaan minyak dan gas Australia, yang punya wilayah operasi yang tersebar mulai dari Australia, Amerika Serikat, Timur Tengah dan Asia Selatan termasuk Indonesia. Selain itu, pada saat yang bersamaan perusahaan melakukan pengembangan bisnis di bidang gas dengan mengoperasikan kilang LPG untuk ladang gas Kaji/Semoga. Tidak hanya berhenti di exploration and production, MEDC kemudian mulai memasuki bisnis pembangkit listrik berbahan bakar gas, dan menjadikannya sebagai sebuah perusahaan energi dengan bidang usaha yang beragam.

Ruang lingkup bisnis yang beragam itu kemudian dibagi menjadi tiga bagian besar, pertama exploration and production, kedua downstream dan ketiga pembangkit listrik. Dari ketiga bidang bisnis tersebut, yang menjadi fokus bisnisnya adalah oil and gas exploration and production, sehingga model pengembangannya diarahkan ke penambahan jumlah ladang minyak dan gas dan penggantian/pelepasan ladang gas dan minyak yang tidak lagi memenuhi standar produktivitas MEDC. Sebetulnya, kalau anak usaha yang bergerak di oil and gas drilling services tidak dijual, bisnis MEDC menyerupai bisnis para pemain yang lebih besar.

Meski terus mengalami perkembangan pesat, dan mulai dikenal sebagai salah satu perusahaan energi besar di Indonesia, tapi MEDC berada di industri dimana size does count. Dimana pemain yang lebih besar dapat lebih mudah melakukan pengembangan usaha dengan memanfaatkan peluang bisnis skala besar yang tersedia. Karena tidak mudah untuk menyamai skala bisnis para pemain raksasa, maka bukan hal yang mengherankan kalau MEDC kemudian menjadikan diri sebagai sebuah perusahaan yang ramping dan lebih efisien seperti yang antara lain dilakukan di bisnis exploration and production.

Dengan menjadikan diri sebagai pemain yang lebih ramping dan efisien, MEDC bukan hanya bisa lebih mudah menghadapi gejolak harga minyak dan gas di pasar internasional, tapi juga bisa berlaku sebagai basis dalam menjadikan diri sebagai a promising challenger to the big boys bukan hanya di bisnis yang dimiliki sekarang tapi juga pengembangan bisnis baru yang kebetulan punya cakupan yang luas. Pada saat ini, MEDC punya bisnis inkubasi, sebagaimana dijalankan oleh para pemain yang lebih besar, di bidang-bidang seperti coal gasification, biomass-power, coal/hardrock mining, coal bed methane, applied EP technologies dan perusahaan transmisi gas. Dan karena mesti bersaing dengan pemain lama atau baru yang lebih besar, maka MEDC akan bisa optimal mengambil manfaat dari bisnis barunya itu dengan beroperasi yang lebih ramping dan lebih efisien dibandingkan para pesaingnya.


"Philip Kotler's Executive Class: 13 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: